cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Media Medika Muda
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 1, No 3 (2016)" : 10 Documents clear
SERIAL KASUS PENATALAKSANAAN FRAKTUR OS NASAL Willy Yusmawan; Anton Haryono
Media Medika Muda Vol 1, No 3 (2016)
Publisher : Faculty of Medicine Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang: Fraktur os nasal merupakan fraktur di wajah yang sering terjadi. Pilihan penatalaksanaan dapat dengan reduksi tertutup atau reduksi terbuka dengan mempertimbangkan jenis dan beratnya fraktur. Kesempatan terbaik untuk penatalaksanaan yang tepat dan paling akurat adalah dilakukan segera setelah cedera. Penatalaksanaan dilakukan sesuai dengan algoritma yang sudah ada.Penelitian ini bertujuan untuk menambah pengetahuan mengenai penanganan fraktur os nasal.Kasus: Empat kasus fraktur os nasal.Penatalaksanaan: Reduksi tertutup.Simpulan: Keberhasilan dalam penatalaksanaan fraktur os nasal dapat dipengaruhi oleh onset fraktur. Semakin cepat penanganan semakin baik hasil yang diperoleh. Kata kunci: fraktur os nasal, reduksi tertutup
FACTORS AFFECTING POST-OPERATIVE PAIN AFTER DOPPLER GUIDED HEMORRHOID ARTERY LIGATION AND RECTO-ANAL REPAIR (DGHAL-RAR) OF INTERNAL HEMORRHOID Sigit Adi Prasetyo; Ignatius Riwanto
Media Medika Muda Vol 1, No 3 (2016)
Publisher : Faculty of Medicine Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Background: DGHAL-RAR is new modality for grade II-IV internal hemorrhoid treatment. It is developed to reduce post-operative pain that mostly found in traditional hemorrhoidectomy even in Stappler hemorrhoidopexy. However, in clinical practice some patients are complaint of moderate until severe pain. This study is intended to know factors affecting the post-operative pain after DGHAL-RAR of internal hemorrhoid.Methods: A series of 61 grade II-IV internal hemorrhoid patients, underwent DGHAL-RAR in St Elizabeth Hospital, Semarang Indonesia, period of August 2012 – March 2014 were analyzed prospectively. Age, sex, grade, removing of thrombus  either internal or external, anal fissure, removing of hypertrophic anal papilla, removing skin tag, anal laceration due to procedure, were analyzed to know it relation with post operative pain in 24 hours, 48 hours and 7 days post-operatively. VAS for pain (0–10) were used to assess the degree of pain. Mann-Whitney method was used for univariate analysis, while Kruskal-Wallis and Median method were used for multivariate analysis.Results: After multivariate analysis variables that significantly influence post operative pain on 24 hours were removing of internal thrombosis, removing of anal papilla hypertrophy and anal laceration, on 48 hours were removing of external thrombosis, removing of anal papilla hypertrophy and anal laceration and  on 7 days were the same with on 24 hours.Conclusion: Factors that affecting post-operative pain after DGHAL-RAR  for grade II-IV internal hemorrhoid were removing of both internal and external thrombosis, removing of anal papilla hypertrophy and anal laceration due to DGHAL-RAR procedure. Keywords: Internal hemorrhoid, Hemorrhoid artery ligation and recto-anal repair, thrombosis, anal papilla hypertrophy, anal laceration.
UJI INTRACELLULAR KILLING TERHADAP MYCOBACTERIUM TUBERCULOSIS DARI MAKROFAG PENDERITA DAN INDIVIDU SEHAT BERISIKO TUBERKULOSIS PARU Arlita Leniseptaria Antari; David Pakaya; Dahliatul Qosimah
Media Medika Muda Vol 1, No 3 (2016)
Publisher : Faculty of Medicine Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang: Makrofag merupakan sistem pertahanan yang pertama pada infeksi tuberkulosis, dimana masuknya Mycobacterium tuberculosis ke dalam makrofag dan kemampuan bertahan hidup didalamnya merupakan elemen kunci dari patogenesis tuberculosis. Penelitian ini bertujuan untuk menguji perbedaan kemampuan intracellular killing terhadap Mycobacterium tuberculosis antara makrofag penderita dan individu sehat berisiko tuberkulosis paru.Metode: PBMC diisolasi dari buffy coat penderita dan individu sehat berisiko tuberculosis paru. Monosit (105 cell/ml) dikultur dalam 24-wells tissue culture plate berisi coverslip, kemudian ditambahkan RPMI 1640 yang disuplementasi 10% HI–PHS (Heat Inactivated Pooled Human Serum) dan diinkubasi pada 37°C, 5 % CO2. Pada akhir periode inkubasi, kultur dipanen, dibilas PBS, Mycobacterium tuberculosis yang terbebas kemudian dikultur dalam media padat Middlebrook 7H10 dan diinkubasi selama 7 hari, 10 haridan 14 hari. Koloni Mycobacterium tuberculosis yang viabel dihitung sebagai CFU (Colony Forming Units).Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah koloni Mycobacterium tuberculosis yang viabel setelah intracellular killing lebih banyak terdapat pada makrofag penderita tuberkulosis paru daripada makrofag individu sehat berisiko tuberkulosis paru. Hasil analisa dengan menggunakan uji Univariate Analysis of Variance menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan (p < 0,01).Simpulan: Intracellular killing makrofag penderita tuberkulosis paru lebih rendah daripada individu sehat berisiko tuberkulosis paru. Hal tersebut ditunjukkan dengan lebih banyaknya jumlah koloni Mycobacterium tuberculosis yang viabel pada media Middlebrook 7H10 yang berasal dari makrofag penderita tuberkulosis paru. Kata kunci: Mycobacterium tuberculosis, makrofag, intracellular killing.
PENGARUH NILAI pH TERHADAP WARNA DARI KAYU SECANG (Caesalpinia Sappan L.) SEBAGAI INDIKATOR ALAMI BARU Indah Saraswati
Media Medika Muda Vol 1, No 3 (2016)
Publisher : Faculty of Medicine Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang: Zat warna telah dikenal sejak beberapa abad yang lalu. Dalam upaya isolasi zat warna alami, dilakukan kajian mengenai zat warna alami kayu secang (Caesalpinia sappan L.). Beberapa penelitian terdahulu hanya melaporkan aktivitas kayu secang sebagai obat tradisional. Penelitian ini ditujukan untuk mempelajari warna dari kayu secang (Caesalpinia Sappan L.) dalam berbagai variasi nilai pH yaitu dalam larutan asam, netral, dan basa.Metode: Preparasi sampel secang dilakukan dengan mengekstraksi bubuk kayu secang dengan pelarut air menggunakan metode Soxhlet.Hasil: Larutan kayu secang pada larutan asam, netral, dan basa menunjukkan warna yang berbeda. Secang sebagai larutan dianalisis dengan spektrofotometer UV-Vis. Spektra UV-Vis menunjukkan bahwa larutan secang memiliki dua puncak pada panjang gelombang 440 nm dan 540 nm, dengan intensitas yang bervariasi dengan variasi pH. Secara fisik, hal ini ditunjukkan dengan perbedaan warna dari larutan secang tersebut.Simpulan: Larutan secang pada larutan asam menunjukkan warna kuning-jingga, pada larutan netral menunjukkan warna merah, dan pada larutan basa menunjukkan warna ungu-violet. Kata kunci: secang, Caesalpinia sappan L., variasi pH
RELATIONSHIP BETWEEN HOMOCYSTEINE PLASMA LEVELS AND AREA OF MYOCARDIAL INJURY IN ACUTE CORONARY SYNDROMES Ardhianto P; Endang Purwaningsih; Bachtiar A B
Media Medika Muda Vol 1, No 3 (2016)
Publisher : Faculty of Medicine Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Background: Increased homocysteine plasma levels are associated with increased thrombosis. Acute coronary syndromes (ACS) is the process of thrombosis in coronary arteries induced by atherosclerosis plaque ruptures, fissures or erosion. The purpose of this study is to analyze the relationship between increased levels of homocysteine in the blood and the area of ischemic injury in myocardium of patients with ACS.Methods: In the frame of Cardio Metabolic Investigation (Carmetin); a cross-sectional study was done among ACS patients (n=40) admitted at Dr. Kariadi Hospital from August to November 2009. Serum homocysteine were obtained by Enzyme Linked Immuno Assay (ELISA) at the arrival. Myocardial injury area were assessed indirectly by levels of cardiac Troponin I (cTnI) at the time of arrival and 24 hours later. Homocysteine levels were divided into quintiles.Results: There were twenty seven male patients (67.5%) and thirteen female patients (32.5%). Eighteen patients (45%) had a negative cTnI (defined as cTnI ≤ 0.10 ng/ml), while twenty two patients had positive cTnI (55%) at arrival. At the peak levels, only one patients had a negative cTnI levels. There is significant relationship between homocysteine level and the peak of cTnI level (p=0.048). Homocysteine levels were significantly higher in cTnI positive than cTnI negative patients (p<0.01).Conclusion: The increased of homocysteine plasma level is associated with increased of myocardial injury area in ACS patients. Keywords: Homocysteine plasma, myocardial injury, acute coronary syndrome
PENGARUH SUBSTITUSI TULANG DENGAN HIDROKSIAPATIT (HAp) TERHADAP PROSES REMODELING TULANG Indah Lestari Vidyahayati; Anne Handrini Dewi; Ika Dewi Ana
Media Medika Muda Vol 1, No 3 (2016)
Publisher : Faculty of Medicine Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang: Kerusakan jaringan oleh patah jaringan, trauma, atau penyakit memerlukan restorasi untuk memperbaiki fungsinya seperti sedia kala. Beberapa penelitian telah dilakukan untuk menemukan bahan-bahan substitusi jaringan, termasuk mengembangkan bahan hidroxyapatite (HAp). HAp merupakan bahan bioaktif yang memiliki kemampuan osteokonduktif, bioaktivitas, dan biokompatibilitas dalam proses pembentukan tulang. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh substitusi tulang dengan hidroksiapatit (HAp) pada gambaran histologis tulang pada tibia tikus (Rattus Sprague Dawley).Penelitian dilakukan dengan 15 tikus jantan Sprague Dawley, usia 3 bulan, dengan membuat defek di tibia kanan dan tibia kiri. Setiap defek berukuran 3 mm x 1,5 mm x 1 mm. Sebagai perlakuan diberikan implantasi hidroksiapatit pada defek tibia kanan dan tibia kiri sebagai situs kontrol tanpa implantasi. Masing-masing subjek didekapitasi setelah 1, 2, 3, 4, dan 8 minggu. Daerah defek diambil dan dibuat gambaran histologi, kemudian dilakukan pengamatan dan penghitungan jumlah sel osteoblas, dan osteoklas menggunakan mikroskop kontras fase.Data dianalisis oleh SPS 2000 dengan metode Two Way Anava. Hasil penelitian menunjukkan bahwa substitusi tulang dengan hidroksiapatit tidak signifikan pada aktivitas osteoblas atau osteoklas ditunjukkan dengan p>0,05, tapi analisis antar waktu menunjukkan signifikasi pada osteoklas (p<0,05). Investigasi pada gambaran histologi menunjukkan peningkatan pada aktivitas pembentukan tulang baru pada defek tulang. Kata kunci: substitusi tulang; hydroxyapatite; sel-sel tulang; gambar histologi
PERBEDAAN KADAR IODIUM DALAM URIN ANAK SEKOLAH DASAR DI DAERAH ENDEMIK GAKI DAN NON ENDEMIK GAKI DI KECAMATAN SIRAMPOG KABUPATEN BREBES Mahayu Dewi Ariani; Farida Martyaningsih
Media Medika Muda Vol 1, No 3 (2016)
Publisher : Faculty of Medicine Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang: Hasil pemetaan Gangguan Akibat Kekurangan Iodium (GAKI) yang dilakukan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Brebes pada tahun 2004 untuk anak sekolah, diperoleh data Total Goiter Rate (TGR) yang semakin meningkat dengan nilai TGR tertinggi ada di Kecamatan Sirampog yakni 40,71% (endemik berat 30%),berada di daerah pegunungan dan rawan longsor yang merupakan faktor resiko GAKI. Urinary Excretion Iodine (UEI) paling banyak digunakan sebagai marker biokimia untuk GAKI dibandingkan TGR karena lebih obyektif, sederhana, murah dan lebih dari 90% iodium akan diekskresi oleh tubuh lewat urin sehingga dapat merefleksikan asupan iodium pada saat itu. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbedaan kadar UEI pada anak SD di daerah endemik dan non endemik GAKI di kecamatan Sirampog Kabupaten Brebes.Metode: Penelitian ini menggunakan design cross sectional. Subyek dibagi menjadi dua kelompok, yaitu sampel anak Sekolah Dasar daerah endemik dan daerah non endemik. Kadar iodium (UEI) dalam urin diperiksa dengan metode Ceric Ammonium Persulfate di Laboratorium GAKI FK UNDIP yang berasal dari urin sewaktu. Data diolah menggunakan SPSS 11,5 for Windows.Hasil :  Rerata kadar UEI di daerah GAKI 161,1 µg/L (SD 73,9) dibandingkan dengan rerata kadar UEI di daerah endemik GAKI 245,8 µg/L (SD 72,2) (p=0,01).Simpulan: Terdapat perbedaan bermakna antara kadar UEI di daerah endemik dan non endemik GAKI. Kata Kunci: kadar UEI, Gangguan akibat kekurangan yodium (GAKI), endemik.
FUNGSI MANAJEMEN KEPERAWATAN DALAM APLIKASI MENTORING BUDAYA KESELAMATAN PASIEN Devi Nurmalia; Dhinamita Nivalinda
Media Medika Muda Vol 1, No 3 (2016)
Publisher : Faculty of Medicine Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang: Mentoring keperawatan merupakan suatu metode kepemimpinan untuk meningkatkan prilaku dan budaya keselamatan pasien. Mentoring keperawatan mampu meningkatkan integritas dan loyalitas individu terhadap sesuatu. Mentoring terbukti efektif dalam meningkatkan persepsi perawat terhadap pekerjaannya, meningkatkan pengetahuan dan skill sehingga berdampak pada komunikasi dan penyelesaian konflik Mentoring keperawatan telah terbukti efektif dalam meningkatkan perilaku perawat dalam patient safety culture. Efektifitas mentoring tidak bisa langsung terlihat, memerlukan waktu dan proses yang terus menerus. Fungsi manajemen memegang peranan yang penting dalam mengawal pelaksanaan mentoring. Mentoring keperawatan akan berjalan dengan baik apabila seorang manager menerapkan fungsi manajemen. Evaluasi dan monitoring perlu dilakukan untuk menilai kendala dan tantangan yang dihadapi. Evaluasi kegiatan mentoring keperawatan yang membahas faktor-faktor manajemen yang berhubungan dengan pelaksanaan kegiatan mentoring saat ini belum pernah dilakukan.Penelitian ini untuk mengetahui pengaruh fungsi manajemen dalam pelaksanaan kegiatan mentoring.Metode: Jenis penelitian deskriptif korelasi pada 32 responden menggunakan kuesioner. Analisis data dengan Chi Square dan regresi logistik berganda.Hasil: Fungsi manajemen berada pada kategori kurang baik, yaitu pada fungsi perencanaan (53,1%), dan fungsi pengorganisasian (65,6%). Fungsi pengarahan berada pada kondisi stabil dan fungsi pengendalian dinilai baik (56,2%). Sedangkan untuk pelaksanaan mentoring, sebanyak 56,2% responden menyatakan bahwa mentoring yang sudah dilakukan dirasa kurang tertata dengan baik pelaksanaannya. Fungsi pengendalian mempunyai pengaruh paling kuat dalam pelaksanaan mentoring keselamatan pasien. Hasil analisis menunjukkan bahwa Odds Ratio (OR) variabel pengendalian adalah 2,746 artinya fungsi pengendalian yang baik akan 2,746 kali melaksanakan mentoring keselamatan pasien dengan baik dibandingkan dengan pengendalian yang kurang baik.Simpulan: Fungsi manajemen yang paling berpengaruh terhadap pelaksanaan mentoring keselamatan pasien di ruang rawat inap adalah fungsi pengendalian. Kata kunci: fungsi manajemen keperawatan,mentoring, budaya keselamatan pasien
KOMPARASI HASIL IMUNOSENSOR PENDETEKSI EKSPRESI ECD-HER2 DENGAN HASIL PEMERIKSAAN IMUNOHISTOKIMIA HER2 PADA KARSINOMA PAYUDARA Eka Yudhanto
Media Medika Muda Vol 1, No 3 (2016)
Publisher : Faculty of Medicine Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1056.12 KB)

Abstract

Latar belakang: Era biologi molekuler telah membawa kita memperdalam berbagai proses kehidupan di tingkat seluler termasuk di dalamnya adalah proses keganasan. Pada kanker payudara salah satu gen yang banyak diteliti adalah HER2 yang ekspresinya diyakini ikut mempengaruhi prognosis klinis penderita. Saat ini baku emas cara pendeteksian ekspresi HER2 adalah dengan metode berbasis imunohistokimia. Metode ini memerlukan laboratorium dan ahli dengan kualifikasi khusus yang tidak banyak terdapat di negara kita. Hasil pemeriksaannya pun memiliki unsur subyektif. Di lain pihak metode imunosensor makin dikembangkan sebagai cara alternatif untuk menilai proses interaksi antigen-antibodi secara cepat, mudah, dengan hasil interpretasi yang obyektif. Penelitian ini dimaksudkan untuk menggali potensi imunosensor sebagai langkah awal untuk menciptakan imunosensor pendeteksi ekspresi ECD- HER2.Metode: Sebanyak 31 pasien menjalani tes darah denganmetoda imunosensor. Lima pasien tidak ditemukan hasil pemeriksaan histopatologinya, dan 3 pasien tidak melanjutkan pemeriksaan imunohistokimia (IHC), sehingga 8 pasien diekslusi. Dua puluh tiga sampel tumor dilakukan pemeriksaan IHC. Delapan pasien hasilnya positif dan 15 pasien negatif. Penelitian ini bersifat eksplorasi – deduktif. Hasil IHC HER2 dipakai sebagai referensi, yang kemudian dikomparasi dengan metoda imunosensor. Analisis dilakukan dengan t – test dengan program SPSS ver 12.0.Hasil: Pasien dengan IHC positif memiliki trend densitas muatan (charge density) yang lebih rendah dengan titik potong (cut off point) 6,99 volt (p<0,05). Kondisi ini membangun hipotesis “jika antigen tidak bertemu dengan antibodi yang sesuai, antigen berada dalam keadaan densitas muatan yang lebih tinggi dibanding jika antigen bertemu dengan antibodi yang sesuai.Simpulan: Tes imunosensor bisa menjadi alat yang menjanjikan dalam mendeteksi reaksi antibodi-antigen berdasar perbedaan densitas muatannya. Kata Kunci: HER2, ECD-HER2, imunohistokimia, imunosensor, densitas muatan
PERBEDAAN RESPON NYERI PADA PASIEN YANG DILAKUKAN PUNKSI SUMSUM TULANG DENGAN PREMEDIKASI MIDAZOLAM DAN TANPA PREMEDIKASI Ariosta Ariosta; Imam Budiwiyono; Herniah Asti Wulanjani
Media Medika Muda Vol 1, No 3 (2016)
Publisher : Faculty of Medicine Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (662.411 KB)

Abstract

Latar belakang: Tindakan punksi sumsum tulang (PST/bone marrow puncture/BMP) memerlukan indikasi dalam menunjang diagnosis penyakit. Prosedur punksi sumsum tulang sering menggunakan premedikasi midazolam dalam mencegah sebagian nyeri. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisa perbedaan respon nyeri pada pasien BMP dengan premedikasi midazolam dan tanpa premedikasi.Metode: Penelitian observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Pengambilan sampel dengan consecutive sampling pada 26 pasien yang membutuhkan tindakan punksi sumsum tulang. Penelitian dilakukan di RSUP Dr. Kariadi dan RS Telogorejo Semarang. Observasi dilakukan dengan membandingkan kelompok PST dengan premedikasi dan tanpa premedikasi midazolam. Intensitas nyeri diukur dengan Wong Baker faces pain (WBFP); respon nyeri diukur dengan mean arterial pressure (MAP), laju nadi, kadar kortisol dan kadar glukosa. Uji beda menggunakan independent t test untuk laju nadi dan kadar kortisol; dan Mann Whitney test untuk MAP dan kadar glukosa.Hasil: Terdapat perbedaan bermakna MAP (p=0,002) dan kadar kortisol (p=0,035) antara kelompok premedikasi dan tanpa premedikasi midazolam. Tidak terdapat perbedaan bermakna WBFP (p=0,468) dan laju nadi (p=0,719) antara kelompok premedikasi dan tanpa premedikasi midazolam.Simpulan: Premedikasi midazolam dalam tindakan PST dapat menurunkan respon nyeri ditandai dengan penurunan MAP kadar kortisol. Kata Kunci : respon nyeri, punksi sumsum tulang, premedikasi midazolam

Page 1 of 1 | Total Record : 10