cover
Contact Name
Trias Mahmudiono, SKM., MPH (Nutr), GCAS., PhD
Contact Email
amertanutr@fkm.unair.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
amertanutr@fkm.unair.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Amerta Nutrition
Published by Universitas Airlangga
ISSN : 25801163     EISSN : 25809776     DOI : -
Core Subject : Health, Education,
Amerta Nutrition (p-ISSN:2580-1163; e-ISSN: 2580-9776) is a peer reviewed open access scientific journal published by Universitas Airlangga. The scope for Amerta Nutrition include: public health nutrition, community nutrition, clinical nutrition, dietetics, food science and food service management. Each volume of Amerta Nutrition is counted in each calendar year that consist of 4 issues. Amerta Nutrition is published four times per year every March, June, September, and December.
Arjuna Subject : -
Articles 810 Documents
Konsumsi Zat Gizi pada Balita Stunting dan Non-Stunting di Kabupaten Bangkalan Ulul Azmy; Luki Mundiastuti
Amerta Nutrition Vol. 2 No. 3 (2018): AMERTA NUTRITION
Publisher : Universitas Airlangga, Kampus C, Mulyorejo, Surabaya-60115, East Java, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (208.037 KB) | DOI: 10.20473/amnt.v2i3.2018.292-298

Abstract

Background : Foods consumed by under five children determine their growth and development in the future. The lack of nutrient intake can lead to several nutritional problems, including stunting.Objectives: This research aimed to analyze nutrient consumption of stunted and non-stunted children aged 24 - 59 month in Bangkalan.Methods: This was an observational study with case-control design, conducted in Banyuajuh, Kramat, and Pejagan sub-district in Bangkalan district. The research sample consist of 48 children aged 24 - 59 month selected through simple random sampling. Data were collected using three-times food recall 24H non-consecutive days.Results: Majority of stunting children have low levels energy, fat, protein, carbohydrate, zinc and iron intake. While non-stunted chidren, have adequate nutrients intake. There was significant correlation between nutritional status (H/A) with intake of total energy (p = 0.015; OR = 4.048), protein (p = 0.012; OR = 1.6), fat (p = 0.002; OR = 1.7), carbohydrate (p = 0.014; OR = 1.7), and zinc (p = 0.026; OR = 1.7). But, none in iron consumption (p = 0.066).Conclusions : The results showed that non-stunted children have better nutrients intake compare to the stunted children. Moreover the results also showed significant correlation between consumption of total energy, protein, fat, carbohydrate,and zinc with nutritional status (HAZ), but not significantly corelated with iron intake.ABSTRAKLatar Belakang : Makanan yang dikonsumsi anak usia balita menentukan pertumbuhan dan perkembangan di masa yang akan datang. Kurangnya konsumsi zat gizi dapat menyebabkan beberapa masalah gizi, salah satunya yaitu stunting.Tujuan : Penelitian ini bertujuan menganalisis konsumsi zat gizi pada balita stunting dan non-stunting usia 24 – 59 bulan di Kabupaten Bangkalan.Metode : Jenis penelitian ini adalah observasional dengan desain case control. Penelitian dilaksanakan di desa Banyuajuh dan desa Kramat Kabupaten Bangkalan. Sampel pada penelitian ini berjumlah 48 balita yang berusia antara 24 – 59 bulan dan dipilih secara acak. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan metode recall selama 3 hari.Hasil :  Sebagian besar balita stunting memiliki tingkat konsumsi energi, lemak, protein, karbohidrat, seng, dan zat besi pada kategori kurang. Sedangkan pada balita non-stunting sebagian besar memiliki tingkat konsumsi zat gizi yang cukup. Terdapat hubungan status gizi dengan asupan energi (p = 0,015; OR = 4,048), protein (p = 0,012; OR = 1,6), lemak (p = 0,002; OR = 1,7), karbohidrat (p = 0,014; OR = 1,7), seng (p = 0,026; OR = 1,7), dan tidak ada hubungan zat besi (p = 0,066) dengan status gizi.Kesimpulan : Balita non-stunting memiliki tingkat konsumsi zat gizi yang lebih baik dibandingkan dengan balita stunting. Terdapat hubungan antara asupan energi, protein, lemak, karbohidrat, dan seng dengan status gizi (TB/U), dan tidak ada hubungan antara asupan zat besi dengan status gizi (TB/U).
Perbedaan Pola Pemberian Makan Batita Diasuh Ibu Dan Selain Ibu Putri Novita Sari; Sri Sumarmi
Amerta Nutrition Vol. 1 No. 2 (2017): AMERTA NUTRITION
Publisher : Universitas Airlangga, Kampus C, Mulyorejo, Surabaya-60115, East Java, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (718.603 KB) | DOI: 10.20473/amnt.v1i2.2017.98-104

Abstract

 Background: In the present era, working women are increased, especially working mothers, therefore many children are not taken care by their parent. This situation may become risk factor for malnutrition among children in urban areas. Feeding pattern is indirect causes of nutritional problems in toddler. Objectives: The objective of the study was to analyze the difference of toddler feeding pattern and nutritional status between toddler who cared by mother and toddler who cared by other caregivers. Methods: The method of this research was observational with cross sectional design, and the sampling technique used simple random sampling. The number of samples were 74 toddlers. Variables observed in this study were socio-economic status of family, characteristics of caregivers and feeding pattern. The research was conducted in Mulyorejo urban village Surabaya. The data were analyzed by Chi-square test with α= 0.05. Results: The result of the research showed that there was no difference of feeding pattern (p=1.000) between toddler who cared by mother and toddler who cared by other caregivers. Conclusion: The conclusion from this research is in urban areas, feeding pattern is not only influenced by caregiver but also several factors such as economic status.ABSTRAK Latar Belakang: Di era sekarang, wanita semakin banyak bekerja khususnya ibu, sehingga semakin banyak anak yang tidak diasuh sendiri oleh orang tuanya. Situasi ini menjadi faktor resiko terjadinya masalah gizi pada anak di daerah perkotaan. Pola pemberian makan pengasuh yang tidak tepat pada batita  termasuk faktor penyebab tidak langsung terjadinya masalah gizi pada batita.Tujuan: Tujuan penelitian untuk menganalisis perbedaan pola pemberian makan batita yang diasuh  ibu dan batita yang diasuh selain ibu.Metode: Metode penelitian ini adalah observasional dengan desain cross sectional, dan teknik pengambilan sampel menggunakan simple random sampling. Jumlah sampel penelitian adalah 74 responden. Variabel yang diukur yaitu sosial ekonomi keluarga, karakteristik pengasuh dan pola pemberian makan. Penelitian dilakukan di Kelurahan Mulyorejo, wilayah kerja Puskesmas Mulyorejo Surabaya. Analisis data menggunakan uji statistik Chi-square dengan nilai α= 0,05.Hasil: Hasil penelitian menunjukkan tidak ada perbedaan pola pemberian makan antara batita diasuh ibu dan batita diasuh selain ibu dengan nilai p= 1,000 > 0,05.Kesimpulan: Simpulan dari hasil yaitu di daerah perkotaan, pola pemberian makan tidak hanya dipengaruhi oleh pengasuh batita tetapi beberapa faktor seperti status ekonomi keluarga.
Hubungan Riwayat Penyakit Diare dan Praktik Higiene dengan Kejadian Stunting pada Balita Usia 24-59 Bulan di Wilayah Kerja Puskesmas Simolawang, Surabaya Chamilia Desyanti; Triska Susila Nindya
Amerta Nutrition Vol. 1 No. 3 (2017): AMERTA NUTRITION
Publisher : Universitas Airlangga, Kampus C, Mulyorejo, Surabaya-60115, East Java, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (759.91 KB) | DOI: 10.20473/amnt.v1i3.2017.243-251

Abstract

Background: Stunting among children is a chronic impact of a long-term low quality dietary intake accompanied by infectious diseases and environmental issues. Bad hygiene practices can lead to diarrheal disease that can make children loss some essential nutrients for body growth. Objectives: This research aimed to analyze the relations between history of diarrheal disease and hygiene practices with stunting incidences among children aged 24-59 months. Methods: This research was designed with case control. The case was stunting children and the control was non-stunting children in the work area of Puskesmas Simolawang with sample of 33 children each. The relation between variables was tested using Chi Square and Odd Ratio. Results: The majority of children in stunting group had the diarrheal disease frequently (72.7%), whereas children in non stunting group had the diarrheal disease rarely (57.6%). Most of children caretaker in stunting group had bad hygiene practices (75.8%), whereas children caretaker in non stunting group had good hygiene practices (60.6%). The history of diarrheal disease (p=0.025, OR=3.619) and hygiene practices (p=0.006, OR=4.808) had significant relation with stunting. Conclusion: The frequent diarrheal diseases and poor hygiene practices increase the risk of stunting 3.619 and 4.808 times among children aged 24-59 months. It can be recommended that there should be a monitoring of infectious disease among children held by Intergrated Health Post and should be held an education related to parenting styles, especially hygiene practices, because a good parenting styles could lead to a better nutritional status.ABSTRAK Latar belakang: Stunting pada anak merupakan dampak yang bersifat kronis dari konsumsi diet berkualitas rendah yang terus menerus dan didukung oleh penyakit infeksi dan masalah lingkungan. Praktik higiene yang buruk dapat menyebabkan balita terserang penyakit diare yang nantinya dapat menyebabkan anak kehilangan zat-zat gizi yang penting bagi pertumbuhan.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan riwayat penyakit diare dan praktik higiene dengan kejadian stunting pada balita usia 24-59 bulan.Metode: Penelitian menggunakan desain kasus kontrol. Sampel kasus adalah balita stunting dan sampel kontrol adalah balita tidak stunting di wilayah kerja Puskesmas Simolawang dengan jumlah masing-masing 33. Hubungan dan besar risiko antara variabel diuji menggunakan Chi Square dan Odd Ratio.Hasil: Sebagian besar anak pada kelompok stunting sering mengalami diare (72,7%) sedangkan pada kelompok tidak stunting jarang mengalami diare (57,6%). Sebagian besar pengasuh pada kelompok stunting memiliki praktik higiene yang buruk (75,8%), sedangkan pada kelompok tidak stunting memiliki praktik higiene yang baik (60,6%). Riwayat penyakit diare (p=0,025, OR=3,619) dan praktik higiene (p=0,006, OR=4,808) memiliki hubungan yang signifikan dengan kejadian stunting. Kesimpulan: Riwayat diare yang terjadi secara sering dalam 3 bulan terakhir dan praktik higiene yang buruk meningkatkan risiko sebesar 3,619 dan 4,808 kali terhadap kejadian stunting pada balita usia 24-59 bulan. Hal yang dapat disarankan adalah adanya pemantauan terkait riwayat penyakit infeksi pada balita oleh posyandu setempat dan diadakan penyuluhan terkait dengan pola asuh pada anak, khususnya praktik higiene, karena pola asuh yang baik dapat berdampak kepada status gizi yang lebih baik.
Gambaran Penerapan Prinsip Higiene Sanitasi Makanan Di PT Aerofood Indonesia, Tangerang, Banten Dini Rahmadhani; Sri Sumarmi
Amerta Nutrition Vol. 1 No. 4 (2017): AMERTA NUTRITION
Publisher : Universitas Airlangga, Kampus C, Mulyorejo, Surabaya-60115, East Java, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (727.668 KB) | DOI: 10.20473/amnt.v1i4.2017.291-299

Abstract

Background: PT. Aerofood Indonesia is one of inflight catering with international standard, not only as inflight catering, this company also provide logistic for flight especially Garuda Indonesia. A company which was established since 1970 has a vision to become food provider and become premium service for flight in Southeast Asia. Implementation of food hygiene and sanitation is one way to achieve the vision to make quality food. Objectives: The purpose of writing this article is to know and study the implementation of food hygiene and sanitation especially on the main course of Garuda Indonesia that processed by PT. Aerofood Indonesia. Methods: This research is descriptive research which using qualitative approach by observation and interview method. Results: Implementation of food hygiene and sanitation can be applied for catering with big scale and small scale. In its implementation, food hygiene and sanitation not only observe the food but also observe the food handlers. This is accordance with Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2012 Tentang Pangan which explain that food sanitation is one efforts to create and maintain healthy food conditions and hygienic that are free from the dangers of biological, chemical, and other substances. In implementation of food hygiene and sanitation, there are several aspects that must be considered. There are six principles in implementation food hygiene and sanitation. Principle I: selection of food raw material, principle II: food storage, principle III: food processing, principle IV: storage of cooked foods, principle V: food transport, and principle VI: foods presentation. Conclusion: Based on research that has been done, PT. Aerofood Indonesia has applied food hygiene and sanitation, starting from the process of receiving food material until food presentation. By applying food hygiene and sanitation be expected to minimize of harm caused by foodABSTRAKLatar Belakang: PT. Aerofood Indonesia adalah salah satu penyedia katering untuk penerbangan atau inflight catering bertaraf internasional dan merupakan penyedia logistik penerbangan, terutama logistik untuk penerbangan Garuda Indonesia. Perusahaan yang berdiri sejak 1970 ini memiliki visi untuk menjadi penyedia jasa makanan dan layanan berkualitas premium di Asia Tenggara. Untuk mencapai visinya, salah satu upaya agar makanan berkualitas adalah dengan menerapkan higiene sanitasi makanan.Tujuan: Tujuan dari penulisan artikel ini adalah untuk mengetahui dan mempelajari penerapan higiene dan sanitasi makanan khususnya pada main course Garuda Indonesia yang diproduksi oleh PT. Aerofood Indonesia.Metode: Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan menggunakan metode pendekatan kualitatif berupa observasi dan wawancara.Hasil: Penerapan higiene sanitasi makanan dapat diterapkan pada katering skala kecil maupun skala besar. Dalam penerapannya, higiene sanitasi makanan tidak hanya memperhatikan makanan tetapi juga penjamah makanan selama proses pengolahan dan proses produksi. Hal ini sesuai dengan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2012 Tentang Pangan yang menyatakan bahwa sanitasi pangan adalah upaya untuk menciptakan dan mempertahankan kondisi pangan yang sehat dan higienis yang bebas dari bahaya cemaran biologis, kimia, dan benda lain. Dalam penerapan higiene sanitasi makanan, terdapat beberapa aspek yang harus diperhatikan. Terdapat enam prinsip dalam penerapan higiene sanitasi makanan, yaitu prinsip I: Pemilihan Bahan Baku Makanan, prinsip II: penyimpanan bahan makanan, prinsip III: pengolahan makanan, prinsip IV: penyimpanan makanan matang, prinsip V: pengangkutan makanan, dan prinsip VI: penyajian makanan.Kesimpulan: Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, PT. Aerofood Indonesia telah menerapkan higiene sanitasi makanan dimulai dari proses penerimaan bahan makanan, penyimpanan makanan, hingga penyajian makanan. Dengan menerapkan higiene sanitasi makanan, diharapkan mampu meminimalisir terjadinya hal yang merugikan akibat makanan
Hubungan Aktivitas Fisik Dan Asupan Gizi Dengan Status Gizi Lebih Pada Anak Usia Sekolah Dasar Di Sdn Ketabang 1 Kota Surabaya Tahun 2017 Nadya Dayinta N Ermona; Bambang Wirjatmadi
Amerta Nutrition Vol. 2 No. 1 (2018): AMERTA NUTRITION
Publisher : Universitas Airlangga, Kampus C, Mulyorejo, Surabaya-60115, East Java, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (736.734 KB) | DOI: 10.20473/amnt.v2i1.2018.97-105

Abstract

Background: overnutrition problem in children of school age in Indonesia classified as high with the prevalence was 18.8%. Overweight and obesity is an abnormal condition of fat accumulation which caused health problem. There is some of factor caused overweight and obesity are physical activity and nutrition intake.Objectives: The purpose of this study was to analyze the relationship between physical activity and nutritional intake and nutritional status in school children aged 8-12 yearsMethod: this study was an observasional analytic using cross sectional design, 88 samples 8-12 years were selected using simple ramdom sampling technique. Data were collected by measuring weight, height, 2x24 hours recall for food intake level, and interview using Physical Activity Questionnaire for Children (PAQ-C).Results : the results showed that there was relationship in physical activity, intake of energy, intake of protein, intake of carbohydrate, and intake of fat with overnutrition of elementary student (p<0.05).Conclusion: the low of physical activity and nutrition intake is a factor which can cause overnutrition problem in children.ABSTRAKLatar Belakang : Masalah gizi lebih yang terjadi di Indonesia masih tergolong tinggi dengan prevalensi 18,8%. Berat badan lebih (overweight) dan obesitas merupakan kondisi sesorang dimana keabnormalan akumulasi lemak yang berlebih dan dapat menyebabkan gangguan kesehatan. Beberapa faktor yang dapat menyebabkan kegemukan satu diantaranya yaitu pola aktivitas dan pola makan.Tujuan : tujuan dalam penelitian ini adalah untuk menganalisis hubungan antara aktivitas fisik dan asupan gizi dengan status gizi pada anak sekolah usia 8-12 tahun.Metode : penelitian ini dilaksanakan dengan metode observasional analitik menggunakan desain cross-sectional pada 88 sampel dan dipilih dengan menggunakan simple random sampling. Pengumpulan data terdiri dari pengukuran berat badan, pengukuran tinggi badan, recall 2x24 jam untuk mengetahui tingkat konsumsi dan wawancara dengan kuesioner Physical Activity Questionnaire for Children (PAQ-C).Hasil : penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara aktivitas fisik, tingkat asupan energi, tingkat asupan protein, tingkat asupan karbohidrat dan tingkat asupan lemak dengan status gizi lebih anak sekolah (p<0,05).Kesimpulan : aktivitas fisik yang rendah dan asupan gizi merupakan faktor yang dapat menyebabkan masalah gizi lebih pada anak.
Kejadian Obesitas, Obesitas Sentral, dan Kelebihan Lemak Viseral pada Lansia Wanita Ira Maya Sofa
Amerta Nutrition Vol. 2 No. 3 (2018): AMERTA NUTRITION
Publisher : Universitas Airlangga, Kampus C, Mulyorejo, Surabaya-60115, East Java, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (51.446 KB) | DOI: 10.20473/amnt.v2i3.2018.228-236

Abstract

Background: Obesity, central obesity, and visceral fat is an excessive fat that can release various types of diseases such as cardiovascular disease, stroke and can increase the risk of bone damage in the elderly. Objectives: The purpose of this study was to analyze the risk factors of obesity, central obesity, and visceral fat in elderly women. Methods:This was an observational analytic study with cross sectional design. The samples of the study were 81 elderly women registered as member of Posyandu Lansia in the working area of Puskesmas Jagir, Wonokromo, Surabaya. The data collected using 3 times 24-hour food recall, anthropometry (body weight, body height, and waist circumference), visceral fat using Bio Impedance Analysis (BIA), and questionnaire related to subject’s characteristic. The data were analyzed using logistic regression analysis. Results: The results showed that the mean age of the subjects were 67.12±5.97 years old. Most of the subjects have low education (71.6%) and 87.7% of subjects didn’t work. The mean value of daily energy intake was 1074.31±298.67 kcal.  There were 34.6% obese subjects, only 17.3% subjects didn’t experience central obesity, and 28.4% of subjects had excess body visceral fat. The statistical test showed significant correlation between age with obesi (p-value=0.042), age with central obesity (p-value=0.009) but age with visceral fat had no significant correlation (p-value=0.163). Daily food intake, education, and occupation did not show significant correlation with obesity, central obesity, or visceral fat (p-value>0.05).  Conclusions: The risk for obesity and central obesity was decreased with aging in elderly but not with visceral fat.ABSTRAKLatar Belakang: Obesitas, obesitas sentral, dan lemak viseral merupakan penumpukan lemak tubuh yang berlebihan dan berisiko untuk menimbulkan berbagai penyakit degeneratif seperti jantung iskemi dan stroke serta dapat meningkatkan risiko kerusakan tulang pada lansia.  Tujuan: Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis faktor risiko obesitas, obesitas sentral, dan kelebihan lemak viseral pada lansia wanita.Metode: Penelitian ini menggunakan desain studi cross sectional dengan pendekatan kuantitatif.  Sampel dari penelitian ini adalah 81 lansia wanita yang menjadi anggota posyandu lansia di wilayah kerja Puskesmas Jagir, Wonokromo, Surabaya. Pengumpulan data menggunakan food recall 3 x 24 jam, antropometri (berat badan, tinggi badan, dan lingkar perut), lemak viseral menggunakan Bio Impedance Analysis (BIA), serta kuesioner terkait data diri subjek. Data dianalisis dengan menggunakan analisis regresi logistik.Hasil: Hasil penelitian menujukkan rata-rata usia subjek adalah 67,12±5,97. Sebagian besar subjek memiliki riwayat pendidikan rendah (71,6%) dan sebanyak 87,7% subjek tidak bekerja. Rata-rata asupan zat gizi subjek lebih rendah jika dibandingkan dengan Angka Kecukupan Gizi (AKG). Sebanyak 34,6% subjek mengalami obesitas; angka kejadian obesitas sentral yaitu 17,3%; dan 28,4% subjek memiliki lemak viseral tubuh berlebih. Uji statistik menunjukkan hubungan signifikan antara usia dengan obesitas (p-value = 0,042), usia dengan obesitas sentral (p-value = 0,009) tetapi usia dengan lemak viseral tidak memiliki hubungan signifikan (p-value = 0,163). Asupan makanan harian, pendidikan, dan pekerjaan tidak  menunjukkan hubungan signifikan dengan obesitas, obesitas sentral, maupun lemak viseral (p-value > 0,05).Kesimpulan: Pada lansia, risiko mengalami obesitas maupun obesitas sentral semakin menurun seiring dengan bertambahnya usia. Lemak viseral tidak berhubungan dengan usia.
Back Matter Vol 1 No 4 Back Matter Vol 1 No 4
Amerta Nutrition Vol. 1 No. 4 (2017): AMERTA NUTRITION
Publisher : Universitas Airlangga, Kampus C, Mulyorejo, Surabaya-60115, East Java, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (346.083 KB) | DOI: 10.20473/amnt.v1i4.2017.%p

Abstract

Hubungan Ketahanan Pangan dan Penyakit Diare dengan Stunting pada Balita 13-48 Bulan di Kelurahan Manyar Sabrangan, Surabaya Chovinda Ayu Safitri; Triska Susila Nindya
Amerta Nutrition Vol. 1 No. 2 (2017): AMERTA NUTRITION
Publisher : Universitas Airlangga, Kampus C, Mulyorejo, Surabaya-60115, East Java, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (745.748 KB) | DOI: 10.20473/amnt.v1i2.2017.52-61

Abstract

 Background: Stunting is an acute malnutrition that is one of the leading causes of death in under-five children in the world and can impact on low quality of life in the future. Household food security and infectious diseases especially diarrhea in under-five children are indicated to be factors that cause the stunting state. Toddlers 13-48 months old are likely have a high risk for disease and its effects. Stunting in under-five children is closely related to food insecurity of the family and diarrheal diseases by the children.Objectives: The purpose of this study was to analyze the association of food security of the family and diarrheal diseases to stunting. Methods: This research was an observational analytic with cross sectional design. The sample was 68 children under-five age 13-48 months in Manyar Sabrangan, Mulyorejo Sub-district, Surabaya. Selection of sample was using simple random sampling with lottery technique. The data were collected by interview method with questionnaire. Food security was accessed by US-HFSSM questionnaire. Spearman correlation test was used in the statistical analysis (α=0.05). Results: The data showed that the percentage of stunting, diarrhea, and household insecurity respectively 30.9%, 19.1%, and 61.8%. There was an association between food insecurity with stunting (p<0.05). There was not an association between diarrhea with stunting (p>0.05). Conclusions: It is necessary for family to have a coping strategy to avoid long-term food insecurity. There is another factor such as a history of food intake that may be able to affect stunting in addition to diarrhea.ABSTRAK Latar Belakang: Stunting merupakan keadaan kekurangan gizi akut yang menjadi salah satu penyebab kematian pada balita di dunia dan dapat berdampak pada kualitas kehidupan yang rendah di masa depan. Ketahanan pangan keluarga dan kejadian penyakit infeksi yang dialami balita terutama diare diindikasikan menjadi faktor yang dapat menyebabkan keadaan stunting. Balita usia 13-48 bulan merupakan kelompok yang rentan terhadap penyakit dan dampaknya. Keadaan stunting erat kaitannya dengan kerawanan pangan keluarga dan penyakit infeksi seperti diare yang dialami balita.Tujuan: Untuk menganalisis hubungan ketahanan pangan keluarga dan penyakit diare dengan keadaan stunting balita.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan rancang cross sectional. Sampel dalam penelitian ini adalah 68 balita usia 13-48 bulan di Kelurahan Manyar Sabrangan Kecamatan Mulyorejo Kota Surabaya. Pemilihan sampel menggunakan simple random sampling dengan teknik lotre. Pengambilan data dilakukan dengan metode wawancara dengan kuesioner. Ketahanan pangan diukur dengan menggunakan kuesioner United Stated-Household Food Security Survey Module (US-HFSSM). Analisis statistik dilakukan dengan menggunakan uji korelasi spearman (α=0,05).Hasil: Hasil menunjukkan bahwa sebanyak 30,9% balita mengalami stunting, 19,1% mengalami diare, dan 61,8% berada pada keadaan rawan pangan. Ketahanan pangan keluarga dan keadaan stunting menunjukkan adanya hubungan yang signifikan (p<0,05). Penyakit diare balita dan keadaan stunting tidak menunjukkan adanya hubungan yang signifikan (p>0,05).Kesimpulan: Dibutuhkan coping strategi dalam keluarga untuk mengatasi masalah kerawanan pangan yang terus-menerus. Terdapat faktor lain seperti riwayat asupan makanan yang dapat mempengaruhi stunting selain penyakit diare.
Hubungan Depresi, Asupan, dan Penampilan Makanan dengan Sisa Makan Pagi Pasien Rawat Inap (Studi di Rumah Sakit Islam Jemursari Surabaya) Rizka Amalia Habiba; Merryana Adriani
Amerta Nutrition Vol. 1 No. 3 (2017): AMERTA NUTRITION
Publisher : Universitas Airlangga, Kampus C, Mulyorejo, Surabaya-60115, East Java, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (801.238 KB) | DOI: 10.20473/amnt.v1i3.2017.198-208

Abstract

Background: Food waste problem in some hospitals in Indonesia is still quite high at >20%. The proportion of residual high enough lies in the morning meal. This results in inadequate nutrition intake so that it affects the length of stay and increases patient morbidity and mortality. Food waste can be due to individual factors, dietary habits, food intake, and food quality.Objectives: This study aims to analyze the relationship of depression, intake, and appearance of food with the waste of the morning meal in hospitalized patients.Methods: This was a cross sectional study involving 47 respondents that was chosen using a simple random sampling technique at the RSI Jemursari Surabaya. Morning food waste was collected for measurement using food scale; patient’s psychological condition, food intake and appearance of food were measured using questionnaires. Statistical analysis used was Spearman and Chi Square test. Results: Most of the respondents did not experience anxiety and depression disorder. Most respondents have less energy and protein intake. There was a relationship between depression (p=0.02) and energy intake (p=0.035) with the waste of the morning meal. There is a relationship of protein intake in the morning with the rest of the animal side (p = 0.002). However, there was no correlation between appearance (p = 0.64), large portion (p = 0.4), and presentation method (p=0.83) with waste of the morning meal.Conclusion: Food waste can be affected by a person's depression and food intake. Feeding the patient not only comes from hospital food alone, but from outside the hospital as well. However, food outside the hospital does not affect the intake so that the higher the patient leaves the food, the lower the intake of energy and protein. Communication and education should be done to patients to try to spend the food and pay attention to the intake.ABSTRAK Latar Belakang: Permasalahan sisa makanan di beberapa rumah sakit di Indonesia masih cukup tinggi  yaitu >20%. Proporsi sisa yang cukup tinggi terletak pada makan pagi. Hal ini mengakibatkan asupan gizi tidak adekuat sehingga berdampak pada lamanya rawat inap dan meningkatkan morbiditas serta mortalitas pasien. Sisa makanan bisa disebabkan dari faktor individu, kebiasaan pola makan, asupan makan, dan mutu makanan.Tujuan: Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan depresi, asupan, dan penampilan makanan dengan sisa makanan pagi pada pasien rawat inap.Metode: Merupakan penelitian observasional analitik studi cross sectional dengan sampel penelitian sebesar 47 pasien terpilih secara simple random sampling berada di RSI Jemursari Surabaya. Pengumpulan data meliputi penimbangan sisa makan pagi, wawancara keadaan psikis, asupan makan, dan penampilan makan pagi. Analisis data menggunakan uji spearman dan chi square.Hasil: Diketahui sebagian besar responden tidak mengalami gangguan kecemasan dan depresi. Sebagian besar responden memiliki asupan energi dan protein yang kurang. Terdapat hubungan yang bermakna antara depresi (p=0,02) dan asupan energi (p=0,035) dengan sisa makanan pagi. Terdapat hubungan asupan protein pagi dengan sisa lauk hewani (p=0,002). Namun tidak terdapat hubungan antara penampilan yaitu warna (p=0,64), besar porsi (p=0,4), dan cara penyajian (p=0,83) dengan sisa makan pagi.Kesimpulan: Sisa makanan dapat dipengaruhi dari depresi seseorang dan asupan makannya. Asupan makan pasien tidak hanya berasal dari makanan rumah sakit saja, melainkan dari luar rumah sakit juga. Namun, makanan luar rumah sakit tidak mempengaruhi asupan sehingga semakin tinggi pasien menyisakan makanannya, maka semakin rendah asupan energi dan protein. Sebaiknya perlu dilakukan komunikasi dan edukasi kepada pasien supaya berusaha menghabiskan makanannya dan memperhatikan asupannya.
Hubungan Pengetahuan Ibu tentang Gizi dan Asupan Makan Balita dengan Status Gizi Balita (BB/U) Usia 12-24 Bulan Nindyna Puspasari; Merryana Andriani
Amerta Nutrition Vol. 1 No. 4 (2017): AMERTA NUTRITION
Publisher : Universitas Airlangga, Kampus C, Mulyorejo, Surabaya-60115, East Java, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (749.175 KB) | DOI: 10.20473/amnt.v1i4.2017.369-378

Abstract

Background: Toddler is an important period in child growth that will determine the future development. The accuracy of toddler feeding is affected by mother’s knowledge of nutrition, considering mother as the main food provider for family. Besides, nutrition intake of toddler could also affected nutritional status. Objectives: This study aimed to determine associated of mother’s nutrition knowledge and toddler’s nutrition intake with toddler’s nutritional status (WAZ) at the age 12-24 months. Methods: This study was an observational analytic research with cross-sectional design in Tambak Wedi Village, Kenjeran Sub District, Surabaya done in July 2017. The sample was 47 toddlers at the age of 12-24 months. The independent variables were mother’s characteristic (age, employment, education, family income), mother’s nutritional knowledge, and toddler’s nutrition intake (calories, carbohydrate, protein and fat). The dependent variable was toddler’s nutritional status. The data collected by interview used questionnaire such as 2x24 hours food recall for toddler’s intake nutrition, and weight measurement. Results: The result showed that most of respondents have good knowledge with normal nutritional status (81.8%) and respondents have less knowledge with unnormal nutritional status (92.9%). The result of chi square test showed that there was a relation between mother’s knowledge (p = 0.000), toddler’s calori (p = 0.008), carbohydrate (p = 0.024) and protein intake (p = 0.002). Meanwhile, there was no association between characteristic of motherand fat intake (p = 0.175) with nutritional status (WAZ). Conclusions: The conlusion of this study is toddler’s nutritional status influenced by mother’s knowledge about nutrition and toddler’s nutrition intake. Therefore, it is necessary to increase mother’s knowledge about nutrition through counseling and increase toddler’s nutrition intake (calories, carbohydrate and protein). ABSTRAK Latar Belakang: Masa balita merupakan suatu periode penting dalam tumbuh kembang anak karena masa balita yang akan menentukan perkembangan anak di masa selanjutnya. Ketepatan pemberian makan pada balita dapat dipengaruhi oleh pengetahuan ibu tentang gizi karena ibu sebagai tombak dalam penyedia makanan untuk keluarga. Selain pengetahuan ibu tentang gizi, tingkat asupan makan balita juga dapat secara langsung mempengaruhi status gizi balita tersebut.Tujuan: Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan pengetahuan ibu tentang gizi dan asupan makan balita dengan status gizi balita (BB/U) usia 12-24 bulan.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan desain cross-sectional dan dilakukan di wilayah kerja Puskesmas Tambak Wedi Kecamatan Kenjeran Kota Surabaya pada bulan Juli 2017. Sampel penelitian yaitu balita usia 12-24 bulan sebanyak 47 balita. Variabel independen yang diteliti adalah karakteristik ibu (usia, pekerjaan, pendidikan dan pendapatan keluarga), pengetahuan ibu tentang gizi, dan asupan makan balita (energi, karbohidrat, protein dan lemak). Variabel dependen yang diteliti adalah status gizi balita (BB/U). Pengumpulan data dilakukan menggunakan metode wawancara dengan kuesioner recall 2x24 jam untuk mengetahui asupan makan balita dan pengukuran berat badan balita.Hasil: Penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar ibu balita memiliki pengetahuan tentang gizi yang baik dengan status gizi balita normal (81,8%) dan yang memiliki pengetahuan kurang dengan status gizi balita tidak normal (92,9%). Hasil uji statistik chi square menunjukkan adanya hubungan antara pengetahuan ibu (p = 0,000), asupan energi (p = 0,008), asupan karbohidrat (p = 0,024) dan asupan protein balita (p = 0,002) dengan status gizi balita (BB/U). Namun, tidak terdapat hubungan antara karakteristik ibu dan asupan lemak balita (p = 0,175) dengan status gizi balita (BB/U).Kesimpulan: Status gizi balita dipengaruhi oleh pengetahuan ibu tentang gizi dan asupan makan balita (energi, karbohidrat dan protein). Oleh karena itu, diperlukan peningkatan pengetahuan ibu tentang gizi melalui penyuluhan dan peningkatan asupan makan balita (energi, karbohidrat dan protein).

Page 9 of 81 | Total Record : 810


Filter by Year

2017 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 9 No. 4 (2025): AMERTA NUTRITION (Bilingual Edition) Vol. 9 No. 3 (2025): AMERTA NUTRITION (Bilingual Edition) Vol. 9 No. 2 (2025): AMERTA NUTRITION (Bilingual Edition) Vol. 9 No. 1 (2025): AMERTA NUTRITION (Bilingual Edition) Vol. 8 No. 3SP (2024): AMERTA NUTRITION SUPPLEMENTARY EDITION Special 4th Amerta Nutrition Conferenc Vol. 8 No. 4 (2024): AMERTA NUTRITION (Bilingual Edition) Vol. 8 No. 3 (2024): AMERTA NUTRITION (Bilingual Edition) Vol. 8 No. 2SP (2024): AMERTA NUTRITION SUPPLEMENTARY EDITION Vol. 8 No. 2 (2024): AMERTA NUTRITION (Bilingual Edition) Vol. 8 No. 1SP (2024): AMERTA NUTRITION SUPPLEMENTARY EDITION Vol. 8 No. 1 (2024): AMERTA NUTRITION (Bilingual Edition) Vol. 7 No. 2SP (2023): AMERTA NUTRITION SUPPLEMENTARY EDITION Special 3rd Amerta Nutrition Conferenc Vol. 7 No. 4 (2023): AMERTA NUTRITION (Bilingual Edition) Vol. 7 No. 3SP (2023): AMERTA NUTRITION SUPPLEMENTARY EDITION Vol. 7 No. 3 (2023): AMERTA NUTRITION (Bilingual Edition) Vol. 7 No. 2 (2023): AMERTA NUTRITION (Bilingual Edition) Vol. 7 No. 1SP (2023): AMERTA NUTRITION SUPPLEMENTARY EDITION Big Data Seminar Vol. 7 No. 1 (2023): AMERTA NUTRITION (Bilingual Edition) Vol. 6 No. 1SP (2022): AMERTA NUTRITION SUPPLEMENTARY EDITION Special 2nd Amerta Nutrition Conferenc Vol. 6 No. 4 (2022): AMERTA NUTRITION Vol. 6 No. 3 (2022): AMERTA NUTRITION Vol. 6 No. 2 (2022): AMERTA NUTRITION Vol. 6 No. 1 (2022): AMERTA NUTRITION Vol. 5 No. 4 (2021): AMERTA NUTRITION Vol. 5 No. 3 (2021): AMERTA NUTRITION Vol. 5 No. 2 (2021): AMERTA NUTRITION Vol. 5 No. 2SP (2021): AMERTA NUTRITION SUPPLEMENTARY EDITION Vol. 5 No. 1 (2021): AMERTA NUTRITION Vol. 5 No. 1SP (2021): AMERTA NUTRITION SUPPLEMENTARY EDITION Vol. 4 No. 4 (2020): AMERTA NUTRITION Vol. 4 No. 3 (2020): AMERTA NUTRITION Vol. 4 No. 2 (2020): AMERTA NUTRITION Vol. 4 No. 1 (2020): AMERTA NUTRITION Vol. 4 No. 1SP (2020): AMERTA NUTRITION SUPPLEMENTARY EDITION Vol. 3 No. 4 (2019): AMERTA NUTRITION Vol. 3 No. 3 (2019): AMERTA NUTRITION Vol. 3 No. 2 (2019): AMERTA NUTRITION Vol. 3 No. 1 (2019): AMERTA NUTRITION Vol. 2 No. 4 (2018): AMERTA NUTRITION Vol. 2 No. 3 (2018): AMERTA NUTRITION Vol. 2 No. 2 (2018): AMERTA NUTRITION Vol. 2 No. 1 (2018): AMERTA NUTRITION Vol. 1 No. 4 (2017): AMERTA NUTRITION Vol. 1 No. 3 (2017): AMERTA NUTRITION Vol. 1 No. 2 (2017): AMERTA NUTRITION Vol. 1 No. 1 (2017): AMERTA NUTRITION More Issue