Puspitasari, Sendhi Tristanti
Universitas Negeri Malang

Published : 12 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

LATIHAN PEREGANGAN OTOT PERGELANGAN TANGAN, TANGAN DAN LENGAN SEBAGAI BENTUK USAHA PENCEGAHAN DAN REHABILITASCARPAL TUNNEL SYNDROME Puspitasari, Sendhi Tristanti; Heynoek, Febrita Paulina
JURNAL PENJAKORA Vol 2, No 1 (2015): April 2015
Publisher : JURNAL PENJAKORA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (367.49 KB)

Abstract

Kelentukan  merupakan  salah  satu  komponen  kondisi  fisik  yang  memegang peranan  penting,  bagi  olahragawan  dan  non-olahragawan.  Peranan  tersebut  bagi olahragawan untuk meningkatkan prestasi, dan bagi non-olahragawan untuk menunjang aktivitas sehari-hari. Kelentukan dapat dilatih dan dikembangkan dengan menggunakan empat  metode  latihan  peregangan,  yaitu  metode  peregangan  dinamis,  statis,  pasif,  dan kontraksi-rileksasi. Peregangan otot pergelangan tangan, tangan dan lengan adalah contoh metode latihan statis yang sering digunakan oleh olahragawan dan karyawan suatu perusahaan yang bekerja dengan computer atau dengan kegiatan menggunakan ketrampilan tangan secara repetitif. Carpal tunnel syndrome (CTS) adalah salah satu gangguan pada tangan karena terjadi penyempitan pada terowongan  karpal, baik akibat edema fasia pada terowongan tersebut maupun akibat kelainan pada tulang-tulang kecil tangan sehingga terjadi penekanan terhadap nervus medianus dipergelangan tangan.            National Health Interview Study (NIHS) memperkirakan bahwa prevalensi CTS yang dilaporkan sendiri diantara populasi dewasa adalah sebesar 1.55% (2,6 juta). Kejadian CTS pada populasi diperikrakan3% pada wanita dan 2% pada laki-laki dengan prevalensi tertinggi pada wanita tua usia > 55 tahun, biasanya antara 40 – 60 tahun. Penyebab CTS diduga oleh karena trauma, infeksi, gangguan endokrin dan  penggunaan tangan yang berlebihan dan repetitif misal padapekerja dengan computer dan buruh wanitapabrik rokok. Pada pemeriksaan fisik didapatkan Phalens test dan Tinels sign yang positif. Penanganan faktor resiko seperti mengurangi posisi kaku pada pergelangan tangan, gerakan repetitif, dan gerakan peralatan tangan pada saat bekerja dan mengurangi penggunaaan tangan yang berulang serta mengistirahatkan pergelangan tangan, akan memperbaiki gejala. Peregangan otot atau stretching pergelangan tangan, tangan dan lengan adalah salah satu upaya konservatif untuk mencegah dan memperbaiki gejala carpal tunnel syndrome.
Kapabilitas, Motivasi, dan Pendayagunaan SDM terhadap Kinerja Pegawai di Puskesmas Puspitasari, Sendhi Tristanti; Redjeki, Endang Sri; Maulidyah, Rahma
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Masyarakat Indonesia Vol 2 No 1 (2021): JPPKMI: Juni 2021
Publisher : Asosiasi Institusi Pendidikan Tinggi Kesehatan Masyarakat Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jppkmi.v2i1.47559

Abstract

Kinerja atau hasil kerja individu saat melaksanakan tugas yang sesuai dengan target ataupun kriteria yang sudah ditentukan. Berdasarkan cakupan penilaian kinerja Puskesmas di Kota Malang tahun 2019 Puskesmas Kendalsari memiliki penilaian yang masih cukup dengan nilai rata-rata 7,89 pada indikator manajemen Puskesmas. Selain itu, hasil penilaian kinerja pegawai yang telah dilakukan oleh Dinas Kesehatan Kota Malang tahun 2017-2019 pada pegawai ASN di Puskesmas Kendalsari belum meningkat setiap tahunnya. Berdasarkan studi pendahuluan menunjukkan bahwa kinerja pegawai di Puskesmas Kendalsari masih rendah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan faktor kapabilitas, motivasi, dan pendayagunaan SDM terhadap kinerja pegawai di Puskesmas Kendalsari Kota Malang. Penelitian ini menggunakan desain studi cross-sectional dengan metode kuantitatif. Populasi penelitian ini yaitu pegawai di Puskesmas Kendalsari Kota Malang. Penentuan sampel menggunakan teknik purposive sampling dengan kriteria inklusi dan eksklusi. Analisis data yang digunakan yakni uji regresi ordinal. Analisis yang didapatkan yaitu variabel yang memiliki hubungan dengan kinerja pegawai adalah motivasi (nilai G2 = 13,046) dikarenakan nilai G2 lebih besar dari chi-square (x2) tabel = 7,815. Sedangkan, kapabilitas (G2 = 0,823) dan pendayagunaan SDM (G2 = 0,0) lebih kecil dari chi-square (x2) tabel yang menunjukkan tidak ada hubungan. Sehingga, variabel yang paling berhubungan dengan kinerja pegawai yakni motivasi dengan nilai (odd ratio = 13,45). Terdapat hubungan antara motivasi terhadap kinerja pegawai, dan tidak ada hubungan antara kapabilitas dan pendayagunaan SDM terhadap kinerja Pegawai di Puskesmas Kendalsari Kota Malang.
Need, Demand dan Supply Pada Kualitas Layanan Fasilitas Kesehatan Tingkat I Bpjs Kesehatan Era Pandemi Covid-19 Di Wilayah Malang Raya Sendhi Tristanti Puspitasari; Dian Mawarni
Preventia : The Indonesian Journal of Public Health Vol 6, No 1 (2021)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um044v6i1p13-22

Abstract

Awal tahun 2020, dunia digemparkan dengan merebaknya virus baru yang menjadi pandemik, yaitu Coronavirus disease 2019 (COVID-19). Data 14 Mei 2020 menunjukkan jumlah kasus terkonfirmasi sebanyak 16.006 kasus dan 1.403 kasus kematian. Di era pandemi COVID-19, Puskesmas sebagai gerbang utama pasien memperoleh pelayanan kesehatan. Puskesmas sebagai Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) memiliki kesempatan lebih luas dalam melakukan pendekatan dengan masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana kebutuhan masyarakat terhadap pelayanan di FKTP serta kemampuan FKTP dalam menyediakan pelayanan kesehatan khususnya terkait penanganan COVID-19 di Malang Raya. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif analitik berdesain observasional dengan pendekatan crossectional. Pengambilan sample dilakukan dengan metode purposive sampling, kemudian hasil penelitian dikaji dengan Performance Prism.Berdasarkan hasil penelitian need demand diketahui bahwa pemanfaatan teknologi pada FKTP sebagaimana yang dibutuhkan masyarakat belum terlaksana secara maksimal. Hal tersebut ditunjukkan dengan nilai persentasi 89,6 persen responden lebih memilih antrian offline dan sebesar 76,6 persen responden mendapatkan informasi melalui teman/ saudara. Pemanfaatan teknologi yang belum maksimal juga ditunjukkan berdasarkan hasil penelitian supply bahwa aspek teknologi berada pada interval 67 persen yang berarti baik. Berdasarkan data penelitian dan ditengah maraknya Pandemi Covid-19 maka dibutuhkan pengoptimalan pemanfaatan teknologi pada FKTP (e-health) sebagai upaya untuk mencegah transmisi Covid-19.
THE CORRELATION BETWEEN PATIENT SATISFACTION AND PEOPLE EQUITY AMONG PARAMEDIC STAFFS IN INPATIENT ROOMS Sendhi Tristanti Puspitasari
Indonesian Journal of Health Administration (Jurnal Administrasi Kesehatan Indonesia) Vol. 7 No. 2 (2019): SUPPLEMENT
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jaki.v7i2.2019.1-6

Abstract

Background: One of the elements controlling the quality of hospital health services is patient and employee satisfaction. The mean value of patient satisfaction with all parameters of inpatient rooms at the Islamic Hospital in Surabaya from January to August 2016 was 61.3% which is less than the standard of ≥ 90%. Whereas, people equity is a concept of human resource management that signs organizational performance.Aims: This study examined the correlation between patient satisfaction and people equity among paramedic staffs especially in inpatient rooms of the Islamic Hospital in Surabaya.Methods: This study focused on measuring people equity, patient satisfaction, and the correlation between people satisfaction and people equity. The questionnaire used in this study adopted RATER dimensions (Reliability, Assurance, Tangible, Empathy, and Responsiveness).Results: The study found that three inpatient rooms (Muzdalifah, Arofah, and Shofa) did not meet three elements of people equity (Alignment, Capabilities, and Engagement). Patient satisfaction with the inpatient rooms was good, except for the tangible dimension especially room cleanliness which is still relatively low. People equity among the paramedic staff has strong relevance and is directly proportional to patient satisfaction with the inpatient rooms of the Islamic Hospital in Surabaya.Conclusion: Internalizing an organizational culture that considers patient satisfaction and patient equity among paramedic staffs is essential to harmonize the goals, vision, and mission between the hospital and its staffs. This study recommends that there should be a more serious evaluation of the cleanliness of all service units at the Islamic Hospital in Surabaya.Keywords: Patient satisfaction, People equity, Human Resource Management, Service performance.
Upaya Peningkatan Baseline Body Acceptance Melalui Gerakan Say No to Body Shaming di Kalangan Pelajar Kota Mojokerto Sendhi Tristanti Puspitasari; Farah Farida Tantiani; Anggaunita kiranantika; Ludi Wishnu Wardhana
Plakat : Jurnal Pelayanan Kepada Masyarakat Vol 1, No 2 (2019): Plakat: Jurnal Pelayanan Kepada Masyarakat
Publisher : Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/plakat.v1i2.2872

Abstract

Bullyingatau pelecehan verbal di kalangan pelajar semakin sering terjadi. Body shaming adalah perilaku mengkritik atau mengomentari fisik atau tubuh diri sendiri maupun orang lain dengan cara yang negatif. Standar ideal yang ada kemudian memengaruhi citra tubuh dan penerimaan tubuh dalam masyarakat, terutama remaja. Pelatihan ini menggunakan pendekatan ellicitive yang mengutamakan proses interaktif antara fasilitator dalam kegiatan sosialisasi dan pelatihan skill dengan peserta multi dimensi. Kegiatan pelatihan dan pengembangan pengetahuan melalui perempuan yang telah bergabung dalam komunitas yang berjumlah sekitar 5 (lima) komunitas dengan jumlah sekitar 8-20 orang per komunitas. Dalam kuesioner yang terkait dengan body acceptance baseline menunjukkan bahwa hanya sebesar 15% responden menjawab benar di mana memberikan gambaran penilaian positif dan penerimaan terhadap tubuh dan dirinya sendiri. Kemudian sebesar 85% responden menjawab salah terkait pernyataan kuesioner body acceptance baseline, sehingga jawaban responden didominasi oleh jawaban di mana memberikan penilaian negatif terkait gambaran penilaian dan penerimaan terhadap tubuh dan dirinya sendiri. Maka Gerakan Say No to Body Shaming di Kalangan Pelajar Kota Mojokerto perlu dilakukan sebagai salah satu upaya penerimaan tubuh dan sebuah dorongan dalam penyelesaian masalah terkait body image. Berdasarkan hasil evaluasi diketahui beberapa manfaat yang diperoleh dari peserta setelah mengikuti serangkaian kegiatan pengabdian masyarakat ini adalah mereka mendapatkan pemahaman dan pengetahuan baru tentang apa itu body shaming dan dampak negatif yang muncul akibat body shaming, sehingga pelajar mulai memahami pentingnya menghindari bullying, dan dapat menekan dan mengurangi jumlah pelaku serta korban bullying terutama body shaming, serta meningkatkan penilaian diri remaja ke arah positif.
LATIHAN PEREGANGAN OTOT PERGELANGAN TANGAN, TANGAN DAN LENGAN SEBAGAI BENTUK USAHA PENCEGAHAN DAN REHABILITASCARPAL TUNNEL SYNDROME Sendhi Tristanti Puspitasari; Febrita Paulina Heynoek
JURNAL PENJAKORA Vol. 2 No. 1 (2015): April 2015
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/penjakora.v2i1.11339

Abstract

Kelentukan  merupakan  salah  satu  komponen  kondisi  fisik  yang  memegang peranan  penting,  bagi  olahragawan  dan  non-olahragawan.  Peranan  tersebut  bagi olahragawan untuk meningkatkan prestasi, dan bagi non-olahragawan untuk menunjang aktivitas sehari-hari. Kelentukan dapat dilatih dan dikembangkan dengan menggunakan empat  metode  latihan  peregangan,  yaitu  metode  peregangan  dinamis,  statis,  pasif,  dan kontraksi-rileksasi. Peregangan otot pergelangan tangan, tangan dan lengan adalah contoh metode latihan statis yang sering digunakan oleh olahragawan dan karyawan suatu perusahaan yang bekerja dengan computer atau dengan kegiatan menggunakan ketrampilan tangan secara repetitif. Carpal tunnel syndrome (CTS) adalah salah satu gangguan pada tangan karena terjadi penyempitan pada terowongan  karpal, baik akibat edema fasia pada terowongan tersebut maupun akibat kelainan pada tulang-tulang kecil tangan sehingga terjadi penekanan terhadap nervus medianus dipergelangan tangan.            National Health Interview Study (NIHS) memperkirakan bahwa prevalensi CTS yang dilaporkan sendiri diantara populasi dewasa adalah sebesar 1.55% (2,6 juta). Kejadian CTS pada populasi diperikrakan3% pada wanita dan 2% pada laki-laki dengan prevalensi tertinggi pada wanita tua usia > 55 tahun, biasanya antara 40 – 60 tahun. Penyebab CTS diduga oleh karena trauma, infeksi, gangguan endokrin dan  penggunaan tangan yang berlebihan dan repetitif misal padapekerja dengan computer dan buruh wanitapabrik rokok. Pada pemeriksaan fisik didapatkan Phalen's test dan Tinel's sign yang positif. Penanganan faktor resiko seperti mengurangi posisi kaku pada pergelangan tangan, gerakan repetitif, dan gerakan peralatan tangan pada saat bekerja dan mengurangi penggunaaan tangan yang berulang serta mengistirahatkan pergelangan tangan, akan memperbaiki gejala. Peregangan otot atau stretching pergelangan tangan, tangan dan lengan adalah salah satu upaya konservatif untuk mencegah dan memperbaiki gejala carpal tunnel syndrome.
Analisis Ergonomi Desain Meja Belajar Mengaji Dan Keluhan Muskuloskeletal Disorders Pada Santri Pondok Pesantren Anwarul Huda Kota Malang Tahun 2019 Adnan Ramadhan; Solichin Solichin; Tika Dwi Tama; Sendhi Tristanti Puspitasari
Preventia : The Indonesian Journal of Public Health Vol 7, No 1 (2022)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um044v7i12022p39-47

Abstract

The position of sitting not ergonomically forced like sitting cross-looking and sitting bent is one of the common causes of musculoskeletal disorders. This research was conducted to describe the ergonomic level design of studying learning tables used by the last step student of Anwarul Huda Islamic boarding school and the perceived complaint by showing which side of the table affects musculoskeletal disorders. The research method is descriptive with cross sectional design against 20 students of Islamic boarding school. The results obtained by the current diniyah table design are made by manufacturers who do not use anthropometric data in determining its size. Also found the most complaints for three consecutive days of data collection with the Nordic Body Map questionnaire which is on the skeletal part of the back, neck and buttocks. It was also found that none of the Islamic boarding school students were in the right sitting position, 30 percent of the sitting position was incorrect, 60 percent of the santri were in the wrong sitting position, and 10 percent of the santri in the sitting position were fatal. This can happen because in an ergonomic analysis using the mix match method the Islamic boarding school table design is all incompatible with the santri anthropometry, the Islamic boarding school table design is not ergonomic has a cause of the appearance of musculoskeletal disorders complaints by student Islamic boarding school.Sikap duduk tidak ergonomis yang dipaksakan, seperti duduk dengan bersila dan duduk dengan sikap membungkuk, merupakan salah satu penyebab umum gangguan muskuloskeletal. Penelitian ini dilakukan untuk menggambarkan tingkat ergonomis desain meja belajar mengaji yang digunakan oleh santri tingkat akhir PP. Anwarul Huda, Kota Malang dan keluhan yang dirasakan dengan menunjukan bagian meja mana yang mempengaruhi keluhan musculoskeletal disorder. Metode penelitian ini yaitu studi deskriptif dengan desain cross sectional kepada 20 santri. Hasil yang didapatkan desain meja belajar mengaji saat ini adalah buatan pabrikan yang tidak menggunakan data antropometri dalam menentukan ukuranya. Ditemukan juga keluhan terbanyak selama tiga kali pengambilan data dengan kuesioner Nordic Body Map yaitu pada bagian skeletal punggung, leher, tengkuk, dan pantat. Tidak ditemukan santri dalam posisi duduk yang benar, 30 persen posisi duduk yang kurang benar, 60 persen santri dalam posisi duduk yang salah, dan 10 persen santri dalam posisi duduk yang fatal. Hal tersebut dapat terjadi karena dalam analisis ergonomis menggunakan metode mix match desain meja belajar mengaji 100 persen tidak sesuai dengan antropometri santri, maka desain meja belajar mengaji tidak ergonomis penyebab munculnya keluhan muskuloskeletal disorders pada santri.
CORRELATION OF PREDISPOSING, ENABLING, AND NEED FACTOR OF PROGRAM KELUARGA HARAPAN PARTICIPANTS TOWARD UTILIZING PRIMARY HEALTHCARE Sendhi Tristanti Puspitasari; Roesdiyanto; Dita Maulidya Rizka
The Indonesian Journal of Public Health Vol. 18 No. 1 (2023): THE INDONESIAN JOURNAL OF PUBLIC HEALTH
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/ijph.v18i1.2023.106-116

Abstract

Introduction: Program Keluarga Harapan (PKH) is a program aimed to reduce the vulnerability of the poor through conditional cash assistance for household need such as access to health and education services, immunization, and family nutrition fulfillment. PKH participants are given health insurance (KIS) facility, especially in Penerima Bantuan Iuran (PBI), to access health services. Total PBI participants in 2019 reached 28.81% with healthcare utilization only 13.34%. Preliminary studies showed that not all PKH participants have KIS and use health services. The aim of the study is to find out the correlation of predisposing, enabling, and need factors of PKH participants in the Thematic Village toward utilizing health services in Kendalkerep Primary Healthcare. Methods: This study is an analytic-observational study and cross-sectional approach with subjects all of PKH participants in Kampoeng Lampion Wangi, Kampung Warna Warni Jodipan, and Kampung Tridi. Data are analyzed by logistic regression and correlational test. Result: Results of analysis show that there is significant correlations of predisposing factor such as education (β = 1.689), employment status (β = 1.466); enabling factor such as health insurance (β = 3.045), access to healthcare (β = 2.819); and need is a perception of illness (β = 2.767) toward Kendalkerep Primary Healthcare by PKH Thematic Village participants. Conclusion: Based on Nagelkerke determination coefficient, health insurance and access is a dominant factor which affects the utilization Kendalkerep Primary Healthcare of 46% with correlational strength fair and correlational direction positive.
MANAJEMEN LOGISTIK PENYIMPANAN OBAT DAN VAKSIN PELAYANAN KEFARMASIAN PUSKESMAS Umi Fatikhatul Luthfiyah; Roesdiyanto Roesdiyanto; Sendhi Tristanti Puspitasari
Prosiding Seminar Kesehatan Nasional Sexophone 2021
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Manajemen logistik farmasi merupakan kegiatan paling penting yang mendapatkan alokasi dana dari pemerintah sebesar 40-50% dari dana alokasi pembangunan kesehatan. Berdasarkan Profil Kesehatan Jawa Timur tahun 2017 dikatakan bahwa persentase Ketersediaan Obat dan Vaksin di pelayanan Kesehatan Kota Malang adalah 84,89% sedangkan nilai rata-rata ketersediaan obat Indonesia adalah 90,50%. Data tersebut menunjukkan bahwa ketersediaan obat di Kota Malang belum tersedia dengan baik. Hal tersebut menunjukkan adanya pengelolaan Manejemen Logistik yang kurang baik pada puskesmas Kota Malang. Salah satu dapat ditunjukkan pada Pelayanan Kefarmasian Puskesmas X Kota Malang, dimana berdasarkan Penilaian Kinerja Puskesmas menunjukkan adanya ketidaktercapaian target pada proses penyimpanan. Selain itu hasil dari nilai salah satu komponen proses penyimpanan yakni ketersediaan peralatan ruang farmasi menunjukkan penurunan nilai dari tahun 2017 ke tahun 2018. Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis proses penyimpanan manajemen logistik sediaan farmasi dengan instrumen yang berpedoman pada Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 74 Tahun 2016 dan Peraturan Badan Pengawas Obat dan Makanan Nomor 4 Tahun 2018. Rancangan penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif dengan desain penelitian studi evaluasi. Teknik analisis kualitatif menggunakan metode triangulasi untuk mengetahui keabsahan data. Berdasarkan hasil penelitian, maka dapat diketahui bahwa pelaksanaan penyimpanan sediaan farmasi dengan memperhatikan bentuk Sediaan Farmasi sesuai dengan pedoman, akan tetapi terdapat beberapa pelaksanaan penyimpanan yang didasarkan pada jenis obat tidak sesuai dengan pedoman. Kondisi yang dipersyaratkan dalam penandaan kemasan Sediaan Farmasi dan informasi yang terdapat pada kartu stok obat juga tidak sesuai dengan pedoman. 
GAMBARAN AKREDITASI PUSKESMAS INDONESIA BERDASARKAN DATA SEKUNDER DARI RISET FASILITAS KESEHATAN 2019 Mawarni, Dian; Sabran, Sabran; Puspitasari, Sendhi Tristanti; Wardani, Iing Merillarossa Kharisma
Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat Vol 18 No 1 (2022)
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19184/ikesma.v18i1.26551

Abstract

Kebijakan akreditasi fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama berperan memastikan pemerataan mutu pelayanan kesehatan masyarakat. Sejak 2015, belum ada kajian mengeksplorasi capaian akreditasi Puskesmas seluruh provinsi Indonesia. Penelitian bertujuan mengetahui gambaran akreditasi Puskesmas Indonesia dan mengidentifikasi determinan dari karakteristik Puskesmas. Penelitian ini menggunakan data sekunder dari Riset Fasilitas Kesehatan 2019. Sebanyak 8.543 Puskesmas memenuhi kriteria untuk dianalisis. Uji Chi-Square untuk menilai hubungan karakteristik Puskesmas dengan status akreditasi. Penelitian ini menunjukkan sebagian besar Puskesmas memiliki layanan rawat inap (56,72%), terletak di desa (48,58%), telah terakreditasi (79,19%), memiliki predikat madya akreditasi (56,07%), dan non BLUD (68,14%). Penelitian ini menjelaskan adanya hubungan kemampuan pelayanan, kategori wilayah, pola pengelolaan keuangan dengan status akreditasi Puskesmas. Penelitian ini menyimpulkan kebijakan akreditasi fasilitas kesehatan tingkat pertama belum terlaksana secara menyeluruh di Puskesmas Indonesia. Oleh karena itu perlu optimalisasi peran Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dalam memberikan pendampingan akreditasi terutama Puskesmas dengan karakteristik memiliki layanan rawat jalan, daerah terpencil, dan non BLUD.