cover
Contact Name
Muhammad Syahrir
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
ma.puslitbangkan@gmail.com
Editorial Address
Jl. Sungai Musi Km. 09 Tanete Riattang Timur Kabupaten Bone, Sulawesi
Location
Kab. bone,
Sulawesi selatan
INDONESIA
Media Akuakultur
ISSN : 19076762     EISSN : 25029460     DOI : 10.15578/ma
Media Akuakultur as source of information in the form of the results of research and scientific review (review) in the field of applied aquaculture including genetics and reproduction, biotechnology, nutrition and feed, fish health and the environment, and land resources in aquaculture.
Arjuna Subject : -
Articles 328 Documents
KIMA, PERLUKAH MENUNGGU F2 UNTUK PERDAGANGAN? SUATU KAJIAN BERDASARKAN MARKER GENETIK Estu Nugroho; Maria Goretti Lily Panggabean
Media Akuakultur Vol 3, No 2 (2008): (Desember 2008)
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (737.514 KB) | DOI: 10.15578/ma.3.2.2008.114-117

Abstract

Kima (Tridagnidae) merupakan salah satu komoditas air laut yang prospektif secara ekonomis, tercatat harga di Taiwan adalah $35--$142 per kg. Dalam pengembangan akuabisnis kima masih dijumpai kendala di antaranya adalah adanya aturan bahwa hanya turunan kedua atau F2 yang boleh diperdagangkan karena masuk dalam daftar CITES (Convention on Trade of Endangered Species) menurut PP No. 8 tahun 1999 tentang pemanfaatan satwa. Karena pertumbuhannya yang relatif lambat serta adanya negara lain, misalnya Filipina, Fiji, dan Taiwan yang memperdagangkan hasil budidaya pada turunan F1, maka keadaan ini sangat merugikan pihak Indonesia. Kajian tentang permasalahan penurunan variasi genetik merupakan salah satu alternatif untuk mendukung adanya pelonggaran persyaratan perdagangan kima tersebut. Kajian genetika dengan menggunakan marker genetik menunjukkan bahwa tidak terjadi penurunan variasi genetik seperti yang dikuatirkan sebelumnya. Keragaman genetik pada F1 meningkat dibandingkan dengan induknya, yaitu 0,073 dan 0,023. Jarak genetik antar populasi yang diuji adalah sebesar 0,016.
KARAKTER MORFOMETRIK, PERTUMBUHAN, DAN SINTASAN TIGA SPESIES IKAN SELUANG (FAMILI: CYPRINIDAE) ASAL PULAU BANGKA Ahmad Fahrul Syarif; Eva Prasetiyono
Media Akuakultur Vol 14, No 1 (2019): (Juni, 2019)
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (120.065 KB) | DOI: 10.15578/ma.14.1.2019.1-7

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi profil keragaman fenotipe ikan seluang (Rasbora) asal Pulau Bangka untuk pengembangan budidaya. Sampel ikan yang dikoleksi berasal dari lokasi sungai sekitar Desa Balunijuk, Kabupaten Bangka. Sebanyak tiga jenis ikan Seluang (Famili Cyprinidae) antara lain Rasbora einthovenii, Brevibora dorsiocellata, dan Trigionopoma gracile telah ditemukan. Pengukuran truss morfometrik dilakukan untuk melihat profil fenotipe ketiga spesies ikan seluang tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penciri utama yang dapat membedakan ketiga spesies secara spesifik adalah perbandingan rasio truss morfometrik antara karakter panjang ekor (PE) dengan lebar badan III (LB-III). Persentase sintasan tertinggi pada Brevibora dorsicellata yang dipelihara pada pH 5-6 yaitu 93,30 ± 5,80%; sedangkan persentase sintasan terendah adalah Trigonopoma gracile dengan nilai 76,60 ± 5,80% dipelihara pada pH 5-6 dan 7. Rasbora einthovenii yang dipelihara pada pH 5-6 menunjukkan nilai rata-rata pertambahan bobot mutlak yang lebih tinggi dibandingkan pH 7. Rata-rata pertambahan bobot mutlak dan pertambahan panjang mutlak pada Brevibora dorsiocellata dan Trigonopoma gracile memiliki kecenderungan lebih tinggi pada pemeliharaan di pH 5-6 dibandingkan pH 7.The research was aimed to evaluate the phenotypes profile of rasbora fish from Bangka Belitung Islands for aquaculture development. Samples of rasbora fish were collected from the rivers near Balunijuk Village, Bangka Residence. Three species of rasbora (Cyprinidae Family) which consisted of Rasbora einthovenii, Brevibora dorsiocellata, and Trigionopoma gracile.were collected . The truss morphometrics measurement was conducted to determine the phenotypic profiles of the three species. The results showed that the main identity characteristics to differentiate the three species were tail length (TL) and body width III (W-III). The highest survival rate was achieved by Brevibora dorsiocellata cultured in waters with pH 5-6 which was 93.30 ± 5.80%. The lowest survival rate was attained by Trigonopoma gracile which was 76.60 ± 5.80% cultured in pH 5-6 and 7. The Rasbora einthovenii cultured in waters with pH 5-6 showed the highest absolute weight gain compared to that of cultured in waters of pH 7. Brevibora dorsiocellata and Trigonopoma gracile tended to have better absolute weight and absolute length gain when cultured in waters with pH 5-6 compared to that of pH 7.
PRODUKTIVITAS DAN PROFITABILITAS BUDIDAYA IKAN LELE (Clarias gariepinus) HASIL SELEKSI DAN NON-SELEKSI PADA PEMELIHARAAN DI KOLAM TANAH Raden Roro Sri Pudji Sinarni Dewi; Bambang Iswanto; Irsyaphiani Insan
Media Akuakultur Vol 11, No 1 (2016): (Juni 2016)
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (338.47 KB) | DOI: 10.15578/ma.11.1.2016.11-17

Abstract

Ikan lele (Clarias gariepinus) merupakan salah satu komoditas budidaya air tawar yang populer di Indonesia. Berbagai upaya dilakukan untuk meningkatkan produktivitas ikan lele di antaranya melalui perbaikan kualitas genetik. Upaya peningkatan kualitas genetik ikan lele untuk mempercepat pertumbuhan dilakukan melalui proses seleksi. Pengujian performa ikan lele hasil seleksi (strain Mutiara) pada skala komersial dilakukan dengan membandingkannya dengan strain non-seleksi (strain Paiton). Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk membandingkan produktivitas dan profitabilitas budidaya ikan lele hasil seleksi dan non-seleksi yang dibesarkan di kolam tanah pada skala komersial. Ikan lele ukuran sekitar 2,5 g dipelihara di kolam tanah berukuran 50 m2 dengan kepadatan 200 ekor/m2. Pemeliharaan dilakukan sampai ikan mencapai ukuran panen (sekitar 100 g). Hasil penelitian menunjukkan bahwa ikan hasil seleksi memiliki laju pertumbuhan spesifik lebih tinggi (5,75 ± 1,25 g/hari), konversi pakan lebih rendah (0,90 ± 0,08), dan periode pemeliharaan lebih singkat (68 ± 13 hari) dibandingkan ikan non-seleksi (4,33 ± 0,70 g/hari; 1,09 ± 0,01; 90 ± 12 hari). Berdasarkan analisis bioekonomi, budidaya pembesaran ikan lele hasil seleksi mampu menekan biaya produksi hingga Rp2.365,00/kg dan mendatangkan rasio keuntungan (61,09 ± 5,17%) hampir dua kali lipat lebih tinggi dibandingkan non-seleksi (32,54 ± 4,12%).African catfish (Clarias gariepinus) is one of the freshwater aquaculture commodity that are popular in Indonesia. Various attempts had been conducted to increase its productivity including through genetic quality improvement. Efforts to improve the genetic quality of African catfish on growth trait was conducted by selection method. Evaluation the performance of improved strain of African catfish (Mutiara strain) on a commercial scale was done by comparing with local (non-improved) strain (Paiton strain). The purpose of this study was to compare the productivity and profitability of farming of improved strain and local strain of African catfish that were cultured in earthen ponds on commercial scale. African catfish with the size of about 2.5 g, were cultured in earthen pond measuring 50 m2 with a density of 200 fish/m2. Culture period was carried out until the fish reach harvest size (about 100 g). The results showed that improved strain showed a higher specific growth rate (5.75 ± 1.25 g/day), lower feed conversion ratio (0.90 ± 0.08), and shorter rearing period (68 ± 13 days) when compared to local strain (4.33 ± 0.70 g/day; 1.09 ± 0.01; 90 ± 12 days). Based on bioeconomy analysis, farming of improved strain reduced the production cost about 2,365 IDR/kg and achieved almost doubled benefit ratio (61.09 ± 5.17%) than local strain (32.54 ± 4.12%).
PERBAIKAN KUALITAS DAN PENGEMBANGAN IKAN HIAS AIR TAWAR Rudhy Gustiano; Yanti Suryanti; Eni Kusrini
Media Akuakultur Vol 1, No 2 (2006): (Agustus 2006)
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (729.979 KB) | DOI: 10.15578/ma.1.2.2006.59-63

Abstract

liat di file PDF
ANALISIS PENGARUH KONSENTRASI VANADAT (VO4³-) DALAM MEDIA KULTUR TERHADAP PERTUMBUHAN Dunaliella sp. Andi Kurniawan; Mohammad Elham Firdaus; Lutfi Ni’matus Salamah; Siti Mariyah Ulfa
Media Akuakultur Vol 14, No 1 (2019): (Juni, 2019)
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (120.065 KB) | DOI: 10.15578/ma.14.1.2019.49-54

Abstract

Dunaliella sp. adalah mikroalga halotoleran yang banyak dijumpai pada lingkungan hipersalin. Mikrolaga ini mengandung berbagai substansi yang berharga seperti karetonoid, gliserol, lipid, protein dan vitamin sehingga banyak dibudidayakan. Salah satu faktor utama yang memengaruhi pertumbuhan Dunaliella sp. yang dibudidayakan adalah ketersediaan senyawa di dalam media kulturnya. Salah satu senyawa yang dapat menstimulus pertumbuhan mikroalga adalah vanadat (VO43-). Penelitian ini menganalisis pengaruh konsentrasi vanadat dalam media kultur terhadap pertumbuhan Dunaliella sp. Konsentrasi vanadat yang digunakan adalah 0,002 mg/L; 0,02 mg/L; 0,2 mg/L; dan 0 mg/L (kontrol). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa keberadaan vanadat dalam media kultur memengaruhi secara signifikan pertumbuhan Dunaliella sp. di mana pertumbuhan terbaik didapatkan pada pemberian vanadat dengan konsentrasi 0,002 mg/L. Berdasarkan hasil penelitian ini, vanadat dalam media kultur dapat digunakan sebagai penstimulus pertumbuhan Dunaliella sp.Dunaliella sp. is halotolerant microalgae commonly found in hypersaline waters. This microalgae contains various valuable substances such as carotenoids, glycerol, lipid, protein, and vitamins, and thus, widely cultivated. One of the primary factors that influence the growth of cultured Dunaliella sp. is the availability of certain nutrient/chemical compounds in its culture media. One of the compounds that can stimulate the growth of microalgae is vanadate (VO43-). This study analyzed the effects of vanadate concentration in the culture media on the growth of Dunaliella sp. The vanadate concentrations used were 0.002 mg/L, 0.02 mg/L, 0.2 mg/L, and 0 mg/L as the control concentration. The results of this study suggested that the existence of vanadate in the culture media significantly affected the growth of Dunaliella sp. in which the best growth of Dunaliella sp. was obtained by the treatment with 0.002 mg /L of vanadate. This study recommends that the vanadate with concentration of 0.002 mg/L should be used in the culture media of Dunaliella sp.
PERFORMA RUMPUT LAUT Kappaphycus alvarezii HASIL SELEKSI DI PERAIRAN LAIKANG KABUPATEN TAKALAR Mat Fahrur; Andi Parenrengi; Makmur Makmur; Sri Redjeki Hesti Mulyaningrum
Media Akuakultur Vol 14, No 1 (2019): (Juni, 2019)
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (120.065 KB) | DOI: 10.15578/ma.14.1.2019.9-18

Abstract

Peremajaan bibit melalui seleksi dapat dilakukan untuk perbaikan kualitas bibit rumput laut. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan performa bibit rumput laut K. alvarezii hasil seleksi varietas Takalar, SIRICA, dan Bali. Desain penelitian adalah rancangan acak lengkap (RAL), dengan empat siklus pemeliharaan sebagai ulangan. Seleksi bibit dilakukan pada ketiga varietas dengan bibit non-seleksi sebagai kontrol internal. Pemeliharaan dilakukan di perairan Laikang, Takalar, Sulawesi Selatan selama empat siklus dengan durasi 30 hari/siklus. Pengukuran laju pertumbuhan harian (LPH), kandungan karagenan, kekuatan gel, dan monitoring kualitas air dilakukan setiap 30 hari. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan analisis ragam (ANOVA). Hasil penelitian menunjukkan bahwa seleksi bibit berpengaruh signifikan terhadap LPH rumput laut (P<0,05). Rumput laut hasil seleksi memiliki LPH lebih tinggi, yakni: Bali (4,75 ± 0,04%/hari), SIRICA (4,74 ± 0,06%/hari), dan Takalar (4,62 ± 0,12%/hari) dibandingkan dengan kontrol internal Bali (3,94 ± 0,15%/hari), SIRICA (3,74 ± 0,10%/hari), dan Takalar (3,66 ± 0,32%/hari). Rumput laut hasil seleksi varietas Bali dan SIRICA memiliki kandungan karagenan yang relatif sama yakni (37,27 ± 6,68%) dan (37,08 ± 7,17%). Varietas Takalar memiliki kandungan karagenan yang rendah (31,84 ± 5,32%) namun memiliki kekuatan gel yang paling tinggi (570,03 ± 145,72 g/cm²) dibandingkan varietas Bali (444,39 ± 157,44 g/cm²) dan SIRICA (438,48 ± 72,70 g/cm²).Regeneration by selection method can improve the quality of seaweed seed. This study was aimed to determine the performance of selected seaweed seeds of K. alvarezii from Takalar, SIRICA, and Bali varieties. The experiments were arranged in a completely randomized design with four cycles cultivations as replications. In each variety, a batch of non-selected/regular seeds was cultivated serving as internal control. The seaweed was cultivated in Laikang waters, Takalar Regency, South Sulawesi for 30 days for each cycle. The measurements of daily growth rate (DGR), carrageenan yield, gel strength, and water quality were conducted every 30 days. The collected data were statistically analyzed using ANOVA. The results showed that the selected seeds showed faster growth than that of its respective control (P<0.05). The selected seed of three varieties of K. alvarezii had higher DGR: Bali (4.75 ± 0.04%/day), SIRICA (4.74 ± 0.06%/day), and Takalar (4.62 ± 0.12%/day) than that of control varieties, Bali (3.94 ± 0.15%/day), SIRICA (3.74 ± 0.10%/day), and Takalar (3.66 ± 0.32%/day). The selected seeds of Bali and SIRICA had similar carrageenan content (37.27 ± 6.68%) and (37.08 ± 7.17%), respectively. Takalar had the lowest carrageenan yield (31.84 ± 5.32) but had the highest gel strength (570.03 ± 145.72 g/cm²) compared to Bali (444.39 ± 157.44 g/cm²) and SIRICA (438.48 ± 72.70 g/cm²).
STUDI KOMPARATIF EFEK PENGGUNAAN PAKAN MANDIRI DAN PAKAN KOMERSIAL DALAM BUDIDAYA IKAN NILA SRIKANDI (Oreochromis aureus x O. niloticus) DI KABUPATEN BREBES, JAWA TENGAH Shofihar Sinansari; Bambang Priono; Priadi Setyawan
Media Akuakultur Vol 14, No 2 (2019): (Desember, 2019)
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (61.98 KB) | DOI: 10.15578/ma.14.2.2019.105-111

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengevaluasi penggunaan pakan mandiri dan pakan komersil untuk pakan ikan nila srikandi di Brebes, Jawa Tengah. Pemeliharaan ikan nila srikandi dilakukan menggunakan tambak yang berukuran ± 3.000 m2 sebanyak tiga unit di mana setiap petak tambak disekat menjadi dua sehingga terdapat enam unit petak percobaan. Setiap unit percobaan ditebar sebanyak 10.000 ekor benih ikan. Ikan nila srikandi dipelihara selama empat bulan dan diberi pakan harian sebanyak 1%-2% dari bobot tubuh pada pukul 07.00, 12.00, dan 17.00. Ikan diberi pakan uji pada bulan ke-1 dan ke-2 sebanyak 1% dari bobot tubuh, kemudian pemberian pakan ditingkatkan menjadi 2% pada pemeliharaan bulan ke-3 dan ke-4. Performa ikan nila srikandi (pertumbuhan, laju pertumbuhan, dan kelangsungan hidup) yang diberi pakan mandiri dan pakan komersil diuji dengan menggunakan uji-T. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertumbuhan ikan nila srikandi tidak berbeda nyata antara yang diberi pakan pakan mandiri dengan yang diberi pakan komersil (P>0,05). Kemudian, hasil produksi ikan nila srikandi yang diberi pakan mandiri mencapai 2.214 ± 172,69 kg dan pakan komersil 2.248,5 ± 234,85 kg. Berdasarkan hasil analisis usaha penggunaan pakan mandiri pada budidaya nila srikandi lebih direkomendasikan dibandingkan dengan pakan komersil.The purpose of this study was to determine the effects of locally-produced and commercial feeds on the growth of Srikandi tilapia cultured in fish farming areas of Brebes Regency, Central Java. Tilapia Srikandi were cultured in three ponds sized approximately ± 3,000 m2. Each pond was divided into two sections divided by a net, which resulted in six experimental plots. Each experimental plot was stocked with 10,000 fish seeds. Srikandi tilapia were maintained for four months and given daily feed as much as 1%-2% of body weight with feeding time at 07.00, 12.00, and 17.00. The fish were given test feeds in the 1st and 2nd month as much as 1% of body weight. The feeding level was increased to 2% in the 3rd and 4th months. The performances of Srikandi tilapia (growth, growth rate, and survival) fed with the two feed types were tested using the T-test. The results showed that there was no statistically significant difference on growth performance between fish fed with locally-produced feed and commercial feed (P>0.05). The total harvest of Srikandi tilapia fed with the locally produced feed reached 2,214 ± 172.69 kg and 2,248.5 ± 234.85 kg for the commercial feed. This study suggests that in terms of economic efficiency, the use of the locally-produced feed in Srikandi tilapia farming is more profitable compared to the use of commercial feed.
PENGARUH SUMBER SPERMATOFORA PADA INSEMINASI BUATAN INDUK BETINA UDANG WINDU TURUNAN PERTAMA (F-1) TERHADAP PEMIJAHAN, KUALITAS TELUR, DAN LARVA TURUNANNYA (F-2) Samuel Lante; Usman Usman
Media Akuakultur Vol 14, No 2 (2019): (Desember, 2019)
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (87.101 KB) | DOI: 10.15578/ma.14.2.2019.63-71

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengevaluasi pemijahan udang windu betina F-1 dan mutu telur, serta larva turunannya (F-2) dengan inseminasi buatan menggunakan sumber spermatofora udang jantan yang berbeda. Perlakuan yang dicobakan adalah induk udang windu betina F-1 diinseminasi menggunakan spermatofora dari sumber induk jantan berbeda yaitu: spermatofora induk jantan F-1 hasil budidaya (S-1), dan spermatofora induk jantan alam (S-A). Data pemijahan induk betina, kualitas telur, dan profil asam amino pada daging dan hepatopankreas jantan, serta morfologi larva dianalisis secara deskriptif, sedangkan data uji vitalitas larva dianalisis uji t. Hasil penelitian menunjukkan bahwa induk udang windu betina F-1 yang diinseminasi dengan perlakuan S-1 memiliki tingkat pemijahan 67%; fekunditas 179.257 butir/induk; total produksi telur 1.434.053 butir; tingkat pembuahan telur 86,2%; daya tetas telur 59,8%; dan total produksi nauplii 738.439 ekor yang lebih rendah dibandingkan pada induk udang F-1 yang diinseminasi perlakuan S-A yang memiliki tingkat pemijahan 75%; fekunditas 215.489 butir/induk; total produksi telur 1.939.399 butir; tingkat pembuahan telur 88,9%; daya tetas telur 62,7%; dan total produksi nauplii 1.081.140 ekor. Sementara diameter telur (248-255 µm) dan mutu larva relatif sama di antara kedua perlakuan. Profil asam amino hepatopankreas dan daging pada induk udang jantan alam lebih tinggi dibandingkan pada induk udang jantan F-1. Penggunaaan spematofora jantan alam masih lebih baik daripada jantan budidaya pada inseminasi induk betina F-1 udang windu.This study was aimed at evaluating the spawning rate of F-1 female tiger shrimp and the quality of their egg and larvae derivatives (F-2) by artificial insemination using different sources of male shrimp spermatophore. The treatments consisted of broodstock of F-1 female tiger shrimp inseminated with different male spermatophores, namely: cultivated F-1 male spermatophore (S-1), and wild male spermatophore (S-A). Data on spawning performance of F-1 female tiger shrimp and amino acid profile in the hepatopancreas and muscle of male tiger shrimp and larval morphology were analyzed descriptively.The vitality of larvae was analyzed using t-test. The results showed that the broodstock of F-1 female tiger shrimp inseminated with S-1 treatment had spawning rate of 67%; fecundity of 179,257 egg; total egg production of 1,434,053 eggs; egg fertilization rate of 86.2%; hatching rate of 59.8%; and total nauplii production of 738,439 ind. Broodstock of F-1 female inseminated with S-A treatment had higher values for spawning rate of 75%, fecundity of 215,489 egg; total egg production of 1,939,399 egg; egg fertilization rate of 88.9%; hatching rate of 62.7%; and total nauplii production of 1,081,140 ind. The produced egg diameter (248-255 ¼m) and larva quality were relatively same between the two treatments. Amino acid profiles in the hepatopancreas and muscle were higher in the wild male broodstock compared to the cultivated (F-1) male broodstock. In conclusion, wild male spermatophore is generally better than the cultivated F-1 male spermatophore for artificial insemination of female broodstock F-1. 
SUPLEMENTASI RAGI ROTI (Saccharomyces cerevisiae) DALAM PAKAN PEMBESARAN IKAN BARONANG (Siganus guttatus) Kamaruddin Kamaruddin; Lideman Lideman; Usman Usman; Bunga Rante Tampangallo
Media Akuakultur Vol 14, No 2 (2019): (Desember, 2019)
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (90.498 KB) | DOI: 10.15578/ma.14.2.2019.97-104

Abstract

Pemanfaatan Saccharomyces cerevisiae yang disuplementasikan dalam pakan buatan berbasis protein nabati mampu meningkatkan pertumbuhan beberapa jenis ikan budidaya. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh suplementasi S. cerevisiae dalam pakan pembesaran ikan baronang. Hewan uji yang digunakan adalah ikan baronang dengan bobot awal antara 30-32 g/ekor. Perlakuan yang dicobakan adalah pakan dengan: tanpa suplementasi S. cerevisiae (S0; kontrol), suplementasi S. cerevisiae 2% (S2), suplementasi S. cerevisiae 4% (S4), dan suplementasi S. cerevisiae 6% (S6). Wadah penelitian yang digunakan adalah waring hitam berukuran 1 m x 1 m x 2 m, dengan kedalaman air 1,5 m; ditebari ikan uji dengan kepadatan 20 ekor/wadah. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimen dengan menggunakan rancangan acak lengkap (RAL). Pemberian pakan dilakukan dua kali sehari sebanyak 4% dari biomassa ikan uji. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan 2% S. cerevisiae dalam pakan memberikan respons pertambahan bobot dan laju pertumbuhan spesifik yang lebih tinggi (P<0,05) dibandingkan dengan perlakuan lainnya. Nilai koefisien kecernaan total pakan relatif sama antara perlakuan S2, S4, dan S6, namun ketiganya lebih tinggi dan berbeda nyata (P<0,05) dengan kontrol (S0). Jumlah sel darah merah (eritrosit) dan aktivitas fagositosis mengalami peningkatan secara signifikan (P<0,05) seiring dengan penambahan S. cerevisiae dibanding kontrol (S0). Suplementasi S. cerevisiae dapat dilakukan sebanyak 2% dalam formulasi pakan ini untuk pembesaran ikan baronang.The utilization of Saccharomyces cerevisiae supplemented in artificial feed of protein plant-based can increase the growth of several of aquaculture fish species. This study was aimed to evaluate the effect of S. cerevisiae supplementation in artificial diet on the growth performance of rabbitfish. The test animals used were rabbitfish with an initial weight of 30-32 g/fish. The treatments tried were artificial diets with: no supplementation of S. cerevisiae (S0; control), supplementation of S. cerevisiae 2% (S2), supplementation of S. cerevisiae 4% (S4), and supplementation of S. cerevisiae 6% (S6). The fish were reared in twelve net cages of 1 m x 1 m x 2 m, with a density of 20 ind./cage. Completely randomized design was used in this experiment. The fish were fed with test diets twice a day as much as 4% of total biomass. The results showed that the supplementation of 2% S. cerevisiae in diet gave higher weight gain and specific growth rate (P<0.05) than those of other treatments. The value of total feed digestibility coefficient was relatively the same between treatments S2, S4, and S6, but the three of them were higher and significantly different (P<0.05) than the control (S0). The number of red blood cells (erythrocytes) and phagocytic activity increased significantly (P<0.05) along with the supplementation of S. cerevisiae compared to control (S0). Supplementation of S. cerevisiae could be done as much as 2% in feed formulation for grow-out of rabbitfish. 
DOMESTIKASI IKAN BELIDA LANGKA, Chitalalopis (Bleeker, 1851): PEMBENIHAN SECARA TERKONTROL DI LUAR HABITAT ALAMI Raden Roro Sri Pudji Sinarni Dewi; Estu Nugroho; Jojo Subagja; Bambang Priono
Media Akuakultur Vol 14, No 2 (2019): (Desember, 2019)
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (56.301 KB) | DOI: 10.15578/ma.14.2.2019.73-81

Abstract

Penelitian pemeliharaan ikan belida, (Chitala lopis Bleeker, 1851) secara ex-situ bertujuan untuk mendapatkan teknik pembenihan yang tepat di luar habitat alaminya. Serangkaian eksperimen dilakukan adalah: 1) pemeliharaan benih dalam akuarium dengan padat tebar berbeda (45, 90, dan 180 ekor/90 L); 2) pemeliharaan benih dalam akuarium dengan jenis pakan berbeda (pakan buatan dan cacing tubifex); 3) pemeliharaan benih dalam waring dengan padat tebar berbeda (10 dan 20 ekor/m2); dan 4) pembesaran dalam waring dengan jenis pakan berbeda (cacing tubifex; cacing tubifex + pakan buatan, dan pakan buatan). Pemeliharaan benih dalam akuarium menggunakan ukuran awal 3,4 cm selama 30 hari memperlihatkan kepadatan 45 ekor/90 L memberikan laju pertumbuhan bobot terbaik sebesar 3,1%/hari dengan sintasan 96,7 ± 1,33%. Pemeliharaan lanjutan selama dua bulan dalam akuarium dengan pemberian jenis pakan berbeda menghasilkan pertumbuhan bobot tertinggi pada benih yang diberi pakan cacing tubifex sebesar 2%/hari dengan sintasan 29 ± 3,42%. Pemeliharaan benih ukuran 4,9 cm dalam waring yang diletakkan dalam kolam tanah menghasilkan pertumbuhan dan sintasan yang lebih tinggi pada padat tebar 10 ekor/m2 dengan laju pertumbuhan bobot 2,6% per hari dengan tingkat sintasan sebesar 77,3%. Pembesaran benih dalam waring dengan ukuran tebar 8-9 cm selama dua bulan menghasilkan pertumbuhan bobot yang lebih tinggi pada benih yang diberi pakan cacing tubifex (1,3%/hari) dibandingkan dengan pakan buatan (0,6%/hari) dan campuran pakan buatan + cacing tubifex (1,0%/hari).Research on the domestication of featherback fish, (Chitala lopis Bleeker, 1851) outside of their natural habitat was carried out primarily to obtain its feasible breeding techniques. A series of experiments was carried out including 1) seed rearing in aquariums with different stocking densities (45, 90, and 180/90 L); 2) rearing of seeds in aquariums with different types of feed (artificial feed and tubifex); 3) seeds rearing in net cage with different stocking densities (10 and 20 fish/m2); and 4) grow-out in net cage with different types of feed (tubifex; tubifex + artificial feed, and artificial feed). The results showed that seeds with an initial size of 3.4 cm reared in an aquarium for 30 days with a density of 45 fish/90 L produced the best weight growth of 3.1%/day with survival rate of 96.7 ± 1.33%. Two months of continued rearing carried out in an aquarium produced the highest weight growth for seeds fed with tubifex of 2%/day with survival rate of 29 ± 3.42%. Rearing of seeds sized 4.9 cm in net cage placed in earthen pond resulted in higher growth and survival than that of aquariums. The best density was 10 fish/m2 with weight growth rate of 2.6% per day and survival rate of 77.3%. Seeds sized of 8-9 cm cultured in net cage for two months produced higher weight growth when feed with tubifex (1.3%/day) than that of feed with artificial feed (0.6%/day) and mixture artificial feed + tubifex (1.0%/day).