cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
JURNAL PENJAKORA
ISSN : 23563397     EISSN : 25974505     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 323 Documents
TESTOSTERON REPLACEMENT THERAPY PADA DISFUNGSI EREKSI OLEH KARENA DIABETES MELITUS Ni Luh Kadek Alit Arsani
JURNAL PENJAKORA Vol. 1 No. 1 (2014): September 2014
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/penjakora.v1i1.11206

Abstract

Disfungsi seksual banyak terjadi di masyarakat, baik pada pria maupun wanita, walaupun belum ada data yang pasti tentang insidennya. Salah satu disfungsi seksual pada pria yang sering dijumpai adalah disfungsi ereksi. Diduga tidak kurang dari 10% pria menikah di Indonesia mengalami disfungsi ereksi. Disfungsi ereksi lebih sering terjadi pada penderita diabetes melitus dibandingkan dengan populasi umum. Sekitar 30%-90%  pria dengan diabetes melitus akan menderita disfungsi ereksi. Sejak ditemukannya PDE-5 (Phosphodiesterase type 5) inhibitors untuk terapi disfungsi ereksi testosteron telah dikesampingkan sebagai terapi pilihan pada disfungsi ereksi. Tetapi sebesar 50% pria yang diterapi dengan PDE-5 inhibitors menunjukkan kegagalan. Hal ini menimbulkan ketertarikan pada terapi disfungsi ereksi dengan hormon testosterone. Hormon testosteron mempunyai peranan yang besar pada jaringan penis termasuk dalam mekanisme ereksi, memelihara dan mempertahankan integritas struktur jaringan erektil. Kekurangan testosteron akan menyebabkan gangguan pada anatomi dan fisiologi jaringan erektil, gangguan pada serabut saraf kavernosal. Secara histologis, gangguan yang nampak pada jaringan erektil penis adalah kehilangan serat-serat elastin pada tunika albuginea dan otot polos korpus kavernosum, digantikan oleh jaringan kolagen pada kedua struktur tersebut, terjadinya kebocoran pada vena (venous leakage) sehingga menyebabkan terjadinya venous reflux dan terjadilah gangguan ereksi. Penurunan 50% testosteron pada sirkulasi akan menyebabkan terjadinya penurunan tekanan darah intrakavernosal. Pada penderita diabetes melitus dengan disfungsi ereksi, pemberian testosteron akan dapat meningkatkan ketebalan otot polos korpus kavernosum sehingga dapat memperbaiki fungsi ereksi.
IMPLEMENTASI MODEL KOOPERATIF TIPE NHT UNTUK MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR TEKNIK DASAR PASSING SEPAK BOLA I Dewa Gede Buda Wisnawa
JURNAL PENJAKORA Vol. 1 No. 1 (2014): September 2014
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/penjakora.v1i1.11207

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar teknik dasar passing (kaki bagian dalam dan kaki bagian luar) sepak bola melalui implementasi model pembelajaran kooperatif tipe NHT. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas, yaitu guru sebagai peneliti yang dilaksanakan dalam dua siklus. Subjek penelitian adalah siswa kelas X Peminatan Sosial 2 SMA Negeri 1 Ubud tahun pelajaran 2013/2014, berjumlah 31 orang dengan rincian 7 orang putri dan 24 orang putra. Data dianalisis menggunakan statistik deskriptif. Hasil analisis data aktivitas belajar secara klasikal teknik dasar passing sepak bola pada observasi awal adalah 6,3 (cukup), meningkat pada siklus I menjadi 7,59 (aktif), dan meningkat menjadi 8,39 (aktif) pada siklus II. Sedangkan persentase hasil belajar secara klasikal pada observasi awal adalah 29,0% (sangat kurang), meningkat pada siklus I menjadi 71,0% (cukup), dan meningkat menjadi 93,55% (sangat baik) pada siklus II. Dapat disimpulkan bahwa aktivitas dan hasil belajar teknik dasar passing (kaki bagian dalam dan kaki bagian luar) sepak bola meningkat melalui implementasi  model pembelajaran kooperatif tipe NHT pada siswa kelas X Peminatan Sosial 2 SMA Negeri 1 Ubud Tahun Pelajaran 2013/2014. Disarankan kepada guru Penjasorkes dapat mengimplementasikan model pembelajaran ini karena terbukti dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar teknik dasar passing sepak bola. 
PENGARUH PELATIHAN SIT-UP BESAR SUDUT 450, 900, DAN 1200 TERHADAP KEKUATAN OTOT PERUT Made Meiriawati
JURNAL PENJAKORA Vol. 1 No. 1 (2014): September 2014
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/penjakora.v1i1.11208

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan pengaruh pelatihan sit-up besar sudut 450, 900, dan 1200 terhadap kekuatan otot perut. Jenis penelitian adalah eksperimen dengan rancangan penelitian the modifide randomized pre-test post-tes control group design. Sampel penelitian siswa putra kelas X SMA Dharma Praja Denpasar tahun pelajaran 2012/2013 sebanyak 24 orang. Sampel dibagi menjadi 4 kelompok dengan jumlah yang sama. Kelompok 1 diberi perlakuan sit up besar sudut 450,kelompok 2 diberi pelatihan sit up besar sudut 900, kelompok 3 diberi pelatihan sit up besar sudut 1200 , dan kelompok 4 sebagai kelompok kontrol. Kekuatan otot perut diukur dengan tes sit up selama 30 detik. Data dianalisis dengan uji ANAVA satu jalur menggunakan program SPSS 16.0 pada taraf signifikansi 0.05.Uji ANAVA satu jalur menunjukkan terdapat perbedaan pengaruh antara masing-masing kelompok dengan nilai signifikansi hitung 0,000. Analisis dilanjutkan dengan uji Least Significant Different  (LSD) untuk memperoleh perbandingan antar kelompok. Hasil uji LSD menunjukkan nilai mean difference kelompok 1 terhadap kelompok kontrol 9,167, kelompok 2 terhadap kelompok kontrol 18,833, kelompok 3 terhadap kelompok kontrol 34,667.  Nilai mean difference dari kelompok perlakuan 3 terhadap kelompok perlakuan 1 sebesar 25,500. Nilai mean difference dari kelompok perlakuan 3 terhadap kelompok perlakuan 2 sebesar 15,833. Dari hasil analisis dan pembahasan disimpulkan bahwa: pelatihan sit-up besar sudut 450, 900, dan 1200 memiliki perbedaan pengaruh yang signifikan terhadap peningkatan kekuatan otot perut siswa putra kelas X SMA Dharma Praja Denpasar tahun pelajaran 2012/2013, dimana kelompok perlakuan sit up besar sudut 1200 memiliki pengaruh tertinggi dalam meningkatkan kekuatan otot perut. 
PENGETAHUAN WISATAWAN TERHADAP RAMBU-RAMBU DAN SINYAL KESELAMATAN DI PANTAI KUTA I Made Febria Wibawa
JURNAL PENJAKORA Vol. 1 No. 1 (2014): September 2014
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/penjakora.v1i1.11210

Abstract

Pulau Bali merupakan salah satu tujuan utama wisata yang sangat diminati baik oleh para wisatawan asing maupun wisatawan domestik. Pulau Bali merupakan daerah yang terdiri dari pegunungan, perbukitan, dan pantai namun pantai yang menjadi objek favorit bagi wisatawan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui : (1) Tugas dan  tanggungjawab life guard. (2) Jenis rambu-rambu dan sinyal yang digunakan life guard. (3) Pengetahuan wisatawan dalam mengenali rambu-rambu dan sinyal yang digunakan oleh life guard. Penelitian dilakukan dengan metode dokumentasi dan metode angket. Subjek penelitian yaitu ditujukan pada pimpinan perusahaan, life guard dan wisatawan di pantai Kuta. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan teknik deskriptif kualitatif terhadap data yang dikumpulkan dirangkai menjadi kata-kata. Hasilnya menunjukan bahwa: (1) Tugas dan tanggung jawab seorang life guard adalah menjaga keselamatan wisatawan yang beraktivitas di pantai. Pemahaman tentang situasi pantai bagi seorang life guard sangat penting untuk mengetahui lingkungan dan mampu memahami rambu-rambu dan sinyal yang digunakan dalam menjaga keselamatan wisatawan. (2) Jenis rambu-rambu yang digunakan oleh life guard antara lain bendera larangan berenang, bendera merah kuning untuk area berenang. Jenis sinyal yang digunakan oleh life guard yaitu dengan menggunakan bendera dan tanpa menggunakan bendera yang bertujuan untuk memperingati wisatawan dan berkomunikasi dengan sesame life guard tentang kondisi atau situasi laut dan pantai. (3) Pengetahuan wisatawan tentang rambu-rambu dan sinyal yang digunakan untuk keselamatan di pantai masih rendah. Sehingga dipandang perlu pemasangan informasi tentang rambu-rambu dan sinyal keselamatan disepanjang pantai kuta.
PENGARUH METODE PELATIHAN PRAKTIK PADAT DAN PRAKTIK TERDISTRIBUSI TERHADAP HASIL BELAJAR FOREHAND DAN BACKHAND DRIVE DALAM BELAJAR TENIS LAPANGAN BAGI PEMULA I Ketut Budaya Astra
JURNAL PENJAKORA Vol. 2 No. 1 (2015): April 2015
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/penjakora.v2i1.11305

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh metode pelatihan massed practice dan distributed practice terhadap teknik forehand dan backhand dalam olahraga tenis. Jenis penelitian adalah eksperimen semu dengan rancangan the modificated pre-test post-test design. Subjek penelitian mahasiswa petenis pemula jurusan penjaskesrek FOK Undiksha tahun 2014/2015 sebanyak 50 orang. Forehand dan backhand diukur dengan tes keterampilan forehand dan backhand drive.         Data dianalisis dengan uji paired-sampels t-test yaitu dengan membandingkan hasil keterampilan forehand dan backhand dari kelompok perlakuan massed practice dan distributed practice dibandingkan dengan ttabel pada taraf signifikansi 5% (α=0,05). Maka diperoleh 8,97>2,01 untuk metode pelatihan massed practice terhadap variabel forehand dan 10,91>2,01 untuk variabel backhand, sedangkan untuk metode pelatihan distributed practice diperoleh hasil 18,82>2,01 untuk variabel forehand dan 11,34>2,01 untuk variabel backhand. Sehingga hipotesis metode pelatihan massed practice dan distributed practice berpengaruh terhadap peningkatan keterampilan forehand dan backhand diterima. Dilanjutkan dengan uji independent-sampels t-test untuk mengetahui adanya perbedaan diantara kedua kelompok tersebut, hasil uji independent-sampels t-test untuk keterampilan forehand diperoleh harga,9,88>2,01 sedangkan untuk keterampilan backhand diperoleh hasil 11,04>2,01.         Disimpulkan bahwa: (1)Metode pelatihan massed practice dan distributed practice berpengaruh terhadap peningkatan keterampilan forehand dan backhand, (2)Metode pelatihan distributed practice memberikan hasil yang lebih baik daripada metode pelatihan massed practice terhadap ketrampilan forehand dan backhand.                                                              
EFEKTIVITAS MEDIA AUDIOVISUAL DAN MEDIA BERBASIS TEKS (CETAKAN) TERHADAP HASIL BELAJAR CHEST PASS Agung Sunarno
JURNAL PENJAKORA Vol. 2 No. 1 (2015): April 2015
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/penjakora.v2i1.11307

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh media pembelajaran dengan menggunakan media audiovisual dan media berbasis teks (cetakan) terhadap hasil belajar chest pass dalam permainan bola basket pada siswa kelas VII SMP Negeri 20 Medan tahun pelajaran 2012/2013. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen. Populasi 316 orang dari kelas VII SMP Negeri 20 Medan dan yang dijadikan sebagai sampel 40 orang dengan teknik purposive sampling. Desain penelitian yang digunakan adalah pre-test post-test, desain yakni 20 orang ditetapkan sebagai kelompok media pembelajaran audiovisual (X1) dan 20 orang siswa ditetapkan sebagai kelompok media pembelajaran berbasis teks (cetakan) (X2). Instrumen penelitian menggunakan tes hasil belajar chest pass bola basket.Hasil analisis data diperoleh bahwa: (a) media pembelajaran audiovisual memberikan pengaruh terhadap hasil belajar chest pass dalam permainan bola basket pada siswa kelas VII SMP Negeri 20 Medan tahun pelajaran 2012/2013, (thitung = 5,04 > ttabel = 1,73) (b) media pembelajaran berbasis teks (cetakan) memberikan pengaruh terhadap hasil belajar chest pass pada siswa kelas VII SMP Negeri 20 Medan tahun pelajaran 2012/2013, (thitung = 3,71 > ttabel = 1,73) (c) media pembelajaran audiovisual sama-sama berpengaruh dengan media pembelajaran berbasis teks (cetakan) terhadap hasil pelajaran pelajaran chest pass dalam permainan bola basket pada siswa kelas VII SMP Negeri 20 Medan tahun pelajaran 2012/2013 (thitung =0.812 <   ttabel = 1,70).Simpulannya adalah media pembelajaran audiovisual dan media berbasis teks sama-sama memberikan pengaruh terhadap hasil belajar chest pass dalam permainan bola basket pada siswa kelas VII SMP Negeri 20 Medan tahun pelajaran 2012/2013, dan media pembelajaran audiovisiual memberikan pengaruh lebih baik dibandingkan media berbasis teks (cetakan). 
SURVEI SARANA DAN PRASARANA DALAM PEMBELAJARAN PENJASORKES DI SMA/SMK/MA KABUPATEN BULELENG TAHUN PELAJARAN 2014/2015 I Made Satyawan
JURNAL PENJAKORA Vol. 2 No. 1 (2015): April 2015
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/penjakora.v2i1.11308

Abstract

Penelitian survei ini bertujuan untuk mengetahui ketersediaan dan kondisi sarana dan prasarana dalam pembelajaran penjasorkes di SMA/SMK/MA Se-Kabupaten Buleleng tahun pelajaran 2014/2015. Penelitian ini dilaksanakan di SMA/SMK/MA Kabupaten Buleleng dengan jumlah populasi 54 sekolah dan teknik pengambilan sampel menggunakan proportional random sampling. Jumlah sampel penelitian 27 SMA/SMK/MA  se-Kabupaten Buleleng.            Metode pengumpulan data yaitu menggunakan metode survei dengan teknik interview, observasi dan dokumentasi. Dari hasil pembahasan setiap item menunjukan bahwa secara data yang diperoleh bahwa sarana dan prasarana dikabupaten buleleng masih sangat kurang ideal. ini dapat terlihat dari penggambungan jumlah persentase yang terlihat dimana sangat kurang ideal menunjukan angka 742 disusul dengan sangat ideal yang menunjukan angka 409. selanjutnya diikuti oleh cukup ideal dengan angka 153, kurang ideal 36 dan ideal sebanyak 10.            Disimpulkan bahwa kondisi sarana dan prasarana tiap cabang olahraga tidak sama, baik untuk cabang atletik, cabang permainan, dan cabang aktivitas ritmik. Rerata hasil perhitungan kondisi sarana dan prasarana ketiga cabang olahraga tersebut menunjukkan bahwa ketersediaan sarana dan prasarana pembelajaran Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan pada SMA/SMK/MA di Kabupaten Buleleng dalam kategori jauh dari ideal. Disarankan bahwa agar diusahakan sarana dan prasarana yang lebih memadai dengan kategori standar minimal dan hendaknya penambahan sarana dan prasarana terus dilakukan dengan tetap mempertimbangkan tingkat kebutuhan, sehingga kualitas hasil pembelajaran Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan dapat lebih ditingkatkan. 
PENGARUH PELATIHAN FISIK ANAEROB TERHADAP PENINGKATAN VOLUME OKSIGEN MAKSIMAL PEMAIN SEPAKBOLA Surat Ratmin
JURNAL PENJAKORA Vol. 2 No. 1 (2015): April 2015
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/penjakora.v2i1.11313

Abstract

Tujuan utama penelitian ini adalah untuk mengkaji dan membuktikan pengaruh pelatihan fisik anaerob terhadap peningkatan volume oksigen maksimal pemain sepakbola. Sebagai variabel bebas adalah pelatihan fisik anaerob (acceleration sprint, hollow sprint dan interval training), sedangkan variabel terikat adalah volume oksigen maksimal.            Sampel penelitian adalah siswa putra yang mengambil extra kurikuler sepakbola sebanyak 75 orang. Sampel terbagi menjadi 3 kelompok eksperimen yaitu, (1) Kelompok eksperimen 1 (N=25), pelatihan fisik anaerob accelaration sprint, (2) Kelompok eksperimen 2 (N=25), pelatihan fisik anaerob hollow sprint, dan (3) Kelompok eksperimen 3 (N=25), pelatihan fisik anaerob interval training.Data diperoleh dengan tes awal dan akhir yaitu mengambil data volume oksigen maksimal dengan multistage fitness test (MFT) adalah tes Multi Tahap untuk mengetahui tingkat kebugaran, selanjutnya data dianalisis menggunakan statistik infrensial  melalui uji anava satu jalur pada taraf signifikansi 5%.            Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Terdapat pengaruh yang bermakna antara pelatihan fisik anaerob (acceleration sprint, hollow sprint dan interval training)  terhadap peningkatan VO2 maks  pemain sepakbola, sehingga dapat dirinci sebagai berikut : (a) Terdapat peningkatan yang bermakna pada pelatihan fisik anaerob acceleration sprint terhadap VO2 maks  pemain sepakbola, (b) Terdapat peningkatan yang bermakna pada pelatihan fisik anaerob hollow sprint terhadap VO2 maks  pemain sepakbola, (c) Terdapat peningkatan yang bermakna pada pelatihan fisik anaerob interval training terhadap VO2 maks  pemain sepakbola, (2) Pelatihan fisik anaerob interval training berpengaruh lebih baik dibandingkan pelatihan fisik anaerob hollow sprint dan acceleration sprint terhadap peningkatan VO2 maks pemain sepakbola. 
LATIHAN PEREGANGAN OTOT PERGELANGAN TANGAN, TANGAN DAN LENGAN SEBAGAI BENTUK USAHA PENCEGAHAN DAN REHABILITASCARPAL TUNNEL SYNDROME Sendhi Tristanti Puspitasari; Febrita Paulina Heynoek
JURNAL PENJAKORA Vol. 2 No. 1 (2015): April 2015
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/penjakora.v2i1.11339

Abstract

Kelentukan  merupakan  salah  satu  komponen  kondisi  fisik  yang  memegang peranan  penting,  bagi  olahragawan  dan  non-olahragawan.  Peranan  tersebut  bagi olahragawan untuk meningkatkan prestasi, dan bagi non-olahragawan untuk menunjang aktivitas sehari-hari. Kelentukan dapat dilatih dan dikembangkan dengan menggunakan empat  metode  latihan  peregangan,  yaitu  metode  peregangan  dinamis,  statis,  pasif,  dan kontraksi-rileksasi. Peregangan otot pergelangan tangan, tangan dan lengan adalah contoh metode latihan statis yang sering digunakan oleh olahragawan dan karyawan suatu perusahaan yang bekerja dengan computer atau dengan kegiatan menggunakan ketrampilan tangan secara repetitif. Carpal tunnel syndrome (CTS) adalah salah satu gangguan pada tangan karena terjadi penyempitan pada terowongan  karpal, baik akibat edema fasia pada terowongan tersebut maupun akibat kelainan pada tulang-tulang kecil tangan sehingga terjadi penekanan terhadap nervus medianus dipergelangan tangan.            National Health Interview Study (NIHS) memperkirakan bahwa prevalensi CTS yang dilaporkan sendiri diantara populasi dewasa adalah sebesar 1.55% (2,6 juta). Kejadian CTS pada populasi diperikrakan3% pada wanita dan 2% pada laki-laki dengan prevalensi tertinggi pada wanita tua usia > 55 tahun, biasanya antara 40 – 60 tahun. Penyebab CTS diduga oleh karena trauma, infeksi, gangguan endokrin dan  penggunaan tangan yang berlebihan dan repetitif misal padapekerja dengan computer dan buruh wanitapabrik rokok. Pada pemeriksaan fisik didapatkan Phalen's test dan Tinel's sign yang positif. Penanganan faktor resiko seperti mengurangi posisi kaku pada pergelangan tangan, gerakan repetitif, dan gerakan peralatan tangan pada saat bekerja dan mengurangi penggunaaan tangan yang berulang serta mengistirahatkan pergelangan tangan, akan memperbaiki gejala. Peregangan otot atau stretching pergelangan tangan, tangan dan lengan adalah salah satu upaya konservatif untuk mencegah dan memperbaiki gejala carpal tunnel syndrome.
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN DAN MOTIVASI TERHADAP HASIL BELAJAR TEKNIK DASAR TENDANGAN PENCAK SILAT PADA MAHASISWA JURUSAN PENJASKESREK FOK UNDIKSHA Ni Luh Putu Spyanawati
JURNAL PENJAKORA Vol. 2 No. 1 (2015): April 2015
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/penjakora.v2i1.11342

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran dan motivasi belajarterhadap hasil belajar teknik dasar tendangan pencak silat. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen dengan rancangan faktorial 3 X 2. Populasi adalah mahasiswa jurusan Penjaskesrek FOK Undiksha yang berjumlah 114 orang. Sampel penelitian berjumlah 60 orang diambil dengan teknik acak rumpun (cluster random sampling).            Adapun metode pengumpulan data motivasi belajar mahasiswa  diukur dengan angket motivasi sedangkan hasil belajar teknik dasar tendangan pencak silat diukur dengan assessment teknik dasar tendangan.Data hasil pengukuran dianalisis dengan bantuan program SPSS 16.0.Hipotesis penelitian diuji dengan uji ANAVA 2 jalur (Two Way ANAVA) pada taraf signifikansi (α) = 0,05.            Adapun hasil yang didapat: (1) terdapat perbedaan hasil belajar pencak silat yang signifikan antara kelompok mahasiswa yang diajar dengan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw II dengan kelompok mahasiswa yang diajar dengan model pembelajaran PBI (sig=0,00), (2) terdapat perbedaan hasil belajar pencak silat yang signifikan antara kelompok mahasiswa yang memiliki motivasitinggi dengan kelompok mahasiswa yang memiliki motivasirendah (sig=0,00), dan (3) terdapat pengaruh interaksi antara model pembelajaran dengan motivasi belajarterhadap hasil belajar pencak silat (sig=0,000).Disimpulkan bahwa model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw II lebih baik daripada model pembelajaran PBI dan tingkat motivasi belajartinggi lebih baik daripada tingkat motivasi belajar rendah untuk pencapaian hasil belajar teknik dasar tendangan pencak silat.