cover
Contact Name
iqbal
Contact Email
khazanah@uin-antasari.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
iqbalassyauqi@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota banjarbaru,
Kalimantan selatan
INDONESIA
Khazanah: Jurnal Studi Islam dan Humaniora
ISSN : 0215837X     EISSN : 24607606     DOI : -
Khazanah : Jurnal Studi Islam dan Humaniora ISSN 0215-837X and E-ISSN 2460-7606 is peer-reviewed national journal published biannually by the State Islamic University (UIN) of Antasari Banjarmasin. The journal is published biannually in June and December.
Arjuna Subject : -
Articles 432 Documents
FENOMENA JILBAB DALAM MASYARAKAT KOSMOPOLITAN: INTERPRETASI TEKS DAN KONTEKS ATAS AYAT JILBAB Yulia Hafizah
Khazanah: Jurnal Studi Islam dan Humaniora Vol 16, No 2 (2018)
Publisher : UIN Antasari Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18592/khazanah.v16i2.2336

Abstract

This paper aims to reveal the various interpretations of ulama to the meaning of the veil text. Then try to bring that understanding to the current development context. This paper is the result of literature research (library research) which is arranged in the form of papers. Data mining is carried out by exploring various sources that are relevant to this research, namely reviews from the mufassir, both classical and contemporary related to the veil verse in Alquran, namely Q.S. al-Ahzab: 59 and an-Nûr: 31, then compiled and read with a historically critical approach. This paper shows that the various ideas of classical and contemporary ulama are inseparable from the social context of their time. This social context ultimately makes the veil no longer just a symbol of identity, but more than that. The appearance of various hijab communities which later formed a new social movement has brought modern value in lifestyle and opened opportunities for the development of new sectors in the economy.
SISI KEARIFAN LOKAL DALAM TERJEMAH AL-QUR`âN BERBAHASA BANJAR Wardani Wardani
Khazanah: Jurnal Studi Islam dan Humaniora Vol 18, No 1 (2020)
Publisher : UIN Antasari Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18592/khazanah.v18i1.3473

Abstract

The local wisdom as perceived as particular knowledge is often contrasted to universal revealed knowledge of religion. This article is aimed at studying the local wisdom behind al-Qur`ân dan Terjemahnya Bahasa Banjar (the Qur`ân and Its Translation into Banjarese language), arguing that the two kinds of knowledge, either particular or universal, interact each other. Employing the ethics philosophy’s distinction between particular and universal, the discussion on the topic is focused on the description of local wisdom and the issues of particularity and universality, especially in relation to moral values embedded in cultural dimensions of the local language. The steps start from comparing Indonesian and Banjarese translation of some Qur`ânic vocabularies, then describing moral values in Banjarese culture in perceiving certain words, and finally searching for particular and universal dimensions of cultural ethics by comparing it with other ethics which is universally recognized. This article arrives at some conclusions. Firstly, the local wisdom is reflected in the forms of local moral values corresponding to the doctrines of the Qur`ân. Secondly, in relation to the idea of particularity and universality of moral values, the local wisdom behind this translation contains the two aspects, due to the fact that both dimensions constitute elements which interact with each other. The local values also underlay the use of local vocabularies. It means that the particular aspect of local wisdom transforms to universal one too. Besides, local wisdom does not only mean local knowledge but also means that it has a general affinity with other cultures.
LINGKUNGAN PENDIDIKAN DALAM PERSPEKTIF ALQURAN Sahriansyah Sahriansyah
Khazanah: Jurnal Studi Islam dan Humaniora Vol 9, No 2 (2011)
Publisher : UIN Antasari Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18592/khazanah.v9i2.3153

Abstract

Lingkungan pendidikan dalam pandangan Alquran terdiri atas empat macam, yaitu: lingkungan sosial, lingkungan keagamaan, lingkungan budaya dan lingkungan alam sekitar. Keempat lingkungan tersebut sangat berpengaruh terhadap proses transformasi nilai-nilai pendidikan Islam. Bila keempat lingkungan tersebut baik dan kondusif, maka proses pendidikan Islam akan berjalan baik dan akan menghasilkan generasi Islam yang cerdas secara intelektual, emosional dan spiritual
MENGEMBANGKAN JEJARING DAN KEMITRAAN DALAM MEWUJUDKAN PESANTREN RAMAH LINGKUNGAN Sukarni Sukarni
Khazanah: Jurnal Studi Islam dan Humaniora Vol 8, No 2 (2010)
Publisher : UIN Antasari Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18592/khazanah.v8i2.3021

Abstract

Pada era kolonial, pondok pesantren menjadi satu-satunya pendidikan rakyat yang berkembang dan dilaksanakan olependidikan rakyat yang berkembang dan dilaksanakan oleh dan untuk rakyat, baik di surau-surau, maupun di temnpat-tempat terbuka dengan sistem dan kurikulum khas. Pesantren tidak hanya menjadi pusat pendidikan rakyat, tetapi juga menjadi pusat dan simbol perlawanan terhadap kolonial. Untuk dunia pesantren, perspektif Islam tentang lingkungan dengan mengutip ayat Alquran, Hadits Nabi dan ijtihad fuqaha, kesimpulannya ada sembilan ajaran etik Islam tentang lingkungan. (1) Menyayangi binatang, jangan diganggu habitatnya, jangan dibunuh, kecuali atas dasar yang hak. (2) Mencintai tanaman dan gemar menanam, tidak memusnahkan kecuali dengan dasar yang benar. (3) Menghemat air dan tidak mengotorinya. (4) Menghemat energi. (5) Tidak mengotori (polusi) udara. (6) Membuang sampah pada tempatnya. (7) Menjaga kebersihan sungai dan laut. (8) Adil dan ihsan terhadap lingkungan, adil sama dengan memberi seimbang dengan yang diambil, ihsan memberi lebih dari yang diambil,seperti menanam dan menebang pohon. (9) Ketamakan satu orang manusia tidak dapat dipenuhi oleh sumber daya alam, tetapi kebutuhan manusia dapat dipenuhi oleh alam. Dalam konteks lembaga pendidikan Islam (Pesantren) untuk mewujudkannya diperlukan jejaring dan kemitraan antara pemerintahan, dunia swasta dan pondok pesantren.
TERAPI PSIKOSPIRITUAL DALAM KAJIAN SUFISTIK Dewi Ainul
Khazanah: Jurnal Studi Islam dan Humaniora Vol 14, No 2 (2016)
Publisher : UIN Antasari Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18592/khazanah.v14i2.1157

Abstract

Ilmu tasawuf bagaikan psikoterapi yang memiliki tujuan untuk menghilangkan sifat-sifat neurotik, dan membantu seseorang untuk menyesuaikan diri terhadap masyarakat. Praktik tasawuf bertujuan untuk mengubah sifat-sifat buruk kepribadian, untuk membuka hati, untuk berhubungan dengan kearifan mendalam di dalam diri, dan untuk mendekatkan diri kepada Allah.Dalam tasawuf, spiritual merupakan poin penting, dan salah satu aspek penting dari spiritual adalah memiliki arah tujuan, yang secara terus menerus meningkatkan kebijaksanaan dan kekuatan berkehendak dari seseorang, mencapai hubungan yang lebih dekat dengan ketuhanan dan alam semesta dan menghilangkan ilusi dari gagasan salah yang berasal dari alat indra, perasaan, dan pikiran.Berbagai macam praktik ibadah yang dilakukan oleh para sufi untuk meningkatkan spiritualitas mereka di antaranya adalah dengan berpuasa, mengasingkan diri, adab, mengingat Tuhan, dan mengingat kematian. 
MENGURAI "BENANG KUSUT" SEJARAH HUBUNGAN ISLAM DAN KRISTEN DI INDONESIA Irfan Noor
Khazanah: Jurnal Studi Islam dan Humaniora Vol 4, No 1 (2006)
Publisher : UIN Antasari Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18592/khazanah.v4i1.3174

Abstract

Indonesia sejak lama telah dikenal sebagai sebuah bangsa yang memiliki keragaman dalam bidang budaya, etnik, bahasa juga agama. Keragaman yang telah menjadi ciri masyarakat Indonesia tersebut, tentunya bisa dikatakan merupakan berkah tersendiri. Namun, di balik berkah yang ada tersebut, Indonesia pada dasamya memiliki potensi konflik yang sangat tinggi di tingkat hubungan sosial, antara sesama warganya. Dalam sejarah panjangnya, konflik sosial yang sering terjadi di negeri ini tidaklah bisa dilepaskan dari berbagai keterlibatan agama sebagai sumber pernicu meluasnya eskalasi konflik tersebut. Realitas potensi konflik seperti itulah yang akan menjadi fokus kajian dalam artikel ini. Melalui refleksi kritis atas buku Sejarah Perjumpaan Kristen dan Islam di Indonesia yang ditulis Jan S. Aritonang, penulis menyirnpulkan bahwa konflik antar agama (Isl.am-Kristen) yang sering terjadi di Indonesia sering terkait dengan dinamika kehidupan politik dan kekuasaan di negeri ini.
Dari IAIN ke UIN Pangeran Antasari: Tantangan dan Peluang di Tengah Arus Perubahan Sosial dan Budaya Mujiburrahman Mujiburrahman
Khazanah: Jurnal Studi Islam dan Humaniora Vol 12, No 1 (2014)
Publisher : UIN Antasari Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18592/khazanah.v12i1.302

Abstract

Abstract This paper discusses the reasons behind the need for the transformation of the Institute for Islamic Studies (IAIN) Antasari into a State Islamic University (UIN). By analyzing the history of education in Indonesia in terms of tensions between Western (general) education and Islamic education, the paper argues that the transformation is a historical necessity. The transformation should be directed (1) to integrate general knowledge and Islamic knowledge in the university education system; (2) to respond to the social changes in contemporary society, especially the high variety of job markets, which demand professionalism; (3) to be the source of moral and spiritual guidance for society, and (4) to open much more opportunity for people, especially those of the lower class, to have a tertiary education. Abstak  Makalah ini mendiskusikan alasan-alasan di balik kebutuhan tranformasi IAIN Antasari menjadi UIN. Dengan melakukan analisis sejarah tentang ketegangan antara sistem pendidikan Barat (umum) dan pendidikan Islam, makalah ini menunjukkan bahwa transformasi tersebut adalah suatu keharusan sejarah. Transformasi itu harus diarahkan untuk (1) mengintegrasikan pengetahuan umum dengan pengetahuan Islam dalam sistem pendidikan di universitas; (2) menanggapi perubahan-perubahan sosial dalam masyarakat kekinian, khususnya tingginya keragaman lapangan kerja, yang menuntut profesionalisme; (3) menjadi sumber bimbingan moral dan spiritual masyarakat; dan (4) membuka kesempatan yang lebih luas bagi masyarakat, khususnya mereka yang dari kelas bawah, untuk mendapatkan pendidikan di perguruan tinggi.
STRATEGI PENGAYAAN PENGAJARAN KETERAMPILAN BERBICARA BAHASA ARAB BAGI NON ARAB M. Kamil Ramma Oensyar
Khazanah: Jurnal Studi Islam dan Humaniora Vol 9, No 1 (2011)
Publisher : UIN Antasari Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18592/khazanah.v9i1.3050

Abstract

Pembelajaran keterampilan berbicara bahasa Arab bagi non Arab tergolong masih membutuhkan pengembangan- pengembangan secara terus menerus, baik dari sisi metode, media, dan strategi pengajarannya serta lain sebagainya. Makalah ini membahas tentang teknik praktis bagi seorang guru bahasa Arab dalam mengajarkan keterampilan berbicara dengan baik dan benar. Sehingga semakin hari semakin dapat memperoleh kesempurnaan dalam pengajaran Bahasa Arab
POTRET KERUKUNAN BERBASIS KEARIFAN LOKAL: IMPLEMENTASI NILAI-NILAI HARMONI DALAM UNGKAPAN“RAMPAK NAONG BRINGEN KORONG” DALAM KEHIDUPAN MASYARAKAT MADURA Mohammad Takdir
Khazanah: Jurnal Studi Islam dan Humaniora Vol 16, No 1 (2018)
Publisher : UIN Antasari Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18592/khazanah.v16i1.2057

Abstract

This research aims to reveal the indigenous wisdom of Madurese community in building harmony and peace. This research used a new paradigm in changing negative perseptions about Madurese through the implementasion of the expression “rampak naong bringen korong” in the life behavior. This research used a field study on the meaning of harmony that applied by the people of Pamekasan Madura in the expression “rampak naong bringen korong” as local wisdom values.  This research showed that local wisdom values is reflected in the phrase known“rampak naong bringen korong” as one of the symbol in building harmony and peace with the others. The phrase “rampak naong bringin korong” is a meaningful philosophy of life, that Madura people are very fond of a harmonious, peaceful, and balance in all aspects of life. The philosophy of life reflected in the phrase becomes an anti-thesis and a denial to the stereotype of the Madurese character who is considered to be very close to violence. The form of implementation of harmony values in the expression “rampak naong bringin korong” is to invite the young generation to make life peaceful and harmonious as a symbol of unity and brotherhood.
SYEKH NAWAWI AL-BANTANI DAN PEMIKIRANNYA DALAM PENGEMBANGAN PENDIDIKAN ISLAM Ahmad Wahyu Hidayat; Muhammad Iqbal Fasa
Khazanah: Jurnal Studi Islam dan Humaniora Vol 17, No 2 (2019)
Publisher : UIN Antasari Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18592/khazanah.v17i2.3209

Abstract

This article describes the meaning of education according to Sheikh Nawawi Al-Bantani by using library research and analytical study methods. Analytical studies used are analytical content and analytical descriptions of education according to Sheikh Nawai Al-Bantani. The result of this study indicates that the purpose of education in Islam is a reflection of the function of humans to worship God by achieving His pleasure, striving to eradicate ignorance, and striving to perpetuate Islam with the light of knowledge. His thoughts about educators and students reveal that the personality factor of educators is more important than other factors, whereas, students themselves, they should always hold fast to noble morals in dealing with teachers, both in the teaching and learning process or in interacting with teachers in daily life.Penelitian ini menguraikan pendidikan menurut Syekh Nawawi Al-Bantani. Penelitian ini menggunakan penelitian kepustakaan dengan metode studi analitis. Studi analitis yang digunakan adalah analitis konten dan analitis deskripsi tentang pendidikan menurut Syekh Nawai Al-Bantani.Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tujuan pendidikan dalam Islam merupakan sebuah refleksi dari fungsi manusia untuk beribadah kepada Allah yaitu dengan mencapai keridhoanNya, berjihad untuk memberantas kebodohan, berjihad untuk mengabadikan Islam dengan sinaran ilmu. Pemikirannya tentang pendidik dan peserta didik mengungkapkan bahwa faktor kepribadian pendidik lebih penting daripadafaktor yang lain, sedangkan dengan peserta didik sendiri hendaklah selalu berpegang teguh pada akhlak mulia dalam menghadapi guru, baik dalam proses belajar mengajar ataupun dalam berinteraksi dengan guru dalam kehidupan sehari-hari.