cover
Contact Name
iqbal
Contact Email
khazanah@uin-antasari.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
iqbalassyauqi@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota banjarbaru,
Kalimantan selatan
INDONESIA
Khazanah: Jurnal Studi Islam dan Humaniora
ISSN : 0215837X     EISSN : 24607606     DOI : -
Khazanah : Jurnal Studi Islam dan Humaniora ISSN 0215-837X and E-ISSN 2460-7606 is peer-reviewed national journal published biannually by the State Islamic University (UIN) of Antasari Banjarmasin. The journal is published biannually in June and December.
Arjuna Subject : -
Articles 432 Documents
THE STRATEGY OF PREVENTING RADICALISM THROUGH REINFORCEMENT OF THE MOSQUE TA’MIR MANAGEMENT BASED ON ASWAJA ANNAHDLIYAH Hamidulloh Ibda; Ziaul Khaq
Khazanah: Jurnal Studi Islam dan Humaniora Vol 17, No 2 (2019)
Publisher : UIN Antasari Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18592/khazanah.v17i2.3130

Abstract

This article’s aim is to discuss the strategies of radicalism preventing in mosques through strengthening Aswaja Annahdliyah’s Islamic-based of mosque takmir management that is tolerant, moderate, and upholds the Islamic principle of Rahmatan Lil-alamin. This field research uses descriptive qualitative method. Data collection was obtained from interviews and observations. The results of the study mentioned that from 104 mosques in Kandangan Subdistrict, Temanggung Regency, only 96 mosques had been noted  in the Nahdlatul Ulama Mosque Takmir Institute (LTM NU), while 8 other mosques had been not. After the research was carried out, four mosques were joined and had become members of the NU LTM and implemented the takmir management of the Aswaja Annahdliyah based mosque. There are seven strategies carried out, namely; (1) strengthening management of the ideals (management of the physical building of the mosque), imarah (management of  the activities of the mosque), and riayah (management of mosque hygiene), (2) forming LTM NU at the sub-district and village level, (3) forming  management of mosques takmir by involving all elements, (4) making syllabus/ curriculum for worship timetable, education and ritual activities, (5) giving tasks to takmir to maximize mosque functions, (6) strengthening administration  management and symbolizing mosques, (7) strengthening social economic empowerment in mosques. The strategy of strengthening the takmir of mosques management has been aligned with Talcott Parsons’ structural functionalism theory with schemes adaptation, goal attainment, integration, and latency (AGIL). There are challenges and opportunities that faced. In the internal aspects, namely limited access to the city center, low human resources, and lack of comprehensive knowledge about the management of takmir of mosque External aspects, namely the existence of four mosques still controlled by radical Islamic groups, and often there are religious studies in mosques from radical groups.
TERAPI SUFISTIK ATAS PROBLEMA KEJIWAAN Asmaran Asmaran
Khazanah: Jurnal Studi Islam dan Humaniora Vol 6, No 2 (2008)
Publisher : UIN Antasari Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18592/khazanah.v6i2.3073

Abstract

Menurut sufi berbagai penyakit kejiwaan yang dialami oleh manusia dari dulu hingga sekarang, karena terpisahnya manusia dari sumber asalnya, yaitu Tuhan. Karena itu sufi berusaha menyadarkan manusia agar hidupnya selalu bersama Tuhan. Agar Tuhan bisa hadir dalam hidupnya, ia harus terlebih dahulu membersihkan hatinya dari perasaan dan pikiran negatif, yang secara simultan ia harus mengisi jiwa dengan perasaan dan pikiran positif. Diharapkan ia akan merasakan kehadiran Tuhan. Jika Tuhan hadir dalam jiwa, maka tidak lagi yang lain bisa menggoyang hatiya yang telah merasa damai ketika dia selalu bersama• Nya
Kemenangan Faksi Militan; Jejak Kelam Elit Nahdlatul Ulama’ akhir September-Oktober 1965 Aan Anshari
Khazanah: Jurnal Studi Islam dan Humaniora Vol 14, No 1 (2016)
Publisher : UIN Antasari Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18592/khazanah.v14i1.1046

Abstract

Tulisan ini mencoba memaparkan pergumulan faksi militan dan moderat di tubuh elit Nahdlatul ‘Ulama (NU) Jakarta menjelang dan awal Peristiwa G30S. Peristiwa 65 merupakan lorong paling gelap dalam sejarah Indonesia modern yang menempatkan NU sebagai salah satu aktor dominan, terutama di Jawa. Keterlibatan NU secara institusi tidak bisa dipisahkan dari aktifnya beberapa elit NU yang berlatar belakang militer, ditambah peran akseleratif sosok seperti Subchan ZE. Dengan dukungan penuh militer saat itu, mereka membangun konsolidasi dengan partai politik maupun organisasi masyarakat sipil yang antiPKI. Di internal NU, bisa dikatakan mem-bypass kiai-kiai senior yang memang selama ini menjadi pendukung Soekarno dan moderat terhadap PKI. Kemenangan faksi militan ini menyebabkan proses penghancuran PKI di Pulau Jawa berjalan sangat massif dengan restu otoritas militer setempat
MELACAK PRAKTIK PENGELOLAAN ZAKAT DI INDONESIA PADA MASA PRA-KEMERDEKAAN Moch. Arif Budiman
Khazanah: Jurnal Studi Islam dan Humaniora Vol 3, No 1 (2005)
Publisher : UIN Antasari Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18592/khazanah.v3i1.3160

Abstract

Zakat adalah bagian dari pilar penting ajaran Islam yang nampaknya paling tidak optimal pelaksanaannya. Dalam konsep dasamya sebagaimana ditunjukkan dalam sejarah Islam, zakat menjadi otoritas pemerintah, bukan menjadi urusan individual para penganutnya. Namun yang tetjadi di Indo• nesia justru sebaliknya, peran pemerintah sangat terbatas dan tidak memadai. Kenyataan ini sebenamya bukanlah hal barn, karena temyata sejak masa pra-kemerdekaan, pengelolaan zakat di tanah air memang tidak pemah optimal, terutama karena pemerintah kolonial yang tidak mendukung, bahkan merintangi semua upaya optimalisasi pengelolaan zakat yang coba dilakukan umat Islam
PENGEMBANGAN ASESMEN PORTOFOLIO MATEMATIKA DALAM SETING PEMBELAJARAN MATEMATIKA BERDASARKAN MASALAH BERBASIS BUDAYA BATAK DI SMA Bornok Sinaga
Khazanah: Jurnal Studi Islam dan Humaniora Vol 8, No 1 (2010)
Publisher : UIN Antasari Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18592/khazanah.v8i1.3027

Abstract

Akar masalah dalam penelitian ini adalah kenyataan hasil belajar siswa dalam pelajaran matematika kurang memuaskan, dan orientasi pembelajaran matematika yang terjadi selama ini kurang menekankan pada usaha memampukan siswa mengonstruksi pengetahuan dan penilaian yang dilakukan oleh guru belum berorientasi pada proses, sehingga siswa kurang memahami konsep dan tidak mampu memecahkan masalah. Penelitian ini termasuk jenis penelitian pengembangan (Developmental Research) yang bertujuan untuk mendapatkan suatu model Asesmen Portofolio Matematika (APM) dalam seting Pembelajaran Matematika Berdasarkan Masalah Berbasis Budaya Batak (PBM-B3) yang dapat mengaktifkan siswa belajar dan guru dapat mendeteksi perkembangan belajar siswa. Model pengembangan yang digunakan untuk mengembangkan APM- PBM-B3 ini mengacu pada model pengembangan pendidikan umum dari Tjeerd Plomp (1997) dengan memperhatikan 3 aspek kualitas material dari Nieveen, yakni aspek kevalidan, aspek kepraktisan, dan aspek keefektifan. Adapun fase-fase dalam pengembangan APM-PBM-B3 ini:1) Fase investigasi awal. Pada fase ini dilakukan analisis terhadap: (a) kebutuhan lingkungan, (b) kurikulum (c) teori-teori belajar, (d) teori asesmen; 2) Fase desain. Pada fase ini didesain perangkat APM-PBM-B3, dan desain instrumen penelitian. Kegiatan yang dilakukan pada fase ini meliputi (a) merancang buku model APM-PBM-B3, dan (b) merancang perangkat APM-PBM-B3; 3) Fase realisasi. Pada fase ini dibuat/disusun Prototipe APM-PBM-B3; 4) Fase tes, evaluasi, dan revisi. Fase ini difokuskan pada dua hal, yakni: (a) memvalidasi, dan (b) mengadakan uji coba lapangan prototipe APM-PBM-B3 yang telah disusun. Hasil validasi dari 7 (tujuh) validator menunjukkan bahwa pengembangan APM-PBM-B3 dan perangkat pendukung APM-PBM-B3 adalah valid, dan hasil uji coba pada siswa kelas I SMA Negeri 1 Balige tahun ajaran2008/2009 diperoleh: (1) perangkat pendukung pelaksanaan APM-PBM-B3 memenuhi kriteria praktis, dan (2) perangkat pendukung pelaksanaan APM-PBM-B3 memenuhi kriteria efektif
POLEMIK ANTARA ANTROPOSENTRISME DAN EKOSENTRISME DALAM PERSPEKTIF FILSAFAT MULLA SADRA Otong Sulaeman; R.W. Setiabudi Sumadinata; Dina Yulianti
Khazanah: Jurnal Studi Islam dan Humaniora Vol 19, No 2 (2021)
Publisher : UIN Antasari Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18592/khazanah.v19i2.4914

Abstract

Ecological problems in the world have become increasingly worrisome and their solutions require global cooperation. In the West, this ecological problem creates a philosophical polemic between two camps, namely anthropocentrism and eco-centrism; which in the study of International Relations is known as the green theory. Given that 24% of the world's population is Muslim, who make up the majority in 49 countries, it is necessary to develop a 'green theory' based on Islamic philosophy. Through this paper, the author elaborates on Mulla Sadra's philosophical thoughts regarding the human position cosmologically in relation to the polemic between anthropocentrism and eco-centrism. There are four Mulla Sadra principles related to humans, namely (1) the principle of unity among all beings in the universe, (2) the principle of causality that connects every being, in which humans have a central and determining role in this causal system, (3) the principle of tajalliy which states that every existence in this universe is the appearance and incarnation of God, so that any attempt to destroy the ecosystem will basically harm man himself, and (4) the human principle as an intermediary for other forms in reaching perfection. Based on these four principles, Sadra stated that humans have a very central position in the middle of the universe. However, in contrast to anthropocentrism, which views humans as having the right to exploit nature, Sadra places humans as people responsible for managing nature.Masalah ekologi di dunia telah semakin mengkhawatirkan dan penyelesaiannya membutuhkan kerjasama global. Di Barat, masalah ekologis ini menciptakan polemik filosofis di antara dua kubu, yaitu antroposentrisme dan ekosentrisme; yang dalam kajian Hubungan Internasional dikenal dengan sebagai teori hijau (green theory). Mengingat 24% populasi dunia adalah Muslim yang menjadi mayoritas di 49 negara, perlu dikembangkan ‘teori hijau’ yang berbasis filsafat Islam. Melalui tulisan ini, penulis mengelaborasi pemikiran filsafat Mulla Sadra terkait dengan posisi manusia secara kosmologis dihubungkan dengan polemik di antara antroposentrisme dan ekosentrisme. Ada empat prinsip Mulla Sadra  terkait manusia, yaitu (1) prinsip kesatuan di antara semua wujud di alam semesta, (2) prinsip kausalitas yang menghubungkan setiap wujud, di mana manusia memiliki peran sentral dan menentukan dalam sistem kausailtas ini, (3) prinsip tajalliy yang menyatakan bahwa setiap maujud di alam semesta ini merupakan tampilan dan jelmaan Tuhan, sehingga setiap upaya merusak ekosistem pada dasarnya akan merugikan manusia itu sendiri, dan (4) prinsip manusia sebagai perantara bagi wujud-wujud lainnya dalam menggapai kesempurnaan. Berdasarkan keempat prinsip ini, Sadra menyatakan bahwa manusia memiliki posisi yang sangat sentral di tengah alam semesta. Namun berbeda dengan antroposentrisme yang memandang manusia berhak mengeksploitasi alam, Sadra menempatkan manusia sebagai pihak yang bertanggung jawab manusia dalam pengelolaan alam. 
KONSEP GURU DAN MURID MENURUT ULAMA ABAD PERTENGAHAN (KOMPARASI ANTARA AL-MAWARDI DAN AL-GHAZALI) Rahmadi Rahmadi
Khazanah: Jurnal Studi Islam dan Humaniora Vol 14, No 2 (2016)
Publisher : UIN Antasari Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18592/khazanah.v14i2.1561

Abstract

Artikel ini mencoba memberikan analisis komparatif mengenai perspektif al-Mâwardî dan al-Ghazâlî tentang tiga masalah yang berkaitan dengan guru dan murid yaitu: (1) hakikat guru dan hakikat murid, (2) profesionalisme guru dan strategi belajar murid, dan (3) relasi-etis guru-murid. Hasil komparasi ini menemukan bahwa keduanya memiliki gagasan tentang keseimbangan guru dan murid dalam berbagai segi. Bagi keduanya, baik guru maupun murid harus diberdayakan secara bersama-sama agar terjadi kombinasi guru-murid yang serasi baik dari segi kualitas maupun moralitas dalam belajar dan mengajar.
EXTINGUISHING FIRE, IGNITING TOLERANCE: FIRE FIGHTER COMMUNITY, CIVIL CULTURE AND TOLERANCE Sandi Rosadi
Khazanah: Jurnal Studi Islam dan Humaniora Vol 17, No 1 (2019)
Publisher : UIN Antasari Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18592/khazanah.v17i1.3022

Abstract

The correlation between civil society and democracy is a big discussion in academic world. Democracy that engenders a civic culture usually linked into a tolerant behavior in society. This study aims to understand how the participation of individuals in civil society, in this case is BPK (fire fighter community) in Banjarmasin, cause them to become more tolerance in a pluralistic society. In addition, this study also examines whether the involvement of member to BPK in Banjarmasin make them as an individual who is more attentive and tolerant towards different groups or vice versa. This study argues that there is a correlation between a personal membership in civil society with their augmentation in tolerance attitude. The case of fire fighter community in Banjarmasin shows an establishment of a brotherhood among its members. The attitude of ”sanak ikam” or your brother brings up the attitude of civic members' tolerance of all the differences that exist in other individuals in general and differences in members of BPK in particular. Furthermore, on personal level, a member's attitude towards tolerance can also be affected by the diversity of members in BPK who their affiliated. However, BPK has the possibility of being a place for political contestation. On one side BPK has been playing a role in fostering tolerance in Banjarmasin society, on the other hand, it is possible in the future become a double-edged knife that even destroys the tolerance that has been formed.
Syekh Muhammad Nafis Al-Banjary (Kajian Sejarah Sosial Intelektual Islam) Hadariansyah AB
Khazanah: Jurnal Studi Islam dan Humaniora Vol 1, No 2 (2002)
Publisher : UIN Antasari Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18592/khazanah.v1i2.319

Abstract

Hasil kajian ini menunjukkan bahwa Nafis ikut memainkan peran penting dalam transmisi keislaman dari TImur Tengah ke Kalimantan Selatan dan sekitarnya. Karya tulisnya al Durr al Nafis yang ditulis di Makkah dengan bahasa Melayu beredar luas di wilayah Kalimantan Selatan. Dia bisa ditempatkan berada diurutan kedua setelah Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjary.
ANALISIS WACANA DALAM KAJIAN AGAMA Mujiburrahman Mujiburrahman
Khazanah: Jurnal Studi Islam dan Humaniora Vol 6, No 1 (2008)
Publisher : UIN Antasari Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18592/khazanah.v6i1.3068

Abstract

Analisis wacana merupakan salah satu metode analisis yang dikembangkan dalam ilrnu-ilrnu sosial dan humaniora. Analisis ini telah digunakan pula oleh para ilmuan dalam kajian-jaian terhadap agama, khususnya agama sebagai fenomena sosial. Analisis wacana mencoba melihat berbagai pemyataan keagamaan yang muncul di masyarakat, baik di masa lalu atau di masa sekarang, dalam kerangka relasi-relasi kuasa, kepentingan pribadi atau kelompok, dan dampaknya pada kehidupan nyata. Penerapan analisis wacana yang dikembangkan para ilrnuwan dalam kajian literatur, antropologi dan ilrnu kalam menunjukkan bahwa analisis ini cukup membantu bagi pengembangan kejian keislaman. Di sisi lain, kekuarangan analisis wacana adalah kecenderungannya untuk mengeabaikan makna agama sebagai suatu pengalaman batin yang mendalam