cover
Contact Name
Tri Rahayuningsih
Contact Email
tri.rahayuningsih@univrab.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
psychopolytan@univrab.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota pekanbaru,
Riau
INDONESIA
Psychopolytan (Jurnal Psikologi)
Published by Universitas Abdurrab
ISSN : 26145227     EISSN : 26543672     DOI : -
Arjuna Subject : -
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol 4 No 2 (2021): Februari" : 8 Documents clear
Fear Of Missing Out ditinjau dari Big Five Personality Nurul Hidayati; Auliya Syaf; Rini Hartati
Psychopolytan : Jurnal Psikologi Vol 4 No 2 (2021): Februari
Publisher : LPPM Universitas Abdurrab

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36341/psi.v4i2.1392

Abstract

Media sosial membantu individu mendapatkan informasi yang diinginkan dan ini memberikan efek ketagihan. Efek ketagihan ini akan membuat penggunanya mengalami fear of missing out ditandai oleh individu dengan keingintahuan terhadap aktivitas dan atau terhubung dengan orang lain. Setiap individu dengan kepribadian memberikan dampak berbeda pula pada munculnya FoMO. Penelitian ini menggagas asumsi hubungan big five personality dengan FoMO. Partisipan penelitian berjumlah 204 orang diambil menggunakan quota sampling. Penelitian menggunakan skala big five inventory dan skala FoMO. Temuan penelitian mengungkap bahwa kepribadian agreeableness memiliki korelasi dengan FoMO (sig =0,015; p<0,05). Namun, tidak ada korelasi antara extraversion, neuroticism, conscientiousness maupun openness, terhadap FoMO pada masyarakat Pekanbaru.
Benarkah Self Compassion dapat Mengurangi Gejala Body Dysmorphic Disorder? Martaria Rizky Rinaldi; Dea Nada Fatmala
Psychopolytan : Jurnal Psikologi Vol 4 No 2 (2021): Februari
Publisher : LPPM Universitas Abdurrab

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36341/psi.v4i2.1480

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara self compassion dengan gejala body dysmorphic disorder pada remaja putri. Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah ada hubungan negatif antara self compassion dengan gejala body dysmorphic disorder. Subjek dalam penelitian ini ber jumlah 105 orang. Pengambilan subjek menggunakan purposive sampling, data dikumpulkan menggunakan skala Self Compassion dan skala Gejala Body Dysmorphic Disorder. Analisis data penelitian ini menggunakan korelasi product moment dari Pearson. Berdasarkan hasil analisis, diperoleh koefisien korelasi (rxy) = -0,336 (p<0,005). Hasil tersebut menunjukkan bahwa terdapat hubungan negatif yang signifikan antara self compassion dengan gejala body dsymorphic disorder. Artinya semakin tinggi self compassion yang dilakukan individu maka semakin rendah gejala body dysmophic disorder yang dimilikinya, sebaliknya semakin rendah self compassion maka semakin rendah gejala body dysmorphic disorderyang dimiliki individu. Koefisien determinasi (R2) yaitu 0,113 yang menunjukkan sumbangan efektif 11,3% dari self compassion untuk gejala body dysmorphic disorder.
Self efficacy dan Openness terhadap Perilaku Kerja Inovatif pada Kementerian Dalam Negeri Sukma Nurmala; Selly Dian Widyasari
Psychopolytan : Jurnal Psikologi Vol 4 No 2 (2021): Februari
Publisher : LPPM Universitas Abdurrab

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36341/psi.v4i2.1508

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh self efficacy dan openness terhadap perilaku kerja inovatif di Kementerian Dalam Negeri. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah 183 Aparatur Sipil Negara (ASN) yang bekerja Direktorat Jenderal Otonomi Daerah Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia (114 laki-laki dan 69 perempuan, usia rerata subjek 40 tahun). Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dan menggunakan Skala individual innovative behavior untuk mengukur inovasi individu, skala Big Five Inventory (BFI) versi bahasa Indonesia untuk mengukur keterbukaan wawasan individu, dan Indonesian Adaptation of the General Self-Efficacy untuk mengukur kepercayaan individu atas rencana yang telah disusunnya. Analisis data yang digunakan adalah statistik parametrik dengan uji regresi linear berganda. Hasil analisis data penelitian ini menunjukkan bahwa self efficacy dan openess memiliki pengaruh yang signifikan terhadap perilaku kerja inovatif (R2 = 0,709, Sig.= 0,000). Dengan kata lain, kontribusi pengaruh variasi variabel independen (variabel self efficacy dan variabel openess) mampu menjelaskan sebesar 70,9% variasi variabel dependen (perilaku kerja inovatif) di Kementerian Dalam Negeri. Temuan ini memperkuat penelitian lainnya yang menunjukkan bagaimana self-efficacy dan openness mempengaruhi perilaku kerja inovatif.
Peran Komunikasi Interpersonal terhadap Kerjasama Team Mahasiswa Kkn Ajeng Safitri; Nur Fitriyana
Psychopolytan : Jurnal Psikologi Vol 4 No 2 (2021): Februari
Publisher : LPPM Universitas Abdurrab

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36341/psi.v4i2.1528

Abstract

Kesalahpahaman dalam komunikasi sering terjadi antar angggota kelompok KKN UMRI yang berujung pada perselisihan sesama anggota, dan berimbas dalam penyelesaian program kerja KKN. Komunikasi interpersonal menjadi fokus dalam penelitian ini untuk melihat kontribusinya terhadap kerjasama tim pada mahasiswa KKN UMRI yang dilakukan pada saat pandemik covid-19. Sample penelitian menggunakan mahasiswa KKN UMRI tahun 2020 yang jumlah 281 orang, dengan teknik purposive sampling. Pengumpulan data menggunakan skala kerjasama tim dan skala komunikasi interpersonal yang dianalisa menggunakan Uji Korelasi Parametrik Pearson, untuk melihat hubungan antara komunikasi interpersonal dengan kerjasama tim pada mahasiswa KKN UMRI. Nilai koefisien korelasi dari hasil uji analisa korelasi antara kerjasama tim terhadap komunikasi interpersonal ialah 0,048 dengan tingkat signifikansi (p) 0,418 (p>0,05) yang artinya komunikasi interpersonal tidak berkontribusi terhadap kerjasama tim pada mahasiswa KKN UMRI. Hal ini bisa dikarenakan durasi pelaksanaan KKN yang hanya 14 hari dan komunikasi antar anggota kelompok menggunakan media komunikasi online daripada tatap muka langsung, sehingga keterbukaan dan kepercayaan antar anggota kelompok sukar tercipta untuk menumbuhkan kerjasama tim. Berdasarkan temuan dalam penelitian ini, penelitian selanjutnya perlu memperhatikan aspek dalam komunikasi seperti keterbukaan dan kepercayaan, serta faktor durasi tatap muka antar anggota kelompok untuk melihat kerjasama tim pada kelompok tersebut.
Menemukan makna hidup dengan Forgiveness, Studi Pada Siswa Binaan Remaja Di Lembaga Pemasyarakatan Anak Dwita Razkia; Ajeng Safitri; Santoso Santoso
Psychopolytan : Jurnal Psikologi Vol 4 No 2 (2021): Februari
Publisher : LPPM Universitas Abdurrab

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36341/psi.v4i2.1530

Abstract

Menjadi narapidana bukanlah sesuatu yang mudah di lingkungan masyarakat, khususnya usia remaja. Munculnya stereotype negatif dari masyarakat dapat mempengaruhi keadaan psikologis remaja ketika melanjutkan hidup setelah keluar dari penjara. Pemaafan yang ada pada diri dibutuhkan agar dapat mengatasi rasa bersalah akibat dari perbuatannya dimasa lalu. Kualitas kebermaknaan hidup yang dimiliki oleh narapidana remaja dapat menjadi motivasi untuk melanjutkan hidupnya di masa yang akan datang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara forgivenessdengan kebermaknaan hidup pada siswa binaan yang ada di LPKA Tk.II kota Pekanbaru. Penelitian ini menggunakan skala meaning in Life queationnaire (20 aitem) dan skala Heartland Forgiveness Scale (HFS) (18 aitem) dengan metode pengumpulan data kuantitatif yang melibatkan seluruh siswa binaan sebanyak 70 orang remaja dengan rentang usia 13 – 18 Tahun yang ada di LPKA Tk.II kota Pekanbaru. Analisis data dari hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan positif yang cukup signifikan antara Forgiveness dengan tingkat kebermaknaan hidup remaja (r = 0.662, p = 0.000), yang artinya semakin baik pemaafan dalam diri siswa binaan maka semakin baik juga kebermaknaan hidupnya.
Apakah Benar Penderita Depresi Selalu Sulit Melakukan Regulasi Emosi? Wendio Angganantyo; Zainal Abidin
Psychopolytan : Jurnal Psikologi Vol 4 No 2 (2021): Februari
Publisher : LPPM Universitas Abdurrab

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36341/psi.v4i2.1534

Abstract

Banyak penelitian yang menyatakan bahwa penderita depresi identik dengan adanya kesulitan dalam meregulasi emosi, namun dari hasil screening pada 64 partisipan, ternyata ditemukan penderita depresi yang tidak sulit melakukannya. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan hal-hal yang membuat penderita depresi tidak sulit dalam meregulasi emosi. Untuk mendapatkan gambaran terkait kasus tersebut, digunakan metode studi kasus dengan pendekatan komparatif. Partisipan dalam penelitian ini adalah dua penderita depresi severe dimana satu orang tidak sulit melakukan regulasi emosi (subjek pertama) dan satu orang sulit meregulasi emosinya (subjek kedua) sebagai pembanding. Pengambilan data dilakukan menggunakan teknik wawancara semi terstruktur yang berbasis pada dimensi konstruk Difficulties of Emotion Regulation Scale (DERS) untuk melihat gambaran regulasi emosi dan wawancara tidak terstruktur untuk melihat gambaran kondisi depresi. Hasil wawancara yang dianalisis secara thematic menunjukkan dua faktor yang membedakan sulit atau tidaknya kedua subjek meregulasi emosi, yaitu penyebab depresi dan mekanisme regulasi emosi. Penyebab depresi subjek pertama lebih berpusat pada konflik intrapersonal sedangkan pada subjek kedua lebih menekankan pada hubungan interpersonal. Subjek pertama memiliki mekanisme regulasi emosi yang terstruktur yakni relaksasi yang kemudian dilanjutkan dengan usaha untuk berpikir logis serta berfokus pada solusi, sedangkan subjek kedua hanya mengandalkan ekspresi agresi tanpa memiliki mekanisme regulasi emosi yang terstruktur.
Kesepian Sebagai Mediator Antara Dukungan Sosial dengan Kecenderungan Adiksi Video Game pada Anak Handini Hardianti; Supra Wimbarti
Psychopolytan : Jurnal Psikologi Vol 4 No 2 (2021): Februari
Publisher : LPPM Universitas Abdurrab

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36341/psi.v4i2.1537

Abstract

Bermain adalah kebutuhan bagi anak, meskipun saat ini memainkan video game lebih banyak diminati dibanding permainan tradisional. Kemudahan untuk mengakses permainan video game yang berlebihan dapat mengakibatkan munculnya masalah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara rendahnya dukungan sosial offline dan kecenderungan adiksi video game dimediasi oleh kesepian pada anak usia akhir. Penelitian ini dilakukan dengan metode survei yang melibatkan 308 anak dengan rentang usia 9-12 tahun. Analisis menggunakan regresi berganda dan SEM berdasarkan komponen. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa semakin rendah dukungan sosial offline berpengaruh terhadap meningkatnya kesepian secara langsung. Anak dengan dukungan sosial offline yang rendah berdampak pada meningkatnya kecenderungan adiksi video game secara langsung, namun begitu anak yang merasa kesepian tidak berpengaruh pada kecenderungan adiksi video game yang tinggi. Hipotesis pada penelitian ini ditolak, yaitu kesepian tidak berperan sebagai mediator dalam hubungan antara rendahnya dukungan sosial offline dan kecenderungan adiksi video game dengan koefisien tak langsung sebesar -0.066 (sig > 0.05), namun kesepian dan rendahnya dukungan sosial offline berperan sebagai variabel prediktor terhadap kecenderungan adiksi video game dengan sumbangan efektif sebesar 10.3%. Artinya bahwa semakin anak merasa kesepian dan mendapat dukungan sosial offline yang rendah, semakin tinggi kecenderungannya menjadi adiksi video game.
Pengaruh Intensitas Menonton Film Di Youtube Terhadap Theory-Of-Mind Anak Usia 4-5 Tahun Devi Rusli; Nurmina Nurmina; Dian Novita Ariani
Psychopolytan : Jurnal Psikologi Vol 4 No 2 (2021): Februari
Publisher : LPPM Universitas Abdurrab

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36341/psi.v4i2.1559

Abstract

Kemampuan anak memahami pikiran dan perasaan orang lain orang lain (theory of mind) sangat penting bagi perkembangan kognisi sosial. Film cerita anak yang ditonton melalui saluran youtube diprediksi dapat menghubungkan anak dengan situasi mental orang lain. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh intensitas menonton film di youtube terhadap theory of mind anak usia 3-5 tahun. Theory of mind diukur menggunakan skala ToM yang dibuat oleh Wellman dan Liu yang telah diadaptasi kedalam bahasa Indonesia oleh Kuntoro, Saraswati, Peterson dan Slaughter (2013). Intensitas menonton film di youtube diukur dengan menggunakan kuesioner/angket. Skala ToM diberikan kepada 215 anak (98 laki-laki, 117perempuan), usia 4-5 tahun/48-71 bulan (M = 60.25, SD = 6.482), dan kuesioner perilaku menonton film di youtube diisi oleh orangtua dari anak-anak usia 4-5 tahun. Pengambilan sampel dilakukan menggunakan teknik purposive sampling. Uji hipotetsis penelitian menggunakan analisis regresi sederhana. Hasil penelitian menemukan bahwa R= 0.019 dengan R2 = .000, p > 0.05, artinya perilaku menonton film di youtube tidak berpengaruh secara signifikan terhadap terhadap theory of mind anak usia 4-5 tahun..

Page 1 of 1 | Total Record : 8