cover
Contact Name
Irfan Noor
Contact Email
albanjari@uin-antasari.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
irfannoor@uin-antasari.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota banjarbaru,
Kalimantan selatan
INDONESIA
Al-Banjari : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Keislaman
ISSN : 14129507     EISSN : 25276778     DOI : -
Core Subject : Humanities, Art,
AL-BANJARI merupakan Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Keislaman yang diterbitkan oleh Pascasarjana IAIN Antasari Banjarmasin sebagai media penuangan dan pengkajian karya ilmiah dalam bidang studi Islam. Jurnal ini terbit secara berkala dua kali dalam setahun (Januari dan Juli)
Arjuna Subject : -
Articles 9 Documents
Search results for , issue "Vol. 20 No. 2 (2021)" : 9 Documents clear
META-ETIKA POLITIK DI ERA POST TRUTH (Studi Prilaku Elit politik Perspektif Etika Emotivis Bertrand Russell) Nurul Huda; Septiana Dwiputri Maharani
Al-Banjari : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Keislaman Vol. 20 No. 2 (2021)
Publisher : Pascasarjana UIN ANTASARI Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18592/al-banjari.v20i2.3474

Abstract

AbstrakOrkestrasi politik di era post truth selain menyajikan kontestasi antar kelompok yang berkepentingan dengan menampilkan visi pembangunan ke depan, juga diramaikan penggunaan bahasa omong kosong (bullshit) dan berita palsu (fake news) oleh elit politik lewat berbagai media sosial. Tindakan etis para elit politik dengan menggunakan bullshit dan fake news di era post truth ini secara aksiologis tetap bisa dianalisis dalam perdebatan arus utama filsafat nilai yaitu obyektivisme dan subyektivisme yang berbeda dengan epistemologis yang umumnya dimaknai hanya sebagai akibat menurunnya relevansi teori-teori kebenaran. Melalui meta-etika Bertrand Russell, artikel ini berusaha membahas asal-usul etika, makna kebaikan, dan penilaian terhadap tindakan etis para elit politik. Pada akhirnya teori subyektif-emotivis  Russell memberikan legitimasi dalam menilai baik buruknya tindakan etis elit politik sebebas dan sebatas pada keinginan masing-masing.
SEKULARISASI DAN SEKULARISME DI CHINA Dimas Prihambodo
Al-Banjari : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Keislaman Vol. 20 No. 2 (2021)
Publisher : Pascasarjana UIN ANTASARI Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18592/al-banjari.v20i2.4786

Abstract

Para pakar sejarah sepakat bahwa sekularisasi di Eropa Barat telah terjadi sejak 250 tahun yang lalu. Seiring berjalannya waktu, sekularisasi telah dianggap sebagai krisis besar bagi Kristen dan dunia Barat. Di dunia Timur, khususnya dunia Islam sekularisasi sudah terjadi dibeberapa tempat. Hal tersebut terjadi setelah masa kolonialisasi negeri-negeri Islam oleh bangsa Eropa. Berdasarkan hal tersebut, penulis tertarik untuk meneliti sekularisasi yang terjadi di dunia Timur lainnya, yaitu China. Kesimpulan yang diperoleh adalah sekularisasi yang terjadi dapat dilihat dalam dua bentuk, yaitu peniadaan kesucian dan kewibawaan agama daripada politik (desacralization of politics) dan penghapusan kesucian dan kemutlakan nilai-nilai daripada kehidupan (deconsecration of values). Selain itu, paham Marxisme-Leninisme memberikan andil besar pada proses sekularisasi di China.
NILAI TASAWUF PESANTREN DAN TRADISI SYAWIR SEBAGAI STRATEGI CULTURAL PROTECTION DARI LONE-WOLF TERRORISM Adha Hujatulatif; Chanif Ainun Naim
Al-Banjari : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Keislaman Vol. 20 No. 2 (2021)
Publisher : Pascasarjana UIN ANTASARI Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18592/al-banjari.v20i2.4759

Abstract

AbstractThis article aims to present a fundamental element of pesantren culture which is considered capable of being a cultural strategy in responding to the shift in the modus operandi of terrorism which has reached the stage of lone-wolf terrorism. Pesantren education with the ethical values of Sufism that is owned places the kyai as a central figure who teaches the journey of life and is filled with metaphysical, cosmological, and psycho-religious doctrines which are expected to bring humans to perfection and life peace in total servitude to God through cleansing the heart of despicable qualities, adorn oneself with praiseworthy qualities and spread affection. The tarekat al-Ta'lim wa al-Ta'allum adopted makes pesantren focus on efforts to love science by learning and teaching as the highest position in life. Besides, the bahtsul masail method that is implemented in pesantren trains students to be able to accept differences of opinion as something natural. The three of them form a package of elements of the pesantren that are deeply rooted so that the pesantren and students indirectly have a strategy of resistance against extreme religious understanding.
ISTIADAT PERTABALAN DIRAJA SEBAGAI MEKANISME KE ARAH SISTEM PEMERINTAHAN BERDAULAT Rahimin Affandi Abd. Rahim
Al-Banjari : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Keislaman Vol. 20 No. 2 (2021)
Publisher : Pascasarjana UIN ANTASARI Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18592/al-banjari.v20i2.3822

Abstract

Hugh Clifford  pernah menulis dalam catatannya The Court and Kampung -   ‘Until British interference changed the conditions which existed in Pahang, that country was the best type of an independent Malay State in the Peninsula, and much that was to be seen and learned in Pahang, in the days before the appointment of a British Resident, cannot now be experienced in quite the same measure anywhere else’. Kenyataan ini menyokong kuat wujudnya pentadbiran yang baik di negeri Pahang sebelum kedatangan British ke negeri ini. Mempunyai landskap geografi sebagai negeri paling luas di Semenanjung Malaysia, sudah pasti negeri ini memerlukan satu  sistem pentadbiran yang  berkesan dan kedaulatan raja memerintah yang hebat agar ia mampu berdiri teguh menyantuni sekian ramai rakyatnya. Periode Kesultanan Pahang Moden membuktikan mereka sebagai pendukung institusi ini begitu menghargai amalan istiadat nenek moyang sehingga ia menjadi premis asas pemerintahan di setiap generasi. Kajian ini bakal  mengupas istiadat pertabalan diraja negeri Pahang dengan penelitian terhadap  tatacara, falsafah dan akhirnya menjurus kepada satu dapatan bagaimana istiadat pertabalan diraja ini mampu berfungsi sebagai satu mekanisme kearah mewujudkan pemerintahan berdaulat. Metode yang digunakan ialah kaedah analisis kandungan  dengan memperinci falsafah disebalik tatacara istiadat pertabalan diraja yang diamalkan di negeri Pahang. Turut dihuraikan isi kandung sistem adat istiadat diraja yang diamalkan melalui catatan dari naskah-naskah  klasik. Hasilnya dapatlah disimpulkan, hebatnya sesebuah pemerintahan bukan sahaja ditandai oleh pembangunan fizikal malah ia turut digagaskan oleh sebuah institusi pemerintahan yang berdaulat dan mendapat kesetiaan penuh dari rakyat jelata.
TABU PERKAWINAN DALAM BUDAYA BANJAR Rahmat Sholihin
Al-Banjari : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Keislaman Vol. 20 No. 2 (2021)
Publisher : Pascasarjana UIN ANTASARI Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18592/al-banjari.v20i2.6252

Abstract

AbstractThere are several prohibitions (taboos) in marriage according to Islamic law as confirmed in the Al-Quran and Hadith, such as: prohibition of marriage because of blood relations (nasab), breastfeeding or marriage. However, in Banjar culture, there are some additional taboos that people think are not good to do because they can have negative consequences. Viewing tradition from a Qur'anic perspective is an attempt to collaborate local traditions with universal religious teachings. This paper attempts to discuss the taboo issues surrounding marriage in Banjar culture according to the perspective of the Koran. This research method is qualitative with a field research model and uses an anthropological approach. The research locations are in three areas, namely: Banjarmasin, Martapura and Amuntai. The results of this study indicate that the prohibitions related to marriage contained in the Qur'an are universal and principled, while the prohibitions in Banjar culture are conditional and full of local wisdom. Understanding it wisely as a custom that contains benefits and benefits because it is loaded with good moral messages and does not violate religious teachings is a necessity, although not all Banjar people believe and practice it in the social reality of society.Keywords: Marriage taboo, Banjar culture, Al-Quran AbstrakAda beberapa larangan (tabu) dalam perkawinan menurut hukum Islam sebagaimana ditegaskan dalam Al-Quran dan Hadits, seperti: larangan kawin karena hubungan darah (nasab), sesusuan atau semenda. Namun dalam budaya Banjar ada beberapa pantangan tambahan yang menurut anggapan masyarakat tidak baik untuk dikerjakan karena dapat berakibat yang negatif. Memandang tradisi dari perspektif Qur’ani merupakan upaya untuk mengkolaborasikan tradisi lokal dengan ajaran agama yang bersifat universal. Tulisan ini berupaya untuk membahas masalah tabu sekitar perkawinan dalam budaya Banjar menurut perspektif Al-Quran. Metode penelitian ini bersifat kualitatif dengan model penelitian lapangan (field research) dan menggunakan pendekatan antropologi. Adapun lokasi penelitian di tiga wilayah, yaitu: Banjarmasin, Martapura dan Amuntai. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa larangan terkait perkawinan yang ada dalam Al-Quran bersifat universal dan prinsipil, sedangkan larangan dalam budaya Banjar bersifat kondisional dan sarat dengan kearifan lokal. Memahaminya dengan bijaksana sebagai adat yang mengandung maslahat dan manfaat karena sarat dengan pesan moral yang baik dan tidak menyalahi ajaran agama merupakan sebuah keniscayaan, walaupun tidak semua orang Banjar mempercayai dan mempraktekkannya dalam realitas sosial bermasyarakat.  Kata kunci: Tabu perkawinan, budaya Banjar, Al-Quran
STRATEGI ANTISIPASI GERAKAN FANATISME MAZHAB MELALUI MODERASI BERAGAMA DALAM PENDIDIKAN DI UIN ANTASARI BANJARMASIN Rabiatul Adawiah; Nuril Khasyi’in; Anwar Hafidzi
Al-Banjari : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Keislaman Vol. 20 No. 2 (2021)
Publisher : Pascasarjana UIN ANTASARI Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18592/al-banjari.v20i2.6435

Abstract

Abstract:This research was conducted to find out about mazhab fanaticism in the education system at UIN Antasari Banjarmasin. Research to answer the emergence of a fanatical understanding of an opinion without looking at it from other aspects comprehensively. The method used in this research is field research which is a mixed-method using quantitative data with validation tests through product-moment with measuring instruments using the Cronbach Alpha formula with a total of 404 students as respondents. This study proves that the level of fanaticism of the sect in the student environment of UIN Antasari Banjarmasin with 404 students as respondents, obtained data of 4.95% in the medium category, then 79.95% in the low category, and 15.10% in the very low category. The dominant factors that influence students' religious attitudes are religious knowledge obtained from parents and social media.Keywords: Strategy, fanaticism, sect, antasariAbstrak:Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui tentang fanatisme bermazhab dalam sistem pendidikan di UIN Antasari Banjarmasin. Penelitian untuk menjawab bahwa munculnya faham fanatik terhadap suatu pendapat tanpa melihat dari aspek lain secara komprehensif. Metode yang digunakan dalam penelitian ini penelitian lapangan (field research) yang bersifat mix method dengan menggunakan data kuantitatif dengan uji validasi melalui product moment dengan alat ukur menggunakan rumus Cronbach Alpha dengan jumlah responden 404 mahasiswa. Penelitian ini membuktikan bahwa tingkat fanatisme bermazhab di lingkungan mahasiswa UIN Antasari Banjarmasin dengan responden berjumlah 404 orang mahasiswa, diperoleh data 4.95% pada kategori sedang, kemudian 79.95% pada kategori rendah dan 15.10% pada kategori sangat rendah. Adapun faktor dominan yang mempengaruhi ikap keberagamaan mahasiswa adalah pengetahuan agama yang diperoleh dari orangtua dan media sosial.Kata kunci: Strategi, fanatisme, mazhab, antasari 
FIQH READING SKILLS OF SANTRI BASED OF COMMUNITY EDUCATION AT THE AL-FALAH ISLAMIC BOARDING SCHOOL, BANJARBARU, SOUTH KALIMANTAN Ruslan Ruslan; Nor Ipansyah; Hamdan Mahmud; Anwar Hafidzi
Al-Banjari : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Keislaman Vol. 20 No. 2 (2021)
Publisher : Pascasarjana UIN ANTASARI Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18592/al-banjari.v20i2.7025

Abstract

Abstrak:Tulisan ini akan mengungkap bahwa kemampuan membaca kitab kuning santri di Pondok Pesantren Al-Falah Banjarbaru menggunakan pendekatan yang berbeda dengan Teknik lainnya. Kemampuan membaca ini dilatih secara kontiniu dan berbasis pada konteks masyarakat menarik untuk diteliti sebagai ciri khas pondok pesantren. Meskipun banyak yang sudah membahas kemampuan membaca, tapi ciri khas membaca kitabkuning berbahasa tanpa baris/harakat menjadi penting dan layak untuk diteliti. Teori yang digunakan adalah teori behaviorisme sebagai dasar dalam mengungkap kemampuan yang didapat. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif analytic kualitatif berupa studi kasus di Pondok Pesantren Al-Falah di Banjarbaru, Kalimantan Selatan, Indonesia. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah observasi partisipan terhadap system Pendidikan dan pembelajaran di kelas. Temuan dari penelitian ini adalah system pengulangan dalam pembelajaran kitab kuning menjadi bagian termudah dalam mempercepat pemahaman santri dalam membaca kitabkuning secara konseptual.Kata kunci: Konsep, literasi, kitab kuning, Pesantren Abstract:The Al-Falah Islamic Boarding School in Banjarbaru employs a unique method for teaching its pupils how to read the Kitab Kuning (arabic book) that will be demonstrated in this essay. It's fascinating to research how Islamic boarding schools have this reading proficiency that is regularly practiced and dependent on the community environment. Though reading comprehension has been covered extensively, study should also focus on the peculiarities of reading kitab kunings in harakat, a language without lines. The theory used is the theory of behaviorism as the basis for revealing the abilities that students get in reading Kitab. The Al-Falah Islamic Boarding School in Banjarbaru, South Kalimantan, Indonesia served as the site for this qualitative descriptive analytic case study that served as the research methodology. The data collection technique in this study is participant observation of the education and learning system in the classroom. The repetition approach for learning the kitab kuning is the portion that makes it simplest for pupils to comprehend how to read it conceptually, according to the study's findings.Key words: Concept, literacy, kitab kuning, Islamic boarding school
MANUSCRIPT STUDY OF THE HIKAYAT BANJAR : EXCAVATION OF ISLAMIC HISTORICAL SOURCES OF THE ARCHIPELAGO Munadi, Fathullah; Ilhami , Hamidi
Al-Banjari : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Keislaman Vol. 20 No. 2 (2021)
Publisher : Pascasarjana UIN ANTASARI Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18592/albanjari.v20i2.15824

Abstract

The Hikayat Banjar manuscript is an ancient handwritten manuscript that contains important historical information to be studied. This manuscript is key in the study of the social history of the Banjar kingdom and in this research is used as the main material for exploring the Islamic history of the archipelago. The research on the Hikayat Banjar manuscript can be considered to bring new nuances to the discourse on the history of Islam in the archipelago. This research is a qualitative study using a philological approach in which researchers will conduct manuscript inventory, manuscript description, manuscript & text comparison, to present text editing before analyzing it. Since in this research the Hikayat Banjar is positioned as a source of Islamic history, the researcher seeks to examine in detail Islamic data related to normative teachings and Islamic culture which can then be translated into an analysis of social history and the history of Islamic institutions. From the research on these 2 reviews of the Hikayat Banjar, Islamic factors were found in the form of; 1) Arabic words or sentences and, 2) There is Islamic content in the arrangement of the Hikayat Banjar episodes which are detailed in the following phases; a) Pre-Islamic phase b) Introduction of Islam phase c) Formation phase of Islam in the Banjar Kingdom, and d) Post-Islamization phase, and 3) The Walisongo story in the Hikayat Banjar.
Considering Ghararwain's Special Inheritance in the Midst of Gender Justice Issues Wahidah
Al-Banjari : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Keislaman Vol. 20 No. 2 (2021)
Publisher : Pascasarjana UIN ANTASARI Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18592/albanjari.v20i2.12505

Abstract

Abstract: Ghararwain inheritance is a special case of inheritance in Islam that has a fixed heir structure and deviates from faraidh (inheritance law). The application of its calculation method can disadvantage the mother's inheritance rights in two situations. Amidst the issue of gender equality, various perspectives from different professions, expertise, and viewpoints show diverse responses, yet adaptive to change. This ijtihadi product, although possessing wisdom related to maqashid al sharia (the objectives of Islamic law), needs to be reconsidered for its use as a provision for inheritance settlement in positive law in Indonesia, especially concerning the tsuluts al baqi portion (one-third of the remaining estate) which serves as a privilege in the Ghararwain case. Keywords: Special Inheritance, Ghararwain, Ashobah, Tsuluts al Baqi, Gender Equality

Page 1 of 1 | Total Record : 9