cover
Contact Name
Kholili Badriza
Contact Email
kholili.badriza@uin-suka.ac.id
Phone
+6285645196843
Journal Mail Official
thaqafiyyat2007@gmail.com
Editorial Address
Faculty of Adab and Cultural Sciences, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta JL. Marsda Adisucipto Yogyakarta, 55281
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Thaqafiyyat : Jurnal Bahasa, Peradaban dan Informasi Islam
ISSN : 14115727     EISSN : 25500937     DOI : -
Thaqafiyyat: Jurnal Bahasa, Peradaban dan Informasi Islam is a journal which focuses on language, culture and Islamic Information. We invite to all contributors from all over the world to participate and share their research both library research or field research. Selected paper normally will be published on June and December in a year.
Articles 147 Documents
خامس الخلفاء الراشدين: بين المشهور والحقيقة المنسية Sultan
Thaqafiyyat : Jurnal Bahasa, Peradaban dan Informasi Islam Vol 24, No. 2 (2025): Thaqāfiyyāt
Publisher : Fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/thaq.2025.24204

Abstract

الملخص: تبحث هذه الدراسة في مسألة تلقيب عمر بن عبد العزيز بـ خامس الخلفاء الراشدين، وتناقش مدى مشروعية هذا اللقب من منظور تاريخي نقدي، مع التركيز على إغفاله لخلافة الحسن بن علي بن أبي طالب. وتنطلق الدراسة من فرضية مفادها أن إطلاق هذا اللقب على عمر بن عبد العزيز يفتقر إلى الدقة التاريخية، لأنه يتجاوز واقعة تاريخية ثابتة، وهي مبايعة الحسن بن علي بالخلافة بعد استشهاد والده، وتوليه الحكم فعليا ولو لفترة وجيزة. وتعتمد الدراسة المنهج التاريخي التحليلي، من خلال التتبع في الكتب التاريخية المعتمدة، مع توظيف المقارنة بين سياق الخلافة الراشدة والسياق السياسي للدولة الأموية، للكشف عن الخلل المنهجي في تعميم هذا اللقب. وتبين الدراسة أن الخلافة الراشدة قامت على أسس الشورى والعدل والمساواة، وأن الخلفاء الراشدين المتعارف عليهم أربعة: أبو بكر الصديق، وعمر بن الخطاب، وعثمان بن عفان، وعلي بن أبي طالب، غير أن هذا الحصر لا يستقيم تاريخيا في ظل ثبوت خلافة الحسن بن علي بالبيعة الشرعية. وبناء عليه، ترى الدراسة أن تلقيب عمر بن عبد العزيز بخامس الخلفاء الراشدين، رغم عدله وإصلاحاته، يؤدي إلى تهميش الدور التاريخي للحسن بن علي، ويضفي توصيفا تقويميا أخلاقيا في موضع توصيف تاريخي. وتخلص الدراسة إلى ضرورة التمييز بين الخلافة الراشدة بوصفها مرحلة تاريخية محددة، وبين التقدير الأخلاقي لسيرة بعض الخلفاء، مع تأكيد أحقية الحسن بن علي بلقب خامس الخلفاء الراشدين دون غيره. Abstrak: Studi ini membahas persoalan penyematan gelar Khalifah Rasyid Kelima kepada Umar bin Abdul Aziz serta mendiskusikan sejauh mana legitimasi gelar tersebut dari perspektif sejarah kritis dengan penekanan pada pengabaiannya terhadap kekhalifahan Hasan bin Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu. Penelitian ini berangkat dari hipotesis bahwa pemberian gelar tersebut kepada Umar bin Abdul Aziz tidak memiliki ketepatan historis karena mengabaikan fakta sejarah yang telah mapan yaitu baiat terhadap Hasan bin Ali sebagai khalifah setelah wafatnya ayah beliau serta pelaksanaan kekuasaannya secara nyata meskipun dalam kurun waktu yang singkat. Penelitian ini menggunakan metode sejarah analitis dengan menelusuri sumber sumber sejarah otoritatif serta menerapkan pendekatan komparatif antara konteks kekhalifahan Rasyidah dan konteks politik Dinasti Umayyah guna mengungkap kekeliruan metodologis dalam generalisasi penggunaan gelar tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kekhalifahan Rasyidah berdiri di atas prinsip syura keadilan dan persamaan dan secara umum dikenal terdiri dari empat khalifah yaitu Abu Bakar ash Shiddiq Umar bin al Khattab Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhum. Namun pembatasan ini tidak sepenuhnya konsisten secara historis mengingat adanya bukti kuat mengenai kekhalifahan Hasan bin Ali yang ditegakkan melalui baiat yang sah. Berdasarkan hal tersebut studi ini berpendapat bahwa penyebutan Umar bin Abdul Aziz sebagai Khalifah Rasyid Kelima meskipun diakui keadilan dan reformasi yang dilakukannya berimplikasi pada pengaburan peran historis Hasan bin Ali serta mencampuradukkan penilaian moral dengan klasifikasi historis. Penelitian ini menyimpulkan perlunya pembedaan yang tegas antara kekhalifahan Rasyidah sebagai fase sejarah tertentu dan apresiasi etis terhadap figur figur khalifah tertentu dengan menegaskan bahwa Hasan bin Ali lebih layak menyandang gelar Khalifah Rasyid Kelima dibandingkan tokoh lainnya.
Sunni dan Syi'ah: Dinamika Sejarah dan Tantangan dalam Membangun Peradaban Islam Global Natasya Farhati Yunis; Lailatul Barqah; Eliya Roza
Thaqafiyyat : Jurnal Bahasa, Peradaban dan Informasi Islam Vol 24, No. 1 (2025): Thaqāfiyyāt
Publisher : Fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/thaq.2025.24105

Abstract

Abstract: This research aims to examine the historical dynamics as well as the roles and challenges of Sunni and Shi'a in building a global Islamic civilization. Sunni and Shi'a as two major sects often have different views and often contradict each other. In addition to cooperation, it is not uncommon for conflicts to decorate the relationship between these two schools. This research is a qualitative research using a literature review. This study shows that historically, Sunni-Shi'a differences began with leadership disputes after the death of the Prophet Muhammad (PBUH), which later developed into theological, ideological, and practical differences. The main difference between the two lies in the concept of leadership (caliphate vs. imamah), the source of law, and the view of the Prophet's companions. Conflicts between Sunnis and Shi'ites are often triggered by political and geopolitical factors. However, efforts for dialogue, educational reform, and cross-sectarian cooperation also continue to be carried out for the sake of harmonization of relations. Furthermore, the dynamics of relations between Sunnis and Shi'a are not solely antagonistic. History records that in addition to conflicts, there were also periods of collaboration and mutual influence between the two, both in the intellectual and cultural fields. These two schools played an important role in building the Islamic scientific tradition. In the context of an increasingly connected and complex world, the challenges faced by Muslims require cross-sectarian solidarity, not sharpening differences. Thus, the future of global Islamic civilization will be largely determined by the ability of Sunnis and Shi'a to understand, respect, and work together for the common good. Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji dinamika sejarah serta peran dan tantangan  sunni dan syi’ah dalam membangun peradaban Islam global. Sunni dan syi’ah sebagai dua aliran besar kerap memiliki perbedaan pandangan dan sering bertentangan. Selain kerjasama, tak jarang konflik menghiasi hubungan kedua aliran ini. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan menggunakan kajian kepustakaan. Penelitian ini menunjukkan bahwa secara historis, perbedaan Sunni-Syi’ah bermula dari sengketa kepemimpinan pasca wafatnya Nabi Muhammad SAW, yang kemudian berkembang menjadi perbedaan teologis, ideologis, dan praktik keagamaan. Perbedaan utama antara keduanya terletak pada konsep kepemimpinan (khilafah vs. imamah), sumber hukum, dan pandangan terhadap sahabat Nabi. Adapun konflik antara Sunni dan Syi’ah seringkali dipicu oleh faktor politik dan geopolitik. Namun demikian, upaya dialog, reformasi pendidikan, dan kerja sama lintas mazhab juga terus dilakukan demi harmonisasi hubungan. Lebih jauh, dinamika hubungan antara Sunni dan Syi’ah tidak semata-mata bersifat antagonistik. Sejarah mencatat bahwa selain konflik, terdapat pula masa-masa kolaborasi dan saling pengaruh di antara keduanya, baik dalam bidang intelektual maupun budaya. Kedua mazhab ini berperan penting dalam membangun tradisi keilmuan Islam. Dalam konteks dunia yang semakin terhubung dan kompleks, tantangan yang dihadapi umat Islam membutuhkan solidaritas lintas mazhab, bukan justru mempertajam perbedaan. Dengan demikian, masa depan peradaban Islam global akan sangat ditentukan oleh kemampuan Sunni dan Syi’ah untuk saling memahami, menghargai, dan bekerja sama demi kemaslahatan bersama.    
Resonansi Mistisisme Sufi dalam Sastra Nusantara: Konsep Wahdat al-Wujūd dalam Lagu “Satu” Iklila, Difla
Thaqafiyyat : Jurnal Bahasa, Peradaban dan Informasi Islam Vol 24, No. 2 (2025): Thaqāfiyyāt
Publisher : Fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/thaq.2025.24202

Abstract

Abstract: This paper examines the concept of Wahdat al-wujūd as expressed in Ahmad Dhani's song "Satu," part of the controversial album "Laskar Cinta." The album generated significant debate due to its perceived religious implications, particularly concerning its cover art and the symbolism in the "Satu" music video. Critics accused the album of blasphemy, associating it with the teachings of Syeh Siti Jenar, a proponent of Wahdat al-wujūd, which asserts the unity of God and humanity. This research employs a hermeneutic approach to analyze the lyrics of "Satu," focusing on the language, symbolism, and metaphors that reflect or reinterpret traditional views of Wahdat al-wujūd. The analysis reveals that the song conveys themes of divine love and spiritual unity, suggesting that human experience is a reflection of the divine presence. Key findings indicate that the lyrics express a profound yearning for closeness to God, highlighting that all actions are manifestations of divine will. In conclusion, this study emphasizes the significance of "Satu" as a modern artistic representation of Sufi thought, demonstrating how contemporary music can be a medium for spiritual exploration and the expression of divine unity. Abstrak: Makalah ini mengkaji konsep Wahdat al-wujūd yang diekspresikan dalam lagu “Satu” karya Ahmad Dhani, bagian dari album “Laskar Cinta” yang kontroversial. Album ini menimbulkan perdebatan yang signifikan karena implikasi religius yang dirasakan, khususnya mengenai sampul album dan simbolisme dalam video musik “Satu”. Para kritikus menuduh album tersebut sebagai penistaan agama, mengaitkannya dengan ajaran Syeh Siti Jenar, seorang pendukung Wahdat al-wujūd, yang menegaskan kesatuan Tuhan dan manusia. Penelitian ini menggunakan pendekatan hermeneutika untuk menganalisis lirik lagu “Satu,” dengan fokus pada bahasa, simbolisme, dan metafora yang merefleksikan atau menafsirkan kembali pandangan tradisional Wahdat al-wujūd. Analisis tersebut mengungkapkan bahwa lagu tersebut menyampaikan tema cinta ilahi dan kesatuan spiritual, yang menunjukkan bahwa pengalaman manusia merupakan cerminan dari kehadiran ilahi. Temuan utama menunjukkan bahwa lirik lagu tersebut mengekspresikan kerinduan yang mendalam akan kedekatan dengan Tuhan, menyoroti bahwa semua tindakan adalah manifestasi dari kehendak ilahi. Sebagai kesimpulan, penelitian ini menekankan pentingnya “Satu” sebagai representasi artistik modern dari pemikiran Sufi, yang menunjukkan bagaimana musik kontemporer dapat menjadi media untuk eksplorasi spiritual dan ekspresi kesatuan ilahi.
Peran Sultan Abdul Hamid II dalam Mempertahankan Tanah Palestina dari Yahudi Tahun 1876–1909 Ana, Ana Tutik Alawiyah; Muhammad Yusrul Hana
Thaqafiyyat : Jurnal Bahasa, Peradaban dan Informasi Islam Vol 24, No. 1 (2025): Thaqāfiyyāt
Publisher : Fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/thaq.2025.24104

Abstract

Abstract: This study examines the role of Sultan Abdul Hamid II in defending Palestine from the efforts of the Jewish Zionist movement in the period 1876–1909. The focus of the study is directed at the political, diplomatic, and ideological strategies implemented by Sultan Abdul Hamid II to reject the offer of the Zionist figure Theodor Herzl who attempted to purchase Palestinian land for Jewish settlement. This study uses a qualitative method with a literature study approach, referring to primary sources such as the memoirs of Sultan Abdul Hamid II and historical documents of the Ottoman Empire, as well as secondary sources in the form of books, scientific articles, and previous theses. Data analysis was carried out through the stages of heuristics, verification, interpretation, and historiography, with a geopolitical theoretical framework that views the relationship between geographical conditions and political policies. The results of the study show that Sultan Abdul Hamid II rejected all forms of sales of Palestinian land to foreign parties, implemented a Pan-Islamic policy to strengthen Muslim solidarity, and tightened administrative supervision and restrictions on Jewish immigration. This decision not only maintained the territorial integrity of the Ottoman Empire, but also strengthened the political awareness of Muslims regarding the importance of Palestine as a holy land. This research contributes to the historical understanding of territorial defense policy in the context of colonialism and religious nationalist movements in the late 19th and early 20th centuries. Abstrak: Penelitian ini membahas peran Sultan Abdul Hamid II dalam mempertahankan Palestina dari upaya gerakan Zionis Yahudi pada periode 1876–1909. Fokus penelitian diarahkan pada strategi politik, diplomatik, dan ideologis yang diterapkan Sultan Abdul Hamid II untuk menolak tawaran tokoh Zionis Theodor Herzl yang berupaya membeli tanah Palestina sebagai wilayah pemukiman Yahudi. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kepustakaan, mengacu pada sumber-sumber primer seperti memoar Sultan Abdul Hamid II dan dokumen sejarah Kesultanan Utsmaniyah, serta sumber sekunder berupa buku, artikel ilmiah, dan skripsi terdahulu. Analisis data dilakukan melalui tahapan heuristik, verifikasi, interpretasi, dan historiografi, dengan kerangka teori geopolitik yang memandang keterkaitan antara kondisi geografis dan kebijakan politik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Sultan Abdul Hamid II menolak segala bentuk penjualan tanah Palestina kepada pihak asing, menerapkan kebijakan Pan-Islamisme untuk memperkuat solidaritas umat Islam, serta memperketat pengawasan administratif dan pembatasan imigrasi Yahudi. Keputusan ini tidak hanya mempertahankan integritas wilayah Kesultanan Utsmaniyah, tetapi juga memperkuat kesadaran politik umat Islam terhadap pentingnya Palestina sebagai tanah suci. Penelitian ini berkontribusi pada pemahaman historis mengenai kebijakan pertahanan wilayah dalam konteks kolonialisme dan gerakan nasionalisme religius pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.
Transformasi Ekspansi Militer Turki Usmani Masa Sultan Salim I dan Sultan Sulaiman I (1512-1566 M) Muhammad Haikal Faza; Satria Hilmi Nasyith Harun; Rani Mardiana
Thaqafiyyat : Jurnal Bahasa, Peradaban dan Informasi Islam Vol 24, No. 2 (2025): Thaqāfiyyāt
Publisher : Fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/thaq.2025.24205

Abstract

Abstract: This study examines the transformation of military expansion within the Ottoman Empire during the reigns of Sultan Selim I and Sultan Suleiman I. It aims to delineate the expansions across various Eastern and Western regions under their leadership, while analyzing the shifting strategic orientations and the resulting impacts. Utilizing a political approach, this research identifies patterns of change in Ottoman military expansion. The study employs the historical method, consisting of four stages: heuristics, verification, interpretation, and historiography, conducted through qualitative library research. The findings indicate that Selim I’s expansion solidified the Ottoman Empire as the most dominant political and religious power in the Islamic world, particularly in the Middle East. Conversely, Suleiman I’s expansion established the Empire as a major global power formidable to Europe. Consequently, the Ottomans secured political legitimacy, notably through recognition from the Abbasid Caliphate. The impacts of these territorial expansions included the containment of the spread of Christianity and Catholicism, which significantly influenced ideological competition across Eurasia, and the strengthening of Sunni ideology by consolidating Ottoman authority in the East. Abstrak: Penelitian ini mengkaji tentang transformasi ekspansi militer Kekhalifahan Turki Usmani pada masa Sultan Salim I dan Sultan Sulaiman I. Tujuan penelitian ini adalah menguraikan ekspansi di berbagai wilayah Timur dan Barat oleh Sultan Salim I dan Sultan Sulaiman I, menganalisis perubahan orientasi dan dampak yang terjadi akibat ekspansi wilayah oleh kedua sultan tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan politik untuk mengetahui pola perubahan ekspansi militer Turki Usmani era Sultan Salim I dan Sultan Sulaiman I. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode sejarah yang mencakup empat tahap, yaitu heuristik, verifikasi, interpretasi dan historiografi. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan melakukan studi pustaka (library research). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ekspansi Sultan Salim I memperkuat posisi Turki Usmani sebagai kekuatan politik dan keagamaan yang paling mendominasi di dunia Islam, khususnya di Timur Tengah. Sementara itu, ekspansi Sultan Sulaiman I memperkuat posisi Turki Usmani sebagai kekuatan besar yang patut diperhitungkan oleh Eropa. Dengan demikian, Turki Usmani meraih legitimasi kekuasaan, yaitu mendapat pengakuan dari kekhalifahan Abbasiyah. Dampak ekspansi wilayah tersebut yaitu Turki Usmani mampu membendung penyebaran agama Kristen dan Katolik yang berpengaruh signifikan terhadap persaingan ideologi di wilayah Asia Eropa, dan memperkuat ideologi Sunni dengan menanamkan kekuasaan Turki Usmani di wilayah Timur.
“Kuat Mlarat” di Pondok Pesantren Kuno Cibuk, Yogyakarta sebagai Resistansi Konsumerisme Modern Iwan Shohib El-Hasan; Nur Tata
Thaqafiyyat : Jurnal Bahasa, Peradaban dan Informasi Islam Vol 24, No. 1 (2025): Thaqāfiyyāt
Publisher : Fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/thaq.2025.24106

Abstract

Abstract: This study investigates the cultural resistance of Santri toward modern consumerism within the broader context of neoliberal economic culture. Using a case study of Pondok Pesantren Kuno Cibuk in Sleman, Yogyakarta, the research examines how Sufi values—such as zuhud and the local maxim “kuat mlarat”—shape a distinctive pattern of consumption characterized by simplicity, spirituality, and collectivity. In contrast to the hegemonic market culture that constructs false needs and consumption-based identities, santri embody an ascetic ethos rooted in pesantren tradition and the internalization of classical Islamic teachings. The findings reveal that santri are not passive consumers; rather, they exercise agency and resistance through the pesantren habitus, which emphasizes moderation, self-discipline, and the pursuit of barakah (divine blessing). Employing a descriptive qualitative approach, this study demonstrates that pesantren culture offers an alternative ethic of consumption that is spiritually grounded and socially sustainable. Furthermore, this alternative ethic serves as an implicit ideological critique of the global capitalist logic that shapes contemporary consumer behavior. Abstrak: Penelitian ini membahas resistansi budaya konsumsi santri terhadap konsumerisme modern dalam konteks ekonomi neoliberal dengan mengambil studi kasus di Pondok Pesantren Kuno Cibuk, Sleman, Yogyakarta. Penelitian ini mengeksplorasi bagaimana nilai-nilai tasawuf, khususnya zuhud dan slogan “kuat mlarat” sebagai laku prihatin menjadi determinan penting dalam membentuk pola konsumsi santri yang sederhana, spiritual, dan kolektif. Di tengah hegemoni budaya pasar yang membentuk kebutuhan palsu (false need) dan identitas berbasis konsumsi, santri justru menunjukkan sikap asketis yang berakar pada tradisi dan internalisasi nilai-nilai keIslaman klasik. Penelitian ini menunjukkan bahwa santri bukanlah konsumen pasif, tetapi aktor yang memiliki daya resistansi melalui habitus pesantren yang menekankan kesederhanaan, pengendalian diri, dan keberkahan. Dengan menggunakan pendekatan fenomenologi, artikel ini menunjukkan bahwa budaya pesantren mampu membangun etika konsumsi alternatif yang lebih berkelanjutan secara spiritual dan sosial. Hal ini sekaligus menjadi kritik ideologis terhadap logika konsumsi kapitalistik global yang mendominasi kehidupan modern.
Akulturasi Budaya Jawa dan Islam dalam Tradisi Dugderan di Masjid Agung Kauman Semarang: Bentuk, Makna dan Proses Historis amalia, Finta; Muh Maula Ulil Absor; Muhammad Azizi Muslih; Fajar Adhim Nugraha; Lutfi Adil Fatih; Olivia Sofvi; M Rikza Chamami
Thaqafiyyat : Jurnal Bahasa, Peradaban dan Informasi Islam Vol 24, No. 2 (2025): Thaqāfiyyāt
Publisher : Fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/thaq.2025.24203

Abstract

Abstract: The Dugderan tradition in Semarang City is a cultural phenomenon rich in acculturation values between Javanese and Islamic culture. This study aims to describe its forms, analyze its meanings and values, and identify the historical process of acculturation within the Dugderan tradition centered at the Kauman Great Mosque of Semarang. Using a qualitative-historical approach, this study finds that Dugderan functions not only as an official marker for the beginning of the Ramadan fasting period, but also as a contextual medium of da'wah and a unifying force for a multicultural society. The most prominent expressions of acculturation appear in the symbols of Warak Ngendog and the ritual processions of “dug” (drum beating of the bedug) and “der” (cannon). The values contained include tolerance, self-purification (wara') before Ramadan, and joy. Historically, this tradition originated in 1881 AD during the reign of the Regent of Semarang, Raden Mas Tumenggung Aryo Purbaningrat, as an effort to unite differences in determining the beginning of the fast among Muslims in Semarang. This research contributes to the literature on Nusantara Islamic studies and the preservation of local cultural heritage. Abstrak: Tradisi Dugderan di Kota Semarang merupakan fenomena budaya yang kaya akan nilai akulturasi antara Budaya Jawa dan Islam. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan bentuk-bentuk, menganalisis makna dan nilai, serta mengidentifikasi proses historis akulturasi dalam tradisi Dugderan yang berpusat di Masjid Agung Kauman Semarang. Menggunakan pendekatan kualitatif- historis , studi ini menemukan bahwa Dugderan berfungsi tidak hanya sebagai penanda resmi dimulainya ibadah puasa Ramadan, tetapi juga sebagai media dakwah yang kontekstual dan pemersatu masyarakat multikultural. Wujud akulturasi yang paling menonjol tampak pada simbol Warak Ngendog dan prosesi ritual 'dug' (bedug) dan 'der' (meriam). Nilai-nilai yang terkandung mencakup toleransi, kesucian diri (wara') menjelang Ramadan, dan kegembiraan (sukacita). Secara historis, tradisi ini berawal sejak tahun 1881 Masehi pada masa pemerintahan Bupati Semarang Raden Mas Tumenggung Aryo Purbaningrat , sebagai upaya menyatukan perbedaan penentuan awal puasa di kalangan umat Islam Semarang. Penelitian ini memberikan kontribusi pada literatur studi Islam Nusantara dan pelestarian warisan budaya lokal.