Wacana: Jurnal Ilmiah Ilmu Komunikasi
Wacana, Jurnal Ilmiah Ilmu Komunikasi merupakan wujud karya ilmiah tentang kajian ilmu komunikasi yang melingkupi hasil penelitian dengan tema atau topik yang dibahasa dalam jurnal Wacana meliputi kajian ilmu komunikasi baik Komunikasi Politik atau pun Komunikasi Lintas Budaya; Strategic Communication meliputi Kehumasan, Periklanan, IMC, maupun Branding; Analisis Teks, Semiotika; dan juga Media Studies.
Articles
973 Documents
PEMBENTUKAN DAN PENGEMBANGAN HUBUNGAN PERTEMANAN ANTAR ETNIS DI JAKARTA ( Suatu Studi Komunikasi Antarpribadi di Kalangan Etnis Betawi dan Non-Betawi di Jakarta )
nurkholisoh, nurkholisoh
WACANA: Jurnal Ilmiah Ilmu Komunikasi Vol 3, No 12 (2005)
Publisher : Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama)
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.32509/wacana.v3i12.249
Studi tentang masyarakat Betawi yang telah dilakukan oleh para ahli selama ini lebih menitik beratkan pada unsur budaya, demografi dan adat istiadat yang terdapat di dalam komunitas tersebut, seperti Lance Castle yang melihatn.ya dari sudut demografi dalam bukunya" The Ethnic Profile of Djakarta" (1967). Masyarakat Betawi yang memiliki garis sejarah dengan kerajaan Jayakarta dikenal memiliki keyakinan agama yang kuat dan memegang teguh adat istiadat yang telah diwariskan oleh nenek moyangnya secara turun temurun. Hal inilah yang meyebabkan masyarakat Betawi menjadi suatu komunitas yang memiliki ciri khas tersendiri dilihat dari kultur dan adat istiadatnya. Seiring dengan perkembangan sosiokultural yang ada saat ini, masyarakat etnis Betawi yang selama ini dikenal dengan fanatisme kultur dan religi yang kuat turut mengalami perubahan. Namun demikian, pada tempat-tempat tertentu di Jakarta yang memiliki mayoritas komunitas Betawi seperti Condet, Cawang, Kampung Pulo dan Kebon Kacang masih memiliki fanatisme kultur dan religi yang masih dipegang teguh. Nilai-nilai budaya yang masih dipegang teguh ini tentunya turut mempengaruhi perilaku masyarakat Betawi, baik yang bersifat internal maupun eksternal termasuk cara-cara dalam bergaul dan menjalin hubungan dengan etnis lain yang ada di dalam komunitas tersebut. Dalam hal ini tentunya menarik untuk mengetahui proses pembentukan dan pengembangan hubungan antar etnis betawi dan non-Betawi yang ada di Jakarta serta faktor-faktor yang mempengaruhi hubungan tersebut sehingga hubungan pertemanan dapat berlanjut dari satu tahap ke tahap berikutnya.
SEKOLAH KEJURUAN SEBAGAI CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY DJARUM FOUNDATION
Sulaeman, Dede;
Mona, Leila
WACANA: Jurnal Ilmiah Ilmu Komunikasi Vol 16, No 2 (2017)
Publisher : Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama)
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.32509/wacana.v16i2.35
Beroperasi di tengah ketatnya persaingan bisnis rokok, derasnya tekanan masyarakat maupun kebijakan pemerintah Djarum membutuhkan strategi bisnis yang kreatif. Program CSR Djarum Foundation dalam bentuk Program Sekolah Kejuruan (Vocational School) dipercaya menjadi salah satu strategi korporasi dalam upaya untuk bertahan bahkan mengembangkan bisnis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keunggulan program Sekolah Kejuruan Djarum Foundation, strategi komunikasi, dan legitimasi masyarakat terhadap program. Penelitian deskriptif kualitatif ini mengumpulkan data melalui wawancara dan studi kepustakaan. Hasil penelitian menjelaskan bahwa Sekolah Kejuruan merupakan program CSR yang unggul, tidak mudah ditiru, dan berhasil mencapai tahap sustaining survival. Komunikasi program Sekolah Kejuruan dilakukan dengan pemilihan media, sasaran, isi pesan, dan narasumber secara efektif. Pendekatan tersebut menguatkan posisi strategis Djarum Foundation di level nasional dan internasional. Sekolah Kejuruan Djarum juga memperoleh legitimasi yang tercermin dari antusiasme masyarakat terhadap program; meningkatkan ekonomi masyarakat Kudus; dan apresiasi pemerintah baik daerah maupun pusat.
DIPLOMASI BUDAYA PEMERINTAH PROVINSI KALIMANTAN SELATAN DALAM FESTIVAL BANJAR 2018-2019
Salsabila Andi Akil;
Indra Kusumawardhana
WACANA: Jurnal Ilmiah Ilmu Komunikasi Volume 20, No. 1 June 2021
Publisher : Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama)
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.32509/wacana.v20i1.1280
Indonesia conduct cultural diplomacy activities not only by central government but also regional government, including Provincial Government of South Kalimantan. The purpose of this research is to understand how Provincial Government of South Kalimantan conducted cultural diplomacy in Festival Banjar 2018-2019. The concepts used in this research are Cultural Diplomacy by Gienow-Hecht and Donfried and Paradiplomacy by Duchacek. This research uses constructivist paradigm and qualitative research method with qualitative data analysis techniques by Miles, Huberman and Saldana. The results of this research reveal that Festival Banjar 2018-2019 is a form of cultural diplomacy carried out by sub-national actor, in this case Provincial Government of South Kalimantan. Festival Banjar 2018-2019 is a cultural diplomacy agent practice belongs to mixed model; agenda to promote South Kalimantan culture and tourism; vehicle through South Kalimantan art and floating market simulation; target audience are the diplomatic corps and foreign societies. Provincial Government of South Kalimantan as a sub-national actor also related to paradiplomacy where the implementation involves two main types of paradiplomatic activities, such as lobbying through interactive talk shows with the target audiences; and media exposure during the event.
Sudut Pandang Aliran HumanistikTerhadap Model Pendidikan Andragogi
Bayu, Bayu
WACANA: Jurnal Ilmiah Ilmu Komunikasi Vol 3, No 10 (2004)
Publisher : Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama)
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.32509/wacana.v3i10.359
In -general there are two understand that teaching pedagogy that is valid and andragogy . Andragogy understand is the place to study participants as "adult". Students are placed as the subject of the education system. Students as adults assumed to have the ability to plan wisely, choose materials that are able to analyze and useful. Function as a teacher is a facilitator and not dominator. Second is to understand the current debate that is still experiencing a little difficult to classified school in Indonesia understand which of the two. This cause's difficulties classification school is only based on the nature of education in the schools. 'Schools in Indonesia can be classified into a modern schoorthat is not doctrinaire, and based on skills
MANAJEMEN SUMBER DAYA MANUSIA MENGHADAPI TREND GLOBALISASI
Siswanto, Siswanto
WACANA: Jurnal Ilmiah Ilmu Komunikasi Vol 9, No 30 (2010)
Publisher : Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama)
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.32509/wacana.v9i30.417
MANAJEMEN SUMBER DAYA MANUSIA MENGHADAPI TREND GLOBALISASI
PROSES PRODUKSI ACARA SIARAN LANGSUNG TELEVISI UNTUK MENGHASILKAN ACARA YANG LAYAK TONTON
Yoedtadi, Muhammad Gafar;
Pribadi, Muhammad Adi;
Siswoko, Kurniawan Hari
WACANA: Jurnal Ilmiah Ilmu Komunikasi Vol 16, No 1 (2017)
Publisher : Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama)
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.32509/wacana.v16i1.4
Acara televisi yang disiarkan secara langsung memiliki kompleksitas yang lebih tinggi dibanding acara yang diproduksi dengan format rekaman. Dari sisi persiapan harus dilakukan secara detil dan terencana. Diskusi tidak hanya dilakukan berulang kali antar awak produksi, tapi juga terhadap para pengisi acara. Penyebabnya adalah acara yang disiarkan secara langsung di televisi tidak memiliki kesempatan untuk melakukan penyuntingan sebagaimana yang dilakukan siaran dengan format rekaman. Berbagai kesalahan dan penyimpangan berpeluang terjadi dalam acara siaran langsung. Penyimpangan yang lebih genting adalah ketika melanggar aturan hukum dan norma-norma sosial. Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) sesuai amanat Undang-Undang No. 32/2002 Penyiaran, telah menerbitkan Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3SPS) untuk mengatur agar stasiun televisi selalu memproduksi acara yang layak untuk ditonton masyarakat. Namun, dalam pengamatan KPI jumlah sanksi untuk stasiun televisi akibat pelanggaran P3SPS tidak kunjung mengalami penurunan. Kasus pelanggaran yang menonjol adalah kesalahan yang dilakukan para pengisi acara akibat tidak mengikuti naskah yang sudah disusun, melakukan adegan spotan yang ternyata melanggar aturan P3SPS. Penelitian ini berupaya mengungkap proses produksi siaran langsung televisi untuk menghasilkan acara yang layak tonton. Sebagai sample penelitian dipilih dua stasiun televisi nasional. Metode penelitian kualitatif deskriptif.
Organizational Discourse: Ideologi dan Relasi Kuasa dalam Organisasi
Prasetya, Hendri
WACANA: Jurnal Ilmiah Ilmu Komunikasi Vol 4, No 2 (2005)
Publisher : Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama)
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.32509/wacana.v4i2.213
Oganizational Discourse adalah kajian kritis keorganisasian yang berfokus pada proses relasi kuasa dan dominasi yang terbentuk dalam realitas sosial organisasi, melalui proses pewacanaan yang terjadi. Proses pengorganisasian sendiri dilihat sebagai situs dominasi (site of domination) kelornpok tertentu. Semuabentukan kuasa dan dominasi tersebut tertanam dalam pemaknaan wa-cana - wacana yang berkembang dalam organisasi dan melebur sebagai konsepsi budaya oganisasi itu sendiri.Secara umum organisasi kerap dipahami sebagai kumpulan sejumlah orang yang memiliki tujuan tertentu, dengan struktur pembagian kerja yang jelas dan terarah. lstilah "organisasi" didefinisikan sebagai sesuatu yang nyata merangkum orang- orang, hubungan-hubungan dan tujuan yang jelas. Organisasi menjadi semacam wadah kerja bagi orang-orang yang memiliki tujuan yang sama
MEMBANGUN MASYARAKAT INFORMASI BERBASIS KELOMPOK
Sunuantari, Manik
WACANA: Jurnal Ilmiah Ilmu Komunikasi Vol 14, No 4 (2015)
Publisher : Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama)
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.32509/wacana.v14i4.134
Sebagai bagian dari masyarakat dunia,maka Indonesia ikut terlibat dalam membangun tatanan dunia yaitu mem-bangun masyarakat informasi sesuai dengan kesepakatan yang sudah ditetapkan dalam WSIS tahun 2005 di Tu-nisia. Hal itu tidak terlepas dari adanya keinginan dari masyarakat untuk berubah, tidak hanya sekedar melek in-formasi, tetapi juga mampu mendayagnakan informasi untuk meningkatkan kesejahteraan hidup mereka. Adanya kesenjangan informasi dalam masyarakat di seluruh wilayah Indonesia, menyebabkan masyarakat harus bangkit untuk memberdayakan diri membangun masyarakat informasi.Kemunculan Kelompok Informasi Masyarakat (KIM) menjadi salah satu jawaban dalam rangka membangun masyarakat informasi. Sebagai suatu kelompok KIM diharapkan dapat membantu mengatasi kesenjangan informasi yang ada di seluruh wilayah Indonesia.Den-gan demikian maka harapan hidup yang lebih baik dapat terwujud, khususnya kesejahteraan secara ekonomi.Penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran akan peran serta KIM dalam membangun masyarakat in-formasi, khususnya KIM Kraton Kidul Pekalongan Bertolak dari pemahaman tentang masyarakat informasi yang dikemukakan Frank Webster.Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi kasus di KIM Kraton Kidul.Hasil penelitian menunjukkan bahwa KIMKraton Kidul telah mampu membantu mengatasi kesenjangan informasi yang ada. Melalui berbagai aktivitas yang dilakukan, KIM telah mengubah paradigma masyarakat dalam pengelolaan informasi. Masyarakat didorong untuk terlibat aktif dalam memberdayakan diri mereka sendiri khususnya di bidang Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK). Kesadaran akan pentingnya informasi dalam kehidupan masyarakat menjadi suatu dasar yang sangat penting untuk membangun masyarakat informasi.
POLA KOMUNIKASI DALAM KRISIS PERNIKAHAN PADA PRAMUGARI MASKAPAI INTERNASIONAL
Julia Ratnasari Dewi
WACANA: Jurnal Ilmiah Ilmu Komunikasi Volume 19, No. 1 June 2020
Publisher : Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama)
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.32509/wacana.v19i1.1033
The phenomenology of women with a career as a Flight Attendant was observed to overcome difficulties in communication with their husbands, which created a crisis in their marriage, which makes the researcher interested to raise this topic. The crisis in marriage starts from a misunderstanding in the communication. When the differences begin to arise is not done through excellent communication, often to be ignored so that it continues growth until separated. This study aims to look at the ten communication patterns of relational development model in a relationship when it begins, grows, survives and ends - starting from the five stages of coming together and followed by five stages of coming apart. The method used in this study is qualitative and supported by relational development model with some characteristics of interpersonal communication. The results of the study show that all flight attendants experienced all the elements in the stage of coming together with excellent communication and interaction.Two flight attendants reached the end element of coming apart, which is terminating (divorce). One flight attendant survived through marriage counseling, and one flight attendant stuck in the avoiding stage. The cause is from various factors.