cover
Contact Name
Kholili Badriza
Contact Email
kholili.badriza@uin-suka.ac.id
Phone
+6285645196843
Journal Mail Official
thaqafiyyat2007@gmail.com
Editorial Address
Faculty of Adab and Cultural Sciences, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta JL. Marsda Adisucipto Yogyakarta, 55281
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Thaqafiyyat : Jurnal Bahasa, Peradaban dan Informasi Islam
ISSN : 14115727     EISSN : 25500937     DOI : -
Thaqafiyyat: Jurnal Bahasa, Peradaban dan Informasi Islam is a journal which focuses on language, culture and Islamic Information. We invite to all contributors from all over the world to participate and share their research both library research or field research. Selected paper normally will be published on June and December in a year.
Articles 153 Documents
Jaringan Islam dan Transformasi Otoritas Sosial di Jawa:  Analisis Historis dari Islam Maritim Menuju Islam Agraris Ahmad Syafi'i Mufadzilah Riyadi
Thaqafiyyat : Jurnal Bahasa, Peradaban dan Informasi Islam Vol 25, No. 1 (2026): Thaqāfiyyāt
Publisher : Fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/thaq.2026.25104

Abstract

Abstrak: Artikel ini membahas proses Islamisasi di Jawa dengan fokus pada transformasi otoritas sosial melalui analisis jaringan Islam. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pergeseran historis otoritas keagamaan dari model Islam maritim yang berbasis di kawasan pesisir menuju model Islam agraris di wilayah pedalaman. Argumen utama yang diajukan adalah bahwa Islamisasi di Jawa merupakan proses negosiasi budaya jangka panjang yang menghasilkan sintesis kultural unik, bukan sekadar transfer doktrin keagamaan yang kaku. Jaringan Islam, yang mencakup relasi ulama, pedagang, dan institusi pendidikan, berperan sebagai sumber otoritas simbolik yang terus bertransformasi seiring dengan perubahan konteks ekonomi dan politik. Temuan penelitian menunjukkan bahwa melemahnya kota-kota pelabuhan akibat perubahan jalur perdagangan global dan intervensi kolonial memicu perpindahan pusat dinamika Islam ke pedalaman. Dalam fase agraris ini, legitimasi otoritas beralih dari mobilitas perdagangan ke institusi pesantren dan kepemimpinan personal kiai yang berakar kuat dalam struktur sosial masyarakat pedesaan. Transformasi ini menandai perubahan mendasar dalam struktur kekuasaan simbolik di mana Islam menjadi bagian integral dari identitas kolektif dan kohesi sosial masyarakat Jawa. Kata Kunci: Islamisasi; Otoritas Sosial; Islam Maritim; Islam Agraris; Jaringan Islam Abstract: This article examines the process of Islamization in Java, focusing on the transformation of social authority through an analysis of Islamic networks. This research aims to analyze the historical shift in religious authority from a maritime model of Islam based in coastal areas to an agrarian model of Islam in the interior. The main argument put forward is that Islamization in Java was a long-term process of cultural negotiation that resulted in a unique cultural synthesis, not simply the transfer of rigid religious doctrine. Islamic networks, encompassing relationships between ulama, merchants, and educational institutions, served as sources of symbolic authority that continuously transformed along with changing economic and political contexts. The research findings indicate that the weakening of port cities due to changes in global trade routes and colonial intervention triggered a shift in the center of Islamic dynamics to the interior. In this agrarian phase, the legitimacy of authority shifted from trade mobility to the institution of Islamic boarding schools (pesantren) and the personal leadership of kiai (Islamic scholars), deeply rooted in the social structure of rural communities. This transformation marked a fundamental shift in the structure of symbolic power, with Islam becoming an integral part of the collective identity and social cohesion of Javanese society. Keywords: Islamization; Social Authority; Maritime Islam; Agrarian Islam; Islamic Network
Pemikiran Soekarno Tentang Relasi Islam dan Negara Melalui Teks-Teks Kuliah Umum, 1958-1959 Fanisa Aura
Thaqafiyyat : Jurnal Bahasa, Peradaban dan Informasi Islam Vol 25, No. 1 (2026): Thaqāfiyyāt
Publisher : Fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/thaq.2026.25105

Abstract

Abstrak: Penelitian ini mengkaji pemikiran Soekarno tentang relasi Islam dan negara melalui teks-teks kuliah umum pada tahun 1958–1959. Studi ini berfokus pada bagaimana Soekarno memandang Islam bukan hanya sebagai agama ritual, tetapi sebagai kekuatan moral, sosial, dan revolusioner yang mampu menyatu dengan semangat kebangsaan. Dalam kuliah-kuliah umumnya, Soekarno menekankan nilai-nilai keadilan sosial, gotong royong, serta semangat anti-penindasan yang terkandung dalam Islam, sekaligus menolak gagasan negara Islam formal. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode sejarah dengan empat tahapan, yaitu heuristik, verifikasi, interpretasi, dan historiografi. Penelitian ini menggunakan teori analisis wacana Norman Fairclough dengan pendekatan komunikasi politik yang digunakan untuk melihat bagaimana pesan dan pembentukan pemahaman tersampaikan kepada pembaca melalui teks. Sumber primer yang digunakan dalam penelitian ini adalah teks-teks kuliah umum yang disampaikan oleh Presiden Soekarno pada tahun 1958-1959. Hasil kajian menunjukkan bahwa pemikiran Soekarno berusaha mengaitkan antara negara, Islam, dan budaya lokal, serta prinsip universal demokrasi menjadi satu kesatuan dalam kerangka Pancasila sebagai dasar negara. Keywords: Pemikiran Soekarno; Islam; Negara; Kemanusiaan Abstract: This research examines Soekarno's thoughts on the relationship between Islam and the state drawing on his public lectures from 1958-1959. The study focuses on how Soekarno viewed Islam not only as a ritual religion, but as a moral, social, and revolutionary force capable of merging with the spirit of nationality. In his public lectures, Soekarno emphasized the values of social justice, cooperation, and the spirit of anti-oppression contained in Islam, while rejecting the idea of a formal Islamic state. The method used in this research is the historical method with four stages, namely, heuristics, verification, interpretation, and historiography. This research uses Norman Fairclough's discourse analysis theory with a political-communication approach used to see how messages and the formation of understanding are conveyed to readers through text. The primary sources used in this research are the texts of public lectures delivered by President Soekarno in 1958-1959. The results of the study show that Soekarno's thoughts tried to link the State and Islam, local culture, and the universal principles of democracy into a unity within the framework of Pancasila as the basis of the state. Keywords: Soekarno's Thought; Islam; the State; Humanity
Wahhabi–Ottoman Conflict and the Rise of Religious-Political Power in Arabia Yolfani Meilanda
Thaqafiyyat : Jurnal Bahasa, Peradaban dan Informasi Islam Vol 25, No. 1 (2026): Thaqāfiyyāt
Publisher : Fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/thaq.2026.25106

Abstract

Abstract: This study examines the socio-religious background and political transformation of the Wahhabi movement in the Arabian Peninsula during the eighteenth and early nineteenth centuries. The objective of this research is to analyze how Wahhabism emerged in Najd as a response to religious fragmentation and how it evolved into a political force through its alliance with local rulers. This study argues that Wahhabism was not merely a puritan religious movement, but also a reformist project that redefined the relationship between religious authority and political power in the region. The findings show that the alliance between Muhammad ibn ‘Abd al-Wahhab and Muhammad bin Saud in 1744 marked a crucial turning point, transforming religious reform into a structured political movement. This alliance enabled territorial expansion and the establishment of the First Saudi State, which challenged the legitimacy of the Ottoman Empire as the dominant Islamic authority. The conflict culminated in the Ottoman military expedition led by Muhammad Ali Pasha between 1811 and 1818, which led to the fall of Dir‘iyah. Despite its political defeat, Wahhabism persisted as a resilient ideological force. Its teachings continued to influence religious practices and political structures in Arabia, contributing to the emergence of the modern Saudi state. The study concludes that the Wahhabi–Ottoman conflict reflects a broader struggle over religious authority, political legitimacy, and Islamic reform in the modern era. Keywords: Wahhabism; Ottoman Empire; Islamic reform; political power; Arabian Peninsula Abstrak: Penelitian ini mengkaji latar belakang sosial-keagamaan serta transformasi politik gerakan Wahhabi di Jazirah Arab pada abad ke-18 hingga awal abad ke-19. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kemunculan Wahhabisme di wilayah Najd sebagai respons terhadap fragmentasi kehidupan keagamaan serta menjelaskan bagaimana gerakan tersebut berkembang menjadi kekuatan politik melalui aliansinya dengan penguasa lokal. Penelitian ini berpendapat bahwa Wahhabisme tidak hanya merupakan gerakan pemurnian ajaran Islam, tetapi juga sebuah proyek reformasi yang mendefinisikan kembali hubungan antara otoritas keagamaan dan kekuasaan politik di kawasan tersebut. Penelitian ini menggunakan metode sejarah dengan pendekatan studi kepustakaan melalui tahapan heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aliansi antara Muhammad ibn 'Abd al-Wahhab dan Muhammad bin Saud pada tahun 1744 menjadi titik balik penting yang mengubah gerakan reformasi keagamaan menjadi gerakan politik yang terorganisasi. Aliansi tersebut memungkinkan ekspansi wilayah dan berdirinya Negara Saudi Pertama yang menantang legitimasi Kesultanan Utsmaniyah sebagai otoritas Islam yang dominan. Konflik mencapai puncaknya melalui ekspedisi militer Utsmaniyah yang dipimpin Muhammad Ali Pasha pada periode 1811–1818, yang berakhir dengan jatuhnya Dir'iyah. Meskipun mengalami kekalahan secara politik, Wahhabisme tetap bertahan sebagai kekuatan ideologis yang berpengaruh. Ajaran-ajarannya terus membentuk praktik keagamaan dan struktur politik di Jazirah Arab serta berkontribusi terhadap lahirnya negara Arab Saudi modern. Penelitian ini menyimpulkan bahwa konflik Wahhabi–Utsmaniyah mencerminkan pergulatan yang lebih luas mengenai otoritas keagamaan, legitimasi politik, dan reformasi Islam pada era modern. Kata Kunci: Wahhabisme; Kesultanan Utsmaniyah; reformasi Islam; kekuasaan politik; Jazirah Arab