cover
Contact Name
Trias Mahmudiono, SKM., MPH (Nutr), GCAS., PhD
Contact Email
amertanutr@fkm.unair.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
amertanutr@fkm.unair.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Amerta Nutrition
Published by Universitas Airlangga
ISSN : 25801163     EISSN : 25809776     DOI : -
Core Subject : Health, Education,
Amerta Nutrition (p-ISSN:2580-1163; e-ISSN: 2580-9776) is a peer reviewed open access scientific journal published by Universitas Airlangga. The scope for Amerta Nutrition include: public health nutrition, community nutrition, clinical nutrition, dietetics, food science and food service management. Each volume of Amerta Nutrition is counted in each calendar year that consist of 4 issues. Amerta Nutrition is published four times per year every March, June, September, and December.
Arjuna Subject : -
Articles 810 Documents
Higiene Sanitasi Dan Kandungan Pewarna Berbahaya Pada Keripik Pisang (Studi Pada Industri Rumah Tangga Keripik Pisang Di Kecamatan X Kabupaten Y) Denah Setya Imansari; Anita Dewi Moelyaningrum; Prehatin Trirahayu Ningrum
Amerta Nutrition Vol. 2 No. 1 (2018): AMERTA NUTRITION
Publisher : Universitas Airlangga, Kampus C, Mulyorejo, Surabaya-60115, East Java, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (520.103 KB) | DOI: 10.20473/amnt.v2i1.2018.1-9

Abstract

Background: many cases of poisoning or disease caused by less safety of food consumption, less applying of hygiene sanitation, and the use of dangerous chemical substances which are used as food additives in banana chips.Objective: this research was done to review the hygiene sanitation in producing banana chips and the content of dangerous dyes in banana chips in x district y regency.Methods: the method used in this research was descriptive with interview, observation, and laboratory test. The sample number was the total of population of three banana chips factories with 40 employees and 6 samples of banana chips which are divided into salty and sweet banana chips.Results: the result showed that three factories (100%) had fair hygiene sanitation with the owner’s knowledge related to dye additives (100%) was fair, 1 factory (33%) had fair personal hygiene, and 2 factories (67%) had less personal hygiene. The dyes additives analysis result of all banana chips samples was positive of Ponceau.Conclusion: two banana chips factories have not been applied appropriate personal hygiene and three factories have banned dye additives to be used.ABSTRAKLatar Belakang: Banyak kasus keracunan atau timbulnya penyakit karena konsumsi makanan yang keamanannya tidak terjamin, penerapan higiene sanitasi yang kurang dan penggunaan bahan kimia berbahaya seperti pewarna berbahaya yang digunakan sebagai pewarna pada keripik pisang.Tujuan: mengkaji higiene sanitasi pengolahan keripik pisang dan kandungan zat pewarna berbahaya pada keripik pisang di Kecamatan X Kabupaten Y.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pengumpulan data secara wawancara, observasi, dan uji laboratorium. Jumlah sampel merupakan total populasi sebanyak tiga industri keripik pisang dengan pekerja 40 orang dan jumlah sampel keripik pisang sebanyak 6 sampel yang dibedakan menjadi 2 yaitu keripik pisang asin dan keripik pisang manis.Hasil: Hasil menunjukkan bahwa tiga industri memiliki higiene sanitasi cukup (100%) dan pengetahuan pemilik terkait Bahan Tambahan Pewarna cukup (100%), serta satu industri (33%) memiliki higiene penjamah cukup dan dua industri (67%) memiliki higiene penjamah kurang. Analisa pewarna semua sampel keripik pisang positif Ponceau.Kesimpulan: Dua industri keripik pisang masih belum menerapkan higiene penjamah yang baik dan ketiga industri menggunakan pewarna ponceau.
Pengaruh Pendidikan Gizi Terhadap Pengetahuan, Sikap Dan Perilaku Konsumsi Pangan Isoflavon Pada Mahasiswi Pre-Menstrual Syndrome Dhiflatul Frista Anani; Trias Mahmudiono
Amerta Nutrition Vol. 2 No. 2 (2018): AMERTA NUTRITION
Publisher : Universitas Airlangga, Kampus C, Mulyorejo, Surabaya-60115, East Java, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (44.485 KB) | DOI: 10.20473/amnt.v2i2.2018.136-146

Abstract

Background: The age group susceptible to symptoms of Pre-Menstrual Syndrome begins in the early stages of puberty and ends at the menopause stage.The pathophysiology of Pre-Menstrual Syndrome is due to an imbalance of estrogen and progesterone hormones. One of the balancers of both hormones is the consumption of isoflavone food because the structure and its properties resemble estrogen.Objectives: The Purpose of this study was to analyzed the effect of nutritional education on the knowledge, attitude and behavior high food consumption of isoflavone content among female pre-menstrual syndrome.Method: The study was quasy experiment with pre- post control group design. The design of this research was the provision of nutrition education four times for 1 month with duration of each meeting 60 minutes and the provision of soy milk every meeting. The sample technique using simple random sampling total 38 respondents divided into 2 groups (treatment and control group). Preliminary screening to assess PMS using the Shortened Pramenstrual Assessment Form (SPAF) questionnaire. Dependent variable was knowledge, attitude and consumption behavior of isoflavone food, while independent variable was nutrition education.The analysis was performed using Independent t-test.Result: After nutrition education there was significant difference of knowledge and attitude level between treatment and control group respectively p value 0.039 and 0.022. In addition, there were also differences in high food consumption behavior of isoflavone content. The majority of food types are often consumed including: fried tempeh (p = 0.044), tofu (p = 0.036), garlic (p = 0.014) ice soybean milk (p = 0.044) and soybean milk (p = 0.004).Conclusion: Provision of nutrition education to the treatment group can change knowledge, attitude and behavior of high food consumption of isoflavone content, with the existence of increasing consumption behavior, than pre-menstrual syndrome symptoms at student of FKM UNAIR decreased slowly. Although not all types of foods high levels of isoflavones consumed by respondents due to limited time research.ABSTRAKLatar belakang: Kelompok umur yang rentan mengalami gejala Pre-Menstrual Syndrome dimulai pada tahap awal pubertas dan berakhir pada tahap menopause. Patofisiologi Pre-Menstrual Syndrome terjadi karena ketidakseimbangan hormon estrogen dan progesteron. Salah satu penyeimbang kedua hormon yaitu konsumsi pangan isoflavon karena struktur dan sifatnya menyerupai estrogen.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk untuk menganalisis pengaruh pendidikan gizi terhadap pengetahuan, sikap dan perilakukonsumsi pangan tinggi kadar isoflavon pada mahasiswi dengan premenstrual syndrome.Metode: Penelitian ini merupakan penelitianquasi experiment dengan pendekatan pre-post control group design. Rancang bangun penelitian ini yaitu pemberian intervensi pendidikan gizi 4x pertemuan selama 1 bulan dengan durasi masing-masing pertemuan 60 menit dan pemberian susu kedelai setiap pertemuan. Tehnik sampel menggunakan simple random sampling total 38 responden dibagi menjadi 2 kelompok (kelompok perlakuan dan kontrol). Skrining awal untuk menilai PMSmenggunakan kuesioner Shortened Pramenstrual Assessment Form (SPAF). Variabel dependen adalah pengetahuan, sikap dan perilaku konsumsi pangan isoflavon, sedangkan variabel independen pendidikan gizi. Analisis yang dilakukan menggunakan uji t Independent.Hasil: Setelah diberikan pendidikan gizi terdapat perbedaan signifkan tingkat pegetahuan dan sikap antara kelompok perlakuan dan kontrol dengan nilai p masing-masing 0,039 dan 0,022. Selain itu juga terdapat perbedaan perilaku konsumsi pangan tinggi kadar isoflavon mayoritas jenis makanan sering dikonsumsi meliputi:tempe goreng (p=0,044), tahu (p=0,036), bawang putih (p=0,014) es susu kedelai (p=0,044) dan susu kedelai (p=0,004).Kesimpulan: Pemberian intervensi pendidikan gizi kepada kelompok perlakuan dapat merubah pengetahuan, sikap dan perilaku konsumsi pangan tinggi kadar isoflavon, dengan adanya perilaku konsumsi yang meningkat, maka gejala pre-menstrual syndrome pada mahasiswi FKM UNAIR juga menurun secara perlahan. Walaupun belum semua jenis makanan yang tinggi kadar isoflavon dikonsumsi oleh responden dikarenakan keterbatasan waktu penelitian.
Hubungan Konsumsi Sumber Pangan Enhancer Dan Inhibitor Zat Besi Dengan Kejadian Anemia Pada Ibu Hamil Rachmahnia Pratiwi; Dhenok Widari
Amerta Nutrition Vol. 2 No. 3 (2018): AMERTA NUTRITION
Publisher : Universitas Airlangga, Kampus C, Mulyorejo, Surabaya-60115, East Java, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (7.083 KB) | DOI: 10.20473/amnt.v2i3.2018.283-291

Abstract

Background: One of the important nutrients for pregnant women is iron. Iron absorption can be increased by consuming iron enhancers food source and reducing the intake of iron inhibitor food sources. Inhibited iron absorption will lead to anemia and can have adverse effects on pregnancy and fetal conditions.Objectives: The purpose of this study was to analyzed the consumption habits of iron enhancers and inhibitors food sources associated with the incidence of anemia in pregnant women.Methods: This research was an observational analytic study with cross sectional design included 43 third trimester pregnant women in Pajarakan Sub-district Probolinggo District, the sample was taken by simple random sampling method. Data were collected using Food Frequency Questionnaire (FFQ) and measurement of Hb level by performing laboratory examination using Cyanmethemoglobin method, then the data analyzed by using spearman correlation test.Results: The results showed mean of hemoglobin level in pregnant women is 11.21±1.07 g/dl. The most of third trimester Pregnant Women rarely consume food source of iron enhancer (60,5%) and rarely consume food source of iron inhibitor (39,5%), and respondents who have anemia high enogh (41.9%). There was no correlation between consumption habits of food source of iron enhancer with the occurrence of anemia (p= 0.420). There was strong relation between consumption habit of food source of iron inhibitor with the incidence of anemia in pregnant mother of the third trimester (p=0.005; r=0.424).Conclusion: Food consumption habits of iron inhibitors contribute to the incidence of anemia in third trimester pregnant women so the mother is advised to reduce the consumption of food sources of iron inhibitors to minimize the occurrence of anemia. ABSTRAKLatar belakang: Salah satu zat gizi yang penting bagi ibu hamil adalah zat besi. Penyerapan zat besi dapat ditingkatkan dengan mengkonsumsi sumber pangan enhancer dan mengurangi asupan sumber pangan inhibitor. Terhambatnya penyerapan zat besi meningkatkan risiko anemia yang dapat berakibat buruk bagi kondisi kehamilan dan janin.Tujuan: Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis kebiasaan konsumsi sumber pangan enhancer dan inhibitor zat besi yang berhubungan dengan kejadian anemia pada ibu hamil.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan desain cross sectional pada 43 ibu hamil trimester III di Kecamatan Pajarakan Kabupaten Probolinggo, sampel diambil dengan metode simple random sampling. Pengumpulan data menggunakan Food Frequency Questionnaire (FFQ) dan pengukuran kadar Hb menggunakan uji laboratorium menggunakan metode Cyanmethemoglobin, kemudian data di analisis menggunakan uji korelasi spearman.Hasil: Hasil penelitian menunjukkan rata-rata kadar hemoglobin pada ibu hamil adalah 11.21 ± 1.07 g/dl. Sebagian besar Ibu Hamil Trimester III jarang mengkonsumsi sumber pangan enhancer zat besi (60,5%) dan jarang mengkonsumsi inhibitor zat besi (39,5%), serta responden yang mengalami anemia juga cukup tinggi (41,9%). Tidak terdapat hubungan antara kebiasaan konsumsi sumber pangan enhancer zat besi dengan kejadian anemia (p= 0.420). Terdapat hubungan cukup kuat antara  kebiasaan konsumsi sumber pangan inhibitor zat besi dengan kejadian anemia pada ibu hamil trimester III (p= 0.005; r=0.424).Kesimpulan: Kebiasaan konsumsi sumber pangan inhibitor zat besi berkontribusi terhadap kejadian anemia pada ibu hamil trimester III sehingga ibu disarankan mengurangi konsumsi sumber pangan inhibitor zat besi untuk meminimalisir terjadinya anemia.
Pola Konsumsi Makanan Sumber Yodium dan Goitrogenik dengan GAKY pada Anak Usia Sekolah di Ponorogo Imaniar Mahdiya Izati; Trias Mahmudiono
Amerta Nutrition Vol. 1 No. 2 (2017): AMERTA NUTRITION
Publisher : Universitas Airlangga, Kampus C, Mulyorejo, Surabaya-60115, East Java, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (880.254 KB) | DOI: 10.20473/amnt.v1i2.2017.88-97

Abstract

 Background: Iodine deficiency disorders (IDD) is one of nutritional problem in Indonesia. Inadequate intake of iodine and excessive goitrogenic intake is are main cause of IDD. Objectives: This study aimed to determine factors associated with IDD among schoolchildren. Methods: This study was an observational analytic with case control design in Sidoharjo Village, Jambon Sub District, Ponorogo on May 2017. The sample was 62 students from the first – sixth grade of SDN IV Krebet. They are consist of 31 students suffer IDD and 31 students with non IDD measured from goiter palpation. The data was collected by interview using questionnaire, iodine and goitrogenic consumption using FFQ. Data were analyzed by using chi square, fisher exact, spearman correlation and logistic regression. Results: Dietary iodine source that are rarely consumed is seafood (79,03%). Dietary goitrogenic source that are often consumed is tiwul (48,39%). Logistic regression analysis showed that seafood intake is the most influence factor of IDD (p= 0,011). Conclusion: There was a relation between iodine intake and goitrogenic intake with IDD among school children. Meanwhile, there is no association between characteristic of family with IDD among school children.ABSTRAK Latar Belakang: Gangguan Akibat Kekurangan Yodium (GAKY) merupakan salah satu masalah yang ada di Indonesia hingga saat ini. Rendahnya asupan yodium dan tingginya konsumsi sumber goitrogenik adalah penyebab terjadinya GAKY.Tujuan: Untuk mengetahui faktor yang berhubungan terhadap kejadian GAKY pada anak usia sekolah.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan desain case control dan dilakukan di Desa Sidoharjo, Kecamatan Jambon, Kabupaten Ponorogo pada bulan Mei 2017. Sampel penelitian ini yaitu siswa SDN IV Krebet dari kelas I-VI yang terdiri dari 62 siswa dimana 31 siswa menderita GAKY dan 31 siswa tidak menderita GAKY yang didapatkan dari hasil pemerikasaan palpasi. Pengumpulan data dilakukan menggunakan metode wawancara dengan kuesioner dan FFQ untuk mengetahui pola konsumsi makanan sumber yodium serta goitrogenik. Data dianalisis menggunakan chi square, fisher exact, korelasi spearman dan regresi logistik.Hasil: Makanan sumber yodium yang jarang dikonsumsi oleh responden adalah ikan laut (79,03%). Sedangkan makanan sumber goitrogenik yang sering dikonsumsi oleh responden adalah tiwul (48,39%). Hasil uji regresi logistik menunjukkan bahwa faktor yang paling berpengaruh terhadap kejadian GAKY yaitu pola konsumsi ikan laut (p= 0,011).Kesimpulan: Terdapat hubungan antara pola konsumsi ikan laut, pola konsumsi telur dan pola konsumsi tiwul dengan kejadian GAKY. Sebaliknya tidak terdapat hubungan antara karakteristik keluarga dengan kejadian GAKY.  
Peran Ibu sebagai Edukator dan Konsumsi Sayur Buah pada Anak Putri Atika Afif; Sri Sumarmi
Amerta Nutrition Vol. 1 No. 3 (2017): AMERTA NUTRITION
Publisher : Universitas Airlangga, Kampus C, Mulyorejo, Surabaya-60115, East Java, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (723.15 KB) | DOI: 10.20473/amnt.v1i3.2017.236-242

Abstract

Background : The consumption of vegetable and fruit among school age children is inadequate and below WHO recommendation (400gr/day).There are many important factors influence the children’s consumption of vegetable and fruit such as mother’s role and fruit and vegetable stock in household. Objectives: To analyze the relationship between mother’s role and fruit and vegetable stock in household with the children’s consumption level of fruit and vegetable. Method : Research with cross sectional method was conducted in SDN Kandang Tepus 01 and SDN Kandang Tepus 02 Senduro  village, Lumajang regency with sample 41 children grade 4 and 5 with their mother. Variable that observed in this research are mother’s role as educator and inisiator  of vegetable and fruit stock in home and the children consumption of vegetable and fruit. Data was collected with interview using questionnaire instrument and semi quantitative  food frequency . Result : Children who consume vegetable and fruit based on WHO recommendation 400 gr/day was 17.1%. Chi-square test showed that there was relathionship between mother’s role as educator (p-value = 0.014) and stock of vegetable and fruit in household (p-value = 0.003) with the children’s consumption of vegetable and fruit (p-value = 0.028). But there was no relationship between mother’s role as initiator with children’s consumption of vegetable and fruit. Conclusion: Mother’s role as educator related to children’s consumption of vegetable and fruit because its depend on stock of fruit and vegetable in household.ABSTRAK Latar Belakang: Konsumsi sayur dan buah pada anak usia sekolah masih tergolong rendah dan belum memenuhi anjuran WHO sebesar 400 gr/hari. Banyak faktor yang mempengaruhi konsumsi sayur buah pada anak, terutama terkait peran ibu dan ketersediaan sayur buah di rumah.Tujuan: Menganalisis hubungan peran ibu dan ketersediaan sayur buah di rumah dengan tingkat konsumsi sayur buah pada anak usia sekolah.Metode: Penelitian dengan desain cross sectional dilakukan di SDN Kandang Tepus 01 dan SDN Kandang Tepus 02 Desa Senduro Kabupaten Lumajang dengan jumlah sampel 41 anak kelas 4 dan 5 beserta ibu. Variabel yang diamati dalam penelitian ini adalah peran ibu sebagai edukator dan inisiator untuk buah dan sayur, ketersediaan sayur dan buah di rumah dan konsumsi sayur dan buah pada anak. Pengumpulan data dilakukan dengan metode wawancara dengan instrumen kuesioner dan food frequency semi kuantitatif.Hasil: Besar presentase anak yang mengonsumsi sayur buah sesuai anjuran 400 gr/hari yaitu 17,1% dari 41 anak. Hasil uji chi-square menunjukkan ada hubungan antara peran ibu sebagai edukator (p-value = 0,014) dan ketersediaan sayur buah di rumah (p-value = 0,003) dengan konsumsi sayur buah pada anak. Ada hubungan peran ibu sebagai edukator dengan ketersediaan sayur buah di rumah (p-value = 0,028). Namun tidak ada hubungan antar peran ibu sebagai inisiator dengan konsumsi sayur buah pada anak.Kesimpulan: Peran ibu sebagai edukator berhubungan dengan konsumsi sayur buah pada anak karena terkait dengan penyediaan sayur dan buah di rumah.
Hubungan Anemia Dengan Prestasi Belajar Siswi Di SMP Unggulan Bina Insani Pratiwi Retno Ayu Dumilah; Sri Sumarmi
Amerta Nutrition Vol. 1 No. 4 (2017): AMERTA NUTRITION
Publisher : Universitas Airlangga, Kampus C, Mulyorejo, Surabaya-60115, East Java, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (723.819 KB) | DOI: 10.20473/amnt.v1i4.2017.331-340

Abstract

Background: Anaemia is one of the nutritional problems that still occur in the community. Teenagers especially adolescent girls are one of the groups who are susceptible to anaemia. The causes of anaemia in adolescents include low intake of nutrients especially iron, menstrual patterns, worm infections, malaria, genetic diseases, and others. Anaemia in adolescents causes decreased levels of fitness, immune, memory, and concentration. Low concentration power causes decreased learning ability and will affect adolescent learning achievement. Objectives: The purpose of this study was to analyze the rel ationship between anaemia with student achievement in Unggulan Bina Insani Junior High School. Methods: The design used in this study was cross sectional with a sample size of 56 female students. Data collection was conducted by interview using questionnaires for the characteristics of parents, characteristics of female students and menstrual pattern. Hb levels obtained from blood collection in veins, then analyzed by cyanmethemoglobin method. Average number of grades received by the school. Statistical test used were chi square and eta correlation. Results: The results showed students who suffered anemia as much as 21.4%. Most girls had normal menstruation, regular cycles, and entering menstrual period at the age of ≥12 years. There was a relationship between menstrual pattern with anaemia (p=0.026). The results also showed anaemia relationship with student achievement (p=0.042). Conclusions: Students without anaemia will have an increased learning achievement. However, it should be noted also other factors that affect anaemia and student achievement such as nutrition intake, knowledge, environment, motivation and learning. ABSTRAK Latar Belakang: Anemia merupakan salah satu masalah gizi yang masih terjadi di masyarakat. Remaja khususnya remaja putri merupakan salah satu kelompok yang rentan menderita anemia. Penyebab anemia pada remaja diantaranya asupan zat gizi yang rendah terutama zat besi, pola menstruasi, infeksi cacing, penyakit malaria, genetik, dan lainnya. Anemia pada remaja menyebabkan penurunan tingkat kebugaran, daya imun, daya ingat, dan daya konsentrasi. Daya konsentrasi yang rendah menyebabkan kemampuan belajar menurun dan akan mempengaruhi prestasi belajar remaja.Tujuan: Tujuan penelitian ini adalah menganalisis hubungan antara anemia dengan prestasi belajar siswi di SMP Unggulan Bina Insani.Metode: Desain yang digunakan pada penelitian ini adalah cross sectional dengan sampel sebesar 56 siswi. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara menggunakan kuesioner untuk karakteristik orang tua, karakteristik siswi dan pola menstruasi. Kadar Hb diperoleh dari pengambilan darah pada pembuluh darah vena, kemudian dianalisis dengan metode cyanmethemoglobin. Rata-rata jumlah nilai mata pelajaran yang diperoleh dari pihak sekolah. Uji statistik yang digunakan adalah chi square dan korelasi eta.Hasil: Hasil penelitian menunjukkan siswi yang menderita anemia sebanyak 21,4%. Sebagian besar siswi memiliki lama menstruasi normal, siklus yang teratur, dan memasuki masa menstruasi pada usia ≥12 tahun. Terdapat hubungan antara lama menstruasi dengan anemia (p=0,026). Hasil penelitian juga menunjukkan adanya hubungan anemia dengan prestasi belajar siswi (p=0,042).Kesimpulan: Siswi yang tidak mengalami anemia akan memiliki prestasi belajar yang meningkat. Akan tetapi, perlu diperhatikan pula faktor lain yang mempengaruhi anemia dan prestasi belajar siswi seperti asupan zat gizi, pengetahuan, lingkungan, motivasi dan cara belajar.
Hubungan Antara Asupan Zat Gizi Makro dan Status Gizi dengan Kebugaran Jasmani Mahasiswa UKM Taekwondo Intan Galih Cornia; Merryana Adriani
Amerta Nutrition Vol. 2 No. 1 (2018): AMERTA NUTRITION
Publisher : Universitas Airlangga, Kampus C, Mulyorejo, Surabaya-60115, East Java, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (710.463 KB) | DOI: 10.20473/amnt.v2i1.2018.90-96

Abstract

Background: Taekwondo is a physical activity or body movement that is conducted repeatedly with muscles as the most active organ. The problems that occurs to the athletes is the poor-organized consumption pattern, thus they lack of nutritional intake. The good nutritional intake is obtained from the sufficient nutritional intake so that the physical fitness becomes better. Meanwhile, young adults require sufficient nutritional intake so that their physical fitness can be better.Objective: This research aimed to analyze the relationship between the nutritional intake and nutrition status with the physical fitness of the university students joining the student activity unit of taekwondo in Universitas Airlangga Surabaya.Methods: This research was the analytical research with the cross-sectional design. The sample of the research was as many as 52 people who were acquired by utilizing the simple random sampling. The data collection included nutritional status by measuring the weight and height to figure out the Body Mass Index (BMI) and 2x24 hours food recall to understand the food intake.Results: The result demonstrated that there was a relationship between the nutritional status (p=0.014) and the intake of energy, protein, carbohydrate, and fat (p=0.05) had no relationship with the physical fitness.Conclusions: It could that the nutritional status was related to the physical fitness. The respondents who had normal nutrition status obtained the good physical fitness. There should be the addition of information regarding the nutrients to obtain the good nutritional status.ABSTRAKLatar Belakang: Taekwondo merupakan aktivitas fisik atau gerakan anggota tubuh yang dilakukan secara berulang dan organ yang paling aktif yaitu otot. Permasalah yang sering terjadi pada olahragawan yaitu suka konsumsi makanan yang tidak teratur sehingga asupan gizinya kurang tercukupi. Asupan gizi yang baik diperoleh dari asupan gizi yang cukup sehingga kebugaran jasmaninya baik.Tujuan: Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis hubungan antara asupan zat gizi makro dan status gizi dengan kebugaran jasmani mahasiswa UKM taekwondo.Metode: Penelitian ini menggunakan desain studi cross sectional dengan jumlah sampel 52 orang, diambil secara acak sederhana menggunakan simple random sampling. Pengumpulan data meliputi status gizi dengan cara penimbangan berat dan pengukuran tinggi badan untuk mengetahui Indeks Massa Tubuh (IMT), food recall 2x24 untuk mengetahui asupan makannya dan tes balke untuk kebugaran jasmani. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis univariat dan bivariat dengan menggunakan kolerasi pearson.Hasil: Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan antara status gizi (p=0,014) dengan kebugaran jasmani sedangkan asupan energi, protein, karbohidrat dan lemak (P=0,05) tidak terdapat hubungan dengan kebugaran jasmani.Kesimpulan: Status gizi berhubungan dengan kebugaran jasmani. Responden yang memiliki status gizi normal cenderung memiliki kebugaran jasmani yang baik. Perlu dilakukan penambahan informasi terkait zat gizi agar tercipta status gizi yang baik.
Keragaman Pangan dengan Status Kadarzi Keluarga di Wilayah Kerja Posyandu Sidotopo, Surabaya Samara Ika Soegeng Prakoso; Bibit Mulyana
Amerta Nutrition Vol. 2 No. 3 (2018): AMERTA NUTRITION
Publisher : Universitas Airlangga, Kampus C, Mulyorejo, Surabaya-60115, East Java, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (878.274 KB) | DOI: 10.20473/amnt.v2i3.2018.219-227

Abstract

Background: Indonesia still facing some nutritional problems that hinder its economics development. The government itself has an effort to tackle nutritional problems by establishing  a program known as Keluarga Sadar Gizi (Kadarzi). The family expected to understand and overcome the nutritional problems affecting its members. One of Kadarzi’s five indicator is dietary diversity. Dietary divesity can reflected dietary quality. Therefore, dietary diversity assessment is influential to improve dietary quality. Objectives: The purpose of this study was to analyze the differences in dietary diversity scores among Kadarzi household. Method: The design of the study was cross sectional. Number of sample were 34 mothers who registered in Posyandu settled in Kelurahan Sidotopo, Kecamatan Semampir, Kota Surabaya. Samples were selected using simple random sampling technique. Kadarzi data were collected from KMS book. Dietary diversity was assessed using Individual Dietary Diversity Score (IDDS). The data were analyzed using independent T-test. Result: The result showed that most families were not meeting Kadarzi’s indicator (73%). There were 32.4% family categorized as low dietary diversity, 47.1% family categorized as medium dietary diversity, and 20.6% family categorized as high dietary diversity. There were a difference of dietary diversity score beetwen Kadarzi’s household nor Kadarzi’s household (p<0.001). In Kadarzi’s household the consumption of dark green leafy vegetables, other vitamin A rich fruits and vegetables, anf other fruits and vegetables are higher than non Kadarzi’s household. Conclusions: There was a significant difference in dietary diversity score beetwen Kadarzi’s household and nor Kadarzi’s household. The importance of eating diverse and some references of affordable food choice to meet dietary diversity were needed to share.ABSTRAKLatar belakang: Indonesia masih menghadapi beberapa masalah gizi yang menghambat perkembangan ekonomi. Namun pemerintah memiliki suatu upaya untuk mengatasi permasalahan gizi tersebut dengan membentuk program Keluarga Sadar Gizi (Kadarzi). Pada program ini keluarga diharapkan mampu mengerti dan mengatasi permasalahan gizi anggotanya. Salah dari lima perilaku Kadarzi adalah makan beragam. Makan beragam merupakan salah satu perilaku yang dapat menggambarkan kualitas diet individu. Oleh karena itu penilaian keragaman pangan perlu diketahui untuk mengetahui dan meningkatkan kualitas diet individu. Tujuan: Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis perbedaan skor keragaman pangan pada keluarga sadar gizi. Metode: Penelitian observasional ini disusun dengan rancang bangun cross sectional. Sejumlah 34 sampel yang merupakan ibu balita yang terdaftar di Posyandu di wilayah Kelurahan Sidotopo, Kecamatan Semampir, Kota Surabaya dipilih menggunakan teknik simple random sampling. Data Kadarzi didapatkan dari observasi kartu menuju sehat (KMS). Keragaman pangan dinilai menggunakan instrumen Individual Dietary Diversity Score (IDDS). Data dianalisis menggunakan independent T-test. Hasil: Sebagian besar keluarga masih belum menerapkan perilaku Kadarzi (73%). Sebanyak 32,4% keluarga termasuk dalam kategori skor keragaman pangan rendah, 47,1% dalam kategori sedang, dan 20,6% dalam kategori tinggi. Terdapat perbedaan skor keragaman pangan antara keluarga yang menerapkan perilaku Kadarzi dan tidak menerapkan perilaku Kadarzi (p<0,001). Pada keluarga yang menerapkan perilaku Kadarzi konsumsi sayuran hijau, sayur dan buah vitamin A, sayur dan buah yang lain lebih tinggi daripada keluarga yang tidak menerapkan Kadarzi. Kesimpulan: Terdapat perbedaan skor keragaman pangan antara keluarga yang menerapkan perilaku Kadarzi dan tidak menerapkan perilaku Kadarzi. Diperlukan pemaparan informasi lebih lanjut mengenai pentingnya makan beragam dan pemilihan makanan yang terjangkau untuk dapat memenuhi konsumsi makan beragam.
Front Matter Vol 1 No 4 Front Matter Vol 1 No 4
Amerta Nutrition Vol. 1 No. 4 (2017): AMERTA NUTRITION
Publisher : Universitas Airlangga, Kampus C, Mulyorejo, Surabaya-60115, East Java, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (349.284 KB) | DOI: 10.20473/amnt.v1i4.2017.%p

Abstract

Perbedaan Asupan Energi, Protein, Zink, dan Perkembangan pada Balita Stunting dan non Stunting Farahiyah Yusni Adani; Triska Susila Nindya
Amerta Nutrition Vol. 1 No. 2 (2017): AMERTA NUTRITION
Publisher : Universitas Airlangga, Kampus C, Mulyorejo, Surabaya-60115, East Java, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (724.26 KB) | DOI: 10.20473/amnt.v1i2.2017.46-51

Abstract

 Background: Stunting is a nutritional problem caused by inadequate nutrition intake for  a long time and/or recurrent infectious diseases. The impacts of stunting are increase mortality,  morbidity,  health costs, decrease cognitive development, motor, and language development.There are nutrients that important to linear growth as energy, protein, and zinc. Objectives: The purpose of this study was to analyze the differences of intake of the energy, protein, Zinc, development in stunting and non-stunting toddler. Methods: The research was a cross sectional study with quantitative approach. The sample size was 64 toddler in Manyar Sabrangan Sub-district, Surabaya, 32 toddler each stunting and non-stunting were taken by simple random sampling. The data were collected by measuring height, structure questionnaire, food recall 2x24 hours, questionnaire for screening development (KPSP). The data were analyzed using Chi Square Test. Results: Non-stunting toddlers have an adequate intake of energy, protein, zinc respectively 71,9%, 93,7%, 71,9%, meanwhile appropriate development was 75%. Stunting toddlers have an inadequate intake of energy, zinc respectively 68,7%, 65,6% and adequate intake of protein was 68,7%, meanwhile deviance development was 62,5%. The results of this study showed that the comparison of differences between stunting and non-stunting toddler were significant (≤0,05) in energy, protein, Zinc, and development. Conclusion: Non-stunting toddler have a higher intake of the energy, protein, Zinc, and development rather than stunting toddler. Mother of toddler should to increase intake of energy, protein, Zinc to prevent stunting and achieve appropriate development.ABSTRAK Latar belakang: Stunting adalah permasalahan gizi yang disebabkan oleh asupan zat gizi yang kurang dalam waktu lama dan/atau penyakit infeksi yang berulang. Terdapat beberapa zat gizi yang berperan dalam pertumbuhan linier. Salah satu zat gizi tersebut adalah energi, protein, dan zink. Dampak stunting dapat meningkatkan mortalitas, morbiditas, biaya kesehatan, menurunkan perkembangan kognitif, motorik, dan bahasa.Tujuan: Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis perbedaan asupan energi, protein, Zink, dan perkembangan pada balita stunting dan non stunting.Metode: Penelian ini menggunakan studi cross sectional dengan pendekatan kuantitatif. Sampel terdiri dari 64 balita yang di Kelurahan Manyar Sabrangan Surabaya, balita stunting dan non-stunting masing-masing berjumlah 32. Pengumpulan data menggunakan pengukuran tinggi badan, food recall 2x24 jam, kuesioner pra skrining perkembangan (KPSP) ,dan kuesioner. Data dianalisis menggunakan chi square Tets.Hasil: Balita non-stunting mempunyai asupan energi, protein, zink adekuat yaitu 71,9%, 93,7%, dan 71,9% serta perkembangan sesuai yaitu 75%. Balita stunting mempunyai asupan energi, zink inadekuat yaitu 68,7%, 65,6% dan protein adekuat yaitu 68,7% serta perkembangan menyimpang yaitu 62,5%. Hasil dari penelitian menunjukkan perbandingan balita stunting dan non stunting adalah ada perbedaan signifikan (p≤0,05) pada energi, protein, Zink, dan perkembangan.Kesimpulan: Balita non-stunting mempunyai asupan energi, protein, Fe, Zink yang tinggi dan stimulasi psikososial serta perkembangan yang baik daripada balita stunting. Ibu balita harus meningkatkan asupan energi, protein, Zink agar dapat mencegah terjadinya stunting dan dapat mencapai perkembangan yang sesuai.

Page 7 of 81 | Total Record : 810


Filter by Year

2017 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 9 No. 4 (2025): AMERTA NUTRITION (Bilingual Edition) Vol. 9 No. 3 (2025): AMERTA NUTRITION (Bilingual Edition) Vol. 9 No. 2 (2025): AMERTA NUTRITION (Bilingual Edition) Vol. 9 No. 1 (2025): AMERTA NUTRITION (Bilingual Edition) Vol. 8 No. 3SP (2024): AMERTA NUTRITION SUPPLEMENTARY EDITION Special 4th Amerta Nutrition Conferenc Vol. 8 No. 4 (2024): AMERTA NUTRITION (Bilingual Edition) Vol. 8 No. 3 (2024): AMERTA NUTRITION (Bilingual Edition) Vol. 8 No. 2SP (2024): AMERTA NUTRITION SUPPLEMENTARY EDITION Vol. 8 No. 2 (2024): AMERTA NUTRITION (Bilingual Edition) Vol. 8 No. 1SP (2024): AMERTA NUTRITION SUPPLEMENTARY EDITION Vol. 8 No. 1 (2024): AMERTA NUTRITION (Bilingual Edition) Vol. 7 No. 2SP (2023): AMERTA NUTRITION SUPPLEMENTARY EDITION Special 3rd Amerta Nutrition Conferenc Vol. 7 No. 4 (2023): AMERTA NUTRITION (Bilingual Edition) Vol. 7 No. 3SP (2023): AMERTA NUTRITION SUPPLEMENTARY EDITION Vol. 7 No. 3 (2023): AMERTA NUTRITION (Bilingual Edition) Vol. 7 No. 2 (2023): AMERTA NUTRITION (Bilingual Edition) Vol. 7 No. 1SP (2023): AMERTA NUTRITION SUPPLEMENTARY EDITION Big Data Seminar Vol. 7 No. 1 (2023): AMERTA NUTRITION (Bilingual Edition) Vol. 6 No. 1SP (2022): AMERTA NUTRITION SUPPLEMENTARY EDITION Special 2nd Amerta Nutrition Conferenc Vol. 6 No. 4 (2022): AMERTA NUTRITION Vol. 6 No. 3 (2022): AMERTA NUTRITION Vol. 6 No. 2 (2022): AMERTA NUTRITION Vol. 6 No. 1 (2022): AMERTA NUTRITION Vol. 5 No. 4 (2021): AMERTA NUTRITION Vol. 5 No. 3 (2021): AMERTA NUTRITION Vol. 5 No. 2 (2021): AMERTA NUTRITION Vol. 5 No. 2SP (2021): AMERTA NUTRITION SUPPLEMENTARY EDITION Vol. 5 No. 1 (2021): AMERTA NUTRITION Vol. 5 No. 1SP (2021): AMERTA NUTRITION SUPPLEMENTARY EDITION Vol. 4 No. 4 (2020): AMERTA NUTRITION Vol. 4 No. 3 (2020): AMERTA NUTRITION Vol. 4 No. 2 (2020): AMERTA NUTRITION Vol. 4 No. 1 (2020): AMERTA NUTRITION Vol. 4 No. 1SP (2020): AMERTA NUTRITION SUPPLEMENTARY EDITION Vol. 3 No. 4 (2019): AMERTA NUTRITION Vol. 3 No. 3 (2019): AMERTA NUTRITION Vol. 3 No. 2 (2019): AMERTA NUTRITION Vol. 3 No. 1 (2019): AMERTA NUTRITION Vol. 2 No. 4 (2018): AMERTA NUTRITION Vol. 2 No. 3 (2018): AMERTA NUTRITION Vol. 2 No. 2 (2018): AMERTA NUTRITION Vol. 2 No. 1 (2018): AMERTA NUTRITION Vol. 1 No. 4 (2017): AMERTA NUTRITION Vol. 1 No. 3 (2017): AMERTA NUTRITION Vol. 1 No. 2 (2017): AMERTA NUTRITION Vol. 1 No. 1 (2017): AMERTA NUTRITION More Issue