cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota padang panjang,
Sumatera barat
INDONESIA
Garak Jo Garik : Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni
ISSN : 19074859     EISSN : 28092937     DOI : -
Core Subject : Humanities, Art,
GARAK JO GARIK: JURNAL PENGKAJIAN DAN PENCIPTAAN SENI diterbitkan oleh Program Studi Seni Tari ISI Padangpanjang di bawah koordinasi Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPMPP) ISI Padangpanjang. Jurnal ini terbit dua kali dalam setahun pada bulan Januari-Juni dan Juli- Desember.
Arjuna Subject : -
Articles 45 Documents
PEMANFAATAN TEKNOLOGI ANIMASI DALAM MENINGKATKAN MINAT SISWA TERHADAP TARI TRADISI YANG MENYIMPAN NILAI-NILAI LUHUR Anggraini, Dwi
Garak Jo Garik : Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Vol 9, No 1 (2013): Garak Jo Garik
Publisher : Garak Jo Garik : Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (104.091 KB)

Abstract

Artikel ini membicarakan tentang pemanfaatan teknologi animasi untuk meningkatkan minat siswa terhadap kesenian tradisi, khususnya Silat Pedang Bengkulu yang banyak menyimpan nilai-nilai luhur dan dapat dimanfaatkan untuk membentuk karakter siswa sebagai generasi muda penerus bangsa. Media berperan sebagai perantara dalam proses pembelajaran untuk mempertinggi efektifitas dan efisiensi dalam mencapai tujuan pembelajaran. Kecenderungan minat siswa terhadap teknologi sangat tinggi, sehingga membuat jarak antara generasi muda dan kesenian tradisi semakin jauh. Isu-isu yang akan dibahas dalam artikel ini adalah tentang minat remaja pada umumnya dan siswa Sekolah Dasar pada khususnya terhadap teknologi animasi yang diminati dan kekayaan tari tradisi yang mulai ditinggalkan.
ESENSI NILAI-NILAI SUMBANG DUO BALEH DALAM TARI PEREMPUAN MINANGKABAU Astuti, Fuji
Garak Jo Garik : Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Vol 12, No 2 (2016): Garak Jo Garik
Publisher : Garak Jo Garik : Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (450.779 KB)

Abstract

Koreografer perempuan  Minangkabau dari satu sisi mendapat julukan yang tinggi sehubungan dengan kiprahnya dalam beraktivitas  disertai popularitas yang diraihnya. Namun di sisi lain sebagai  penggagas seni koreografer perempuan dihadapkan pada persoalan terkait dengan nilai, norma yang telah diatur dalam adat istiadat yang semestinya  dijunjung tinggi sesuai dengan  fitranya sebagai seorang peremuan Minangkabau. Aturan norma yang telah ditetapkan dalam adat istiadat yang diperuntukkan pada perempuan termuat dalam kandungan  nilai sumbang duo baleh. Namun seakan-akan nilai-nilai tersebut  luntur dan para koreograer perempuan tidak berdaya untuk mengakomodasikan nilai-nilai tersebut ke dalam karya tari yang diciptakan. Akhirnya perkembangan tari dengan berbagai macam pijakan dan konsep yang digunakan  tidak mampu mempertahankan dan menunjujukkan identitas sebagaimana halnya perempuan ideal Minangkabau dalam aktivitas tari yang disajikan. Dengan demikian dapat dikatakan karakter tari yang diperuntukkan pada perempuan tidak jelas, abu-abu seakan-akan kehilangan identitas sehinga kelogisan, kesantunan dan etika dalam penampilan  tari yang disajikan bukan menjadi prioritas perhatian utama, sehingga pada kalangan  tertentu memunculkan banyak persoalan di lingkungan masyarakat. Dengan kreativitas yang tinggi seseorang dapat melakukan pembaharuan baik yang disalurkan melalui karya maupun dalam menghadapi persoalan yang dialami dalam kehidupan. Akan tetapi, jika tidak berhati-hati dan kurang cermat, justru dengan daya kreativitas yang tinggi dapat membuat seseorang tergelincir, sehingga menimbulkn masalah baru Minangkabau female choreographer gets a high nickname from one side in connection with her work and move along with the popularity she achieved. But on the other hand as the initiator of art, female choreographers are faced with an issues related to values, norms that have been set by customs that should be upheld in accordance with its essence as a Minangkabau woman. The rule of norms which have been set by the customs that are destined for women are contained in Sumbang Duo Baleh. But as if the values were faded and the female choreographers were powerless to accommodate those values into dances. Even though the dance development using variety of footholds and concepts, it were not able to maintain and showing the identity as Minangkabau ideal woman in the presented dance activities. It can be said that the dances character that is devoted to women is unclear, its gray as if it losing identity and logic, politeness and ethics in the presented dance performance it is not a priority and main concern, so that in certain circles it raises many problems in the community. With higher creativity a person can make a renewal both channeled through the work and facing the problems that experienced in life. However if a person lacks of cautious, with a higher creativity it can make someone slip and causing new problems. 
AKULTURASI MINANGKABAU, JAWA, DAN MANDAILING DALAM KESENIAN RONGGIANG PASAMANDI KABUPATEN PASAMAN BARAT PROVINSI SUMATERA BARAT Gusmanto, Rico
Garak Jo Garik : Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Vol 12, No 2 (2016): Garak Jo Garik
Publisher : Garak Jo Garik : Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (349.673 KB)

Abstract

Ronggiang Pasaman yang terdapat di Kabupaten Pasaman Barat Provinsi Sumatera Barat telah menjadi seni tradisi yang dikembangkan secara turun-temurun oleh masyarakatnya. Sebagai suatu seni yang berkembang di tengah masyarakat, Ronggiang Pasaman mencerminkan identitas budaya masyarakat multietnis Kabupaten Pasaman Barat,yang terdiri dari etnis Minangkabau, Jawa, dan Batak/Mandailing. Hal ini berbeda dengan beberapa pendapat yang menyatakan bahwa kesenian Ronggiang Pasaman bukan milik masyarakat Jawa dan Mandailing, namun mereka menganggap bahwa kesenian Ronggiang Pasaman merupakan seni tradisi milik masyarakatetnis Minangkabau. Hal ini menyebabkan terjadinya kerancuan atas kepemilikan kesenian Ronggiang Pasaman sebagai identitas budaya Kabupaten Pasaman Barat.Tulisan ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana kesenian Ronggiang Pasaman yang ditinjau dari akulturasi budaya tiga etnis serta untuk mengetahui nilai-nilai budaya dalam kesenian Ronggiang Pasamanyang dihasilkan dari proses akulturasi budaya. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, toleransi dan keharmonisan antar etnis merupakan nilai-nilai penting yang terdapat dalam kesenian Ronggiang Pasaman sebagai representasi masyarakat Kabupaten Pasaman Barat.Ronggiang Pasamanthat located in West Pasaman Regency West Sumatera Province has become a traditional art that developed by its society and passed down to another generation. As an art that develops in its society, Ronggiang Pasaman reflects the cultural identity of multiethnic society in West Pasaman Regency, which is Minangkabau ethnic, Java ethnic, and Batak/Mandailing ethnic. This case is different from some opinions stating that Ronggiang Pasaman does not belong to Java and Mandailing society, they assume that Ronggiang Pasaman is a traditional art that belong to Minangkabau society. Its resulted a confusion over arts ownership of Ronggiang Pasaman as the cultural identity of West Pasaman regency. This paper aims is to tell how is Ronggiang Pasaman viewed from the acculturation of three ethnics culture and to know about the cultural value of Ronggiang Pasaman that produced from cultural accultuartion procces. Based on the result of the research that have been done, tolerance and interethnic harmony is an important value that contain in Ronggiang Pasamanas a representative of West Pasaman Regency
KENISCAYAAN OLAH TUBUH SECARA ANATOMIS UNTUK MENARI Hartati, Hartati
Garak Jo Garik : Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Vol 12, No 1 (2016): Garak Jo Garik
Publisher : Garak Jo Garik : Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (274.788 KB)

Abstract

Bahan utama tari adalah gerak, tetapi tidak sembarangan cara menggerakan tubuh dapat dilakukan penari dalam menari. Sistem anatomis tubuh manusia amat menentukan arah gerakan yang baik dan seyogiyanya dikuasai penari, sehingga terhindar penari dari gerakan yang berakibat cedera. Sejalan dengan itu ialah olah tubuh yang benar menjadi keniscayaan dilalui sampai mampu penari melakukan gerakan yang tepat secara anatomis. Kedua hal ini sebagai sarana untuk melahirkan ekspresi yang tertuang kedalam bentuk rangkaian gerak yang ditarikan penari. Rangkaian gerak menurut tataan tertentu menghasilkan suatu bentuk tarian. Untuk melahirkan tarian yang bagus niscaya didukung oleh olah tubuh dan pergerakan secara anatomis sejalan dengan teknik gerak yang benar. The main material of dance is movement, but the dancers cannot move theirbodies carelessly in dancing. Anatomical system of human body very determinesgood movement direction that should be mastered by dancers, so the dancerscan avoid movements that result on injuries. Therefore, correct exercisebecomes necessity that should be done until the dancers are able to performmovements that’s precise anatomically. Both of these things are means toproduce expression embodied into a series of movement danced by dancers.According to certain order, this series of movement produce a form of dance. Tocreate good dance, it must be supported by exercise and movement that’sanatomically in accordance with correct movement technique
TARI SAGA BERBASIS SILAT SEBAGAI KARYA TARI INOVATIF Hardi, Hardi
Garak Jo Garik : Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Vol 13, No 1 (2017): Garak Jo Garik
Publisher : Garak Jo Garik : Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (395.985 KB)

Abstract

Tulisan ini merupakan hasil karya tari inovatif yang bersumber dari gerak-gerak  silat. Perwujudan karya tari  tidak terlepas dari faktor internal  sebagai dosen penampu mata kuliah silat dan faktor eksternal sebagai masyarakat akademis dalam memahami fenomena sosial dalam kehidupan masyarakat sekitar tempat tinggal pengkarya, yaitu Bukittinggi. Proses kreatif dalam pembentukan karya tari merupakan interpretasi dari fenomena sosial budaya masyarakat Minangkabau dan realisasi perilaku sosial masyarakat bersangkutan yaitu Tali Tigo Sapilin. Dengan dasar ini karya tari  yang bertemakan  kepahlawanan diberi judul : Tari Saga” berbasis silat dalam bentuk karya inovatif. Hasil karya disajikan dalam rangka Festival Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) se kota Bukittinngi yang memperoleh peringkat 2 antar SLTA bulan Maret 2016. This paper is the result of innovative dance work that comes from silat motion. The manifestation of the work of dance is inseparable from internal factors as a lecturer of silat subjects and external factors as an academic society in understanding social phenomena in the life of the society around the writer residence, Bukittinggi. The creative process in formation of the dance is an interpretation from social phenomena in Minangkabau society and the realization of social behavior of the people, which is Tali Tigo Sapilin. Based on this, dance work that themed as an heroic dance are entitled: Dance Saga "based on silat in the form of innovative works. The work is presented in the National Student Art Competition Festival (FLS2N) on whole Bukittinngi city level, which is ranked 2nd among the entire high school in March 2016
STUDI KOMPARATIF PENGGABUNGAN ORGEN PADA SALUANG DENDANG DAN SULING BAMBU Jonni, Jonni
Garak Jo Garik : Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Vol 9, No 1 (2013): Garak Jo Garik
Publisher : Garak Jo Garik : Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (488.312 KB)

Abstract

Saluang dendang adalah kesenian tradisional Minangkabau yang lazim ditampilkan dalam acara Bagurau. Kesenian ini terdiri dari saluang sebagai instrumen dan dendang sebagai vokal. Dalam perkembanganya dewasa ini terjadi perubahan, yakni masuknya orgen (keyboard) sebagai instrumen tambahan. Dominannya orgen dalam mengiringi dendang mengkibatkan suasana menjadi gembira.Berfungsinya orgen sebagai instrumen pokok dalam penampilan Saluang Dendang, maka sebutan saluang dendang berubah pula menjadi saluang orgen dan pertunjukannya disebut bagurau oyak. Lagu-lagu yang dibawakannya juga telah memasukkan lagu-lagu yang tidak biasa dimainkan dalam bagurau saluang. Perubahan ini memberikan dampak pada bentuk bagurau yang lebih mengutamakan dendang-dendang yang bersifat gembira dari dendang yang bersifat ratok.Kasus yang mirip terjadi pula pada tradisi suling bambu di Kerinci, khususnya di daerah Siulak Gedang. Tradisi suling bambu memiliki beberapa suling sebagai instrumen utama melodi dan pengiring dengan mengiringi dendang-dendang secara khusus pula dalam tradisinya. Akan tetapi, ketika orgen dimasukkan dalam pertunjukannya terjadi perubahan pada bentuk pertunjukannya
BENTUK DAN ESTETIKA TARI SAYAK Maizarti, Maizarti; Saputri, Sintia Ariska
Garak Jo Garik : Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Vol 13, No 1 (2017): Garak Jo Garik
Publisher : Garak Jo Garik : Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (483.812 KB)

Abstract

Tulisan ini membahas tentang bentuk dan estetika tari Sayak yang hidup di tengah masyarakat Air Batu Kabupaten Merangin Provinsi Jambi. Sebagai kajian kualitatif digunakan   metode deskriptif interpreatif yang kemudian  dianalisis sesuai permasalahan tentang bentuk dan estetika tari Sayak. sebagai kajian seni dan budaya.  Landasan untuk membahas fenomena sosial yang berhubungan dengan bentuk dan estetika tari Sayak, digunakan beberapa pendapat tentang teori Bentuk dan esetika  teori  dan teori lainnya yang relevan sesuai kebutuhan.Berdasarkan hasil yang diperoleh, tari Sayak adalah salah satu tari tradisional yang eksis pada Sanggar Buluh Batuah Sayak Baguno yang di pimpin oleh Mawardi. Secara teks,  tari ini ditarikan oleh dua orang penari laki-laki yang memakai kostum wanita. Propertinya adalah sepasang tempurung sekaligus menjadi musik internal, dan diringi oleh alat musik lainnya seperti: gendang, gitar, giring-giring/krincing dan biola sebagai musik eksternal. Gerak pada tari ini dicirikan dengan pukulan tempurung oleh kedua tangan yang diayunkan ke bawah, ke atas, ke belakang, ke depan, ke samping kiri dan ke samping kanan. Munculnya tari ini merupakan inspirasi dari seniman tradisi yang mengangkat legenda Putri Letup yang hidup di tengah hutan. This paper discusses the form and the aesthetic of Sayak dance that develop in Air Batu societyMerangin District, Jambi Province. As a qualitative study, descriptive interpretive method is used in this paper which is then analyzed according to the problem about the form and the aesthetics of Sayak dance As a qualitative study, descriptive interpretive method is used in this paper which is then analyzed according to the problem about the form and aesthetics of the dance as a study of art and culture. The foundation for discussing this social phenomena that associated with the form and aesthetic of the Sayak dance, using some opinions on form of theory and other relevant theory, theory aestethics as what its needed. Based on the results of the research obtained that the dance is one of the traditional dance that exist in Sanggar Buluh Batuah Sayak Baguno which is led by Mawardi. Textually, this dance is danced by two male dancers who are wearing a womens costumes. The property is a pair of shells and has a function to become an internal music, and its also accompanied by other musical instruments such as: drums, guitars, bells and violin as external music. The motion in this dance is characterized by a shell blow by both hands that are swung downward, upward, backward, forward, to the left and right sides. The emergence of this dance is from the inspiration of a traditional artist who lifted the legend of Putri Letup who live in the middle of the forest
RATOK SIKAMBANG DAN TARI SIKAMBANG SEBAGAI EKSPRESI BUDAYA MASYARAKAT BATANG KAPAS DI KABUPATEN PESISIR SELATAN Darmansyah, Darmansyah
Garak Jo Garik : Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Vol 12, No 1 (2016): Garak Jo Garik
Publisher : Garak Jo Garik : Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (269.264 KB)

Abstract

Tulisan ini membahas keterkaitan ratok Sikambang dengan tari Sikambang pada masyarakat Pesisir Selatan. Ratok Sikambang merupakan penyampaian teks kaba (cerita) yang diratokkan dengan iringan instrumen gesek mirip biola (viol) yang penyajiannya dikenal dengan Babiola. Ratok Sikambang yang diyakini sebagai ratok tradisional tertua di daerah Pesisir Selatan memiliki karakteristik melodi dan teks yang diekspresikan dalam bentuk isak tangis/ratapan yang dipandang masyarakat pendukungnya sebagai representasi suasana sedih kebatinan yang dialami tokoh legenda Sikambang yang selalu dirundung penderitaan hidup. Pernyataan sedih ini diungkapkan juga melalui gerak-gerak tari yang ditarikan oleh dua orang penari yaitu; satu orang laki-laki dan satu orang lagi perempuan dengan menggunakan properti kain. Gerak tari diwujudkan sesuai dengan irama ratok sikambang yang dihasilkan tukang biola This writing discusses about the relation of Sikambang Lamentation and Sikambang dance in South Pesisir society. Sikambang Lamentation is lamented storytelling with the accompaniment of string instrument that’s similar to violin that its performance is known as Babiola. Sikambang lamentation is believed as the oldest traditional lamentation in South Pesisir area. It has melodious characteristic and text expressed in the form of mourning/lamentation viewed by its supporting society as the representation of mournful atmosphere experienced by legendary figure of Sikambang who’s always afflicted by suffering and misery of life. This mournful statement is also expressed by dance movements. These movements are danced by two dancers namely a male dancer and a female dancer who uses cloth as their dance properties. Dance movement is embodied according to the rhythm of Sikambang lamentation played by violinist. 
BATOMBE: TRADISI BERBALAS PANTUN DI KANAGARIAN ABAI SOLOK SELATAN Ipraganis, Ipraganis
Garak Jo Garik : Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Vol 12, No 2 (2016): Garak Jo Garik
Publisher : Garak Jo Garik : Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (362.59 KB)

Abstract

Batombe adalah tradisi lisan masyarakat Nagari Abai, Kecamatan Sangir Batanghari, Kabupaten Solok Selatan, Provinsi Sumatra Barat. Batombe adalah tradisi berbalas pantun yang dilakukan sebagai hiburan pada pesta pernikahan (baralek). Batombe identik dengan rumah gadang Nagari Abai yang unik, yakni rumah adat dengan ruangan yang sangat panjang hingga 21 ruangan. Pantun-pantun batombe cenderung menyampaikan perasaan yang mendayu-dayu sehingga para pedendangnya sering hanyut ke dalam suasana pertunjukan. Oleh sebab itu, sebagai bagian dari kehidupan masyarakat, seringkali batombe menyebabkan efek negatif bagi (kejiwaan) para pedendangnya. Tulisan ini mendeskripsikan berbagai hal, seperti penutur batombe, waktu untuk melakukan batombe, hubungan batombe dengan rumah gadang di Nagari Abai, dan efek negatif yang ditimbulkan batombe bagi pedendangnya. Tulisan ini bertolak dari kenyataan bahwa pada tradisi lisan terdapat hubungan erat, antara lain seperti teks dengan penutur dan teks dengan konteks (tempat, waktu, dan suasana). Pendekatan multidisipliner digunakan pada tulisan ini, yakni pendekatan historis, sosiologis, antropologis, dan psikologis. Metode yang digunakan adalah metode analisis deskriptif. “Batombe” is an oral tradition of the Nagari Abai society at Sangir Batanghari Subdistrict, South Solok District, West Sumatra Province. Batombe is exchanging rhymes (berbalas pantun) which is performed as an entertainment on the wedding party (baralek). Batombe is identical with Great House (Rumah Gadang) Nagari Abai which is a unique house because it is a long traditional custom house that has many rooms. It reaches 21 rooms. The rhymes in batombe tends to deliver a feeling of lilting so the singers often drift into the atmosphere of the show. Therefore, as part of community life, batombe often cause a negative effects for the singers soul. This paper describes various things, such as: who batombe singer is; the time to perform this activity; the relationship between batombe and Great House (Rumah Gadang) at Nagari Abai; and the negative effects caused by batombe for the singers. This paper based on the fact that in oral tradition there is a close relationship between text and the speakers and text with context (place, time and atmosphere), a multidisciplinary approach is used in this paper, such as historical, sociological, anthropological, and psychological approach. The method used is descriptive analysis method. 
METODE LEARNING TOGETHER PADA MATA PELAJARAN SENI TARI KELAS XII IPA 3 SMAN 1 KUANTAN MUDIK Suryani, Lili
Garak Jo Garik : Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Vol 12, No 1 (2016): Garak Jo Garik
Publisher : Garak Jo Garik : Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (172.617 KB)

Abstract

Tulisan ini merupakan hasil penelitian yang bertujuan untuk mengetahui apakah Penerapan Metode Learning Together pada Mata Pelajaran Seni Tari dapat meningkatkan Prestasi Belajar Siswa Kelas XII IPA 3 di bidang Pelajaran Seni Budaya SMAN 1 Kuantan Mudik. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (Classroom Action Research) dengan prosedur penelitian meliputi perencanaan, tindakan dan pengamatan serta refleksi yang dilakukan di kelas XII IPA 3 dengan jumlah siswa 34, terdiri ke 22 siswa perempuan dan 12 siswa laki-laki. Penerapan metode Learning Togerher dilakukan secara kolaborasi dengan guru mata pelajaran seni tari yang terdiri dari dua siklus, setiap siklus diadakan refleksi agar prestasi belajar siswa dapat terlihat. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari: tes, wawancara, dan catatan lapangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan metode Learning Together dapat meningkatkan prestasi belajar siswa kelas XII IPA 3 pada mata pelajaran seni dan budaya khususnya pada materi seni tari dengan tema “Tari Dalam Dunia pendidikan”. Rata-rata nilai ketuntasan siswa pada siklus I sebesar (73,53%) mengalami peningkatan pada siklus II menjadi (88,24%). This writing is research result that aims at knowing whether the application of learning together method in dance subject can improve the learning achievement of 12 grade students of science class 3 in the art and culture subject of SMAN 1 Kuantan Mudik or not. This research is classroom action research with research procedures involve planning, action, observation, and reflection conducted in 12 grade of science class 3 that consists of 34 students, 22 female students and 12 male students. The application of learning together method is conducted collaboratively with the teacher of dance subject that consists of two cycles. In every cycle, it’s conducted reflection so students’ learning achievements can be seen. Instruments used in this research are test, interview, and field note. Research result shows that the use of learning together method can improve the learning achievement of 12 th th grade students of science class 3 in the subject of art and culture particularly in dance material with the theme of “Dance in Education World.” The mean of students’ completeness values in cycle I is (73.53%) and has improvement in cycle II that becomes (88.24%).