cover
Contact Name
iqbal
Contact Email
khazanah@uin-antasari.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
iqbalassyauqi@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota banjarbaru,
Kalimantan selatan
INDONESIA
Khazanah: Jurnal Studi Islam dan Humaniora
ISSN : 0215837X     EISSN : 24607606     DOI : -
Khazanah : Jurnal Studi Islam dan Humaniora ISSN 0215-837X and E-ISSN 2460-7606 is peer-reviewed national journal published biannually by the State Islamic University (UIN) of Antasari Banjarmasin. The journal is published biannually in June and December.
Arjuna Subject : -
Articles 432 Documents
EPISTEMOLOGY: ARGUMENTS AGAINST PHENOMENALISM Z. Fikri
Khazanah: Jurnal Studi Islam dan Humaniora Vol 4, No 1 (2006)
Publisher : UIN Antasari Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18592/khazanah.v4i1.3173

Abstract

In this essay 1 examine one model of critical episternologies, namely the phenomenalism. It ts a form of anti-realism; the phenomenalist denies the existence of a physical world when it is unperceived. I argue that the phenomenalist does not provide us with a meaningful and useful advancement in our understanding of experience and the world surroundings us. Against them i say that the appearances of physical objects are dependent on the nature of the object it-self, the condinons of perceiver and the light falls into the object, The notion of standard conditions put forward by the phenomenalist lead them into favouritism and committed to representationalism
PERANAN GURU AGAMA ISLAM DALAM MENAMKAN NILAI ANTI KORUPSI PADA SISWA SMA DI KOTA BANJARMASIN Hilmi Mizani
Khazanah: Jurnal Studi Islam dan Humaniora Vol 7, No 2 (2009)
Publisher : UIN Antasari Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18592/khazanah.v7i2.3049

Abstract

Fenomena korupsi yang terjadi di Indonesia sudah menjadi penyakit yang kronis dan sulit disembuhkan. Walaupun begitu banyak usaha yang dilakukan pemerintah hasilnya belum begitu maksimal. Salah satu lembaga yang cukup signifikan dalam rangka membentuk watak dan kepribadian adalah lembaga pendidikan. Institusi pendidikan diyakini sebagai tempat terbaik untuk menyebarkan dan menanamkan nilai-nilai anti korupsi. Murid yang akan menjadi tulang punggung bangsa di masa mendatang sejak dini harus diajar dan dididik untuk membenci serta menjauhi praktek korupsi. Bahkan lebih dari itu, diharapkan dapat turut aktif memeranginya. Masalahnya adalah apakah penanaman nilai-nilai anti korupsi sudah dilakukan di sekolah, khususnya oleh guru Pendidikan Agama Islam. Untuk itulah melalui penelitian ini diharapkan dapat mengungkap peran Guru Agama Islam dalam menanamkan nilai-nilai anti korupsi pada siswanya.
ULAMA-DIFABEL: MENARASIKAN EKSPRESI KULTURAL MASYARAKAT BANJAR DALAM LENSA STUDI DISABILITAS Barkatullah Amin
Khazanah: Jurnal Studi Islam dan Humaniora Vol 17, No 2 (2019)
Publisher : UIN Antasari Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18592/khazanah.v17i2.3215

Abstract

Ulama in Banjar society take place as religious elite whose roles are very important. They used to be treated specially in practice, like being honored and respected. However, what if there is Ulama who is physically and mentally different (difabel). Do people treat differently? How do people then perceive it? This paper aims to see how the attitudes and views of people in the Banjar community towards the “Ulama-Difabel” – Islamic scholars with disabilities who participate in religious and community activities. This is a qualitative research with ethnography approach. It uses social model of disability theory. the results of this study explain that although the government has ratified the Law of the Republic of Indonesia No. 19 of 2011 concerning the Ratification of the CRPD, however, it cannot be called as the sole reason for the establishment of an inclusive paradigm that develops in society in a dominant way. In spite of that, the Banjar people interpret the existence of diffable scholars as a transcendent phenomenon because of the normative influence, metaphysical, and theological (Islam Banjar) views which both encourage each other to form social constructs with a paradigm of the Social Model of Disability in Banjar society. This phenomenon is also affected by some factors like people’s understanding toward diffabled condition, culture, education, and religious doctrine accepted. Ulama dalam masyarakat Banjar menempati posisi sebagai elit keagamaan yang perannya sangat penting. Sehingga pada praktiknya ulama sering mendapatkan perlakuan spesial, seperti dimuliakan dan dihormati. Namun, bagaimana jika ada ulama yang memiliki perbedaan pada fisik ataupun mentalnya (difabel), apakah perlakuan masyarakat menjadi berbeda? Bagaimana kemudian masyarakat mempersepsikannya? Paper ini bertujuan untuk melihat bagaimana sikap dan pandangan masyarakat Banjar terhadap Ulama-Difabel yang turut serta dalam kegiatan keagamaan maupun kemasyarakatan. Kajian ini bersifat kualitatif dengan pendekatan etnografi. Pisau analisisnya menggunakan teori Social Model of Disability. Hasil kajian ini menunjukkan bahwa meskipun pemerintah telah meratifikasi Undang-Undang Negara Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2011 tentang Pengesahan CRPD, tetapi hal itu tidak bisa disebut sebagai satu-satunya alasan terbentuknya paradigma inklusif yang berkembang dalam masyarakat, yang  kemudian mempengaruhi cara pandang masyarakat secara dominan, tetapi lebih dari itu, masyarakat Banjar memaknai keberadaan Ulama-Difabel sebagai fenomena transenden, karena dipengaruhi oleh pandangan-pandangan normatif, metafisik dan teologis (Islam Banjar) yang kemudian keduanya saling mendorong terbangunnya konstruksi sosial berparadigma Social Model of Disability pada masyarakat Banjar. Fenomena ini juga dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti; pemahaman masyarakat terhadap kondisi difabel itu sendiri, budaya, pendidikan, dan doktrin keagamaan yang diterima.
PEROMBAKAN HUKUM WARIS ISLAM (Sebuah Pendekatan Pembaruan dalam Islam) Jalaluddin Rahman
Khazanah: Jurnal Studi Islam dan Humaniora Vol 9, No 2 (2011)
Publisher : UIN Antasari Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18592/khazanah.v9i2.3152

Abstract

Ayat-ayat mengenai hukum waris Islam tergolong amat rinci dan tegas. Dalam istilah lain, ayat-ayat tersebut dikategorikan dalam kelompok muhkamat dan qath’i yang oleh kebanyakan ulama dipandang sebagai aturan yang tidak dapat diotak-atik melalui ijtihad. Namun, kalangan modernis mengajukan pandangan yang berbeda dengan berpedoman pada apa yang telah dicontohkan oleh Umar bin al-Khaththab, Khalifah II yang berani meninggalkan harfiah ayat dengan pertimbangan kondisi dan kemaslahatan. Berkait dengan itu, berbagai teori yang dapat digunakan dalam melihat soal waris (hukum faraidh) seperti tinjauan dari segi pelaksanaan (tanfizh-tathbiq), takwil dari harfiah ke metaforis, rasionalisasi-sekularisasi-desakralisasi, nasakh dengan adat-kemaslahatan, hukum kausalitas, dan pengelompokannya ke dalam ibadah non-mahdhah (tidak murni)
KENABIAN DALAM PANDANGAN BADIUZZAMAN SAID NURSI: SEBUAH RESPON TERHADAP GAGASAN MATERIALISME BARAT Fuad Mahbub Siraj; Muhammad Husni
Khazanah: Jurnal Studi Islam dan Humaniora Vol 18, No 1 (2020)
Publisher : UIN Antasari Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18592/khazanah.v18i1.3499

Abstract

This study aims to further explain Badiuzzaman Said Nursi's thought on prophethood. This library study employs a historical approach in extracting data and  content analysis. The study shows that Said Nursi's thought concerning prophecy stems from his criticisms of the materialistic-mechanistic paradigm  of Western civilization. This view basically rejects the transcendental perspective and spiritual values in understanding nature. The notion of materialism from the West attacks the key concepts of Islamic teachings. Realizing this, Nursi was called upon to give a very serious intellectual response. It was at this point that Nursi offered his ideas on prophethood. In Risālah an-Nūr, Said Nursi strives to revive prophetic values by applying theological approaches to be easily understood by society. Nursi’s thought is built on an effort to revive prophetic values so that it could shed light on Turkish people who had suffered serious illnesses due to the influences of the Western paradigm of mechanical materialism.y. This prophetic knowledge would eventually end in faith, which leads to eternal happiness for believers and eternal misery for unbelievers.Artikel ini bertujuan untuk lebih menjelaskan pemikiran Badiuzzaman Said Nursi tentang kenabian. Studi literatur ini menggunakan pendekatan historis dalam mengekstraksi data dan melakukan analisis konten. Studi ini menunjukkan bahwa pemikiran Said Nursi tentang nubuat berasal dari paradigma materialisme-mekanistik yang lahir dari peradaban Barat. Pandangan ini pada dasarnya menolak perspektif transendental dan nilai-nilai spiritual dalam memahami alam. Gagasan materialisme dari Barat menyerang konsep-konsep kunci ajaran Islam. Menyadari hal ini, Nursi dipanggil untuk memberikan respons intelektual yang sangat serius. Pada titik inilah Nursi menawarkan gagasannya tentang kenabian. Dalam Risālah an-Nūr, Said Nursi berusaha untuk menghidupkan kembali nilai-nilai kenabian dengan menerapkan pendekatan teologis agar mudah dipahami oleh publik. Pemikiran Bediuzzaman dibangun dalam upaya untuk menghidupkan kembali nilai-nilai kenabian sehingga dapat memberikan cahaya kepada orang-orang Turki yang sudah menderita penyakit serius karena pengaruh Barat dengan paradigma materialisme mekanis yang tidak memiliki dimensi spiritualitas. Pengetahuan kenabian ini pada akhirnya akan berakhir dalam iman, yang oleh Bediuzzaman disebut kebahagiaan esensial (manusia memiliki iman) bagi manusia, dan yang menolak (kufur) keberadaan peran Tuhan dan Nabi, yang merupakan kesengsaraan sejati.
MENELUSURI MUNCULNYA DIKOTOMI PENDIDIKAN ISLAM Jamal Syarif
Khazanah: Jurnal Studi Islam dan Humaniora Vol 3, No 2 (2005)
Publisher : UIN Antasari Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18592/khazanah.v3i2.3165

Abstract

Islam adalah agama yang mengajarkan umatnya agar memfungsikan akal semaksimal mungkin untuk mengembangkan ilmu pengetahuan. Konsekuensi logis dari hal itu secara internal adalah berkembangnya usahausaha meluas untuk memahami ajaran agama lewat kaca mata ilmu pengetahuan melalui akal, yang pada ujungnya lebih mengenal Tuhan dan lebih mengagungkan-Nya. Bertolak dari risalah Islamiyah yang bertujuan mengantarkan manusia kepada kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat serta mewujudkan rahmat bagi seluruh alam. Visi dan orientasi pendidikan Islam harus diarahkan pada kondisi yang mampu menciptakan peserta didiknya memiliki kepribadian, moral, intelektual dan amal. Kondisi tersebut merupakan kondisi yang dijiwai oleh nilai-nilai luhur Islam tanpa membedakan orientasi duniawi dan ukhrawi
AL-WALAYAH (KEWALIAN) DALAM PANDANGAN IBN ARABI Muhammad Rif’at
Khazanah: Jurnal Studi Islam dan Humaniora Vol 7, No 1 (2009)
Publisher : UIN Antasari Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18592/khazanah.v7i1.3034

Abstract

Tulisan ini bertujuan untuk memperoleh kejelasan mengenai pandangan al-walayah Ibn Arabi, meliputi: hakikat, ciri, keistimewaan, tingkatan wali dan konsep khatam al-awliya. Ibn Arabi menggunakan istilah wali untuk semua orang suci, termasuk nabi dan rasul. Kerasulan dan kenabian sebagai pangkat dalam kewalian adalah bersifat temporal, tetapi kewalian itu sendiri bersifat permanen. Khatam al-anbiya mempunyai kedudukan yang sebanding dengan khatam al-awliya. Namun mengenai kedudukan antara nabi dan wali, ini bisa dilihat dari ungkapannya,”andaikata kasyaf awliya bertentangan dengan undang- undang nabi, maka yang harus diikuti adalah undang-undang nabi. Seorang wali berhak meniadakan dan mengubah hukum Islam apapun yang berdasarkan ijtihad, tapi bukan terhadap hukum yang diwahyukan kepada nabi”.
RIDHA DALAM PERSPEKTIF SUFI: (Perkembangan dan Pergeseran Maknanya) Mulyani Mulyani
Khazanah: Jurnal Studi Islam dan Humaniora Vol 7, No 2 (2009)
Publisher : UIN Antasari Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18592/khazanah.v7i2.3041

Abstract

Setiap bagian dari konsep ajaran Islam selain memiliki basis normatifnya dari teks keagamaan atau nash, baik Alquran maupun hadis, juga memiliki aspek historis atau kesejarahan dalam pengertian bahwa ajaran wahyu dijabarkan atau dijelaskan oleh para tokoh Islam yang berkembang dalam proses sejarahnya yang panjang. Aspek kesejarahan ini –karena menyangkut pemahaman, tafsiran, penjabaran oleh manusia karena sifatnya sebagai bagian dari produk kesejarahan– mengalami pergeseran dan perbedaan pemahaman antartokoh. Ini juga terjadi pada setiap konsep ajaran para sufi, termasuk konsep ridha, meskipun masing-masing tokoh mengklaim bahwa pemahaman sufistiknya tentang ridha ditarik dari pemahaman dari kitab suci dan hadits. Berikut dikemukakan uraian perkembangan konsep ridha di kalangan tokoh-tokoh tasawuf, terjadinya pergeseran konsep tersebut, latar belakang terjadi perbedaan pemahaman tersebut.
FENOMENA ZIARAH MAKAM WALI DALAM MASYARAKAT MANDAR Mukhlis Latif; Muh Ilham Usman
Khazanah: Jurnal Studi Islam dan Humaniora Vol 19, No 2 (2021)
Publisher : UIN Antasari Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18592/khazanah.v19i2.4975

Abstract

This paper presents the results of research on the phenomenon of the pilgrimage to the graves of wali’s in the Mandarese community of the South Sulawesi. This study used a descriptive qualitative method to describe the behavior of pilgrimage to the graves of the wali’s by the Mandarese community by observing the graves of Syekh Abdul Mannan, Syekh Abdurrahim Kamaluddin and Imam Lapeo. Data were collected using interview and observation methods, as well as conducting a Focus Group Discussion (FGD) in Majene. The research was conducted from March to October 2020. The results of the study found that the Mandarese society always made pilgrimages to the tomb of Syekh Abdul Mannan (as the first propagator of Islam in the Banggae area), the tomb of Syekh Abdurrahim Kamaluddin (as the first spreader of Islam in the Binuang-Tinambung area), and the tomb of Imam Lapeo (Mandarese Islamic preacher who is believed to have karamah) because the Mandarnese society made the tomb as religious tourism, the grave as a place where prayers are answered, a place to receive blessings, and also as a place to study Islamic history in the Mandarnese region.Artikel ini menyajikan hasil penelitian tentang fenomena ziarah makam wali dalam masyarakat Mandar. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif untuk mendeskripsikan perilaku ziarah ke makam wali oleh masyarakat Mandar dengan mengamati makam Syekh Abdul Mannan, Syekh Abdurrahim Kamaluddin dan Imam Lapeo. Data dikumpulkan dengan metode wawancara, dan observasi, serta melaksanakan Focus Group Discussion (FGD) di Majene. Penelitian dilakukan mulai dari Maret s/d Oktober 2020. Hasil penelitian mendapatkan bahwa masyarakat Mandar senantiasa melakukan ziarah ke makam Syekh Abdul Mannan (sebagai penyebar Islam pertama kali di daerah Banggae), makam Syekh Abdurrahim Kamaluddin (sebagai penyebar Islam pertama kali di daerah Binuang-Tinambung), dan  makam Imam Lapeo (Pendakwah Islam Mandar yang dipercaya mempunyai karamah) disebabkan masyarakat Mandar menjadikan makam sebagai wisata religi, tempat mustajab berdoa, tempat mendapat berkah, dan juga sebagai tempat belajar sejarah Islam di wilayah Mandar. 
REKONSTRUKSI ISLAM JAWA SARIDIN DALAM FILM SARIDIN; STUDI SERIAL FILM SARIDIN PRODUKSI CMC (CREATIVE MEDIA COMMUNITY) PATI, JAWA TENGAH Lanal Mauludah Zuhrotus Salamah
Khazanah: Jurnal Studi Islam dan Humaniora Vol 15, No 2 (2017)
Publisher : UIN Antasari Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18592/khazanah.v15i2.1552

Abstract

This article describes a typical Javanese Islamic image that is featured in the movie series "Saridin" featuring Saridin as the main play. In his time, Saridin was one of the most important figures in the propagation of Islamic preaching in Pati, his birthplace, with a distinctive religiosity which in some ways was still influenced by Hindu-Buddhist traditions, such as; semedi, selametan, nyadran, and tirakatan. It is an example of a form of Islam-acculturation, which in the macro context is familiarly called "Islam Nusantara". Islam Nusantara is often accused of being a destroyer of the basics of true Islam, which for the pro-Islamic group of acculturation means otherwise. Initially, the film was released by the director, Alman Eko Darmo, along with his friends of the Pati humanist as an expression of their anxiety about the static ketoprak art in Pati, as well as the rebirth of Saridin's classic spectacles which are regularly featured in Ketoprak and last in the Mp3 version. On June 30, 2016, CMC successfully conducted the inaugural launch of the Saridin movie series; Saridin Andum Waris, Saridin Ngerombang, and followed by Saridin Geger Palembang and Saridin Ondo Rante in September 2016. The films have received various responses from various parties, including the observers of da'wah of Islamic –acculturation. For them the presence of Saridin the movie series contains educational message that is appropriate for their da'wah media.