cover
Contact Name
Kholili Badriza
Contact Email
kholili.badriza@uin-suka.ac.id
Phone
+6285645196843
Journal Mail Official
thaqafiyyat2007@gmail.com
Editorial Address
Faculty of Adab and Cultural Sciences, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta JL. Marsda Adisucipto Yogyakarta, 55281
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Thaqafiyyat : Jurnal Bahasa, Peradaban dan Informasi Islam
ISSN : 14115727     EISSN : 25500937     DOI : -
Thaqafiyyat: Jurnal Bahasa, Peradaban dan Informasi Islam is a journal which focuses on language, culture and Islamic Information. We invite to all contributors from all over the world to participate and share their research both library research or field research. Selected paper normally will be published on June and December in a year.
Articles 138 Documents
Rohingya Refugees in Southeast Asia: Problems and Proposed Solutions in Historical Analysis Oktafia, Sri Wahyuni; Pratama, Adiva Wildan
Thaqafiyyat : Jurnal Bahasa, Peradaban dan Informasi Islam Vol 23, No. 1 (2024): Thaqāfiyyāt
Publisher : Fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/thaq.2024.23106

Abstract

Abstract: This study discusses the humanitarian crisis involving the Rohingya, one of the most persecuted minority groups in the world. They are forced to flee and drift at sea in hopes of finding a better life. The aim of this research is to highlight the issues associated with the Rohingya refugee crisis and propose potential solutions. By using a qualitative approach and utilizing the concepts of crisis and refugees, this study examines the Rohingya refugee crisis. The findings of the study indicate that the Rohingya ethnic group has been experiencing a humanitarian crisis since the 1970s, forcing them to flee. The issues arising from this refugee crisis include the Rohingya Muslim group being stranded, rejected, experiencing death, starvation, suffering, and human trafficking. The solutions presented in this study, which also represent a novelty in the research, include: (1) The international community, particularly the UN, should evaluate its support and mediate between Myanmar and the refugees. (2) ASEAN countries must be more proactive in addressing the crisis. (3) Reform policies to ensure inclusivity and justice for all ethnic groups. (4) Criticize Myanmar’s policies toward the Rohingya through interfaith dialogue. Abstrak: Studi ini membahas krisis kemanusiaan yang dialami oleh Rohingya, salah satu kelompok minoritas yang paling teraniaya di dunia. Mereka terpaksa melarikan diri dan terombang-ambing di laut dengan harapan menemukan kehidupan yang lebih baik. Penelitian ini bertujuan untuk menyoroti permasalahan yang terkait dengan krisis pengungsi Rohingya dan mengusulkan solusi potensial. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif serta konsep krisis dan pengungsi, studi ini menganalisis krisis pengungsi Rohingya. Temuan dalam penelitian ini menunjukkan bahwa kelompok etnis Rohingya telah mengalami krisis kemanusiaan sejak tahun 1970-an yang memaksa mereka untuk melarikan diri. Permasalahan yang muncul dari krisis ini mencakup kelompok Muslim Rohingya yang terdampar, ditolak, mengalami kematian, kelaparan, penderitaan, hingga perdagangan manusia. Solusi yang diajukan dalam studi ini menekankan pentingnya evaluasi dukungan komunitas internasional, terutama PBB, serta peran aktif negara-negara ASEAN dalam menangani krisis tersebut. Selain itu, diperlukan reformasi kebijakan untuk memastikan inklusivitas dan keadilan bagi semua kelompok etnis di Myanmar serta penguatan dialog lintas agama untuk mengkritisi kebijakan diskriminatif yang diterapkan terhadap Rohingya.
Puisi “الرحيل” Karya Nāzik Al-Malāʾikah dalam Semiotika Morris Qomariyah, Lailatul
Thaqafiyyat : Jurnal Bahasa, Peradaban dan Informasi Islam Vol 22, No. 2 (2023): Thaqāfiyyāt
Publisher : Fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/thaq.2023.22204

Abstract

Abstract: This study aims to describe the implicit meanings in the poem "الرحيل" (Departure) by Nāzik Al-Malāʾikah using Morris's three-dimensional semiotics, which includes syntactic, semantic, and pragmatic dimensions. The results of the study reveal that the poem "al-Rahīl" (Departure) consists of five stanzas divided into three parts. The first part, encompassing the first and second stanzas, reflects the speaker’s journey from "I" to "all his pain." The second part, covering the third and fourth stanzas, portrays the journey from "I" to "life." The third part consists solely of the fifth stanza, expressing "I" in relation to others. From these three sections, it can be concluded that the speaker has embraced both the sweetness and trials of life with sincerity and is preparing to leave the world, viewing death as a transition. The speaker hopes that their charitable actions in this life will be remembered.Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan makna implisit dalam puisi "الرحيل" (Kepergian) karya Nāzik Al-Malāʾikah dengan menggunakan semiotika tiga dimensi Morris, yang mencakup dimensi sintaksis, semantis, dan pragmatis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa puisi "al-Rahīl" (Kepergian) terdiri dari lima bait yang dibagi menjadi tiga bagian. Bagian pertama, yang mencakup bait pertama dan kedua, mencerminkan perjalanan tokoh "aku" dari "aku" ke "segala rasa sakitnya." Bagian kedua, mencakup bait ketiga dan keempat, menggambarkan perjalanan dari "aku" ke "kehidupan." Bagian ketiga hanya terdiri dari bait kelima, yang mengungkapkan "aku" dalam hubungannya dengan orang lain. Dari ketiga bagian ini, dapat disimpulkan bahwa tokoh "aku" telah menerima baik manisnya hidup maupun cobaannya dengan ketulusan dan bersiap untuk meninggalkan dunia, memandang kematian sebagai sebuah transisi. Tokoh "aku" berharap bahwa amal perbuatannya di dunia ini akan dikenang.
Arti Penting Penulisan Sejarah Perang Sabil Jawa Alfatah, Arif
Thaqafiyyat : Jurnal Bahasa, Peradaban dan Informasi Islam Vol 22, No. 2 (2023): Thaqāfiyyāt
Publisher : Fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/thaq.2023.22205

Abstract

Abstract: This paper examines and discusses various perspectives on the historical writing of the Javanese Sabil War. Additionally, it addresses the meaning of history, historical sources, the Qur’an’s guidance on the importance of history, the value of history, and the urgency of rewriting it. The analytical method applied in this paper is a literature study using primary and secondary sources. The insights provided aim to encourage readers, academics, and researchers to conduct further research and write their studies comprehensively. In this way, the unique essence of Indonesian history can be effectively conveyed, especially when the facts are presented by Indonesians themselves.Abstrak: Penelitian ini membahas berbagai perspektif tentang penulisan sejarah Perang Sabil Jawa. Selain itu, penelitian ini juga membahas makna sejarah, sumber sejarah, petunjuk Al-Qur'an tentang pentingnya sejarah, nilai sejarah, dan urgensi penulisan ulang sejarah. Metode analisis yang diterapkan dalam penelitian ini adalah studi literatur dengan menggunakan sumber primer dan sekunder. Analisis yang disajikan bertujuan untuk mendorong pembaca, akademisi, dan peneliti untuk melakukan penelitian lanjutan dan menulis studi mereka secara komprehensif. Dengan cara ini, esensi khas sejarah Indonesia dapat disampaikan secara efektif, terutama jika fakta-faktanya disajikan oleh orang Indonesia sendiri.
Respons Sultan-Sultan Banten Terhadap Intervensi Belanda Tahun 1684-1811 Siregar, Ahmad Rajab; Latifah, Zuhrotul
Thaqafiyyat : Jurnal Bahasa, Peradaban dan Informasi Islam Vol 22, No. 2 (2023): Thaqāfiyyāt
Publisher : Fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/thaq.2023.22206

Abstract

penelitian ini mengkaji tentang respons sultan-sultan Banten dalam menghadapi intervensi Belanda dalam pemerintahannya. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan intervensi yang dilakukan Belanda terhadap Banten sejak Sultan Haji berkuasa hingga ditaklukkan Inggris, menguraikan para sultan Banten yang mendapat intervensi Belanda, dan reaksi para sultan terhadap intervensi yang dirasakannya. Penelitian ini menggunakan pendekatan politik untuk memahami respons para sultan Banten. Metode yang dipakai adalah metode penelitian sejarah yang mencakup empat tahap, yaitu heuristik, verifikasi, interpretasi, dan historiografi. Hasil penelitian ini ialah perjanjian Sultan Haji dengan Belanda yang disepakati tanggal 17 April 1684, menjadi langkah awal Belanda untuk mengintervensi Banten. Sejak era Sultan Haji, Kesultanan Banten telah berada dalam pengaruh Belanda. Sebagian keputusan sultan juga harus mendapat izin Belanda terlebih dahulu. Belanda juga memonopoli perdagangan di Banten, bahkan mendirikan benteng pertahanan untuk memperkuat posisinya. Intervensi yang dilakukan Belanda membawa dampak buruk bagi Banten. Kondisi Banten kala itu sudah seperti daerah bagian Belanda yang harus mengikuti kemauannya. Menghadapi situasi ini, para sultan Banten memberikan reaksi atas campur tangan Belanda terhadap pemerintahannya. Sebagian sultan memilih untuk bersahabat dengan Belanda dan sisanya melakukan perlawanan. Meskipun berbeda dalam menghadapi intervensi Belanda, para sultan Banten ternyata memiliki tujuan yang sama yaitu mempertahankan Kesultanan Banten.
Measuring the Influence of Philosophy on Arab Balaghah: A Critical Study of Amin al-Khuli's Thought Qudsiyah, Wardah Nailul; Wafi, Hasan Abdul; Syihabuddin, Muhammad; Zenrif, M. Fauzan
Thaqafiyyat : Jurnal Bahasa, Peradaban dan Informasi Islam Vol 23, No. 1 (2024): Thaqāfiyyāt
Publisher : Fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/thaq.2024.23101

Abstract

Abstract: This article aims to explore the relationship between philosophy and balaghah, as well as the mutual influence between the two, focusing on Amin al-Khuli's “Manahij Tajdid Fi al-Nahw Wa al-Balaghah Wa al-Tafsir Wa al-Adab.” The relationship between philosophy and balaghah is a rarely discussed topic, so this article offers a new perspective on the study of Arabic literature and philosophical thought. In this study, the main sources analyzed are al-Khuli's works as well as several relevant articles and books, both those that discuss al-Khuli's thoughts directly and those that highlight the historical development of philosophy and balaghah. The method used is descriptive-analytical, in which the research deeply examines primary and secondary literature related to the topic. The author attempts to identify the elements of philosophy in classical balaghah works, as well as to trace the traces of philosophical thought in the balaghah tradition. The research also examines the important role of the translation of Aristotle's works into Arabic, which enriched the development of both disciplines. The results show that philosophical thought has long been present in the works of balaghah figures. This influence can be seen in written works that combine elements of philosophy and balaghah. Furthermore, the translation of classical Greek philosophical texts by Arab scholars further reinforced the importance of understanding philosophy for balaghah scholars. In conclusion, the relationship between philosophy and balaghah is mutually influential. Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi hubungan antara filsafat dan balaghah, serta pengaruh timbal balik antara keduanya, dengan fokus pada karya Amin al-Khuli yang berjudul Manahij Tajdid Fi al-Nahw Wa al-Balaghah Wa al-Tafsir Wa al-Adab. Hubungan antara filsafat dan balaghah merupakan topik yang jarang dibahas, sehingga artikel ini menawarkan perspektif baru dalam kajian sastra Arab dan pemikiran filosofis. Sumber utama yang dianalisis adalah karya-karya al-Khuli serta beberapa artikel dan buku relevan lainnya, baik yang membahas pemikiran al-Khuli secara langsung maupun yang menyoroti perkembangan historis filsafat dan balaghah. Metode yang digunakan adalah deskriptif-analitis dengan menelaah secara mendalam literatur primer dan sekunder yang berkaitan dengan topik. Penulis berupaya mengidentifikasi elemen-elemen filsafat dalam karya-karya balaghah klasik, serta menelusuri jejak pemikiran filosofis dalam tradisi balaghah. Penelitian ini juga mengkaji peran penting penerjemahan karya-karya Aristoteles ke dalam bahasa Arab, yang memperkaya perkembangan kedua disiplin ilmu tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemikiran filosofis telah lama hadir dalam karya-karya tokoh balaghah. Pengaruh ini dapat dilihat dalam karya-karya tertulis yang menggabungkan elemen-elemen filsafat dan balaghah. Lebih lanjut, penerjemahan teks-teks filosofis Yunani klasik oleh para sarjana Arab semakin memperkuat pentingnya pemahaman filsafat bagi para ahli balaghah. Kesimpulannya, hubungan antara filsafat dan balaghah saling mempengaruhi satu sama lain.
Islamic Legal Review of the Tradition of Laylat al-Henna in Wedding Ceremonies in Arab-Indonesia Descendant Families in Palu City Hamsah, Yudi; Rahmy, Irma Nur; Al-Habsyi, Fathiya
Thaqafiyyat : Jurnal Bahasa, Peradaban dan Informasi Islam Vol 23, No. 1 (2024): Thaqāfiyyāt
Publisher : Fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/thaq.2024.23102

Abstract

Abstract: One tradition that is currently still in effect and practiced by the community is the tradition of using henna in wedding ceremonies. The issue that arises in this henna usage tradition is that, with the advancement of technology, various types of henna have proliferated in the market, some of which are mixed with chemicals that can form a waterproof layer, thus making the color of the henna more intense and accelerating absorption. The diversity of henna types has led many people to doubt the naturalness of the ingredients contained in henna paste and may impede purity in worship. The purpose of this research is to analyze the issues related to the use of henna in the context of Islamic law, using empirical legal research methods and a sociology of Islamic law approach. This research then produces several conclusions: first, there are two types in the categorization of henna paste, namely natural henna with a reddish-brown color and black henna, which is the result of mixing natural henna with chemical substances. In the community's view, black henna should not be used. Second, the tradition of using henna in the Arab-Indonesian community in Palu is referred to as Laylat al-Henna, which has symbolic meaning, such as the hope that the prospective bride will soon have offspring, bringing happiness to the family that will be established. The Laylat al-Henna tradition falls into the category of 'urf shahih because it does not contradict Sharia, both in the text and other legal sources.Abstrak: Penggunaan henna dalam upacara pernikahan masih menjadi tradisi yang umum di masyarakat. Masalah yang muncul dalam tradisi penggunaan henna ini adalah, dengan kemajuan teknologi, berbagai jenis henna telah banyak beredar di pasaran, beberapa di antaranya dicampur dengan bahan kimia yang dapat membentuk lapisan tahan air sehingga membuat warna henna lebih pekat dan mempercepat penyerapan. Keberagaman jenis henna ini membuat banyak orang meragukan kealamian bahan yang terkandung dalam pasta henna dan dapat menghambat kesucian dalam beribadah. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis permasalahan terkait penggunaan henna dalam konteks hukum Islam, dengan menggunakan metode penelitian hukum empiris dan pendekatan sosiologi hukum Islam. Penelitian ini menghasilkan beberapa kesimpulan: pertama, terdapat dua jenis dalam klasifikasi pasta henna, yaitu henna alami dengan warna merah kecoklatan dan henna hitam yang merupakan hasil campuran henna alami dengan bahan kimia. Dalam pandangan masyarakat, henna hitam sebaiknya tidak digunakan. Kedua, tradisi penggunaan henna di kalangan masyarakat Arab-Indonesia di Palu disebut dengan Laylat al-Henna, yang memiliki makna simbolis, seperti harapan agar calon pengantin segera mendapatkan keturunan, membawa kebahagiaan bagi keluarga yang akan dibentuk. Tradisi Laylat al-Henna termasuk dalam kategori 'urf shahih karena tidak bertentangan dengan syariat, baik dalam teks maupun sumber hukum lainnya.
Conquering Oppression through Cosmopolitanism: Islam, Race, and Racism in Writings of Edward Wilmot Blyden and Cheikh Ahmadou Bamba Mbaye, Babacar
Thaqafiyyat : Jurnal Bahasa, Peradaban dan Informasi Islam Vol 23, No. 1 (2024): Thaqāfiyyāt
Publisher : Fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/thaq.2024.23103

Abstract

Abstract: This essay analyzes the Sufi religious thoughts of Cheikh Ahmadou Bamba, the founder of the Murid Islamic brotherhood of Senegal, as reflections of the cosmopolitan openness to the “other” and the rest of the world that the Pan-African scholar, Edward Wilmot Blyden, celebrates in his book, entitled Christianity, Islam and the Negro Race (1887). Blyden admired, in late nineteenth-century West African Islamic traditions, cosmopolitanism, and rejections of violence that one also finds in Bamba’s book, Mawahibul Quddus. Bamba’s text was produced in the late nineteenth century and was translated into English in 2003 as God’s Sacred Identity.Using Blyden’s book as an early exploration of the West African cosmopolitan tradition of resistance and celebration of rationality that mesmerized him, this essay explores how similar ideas were noticeable in Bamba’s Sufism. In his theology, Bamba also examines how reason and cosmopolitanism can dismantle racial and other forms of intolerance and domination.Abstrak: Esai ini menganalisis pemikiran religius Sufi dari Cheikh Ahmadou Bamba, pendiri  Murid Islamic brotherhoodof Senegal, sebagai refleksi keterbukaan kosmopolitan terhadap "yang lain" dan dunia, yang dirayakan oleh cendekiawan Pan-Afrika, Edward Wilmot Blyden dalam bukunya yang berjudul Christianity, Islam and the Negro Race (1887). Blyden mengagumi tradisi Islam Afrika Barat pada akhir abad ke-19 yang menunjukkan kosmopolitanisme dan penolakan terhadap kekerasan, yang juga ditemukan dalam buku Bamba, Mawahibul Quddus. Teks Bamba ini ditulis pada akhir abad ke-19 dan diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris pada tahun 2003 dengan judul God’s Sacred Identity. Dengan menggunakan buku Blyden sebagai eksplorasi awal tradisi kosmopolitanisme Afrika Barat yang menawan baginya, esai ini mengeksplorasi bagaimana ide serupa terlihat dalam sufisme Bamba. Dalam teologinya, Bamba juga mengkaji bagaimana akal dan kosmopolitanisme dapat membongkar intoleransi rasial dan bentuk dominasi lainnya.
Raden Ngabehi Gagak Handaka dan Perjuangannya Sebagai Adipati Terakhir Kadipaten Loano di Purworejo (1755-1836) Subakti, Dihyal
Thaqafiyyat : Jurnal Bahasa, Peradaban dan Informasi Islam Vol 23, No. 1 (2024): Thaqāfiyyāt
Publisher : Fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/thaq.2024.23104

Abstract

Abstract: Raden Ngabehi Gagak Handaka was the last ruler of Kadipaten Loano in Purworejo. During his reign, he focused on improving the welfare of his people by establishing educational institutions, such as pesantren (Islamic boarding schools) and literacy training centers. His rule coincided with the Java War (Diponegoro War), which impacted Loano. This article aims to explore Gagak Handaka's life, his efforts in promoting education, and his involvement in the Java War. Using a biographical approach and historical research methods (including source collection, verification, interpretation, and historiography), the study reveals that Gagak Handaka was raised in a religious environment and educated by Kiai Ki Kasan Kesambi at Gunung Damar. As ruler, he initiated several educational projects and personally taught his people. During the Java War, Gagak Handaka allied with Prince Diponegoro's forces, defending Loano against the Dutch and their allies. Despite his efforts, the war ended in defeat, marking the fall of Kadipaten Loano. Shortly after, Gagak Handaka passed away.Abstrak: Raden Ngabehi Gagak Handaka merupakan seorang raja/adipati terakhir Kadipaten Loano di Purworejo. Selama berkuasa ada beberapa cara yang ia lakukan untuk mensejahterakan rakyatnya dengan membangun lembaga pendidikan berupa pesantren dan pelatihan baca tulis. Masa kepemimpinanya juga dihadapkan dengan peristiwa besar yaitu Perang Jawa (Perang Diponegoro) yang terjadi di Loano. Tulisan ini bertujuan untuk menjelaskan riwayat hidup Gagak Handaka dan upayanya dalam mensejahterakan rakyatnya melalui pendidikan. Selain itu, dijelaskan juga keikutsertaan perjuangan Gagak Handaka pada masa Perang Jawa. Penelitian ini menggunakan pendekatan biografi sebagai alat analisis. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian sejarah yang terdiri dari heuristik (pengumpulan sumber), verifikasi (kritik sumber), interpretasi, dan historiografi. Hasil penelitian yaitu, Gagak Handaka merupakan seorang putra mahkota di Kadipaten Loano dan berada di lingkungan yang agamis. Pada masa mudanya dididik oleh Kiai Ki Kasan Kesambi di perguruan Gunung Damar. Ketika dinobatkan menjadi penguasa Kadipaten Loano, Gagak Handaka membuat beberapa tempat pendidikan bagi warganya sekaligus ia mengajar secara langsung. Menjelang akhir kekuasaannya, Gagak Handaka dihadapkan dengan Perang Diponegoro yang awal mulanya meletus di Yogyakarta dan akhirnya melebar ke Kadipaten Loano. Sebagai penguasa Loano, Gagak Handaka bergabung ke pasukan Diponegoro dan ikut berjuang untuk mempertahankan Loano dari serangan kolonial Belanda dan para sekutunya. Namun, dalam perang tersebut berakhir mengalami kekalahan yang sekaligus menjadi tanda keruntuhan Kadipaten Loano, dan tidak lama setelah kejadian itu Gagak Handaka wafat.
Gen Z's Perspective on Balaclava Hijab Trend Auhaina, Adillya Kafilla; Rodiah, Ita
Thaqafiyyat : Jurnal Bahasa, Peradaban dan Informasi Islam Vol 23, No. 1 (2024): Thaqāfiyyāt
Publisher : Fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/thaq.2024.23105

Abstract

Abstract: This study aims to understand and explore the controversial issue of wearing balaclava as a jilbab among Generation Z. The research method used is a qualitative descriptive research approach, with data collection techniques of observation, interviews, and documentation, and the technique of determining research informants using accidental sampling. The result of this research is that balaclava is a head covering worn by British soldiers when on duty in winter. Over time, balaclava has become very popular among motorcycle lovers. balaclava is used as a self-protection tool by motorcyclists to protect themselves from the wind and dust that blow strongly while driving. Nowadays, balaclava is becoming a trend among Indonesian hijabers, because of its unique and practical model. Muslim women use balaclava as a hijab style to look fashionable. However, the use of this jilbab has caused various controversies among Gen Z. There are some who agree with the use of the jilbab. There are some who agree with the use of this jilbab because it is simple and fashionable, but other opinions say that balaclava is considered not following Islamic law because it does not cover the aurat perfectly.Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk memahami dan mengeksplorasi isu kontroversial penggunaan balaclava sebagai jilbab di kalangan Generasi Z. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan penelitian deskriptif kualitatif, dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi, serta teknik penentuan informan penelitian menggunakan accidental sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa balaclava awalnya merupakan penutup kepala yang dikenakan oleh tentara Inggris saat bertugas di musim dingin. Seiring waktu, balaclava menjadi sangat populer di kalangan pecinta sepeda motor. Balaclava digunakan sebagai alat pelindung diri oleh pengendara motor untuk melindungi diri dari angin dan debu yang berhembus kencang saat berkendara. Saat ini, balaclava menjadi tren di kalangan hijabers Indonesia karena modelnya yang unik dan praktis. Perempuan Muslim menggunakan balaclava sebagai gaya hijab untuk tampil modis. Namun, penggunaan jilbab ini menimbulkan berbagai kontroversi di kalangan Generasi Z. Ada yang setuju dengan penggunaan jilbab ini karena dianggap simpel dan modis, tetapi ada juga yang berpendapat bahwa balaclava dianggap tidak sesuai dengan hukum Islam karena tidak menutup aurat dengan sempurna.
Illocutionary Acts in the Collective Religious Narcissism Discourses of Young Indonesian Muslims on Instagram Firdausiyah, Hurrotul
Thaqafiyyat : Jurnal Bahasa, Peradaban dan Informasi Islam Vol 23, No. 2 (2024): Thaqāfiyyāt
Publisher : Fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/thaq.2024.%x

Abstract

This current study aims to discuss the collective religious narcissism in social media accounts in a pragmatic study. It tries to scrutinize the functions and the strategies of illocutionary acts used in the collective religious narcissism discourses of young Indonesian Muslims on Instagram. This study is descriptive qualitative research, and the data are the collective religious narcissism discourses taken from the Instagram captions of three young Indonesian Muslim accounts, namely Pemuda Muhammadiyah (PM), Generasi Muda NU (GMNU), and Indonesia Tanpa Pacaran (ITP). In analyzing the data, Searle's (1979) speech act classification and Meyer's (2009) speech act strategies are applied to achieve the aim of this study. The results show that illocutionary acts in the collective religious narcissism discourses are presented in several functions, such as to state some affairs (representatives), to invite the readers, especially the cadres, to join the organization activities and to prohibit the cadres from doing something that is not in line with the ingroup’s beliefs (directives), to express congratulation and to say thanks and wishes (expressives), to commit a future action responding recent issues (commissives), and to declare or confirm organization agendas that bring a change on the next day (declarations). In the strategies of the illocutionary acts in the collective religious narcissism discourses, the results show that PM, ITP, and GMNU use similar strategies which are direct, explicit, and implicit. Penelitian ini bertujuan untuk membahas narsisme kolektif keagamaan di media sosial dengan kajian pragmatik. Penelitian ini mencoba untuk mengkaji fungsi dan strategi tindak tutur ilokusi yang digunakan dalam wacana narsisme kolektif anak muda Muslim Indonesia di Instagram. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif dengan data berupa wacana narsisme kolektif keagamaan yang diambil dari takarir Instagram tiga akun anak muda Muslim Indonesia, yaitu Pemuda Muhammadiyah (PM), Generasi Muda NU (GMNU), dan Indonesia Tanpa Pacaran (ITP). Dalam menganalisis data, klasifikasi tindak tutur berdasarkan fungsi yang diajukan oleh Searle (1979) dan strategi tindak tutur oleh Meyer (2009) diterapkan untuk mencapai tujuan dari penelitian ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tindak ilokusi dalam wacana narsisme religius kolektif disajikan dalam beberapa fungsi, seperti untuk menyatakan suatu hal (representatif), untuk mengajak pembaca, terutama kader, untuk bergabung dalam kegiatan organisasi dan untuk melarang kader melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan keyakinan kelompok (direktif), mengucapkan selamat dan mengucapkan terima kasih serta harapan (ekspresif), melakukan suatu tindakan di masa depan dalam menanggapi isu-isu yang sedang berkembang (komisif), dan juga mendeklarasikan atau mengkonfirmasi agenda-agenda organisasi yang membawa perubahan di kemudian hari (deklarasi). Dalam strategi tindak ilokusi dalam wacana narsisme agama kolektif, hasil penelitian menunjukkan bahwa PM, ITP, dan GMNU menggunakan strategi yang sama yaitu langsung, eksplisit, dan implisit.