cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Media Medika Muda
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 75 Documents
RELATIONSHIP BETWEEN HOMOCYSTEINE PLASMA LEVELS AND AREA OF MYOCARDIAL INJURY IN ACUTE CORONARY SYNDROMES Ardhianto P; Endang Purwaningsih; Bachtiar A B
Media Medika Muda Vol 1, No 3 (2016)
Publisher : Faculty of Medicine Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Background: Increased homocysteine plasma levels are associated with increased thrombosis. Acute coronary syndromes (ACS) is the process of thrombosis in coronary arteries induced by atherosclerosis plaque ruptures, fissures or erosion. The purpose of this study is to analyze the relationship between increased levels of homocysteine in the blood and the area of ischemic injury in myocardium of patients with ACS.Methods: In the frame of Cardio Metabolic Investigation (Carmetin); a cross-sectional study was done among ACS patients (n=40) admitted at Dr. Kariadi Hospital from August to November 2009. Serum homocysteine were obtained by Enzyme Linked Immuno Assay (ELISA) at the arrival. Myocardial injury area were assessed indirectly by levels of cardiac Troponin I (cTnI) at the time of arrival and 24 hours later. Homocysteine levels were divided into quintiles.Results: There were twenty seven male patients (67.5%) and thirteen female patients (32.5%). Eighteen patients (45%) had a negative cTnI (defined as cTnI ≤ 0.10 ng/ml), while twenty two patients had positive cTnI (55%) at arrival. At the peak levels, only one patients had a negative cTnI levels. There is significant relationship between homocysteine level and the peak of cTnI level (p=0.048). Homocysteine levels were significantly higher in cTnI positive than cTnI negative patients (p<0.01).Conclusion: The increased of homocysteine plasma level is associated with increased of myocardial injury area in ACS patients. Keywords: Homocysteine plasma, myocardial injury, acute coronary syndrome
THE COMBINE CREAM MIXTURE OF NIGELLA SATIVA AND OLEA EUROPAEA FASTEN THE BURN HEALING PROCESS WITH MINIMAL SCAR Sony Noegroho; Taufiq R Nasihun; Wiratno Wiratno; Awal Prasetyo
Media Medika Muda Vol 2, No 3 (2017)
Publisher : Faculty of Medicine Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Background: The healing process of burns is influenced by epithelial faster grown, VEGF expression (vascular endothelial growth factor) and the amount of collagen. Nigella sativa oil could cure the second grade burn wound as effective as silver sulfadiazine cream. Olea europaea accelerates the formation of collagen, reepitelisation and enhances VEGF expression. The combination of both proved its potential in producing faster wound healing with minimal scarring. Method: This is a true experimental study using “posttest only control group design”, including 40 males Wistar rats as subject, body weight ± 200 grams, and maintained at room temperature 280-320C, standard feed and ad libitum drink, adapted and acclimatized a week in Individual cages before treatment. All rats were induced burns in the back area with previous local anesthesia given. All rats are administered cream therapy immediately after burning induction, and repeated daily once for 5 days, and divided into 4 group with the treatment as follows; Group 1 were applied with Sulfadene® (silver sulfadiazine 1%), group 2 by Nigella sativa cream, Group 3 has given olive oil 5% and group 4 has given combination cream of Nigella sativa and olive oil 5%. On the 5th day of the study, each group was randomly assigned 5 rats to terminate the VEGF expression and counting the amount of fibroblast. The 21st day of the study, all groups were terminated and histopathologic examination of scar formation in scar burn areas measured in thickness with Optilab Pro® software.Result: The highest number of fibroblast cells was consecutive group 1 (27.4), group 3 (26.7), group 2 (26.4), and the least group 4 (18.3). VEGF expression did not differ in all groups (Kruskal Wallis, P = 0.074.Conclusion: The combination of Nigella sativa and Olea europea cream mixes speeds the healing of burns with scarring. Keywords: Nigella sativa, Olea europe, fibroblast, VEGF, burns, scar thickness
KARAKTERISTIK PENYAKIT KULIT AKIBAT INFEKSI DI POLIKLINIK KULIT DAN KELAMIN RSUP Dr. KARIADI SEMARANG PERIODE JANUARI 2008-DESEMBER 2010 Radityastuti Radityastuti; Primasthi Anggraeni
Media Medika Muda Vol 2, No 2 (2017)
Publisher : Faculty of Medicine Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang:  Kulit merupakan organ kompleks yang melindungi seseorang dari lingkungan sekitar seperti agen infeksius, paparan sinar matahari, debu, maupun paparan lainnya. Penyakit kulit akibat infeksi dapat disebabkan oleh bakteri, virus, maupun jamur. Penyakit kulit akibat infeksi di negara maju jarang didapatkan, sebaliknya di negara berkembang masih sering dijumpai.Metode: Penelitian ini adalah penelitian deskriptif berdasarkan catatan medik pasien Poliklinik Kulit dan Kelamin RSUP Dr. Kariadi Semarang periode 1  Januari 2008 – 31 Desember 2010.Hasil:   Pada tahun 2008-2010 terdapat 3.154 orang (33,52%) penderita penyakit kulit akibat infeksi dari 9.409 penderita penyakit kulit maupun kelamin yang berobat di Poliklinik Kulit dan Kelamin RSUP Dr. Kariadi. Dari keseluruhan penyakit kulit akibat infeksi, terdapat infeksi virus sejumlah 897 kasus (9,53%), infeksi bakteri sejumlah 584 kasus (6,20%) dan infeksi jamur superfisial sejumlah 1.673 kasus (17,78%).Kesimpulan: Penyakit kulit yang disebabkan infeksi masih mendominasi, dengan jumlah melebihi sepertiga dari keseluruhan kasus penyakit kulit dan kelamin di Poliklinik Kulit dan Kelamin RSUP Dr. Kariadi Semarang tahun 2008-2010. Kata kunci: penyakit kulit infeksi, bakteri, virus, jamur
PENGARUH KOMPLIKASI KEHAMILAN TERHADAP KEMATIAN NEONATAL DINI DI INDONESIA Arwinda Nugraheni; Renti Mahkota; Asri C Adisasmita
Media Medika Muda Vol 1, No 1 (2016)
Publisher : Faculty of Medicine Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang: Kematian neonatal dini merupakan penyumbang kematian bayi dan perinatal yang merupakan indikator derajat kesejahteraan dan kesehatan bangsa. Angka kematian bayi dan perinatal di Indonesia masih tergolong tinggi dibanding negara Asia lainnya. Komplikasi kehamilan diduga menjadi faktor kuat kematian neonatal dini. Penelitian bertujuan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh adanya komplikasi kehamilan dan setiap jenis komplikasi kehamilan serta ingin mengetahui PAR (Population Attributle Risk) terhadap kematian neonatal dini di Indonesia pada anak yang lahir 2002–2007 terhadap kematian neonatal dini setelah dikendalikan seluruh confounding.Metode: Desain studi yang digunakan dalam penelitian ini adalah crossectional dengan analisis multivariat complex sample cox regression. Sampel penelitiansebanyak 13893 dari 33 provinsi Indonesia yang diambil dengan metode Stratified two-stage cluster design. Hasil: Hasil analisis menunjukkan komplikasi kehamilan terhadap kematian neonatal dini dimodifikasi oleh berat lahir. Peneliti membuat dua model untuk membuktikan pengaruh komplikasi kehamilan terhadap kematian neonatal dini. Pada model pertama, PR komplikasi kehamilan terhadap kematian neonatal dini pada strata berat lahir <2000 gram sebesar 28,74 (95%CI: 10,21-81,02) PAR 13,92%, pada stratum ≥2000 gram sebesar PR 1,03 (95%CI: 0,32-3,34) PAR 11,94%. Pada model kedua, PR prematuritas memiliki risiko tertinggi PR 3,98 (95%CI 1,36-11,63) dengan PAR 8,1%.Simpulan : Pemerintah dan masyarakat dapat meningkatkan efektivitas ANC untuk penurunan komplikasi kehamilan dan prematuritas.Kata kunci: Komplikasi kehamilan, kematian neonatal dini, SDKI 2007
PENGARUH PEMBERIAN BERAS MERAH TERHADAP KADAR GULA DARAH TIKUS WISTAR Herlina DN; Nesha TRT; Noor F; Okki A; Ebigail D; Darmawati AI
Media Medika Muda Vol 2, No 2 (2017)
Publisher : Faculty of Medicine Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang.Diabetes melitus (DM) masih menjadi masalah kesehatan di Indonesia dengan menempati urutan ke empat terbesar dari jumlah penderita diabetes melitus di dunia. Konsumsi makanan dengan indeks glikemik rendah dapat mengontrol kadar gula darah penderita diabetes dan meningkatkan sensitivitas insulin. Kadar indeks glikemik pada beras merah(68%) lebih rendah dari beras putih (73%). Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh pemberian beras merah dosis bertingkat terhadap kadar gula darah tikus wistar.Penelitian dilakukan dengan mengondisikan tikus hiperglikemia menggunakan larutan glukosa monohidrat. Kemudian 20 tikus wistar (lima tikus setiap kelompok) diberi nasi merah dengan dosis 3,375; 6,75; dan 13,5 gram per hari sementara kelompok kontrol diberi nasi putih 6,75 gram/tikus/hari. Perlakuan diberikan selama 30 hari dengan dilakukan pengukuran gula darah setiap tiga hari sekali. Terdapat perbedaan bermakna kadar gula darah pada pengambilan hari ke 3, 7, dan 9. Hasil uji beda diketahui bahwa perbedaan kadar gula darah pada pengambilan ke-3, 7, dan 9 yang semuanya bermakna didapatkan pada uji antara kelompok kontrol dan perlakuan 2. Dosis beras merah 6,75 gram/hari pada tikus wistar merupakan dosis yang tepat untuk memperoleh kadar gula darah yang optimal. Kata kunci: beras merah; hiperglikemia; indeks glikemik
EFEK LATIHAN RELAKSASI OTOT PROGRESIF TERHADAP PERBAIKAN GEJALA KLINIS, KECEMASAN, HASIL ELEKTROMIOGRAFI DAN KUALITAS HIDUP PASIEN SPASMOFILIA Hari Peni Julianti; Sri Wahyudati; Robby Tjandra Kartadinata; Rudy Handoyo; Noviolita Noviolita
Media Medika Muda Vol 2, No 1 (2017)
Publisher : Faculty of Medicine Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang: Latihan relaksasi otot progresif dapat memperbaiki kecemasan dan nyeri kepala tegang serta kualitas hidup. Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan latihan relaksasi otot progresif dapat memperbaiki kualitas hidup pasien spasmofilia.Metode: Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dan kualitatif. Rancangan penelitian adalah kuasi eksperimental dengan pre-post test controlled grup design. Subyek penelitian adalah pasien spasmofilia yang berobat ke RSUP Dr. Kariadi Semarang yang memenuhi kriteria, berjumlah 20 orang. Kelompok perlakuan (10 orang) mendapatkan latihan relaksasi otot progresif 6 sesi dan edukasi standar, kelompok kontrol (10 orang) hanya mendapat edukasi standar.  Data kualitatif dikumpulkan dengan wawancara mendalam (indepth interview). Analisis data menggunakan uji Wilcoxon, dan uji  Mann Whitney.Hasil: Terdapat perbedaan delta sebelum dan sesudah intervensi jumlah gejala klinis (p=0,004), skor kecemasan (p=003), skor kualitas hidup keseluruhan (p=0,000) antara kelompok perlakuan dan kelompok kontrol. Penurunan jumlah gejala klinis, skor kecemasan dan peningkatan skor kualitas hidup kelompok perlakuan lebih tinggi daripada kelompok kontrol sesudah intervensi. Tidak terdapat perbedaan derajat spasmofilia sebelum dan sesudah intervensi pada kedua kelompok. Hasil wawancara mendalam menunjukkan adanya perbaikan nyeri, ketegangan otot, kecemasan sehingga lebih tenang dan kualitas hidup lebih baik.Simpulan:  Latihan relaksasi otot progresif dapat memperbaiki gejala klinis, kecemasan, dan kualitas hidup pasien spasmofilia. Kata Kunci: Spasmofilia, Relaksasi Otot Progresif
PENGARUH SUBSTITUSI TULANG DENGAN HIDROKSIAPATIT (HAp) TERHADAP PROSES REMODELING TULANG Indah Lestari Vidyahayati; Anne Handrini Dewi; Ika Dewi Ana
Media Medika Muda Vol 1, No 3 (2016)
Publisher : Faculty of Medicine Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang: Kerusakan jaringan oleh patah jaringan, trauma, atau penyakit memerlukan restorasi untuk memperbaiki fungsinya seperti sedia kala. Beberapa penelitian telah dilakukan untuk menemukan bahan-bahan substitusi jaringan, termasuk mengembangkan bahan hidroxyapatite (HAp). HAp merupakan bahan bioaktif yang memiliki kemampuan osteokonduktif, bioaktivitas, dan biokompatibilitas dalam proses pembentukan tulang. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh substitusi tulang dengan hidroksiapatit (HAp) pada gambaran histologis tulang pada tibia tikus (Rattus Sprague Dawley).Penelitian dilakukan dengan 15 tikus jantan Sprague Dawley, usia 3 bulan, dengan membuat defek di tibia kanan dan tibia kiri. Setiap defek berukuran 3 mm x 1,5 mm x 1 mm. Sebagai perlakuan diberikan implantasi hidroksiapatit pada defek tibia kanan dan tibia kiri sebagai situs kontrol tanpa implantasi. Masing-masing subjek didekapitasi setelah 1, 2, 3, 4, dan 8 minggu. Daerah defek diambil dan dibuat gambaran histologi, kemudian dilakukan pengamatan dan penghitungan jumlah sel osteoblas, dan osteoklas menggunakan mikroskop kontras fase.Data dianalisis oleh SPS 2000 dengan metode Two Way Anava. Hasil penelitian menunjukkan bahwa substitusi tulang dengan hidroksiapatit tidak signifikan pada aktivitas osteoblas atau osteoklas ditunjukkan dengan p>0,05, tapi analisis antar waktu menunjukkan signifikasi pada osteoklas (p<0,05). Investigasi pada gambaran histologi menunjukkan peningkatan pada aktivitas pembentukan tulang baru pada defek tulang. Kata kunci: substitusi tulang; hydroxyapatite; sel-sel tulang; gambar histologi
PERBEDAAN EKSPRESI p53 DAN PR (PROGESTERONE RECEPTOR) PADA MENINGIOMA DERAJAT I, II, III DI RSUP DR. KARIADI Edy Prasetyo; Udadi Sadhana; Meira Dewi Kusuma Astuti
Media Medika Muda Vol 2, No 3 (2017)
Publisher : Faculty of Medicine Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang: Meningioma berasal dari sel-sel selaput arachnoid  pada meninges, menyumbang sekitar 30% dari semua tumor primer di otak. WHO 2016 membagi  menjadi 3 grade : Grade I (jinak), Grade II (atipik) dan Grade III (anaplastik). Sistem derajat histopatologi tersebut belum mampu memprediksi prognosis dan rekurensi meningioma, sehingga dibutuhkan penanda protein dan hormonal yang bertanggung jawab pada proses tumorigenesis. Tujuan penelitian ini mengetahui perbedaan ekspresi p53 dan PR pada meningioma grade I, II, III di RSUP dr. Kariadi periode antara tahun 2011 sampai 2014.Metode: Sebanyak 30 sampel meningioma yang telah diklasifikasikan diberi pewarnaan khusus imunohistokimia p53 dan PR. Ekspresinya dinilai dengan menggunakan Allred score.Hasil: Dari 30 sampel didapatkan 14 grade I, 10 grade II dan 6 grade III. Jumlah wanita 23(76,67%) dan laki-laki 7(23,33%),  kejadian meningioma terbanyak pada usia 36-45 tahun yaitu sebanyak 19 kasus (63,33%) dan paling sedikit usia  5-11  tahun sebanyak 1 kasus (3,33%). Dari hasil uji Kruskal Wallis didapatkan nilai p hasil pemeriksaan ekspresi p53  pada tiap derajat meningioma adalah 0,163. Nilai p hasil pemeriksaan ekspresi PR pada tiap derajat meningioma adalah 0,045.Simpulan: Tidak terdapat perbedaan bermakna hasil pemeriksaan ekspresi p53 dan terdapat perbedaan ekspresi PR dengan ketiga grade meningioma. Kata kunci: Meningioma, p53, PR
PERBEDAAN HASIL RETINOMETRI PRA BEDAH DENGAN PASCA BEDAH KATARAK Arief Wildan; Wilardjo Wilardjo
Media Medika Muda Vol 1, No 2 (2016)
Publisher : Faculty of Medicine Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang: Perkiraan tajam penglihatan pasca bedah katarak sangat diperlukan untuk memberikan informasi kepada pasien katarak sebelum operasi.Retinometer dapat mengukur potensial visus pasca bedah katarak pada kondisi lensa yang keruh.Ketepatan hasil pemeriksaan retinometri diharapkan dapat membantu menentukan prognosis penderita katarak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan retinometri prabedah dengan pasca bedah berdasarkan derajat katarak senilis.Metode: Disian penelitian adalah pre post design yang dilakukan pada pasien katarak. Populasinya adalah penderita katarak senilis dengan sample yang memenuhi kriteira inkulsi dan eksklusi. Subjek yang memenuhi kriteria inklusi dilakukan pemeriksaan retinometer prabedah dengan pupil lebar dan pemeriksaan retinometer pasca bedah. Derajat katarak diklasifikasikan menurut Japanese cooperative cataract epidemiology study group system (JCCES). Derajat 1 dan 2 dimasukan dalam kelompok 1 sedangkan untuk derajat 3 dan 4 dimasukan dalam kelompok 2. Data dianalisis menggunakan t-test.Hasil: Didapatkan 59 pasien katarak dengan rerata perbedaan hasil retinometri prabedah dengan pasca bedah pada kelompok 1 adalah 0,05 (p=0,04) sedangkan rerata perbedaan hasil retinometri pada kelompok 2 sebesar 0,23 (p=0,001). Terdapat perbedaan bermakna antara hasil retinometri pra bedah dan retrinometri pasca bedah pada kelompok 1 dan 2. Semakin tinggi derajat katarak ,perbedaan tersebut semakin besar.Simpulan: Semakin tinggi derajat katarak, retinometri prabedah mempunyai nilai yang semakin rendah dibandingkan dengan retinometri pasca bedah. Kata kunci: Retinometri, katarak
HUBUNGAN EKSPRESI TUMOR-ASSOCIATED MACROPHAGES (TAM)/CD68 DENGAN STATUS EKSPRESI HER2 PADA KARSINOMA PAYUDARA INVASIF Dik Puspasari; Hermawan Istiadi; Siti Amarwati
Media Medika Muda Vol 2, No 2 (2017)
Publisher : Faculty of Medicine Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang : Kanker payudara merupakan kanker terbanyak pada wanita yang menyebabkan kematian di Indonesia. Ekspresi HER2 yang overexpressed pada kanker payudara merupakan penanda prognosis yang buruk. Tumor Associated Macrophage (TAM) berperan dalam pertumbuhan, invasi dan metastasis tumor dan berkaitan erat dengan prognosis yang buruk. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan antara ekspresi TAM/CD68 dengan status ekspresi HER2 pada karsinoma payudara invasif.Metode : Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan desain case control, dengan jumlah sampel total 50 blok paraffin dari pasien yang telah didiagnosis invasive carcinoma of no special type di RSUP dr. Kariadi Semarang pada tahun 2015-2016, yang kemudian dibagi menjadi 2 kelompok : HER2 positif (+) dan HER2 negatif (-). Data yang diambil adalah distribusi dan intensitas ekspresi CD68 menggunakan Allred immunohistochemistry score pada 5 lapangan pandang besar pada masing-masing sampel.Hasil : Jumlah distribusi ekspresi CD68 kelompok HER2 positif lebih banyak daripada kelompok HER2 negatif pada skor 3, 4 dan 5, dengan perbedaan yang bermakna (p = 0,001). Untuk intensitas ekspresi CD68, kelompok HER2 positif memiliki jumlah sel dengan intensitas kuat lebih banyak secara bermakna dibandingkan kelompok HER2 negatif. (p = 0,005).Kesimpulan : Karsinoma payudara invasif HER2 positif memiliki distribusi dan intensitas ekspresi TAM/CD68 yang lebih banyak dan lebih kuat secara bermakna dibanding kelompok karsinoma payudara invasif HER2 negatif. Kata Kunci : Tumor Associated Macrophage (TAM), CD68, HER2, Kanker Payudara Invasif