cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Media Medika Muda
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 75 Documents
THE CD 10AND PAS (PERIODIC ACID SCHIFF) EXPRESSIONS ON BASAL CELL CARCINOMA AT KARIADI HOSPITAL SEMARANG Meira Dewi K A; Hermawan Istiadi; Indra Wijaya
Media Medika Muda Vol 2, No 3 (2017)
Publisher : Faculty of Medicine Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang: Lebih dari 90% keganasan pada kulit merupakan tumor keratinocyte,dimana 70%-nya merupakan Basal cell carcinoma (BCC) dengan angka kejadian yang semakin meningkat.Diagnosis BCC yang tepat dengan menyingkirkan diagnosis bandingnya sangatlah diperlukan, menggunakan pemeriksaan CD10 dan pengecatan PAS. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan pemeriksaan CD10 dan PAS pada BCC untukpenegakan diagnosis BCC.Metode: Penelitian observasional analitik dengan desain case control.Sampel adalah 36 blok paraffin dari pasien tumor kulit yang telah didagnosis basal cell carcinoma di RSUP dr. Kariadi Semarang pada Januari 2014 hingga Desember 2016.Data yang diambil adalah ekspresi CD10 dan PAS.Hasil: Sebanyak 30 dari 36 sampel menunjukkan ekspresi CD10 positif (83,3%). Pengecatan PASdari 36 sampel karsinoma sel basal, sebanyak 28 ekspresi PAS positif (77,8%). Uji chi square, menunjukkan perbedaan tidak bermakna antara ekspresi CD10 dan PAS pada karsinoma sel basal (p = 0,473).Simpulan: Tidak terdapat hubungan bermakna antara CD 10 dan PAS pada BCC, sehingga keduanya dapat dipakai untuk menyokong diagnosis BCC dan membedakan BCC dengan diagnosis bandingnya. Kata Kunci: BCC, CD10, PAS
PELAKSANAAN PENGEMBANGAN JENJANG KARIR PERAWAT DI RUMAH SAKIT Muhammad Hasib Ardani; Retno Mulyani Kurniastanti
Media Medika Muda Vol 1, No 2 (2016)
Publisher : Faculty of Medicine Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang: Pelaksanaan sistem jenjang karir memacu profesi perawat untuk meningkatkan kualitas diri sesuai dengan peminatan masing-masing. Hal ini akan menstimulasi perawat untuk dapat memberikan pelayanan keperawatan yang optimal. Namun demikian ada perawat yang belum berpendapat tentang pelaksanaan dan prosesnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persepsi perawat dalam pelaksanaan pengembangan jenjang karir.Metode: Jenis penelitian ini adalah deskriptif dengan rancangan penelitian adalah survei. Populasi dalam penelitian ini adalah perawat RSUP Dr. Kariadi Semarang, dari berbagai jenjang karir perawat di unit pelayanan rawat inap. Sampel dalam penelitian ini sebanyak 90 perawat dengan teknik pengambilan sampel propotionate stratified random sampling.Simpulan: Penelitian menunjukkan persepsi perawat secara keseluruhan persepsi perawat dalam pelaksanaan pengembangan jenjang karir perawat sebagian besar adalah cukup baik sebanyak 67,8%. meliputi persepsi pelaksanaan pendaftaran 78,9% cukup baik, persepsi pelaksanaan penilaian kompetensi sebesar 75,6% cukup baik, persepsi pemberian rekomendasi sebagian besar cukup baik sebesar 66,7% persepsi pemberian jenjang karir baru sebanyak 73,3% cukup baik.Saran untuk rumah sakit khususnya menyiapkan sistem jenjang karir perawat berdasarkan kompetensi yang meliputi alur, model, uji kompetensi dengan cara memberikan informasi yang jelas dan mudah di pahami oleh perawat. Kata kunci: Jenjang karir, perawat
UJI BANDING MANFAAT KRIM ESTRIOL 0,1% DAN KRIM ASTAXANTHIN 0,1 % TERHADAP KERIPUT KULIT SUDUT MATA PADA PRIA Dhega Anindita Wibowo; Diah Adriani Malik; ES Indrayanti; Meilien Himbawani; R Sri Djoko Susanto; S Buditjahjono
Media Medika Muda Vol 1, No 1 (2016)
Publisher : Faculty of Medicine Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang: Keriput pada awalnya mulai nampak pada sudut mata. Hal ini dikhawatirkan baik wanita maupun pria. Aktivitas sehari-hari yang tinggi diluar rumah tanpa perlindungan terhadap sinar matahari yang adekuat ditambah penipisan lapisan ozon dapat menimbulkan penuaan kulit dini. Salah satu cara mengurangi keriput dapat menggunakan estrogen dan astaxanthin topikal. Penelitian ini untuk membandingkan efektivitas pemberian krim estriol 0,1% dan krim astaxanthin untuk mengurangi keriput kulit sudut mata pada pria.Metode: Penelitian ini merupakan uji klinis one group pre and post test design tanpa blinding, melibatkan 13 subyek pria usia 40–50 tahun dengan keriput kulit pada sudut mata. Efektivitas estriol dan astaxanthin topikal dalam mengurangi jumlah dan kedalaman keriput kulit sudut mata dibandingkan, pengukuran dengan metode replika gips dan dinilai secara visual. Jumlah dan perbedaan penurunan jumlah keriput sudut mata dianalisis dengan uji Wilcoxon, perbedaan kategori penurunan jumlah dan kedalaman keriput dengan uji χ2, perubahan kategori penurunan jumlah dan kedalaman keriput awal sampai akhir penelitian dianalisis dengan uji Mc Nemar.Hasil: Penurunan jumlah keriput pada estriol 0,1% adalah tidak bermakna, sedangkan pada astaxanthin 0,1% adalah bermakna, dan perbedaan persentase penurunan jumlah keriput antara estriol dengan astaxanthin adalah bermakna. Perubahan skor kedalaman keriput pada estriol dan astaxanthin adalah bermakna, namun penurunan skor kedalaman keriput serta distribusi kategori responsif antara kedua sisi adalah tidak berbeda bermakna.Simpulan: Krim astaxanthin 0,1% lebih efektif menurunkan jumlah dan kedalaman keriput sudut mata pada pria dibanding estriol 0,1%.Kata kunci: estriol, astaxanthin, jumlah dan kedalaman keriput kulit sudut mata, pria
PENGARUH PEMBERIAN RANITIDIN TERHADAP GAMBARAN HISTOPATOLOGI PARU DAN GASTER TIKUS WISTAR PADA PEMBERIAN METHANOL DOSIS BERTINGKAT Saebani Saebani
Media Medika Muda Vol 2, No 1 (2017)
Publisher : Faculty of Medicine Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang: Asam format merupakan hasil akhir metabolisme methanol bersifat toksik terhadap tubuh. Ranitidine terbukti efektif sebagai inhibitor enzim alcohol dehydrogenase pada gaster dan aldehyde dehydrogenase pada hepar. Penelitian ini bertujuan mengetahui efek pemberian ranididine pada kasus intoksikasi methanol pada organ paru dan gaster.  Metode: Sebanyak 35 ekor tikus wistar jantan dibagi 7 kelompok, masing-masing terdiri 5 ekor, yaitu; 3 kelompok perlakuan, 3 kelompok kontrol positif dan 1 kelompok kontrol negatif. Ketiga kelompok perlakuan dan ketiga kelompok kontrol positif diberi methanol dosis bertingkat. Kelompok perlakuan diberi ranitidin secara intraperitoneal. Pada akhir studi tikus diambil organ lambung dan paru untuk analisis gambaran histopatologi. Dilakukan uji Mann Witney untuk menilai adanya perbedaan antar kelompok.Hasil: Pada organ paru ada perbedaan tidak bermakna gambaran mikroskopis paru antara kontrol positif dengan kelompok perlakuan, namun kelompok K2 vs P2 berbeda bermakna. Gambaran destruksi septum ringan terbanyak pada P2, sedangan K0 dan K2 tidak ada. Gambaran destruksi septum sedang terbanyak pada K2. Gambaran destruksi septum berat terbanyak pada P3. Terdapat perbedaan tidak bermakna infiltrasi radang antar semua kontrol positif dengan perlakuan. Gambaran gaster antara perlakuan dan kontrol positif pada dosis metanol yang sama tidak didapat perbedaan bermakna, kecuali antara K2 vs P3. Gambaran paru dan gaster pada seluruh perlakuan didapat perbedaan bermakna dengan K0.Simpulan: Pemberian ranitidin pada tikus yang sebelumnya telah diberi methanol tidak mencegah terjadinya kerusakan paru dan gaster, namun ada perbedaan bermakna pada derajat kerusakannya. Kata kunci: Ranitidin, histopatologi paru, gaster, methanol dosis bertingkat
PENILAIAN RISIKO INFEKSI DENGAN SKOR MASCC PADA PENDERITA DEMAM NEUTROPENIA DI RUMAH SAKIT Dr. KARIADI DAN TELOGOREJO SEMARANG Fathur Nur Kholis
Media Medika Muda Vol 2, No 1 (2017)
Publisher : Faculty of Medicine Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang : Penilaian faktor risiko infeksi merupakan hal penting dalam pengelolaan penderita demam neutropenia. Pemilihan antibiotika empirik didasarkan pada besarnya skor risiko infeksi dan salah satu diantaranya adalah skor Multinational Association for  Supportive Care in Cancer (MASCC). Keterlambatan pemberian antibiotika empirik pada fase dini meningkatkan angka mordibitas dan mortabilitas, sedangkan pemberian antibiotika spectrum luas yang tidak rasional akan meningkatkan risiko efek samping dan resistensi kuman.Tujuan : Mendapatkan gambaran risiko infeksi pada penderita demam neutropenia, hubungan antara ANC, MASCC, onset lama demam dan kultur kuman.Metode : Desain penelitian ini adalah deskriptif analitik dengan pendekatan belah lintang. Penelitian ini dilakukan di RSDK dan RS Telogorejo Semarang dengan jumlah sampel 29 orang. Sampel dalam penelitian ini adalah penderita demam neutropenia. Absoluet netrophil count (ANC) diperiksa di laboratorium patologi klinik FK Undip. Skor risiko infeksi diperoleh dari skor MASCC selanjutnya penderita dikelompokkan menjadi risiko rendah dan risiko tinggi. Pemeriksaan kultur darah, urin, sputum, sekret yang lain dan identifikasi mikrobiologi di laboratorium mikrobiologi FK Undip. Korelasi Rank Spearman menguji hubungan antara ANC dan MASCC. Chi square test untuk hubungan antara kultur kuman dengan kategori ANC dan MASCC serta onset lama demam dengan kultur kuman. Semua uji statistik dengan tingkat kemaknaan 95%.Hasil : Sebanyak 21 subyek (72,4%) mengalami neutropenia berat (ANC <500/mm3). Angka kejadian infeksi pada hitung ANC <500 sebesar 71,4% sedangkan pada ANC 500-1000 sebesar 28,6% tetapi tidak ada hubungan bermakna antara ANC dengan kultur kuman (p=1,000). Sebanyak 72,4% (21 subyek) mengalami onset lama demam >24 jam (risiko tinggi) tetapi tidak ada hubungan bermakna antara onset lama demam dengan kultur kuman (p=0,427). Sebesar 65,51% (19 subyek) termasuk kelompok risiko rendah infeksi nilai skor MASCC high score (skor MASCC >21) dan tidak ada hubungan antara kategori MASCC dengan kultur (p=1,000). Tidak ada hubungan bermakna antara ANC dan MASCC (r=0,294, p=0,121). Tidak ada hubungan bermakna antara kultur kuman dengan ANC (p=1,000) maupun MASCC (p=1,000). Kuman terbanyak pada penderita dengan risiko tinggi (skor MASCC <21) adalah Gram-negatif 6,8% (E. Colli) dan Gram-positive 10,3% (S.Aureus, E.aerogenes), sedangkan penderita dengan risiko rendah (skor MASCC >21) adalah Gram-negative 13,7% (E.Colli P.aeroginosa), di ikuti S.aureus, E.aerogenes, P.mirabilis dan S.epidermidis masing-masing 3,4%.Kesimpulan : Sebagian besar penderita demam neutropenia mengalami neutropenia berat (ANC <500/mm3) tetapi sebanyak 65,52% termasuk risiko rendah infeksi dengan skor MASCC >21 (high score). Kuman terbanyak pada penderita risiko tinggi (MASCC <21) adalah Gram-negative (E.Colli) dan Gram-positive (S.Aureus), sedangkan pada risiko rendah (MASCC >21) didominasi Gram-negative (E.Colli). Kata kunci : Deman Neutropenia, Risiko Infeksi, ANC, Skor MASCC, Kultur Kuman.
PENGARUH NILAI pH TERHADAP WARNA DARI KAYU SECANG (Caesalpinia Sappan L.) SEBAGAI INDIKATOR ALAMI BARU Indah Saraswati
Media Medika Muda Vol 1, No 3 (2016)
Publisher : Faculty of Medicine Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang: Zat warna telah dikenal sejak beberapa abad yang lalu. Dalam upaya isolasi zat warna alami, dilakukan kajian mengenai zat warna alami kayu secang (Caesalpinia sappan L.). Beberapa penelitian terdahulu hanya melaporkan aktivitas kayu secang sebagai obat tradisional. Penelitian ini ditujukan untuk mempelajari warna dari kayu secang (Caesalpinia Sappan L.) dalam berbagai variasi nilai pH yaitu dalam larutan asam, netral, dan basa.Metode: Preparasi sampel secang dilakukan dengan mengekstraksi bubuk kayu secang dengan pelarut air menggunakan metode Soxhlet.Hasil: Larutan kayu secang pada larutan asam, netral, dan basa menunjukkan warna yang berbeda. Secang sebagai larutan dianalisis dengan spektrofotometer UV-Vis. Spektra UV-Vis menunjukkan bahwa larutan secang memiliki dua puncak pada panjang gelombang 440 nm dan 540 nm, dengan intensitas yang bervariasi dengan variasi pH. Secara fisik, hal ini ditunjukkan dengan perbedaan warna dari larutan secang tersebut.Simpulan: Larutan secang pada larutan asam menunjukkan warna kuning-jingga, pada larutan netral menunjukkan warna merah, dan pada larutan basa menunjukkan warna ungu-violet. Kata kunci: secang, Caesalpinia sappan L., variasi pH
KAJIAN MENGENAI JENIS SPESIES MALASSEZIA DAN WARNA LESI PITIRIASIS VERSIKOLOR Widyawati Widyawati; Prasetyowati Prasetyowati; Subakir Subakir
Media Medika Muda Vol 2, No 3 (2017)
Publisher : Faculty of Medicine Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendahuluan: Pitiriasis versikolor (PV) merupakan infeksi jamur superfisial yang bersifat kronik, ditandai dengan adanya makula hipopigmentasi maupun hiperpigmentasi yang disertai dengan skuama halus. Terdapat 14 spesies Malassezia yang pada keadaan tertentu dapat berubah menjadi patogen dan menimbulkan beberapa kelainan pada kulit.Tujuan: Mengetahui jenis spesies Malassezia pada lesi hipopigmentasi dan hiperpigmentasi pitiriasis versikolorMaterial dan Metode: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan cross sectional. Dilakukan di sub bagian Dermatomikologi, Bagian/SMF Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin RSUP dr Kariadi Semarang serta laboratorium Mikrobiologi FK UNDIP/RS dr Kariadi Semarang, dengan 80 sampel. Lesi PV diidentifikasi berdasarkan perubahan warna. Dilakukan pemeriksaan mikroskopis kerokan kulit dan KOH 10%, kemudian dilakukan kultur disertai dengan pemeriksaan gambaran morfologi, pemeriksaan biokimiawi asimilasi Tween 20, 40, 60, 80. Analisis data dengan menggunakan Uji Chi Square.Hasil Penelitian: Warna lesi yang paling banyak didapatkan pada penelitian ini adalah lesi hipopigmentasi (73%). Sedangkan lesi hiperpigmentasi sebanyak 27%.Spesies Malassezia yang berhasil diidentifikasi adalah Malassezia yamatoensis (76%), Malassezia furfur (23,8%), Malassezia equine (1,6%), dan Malassezia caprae (1,6%). Hasil analisis statistik antara jenis spesies dan warna lesi yang paling banyak, dengan menggunakan Uji Chi Square didapatkan (p=0,075)Kesimpulan: tidak didapatkan hubungan bermakna antara warna lesi dengan jenis spesies Malassezia Kata kunci: Malassezia sp, pitiriasis versikolor
PERBANDINGAN UJI TARIK DUA SKRUP PEDIKEL DENGAN PENGHUBUNG ANTARA METODE MAGERL DAN METODA ROY CAMILLE (Suatu penelitian biomekanik dengan model vertebra thorakolumbal cadaver) Agus Priambodo; Subroto Sapardan
Media Medika Muda Vol 1, No 2 (2016)
Publisher : Faculty of Medicine Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang: Pedikel adalah bagian yang terkuat dari vertebra. Dalam pemasangan skrup pedikel, yang cukup popular dilakukan di Indonesia adalah metoda menurut Magerl dan Roy Camille. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur selisih kekuatan fiksasi dua skrup pedikel antara teknik pemasangan menurut Magerl dan teknik pemasangan menurut metoda Roy Camille.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian biomekanik yang dilaksanakan dengan disain penelitian eksperimental.Hasil: Dengan metode Roy Camille, nilai rata-rata kekuatan tarikan yang dibutuhkan untuk terjadinya pullout adalah sebesar 2016,7 Newton, sedangkan dengan metode Magerl sebesar 1891,7 Newton. Mean perbandingan kekuatan melawan tarikan antara kedua metode sebesar 125, dengan standar deviasi 113,1. dengan menggunakan uji rangking Wilcoxon menunjukkan bahwa perbedaan kekuatan melawan tarikan antara kedua metode bermakna (p=0,002 )Simpulan: Terdapat perbedaan yang bermakna pada kekuatan yang dibutuhkan untuk melepas dua skrup pedikel yang dipasang menurut metode Roy Camille dengan yang dipasang menurut metode Magerl. Kata kunci: skrup pedikel, Roy Camille, Magerl
ANALISIS KINERJA MAHASISWA DALAM PENDAMPINGAN IBU HAMIL RISTI DI KOTA SEMARANG TAHUN 2014 Dea Amarilisa Adespin; Sri Achadi Nugraheni; Cahya Tri Purnami
Media Medika Muda Vol 1, No 1 (2016)
Publisher : Faculty of Medicine Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Background: Maternal Mortality Rate (MMR) in Semarang is one of the top five highest MMR in Central Java.As the effort to decrease MMR, Public Health Service (DKK) of Semarang had been colaborated with educational institution to envolved the midwifery student for mentoring high risk mother. Initial studies showed that the program did not work effectively. The objectives of this study was to analyze performance and to find out factors that related to midwivery student’s performance on mentoring high risk mother.Methods: This is a quantitative study used cross sectional design which envolved 115 respondents in Semarang.Data were collected by conducting interview using a structured questionnaire to analyze performance and related factors (knowledge, institution, location of duty, reward, supervision, facilities, attitude, and motivation).  Data were analyzed by using Rank spearman, Chi square and Logistic Regression.Results: This study showed that most of the respondents were good on knowledge (50.4%), perception of reward (60.9%), supervision (59.1%), facilities (58.3%), attitude (66.1%), motivation (89.6%) and performance (53.9%). The results of bivariate analysis showed that knowledge (0.001), reward (p=0.001), supervision (p=0.001), facilities (p=0.002), attitude (p=0.001) and motivation (p=0.001) had positive association with midwivery student’s performance on mentoring high risk mother. Meanwhile, institution (p=0.741) and location of duty (p=0.933) had no association with student performance. Furthermore, the result of multivariate analysis demonstrated that supervision, facilities and attitute jointly influenced midwivery student’s performances on mentoring high risk mother.Conclusion: There were positive relationship between performance with knowledge, reward, supervision, facilities, attitude and motivation.Keywords: Performances, Mentoring, High risk
PENGARUH PEMBERIAN HEPARIN SUBKUTAN DAN HEPARIN INTRAVENA SEBAGAI PROFILAKSIS TROMBOSIS VENA DALAM (TVD) TERHADAP NILAI D-DIMER PADA PASIEN CRITICALL ILL DI ICU RSUP DR. KARIADI SEMARANG Satrio Adi Wicaksono
Media Medika Muda Vol 2, No 1 (2017)
Publisher : Faculty of Medicine Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang : Heparin telah digunakan sebagai terapi maupun sebagai profilaksis primer TVD, walaupun keamanan heparin khususnya pada pasien critical ill yang memiliki risiko tinggi perdarahan  masih  merupakan subyek perdebatan. Untuk itu kami ingin mengetahui efektifitas heparin sebagai profilaksis TVD dan pengaruh pemberiannya terhadap nilai D-dimer pada pasien critical ill di ruang rawat intensif (ICU) RSUP DR. Kariadi Semarang.Tujuan : Pada penelitian ini peneliti ingin mengetahui perbedaan pengaruh pemberian heparin subkutan dibandingkan heparin intravena sebagai profilaksis TVD terhadap nilai D-dimer pada pasien critical ill di ruang rawat intensif (ICU) RSUP DR. Kariadi Semarang.Metode : Dilakukan Uji klinik  pada 30 pasien selama 3 hari dengan pemberian heparin subkutan 5000 IU bid sebagai kelompok I (n=15) dan  heparin 500 IU/jam intravena sebagai kelompok II (n=15) dengan membandingkan D-dimer pada pasien critical ill  di ruang rawat intensif (ICU) RSUP DR. Kariadi Semarang.Hasil : Setelah 3 hari diberikan profilaksis TVD didapatkan hasil yang bermakna pada kedua kelompok terhadap penurunan kadar D-dimer (p=0.05 dan p=0.00). Sedangkan pada perbandingan antara heparin SK dan heparin IV didapatkan hasil yang tidak bermakna pada pemeriksaan D-dimer (p=0.10)Simpulan : Pemberian heparin subkutan 5000 IU bid dan heparin 500 IU/jam intravena sebagai profilaksis TVD secara bermakna  dapat menurunkan kadar D-dimer. Sedangkan pada perbandingan  heparin SK dan heparin IV pada nilai D-dimer didapatkan hasil yang tidak bermakna. Kata kunci : heparin, TVD, D-dimer