cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Prosiding Seminar Nasional MIPA
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 140 Documents
Search results for , issue "2015: PROSIDING SEMINAR NASIONAL MIPA UNDIKSHA 2015" : 140 Documents clear
STRUKTUR DAN KEANEKARAGAMAN SPESIES TUMBUHAN DI SEPANJANG PANTAI PEMBUDIDAYAN UDANG DI LAUT LEPAS DESA SANGSIT, KECAMATAN SAWAN, KABUPATEN BULELENG Wijana, Nyoman
Prosiding Seminar Nasional MIPA 2015: PROSIDING SEMINAR NASIONAL MIPA UNDIKSHA 2015
Publisher : Prosiding Seminar Nasional MIPA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui struktur dan keanekaragaman spesies tumbuhan di sepanjang pantai Desa Kerobokan-Desa Sangsit- dan Desa Giri Mas, Kecamatan Sawan,, Kabupaten Buleleng, sebagai batas ekologis dalam usaha pembudidayaan udang di laut lepas. Populasi dalam penelitian ini adalah semua spesies tumbuhan yang ada di dalam vegetasi pantai Desa Kerobokan-Desa Sangsit- dan Desa Giri Mas. Sampel penelitian ini adalah semua spesies tumbuhan yang terkover oleh kuadrat dengan ukuran 10x10 m sebanyak 17 kuadrat. Teknik pengambilan sampelnya adalah dengan teknik sistematik sampling. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kuadrat atau metode survey kayu. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa (1) Komposisi spesies tumbuhan sepanjang pantai Desa Kerobokan-Desa Sangsit, dan Desa Giri Mas adalah sebanyak 21 spesies yang terdiri atas spesies tumbuhan yang bernilai ekonomi, peneduh, keperluan rumah tangga, pakan ternak, dan juga tumbuhan liar; (2) Indeks keanekaragaman spesies rata-rata adalah sebesar 2,3640 yang termasuk ke dalam kategori sedang; dan (3) Kegiatan pembudidayaan udang di laut lepas Desa Sangsit Kecamatan Sawan Kabupaten Buleleng, belum memberikan dampak negatif terhadap vegetasi pantai sebagai batas ekologis dari usaha pembudidayaan udang tersebut.Kata Kunci: Struktur, Keanekaragaman Spesies, Budidaya Udang, Laut Lepas AbstractThe aims of this research was to determine the structure and diversity of plant species along the coast of the Kerobokan Village - Sangsit Village - and Giri Mas Village, Sawan District, Buleleng Regency, as the ecological limits of the cultivation of shrimp on the open seas. The population in this research were all of plant species in the coastal vegetation Kerobokan Village - Sangsit Village - and Giri Mas Village. The samples were all of plant species are excluded by the square with a size of 10x10 m by 17 squares. Sample collection technique is the systematic sampling technique. The method used in this research is the square method or survey timber methods. The results of this research showed that (1) The composition of plant species along the coast of the Kerobokan Village-Sangsit Village-and Giri Mas Village are as many as 21 species consisting of plant species of economic value, shade, household, animal feed, and also wild plants; (2) species diversity index average is equal to 2.3640 which including into the midle category; and (3) shrimp ciltivation activities on the open seas Sangsit Village, District of Sawan, Buleleng regency, not a negative impact on coastal vegetation as the ecological limits of the shrimp cultivation effort.Keywords: Structure, Species Diversity, Shrimp Cultivation, Open Seas
PENERAPAN TEKNIK MIND MAPPING UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR IPA Sarya, I Wayan
Prosiding Seminar Nasional MIPA 2015: PROSIDING SEMINAR NASIONAL MIPA UNDIKSHA 2015
Publisher : Prosiding Seminar Nasional MIPA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Masalah yang diajukan dalam penelitian ini adalah apakah penerapan Mind Mapping dapat meningkatkan Hasil belajar IPA siswa kelas VIIIE Semester 1tahun pelajaran 2015/2016? Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (PTK) dengan subyek penelitian siswa kelas VIIIE pada semester 1 tahun pelajaran 2015/2016 yang berjumlah 29 orang.Data awal Hasil belajar IPA pada pra siklus diperoleh dengan rata-rata 57,93 menunjukkan bahwa kemampuan siswa dalam mata pelajaran IPA masih sangat rendah mengingat kriteria ketuntasan belajar siswa untuk mata pelajaran ini adalah 65. Hasil ini mengalami peningkatan pada siklus I menjadi 62,41 dan pada siklus II 71,90. Dengan telah tercapainya rata-rata Hasil belajar IPA 71,90 berarti sudah diatas taraf keberhasilan yang ditetapkan yaitu 65, sehingga tindakan dianggap berhasil. Dari segi ketuntasan, diperoleh peningkatan yaitu pra siklus 17%, siklus I 55%, dan siklus II 90%. Dengan tercapainya prosentase ketuntasan pada siklus II 90%, telah melampaui taraf keberhasilan yang ditetapkan yaitu 85%, sehingga tindakan dianggap berhasil. Hal ini disebabkan karena model pembelajaran Mind mapping merupakan cara yang paling mudah untuk memasukan informasi ke dalam otak dan untuk kembali mengambil informasi dari dalam otak melalui proses berfikir otak secara teratur karena menggunakan teknik grafis yang berasal dari pemikiran manusia yang bermanfaat untuk menyediakan kunci-kunci universal sehingga membuka potensi otak sehingga Hasil belajarnya meningkat. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa Penerapan teknik Mind mapping dapat meningkatkan hasil belajar IPA siswa kelas VIIIE semester 1 SMP N 1 Manggis tahun pelajaran 2015/2016.Kata Kunci : Hasil Belajar, teknik Mind mapping
IMPLEMENTASI PANDANGAN KI HAJAR DEWANTARA PADA PEMBELAJARAN MATEMATIKA Natalia, I.G.A Kartika
Prosiding Seminar Nasional MIPA 2015: PROSIDING SEMINAR NASIONAL MIPA UNDIKSHA 2015
Publisher : Prosiding Seminar Nasional MIPA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Suwardi Suryaningrat atau yang lebih dikenal dengan nama Ki Hajar Dewantara adalah salah seorang tokoh pendidikan nasional. Beliau mendirikan Perguruan Taman Siswa, untuk mendidik rakyat kecil supaya bisa mandiri. Beliau bercita-cita agar bangsa Indonesia pada masa mendatang memiliki kepribadian nasional dan sanggup membangun masyarakat baru yang bermanfaat bagi kehidupan dan penghidupan bangsa Indonesia. Cara mengajar beliau yang terkenal yaitu menerapkan metodeAmong berarti membimbing anak dengan penuh kecintaan dan lebih mendahulukan kepentingan anak. Dengan demikian anak dapat berkembang menurut kodratnya. Adapun hubungan murid dan pamong seperti keluarga. Cara mengajar dan mendidik dengan menggunakan dengan semboyan Tut Wuri Handayani mengandung arti mendorong anak didik untuk membiasakan diri mencari dan belajar sendiri. Mengemong (anak) berarti membimbing, memberi kebebasan anak bergerak menurut kemauannya. Guru atau pamong mengikuti dari belakang dan memberi pengaruh, bertugas mengamati dengan segala perhatian, pertolongan diberikan apabila dipandang perlu.Dengan menerapkan ajaran Ki Hajar Dewantara dalam pembelajaran matematika, diharapkan pembelajaran matematika akan lebih menarik dan tidak lepas dari budaya Indonesia. Guru bisa menanamkan budaya asli Indonesia, membentuk anak didik menjadi manusia tangguh dalam menyelesaikan masalah, taat asas, mandiri dan bisa menghargai orang lain.Matematika merupakan salah satu mata pelajaran yang mempunyai andil yang besar dalam mempersiapan anak didik. Salah satu tujuan diberikannya mata pelajaran matematika seperti yang tercantum pada kurikulum adalah siswa dapat memiliki kemampuan berpikir logis, analitis, kritis, konsisten, teliti, bertanggung jawab, responsif, dan tidak mudah menyerah dalam memecahkan masalah.Kata kunci: Pandangan Ki Hajar Dewantara, Pembelajaran matematika
Pelatihan Keterampilan Merakit Rangkaian Bagi Guru IPA SMP/MTs Negeri dan Swasta di Kecamatan Buleleng Rachmawati, Dewi Oktofa
Prosiding Seminar Nasional MIPA 2015: PROSIDING SEMINAR NASIONAL MIPA UNDIKSHA 2015
Publisher : Prosiding Seminar Nasional MIPA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan pengabdian ini adalah untuk meningkatkan keterampilan merakit rangkaian bagi guru IPA SMP/M.Ts. Negeri dan Swasta yang ada di Kecamatan Buleleng. Metode kegiatan ini menggunakan sistem pelatihan. Sasaran pengabdian adalah guru-guru IPA SMP/M.Ts. Negeri dan Swasta yang ada di Kecamatan Buleleng. Data keterampilan merakit rangkaian terdiri dari data proses dan produk kegiatan. Data proses kegiatan yang meliputi aspek merancang percobaan dan keterampilan merakit rangkaian dievaluasi menggunakan lembar observasi. Data produk kegiatan yang berupa produk rangkaian listrik hasil pelatihan dievaluasi dengan lembar pedoman penilaian. Data respon peserta pelatihan terhadap pelaksanaan pelatihan dikumpulkan dengan menggunakan angket. Data dianalisis secara deskriptif. Hasil pelaksanaan program kegiatan ini menunjukkan adanya peningkatan keterampilan guru dalam merakit rangkaian dengan nilai rata-rata keterampilan merakit rangkaian yaitu 83, standar deviasi 6.91. Respon guru peserta pelatihan terhadap pelaksanaan kegiatan pelatihan sangat positif. Hal positif yang dapat diperoleh setelah kegiatan pelatihan ini adalah 1) peserta pelatihan memperoleh pengenalan komponen kit listrik dan dan fungsinya, jenis-jenis percobaan listrik yang dapat dirancang dengan menggunakan KIT listrik, 2) peserta pelatihan memperoleh pengetahuan merancang percobaan rangkaian listrik , 3) peserta pelatihan mendapat keterampilan merakit rangkaian menggunakan kit listrik.Kata kunci : kit listrikAbstractThe purpose of this community service was to increase the skill to assembly the electric circuits for the Natural Science teachers of all States or Privates SMP/M.Ts in Buleleng district. The method used in this activity was in form of training. The target of this community service was the Natural Sciences teachers of State or Private SMP/M.Ts in Buleleng District. Data of skill to assembly the electric circuits consisted of process data and product activity. Data of activity process which included the aspect of planning the experiment and the skill to assembly the electric circuits were evaluated by using evaluation guidance sheet. Data were analyzed descriptively. Data of trainer responds toward the training implementation were collected by using questionnaires. The result of this program shows that there is an increasing in electric circuits assembling of the teachers with the average value of electric circuit assembling skill is 83 and deviation standard 6.91. The respond of trainees towards the training activity was positive. The positive thing obtained after this training activity are 1) the trainees gain the recognition of electric components, the function of electric kit, and the types of electric experiments, 2) the trainees get the knowledge to design the electric circuit experiments, 3) the trainees get the skill of circuit assembling by using electric kit.Key words: electric kit
Karakterisasi Batu Mulia Badar Pulaki Karyasa, I Wayan; Muderawan, I Wayan; Rai, I Wayan
Prosiding Seminar Nasional MIPA 2015: PROSIDING SEMINAR NASIONAL MIPA UNDIKSHA 2015
Publisher : Prosiding Seminar Nasional MIPA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Batu mulia Pulaki telah lama dikenal dengan berbagai keunikan dan didukung oleh cerita-cerita mistis di baliknya, namun belum didukung oleh kajian ilmiah yang memadai. Beberapa nama batu mulia dari Kawasan Suci Pulaki yang banyak dikenal orang adalah Kresnadana, Rambut Sedana, Pancawarna dan Badar Pulaki. Penelitian ini bertujuan mengkarakterisasi secara kimia batu mulia Badar Pulaki dengan varian Badar Pulaki Melanting, Badar Musi dan Badar Pangkung Kangin yang difokuskan pada aspek kandungan unsur-unsur dan identifikasi senyawa kimia yang menyusun batu permata Pulaki. Untuk mencapai tujuan itu, analisis cuplikan dengan metode X-Ray Fluoresence (XRF) dan X-Ray Difraction (XRD). Hasil karakterisasi XRF menunjukkan bahwa Badar Pulaki Melanting mengandung unsur silikon dan besi yang besar, Badar Pangkung Kangin mengandung unsur silikon, aluminium dan besi yang besar dan Badar Musi mengandung unsur kalsium dan besi yang besar serta adanya variasi jenis dan prosentase unsur-unsur penyerta lainnya. Hasil karakterisasi XRD menunjukkan bahwa Badar Pulaki Melanting tersusun dari quarsa sebagai fase utamanya, Badar Pangkung Kangin tersusun dari aluminosilikat dan Badar Musi tersusun dari kalsit sebagai fase utamanya. Hasil ini memberikan sebagaian penjelasan ilmiah terhadap keunikan dan mitos batu permata Pulaki.Kata-kata kunci: Badar Pulaki, X-Ray Fluoresence, X-Ray Diffraction
Identifikasi Senyawa Flavonoid Pada Ekstrak Etanol-Air Daun Sirih Merah (Piper Crocatum) dengan Uji Fitokimia dan GC-MS Darma, I Dewa Gede Abi; Nurlita, Frieda; Muderawan, I Wayan
Prosiding Seminar Nasional MIPA 2015: PROSIDING SEMINAR NASIONAL MIPA UNDIKSHA 2015
Publisher : Prosiding Seminar Nasional MIPA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

-
LANSIA SEHAT DAN BAHAGIA DENGAN SENAM BUGAR LANSIA Wahyuni, Ni Putu Dewi Sri
Prosiding Seminar Nasional MIPA 2015: PROSIDING SEMINAR NASIONAL MIPA UNDIKSHA 2015
Publisher : Prosiding Seminar Nasional MIPA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

WHO menggolongkan lanjut usia menjadi empat yaitu; usia pertengahan 45-59 tahun, lanjut usia 60-74 tahun, lanjut usia tua 75-90 tahun, dan usia sangat tua 90 tahun. Indonesia adalah salah satu negara yang terletak di Asia Tenggara yang memasuki era penduduk berstruktur lansia (aging structured population) karena jumlah penduduk yang berusia di atas 60 tahun sekitar 7,18 persen dan diperkirakan pada tahun 2015 akan mengalami peningkatan hampir dua kali lipat dibandingkan pada tahun 2011 menjadi lebih dari 432 ribu orang atau 11,4 persen dari jumlah penduduk. Proses penuaan disertai adanya penurunan fungsi organ, peningkatan gangguan organ dan fungsi tubuh, terjadi perubahan komposisi tubuh, sehingga muncullah berbagai keluhan gangguan kesehatan. Berbagai cara yang dapat dilakukan sebagai upaya pencegahan salah satunya adalah melakukan olahraga secara teratur dan olahraga yang paling mudah dilakukan adalah senam bugar lansia. Beberapa penelitian menemukan bahwa olahraga pada lansia dapat meningkatkan kebugaran jasmani, mengurangi gejala gangguan tidur dan tingkat kecemasan sehingga lansia dapat hidup sehat dan bahagia di usianya yang senja.Kata kunci : Lansia, sehat, senam bugarAbstractWHO classified the elderly into four, namely; middle age 45-59 years, aged 60-74 years, 75-90 years old elderly and very old age of 90 years. Indonesia is one of the countries located in Southeast Asia are entering the era of the elderly population structure (aging structured population) because of the number of people aged over 60 years around 7.18 percent and is expected in 2015 will have increased almost two- fold compared to the year 2011 to more than 432 thousand people or 11.4 percent of the population. The aging process is accompanied by a decrease in organ function, increased disturbance organs and bodily functions, there is a change in body composition, so that there are the complaints of health problems. A variety of ways that can be done as an effort to prevent one of them is regular exercise and exercise is most easily done gymnastics fit elderly. Several studies have found that exercise in the elderly can enhance physical fitness, reduce symptoms of sleep disorders and anxiety level so that the elderly can live healthy and happy.Keywords: Elderly, healthy, fit gymnastics
Studi Tentang Jenis-Jenis Ikan Pelagis Yang Hidup di Perairan Neritik dalam Wilayah Kecamatan Buleleng, Kabupaten Buleleng, Provinsi Bali Swasta, Ida Bagus Jelantik
Prosiding Seminar Nasional MIPA 2015: PROSIDING SEMINAR NASIONAL MIPA UNDIKSHA 2015
Publisher : Prosiding Seminar Nasional MIPA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Semua ikan pelagis merupakan ikan bernilai ekonomi penting dalam kehidupan manusia, dan merupakan komoditas handalan para nelayan di seluruh dunia, termasuk di Buleleng. Ragam ikan pelagis di perairan neritik wilayah Kecamatan Buleleng sampai saat ini belum diketahui secara pasti, sehingga perlu diteliti agar komposisi jenis dan kemelimpahannya dapat diketahui secara pasti. Penelitian ini dilakukan dengan metode observasi, penangkapan, wawancara dan pencatatan langsung di lima lokasi dalam wilayah perairan neritik Kecamatan Buleleng yaitu perairan pantai Banyuning, Kampung Baru, Kayu Buntil, Pemaron dan Anturan. Hasil dari penelitian ini adalah ; 1) terdapat 39 jenis ikan pelagis, yang mana sepuluh diantaranya yang cukup menonjol adalah tongkol (Euthynus sp), kembung (Rastrelinger sp), layang (Decapterus russelli), selar (Selaroides leptolepis), lemuru (Sardinella longisep), tembang (Sardinella fimbriata), cakalang (Katsuwonus pelamis), tuna sirip kuning ( Thunus albacores), tuna albakor (Thunus alalunga), dan tuna bata besar (Thunus obesus) ; 2) dari 39 jenis ikan pelagis yang ada, terdapat dua jenis yang berstatus langka yaitu ikan matahari (Mola mola) dan ikan napoleon (Cheilinus 1ndulates)Kata-kata kunci : Keanekaragaman, Ikan Pelagis, Buleleng.ABSTRACTAll of pelagic fishes are an important economic fishes in human lifes, and as a main commodities for fisherman in the world, including fisherman in Buleleng. The diversity of pelagic fishes in neritic waters in Buleleng district until this time are not know certainly, thus very important to research in order to their composition and abundance can identify certainly. This research used direct observation, capturing, interview and recording methods in five places involve in neritic waters of Buleleng district ie Banyuning beach, Kampung Baru beach, Kayubuntil beach, Pemaron beach, and Anturan beach. The results of this research are ; 1) there are 39 species pelagic fishes, which ten species of that which dominated are little tuna (Euthynus sp), Indian mackerel (Rastreligger sp), Indian scad (Decapterus russelli), yellowstripe scad (Selaroides leptolepis), Indian oil sardine (Sardinella longisep), fringescale sardine (Sardinella fimbriata), skipjack tuna (Katsuwonus pelamis), yellowfin tuna ( Thunnus albacores), albacore tuna (Thunnus alalunga), dan big eyes tuna (Thunnus obesus) ; 2) two species of 39 pelagic fishes species which are in rare condition are sunfish (Mola mola) and giant maori wrasse (Cheilinus undulates).Key words : diversity, pelagic fishes, Buleleng
MISKONSEPSI SISWA SMA DI BALI TENTANG DINAMIKA Suma, Ketut
Prosiding Seminar Nasional MIPA 2015: PROSIDING SEMINAR NASIONAL MIPA UNDIKSHA 2015
Publisher : Prosiding Seminar Nasional MIPA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

 Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan ragam miskonsepsi tentang dinamika siswa SMA Negeri di Bali. Penelitian deskriptif ini melibatkan 15 SMA Negeri di Bali yang merupakan perwakilan dari Wilayah Bali Barat, Timur, Tengah, Selatan dan Utara. Ke lima belas sekolah itu dikelompokkan menjadi 6 sekolah vavorit dan 9 sekolah nonvavorit. Jumlah sampel siswa dari sekolah vavorit adalah 386 orang dan jumlah sampel siswa dari sekolah nonvavorit adalah 430 orang. Data tentang ragam miskonsepsi siswa dikumpulkan dengan tes diagnostik dinamika dengan indek reliabilitas r=0,401, yang dihitung dengan formula K-R 20. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Hanya 5% sampai 40% siswa kelas XI IPA SMA Negeri di Bali yang memiliki konsep ilmiah dalam dinamika; (2) Sebagian besar siswa (> 60%) siswa SMA kelas XI IPA SMA Negeri di Bali mengalami miskonsepsi tentang dinamika; (3) ragam miskonsepsi tentang dinamika siswa kelas XI IPA SMA Negeri di Bali bersesuaian dengan miskonsepsi siswa-siswa di berbagai negara.Kata kunci: miskonsepsi, ragam miskonsepsi, tes diagnostik mekanikaAbstractThe objective of this study was to describe a various misconceptions on dynamics of XI grade student of science department of Senior High School in Bali. This descriptive study involving 15 High School in Bali which is representative of the area of west Bali, east,central,south and north. That 15 school are grouped into 6 favorite school and 9 non-favorite school. Number of samples of students from favorite school are 386 people and the number of samples of non-favorite school are 430 people. Data about various students misconception collected using a dynamics diagnostic test with reliability index r=0,401, which is calculated by the K-R 20 formula. The result showed that : (1) only 5% up to 40% of grade XI student of science department of Senior High School in Bali had scientific conception on dynamics, (2) most of grade XI student of science department of Senior High School student in Bali (>60%) had misconceptions about dynamics, (2) student misconception about dynamics in Bali in mutual accord with misconceptions in various countries.Key Word: scientific conception, misconceptions, dynamics, mechanics diagnostic test
ANALISIS PEMBELAJARAN BERBASIS KONTEN LOKAL PADA MATA PELAJARAN KIMIA DI SMA NEGERI 3 SINGARAJA Sepmiarni, Ni Ketut; Kirna, I Made; Subagia, I Wayan
Prosiding Seminar Nasional MIPA 2015: PROSIDING SEMINAR NASIONAL MIPA UNDIKSHA 2015
Publisher : Prosiding Seminar Nasional MIPA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mendeskripsikan konten lokal yang telah diintegrasikan dalam pembelajaran kimia di SMA Negeri 3 Singaraja; (2) menjelaskan relevansi konten lokal yang telah diintegrasikan pada pokok bahasan kimia dalam pembelajaran; (3) menjelaskan posisi konten lokal dalam pembelajaran kimia; serta (4) menjelaskan cara pengintegrasian konten lokal dalam pembelajaran kimia. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif. Subjek dalam penelitian ini adalah guru kimia. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah studi dokumen dan observasi. Analisis data dideskripsikan dan diinterpretasikan baik secara kuantitatif dan kualitatif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: (1) sebanyak 10 konten lokal telah diintegrasikan dalam pembelajaran kimia di SMA Negeri 3 Singaraja; (2) konten lokal yang telah diintegrasikan dalam pembelajaran kimia semuanya kurang relevan sebagai konten lokal, enam konten lokal relevan diintegrasikan dalam pokok bahasan kimia sebagai konteks, dilihat dari esensi budaya lokal dan esensi konten kimia; (3) posisi konten lokal dalam pembelajaran terdapat pada bagian pendahuluan sebagai motivasi dan kegiatan inti sebagai materi pembelajaran; (4) pengintegrasian konten lokal dilakukan melalui dua cara, yaitu (a) guru bercerita atau memberikan pernyataan yang menimbulkan pertanyaan; dan (b) guru melakukan aktivitas bersama siswa seperti berdiskusi atau praktikum yang berhubungan dengan konten lokal dan materi yang dipelajari.Kata kunci: pembelajaran kimia, budaya, konten lokalAbstractThis research aimed to: (1) describe the local content that has been integrated in chemistry learning at SMAN 3 Singaraja; (2) explain the relevance of local content has been integrated with chemistry topics in chemistry learning; (3) explain the position of local content in chemistry learning; and (4) explain the way to integrate local content in chemistry learning at SMAN 3 Singaraja. This research was qualitative research. Subject involved in this research was chemistry teacher at SMAN 3 Singaraja. Data collection techniques used were document study and observation. The data were described both quantitatively and qualitatively then analyzed interpretatively. The results of this research revealed that: (1) as many as 10 local content have been integrated in the chemistry learning at SMAN 3 Singaraja; (2) six local content relevant integrated in chemistry learning as context, seen from the essence of local culture and the essence of chemistry content; (3) the position of local content in the opening of teaching as motivation while in the main activity as learning materials; (4) the integration of local content was delivered through two ways, namely: informing and conducting activities. First, the teacher was informing local content as statement to raise questions. Second, the teacher was conducting activities with students, such as discussion or experiment related to local content and the topic being studied.Keywords: chemistry learning, culture, local content

Page 5 of 14 | Total Record : 140