cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Buletin Anatomi dan Fisiologi (Bulletin of Anatomy and Physiology)
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : 25276751     EISSN : 25410083     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 9 Documents
Search results for , issue "Volume 10, Nomor 2, Tahun 2025" : 9 Documents clear
Peran Teknologi Nanopartikel Pada Budidaya, Produksi, dan Pemanfaatan Senyawa Tanaman Vanili (Vanilla planifolia) Rimanti, Audri Septina Putri; Djurubasa, Dani Karel Marthin; Kasmiyati, Sri; Kristiani, Elizabeth Betty Elok
Buletin Anatomi dan Fisiologi Volume 10, Nomor 2, Tahun 2025
Publisher : Departemen Biologi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/baf.10.2.2025.102-111

Abstract

Aplikasi nanoteknologi, di dunia pertanian maupun kesehatan, kini semakin marak untuk dikembangkan. Vanilla planifolia atau tanaman vanili, yang merupakan penghasil senyawa vanilin, memiliki potensi pengaplikasian nanoteknologi. Peningkatan pertumbuhan tanaman dengan menggunakan teknologi nanofertilizer dan peningkatan senyawa metabolit sekunder vanilin dengan menggunakan teknologi nanoelisitor dapat memberikan hasil maksimal bagi panen tanaman vanili. Disisi lain, vanilin yang merupakan senyawa aktif pada tanaman vanili juga memiliki khasiat sebagai obat dan bahkan dapat dimanfaatkan dalam bidang kecantikan. Penelitian ini bertujuan untuk menggali peran nanoteknologi yang memiliki potensi pengaplikasiannya pada tanaman vanili, baik pada budidaya tanaman maupun pada pemanfaatan senyawa vanilin dalam bidang kesehatan dan kecantikan. Dari hasil yang didapatkan, nanoteknologi dalam bentuk nanofertilizer memiliki potensi besar dalam meningkatkan pertumbuhan tanaman vanili serta dapat membantu tanaman dalam menghadapi cekaman biotik dan abiotik yang mengganggu pertumbuhannya. Nanoteknologi juga dapat diaplikasikan pada senyawa vanilin, dimana vanilin dalam bentuk nanopartikel berperan sebagai anti-inflamasi, anti-kanker, anti-oksidan, serta berperan sebagai senyawa pengikat alami yang mendukung penyembuhan luka. Kemampuan tersebut dapat dimanfaatkan sebagai nanoteknologi dalam bidang kesehatan serta bidang kecantikan  Applications of nanotechnology, in the agriculture and health sector, are now increasingly being developed. Vanilla planifolia or vanilla plants, which are producers of vanillin compounds, have the potential for nanotechnology applications. Increasing plant growth using nanofertilizer technology and increasing vanillin secondary metabolite compounds using nanoelicitor technology can provide maximum yield for vanilla plant. On the other hand, vanillin, which is the active compound in the vanilla plant, also has medicinal properties and can even be used in the field of beauty. This research aims to explore the role of nanotechnology that has the potential for application in vanilla plants, both in plant cultivation and in the use of vanillin compounds in the field of health and beauty. From the results obtained, nanotechnology in the form of nanofertilizer has great potential in increasing the growth of vanilla plants and can help plants in dealing with biotic and abiotic stress that interferes with their growth. Nanotechnology can also be applied to vanillin compounds, where vanillin in the form of nanoparticles acts as an anti-inflammatory, anti-cancer, anti-oxidant, and also acts as a natural binding compound that supports wound healing. This ability can be used as nanotechnology in the health and beauty fields 
Kesintasan Motilitas dan Persistensi Spermatozoa dalam Vagina Tikus Kandidiasis Iswara, Raja Al Fath Widya
Buletin Anatomi dan Fisiologi Volume 10, Nomor 2, Tahun 2025
Publisher : Departemen Biologi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/baf.10.2.2025.134-143

Abstract

Kandidiasis vagina dapat memengaruhi lingkungan mikro vagina sehingga berpotensi mengganggu fungsi spermatozoa. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kesintasan motilitas dan persistensi spermatozoa dalam vagina tikus kandidiasis. Penelitian eksperimental ini menggunakan dua kelompok tikus betina, yaitu kelompok normal dan kelompok dengan kandidiasis. Analisis kesintasan dilakukan menggunakan metode Kaplan–Meier, sedangkan perbedaan antar-kelompok diuji dengan uji log-rank. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan bermakna kesintasan motilitas spermatozoa antarkelompok (χ²=8,760; p=0,003). Pada kelompok kandidiasis, 50% spermatozoa kehilangan motilitas dalam 1 menit pertama, sedangkan pada kelompok normal terjadi pada 2 menit pertama. Analisis persistensi spermatozoa juga menunjukkan perbedaan yang signifikan (χ²=15,373; p<0,001). Pada kelompok kandidiasis, 50% spermatozoa tidak lagi ditemukan dalam vagina pada 2 hari pertama, sementara pada kelompok normal spermatozoa masih terdeteksi hingga 5 hari. Temuan ini menunjukkan bahwa kandidiasis vagina dapat menurunkan kesintasan motilitas dan persistensi spermatozoa, yang berimplikasi terhadap kemungkinan penurunan fertilitas.  Vaginal candidiasis can alter the vaginal microenvironment, potentially disrupting spermatozoa function. This study aimed to analyze the survival of spermatozoa motility and persistence in the vagina of rats with candidiasis. An experimental study was conducted using two groups of female rats: a normal group and a candidiasis group. Survival analysis was performed using the Kaplan–Meier method, and differences between groups were evaluated with the log-rank test. The results showed a significant difference in spermatozoa motility survival between groups (χ²=8.760; p=0.003). In the candidiasis group, 50% of spermatozoa lost motility within the first minute, while in the normal group, this occurred within the first 2 minutes. Persistence analysis also revealed a significant difference (χ²=15.373; p<0.001). In the candidiasis group, 50% of spermatozoa were no longer detected within the first 2 days, whereas in the normal group, spermatozoa were still observed up to 5 days. These findings indicate that vaginal candidiasis significantly reduces survival of spermatozoa motility and persistence, which may contribute to decreased fertility. 
Bobot Organ Visceral Pada Puyuh Betina (Coturnix coturnix japonica) Setelah Pemberian Tepung Daun Kelor (Moringa oleifera Lam.) Sebagai Aditif Pakan Khifdillah, Fadlan Wakhid; Sunarno, Sunarno; Djaelani, Muhammad Anwar; Kasiyati, Kasiyati
Buletin Anatomi dan Fisiologi Volume 10, Nomor 2, Tahun 2025
Publisher : Departemen Biologi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/baf.10.2.2025.153-159

Abstract

Pelarangan penggunaan antibiotic growth promoter sebagai aditif pakan pada ternak memunculkan kebutuhan terhadap alternatif antibiotik yang lebih aman dan mudah didapat. Salah satu alternatif yang menjanjikan adalah kelor (Moringa oleifera Lam.). Daun kelor memiliki potensi sebagai antibiotik alami yang mampu mendukung kesehatan saluran pencernaan serta fungsi organ visceral. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk menganalisis kinerja organ visceral setelah diberikan aditif pakan tepung daun kelor dengan berbagai konsentrasi. Sebanyak 30 ekor puyuh betina dibagi ke dalam lima kelompok perlakuan yang menerima imbuhan tepung daun kelor sebesar 0%, 2,5%, 5%, 7,5%, dan 10% dalam pakannya, masing-masing dengan enam ulangan. Puyuh diakhiri hidupnya pada umur 106 hari untuk kemudian dilakukan isolasi dan penimbangan terhadap organ visceralnya yang meliputi bobot proventrikulus, ventrikulus, intestinum, hepar, pankreas, dan jantung. Data dianalisis menggunakan uji ANOVA dengan taraf signifikansi 5%. Hasil menunjukkan bahwa suplementasi tepung daun kelor secara signifikan meningkatkan bobot pankreas, namun tidak menunjukkan perbedaan signifikan pada organ visceral lainnya. Kesimpulan dari penelitian ini adalah penggunaan tepung daun kelor sebagai aditif pakan memberikan dampak positif terhadap peningkatan bobot organ pankreas, dan dapat mempertahankan bobot proventrikulus, ventrikulus, intestinum, hepar, dan jantung.  The ban on the use of antibiotic growth promoter as feed additives in livestock has created a need for safer and more accessible antibiotic alternatives. One promising alternative is moringa (Moringa oleifera Lam.). Moringa leaves have the potential to serve as natural antibiotics that support digestive health and the function of visceral organs. This study aimed to analyze the performance of visceral organs following the administration of moringa leaf powder as a feed additive at various concentrations. Thirty female quails were divided into five treatment groups that received 0%, 2.5%, 5%, 7.5%, and 10% moringa leaf powder in their feed, with six replications per group. The quails were culled at 106 days, and their visceral organs including proventriculus, ventriculus, intestines, liver, pancreas, and heart were isolated and weighed. Data were analyzed using ANOVA at a 5% significance level. The results showed that moringa leaf powder supplementation significantly increased pancreatic weight, but did not produce significant differences in the weight of the other visceral organs. It can be concluded that the use of moringa leaf powder as a feed additive has a positive impact on increasing pancreatic weight and helps maintain the weight of the proventriculus, ventriculus, intestines, liver, and heart.
Gambaran Histologi Aorta Tikus Putih (Rattus norvegicus L.) dengan Asupan Pakan Tinggi Lemak dan Pemberian Ekstrak Etanol Biji Mahoni (Swietenia mahagoni) Isdadiyanto, Sri; Mardiati, Siti Muflichatun; Budianto, Emilia Yosephine
Buletin Anatomi dan Fisiologi Volume 10, Nomor 2, Tahun 2025
Publisher : Departemen Biologi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/baf.10.2.2025.160-169

Abstract

Mahoni mengandung beragam senyawa metabolit sekunder sebagai antioksidan serta mampu menurunkan kadar kolesterol dalam darah. Kadar kolesterol dalam darah yang tinggi (hiperlipid) memicu terjadinya penyumbatan pada aorta (aterosklerosis). Tujuan penelitian ini adalah menganalisis gambaran histologi aorta hewan model hiperlipid dengan pemberian ekstrak etanol etanol biji mahoni (EEBM). EEBM diberikan secara peroral selama 32 hari. Sebanyak 30 ekor tikus jantan dibagi enam kelompok perlakuan, yaitu P0: kontrol pakan standar, P1: kontrol pakan tinggi lemak, P2: pakan tinggi lemak + simvastatin 8mg /200gBB, P3-P5: pakan tinggi lemak + EEBM 14, 28, 54 mg/200gBB berurutan. Parameter yang dianalisis meliputi tebal dinding, diameter lumen, dan gambaran histologi aorta. Hasil penelitian menunjukkan pemberian EEBM pada dosis 28 dan 54 mg/ekor menurunkan tebal dinding dan meningkatkan diameter lumen aorta secara berarti (p≤0,05) dibanding kontrol hiperlipid (P1), demikian juga gambaran histologi aorta yang tidak menunjukkan lesi aterosklerosis seperti kemunculan sel busa. Sehingga, disimpulkan biji mahoni mampu mencegah kerusakan akibat pakan tinggi lemak dan berpotensi sebagai alternatif pengobatan. Mahogany has variety of secondary metabolites as antioxidants and can lower blood cholesterol levels. High levels of cholesterol in the blood (hyperlipid) lead to blockage of the aorta (atherosclerosis). The purpose of this study was to analyzed the histological features of mahagony seeds ethanolic extract (MSEE) induction for animal models of hyperlipid. MSEE was administered orally for 32 days. Total 30 male rats were divided into 5 treatment groups, namely P0: standard feed control, P1: high-fat diet control, P2: high-fat diet + simvastatin 8 mg/200gBW, P3-P5: high-fat diet + MSEE 14, 28, 54 mg/200gBW respectively. Parameters analyzed included wall thickness, lumen diameter, and histological features of the aorta. The results showed that administration of EEBM at doses of 28 and 54 mg/200gBW reduced wall thickness and increased diameter of the aortic lumen significantly (p<0.05) compared to hyperlipid (P1), as well as aortic histology which did not show atherosclerotic lesions such as the appearance of foam cells. It concluded that mahogany seeds was able to prevent damage from high-fat diets and has the potential as an alternative treatment.  
Analisis Gambaran Sel Glomerulus Rattus norvegicus Melalui Proses Pencucian Setelah Fiksasi dengan NBF 10%, Bouin, dan Etanol 50% Selama Satu Minggu Maharani, Wulandari Putri; Djaelani, Muhammad Anwar; Tana, Silvana; Mardiati, Siti Muflichatun
Buletin Anatomi dan Fisiologi Volume 10, Nomor 2, Tahun 2025
Publisher : Departemen Biologi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/baf.10.2.2025.112-123

Abstract

Fiksasi merupakan proses kimia yang menjadi tahap penting dalam pembuatan preparat jaringan hewan. Larutan fiksatif yang umum digunakan yaitu NBF 10%, bouin, dan etanol 50%. Organ yang digunakan pada penelitian ini adalah ren yang merupakan jaringan lunak. Penelitian ini bertujuan menganalisis gambaran glomerulus melalui proses pencucian setelah difiksasi dengan menggunakan  NBF 10%, bouin, dan etanol 50% selama satu minggu. Ren difiksasi dengan NBF 10%, bouin, dan etanol 50% selama satu minggu. Hasil menunjukkan berbeda nyata (P<0,05) pada ruang kapsula bowman, ukuran sel glomerulus dan ukuran inti sel glomerulus. Tampak kerusakan yang signifikan terhadap keutuhan glomerulus, bentuk sel glomerulus, bentuk inti sel glomerulus, warna sel glomerulus, dan warna inti sel glomerulus. Pada penelitian ini  dapat disimpulkan bahwa tahap pencucian setelah fiksasi dapat meminimalisir kerusakan preparat yang difiksasi selama satu minggu dengan NBF 10%. Fixation is a chemical process that is an important stage in the preparation of animal tissue preparations. Commonly used fixative solutions are 10% NBF, bouin, and 50% ethanol. The organ used in this study was the kidney, which is a soft tissue. This study aims to analyze the glomerular image through the washing process after being fixed using 10% NBF, bouin, and 50% ethanol for one week. The kidney was fixed with 10% NBF, bouin, and 50% ethanol for one week. The results showed significant differences (P<0.05) in bowman's capsule space, the size of the glomerular cells and the size of the glomerular cell nucleus.There was significant damage to the integrity of the glomerulus, the shape of the glomerular cells, the shape of the glomerular cell nucleus, the color of the glomerular cells, and the color of the glomerular cell nucleus. In this study, it can be concluded that the washing stage after fixation can minimize damage to preparations fixed for one week with 10% NBF.
Pengaruh Mikroplastik Polyethylene Terephthalate (PET) Terhadap Profil Eritrosit Tikus Betina Galur Wistar Pambudi, Destiana Dwiridhaningsih; Sitasiwi, Agung Janika; Ahmar, Rasyidah Fauziah
Buletin Anatomi dan Fisiologi Volume 10, Nomor 2, Tahun 2025
Publisher : Departemen Biologi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/baf.10.2.2025.170-176

Abstract

Plastik merupakan salah satu bahan yang dapat terdegradasi menjadi mikroplastik dan berpotensi mengganggu sistem hematologi. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa paparan mikroplastik menyebabkan penurunan jumlah eritrosit, kadar hemoglobin, dan hematokrit. Penelitian mengenai efek toksik mikroplastik PET pada mamalia masih terbatas, sehingga penelitian ini perlu dilakukan untuk menganalisis pengaruh paparan mikroplastik PET terhadap jumlah eritrosit, hemoglobin, dan hematokrit tikus putih betina galur Wistar. Penelitian dilakukan dengan Rancangan Acak Lengkap menggunakan 20 ekor tikus putih betina Wistar yang dibagi dalam 4 kelompok perlakuan dengan 5 ulangan: P0 (kontrol), P1 (0,005 mg/2 mL/hari), P2 (0,05 mg/2 mL/hari), dan P3 (0,25 mg/2 mL/hari) secara oral selama 24 hari. Hasil penelitian menunjukkan tidak ada perbedaan nyata (P>0,05) antar kelompok perlakuan terhadap parameter hematologi. Nilai rata-rata parameter hematologi masih berada dalam kisaran normal. Paparan mikroplastik PET dengan dosis dan lama pemberian tersebut tidak berpotensi mengganggu proses hematopoiesis, sehingga jumlah eritrosit, kadar hemoglobin, dan hematokrit tikus putih betina galur Wistar tetap normal. Kebaruan penelitian ini terletak pada penentuan dosis mikroplastik serta pengaruhnya terhadap sistem hematologi. Penelitian ini bermanfaat sebagai sumber informasi mengenai efek toksisitas mikroplastik pada parameter hematologi mamalia.   Plastic is a material that can degrade into microplastics and potentially disrupt the hematological system. Several studies have reported that microplastic exposure leads to a decrease in erythrocyte count, hemoglobin, and hematocrit levels. Research on the toxic effects of PET microplastics in mammals remains limited, making it necessary to analyze the impact of PET microplastic exposure on erythrocyte count, hemoglobin, and hematocrit of female Wistar rats. This study was conducted using a Completely Randomized Design (CRD) with 20 female Wistar rats divided into 4 treatment groups with 5 replications: P0 (control), P1 (0.005 mg/2 mL/day), P2 (0.05 mg/2 mL/day), and P3 (0.25 mg/2 mL/day) administered orally for 24 days. The results showed no significant difference (P>0.05) between treatment and control groups in hematological parameters. The average values of hematological parameters remained within the normal range. PET microplastic exposure at the tested doses and duration did not interfere with the hematopoiesis process, indicating that erythrocyte count, hemoglobin concentration, and hematocrit levels of female Wistar rats were maintained within normal limits. The novelty of this study lies in the extrapolation of microplastic dosages and their effects on the hematological system. This research provides useful insights into the toxicological impact of microplastics on mammalian hematology.
Pengaruh Pemberian Pakan Mi Tepung Biji Durian (Durio zibethinus Murr.) terhadap Mikroanatomi Testis Tikus Wistar (Rattus norvegicus Berkenhout) Tana, Silvana; Khairunisa, Salsabila Putri; Suprihatin, Teguh; Saraswati, Tyas Rini
Buletin Anatomi dan Fisiologi Volume 10, Nomor 2, Tahun 2025
Publisher : Departemen Biologi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/baf.10.2.2025.124-133

Abstract

Limbah biji durian yang melimpah pada musim durian belum banyak dimanfaatkan. Biji durian mengandung karbohidrat yang tinggi dan berpotensi untuk diolah menjadi tepung yang dapat digunakan sebagai pengganti tepung terigu dalam pembuatan makanan berbahan dasar tepung seperti mi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh pemberian pakan dalam bentuk mi tepung biji durian terhadap struktur mikroanatomi testis tikus Wistar. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan hewan uji 30 ekor tikus Wistar jantan yang dibagi dalam 5 kelompok perlakuan dengan 6 ulangan. Parameter yang diamati meliputi bobot testis, diameter tubulus seminiferus, tebal lapisan epitel tubulus seminiferus, dan penilaian Johnsen untuk evaluasi spermatogenesis. Data hasil penelitian dianalisis menggunakan analisis varians (ANOVA) pada taraf kepercayaan 95%. Data kualitatif dianalisis menggunakan uji non-parametrik Kruskal-Wallis. Hasil analisis menunjukkan perbedaan yang tidak signifikan (P>0.05) pada bobot testis, diameter tubulus seminiferus, tebal epitel seminiferus, serta skor Johnsen tubulus seminiferus. Kesimpulan penelitian ini adalah pemberian pakan dalam bentuk mi tepung biji durian tidak mempengaruhi struktur mikroanatomi testis tikus Wistar. The abundant durian seed waste during the durian season has not been widely utilized. Durian seeds contain high carbohydrates and have the potential to be processed into flour which can be used as a substitute for wheat flour in the manufacture of flour-based foods such as noodles. This study aimed to analyze the effect of feeding in the form of durian seed flour noodles on the microanatomical structure of the testes of Wistar rats. This study used a completely randomized design (CRD) with 30 male Wistar rats as experimental animals which were divided into 5 treatment groups with 6 replications. Parameters observed included testicular weight, diameter of seminiferous tubules, thickness of seminiferous tubule epithelium, and Johnsen's assessment for spermatogenesis evaluation. Research data were analyzed using analysis of variance (ANOVA) at the 95% level of confidence. Qualitative data were analyzed using the Kruskal-Wallis non-parametric test. The results showed that there was non-significant difference (P>0.05) in testicular weight, seminiferous tubules diameter, seminiferous epithelium thickness, and Johnsen score of seminiferous tubules. The conclusion of this study was that feeding in the form of durian seed flour noodles did not affect the microanatomical structure of the testes of Wistar rats.
Struktur Anatomi dan Histokimia Daun Buah Ajaib Synsepalum dulcificum (Schumach. & Thonn.) Daniell Mutmainah, Mutmainah; Iriani, Dyah
Buletin Anatomi dan Fisiologi Volume 10, Nomor 2, Tahun 2025
Publisher : Departemen Biologi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/baf.10.2.2025.177-186

Abstract

Tanaman buah ajaib (Synsepalum dulcificum) merupakan spesies dari famili Sapotaceae yang memiliki habitus semak dan berdaun tunggal yang berpotensi sebagai tanaman obat. Penelitian ini bertujuan untuk mengkarakterisasi anatomi dan histokimia daun buah ajaib serta menganalisis potensinya sebagai tanaman obat dengan menggunakan metode parafin, metode paradermal, dan histokimia. Struktur anatomi yang diamati mencakup ibu tulang daun, intercostal, tepi daun, dan tangkai daun. Hasil kajian anatomi tepi daun tersusun atas epidermis, jaringan palisade dan jaringan bunga karang. Ibu tulang daun memiliki berkas pengangkut berbentuk semi-sirkular. Tangkai daun berbentuk sirkular dengan berkas pengangkut flat convex. Stomata hipostomatik dengan tipe anisositik dengan kerapatan 31,13 ± 2,83/mm2. Trikoma non glandular dan trikoma glandular ditemukan pada permukaan adaksial dengan kerapatan trikoma non glandular 1,01 ± 0,22/mm2 dan kerapatan trikoma glandular 12,61 ± 0,00/mm2. Hasil uji histokimia menunjukkan bahwa daun buah ajaib positif mengandung senyawa metabolit dengan kepekatan warna yang bervariasi pada setiap jaringan yang diuji. Keberadaan senyawa tanin banyak ditemukan di semua bagian ibu tulang daun, intercostal, tepi daun dan tangkai daun. Senyawa flavonoid banyak ditemukan di tangkai daun dan tepi daun, senyawa terpenoid banyak ditemukan di ibu tulang daun dan tepi daun, dan senyawa alkaloid banyak ditemukan di tepi daun. The miracle fruit (Synsepalum dulcificum) is a species from the Sapotaceae family with a shrub habit and simple leaves, which has potential as medicinal plant. This study aims to characterize the anatomy and histochemistry of the miracle fruit leaves and analyze their potential as a medicinal plant using paraffin, paradermal, and histochemical methods. The anatomical structures observed included the midrib, intercostal, leaf margin, and petiole. The anatomical study revealed that the leaf margin consists of the epidermis, palisade tissue, and spongy tissue. The midrib has a semi-circular vascular bundle, while the petiole is circular with a flat convex vascular bundle. The stomata are hypostomatic with an anisocytic type, having a density of 31.13 ± 2.83/mm2. Non-glandular and glandular trichomes were found on the adaxial surface, with non-glandular trichomes density at 1.01 ± 0.22/mm2 and glandular trichomes density at 12.61 ± 0.00/mm2. Histochemical test confirmed the presence of metabolic compounds with varying color intensities in the tested tissues. Tannins were widely found in all parts, including the midrib, intercostal, leaf margin, and petiole. Flavonoid were abundant in the petiole and leaf margins, terpenoids were mostly found in the midrib and leaf margin, while alkaloids were predominantly found in the leaf margin
Dampak Inklusi In-ovo Feeding Vitamin E dan Selenium pada Histomorfometri Bursa Embrio Itik Hibrida Ahmar, Rasyidah Fauzia; Hanum, Qanza Sofia; Kasiyati, Kasiyati
Buletin Anatomi dan Fisiologi Volume 10, Nomor 2, Tahun 2025
Publisher : Departemen Biologi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/baf.10.2.2025.144-152

Abstract

Vitamin E dan selenium adalah dua nutrisi penting yang berperan dalam menjaga kesehatan tubuh serta mendukung fungsi vital organ. Peran vitamin E (VE) dan selenium (Se) sebagai antioksidan dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan performa penetasan itik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis struktur histologi bursa fabricius embrio itik setelah inklusi in-ovo vitamin E dan selenium. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) yang terdiri atas empat perlakuan, yaitu K0 (kontrol), K1 (inklusi in-ovo 0,1 mL NaCl 0,89%), K2 (inklusi in-ovo 0,1 mL VE dan Se), dan K3 (inklusi in-ovo 0,15 mL VE dan Se). Perlakuan diberikan pada saat telur tetas berumur 14 hari, inkubasi diakhiri pada hari ke-26. Pembuatan preparat bursa menggunakan metode paraffin dan pewarnaan hematoksilin eosin. Parameter yang diamati berupa jumlah dan diameter plika, jumlah dan diameter folikel, tebal epitelium, diameter lumen, tebal korteks dan medula. Data diuji dan dianalisis dengan Analysis of Varians (ANOVA) pada taraf signifikansi 5% (α = 0,05) dan Kruskal-Wallis. Hasil menunjukkan adanya perbedaan nyata (P<0,05) pada jumlah dan diameter folikel. Jumlah plika, diameter plika, tebal epitelium, diameter lumen, tebal korteks dan tebal medula menunjukkan hasil berbeda tidak nyata (P>0,05). Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan bahwa injeksi vitamin E dan selenium secara in-ovo berpotensi mengoptimalkan perkembangan struktur histologi folikel bursa fabricius, pada gilirannya mendukung kerja sistem imun itik hibrida. Vitamin E and selenium are two important nutrients that play a role in maintaining body health and supporting vital organ function. The role of vitamin E (VE) and selenium (Se) as antioxidants can be utilized to improve duck hatchability. This study aims to analyze the histological structure of the bursa fabricius of duck embryos after in-ovo inclusion of vitamin E and selenium. This study used a completely randomized design (CRD) consisting of four treatments, namely K0 (control), K1 (in-ovo inclusion of 0.1 mL of 0.89% NaCl), K2 (in-ovo inclusion of 0.1 mL of VE and Se), and K3 (in-ovo inclusion of 0.15 mL of VE and Se). The treatments were administered when the eggs were 14 days old; egg incubation ended on day 26. Bursa preparations were made using the paraffin method and stained with hematoxylin-eosin. The parameters observed were the number and diameter of plicae, the number and diameter of follicles, the thickness of the epithelium, the diameter of the lumen, and the thickness of the cortex and medulla. The data were analyzed using Analysis of Variance (ANOVA) at a significance level of 5% (α = 0.05) and the Kruskal-Wallis test. The results showed a significant difference (P<0.05) in the number and diameter of follicles. The number and diameter of plicae,  epithelium thickness, lumen diameter, cortex and medulla thickness showed no significant differences (P>0.05). Based on the results of this study, it can be concluded that in-ovo injection of VE and Se has the potential to optimize the histological structure of the bursa fabricius follicles, which in turn supports the immune system of hybrid ducks.

Page 1 of 1 | Total Record : 9