cover
Contact Name
Muhammad Syahrir
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
ma.puslitbangkan@gmail.com
Editorial Address
Jl. Sungai Musi Km. 09 Tanete Riattang Timur Kabupaten Bone, Sulawesi
Location
Kab. bone,
Sulawesi selatan
INDONESIA
Media Akuakultur
ISSN : 19076762     EISSN : 25029460     DOI : 10.15578/ma
Media Akuakultur as source of information in the form of the results of research and scientific review (review) in the field of applied aquaculture including genetics and reproduction, biotechnology, nutrition and feed, fish health and the environment, and land resources in aquaculture.
Arjuna Subject : -
Articles 333 Documents
PERFORMA BUDIDAYA RUMPUT LAUT Gracilaria changii (Gracilariales, Rhodophyta) PADA LOKASI TANAM BERBEDA DI PERAIRAN UJUNG BAJI KABUPATEN TAKALAR Mugi Mulyono Mulyono; Suharyadi Suharyadi; Sri Budiani Samsuharapan; Erni Marlina; Maria Goreti Eny Kristiany; Effi Athfiyani Thaib; Amyda Suryati Panjaitan; Sinar Pagi Sektiana; Ilham Ilham; Fitriska Hapsyari; Afandi Saputra; Faridatun Hasanah; Yamina Safitri
Media Akuakultur Vol 15, No 2 (2020): (Desember, 2020)
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (138.464 KB) | DOI: 10.15578/ma.15.2.2020.71-77

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengevaluasi performa pertumbuhan Gracilaria changii yang ditanam di daerah budidaya dengan lokasi yang berbeda. Penelitian ini dilakukan di perairan Takalar, Sulawesi Selatan, Indonesia. Pengamatan pertumbuhan dengan metode long line dilakukan di lima lokasi di perairan Ujung Baji, Takalar, Sulawesi Selatan. Hasil yang diperoleh memperlihatkan bahwa tingkat pertumbuhan G. changii di lokasi tanam yang berdekatan dengan muara sungai (stasiun-5) memiliki laju pertumbuhan terbaik sebesar 557,6 ± 31,51 g dan berbeda sangat nyata dibandingkan dengan lokasi tanam yang jauh dari muara sungai (stasiun-1) dengan laju pertumbuhan sebesar 266,4 ± 15,98 g. Sedangkan tingkat pertumbuhan spesifik tidak memperlihatkan adanya perbedaan yang nyata antara stasiun-5 (4,20 ± 4,2%/hari) dengan stasiun-1 (2,36 ± 2,4%/hari). Pengamatan kualitas air memberikan indikasi pengaruhnya terhadap pertumbuhan G. changii, di mana yang paling dominan adalah salinitas.This study aimed to evaluate the growth performance of Gracilaria changii cultivated at different locations. This research was conducted in Takalar waters, South Sulawesi, Indonesia. Observations on seaweed growth planted using long line method were carried out in five different locations in the waters of Ujung Baji, Takalar, South Sulawesi. The results showed that the growth rate of G. changii at the planting location near the river mouth (station-5) was the best with a growth rate of 557.6 ± 31.51 grams and significantly different compared to that of seaweed planted at the farthest location from the river mouth (station-1) with a growth rate of 266.4 ± 15.98 grams. There was no significant difference on specific growth rate between stations 5 (4.20 ± 4.2%/day) and station 1 (2.36 ± 2.4%/day). Further observation of water quality variations indicated that salinity predominantly affects the growth. G. changii in this area.
KERAGAMAN FENOTIPE TRUSS MORFOMETRIK POPULASI IKAN BERONANG Siganus guttatus (Bloch, 1787) ASAL PERAIRAN BARRU, LAMPUNG, DAN SORONG Herlinah Herlinah; Samuel Lante; Andi Tenriulo; Rosmiati Rosmiati; Agus Nawang
Media Akuakultur Vol 15, No 2 (2020): (Desember, 2020)
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (166.426 KB) | DOI: 10.15578/ma.15.2.2020.61-70

Abstract

Evaluasi keragaman fenotip dan genetik ikan beronang dilakukan sebagai langkah awal untuk mengembangkan program pemuliaan jenis ikan tersebut secara berkelanjutan. Penelitian bertujuan untuk menganalisis keragaman fenotip atau morfologi populasi ikan beronang asal Barru, Lampung, dan Sorong dengan menggunakan metode truss morfometrik. Jumlah sampel ikan dari masing-masing populasi sebanyak 60 ekor. Terdapat 21 karakter truss morfometrik yang digunakan untuk mengkarakterisasi keragaman bentuk tubuh antar populasi ikan beronang. Analisis komponen utama atau principal component (PCA) dan analisis pengelompokan atau cluster analyses (CA) digunakan untuk mengidentifikasi dan menentukan pola variabilitas morfologi, perbedaan dan hubungan antar populasi. Hasil karakterisasi jarak morfometri menunjukkan bahwa terdapat dua komponen utama atau kelompok utama populasi ikan beronang. Pada komponen utama pertama, hampir semua karakter yang diuji berkontribusi untuk membedakan bentuk tubuh ikan beronang dengan nilai kontribusi sebesar 77,4%. Karakter tersebut adalah kepala depan, badan tengah, badan belakang, dan pangkal ekor yang dianggap sebagai karakter penyumbang utama. Pada komponen utama kedua hanya ada tiga karakter yang berkontribusi yaitu dua karakter pada kepala yaitu ujung mulut atas – isthmus (A3); dan ujung mulut atas - pangkal sirip punggung (A4). Karakter lainnya terdapat pada badan yakni pangkal sirip punggung-pangkal sirip perut (B3). Hasil analisis pengelompokan berhasil mengidentifikasi dua kelompok yaitu kelompok 1 populasi ikan beronang asal Lampung dengan perbedaan persentase 60% terhadap kelompok 2. Di mana kelompok 2 adalah populasi ikan beronang asal Barru dan Sorong dengan persentase kemiripan sebesar 80%.Evaluation of phenotype and genetic diversities of rabbitfish was conducted as the first step to develop a sustainable breeding program of the species. The research aimed to analyze the phenotype or morphological variability of rabbitfish populations in Barru, Lampung, and Sorong using truss morphometric method. The number of fish samples was 60 fish from each population. There were 21 truss morphometric characters were used to characterize the body shape variability among the rabbitfish populations. Principal component (PCA) and cluster analyses (CA) were used to identify and determine the patterns of morphological variability, dissimilarity and relationships among the populations. The results of morphometric distance characterization indicated two main components or main groups of population of the rabbitfish. In the main first component, almost all of the characters tested contributed to distinguishing the body shape of the rabbitfish with the contributing value of 77.4%. The characters were the front head, mid-body, rear body and tail base of which the latter is considered as the main contributing character. In the second main component , there were only three contributing characters which were two characters on the head namely the anterior tip of snout at upper jaw-isthmus (A3) and anterior tip of snout at upper jaw origin of dorsal fin (A4) . The other was the body character of origin of dorsal fin-origin of pelvic fin (B3). The results of the cluster analysis successfully identified 2 clusters: cluster 1 of rabbitfish population from Lampung with 60% percentage difference toward cluster 2. While cluster 2 was populations of rabbitfish from Barru and Sorong with a similarity percentage of 80%.
KERAGAAN PANTI BENIH UDANG SKALA KECIL DAN BESAR DI KECAMATAN SUPPA KABUPATEN PINRANG Erna Ratnawati; Andi Akhmad Mustafa; Tarunamulia Tarunamulia
Media Akuakultur Vol 15, No 2 (2020): (Desember, 2020)
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (130.636 KB) | DOI: 10.15578/ma.15.2.2020.79-88

Abstract

Sebagai salah satu sentra produksi udang di Kecamatan Suppa Kabupaten Pinrang memiliki enam unit panti benih skala kecil (PBSK) dan tiga unit panti benih skala besar (PBSB) sebagai penyuplai benur untuk budidaya di tambak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui performa pengelolaan pembenihan PBSK dan PBSB di Kecamatan Suppa sebagai pijakan untuk meningkatkan kuantitas, kualitas, dan kontinuitas benur yang dihasilkan. Penelitian dilakukan dengan cara wawancara menggunakan kuesioner untuk mendapatkan informasi pengelolaan panti benih yang dilakukan dan sarana panti benih yang ada pada empat unit PBSK dan dua unit PBSB. Pengukuran dan pengambilan contoh air sumber dilakukan di perairan Suppa di Selat Makassar. Kualitas air sumber dapat mendukung kegiatan produksi benur di panti benih pada musim kemarau, tetapi kualitas air menurun pada musim hujan berupa penurunan suhu dan salinitas air, dan peningkatan kandungan amonia nitrogen total dan nitrat. Bak-bak pemeliharaan larva/pascalarva yang digunakan panti benih di Kecamatan Suppa berbentuk empat persegi panjang dengan dasar bak yang hampir datar dan memiliki volume bervariasi dari 4 sampai dengan 21 m3. Setiap siklus produksi dapat diproduksi benur 1.600.000 sampai 2.250.000 ekor dengan 5-12 siklus/tahun pada PBSK dan 9.500.000 sampai 17.500.000 ekor dengan 5 siklus/tahun pada PBSB. Kunci keberhasilan produksi benur adalah pengelolaan kulitas air tertutama menjaga salinitas, suhu, dan oksigen terlarut sesuai kebutuhan benur. Produksi total benur PBSK dan PBSB di Kabupaten Suppa adalah 209.500.000 ekor/tahun. Pengelolaan kualitas air panti benih di musim hujan di Kecamatan Suppa dapat dilakukan dengan menerapkan Cara Pembenihan Ikan yang Baik dan memodifikasi sarana atau penggunaan sarana tambahan. Suppa Subdistrict is one of the shrimp production centers in Pinrang District. Currently, there are six units of small-scale shrimp hatchery and three units of large-scale shrimp hatchery operated in the subdistrict that supply shrimp fries to local shrimp grow-out brackishwater ponds. This study was conducted to determine the performance of the small and large-scale hatcheries in Suppa Subdistrict in relation to hatchery’s management. The overarching objective of this study was to devise an improved hatchery management to increase the quantity, quality, and production continuity of shrimp fries from the hatcheries. An interview was conducted using a structured questionnaire to elaborate the existing hatchery management practices and facilities of four units of small-scale and two units of large-scale hatcheries. The measurement and sampling of water quality parameters were carried out in Suppa coastal waters of Makassar Strait, where most of the hatcheries sourced their seawater supply. Water quality during the dry season was sufficient to support the hatchery’s activities. However, water quality during the rainy season decreased in terms of reduced water temperature and salinity, and increased total ammonia nitrogen and nitrate contents. The rearing tanks were of rectangle shape with nearly flat bottom and volume varied from 4 to 21 m3. The small-scale hatcheries produced between 1,600,000 and 2.250,000 of shrimp fries per cycle with a total of 5-12 production cycles/year. The large-scale hatcheries produced 9,500,000 up to 17,500,000 of shrimp fries per cycle with at least five production cycles/year. The total production of shrimp fries from the existing hatcheries in Suppa Subdistrict reached up to 209,500,000 shrimp fries per year. During rainly season, the water quality management of the existing hatcheries in Suppa Subdistrict could be improved by strictly implementing best hatchery management practices and through modification of hatchery’s facilities or setting up additional water quality monitoring instruments.
POTENSI KOMBINASI TANAMAN OBAT HERBAL SEBAGAI BAHAN PENGENDALI PENYAKIT BAKTERI, JAMUR, DAN PARASIT PADA IKAN LELE Nunak Nafiqoh; Lila Gardenia; Desy Sugiani; Uni Purwaningsih
Media Akuakultur Vol 15, No 2 (2020): (Desember, 2020)
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (180.936 KB) | DOI: 10.15578/ma.15.2.2020.105-111

Abstract

Ikan lele merupakan komoditas ikan yang mempunya nilai jual yang cukup baik di pasar. Tingginya permintaan ikan lele memicu intensifikasi produksi dengan melakukan budidaya dengan padat tebar tinggi, sehingga resiko ikan terserang penyakit akan lebih besar. Upaya untuk menghindari penggunaan obat-obatan kimiawi terutama antibiotik perlu segera dilakukan. Oleh sebab itu informasi tentang bahan alami yang mampu menggantikan fungsi antibiotik sintetis namun tidak meninggalkan residu sangat diperlukan. Penelitian ini ditujukan untuk melihat potensi efektivitas dari kombinasi enam jenis tanaman obat herbal dalam pengendalian penyakit akibat bakteri, jamur, dan parasit pada ikan lele. Hasil menunjukkan bahwa kombinasi tanaman obat herbal dengan dosis yang diekstrak adalah 1:10 w/v (tanaman obat herbal: pelarut) efektif dalam menekan pertumbuhan bakteri Flavobacterium columnare secara in vitro dengan diameter zona bening 16 ± 3 mm. Sementara untuk jamur yang tidak diidentifikasi spesiesnya dosis yang mampu mematikan pertumbuhan hifanya adalah 300 mL/mL-1 dan pada dosis 1 g.L-1 serbuk kombinasi tanaman obat herbal mampu menurunakan jumlah parasit dari kelompok Trichodina, Gyrodactylus, dan Dactylogyrus mulai hari ke-2 pasca perendaman. Sedangkan dosis aman yang dapat digunakan oleh ikan lele adalah 1,82 g.L-1.Catfish is a valuable fish commodity in local and national markets. The increasing demand for catfish has led to the farming intensification of the fish. As a result, fish disease outbreaks frequently occur in most of catfish farming centres. Efforts to prevent these outbreaks and reduce the use of antibiotics and other chemical have been developed primarily through the use of natural ingredients such as medicinal herbs. This study was aimed to study the potential use of six medicinal herbs combination in controlling diseases in catfish caused by bacteria, fungi and parasites. The results showed that the medicinal herbs' combination effectively suppressed the growth of the bacterium Flavobactrium columnare in vitro with a clear zone diameter of 16 ± 3 mm after the application of the herbs combination extract of 1:10 w/v (herbs: solvent). The extract dosage use of 300 mL/mL-1 was able to destroy the hyphal structure of an unidentified fungus. At a dose of 1 g.L-1, the powder form of the combination of the medicinal herbs was able to reduce the number of parasites of Trichodina, Gyrodactylus and Dactylogyrus on the 2nd day after immersion. This study recommends that the safe dose of the extract for catfish is 1.82 g.L-1.
KAJIAN BUDIDAYA RUMPUT LAUT Gelidium corneum DENGAN BEBERAPA METODE DAN PENEMPATAN BIBIT DI PERAIRAN TABULO SELATAN, GORONTALO Wiwin Kusuma Perdana Sari; Dhini Arum Pratiwi; Muslimin Muslimin
Media Akuakultur Vol 15, No 2 (2020): (Desember, 2020)
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (466.965 KB) | DOI: 10.15578/ma.15.2.2020.97-104

Abstract

Rumput laut Gelidium corneum merupakan salah satu spesies rumput laut penghasil agar dengan kandungan agarosa tertinggi dibandingkan jenis rumput laut lainnya. Hingga saat ini, produksi rumput laut Gelidium corneum masih mengandalkan perolehan dari alam sehingga volumenya masih sangat terbatas. Berdasarkan kondisi tersebut, kajian terhadap upaya budidaya rumput laut G. corneum dengan menerapkan beberapa teknik budidaya rumput laut yang sudah ada untuk mendapatkan metode dan penempatan bibit budidaya yang paling sesuai untuk G. corneum. Kegiatan uji coba dilakukan di perairan Tabulo Selatan, Gorontalo. Rancangan percobaan didesain menggunakan faktorial yang terdiri atas dua, yaitu faktor metode (long line dan kantong) dan faktor penempatan bibit di dalam perairan (permukaan dan dasar). Hasil kajian menunjukkan bahwa penerapan metode kantong yang ditempatkan di dasar perairan menunjukkan performansi pertumbuhan rumput laut G. corneum yang paling baik, dengan nilai rata-rata laju pertumbuhan harian 2,92%.Gelidium corneum produces agar with the highest agarose content compared to other seaweed species. The current production of G. corneum still relies heavily on wild stock which is very limited. This study was conducted to determine the best cultivation technique and seed placement in the farming of G. corneum. The study was carried out in the waters of South Tabulo, Gorontalo. This study used a factorial design which consisted of two cultivation methods (long line and bag) and two seed placement levels in the waters (surface and bottom). From the four treatments, G. corneum grown in the bags and placed at the bottom showed the best growth performance with a mean daily growth rate of 2.92%.
SKRINING MARKA MHC-I DAN MHC-II PADA IKAN LELE AFRIKA (Clarias gariepinus) SEBAGAI GEN PENYANDI RESISTEN PENYAKIT Motile Aeromonas Septicaemia (MAS) Rommy Suprapto; Bambang Iswanto; Huria Marnis; Joni Haryadi
Media Akuakultur Vol 15, No 2 (2020): (Desember, 2020)
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (493.558 KB) | DOI: 10.15578/ma.15.2.2020.89-96

Abstract

Salah satu kendala yang dihadapi para pembudidaya ikan lele adalah serangan penyakit yang menyebabkan kematian massal sehingga mengakibatkan kerugian. Alternatif solusi yang dapat dilakukan adalah melakukan seleksi ikan lele tahan penyakit berbasis marka molekuler untuk memperoleh populasi unggul ikan lele. Seleksi dilakukan pada gen marka yang berkaitan dengan sistem imun yaitu MHC-I dan MHC-II. Tujuan penelitian ini adalah melakukan skrining marka MHC-I dan MHC-II pada ikan lele strain Mutiara, Paiton, Kenya, dan Sangkuriang yang merupakan koleksi di Balai Riset Pemuliaan Ikan (BRPI) Sukamandi. Jumlah sampel ikan pada tiap strain yang diambil untuk strain Mutiara, Paiton, Kenya, dan Sangkuriang masing-masing 14, 13, 3, dan 13 sampel. Analisis keberadaan marka MHC-I dan MHC-II dilaksanakan di Laboratorium Fisiologi dan Genetika BRPI Sukamandi. Skrining keberadaan marka MHC-I dan MHC-II dilakukan menggunakan metode PCR. Hasil menunjukkan persentase ikan yang positif membawa marka MHC-I adalah strain Mutiara 85,71%; strain Paiton 30,77%; strain Kenya 100%; dan strain Sangkuriang 92,31%; selanjutnya skrining ikan yang positif membawa marka MHC-II pada strain Mutiara menunjukkan persentase sebanyak 71,43%; strain Paiton 61,54%; strain Kenya 100%; dan pada strain Sangkuriang 0%. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa ikan lele strain Mutiara, Paiton, dan Kenya adalah populasi yang potensial untuk menjadi kandidat dalam kegiatan seleksi ikan lele tahan penyakit berbasis marka molekuler MHC-I dan MHC-II.One of the challenges faced by catfish farmers is disease outbreaks that can cause mass mortality resulting in significant economic losses. This study aimed to provide an alternative solution to overcome this issue by selecting disease-resistant catfish via molecular markers to obtain a catfish’s superior population. The selection was carried out on marker genes related to the immune system, namely MHC-I and MHC-II. This study screened the MHC-I and MHC-II markers on catfish strains of Mutiara, Paiton, Kenyan, and Sangkuriang, which were the collections of Balai Riset Pemuliaan Ikan (BRPI) Sukamandi. The number of fish samples for Mutiara, Paiton, Kenyan, and Sangkuriang strains were 14, 13, 3, and 13 samples, respectively. Analysis of the presence of MHC-I and MHC-II markers was carried out at the Physiology and Genetics Laboratory of BRPI Sukamandi. Screening for the presence of MHC-I and MHC-II markers was carried out using the PCR method. The results showed that the percentages of positive fish carrying MHC-I marker were 85.71% for Mutiara strain, 30.77% for Paiton strain, 100% for Kenyan strain, and 92.31% for Sangkuriang strain. Furthermore, the percentages of positive screening of fish carrying MHC-II markers were 71.43% for Mutiara strains, 61.54% for Paiton strains, 100% for Kenyan strain, and 0% for Sangkuriang strain. This study’s findings suggest that the catfish strains of Mutiara, Paiton, and Kenyan are the potential populations to serve as the candidates in the selection of disease-resistant catfish based on molecular markers MHC-I and MHC-II.
Front Mattaer suprapti suprapti
Media Akuakultur Vol 15, No 2 (2020): (Desember, 2020)
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2836.26 KB) | DOI: 10.15578/ma.15.2.2020.i-vi

Abstract

PERKEMBANGAN EMBRIO IKAN Torsoro (Tor soro) PADA SUHU INKUBASI BERBEDA Otong Zenal Arifin; Fia Sri Mumpuni; Agung Sofian; Wahyulia Cahyanti; O.D. Soebakti Hasan
Media Akuakultur Vol 15, No 2 (2020): (Desember, 2020)
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (88.089 KB) | DOI: 10.15578/ma.15.2.2020.53-59

Abstract

Tor soro merupakan ikan air tawar asli Indonesia bernilai ekonomis tinggi yang belum banyak dibudidayakan secara intensif karena ketersediaan benih banyak mengandalkan hasil pemijahan di alam. Salah satu faktor keberhasilan dalam pembenihan adalah kondisi lingkungan terutama suhu. Tujuan penelitian adalah untuk menentukan suhu optimal bagi perkembangan embrio, lama waktu penetasan, dan daya tetas telur ikan Tor soro. Penelitian dilakukan pada bulan September 2015 di Instalasi Riset Plasma Nutfah Perikanan Air Tawar, Bogor. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan empat perlakuan suhu (19°C-21°C, 22°C-24°C, 25°C-27°C, dan 28°C-30°C) dan tiga kali ulangan. Perbedaan suhu inkubasi pada penelitian ini mempengaruhi perkembangan embrio, lama waktu penetasan, dan persentase daya tetas pada telur ikan Tor soro. Suhu inkubasi yang tinggi (28°C-30°C) menyebabkan telur mati setelah delapan jam atau pada saat fase calon embrio. Suhu inkubasi 25°C-27°C menghasilkan waktu penetasan tercepat yaitu selama 77,33 ± 1,15 jam dengan daya tetas yang tinggi yaitu sebesar 84,44 ± 6,94%.Tor soro is a native freshwater fish to Indonesia. Despite its high value in local and national markets, the fish has not been widely and intensively cultured because its seed supply relies heavily on spawning in nature. One of the success factors of spawning a fish and rearing its seed in a hatchery is controlling environmental conditions, especially temperature. The aim of the study was to determine the optimal temperature for embryo development, hatching time, and hatchability of Tor soro eggs. The study was conducted in September 2015 at the Freshwater Fisheries Germplasm Research Installation, Bogor. A completely randomized design (CRD) was used in the experiment with four temperature treatments (19°C-21°C, 22°C-24°C, 25°C-27°C,and 28°C-30°C) and each treatment had three replications. Differences in incubation temperature in this study affect ed embryo development, hatching time, and the percentage of hatchability on Tor soro eggs. High incubation temperatures (28°C-30°C) had caused the eggs or embryo candidates to die off after eight hours. The incubation temperature of 25°C-27°C generated produces the fastest hatching time of 77.33 ± 1.15 hours with a high hatchability of 84.44 ± 6.94%.
KEMAMPUAN HIDUP DAN TUMBUH IKAN KEMURING, Striuntius lineatus (Duncker, 1904) ASAL PULAU BANGKA PADA TAHAP AWAL DOMESTIKASI Wahyu Wahyu; Eva Prasetiyono
Media Akuakultur Vol 16, No 1 (2021): (Juni, 2021)
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (108.57 KB) | DOI: 10.15578/ma.16.1.2021.13-19

Abstract

Ikan kemuring, Striuntius lineatus (Duncker, 1904), merupakan salah satu ikan lokal yang berpotensi untuk dikembangkan menjadi ikan hias. Ikan ini tergolong sulit didapatkan akibat rusaknya habitat oleh aktivitas manusia. Ikan ini merupakan ikan yang rentan stres dan mudah mengalami kematian. Domestikasi adalah salah satu upaya mencegah terjadinya kepunahan terhadap populasi spesies yang terancam siklus hidupnya. Penelitian ini bertujuan menguji kemampuan hidup dan performa pertumbuhan ikan kemuring dalam akuarium, serta mengetahui kualitas air yang mendukung pemeliharaan ikan kemuring. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen. Data dianalisis secara deskriptif kuantitatif. Untuk melihat hubungan antara sintasan dengan kualitas air dianalisis menggunakan analisis PCA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ikan kemuring mampu hidup dan tumbuh pada wadah akuakultur. Nilai sintasan, pertumbuhan bobot mutlak, panjang mutlak, dan laju pertumbuhan spesifik masing-masing sebesar 93,33 ± 0,06%; 1,70 ± 0,31 g; 10,29 ± 1,02 mm; dan 0,96 ± 0,19% bobot tubuh/hari. Nilai suhu, pH, DO, TDS, TAN, dan kesadahan untuk pemeliharaan ikan kemuring didapatkan nilai masing-masing sebesar 28,72 ± 0,44°C; 6,28 ± 0,82; 5,81 ± 0,77 mg/L; 0,48 ± 0,16 mg/L; 2,50 ± 1,01 mg/L; dan 106,67 ± 55,73 mg/L. Berdasarkan analisis PCA, sintasan ikan kemuring di wadah pemeliharaan dipengaruhi oleh suhu, pH, DO, TAN, dan kesadahan.Lined barb is one of the local fish from Bangka Island that can be developed as a farmed ornamental fish. The fish is now rarely found in the wild due to its extensive habitat destruction by human activities. The fish is also relatively easy to get stressed and died. Domestication offers a solution to prevent the extinction of this fish population. Therefore, this study aimed to examine the survival and growth performance and determine the optimum rearing condition of lined barb in an aquarium setting. This research was carried out as an experimental study. The collected data were analyzed descriptively. The relationship between survival and water quality was determined using PCA analysis. The results showed that lined barbs were able to survive and grow in the aquaculture rearing media. The values of survival rate, absolute weight growth, absolute length, and specific growth rate were 93.33 ± 0.06%, 1.70 ± 0.31 g, 10.29 ± 1.02 mm, and 0.96 ± 0.19% body weight/day, respectively. The average values of temperature, pH, DO, TDS, TAN, and hardness were 28.72 ± 0.44°C, 6.28 ± 0.82, 5.81 ± 0.77 mg/L, 0.48 ± 0.16 mg/L, 2.50 ± 1.01 mg/L, 106.67 ± 55.73 mg/L, respectively. Based on the PCA analysis, the survival of lined barbs in aquaculture containers was influenced by temperature, pH, DO, TAN, and hardness of its rearing media.
PENGARUH PENGAYAAN Artemia sp. DENGAN SUMBER DHA YANG BERBEDA TERHADAP SINTASAN LARVA LOBSTER PASIR (Panulirus homarus) Zeny Widiastuti; Fahruddin Fahruddin; I Gusti Ngurah Permana
Media Akuakultur Vol 16, No 1 (2021): (Juni, 2021)
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (555.895 KB) | DOI: 10.15578/ma.16.1.2021.21-31

Abstract

Kegiatan pembenihan lobster masih dikembangkan di Indonesia. Sintasan yang rendah dan pakan yang sesuai masih menjadi masalah utama dalam kegiatan pembenihan lobster. Artemia sebagai pakan utama diduga belum mencukupi kebutuhan nutrisi larva lobster. Upaya pemberian bahan pengaya sebagai alternatif untuk meningkatkan nutrisi diharapkan dapat meningkatkan sintasan larva lobster. Pemberian bahan pengaya yang mengandung asam lemak dokosa heksanoid acid (DHA) ke Artemia dianggap penting bagi pertumbuhan dan sintasan pada krustasea. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui performa larva lobster berdasarkan tingkat sintasan maupun perkembangan larva dengan pemberian pakan artemia yang diperkaya dengan DHA. Perlakuan yang diberikan meliputi Artemia yang baru menetas (A), Artemia yang diperkaya dengan plankton Isochrysis galbana strain Tahiti konsentrasi (1-1,5 x 106 sel/mL) (B), DHA selco dosis 0,6 g/L (C), dan Artemia inkubasi 18 jam tanpa pengayaan (D). Pemeliharaan larva dilakukan pada bak 100 L dengan sistem air stagnan. Perkembangan larva yang mampu dicapai pada semua perlakuan adalah stadia-IIIa. Pemberian Artemia yang diperkaya dengan DHA selco menunjukkan hasil sintasan yang lebih baik pada pemeliharaan enam hari pertama namun tidak memberikan pengaruh yang signifikan. Pada masa pemeliharaan sampai 20 hari terjadi penurunan sintasan (SR) mencapai hanya 1%. Hal ini disebabkan adanya bakteri dan protozoa seperti jenis protozoa Zoothamnium sp. dan bakteri berfilamen teramati menempel pada tubuh larva sehingga mengganggu pergerakan dan kemampuan larva dalam menangkap mangsa. Berdasarkan penelitian ini maka penggunaan pakan Artemia yang diperkaya DHA Selco dapat menjadi alternatif pakan larva lobster namun tetap diperlukan kontrol kualitas air yang baik.Efforts to culture spiny lobster, Panulirus homarus larvae are still being developed in Indonesia. One of the main challenges in lobster hatcheries is to find an appropriate feed and improving larval survival. Artemia has been used as the main feed and considered to have insufficient nutritional ingredient for lobster larvae. Enrichment of feed to improve its nutrient contents is expected to increase the larval survival. DHA-enriched feed is considered essential for growth and survival of crustaceans. The aim of this study was to determine the survival and development of larvae fed with DHA-enriched Artemia. The treatments consisted of newly hatched Artemia (A), enriched Artemia with phytoplankton, Isochrysis galbana strain Tahiti at a density of 1-1.5 x 106 cells/mL (B), enriched Artemia with DHA selco at a dose of 0.6 g/L (C), and Artemia incubated for 18 hours without DHA enrichment (D). Each Artemia enrichment was performed for 18 hours. Larval rearing was carried out in a 00 L tank with static water system. The achieved larval developmental stage in all treatments was stage-IIIa. Administration of enriched Artemia with DHA selco showed a better larval survival during the first six days of larval rearing. But, it did not give any significant effect. The survival was then decreased to only 1% on day-20. This was due to the presence of bacteria and protozoa which decreased water quality. Protozoa Zoothamnium sp. and filamentous bacteria were observed attaching to the body of the larvae, disrupting the movement and ability of larvae in capturing prey. Based on this research, the use of Artemia enriched with DHA selco as an alternative for lobster larvae feed, but better water quality control is still needed.