cover
Contact Name
Muhammad Syahrir
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
ma.puslitbangkan@gmail.com
Editorial Address
Jl. Sungai Musi Km. 09 Tanete Riattang Timur Kabupaten Bone, Sulawesi
Location
Kab. bone,
Sulawesi selatan
INDONESIA
Media Akuakultur
ISSN : 19076762     EISSN : 25029460     DOI : 10.15578/ma
Media Akuakultur as source of information in the form of the results of research and scientific review (review) in the field of applied aquaculture including genetics and reproduction, biotechnology, nutrition and feed, fish health and the environment, and land resources in aquaculture.
Arjuna Subject : -
Articles 328 Documents
APLIKASI ASTAXANTHIN DARI HAEMATOCOCCUS PADA BENIH KERAPU SUNU (Plectropomus leopardus) TERHADAP TOTAL KAROTENOID DAN PROFIL DARAH Daniar Kusumawati; Ketut Mahardika; Ketut Maha Setiawati
Media Akuakultur Vol 14, No 2 (2019): (Desember, 2019)
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (287.706 KB) | DOI: 10.15578/ma.14.2.2019.113-122

Abstract

Haematococcus merupakan alga yang kaya karotenoid dari jenis astaxanthin yang tidak hanya berpotensi sebagai sumber pigmen merah tetapi juga sebagai antioksidan. Aplikasi haematococcus telah dilakukan pada larva kerapu sunu dan menunjukkan adanya perbaikan peformansi warna merah yang cukup signifikan. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui pengaruh haematococcus sebagai sumber astaxanthin terhadap pertumbuhan, total karotenoid, dan profil darah (hematokrit dan haemoglobin) pada juvenil ikan kerapu sunu. Benih kerapu sunu ukuran panjang rata-rata 14,07 ± 0,07 cm dan bobot rata-rata 45,92 ± 6,35 g dipelihara dalam jarring berukuran 0,5 m x 0,5 m x 1 m yang diletakkan dalam bak beton ukuran 3 m x 1,2 m x 1,2 m. Kepadatan ikan tiap jaring adalah lima ekor. Perlakuan yang diujicobakan adalah penambahan haematococcus ke dalam pakan buatan dengan dosis dan kompisisi sebagai berikut: A) 1% dari berat pakan, B) 1% dari berat pakan + 10% minyak ikan, dan C) 0% (kontrol). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan haematococcus ke dalam pakan tidak memberikan perbedaan nyata terhadap pertumbuhan mutlak panjang dan bobot, serta laju pertambahan panjang dan bobot (P value > 0,05). Penambahan haematococcus memberikan perbedaan nyata (P value < 0,05) terhadap konversi pakan di mana perlakuan A (1,99 ± 0,09); B (2,12 ± 0,14); dan C (2,28 ± 0,09). Penambahan haematococcus memberikan peningkatan terhadap akumulasi kandungan total karoten, hematocrit, dan haemoglobin darah.Haematococcus, an alga rich in carotenoids of the astaxanthin type, not only has the potential as a source of red pigment but also as an antioxidant. The purpose of this study was to determine the effects of hematococcus as astaxanthin source on the growth, total carotenoids, and blood profile (hematocrit and hemoglobin) of coral trout grouper juvenile. Coral trout grouper seed with an average length of 14.07± 0.07 cm and an average weight of 45.92 ± 6.35 g were maintained in a net cage measuring 0.5 m x 0.5 m x 1 m placed in a 3 m x 1.2 m x 1.2 m concrete tank. Fish density per net was five fish. The treatment tested was the addition of haematococcus into the artificial feed with the following dosages and compositions: A) 1% of the weight feed, B) 1% of the weight feed + 10% fish oil, C) 0% (control). The results showed that the addition of haematococcus to the feed did not give a significant difference to the absolute growth of length and weight and also specific growth and length rate (P-value > 0.05). The addition of haematococcus gave a significant difference (P-value < 0.05) to feed conversion ratio between treatment A, B and C with the values of 1.99 ± 0.09, 2.12 ± 0.14, and 2.28 ± 0.09, respectively. The addition of haematococcus also increased the levels of total carotene content, hematocrit, and hemoglobin. This study suggests that the application of haematococcus could significantly improve the red color performance of trout grouper larvae.
KERAGAAN PERTUMBUHAN IKAN TAMBAKAN (Helostoma temminckii Cuvier, 1829) DENGAN KEPADATAN BERBEDA Otong Zenal Arifin; Wahyulia Cahyanti; Vitas Atmadi Prakoso
Media Akuakultur Vol 14, No 2 (2019): (Desember, 2019)
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (93.242 KB) | DOI: 10.15578/ma.14.2.2019.83-87

Abstract

Padat tebar merupakan salah satu faktor yang berpengaruh terhadap keragaan pertumbuhan dalam budidaya ikan. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui kepadatan optimum untuk pertumbuhan ikan tambakan. Penelitian ini dilakukan di Instalasi Riset Plasma Nutfah Perikanan Air Tawar, Cijeruk, Balai Riset Perikanan Budidaya Air Tawar dan Penyuluhan Perikanan (BRPBATPP), Bogor. Ikan tambakan generasi ke-2 dengan panjang total 2,10 ± 0,18 cm dan bobot 4,83 ± 0,17 g yang diperoleh melalui program domestikasi dipelihara di kolam bak beton yang diberi sekat (ukuran 3 m x 3,5 m x 1 m). Pakan komersial berupa pelet terapung (protein 39%-41%; lemak 5%) diberikan sebanyak 3% per hari dari biomassa dengan frekuensi pemberian sebanyak tiga kali. Perlakuan kepadatan yang dilakukan pada penelitian adalah 25, 50, dan 75 ekor/m2 dengan tiga ulangan. Pengambilan data dilakukan setiap 30 hari sebanyak 30 ekor dari setiap ulangan selama 150 hari masa pemeliharaan terhadap panjang, bobot, kelangsungan hidup, biomassa, dan rasio konversi pakan. Pengukuran kualitas air juga dilakukan sebagai data pendukung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertumbuhan panjang baku, panjang total, bobot, dan sintasan tertinggi diperoleh pada kepadatan 25 ekor/m2.Stocking density is one of the influencing growth performance indicators in aquaculture. This study was conducted to determine the optimum stocking density in optimizing the growth rate of kissing gourami. The study was carried out at the Research Station for Freshwater Fisheries Germplasm, Cijeruk, RIFAFE Bogor. A second generation of kissing gourami with total length of 2.10 ± 0.18 cm and body weight of 4.83 ± 0.17 g produced from a domestication program were reared in separated-nets concrete ponds (pond division: 3 m x 3,5 m x 1 m) and fed using commercial floating pellets (protein: 39%-41%; lipid: 5%). Feed was given 3% of biomass per day with a feeding frequency of three times per day. Stocking density treatments in this study were 25, 50, and 75 fish/m2 with three replications. Data collection was conducted every 30 days from 30 fish in each replicate during 150 days of rearing period on growth parameters including length, weight, survival rate, biomass, and feed conversion ratio. Water quality measurement was also conducted as supplementary data. The results showed that the highest values on standard length gain, absolute length gain, weight gain, and survival rate were found in the fish population with a stocking density of 25 fish/m2.
TINGKAT KESUBURAN DAN POTENSI PRODUKSI UDANG VANAME DI TAMBAK UPT PERIKANAN AIR PAYAU DAN LAUT PROBOLINGGO Setya Widi Ayuning Permanasari; Samuel Saputra; Kusriani Kusriani; Putut Widjanarko
Media Akuakultur Vol 14, No 2 (2019): (Desember, 2019)
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (74.073 KB) | DOI: 10.15578/ma.14.2.2019.89-95

Abstract

Keberlanjutan kegiatan pertambakan sangat tergantung pada kondisi kualitas lingkungan perairan dalam mendukung potensi produksi biota budidaya. Namun, dalam pengelolaan juga perlu diketahui potensi lingkungan dalam memproduksi biota. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur tingkat kesuburan perairan pada tambak serta mengestimasi produksi udang yang dihasilkan dengan pendekatan Produktivitas Primer. Penelitian dilakukan di tambak UPT Probolinggo, Fakultas Perikanan dan Ilmu Keluatan, Universitas Brawijaya. Analisis kesuburan perairan tambak dilakukan menggunakan metode Tropic State Index (TSI), dan pendugaan produksi udang dengan pendekatan metode Beveridge dengan mengkonversi nilai Produktivitas Primer, dimana nilai Produktivitas Primer dapat dihitung dengan mentransformasi nilai Klorofil-a. Rata-rata hasil pengukuran klorofil-a pada tambak 1 sebesar 23,06 mg/m3 dan pada tambak 2 sebesar 20,62 mg/m3. Tingkat kesuburan pada kedua tambak menunjukkan perairan eutrofik sedang. Rata-rata potensi produksi udang pada tambak 1 adalah 13,22 ton C-udang/2700m2/tahun; dan tambak 2 adalah 10,90 ton C-udang/2700m2/tahun. Korelasi antara nilai klorofil-a dan estimasi produksi udang menunjukkan nilai korelasi < 0,199 yang artinya keeratan kedua variabel sangat rendah. Namun korelasi antara klorofil-a dan PP memiliki hubungan yang sangat kuat yaitu > 0,99. The sustainability of aquaculture activities highly depends on the water quality conditions of the aquatic environment. Thus, determining the existing environmental condition of fish culture followed by regular monitoring is necessary to ensure the optimum production of farmed fish. The purpose of this current research was to determine the eutrophication level in shrimp ponds and estimate its shrimp production using the approach of Primary Productivity. The study was conducted in the shrimp ponds managed by the Probolinggo Technical Extension Office, Faculty of Fisheries and Marine Science, Brawijaya University. The eutrophication level was determined used the Tropic State Index (TSI) method. Shrimp production was estimated using the Beveridge Method by which the primary productivity values were calculated by transforming the Chlorophyll-a values. The results showed that the average contents of chlorophyll-a in pond 1 and pond 2 were 23.06 mg.m-3 and 20.62 mg.m-3, respectively. The eutrophication levels in both ponds indicate moderate eutrophic water. The estimated shrimp productions in ponds 1 and 2 were 13.22 and 10.90 tons C-shrimp 2700m-2 year-1, respectively. The correlation value between the chlorophyll-a levels and estimated shrimp productions was <0.199 which means that the relationship between the two variables is unsubtantial. On the other hand, the chlorophyll-a and primary productivity had a very strong relationship indicated by the correlation value of > 0.99.
ESTIMASI PROFIT USAHA BUDIDAYA BEBERAPA PERSILANGAN IKAN GURAMI (Osphronemus goramy) Sularto Sularto; Rita Febrianti; Nunuk Listiyowati
Media Akuakultur Vol 15, No 1 (2020): (Juni, 2020)
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (231 KB) | DOI: 10.15578/ma.15.1.2020.47-52

Abstract

Salah satu faktor keberhasilan dalam budidaya ikan adalah penerapan benih unggul. Penelitian ini bertujuan untuk mengestimasi peningkatan keuntungan budidaya ikan gurami dengan menggunakan benih ikan gurami hibrida unggul. Ikan uji yang digunakan adalah ikan gurami hibrida yang berumur tujuh bulan sebanyak delapan persilangan. Masing-masing persilangan diambil 200 ikan uji secara acak dari setiap populasi, dengan ukuran bobot rata-rata antara 73,5-111 g. Pemeliharaan dilakukan di kolam beton berukuran 50 m2, dengan kedalaman air 80 cm, pengamatan dilakukan selama dua bulan. Pakan yang diberikan berupa pelet apung komersial dengan kadar protein 28%-30% sebanyak 3% biomassa/hari, diberikan dua kali sehari. Hasil penelitian menunjukkan persilangan gurami betina Majalengka x ikan gurami jantan Jambi (MJ) memiliki pertumbuhan tercepat dibandingkan dengan persilangan lainnya dan diikuti oleh persilangan ikan gurami Kalimantan x ikan gurami jantan Majalengka (KM), sedangkan persilangan yang memiliki efisiensi pakan terbaik adalah persilangan KM dan diikuti oleh MJ. Secara keseluruhan memperlihatkan bahwa strain MJ memiliki estimasi profit tertinggi dibandingkan dengan persilangan lainnya.One of the success factors in aquaculture is the availability and usage of superior seeds. This study aim was to estimate the profit opportunities of several superior hybrids of giant gourami as new species candidates for freshwater aquaculture. The test fish used were seven months old giant gourami from eight combination crosses. In each cross, 200 fishes with weight ranging between 73.5-111 g were taken randomly. Grow-out activities were conducted in concrete ponds of 50 m2, with 80 cm water deep. The observation was carried out for two months. The feed was given 3% biomass/day using commercial floating pellets with protein contents between 28%-30%, given twice a day. The results showed that the hybrid of Majalengka female x Jambi male (MJ) had the fastest growth compared to the other hybrids, followed by Kalimantan female x Majalengka male (KM). However, the best feed efficiency was achieved by KM and followed by MJ. The overall profit estimates showed that MJ strain had the highest estimated profit compared to the other crosses.
KELULUSHIDUPAN BENIH IKAN NILA (Oreochromis niloticus) PADA PROSES TRANSPORTASI SISTEM TERTUTUP DENGAN PENAMBAHAN PERASAN DAUN UBI KAYU AKSESI BATIN (Manihotes culenta Crantz) Jamaliah Jamaliah; Eva Prasetiyono; Denny Syaputra
Media Akuakultur Vol 15, No 1 (2020): (Juni, 2020)
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (67.595 KB) | DOI: 10.15578/ma.15.1.2020.15-22

Abstract

Kebutuhan masyarakat terhadap ikan nila perlu didukung dengan ketersediaan benih secara berkelanjutan untuk kegiatan budidaya. Masalah yang sering dihadapi adalah terjadinya kematian benih ketika ditransportasikan akibat stres. Daun ubi kayu memiliki kandungan flavonoid dan saponin yang bermanfaat sebagai pencegah stres pada ikan selama proses pengangkutan. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan konsentrasi optimal penambahan perasan daun ubi kayu aksesi batin sebagai bahan anestesi alami pada transportasi sistem tertutup benih ikan nila. Konsentrasi daun ubi kayu aksesi batin yang diujikan adalah 0 g/L (P-0/kontrol); 6,25 g/L (P-1); 7,50 g/L (P-2); dan 8,75 g/L (P-3). Ikan ditransportasikan pada sistem tertutup selama delapan jam dengan suhu udara berkisar 28°C-30°C. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan perasan daun ubi kayu aksesi batin pada masing-masing perlakuan menghasilkan kelulushidupan benih ikan nila sebesar 80% (P-0/kontrol), 100% (P-1), 98% (P-2), dan 38,88% (P-3); dengan kadar glukosa darah sebesar 245 mg/dL (P-0/kontrol); 102,33 mg/dL (P-1); 196,66 mg/dL (P-2); dan 307,66 mg/dL (P-3). Konsentrasi terbaik untuk aplikasi transportasi benih ikan nila adalah konsentrasi 6,25 g/L. Pada konsentrasi tersebut kondisi ikan tidak mengalami stres yang dominan dengan sedikit perubahan kadar glukosa darah yang relatif rendah dan mempertahankan kondisi kualitas air lebih baik dibandingkan dengan kontrol dan perlakuan lainnya.Market demands for tilapia are steadily increased annually which require a sustainable and consistent availability of its seed supply. One of the issues in the supply chain of tilapia seed is the juvenile mortality during transportation caused by a prolonged stress. Cassava leaf contains flavonoid and saponin, which were suspected to be useful to prevent fish stress during the transportation process. This research aimed to determine the optimal concentration of cassava leaf extract of Batin accession as a natural anesthetic to nile tilapia transported in a closed system. The concentrations of cassava leaf extract of Batin accession used in this research were 0 g/L (P-0, control treatment), 6.25 g/L (P-1), 7.50 g/L (P-2), and 8.75 g/L (P-3). Tilapia seeds were transported within a closed transportation system for eight hours, with air temperatures ranging between 28°C-30°C. The results showed that the addition of cassava leaf extract of Batin accession in each treatment produced survival rates of tilapia seed of 80% (P-0/control), 100% (P-1), 98% (P-2), and 38.88% (P-3), with blood glucose levels of 245 mg/dL (P-0/control), 102.33 mg/dL (P-1), 196.66 mg/dL (P-2), and 307.66 mg/dL (P-3). The best concentration of cassava extract for tilapia seed transportation was achieved by treatment P-1. The concentration of cassava extract used in P-1 was successfully reduced the seed stress level indicated by a relatively slight change in the blood glucose level. The concentration was also proved to keep better conditions of the transport media compared to the control and other treatments.
IDENTIFIKASI BAKTERI PATOGEN DAN PARASIT PENYEBAB PENYAKIT PADA IKAN TOMAN (Channa micropeltes) Septyan Andriyanto; Hessy Novita; Angela Mariana Lusiastuti; Taukhid Taukhid
Media Akuakultur Vol 15, No 1 (2020): (Juni, 2020)
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1180.787 KB) | DOI: 10.15578/ma.15.1.2020.39-46

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis patogen dan tingkat virulensi bakteri Aeromonas hydrophila pada ikan toman, Channa micropeltes. Penentuan jenis patogen dilakukan dengan identifikasi bakteri secara kimiawi dan menggunakan PCR. Hasil identifikasi bakteri pada ikan toman dengan uji biokimia mengarah pada Aeromonas hydrophila, Aeromonas salmonicida, Myroides sp., dan Edwardsiella sp. Begitupula hasil uji molekuler menggunakan PCR 16S rRNA seluruh isolat teridentifikasi sebagai bakteri. Spesies parasit yang teridentifikasi menginfeksi ikan toman dari golongan protozoa yaitu Trichodina sp., Vorticella sp., Henneguya sp., Oodinium sp., dan Ichthyophthirius multifiliis, parasit golongan trematoda yaitu Dactylogyrus sp. dan golongan acanthochepala yaitu spesies Acanthochepalus sp. Hasil uji virulensi melalui infeksi buatan menunjukkan bahwa bakteri Aeromonas hydrophila sangat virulen terhadap ikan toman, Channa micropeltes dengan tingkat kematian mencapai 100% dalam waktu 24 jam.The purpose of this study was to identify the pathogenicity and virulence of Aeromonas hydrophila in toman fish. General bacterial identification was carried out using biochemical analyzes and followed by PCR tests. Several pathogenic bacterial were found in the fish samples consisting of Aeromonas hydrophila, Aeromonas salmonicida, Myroides sp., and Edwardsiella sp. The PCR 16S rRNA test confirmed that all of the isolates were all bacteria. Parasites species identified in the samples of toman fish were Trichodina sp., Vorticella sp., Henneguya sp., Oodinium sp., Ichthyophthirius multifiliis, Dactylogyrus sp. and Acanthochepalus sp. The artificial infection treatment showed that toman fish was highly vulnerable to Aeromonas hydrophila, with 100% mortality within 24 hours.
PERKEMBANGAN TULANG BELAKANG BENIH IKAN TUNA SIRIP KUNING, Thunnus albacares (Bonnaterre, 1788) Titiek Aslianti; Gunawan Gunawan; Ananto Setiadi; Jhon Harianto Hutapea; Bedjo Slamet
Media Akuakultur Vol 15, No 1 (2020): (Juni, 2020)
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (586.051 KB) | DOI: 10.15578/ma.15.1.2020.23-28

Abstract

Pembenihan ikan tuna sirip kuning, Thunnus albacares sudah dirintis Balai Besar Riset Budidaya Laut dan Penyuluhan Perikanan Gondol, Bali sejak tahun 2003. Berbagai penelitian yang mengarah pada morfologis, fisiologis, dan enzimatis, telah dilakukan dengan tujuan untuk mendapatkan informasi dasar terkait perkembangan tulang belakang benih ikan tuna yang mempunyai korelasi positif terhadap pertumbuhan dan kelangsungan hidupnya. Upaya meningkatkan kelangsungan hidup benih yang hingga saat ini belum stabil. Perkembangan tulang belakang benih ikan tuna merupakan satu di antara parameter yang perlu diamati mengingat sangat erat hubungannya dengan faktor pertumbuhan dan kelangsungan hidupnya. Metode pewarnaan ganda terhadap tulang belakang benih ikan tuna dengan menggunakan larutan Alcian Blue dan Alizarin Red-S telah digunakan dalam penelitian ini dengan mengambil sampel hewan uji setiap lima hari mulai D-5 sampai D-40. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa tulang belakang benih ikan tuna pada D-25—D-30 mengalami transisi dari tulang muda menjadi tulang keras, dan berkembang menjadi tulang keras yang sempurna dan kokoh pada D-35—D-40, dengan performansi yang lebih agresif. Perkembangan tulang belakang benih ikan tuna mempunyai korelasi yang positif terhadap pertumbuhan dan kelangsungan hidupnya.Since 2003, the Institute for Mariculture Research and Fisheries Extension, Gondol has carried out breeding research on yellowfin tuna, Thunnus albacares (Bonnaterre 1788). Various studies on the morphology, physiology, and enzymatic processes of the fish fry were conducted to gain basic information about vertebral development of yellowfin tuna which was suspected to positively affect the growth and survival rate of the fish. Among the parameters involved in the growth and survival rate of tuna fry is vertebral development. A double staining method on tuna fry vertebrae using Alcian Blue and Alizarin Red-S solutions was used in this study, and samples of fry were collected every five days starting from D-5 up to D-40. The result showed that the seeds had vertebral transitions from cartilage to bone on D-25—D-30, followed by the development of hard-bone on D-35—D-40 with a significant increase of aggressive activity. This current research concludes that a good vertebral development of tuna fry is positively correlated with their growth and survival rate.
PERFORMA PERTUMBUHAN DUA GENERASI IKAN UCENG (Nemacheilus fasciatus Val. 1846) DALAM PEMELIHARAAN DI AKUARIUM Wahyulia Cahyanti; Fera Permata Putri; Vitas Atmadi Prakoso
Media Akuakultur Vol 15, No 1 (2020): (Juni, 2020)
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (448.932 KB) | DOI: 10.15578/ma.15.1.2020.9-14

Abstract

Ikan uceng (Nemacheilus fasciatus Val. 1846) merupakan salah satu spesies ikan air tawar dengan nilai ekonomi cukup tinggi yang ketersediaannya masih mengandalkan penangkapan di alam, sehingga diperlukan upaya domestikasi untuk menjaga kelestariannya. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengamati dan mengevaluasi performa pertumbuhan dua generasi (G0 dan G1) ikan uceng. Penelitian ini menggunakan ikan uceng G0 yang diperoleh melalui hasil tangkapan alam dari Sungai Progo, Temanggung, Jawa Tengah dan ikan uceng G1 diperoleh dari hasil pemijahan semi-buatan induk ikan uceng dari lokasi yang sama. Ikan yang digunakan berukuran panjang total 5,57 ± 0,528 cm dan bobot 1,06 ± 0,270 g. Uji performa pertumbuhan ikan uceng dilakukan pada akuarium (40 cm × 30 cm × 30 cm) dengan dua ulangan, dengan kepadatan 20 ekor per akuarium. Pengamatan pertumbuhan dilakukan setiap 30 hari sekali selama 330 hari masa pemeliharaan. Hasil penelitian menunjukkan pertumbuhan panjang dan bobot kedua generasi tidak menunjukkan perbedaan yang nyata (p>0,05). Selisih laju pertumbuhan bobot harian sebesar 0,02% dengan pertumbuhan biomassa G1 3,69% lebih besar daripada G0, namun nilai tersebut tidak berbeda nyata (p>0,05). Sintasan kedua generasi juga tidak menunjukkan perbedaan yang nyata (p>0,05). Selisih nilai koefisien variasi antara generasi G1 dan G0 cukup besar untuk memperlihatkan perbedaan 24,91% dengan nilai faktor kondisi G0 sebesar 0,99 ± 0,13 dan G1 sebesar 1,00 ± 0,18. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang nyata pada performa pertumbuhan antara ikan uceng G0 dan G1. Hasil tersebut menunjukkan bahwa proses domestikasi ikan uceng dari G0 ke G1 pada penelitian ini belum menghasilkan perubahan yang signifikan dari aspek keragaan pertumbuhan dari generasi awal (ikan liar/hasil tangkapan alam) ke generasi berikutnya dalam proses domestikasi.Barred loach (Nemacheilus fasciatus Val. 1846) is a species of freshwater fish locally known as uceng fish and highly valued in Indonesia’s local markets. The demand of this fish species still relies on wild stock population. As such, a domestication effort prior to the development of its aquaculture technology has to be started in order to maintain the long term fish sustainability. This research was conducted with the aim to evaluate the growth performance of two generations (G0 and G1) of uceng fish. This study used G0 uceng fish caught from the Progo River, Temanggung, Central Java and the G1 were obtained from a semi-artificial spawning of uceng fish broodstock from the same location. The fish used had a total length of 5.57 ± 0.528 cm and a weight of 1.06 ± 0.270 g. The performance test of the fish’s growth was carried out in an aquarium (40 m × 30 cm × 30 cm) with two replications, with a density of 20 fish per aquarium. Growth observation was carried out once every 30 days during 330 days of maintenance. The results showed that the growth length and weight of the two generations did not show any significant difference (p>0.05). The difference in the daily weight growth rate was 0.02% with G1 biomass growth of 3.69% greater than G0 but no significant different (p>0.05) observed on the two parameters. The survival rate of the two generations also showed no significant difference (p>0.05). The difference in the coefficient of variation between G1 and G0 generations was 24.91% with the condition factor on G0 of 0.99 ± 0.13 and G1 of 1.00 ± 0.18. This study concluded that there were no significant differences in growth performance between G0 and G1 of barred loach. These results indicated that the domestication process of barred loach from G0 to G1 in this study do not produced any significant changes on growth performance from the initial generation (wild/natural catches) to the next generation in the domestication process. 
PERFORMA PERTUMBUHAN DAN NILAI KECERNAAN PAKAN PADA YUWANA KERAPU HIBRID “CANTIK” (Epinephelus fuscoguttatus x Epinephelus polyphekadion) DENGAN PEMBERIAN BAKTERI PROBIOTIK DAN/ATAU ENZIM PAPAIN DALAM PAKAN Muhammad Marzuqi; Haryanti Haryanti; Ni Wayan Widya Astuti; Nyoman Adiasmara Giri; Ketut Mahardika
Media Akuakultur Vol 15, No 1 (2020): (Juni, 2020)
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (468.664 KB) | DOI: 10.15578/ma.15.1.2020.29-37

Abstract

Probiotik telah banyak digunakan untuk memperbaiki kualitas lingkungan perairan dalam kegiatan budidaya. Selain itu probiotik juga dapat digunakan dalam pakan ikan. Tujuan penelitian adalah mengetahui efektivitas pemanfaatan probiotik dan enzim papain dalam pakan terhadap pertumbuhan dan nilai kecernaan pakan untuk ikan kerapu hibrid “cantik”. Perlakuan berupa penggunaan probiotik dalam pakan yaitu (pakan A) probiotik dalam pakan, (pakan B) tanpa probiotik dan tanpa enzim dalam pakan (kontrol), (pakan C) enzim dalam pakan dan (pakan D) kombinasi probiotik dan enzim dalam pakan. Hewan uji berupa benih ikan kerapu hibrid dengan ukuran bobot rata rata awal 7,30± 0,60 g. Ikan dipelihara dalam bak polikarbonat bervolume 300 liter yang telah dilengkapi dengan aerasi dan sistem air mengalir dengan kepadatan 50 ekor/bak. Benih ikan diberi pakan percobaan secara satiasi dengan frekuensi pemberian dua kali sehari. Percobaan dirancang dengan rancangan acak lengkap, terdiri atas empat perlakuan pakan dan tiga ulangan. Pengamatan pertumbuhan dilakukan setiap 1 minggu dengan menimbang bobot ikan. Pengamatan meliputi performa pertumbuhan, nilai kecernaan pakan pada ikan kerapu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan bakteri probiotik pada pakan ikan kerapu berpengaruh terhadap performa pertumbuhan (pertambahan bobot), efisiensi pakan (p<0.05). Pertambahan bobot tertinggi terjadi pada ikan kerapu hibrid yang diberi perlakuan pakan dengan bakteri probiotik (237±0,04%) diikuti pakan dengan enzim (204±0,09%), sedangkan ikan yang diberi pakan dengan kombinasi bakteri probiotik dan enzim diperoleh pertambahan bobot lebih rendah dari pakan kontrol masing masing 118±0,03% dan 192±0,20% dan nilai kecernaan pakan sebesar 79,91-84,24%.Probiotics have been widely used to improve water quality in fish farms. Probiotics are also utilized in fish feed as food supplements. This research was aimed to investigate the efficacy of probiotics and papain enzyme on the growth and nutrient digestibility of hybrid grouper “Cantik”. The experiment was arranged in a Completely Randomized Design consisting of four feed treatments and three replications: diet A, a diet supplemented with probiotic; diet B(control), a diet without supplementation of probiotic and enzyme; diet C, a diet supplemented with enzyme; and diet D, a diet supplemented with probiotic and enzyme. The test fish were hybrid grouper fish fry with an initial average body weight of 7.30 ± 0.60 g. The fish fry were reared in 300 liter volume polycarbonate tanks equipped with aeration and a flowthrough water system at a density of 50 fish/tank. The fish fry were fed with the diets two times a day by satiation for 56 days. The fish growth performance was observed weekly by recording their weight gain, nutrient digestibility, and survival rate. The results showed that the application of probiotic bacteria in the feed had statistically significant effects on the specific growth rate (SGR), weight gain, feed efficiency, and the rate of feed intake (p <0.05). The highest specific growth rate was observed in the fry group treated with the diet containing probiotic ((237±0.04%) followed by the enzyme-supplementing diet (204±0.09%) and the control diet(192±0.20%). The fish group fed with a combination of probiotic and enzyme had the lowest specific growth rate of 118±0.03% and protein digestibility coefficient of 79.91-84.24 %.
KERAGAAN REPRODUKSI INDUK IKAN BAUNG ALAM DAN HASIL DOMESTIKASI SERTA PERTUMBUHAN BENIH YANG DIHASILKANNYA Vitas Atmadi Prakoso; Jojo Subagja; Otong Zenal Arifin
Media Akuakultur Vol 15, No 1 (2020): (Juni, 2020)
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (77.66 KB) | DOI: 10.15578/ma.15.1.2020.1-7

Abstract

Ikan baung Hemibagrus nemurus merupakan salah satu ikan konsumsi penting di Indonesia. Kendala dalam pengembangan budidaya ikan ini adalah ketersediaan benih karena rendahnya fekunditas, daya tetas telur, dan sintasan. Oleh karena itu perlu dilakukan perbaikan kualitas induk untuk meningkatkan produktivitas benih. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi keragaan reproduksi induk ikan baung generasi kedua (G2) hasil domestikasi dibandingkan dengan induk alam dan pertumbuhan benih yang dihasilkannya. Induk yang digunakan berbobot 300-500 g (n=10 ekor). Pemijahan dilakukan secara buatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan nyata pada sintasan benih yang dihasilkan dari kedua jenis induk (alam: 69,8 ± 9,9%; G2: 93,7 ± 2,8%) (p<0,05). Namun tidak terdapat perbedaan nyata pada performa reproduksi yang meliputi fekunditas (alam: 49634 ± 19282 butir; G2: 62513 ± 7518 butir), derajat pembuahan (alam: 91,1 ± 5,4%; G2: 90,6 ± 4,0%), derajat penetasan (alam: 85,2 ± 13,5%; G2: 90,0 ± 8,2%), dan sintasan larva (alam: 93,2 ± 3,2%; G2: 94,7 ± 4,0%) (p>0,05). Sementara itu, pada parameter pertumbuhan benih yang dihasilkan dari kedua jenis induk, pertambahan panjang (alam: 3,05 ± 0,31 cm; G2: 2,63 ± 0,21 cm), pertambahan bobot (alam: 1,79 ± 0,22 g; G2: 1,40 ± 0,20 g), dan laju pertumbuhan spesifik (alam: 8,65 ± 3,87%; G2: 7,71 ± 2,66%) juga tidak berbeda nyata (p>0,05). Benih hasil domestikasi generasi kedua menunjukkan tingkat kanibalisme yang lebih rendah.Asian redtail catfish, Hemibagrus nemurus is one of the important fish commodities for local consumption in Indonesia. Current culture development of this species is impeded by insufficient availability of seedlings due to low egg fecundity and hatchability as well as low seed survival rate. Therefore, it is necessary to improve broodstock quality with a final objective to increase seedlings productivity. This research was carried out to study the reproductive performance of the second-generation (G2) of domesticated Asian redtail catfish broodstocks and compared with the wild broodstocks. The research also observed the growth of fingerlings produced from both broodstocks. Each broodstock had a weight range between 300-500 g (n=10 fish). Spawning was conducted by induced breeding. The results showed that there was a significant difference in the survival rate of seedlings produced from both broodstocks (wild: 69.8 ± 9.9%; G2: 93.7 ± 2.8%) (p<0.05). Nevertheless, no significant differences found in the reproductive performances, which include fecundity (wild: 49634 ± 19282 eggs; G2: 62513 ± 7518 eggs), fertilization rate (wild: 91.1 ± 5.4%; G2: 90.6 ± 4.0%), hatching rate (wild: 85.2 ± 13.5%; G2: 90.0 ± 8.2%), and larval survival rate (wild: 93.2 ± 3.2%; G2: 94.7 ± 4.0%)(p>0.05). The observed growth parameters of seedlings produced from both broodstocks were length gain (wild: 3.05 ± 0.31 cm; G2: 2.63 ± 0.21 cm), weight gain (wild: 1.79 ± 0.22 g; G2: 1.40 ± 0.20 g), and specific growth rate (wild: 8.65 ± 3.87%; G2: 7.71 ± 2.66%) which were also not significantly different (p>0.05). Seedlings produced from the second generation have lower cannibalism behavior.