cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota padang panjang,
Sumatera barat
INDONESIA
Garak Jo Garik : Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni
ISSN : 19074859     EISSN : 28092937     DOI : -
Core Subject : Humanities, Art,
GARAK JO GARIK: JURNAL PENGKAJIAN DAN PENCIPTAAN SENI diterbitkan oleh Program Studi Seni Tari ISI Padangpanjang di bawah koordinasi Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPMPP) ISI Padangpanjang. Jurnal ini terbit dua kali dalam setahun pada bulan Januari-Juni dan Juli- Desember.
Arjuna Subject : -
Articles 45 Documents
BUEK AREK KARANG TAGUAH; PERANAN HUBUNGAN MAMAK DAN KAMANAKAN DALAM MENCIPTAKAN KEHARMONISAN Cufara, Dwindy Putri
Garak Jo Garik : Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Vol 13, No 1 (2017): Garak Jo Garik
Publisher : Garak Jo Garik : Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (340.708 KB)

Abstract

Buek Arek Karang Taguah merupakan sebuah karya tari yang bersumber dari fenomena sosial hubungan mamak dan kamanakan di Minangkabau. Hubungan mamak dan kamanakan di Minangkabau saat ini telah mengalami pergeseran nilai.  Pada dasarnya mamak merupakan pembimbing bagi kamanakan dan kamanakan dididik untuk menjadi orang yang berguna bagi kaumnya. Namun pada saat ini hal tersebut tidak terlihat lagi, mamak dan kamanakan saling acuh tak acuk dan tidak peduli. Fenomena tersebut menjadi inspirasi pengkarya dalam penciptaan sebuah seni tari. Karya ini mengaktualisasikan hubungan mamak dan kamanakan pada zaman dahulu serta pada zaman sekarang. Dengan menggunakan tipe dramatik dan tema literer, pengkarya mencoba menyampaikan harapan di mana mamak dan kamanakan seharusnya saling kerjasama dan gotongroyong demi terciptanya sebuah keharmonisan sosial. Karya ini menggunakan idiom kesenian Pesisir Selatan  seperti rabab pasisia, tari kain, dan gerak pencak silat Minangkabau sebagai landasan atau sumber penggarapan gerak serta beberapa eksplorasi gerak yang mendukung dalam penggarapan karya tari ini. Buek Arek Karang Taguah is a choreography that inspired by social phenomenon between mamak and kamanakan relationship in Minangkabau. The relationship between mamak and kamanakan in Minangkabau now is experiencing a system shift, which is basically mamak is an educator for kamanakan and kamanakan are educated to be a people who are useful for its society. However, at this point it is no longer exist mamak and kamanakan are mutually ignoring each other. These phenomenon becaming an inspiration to choreographer to create a dance. This dance actualizes the relationship between mamak and kamanakan in the past and at the present time. By using dramatic types and literer themes, choreopgrapher are trying to communicate a hope in which mamak and kamanakan should be coorporated with each other to create a social harmony. This choreography using Pesisir Selatan arts idiom, like rabab pasisia, kain dance, silat movement as the source of motion cultivation as well as some exploration that can support this dance. 
PENERAPAN METODE KONSTRUKTIVISME DALAM PEMBELAJARAN TARI PADA SISWA/SISWI SLTA Arisda, Noti
Garak Jo Garik : Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Vol 9, No 1 (2013): Garak Jo Garik
Publisher : Garak Jo Garik : Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (80.42 KB)

Abstract

Tulisan ini merupakan sebuah rancangan dalam menerapkan metode konstruktivisme sebagai wacana pengetahuan bagi guru yang ingin mengajar tari pada Sekolah Menengah Tngkat Atas. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan minat siswa/sisiwi dalam belajar tari. Berdasarkan fakta lapangan, terjadi penurunan minat karena pengaruh teknologi dan informasi, sehingga tari (tari tradisional) dianggap ketinggalan zaman oleh siswa/sisiwi sementara siswa/siswi tidak diberikan pemahaman tentang nilai, etika dan estetika tari yang melekat di dalamnya.
TARI RAMO-RAMO TABANG DUO DI KECAMATAN SUNGAI PAGU, KABUPATEN SOLOK SELATAN: KAJIAN SEMIOTIKA Hidayati, Sukmi
Garak Jo Garik : Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Vol 13, No 1 (2017): Garak Jo Garik
Publisher : Garak Jo Garik : Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (484.891 KB)

Abstract

Secara umum penelitian ini ingin mengungkap fenomena tari Ramo Ramo Tabang Duo  pada masyarakat Sungai Pagu Kabupaten Solok Selatan. Secara khusus membahas tentang bentuk dan makna gerak tari Ramo-RamoTabang Duo sebagai kajian Semiotika. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan menggunakan metode deskriptif interpreatif. Fakta lapangan dideskripsikan, dianalisis dan diklasifikasikan sesuai kebutuhan kemudian diinterpretasikan sebagai gejala sosial. Sebagai landasan untuk membahas gejala sosial yang berhubungan dengan bentuk dan makna tari Ramo Ramo Tabang Duo, digunakan beberapa teori atau pendapat,  seperti teori Kebudayaan oleh E.K.M, Masinambow, Semiotika oleh Ferdinand de Sausure, teori bentuk oleh Y Sumandiyo Hadi  dan teori lainnya yang relevan sesuai kebutuhan. Berdasarkan hasil yang diperoleh, tari Ramo-Ramo Tabang Duo  adalah salah satu tari tradisional yang diwujudkan oleh seniman tradisi bernama Syofian Sori yang saat ini eksis pada sanggar Sabirullah Matador. Dari aspek bentuk, tari ini ditarikan oleh empat orang penari laki-laki dengan menggunakan kostum Baju Gadang  dan Sarawa Lapang. Gerak-gerak tari merupakan penggambaran dari gerak-gerak binatang terbang dan merayap yang divisualisasikan oleh seniman sesuai dengan kondisi sosial budaya masyarakat setempat. Dengan demikian gerak gerak tari Ramo-Rramo tabang Duo bermakna, religius, sosial  dan bermakna estetis. In general, this research would like to reveal the phenomenon of Ramo Ramo Tabang Duo dance in Pagu people of South Solok Regency. Specifically discussed about the shape and meaning of Ramo-Ramo Tabang Duo dance as Semiotics study. This research is a qualitative research using descriptive interpreative method. Field facts described, analyzed and classified as needed then interpreted as social phenomena. As a basis for discussing the social phenomena related to the form and meaning of ramo dance RamoTabang Duo, several theories or opinions are used, such as the theory of culture by EKM, Masinambow, Semiotics by Ferdinand de Sausure, form theory by Y Sumandiyo Hadi and other relevant theories as needed. Based on the results obtained, Ramo Ramo Tabang Duo dance is one of the traditional dance which is realized by a traditional artist named Syofian Sori who currently exist in Sabirullah Matador art community. From the aspect of the form, this dance is danced by four male dancers by wearing Baju Gadang as a costume and Sarawa Lapang. The dance movements are a representation of animal movements like flying and crawling that are visualized by the artist in accordance with the socio- cultural conditions of the local community. Thus the movement of dance Ramo- Ramo tabang Duo are meaningful, religious, social and has aesthetic meaning.
TARI DAN MANAJEMEN PERTUNJUKAN Murni, Nirwana
Garak Jo Garik : Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Vol 9, No 1 (2013): Garak Jo Garik
Publisher : Garak Jo Garik : Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (87.515 KB)

Abstract

Tari sebagai seni pertunjukan membutuhkan uluran tangan, usaha dan karya kelompok seniman atau orang-orang yang bekerja untuk menghidup kembangkannya. Tari sebagai seni tontonan tidak terlepas dari masyarakat sebagai penikmatnya. Kehidupan tari perlu mendapat sentuhan manajerial yang arif, bijak, dan piawai dalam mengelola keberlanjutan kehidupan tari.
ESTETIKA TARI PIRING LAMPU TOGOK DI DESA GURUN BAGAN KELURAHAN VI SUKU SOLOK SUMATERA BARAT Citrawati, Anak Agung Istri Agung
Garak Jo Garik : Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Vol 12, No 2 (2016): Garak Jo Garik
Publisher : Garak Jo Garik : Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (367.995 KB)

Abstract

Tari Piring Lampu Togok merupakan tarian yang terdapat di desa Gurun Bagan Kelurahan VI Suku Solok. Tari Piring Lampu Togok ini ditarikan oleh laki-laki maupun perempuan berjumlah genap 2 sampai 10 orang dengan cara berpasangan memakai properti piring yang diujung jari tengahnya dipasang cincin yang terbuat dari dama atau buah kemiri dan lampu togok yang masih menyala diletakkan di atas kepala dengan membawakan gerak-gerak tari yang bersumber dari manusia, alam, dan binatang. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bentuk, estetika tari Piring Lampu Togok di desa Gurun Bagan Kelurahan VI Suku Solok. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan metode yang digunakan adalah deskriptif analisis. Teori yang digunakan sebagai kerangka dasar dalam berpikir untuk mengkaji fenomena ini antara lain teori bentuk dari Jacqualine Smith dan teori estetika dari A.A.M. Djelantik. Hasil penelitian ini mengungkapkan bentuk, estetika yang terdapat dalam tari Piring Lampu Togok. Nilai estetika tari Piring Lampu Togok tercermin pada unsur-unsur yang membentuk tari Piring Lampu Togok, yaitu adanya gerak, penari, properti, pola lantai, rias busana, musik, dan tempat pertunjukan Togok lamp plate is a dance from Gurun bagan village VI suku Solok. Togok lamp plate dance is danced by both men or women with the even number, from 2 to 10 people in pairs using the property like a plate and on the middle finger is placed a kind of ring that made from dama or pecan fruit with lights that are still lit up on their head by bringing dance movements that come from humans, nature, and animals. The purpose of this research is to known about the shape, aesthetics of togok lamp plate dance in Gurun bagan village VI suku Solok. This research is a qualitative research with descriptive analysis method. The theories that used as the basic framework in thinking to examine these phenomena are the form theory of Jacqualine Smith and the aesthetic theory of A.A.M. Djelantik. The results of this study is to reveal the form of aesthetics that contained in togok plate dance. The aesthetic value of togok lamp plate dance is reflected in elements that formed the dance, which is the existence of motion, dancers, properties, floor patterns, dressing, music, and the venue
KOMPLEKSITAS SENI DALAM KEGIATAN MARCHING BAND HR, Hafif
Garak Jo Garik : Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Vol 12, No 1 (2016): Garak Jo Garik
Publisher : Garak Jo Garik : Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (760.389 KB)

Abstract

Kegiatan Marching Band merupakan suatu rangkaian kegiatan yang cukup komplek, tidak hanya berfokus kepada unsur musikal namun lebih luas dari pada itu, seni Marching Band perwujudannya membutuhkan disiplin seni lainnya seperti seni tari, desain komunikasi visual dan seni kepemimpinan serta seni baris berbaris. Hal tersebut terangkum dalam Seni Marching band dengan penjabaran yang terdapat pada keutuhan marching band seperti pada section Battery,section Hornline dan section color guard. Marching band activity is a series of complex activity. It does not only focus on musical elements, but it also needs other art elements. In fact, the art of marching band needs other art disciplines such as dance, visual communication design, leadership and marching. Those elements are encapsulated in the art of marching band with descriptions found in the wholeness of marching band such as on Battery section, Horn Line section, and Color Guard section.  
RATIK DAN DABUIH DALAM KAJIAN ESTETIKA MISTIK MASYARAKAT MINANGKABAU Putra, Muhammad Herkha Syah
Garak Jo Garik : Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Vol 13, No 1 (2017): Garak Jo Garik
Publisher : Garak Jo Garik : Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (341.253 KB)

Abstract

Tulisan ini bertujuan untuk membahas ratik dan dabuih dalam kajian estetika mistik masyarakat Minangkabau. ratik  disebut juga dengan dzikir artinya puji pujian atau do’a kepada Tuhan yang di ucapkan berulang ulang Dabuih adalah suatu bentuk pertunjukan seni tradisional yang dalam atraksinya mempertontonkan kekebalan dari berbagai senjata tajam, besi runcing, rantai panas, dan permainan dengan api. Kekebalan ini bisa terjadi dikarenakan adanya keyakinan kuat bahwa tidak ada satu benda tajam-pun yang dapat melukai, tanpa seizin Allah SWT. ratik dalam dabuih merupakan suatu idiom yang bersifat religius yang merupakan suatu proses pengungkapan hubungan dengan Allah SWT.Mistik merupakan suatu kesadaran terhadap kenyataan yang disebut kearifan di dalam diri sebagai kerohanian yang telah mengalir di dalam agama Hal itu baik dilakukan melalui  simbol keagamaan, konsep keagamaan yang dapat dilihat dari metode dzikir yang digunakan. Aktivitas ratik ini muncul dalam bentuk seni sastra yang sya’irnya berisikan tentang puji-pujian kepada Allah SWT. Ratik  pada hakikatnya dibaca  secara berulang ulang  dengan diiringgi  oleh pukulan alat musik rabano. Beberapa aspek yang penting yang hadir dalam aktifitas dabuih ialah adanya kekuatan dari sosok guru atau khulifah yang berstatus sebagai syekh atau wali Allah. khulifah tersebut dikaruniai berbagai macam keajaiban atau kesaktian. Keberadaan khulifah tersebut lebih berkonsentrasi dalam membentengi para pemain selama praktik dabuih berlangsung agar jauh dari marabahaya. This paper aims to discuss about ratik and dabuih mystical aesthetic studies in Minangkabau society. Ratik are also called dzikir it means to praise or prayer to the God in repeated recitation. Dabuih is a form of traditional art performances which in its show exhibits immunity from a variety of sharp weapons, pointed iron, hot chains, and fire immunity. This immunity can be occured because of a strong conviction that no sharp object can harm, without permission from Allah. Ratik in dabuih is a religious idiom which has a process of disclosure relationship with Allah SWT. Mysticism is an awareness of the reality that also known as wisdom within the self as the spirituality that flows in religion. It is done through religious symbols and religious concepts that can be seen from the method of dzikir used. Ratik essentially read repeatedly accompanied by rabano musical instruments. Some important aspects that are present in dabuih activity is the strength of the teacher or khulifah who has a status as a sheikh or the helper of God. Khulifah are endowed with various kinds of miracles or supernatural powers. The existence of this khulifah are concentrated to fortify the players during dabuih practice so that it will lasted from danger and avoided it.
KREATIFITAS ASPEK UTAMA DALAM PROSES KOREOGRAFI Suryanti, Suryanti
Garak Jo Garik : Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Vol 9, No 1 (2013): Garak Jo Garik
Publisher : Garak Jo Garik : Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (125.909 KB)

Abstract

Hadirnya suatu produk seni tari tidak terlepas dari kreativitas si koreografer. seniman kreatif adalah manusia yang tengah menghayati dan menjalankan kebebasan dirinya secara mutlak. Proses kreatif dan korelasinya dalam pembentukan sebuah tari akan terorentasi pada kreativitas itu sendiri, inovasi, prakarsa, produktivitas dan efisiensi. Kelima unsur tersebut mempunyai tema yang pada dasarnya berkonotasi sama, yaitu untuk menggerakkan seseorang agar lebih kreatif.
KOMPOSISI TARI LANGKAH PADUSI KOMPOSISI “LANGKAH PADUSI” SEBAGAI PERUJUDAN BUDAYA LOKAL Ardila, Yolanda Novia
Garak Jo Garik : Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Vol 13, No 1 (2017): Garak Jo Garik
Publisher : Garak Jo Garik : Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (371.762 KB)

Abstract

Langkah Padusi merupakan judul karya yang terinspirasi dari konflik yang terdapat pada Kaba Tuanku Lareh Simawang yang terjadi di Nagari Siwang Kabupaten Tanah Datar. Dari cerita kaba terdapat sebuah fenomena yakni Poligami. Poligami sudah menjadi isu populer semenjak abad ke-19 hingga sekarang. Kaba ini menceritakan bagaimana keinginan seorang laki-laki yang memiliki istri dua namun ditolak oleh istri pertama. Bentuk penolakan itu di jelaskan dengan cara mengakhiri hidup kedua anak serta dirinya sendiri, dengan kejadian tersebut laki-laki yang bernama Lareh Simawang menyesal hingga menjadi gila. Dalam karya ini pengkarya menafsirkan sifat serta konflik yang dirasakan oleh perempuan, dengan menggunakan teori bias gender dan feminisme di kalangan perempuan. Penyesalan laki-laki terjadi bukan karena sifat pesimistik perempuan namun sebaliknya terjadi karena sifat optimis dan heroik yang dimiliki oleh perempuan masa sekarang. Orientasi pemakaian gerak lebih diutamakan pada kekayaan tradisi randai yang berkembang di daerah Simawang. Tempat pertunjukan di nagari Pulai Gaduik Kabupaten Agam, tepatnya dinegeri asal pengkarya yang nantinya akan menghadirkan pertunjukan yang berlar dari daerah lain. Langkah Padusi is the title of this artwork that is inspired by the conflict in Kaba Tuanku Lareh Simawang that occurred in Nagari Siwang Tanah Datar district. From this kaba story there is a phenomenon that is Polygamy. Polygamy has been a popular issue since the 19th century until now. This kaba story is telling about the desire of a man who has two wives but rejected by the first wife. The form of rejection was explained by ending both of his children lives and herself, with that incident a man named Lareh Simawang regreted it and became crazy. In this artwork creator interpret the nature and conflict that felt by the women, using biased theory and feminism theory among women. Mens regrets are not because of the pessimistic woman nature but because of the optimistic and heroic nature of woman nowadays. Orientation of the motion used takes precedence over the traditional randai richness that developed in the Simawang area. The performances places planed in nagari Pulai Gaduik Agam district, in creator regions and later will present a show that has typical character from other regions.
ETIKA DAN ESTETIKA PERTUNJUKAN MUSIK TRADISIONAL BIOLA DI KABUPATEN PESISIR SELATAN Darmansyah, Darmansyah
Garak Jo Garik : Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Vol 13, No 2 (2017): Garak Jo Garik
Publisher : Garak Jo Garik : Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1104.721 KB)

Abstract

Biola adalah sejenis alat musik tradisional yang secara umum dikenal denganistilah rabab di Sumatera Barat. Dalam pertunjukannya dikenal dengan istilahbarabab, namun di Kabupaten Pesisir Selkatan pertunjukannya dikenal denganbabiola. Materi utama dalam pertunjukan adalah penyampaian teks kaba (cerita). Salah satu repertoar lagunya yang terkenal berjudul Ratok Sikambang. Ratok Sikambang diyakini sebagai lagu tradisional tertua di daerah Pesisir Selatan yang memiliki karakteristik melodi dan teks berupa imitasi bentuk isak tangis ratapan sebagai representasi suasana sedih kebatinan yang dialami tokoh legenda Sikambang. Legenda ini terwujud pula dalam bentuk tari yang diberi nama tari Sikambang. Pertunjukan biola ini memiliki etika dan estetika yang yang sampai saat sekarang tetap dipedomani dan menjadi identitas masyarakatnya. Penelitian ini adalah penelitian kualitatafi dengan pendekatan organologis dan karakteristik musik yang didukung oleh teknik observasi dan wawancara terhadap pemusik biola (Tukang Biola) yang profesional. Violin is a type of traditional musical instrument which is generally known as rabab in West Sumatra. In it's performances generally it is known as barabab, but in the Pesisir Selatan District the performances is known as babiola. The main material in the performances is the delivery of the kaba text (story). One of it's famous song repertoires is Ratok Sikambang. Ratok Sikambang is believed to be the oldest traditional song in the Pesisir Selatan area that has melodic characteristics and text in the form of imitation consisting lamentable sobs as a representation of the sad atmosphere that experienced by the characters in Sikambang legend. This legend was also manifested in the form of a dance, that called Sikambang dance. This violin performances has ethics and aesthetics which up to now are still guided and become the identity of its people. This research are using qualitative research with an organological approach and musical characteristics, also supported by observation and interview techniques to a professional violin (Tukang Biola) musicians.