cover
Contact Name
Kamirsyah Wahyu
Contact Email
kwahyu@uinmataram.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jurnalbeta@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota mataram,
Nusa tenggara barat
INDONESIA
Beta: Jurnal Tadris Matematika
ISSN : 20855893     EISSN : 25410458     DOI : -
Core Subject : Education, Social,
Bετα: Jurnal Tadris Matematika (p-ISSN: 2085-5893 | e-ISSN: 2541-0458) is scientific, peer-reviewed, and open access journal published by Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram in collaboration with Asosiasi Dosen Matematika dan Pendidikan Matematika PTKIN (Ad-Mapeta) half-yearly on May and November. It has been indexed in SINTA 2 (Accredited Journal, Decree No.21/E/KPT/2018) by Director General of Strengthening Research and Development, Ministry of Research Technology and Higher Education of the Republic of Indonesia in 2018. The indexing status will be active until 2020.
Arjuna Subject : -
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol. 16 No. 1 (2023): Beta May" : 5 Documents clear
Exploring students’ imaginative process: Analysis, evaluation, and creation in mathematical problem-solving Sri Rahayuningsih; Muhammad Nurhusain; Sirajuddin Sirajuddin
Beta: Jurnal Tadris Matematika Vol. 16 No. 1 (2023): Beta May
Publisher : Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20414/betajtm.v16i1.537

Abstract

[English]: The role of imagination as a means of learning mathematics, unlike in other fields such as art and literature, is not well defined. The present study aims to examine the process of students’ imagination in solving mathematics problems. It involved three grade 8 students which were purposively selected based on their scores in a given test. Students’ answers to the test and the results of interviews were examined qualitatively referring to the three stages of creative problem-solving that involve imagination: analysis, evaluation and creation. The results show that, in the analysis phase, imagination was found in the students’ ability to define problems in general (common visual). As the first step in solving a problem, they analysed mathematical knowledge needed to solve the problem. In the evaluation phase, imagination was formed as students completed the final answer by creating visual representations from previous experiences as artifacts taken together and gathering necessary knowledge. In the last phase, creation, imagination was identified when students engaged in a cyclical thought process to find new ideas in solving the problem. This process repeated until the students found no other ideas or ways to solve the problem. [Bahasa]: Peran imajinasi sebagai sarana belajar matematika belum didefinisikan dengan baik, tidak seperti pada bidang lain seperti seni dan sastra. Penelitian ini bertujuan menelusuri proses imajinasi siswa selama melakukan pemecahan masalah matematika. Penelitian ini melibatkan tiga siswa kelas 8 yang dipilih melalui purposive sampling, berdasarkan nilai tertinggi hasil tes pemecahan masalah matematika. Jawaban siswa dan hasil wawancara dianalisis secara kualitatif dengan merujuk pada tiga tahapan proses kreatif yang melibatkan imajinasi: analisis, evaluasi dan kreasi. Hasil penelitian menunjukkan, pada tahap analisis, imajinasi yang terbentuk ditandai dengan kemampuan siswa menetapkan masalah secara umum (common visual). Sebagai langkah awal untuk menyelesaikan masalah, siswa melakukan koreksi dengan cara memikirkan kembali pengetahuan matematika yang dibutuhkan. Proses imajinasi pada tahap evaluasi ditunjukkan oleh kemampuan siswa dalam menyimpulkan jawaban akhir dengan cara membangun visual dari pengalaman sebelumnya sebagai artefak yang diambil bersama serta mengumpulkan pengetahuan yang diperlukan. Pada tahap kreasi, kemampuan siswa melakukan proses berpikir secara siklis dalam memikirkan ide baru untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi menunjukkan proses imajinasi pada tahap ini. Proses ini berlangsung secara berulang, sampai siswa tidak memiliki ide lagi untuk menyelesaikan masalah.
Opening mathematics texts: A critical discourse analysis of probability problems in mathematics textbook Bustang Bustang
Beta: Jurnal Tadris Matematika Vol. 16 No. 1 (2023): Beta May
Publisher : Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20414/betajtm.v16i1.574

Abstract

[English]: This article investigates the nature of probability problems presented in mathematics textbook using the socio-political perspective and critical discourse analysis drawn from well-known critical linguists Norman Fairclough. Specifically, the paper analyzed how the students are positioned by the problems presented in the text, to find out the role of authors and student readers, and to gain insight about the possible consequences for students. Drawing on Fairclough's three-dimensional model for critical discourse analysis as a framework for studying the relationship between the written text of probability problems in the textbook, the associated discursive practices, and the social practice to which the discursive practices form part, the article argues that the textbook authors tend to be authoritative by directing students about what to do and how to do the probability (mathematical) activities. The analysis also shows that the use of real-word problems in the text points out the attempts of the authors to present the probability concepts more relevant and accessible to the student readers. The article demonstrates the usefulness of Fairclough's three-dimensional model as a framework for analyzing probability problems presented in the mathematics textbook. [Bahasa]: Artikel ini menyelidiki sifat masalah peluang yang disajikan dalam buku teks matematika dengan menggunakan perspektif sosio-politik dan analisis wacana kritis yang diambil dari ahli bahasa kritis terkenal Norman Fairclough. Secara khusus, makalah ini menganalisis bagaimana siswa diposisikan oleh masalah yang disajikan dalam teks, untuk mengetahui peran penulis dan siswa sebagai pembaca, serta untuk mendapatkan wawasan tentang konsekuensi yang mungkin terjadi pada siswa. Merujuk pada model tiga dimensi Fairclough untuk analisis wacana kritis sebagai kerangka kerja untuk mempelajari hubungan antara teks tertulis dari masalah peluang dalam buku teks, praktik diskursif yang terkait, dan praktik sosial yang merupakan bagian dari praktik diskursif, artikel ini menunjukkan bahwa penulis buku teks cenderung otoriter dengan mengarahkan siswa tentang apa yang harus dilakukan dan bagaimana melakukan kegiatan berkaitan dengan konsep peluang (matematika). Analisis juga menunjukkan bahwa penggunaan masalah berbasis kehidupan sehari-hari dalam teks menunjukkan upaya penulis untuk menyajikan konsep peluang yang lebih relevan dan dapat diakses oleh siswa. Artikel ini menunjukkan kegunaan model tiga dimensi Fairclough sebagai kerangka kerja untuk menganalisis masalah peluang yang disajikan dalam buku teks matematika.
Teacher's Pedagogical Content Knowledge (PCK) in implementing Realistic Mathematics Education (RME) Tuti Zubaidah; Rahmah Johar; Dewi Annisa; Yulinar Safitri
Beta: Jurnal Tadris Matematika Vol. 16 No. 1 (2023): Beta May
Publisher : Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20414/betajtm.v16i1.550

Abstract

[English]: Pedagogical Content Knowledge (PCK) is crucial for mathematics teachers in teaching and learning due to the fact that mathematics is an abstract and interrelated subject; requiring adequate knowledge on the content and instructional practices. Applying Realistic Mathematics Education (RME) help students learn in meaningful way since it starts with contextual problems. Therefore, to realize the meaningful learning, teachers need to have PCK in implementing RME. This study aims to analyze two teachers' PCK in implementing RME for geometry topic. Prior to the classroom teaching, both teachers received teacher professional development program regarding RME. Data in this study were collected through classroom observation and interviews which were the analyzed qualitatively. The results of the analysis show that both teachers have similar PCK in applying RME. The PCK indicator fulfilled by the teachers is further discussed in this paper. [Bahasa]: Pedagogical Content Knowledge (PCK) atau pengetahuan pedadogis dan konten sangat diperlukan bagi guru matematika dalam pembelajaran karena matematika bersifat abstrak dan saling berkaitan, sehingga memerlukan penguasaan materi dan perencanaan pembelajaran yang baik. Pembelajaran dengan Pendidikan Matematika Realistik (RME) membantu siswa belajar bermakna karena dimulai dari masalah nyata yang terdapat dalam kehidupan sehari-hari atau konteks. Oleh karena itu, untuk mewujudkan pembelajaran bermakna tersebut, guru harus memiliki PCK dalam menerapkan RME. Penelitian ini bertujuan menganalisis PCK dua orang guru dalam menerapkan RME pada materi geometri. Kedua guru tersebut telah mengikuti program pengembangan profesional guru sebelum pembelajaran dilaksanakan. Data dalam penelitian ini dikumpulkan melalui observasi dan wawancara yang dianalisis secara kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua guru memiliki PCK yang sama dalam menerapkan RME. Indikator yang dipenuhi dibahas lebih lanjut dalam tulisan ini.
Developing instructional props to reinvent the area of parallelogram and triangle in online learning Ketut Sarjana; Ni Made Intan Kertiyani; Laila Hayati; Baidowi Baidowi
Beta: Jurnal Tadris Matematika Vol. 16 No. 1 (2023): Beta May
Publisher : Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20414/betajtm.v16i1.555

Abstract

[English]: For elementary school students who are still in the stage of concrete thinking, the concept of area in geometry is an abstract idea. In order to bridge the gap between concrete thinking and abstract thinking, teaching aids such as props are necessary. However, props are mostly used in face-to-face lessons, while the pandemic has forced learning to be conducted online. Employing the ADDIE model (Analysis, Design, Development, Implementation, Evaluation), this study developed a prop and instructions for using it to help students understand the area of parallelograms and triangles for online learning. Data for this study were collected through observation, interviews, validation sheets, and tests. The tryout of the props involved 281 elementary school students. The result of the study shows that the developed teaching prop provides consistent results in different classes. In addition, this prop and its manual are also effective for online learning, so teachers can use them as alternatives to assist students in reinventing the formula of the area of parallelograms and triangles. [Bahasa]: Konsep luas pada materi geometri matematika di sekolah dasar merupakan hal yang abstrak untuk peserta didik yang masih dalam tahap berpikir konkrit. Untuk menjembatani perbedaan tahap berpikir diperlukan alat bantu belajar seperti alat peraga dalam pembelajaran. Namun, alat peraga kebanyakan digunakan pada pembelajaran tatap muka, sementara pandemi menyebabkan pembelajaran harus dilakukan secara daring dari rumah. Penelitian ini mengembangkan alat peraga dan petunjuk penggunaannya untuk membantu peserta didik menentukan luas jajar genjang dan segitiga dalam pembelajaran daring. Penelitian ini menggunakan model ADDIE (Analysis, Design, Development, Implementation, Evaluation). Instrumen pengumpulan data terdiri dari lembar observasi, pedoman wawancara, lembar validasi dan tes pemahaman luas jajar genjang dan segitiga. Uji coba alat peraga melibatkan 281 siswa sekolah dasar. Hasil penelitian menunjukan bahwa alat peraga yang dikembangkan memberikan hasil yang konsisten di berbagai level kelas. Selain itu, alat peraga dan petunjuk penggunaannya juga efektif digunakan dalam pembelajaran daring sehingga dapat dijadikan referensi untuk membantu peserta didik dalam menemukan kembali rumus luas jajar genjang dan segitiga.
Developing computer-assisted learning tool based on discovery learning to improve students' mathematical reasoning Siregar, Ginda Maruli Andi; Wahyudin; Herman, Tatang; Prabawanto, Sufyani
Beta: Jurnal Tadris Matematika Vol. 16 No. 1 (2023): Beta May
Publisher : Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20414/betajtm.v16i1.644

Abstract

[English]: Mathematical reasoning abilities were needed in solving steps using mathematics numerically. In mathematics education, students always had difficulty building solution steps into algorithms and were unable to build program code. The cause of these difficulties and failures was learning obstacles in the form of didactical obstacles. Learning did not facilitate the development of mathematical reasoning abilities for building algorithms and program code. It was not only the use of inappropriate teaching methods but also the limitations of teaching tools, such as computers, in creating a program. Mathematics and informatics students encountered this issue during their learning journey in numerical methods courses, experiencing both low mathematical reasoning abilities and restricted access to computer lab facilities within their department. The research carried out was to develop and evaluate computer-assisted learning based on discovery learning. The method in this research used a quantitative approach to obtain a quantitative evaluation of the development of computer-assisted learning using the web, which was developed through research and development in the ADDIE model. The web was used as a computer-assisted learning tool in the very valid category by media experts, mathematicians, and test respondents. The results of pre- and post-tests of mathematical reasoning ability were analyzed using a paired t-test, obtaining a significant value of 0.609 above the significance level of 0.05, indicating that computer-assisted learning through web-based discovery learning could be used to enhance students' mathematical reasoning abilities. Direct observations also showed increased engagement and facilitated improvement in students' mathematical reasoning abilities. A weakness to note was the relatively longer time usage, as instructors received many responses from students and provided repeated guidance to align with the steps of discovery learning within the web media. [Bahasa]: Kemampuan penalaran matematika dibutuhkan dalam langkah-langkah penyelesaian dengan matematika secara numerik. Mahasiswa pendidikan matematika selalu kesulitan dalam membangun langkah penyelesaian menjadi algoritma, dan tidak mampu membangun kode program. Penyebab kesulitan dan kegagalan tersebut adalah hambatan belajar berupa didactical obstacle. Pembelajaran tidak memfasilitasi pengembangan kemampuan penalaran matematis dalam membangun algoritma dan kode program. Bukan hanya penggunaan metode ajar yang tidak sesuai, tetapi juga keterbatasan alat-alat ajar, seperti komputer dalam pembuatan sebuah program. Masalah ini dihadapi oleh mahasiswa matematika dan informatika dalam proses belajar pada matakuliah metode numerik, yaitu rendahnya kemampuan penalaran matematis serta keterbatasan penggunaan fasilitas lab komputer di jurusannya. Penelitian yang dilakukan adalah membangun dan mengevalusi pembelajaran berbantuan komputer yang berbasis discovery learning. Metode dalam penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dalam memperoleh evaluasi secara kuantitas dari pengembangan pembelajaran berbantuan komputer menggunakan web yang dikembangkan melalui research and development dengan model ADDIE. Web yang digunakan sebagai alat pembelajaran berbantuan komputer dikategorikan sangat valid oleh ahli media, ahli matematika, dan uji responden. Hasil pre-tes dan post-tes kemampuan penalaran matematis dianalsis dengan uji paired t-test memperoleh nilai signifikan sebesar 0.609 diatas level signifikansi 0.05 yang menunjukkan bahwa pembelajaran berbantuan komputer melalui web berbasis discovery learning dapat digunakan untuk meningkatkan kemampuan penalaran matematis mahasiswa. Observasi langsung juga memperlihatkan peningkatan keterlibatan dan memfasilitasi peningkatan kemampuan penalaran matematis mahasiswa. Kelemahan yang harus diperhatikan adalah penggunaan waktu yang relatif lebih lama karena pengajar memperoleh banyak tanggapan dari mahasiswa serta memberikan arahan berulang kali sehingga sesuai dengan langkah discovery learning di dalam media web.

Page 1 of 1 | Total Record : 5