cover
Contact Name
Kholili Badriza
Contact Email
kholili.badriza@uin-suka.ac.id
Phone
+6285645196843
Journal Mail Official
thaqafiyyat2007@gmail.com
Editorial Address
Faculty of Adab and Cultural Sciences, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta JL. Marsda Adisucipto Yogyakarta, 55281
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Thaqafiyyat : Jurnal Bahasa, Peradaban dan Informasi Islam
ISSN : 14115727     EISSN : 25500937     DOI : -
Thaqafiyyat: Jurnal Bahasa, Peradaban dan Informasi Islam is a journal which focuses on language, culture and Islamic Information. We invite to all contributors from all over the world to participate and share their research both library research or field research. Selected paper normally will be published on June and December in a year.
Articles 138 Documents
Pemikiran Pangeran Dipanegara tentang Rukun Islam: Sebuah Tinjauan Filologi terhadap Naskah Hikayat Dipanegara Safi'i, Muhammad
Thaqafiyyat : Jurnal Bahasa, Peradaban dan Informasi Islam Vol 21, No. 1 (2022): Thaqāfiyyāt
Publisher : Fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/thaq.2022.21101

Abstract

Abstract: This research delves into the Hikayat Dipanegara Manuscript (Roll. 17, No. 23), written by Prince Dipanegara, from a philological standpoint to unravel the prince's thoughts. The philological method encompasses five steps, namely (1) Inventory of manuscripts, (2) Description of manuscripts, (3) Manuscript review, (4) Text overwriting and editing, which is accompanied by a selected manuscript criticism apparatus, and (5) Text translation. This approach facilitates researchers in studying the Hikayat Dipanegara Manuscript. The methodology employed in this study is content analysis. The results demonstrate that the manuscript revolves around three primary themes: (1) Prince Dipanegara's endeavors to expound upon the pillars of Islam and fiqh (Islamic jurisprudence), according to the Syafi'i school of thought, originating from kitab kuning, such as Fatḥ al-Qarīb and Taqrīb; (2) The manuscript's significance to Prince Dipanegara's army; and (3) A brief autobiography of Prince Dipanegara.Abstrak: Riset ini mengkaji Naskah Hikayat Dipanegara (Rol. 17, No. 23) karya Pangeran Dipanegara. Dengan perspektif filologi, kajian ini bertujuan untuk mengeksplorasi pemikiran Pangeran Dipanegara. Metode filologi meliputi: (1) Inventarisasi naskah; (2) Deskripsi naskah; (3) Review naskah; (4) penyuntingan dan kritik naskah; (5) Penerjemahan naskah. Langkah ini digunakan untuk memudahkan peneliti dalam mempelajari Naskah Hikayat Hikayat Dipanegara. Analisis yang digunakan adalah analisis isi (content analysis). Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat tiga topik utama yang didiskusikan pada manuskrip: (1) Upaya Pangeran Dipanegara untuk menjelaskan rukun Islam dan hukum fikih Islam menurut mazhab Imam Syafi'i yang bersumber dari kitab kuning seperti Fatḥul Qarīb dan Taqrīb; (2) Kedudukan atau fungsi naskah bagi Pasukan Pangeran Dipanegara; (3) Biografi singkat Pangeran Dipanegara.
Siti Maryam Salahuddin: Perannya dalam Pelestarian Manuskrip Kesultanan Bima (1984-2017 M) Fitriani, Nur; -, Herawati
Thaqafiyyat : Jurnal Bahasa, Peradaban dan Informasi Islam Vol 22, No. 1 (2023): Thaqāfiyyāt
Publisher : Fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/thaq.2022.22106

Abstract

Abstract: This study examines the contribution of Siti Maryam Salahuddin in preserving the manuscripts of the Sultanate of Bima. Preservation efforts include collecting, studying, documenting, and publishing manuscripts. The manuscripts of the Sultanate of Bima contain the history of Bima's journey from kingdom to sultanate, spanning from the 14th century. The aim of this research is to analyze the process and efforts made by Siti Maryam Salahuddin in preserving the manuscripts and texts of the Sultanate of Bima. Additionally, this study outlines the history of the manuscripts of the Sultanate of Bima, which includes the transition from the kingdom era to the sultanate era, the governance system, and the politics during the Sultanate of Bima. This study is important as discussions on Siti Maryam Salahuddin's contribution to the preservation of the Sultanate of Bima's manuscripts have received little attention. Siti Maryam's efforts have made significant positive contributions, particularly in the textual heritage of the Sultanate of Bima. She is a local philologist from Bima who is deeply concerned and has made valuable contributions to the study of manuscripts in Bima. Through this research, it is hoped to add to the collection of local historical research. The method used in this study is the historical method, comprising heuristic (data collection), verification (source criticism), interpretation, and historiography. Siti Maryam's efforts in preserving manuscripts have made significant contributions to the field of textual heritage. Thanks to her efforts, scattered manuscripts have been collected, studied, documented, and published. The results of the studies that have been published are stored in the Samparaja Museum, allowing these manuscripts to be read and understood by the public.Abstrak: Kajian dalam penelitian ini membahas tentang sumbangsih Siti Maryam Salahuddin dalam pelestarian manuskrip Kesultanan Bima. Pelestarian yang dimaksudkan mulai dari pengumpulan, pengkajian, pembukuan, dan penerbitan manuskrip-manuskrip. Manuskrip Kesultanan Bima memuat sejarah perjalanan Bima dari masa kerajaan hingga kesultanan, yang telah dilalui sejak abad ke-14. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis proses serta usaha yang dilakukan Siti Maryam Salahuddin dalam pelestarian manuskrip dan naskah Kesultanan Bima. Selain itu, penelitian ini juga menguraikan sejarah manuskrip Kesultanan Bima yang memuat transisi sejarah perjalanan Bima dari masa kerajaan ke masa kesultanan, sistem pemerintahan, juga perpolitikan yang terjadi pada masa Kesultanan Bima.Kajian ini penting dilakukan karena pembahasan tentang kontribusi Siti Maryam Salahuddin dalam pelestarian manuskrip Kesultanan Bima, masih belum banyak mendapatkan perhatian. Perjuangan Siti Maryam memberikan banyak sumbangan yang positif, khusunya dalam hal pernaskahan Kesultanan Bima. Siti Maryam Salahuddin merupakan seorang filolog lokal Bima yang sangat peduli dan berjasa terhadap kajian manuskrip yang ada di Bima. Dengan adanya penelitian ini, diharapkan dapat menambah koleksi hasil penelitian sejarah lokal, Metode yang digunakan pada kajian ini adalah metode sejarah. Pada metode ini, langkah yang pertama heuristik (pengumpulan data). Langkah selanjutnya verifikasi (kritik sumber), ketiga interpretasi (penafsiran), dan yang terakhir adalah historiografi. Usaha pelestarian naskah/manuskrip yang dilakukan oleh Siti Maryam memberikan sumbangan besar dalam dunia pernaskahan. Berkat usahanya, naskah-naskah yang masih tercerai berai berhasil dikumpulkan kembali. Tidak hanya dikumpulkan tetapi berhasil dilakukan pengkajian, pembukuan, dan penerbitan. Hasil dari pengkajian yang telah diterbitkan, disimpan di Museum Samparaja. Dengan demikian naskah-naskah tersebut bisa dibaca dan dipahami secara publik.
Tradisi Maritim: Upacara Sedekah Laut di Pesisir Desa Teluk, Banten, Tahun 2023 Rosdiana, Hilma; Pradjoko, Didik
Thaqafiyyat : Jurnal Bahasa, Peradaban dan Informasi Islam Vol 22, No. 1 (2023): Thaqāfiyyāt
Publisher : Fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/thaq.2022.22105

Abstract

Abstract: This paper aims to explain the tradition of Sedekah Laut or Nadran practiced by the people of Teluk Village, Labuan Subdistrict, Pandeglang Regency, Banten. The maritime community's belief in the ruler of the sea has been rooted from the past to the present. Tradition as a culture characterizes the locality of Indonesian society. In Java, more or less animist and dynamist cultures were influenced by Hindu-Buddhism, by the beliefs of the predecessors of Javanese society. People believe in invisible forces that can affect their lives. Coastal communities believe in the existence of sea rulers who have given them a catch of fish, so the tradition of sea alms develops as a form of gratitude for the catch given by the sea. This article uses a descriptive qualitative method with a historical approach. As a local history with oral tradition sources, primary sources were obtained through in-depth interviews with resource informants in Teluk Village, and previous research relevant to the research theme was used as secondary sources. The results show that the Sedekah Laut tradition is brought by the influence of the arrival of migrants from the coast of Java to Teluk Village. This Sedekah Laut tradition is carried out by the fishermen community and their descendants who come from Java. Normally, the implementation of Sedekah Laut is carried out annually, but due to various factors, the tradition is held annually.Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan tradisi sedekah laut atau Nadran yang dilakukan oleh masyarakat Desa Teluk Kecamatan Labuan, Kabupaten Pandeglang, Banten. Kepercayaan masyarakat maritim terhadap penguasa laut telah mengakar dari dahulu hingga saat ini. Tradisi sebagai suatu kebudayaan, menjadi ciri lokalitas masyarakat Indonesia. Di Jawa, sedikit banyaknya kebudayaan yang bermuatan animisme dan dinamisme yang dipengaruhi oleh Hindu-Budha, sesuai dengan kepercayaan pendahulu masyarakat Jawa. Sebagaimana masyarakat percaya meyakini terhadap kekuatan yang tak kasat mata, yang dapat mempengaruhi hidup mereka. Masyarakat pesisir mempercayai adanya penguasa laut yang telah memberikan mereka hasil tangkapan ikan, sehingga berkembang tradisi sedekah laut sebagai bentuk rasa syukur masyarakat pesisir atas hasil tangkapan yang diberikan oleh laut. Penulisan Artikel ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan sejarah. Sebagai kajian sejarah lokal dengan sumber tradisi lisan, sumber primer diperoleh melalui wawancara mendalam dengan narasumber di Desa Teluk, dan penelitian terdahulu yang relevan dengan tema penelitian digunakan sebagai sumber sekunder. Hasil penelitian menunjukan bahwa tradisi sedekah laut merupakan tradisi yang dibawa atas pengaruh kedatangan para pendatang yang berasal dari pesisir pantai Jawa ke Desa Teluk. Tradisi sedekah laut ini dijalankan oleh masyarakat nelayan dan keturunannya yang berasal dari Jawa. Lazimnya pelaksanaan sedekah laut dilakukan setiap tahun, namun karena berbagai faktor seperti kesulitan ekonomi pada kalangan nelayan dan adanya pertentangan pendapat dari masyarakat eksternal membuat tradisi sedekah laut tidak dilaksanakan setiap tahun. Hingga saat ini tradisi sedekah laut masih tetap dilaksanakan, meskipun intensitasnya berkurang dan adanya perubahan dalam pelaksanaanya.
Resepsi Al-Qur’an di Pondok Modern Darussalam Gontor Putri 1 Mantingan, Ngawi, Jawa Timur MZ, Ahmad Murtaza; Rahmatiah, Ainusshoffa
Thaqafiyyat : Jurnal Bahasa, Peradaban dan Informasi Islam Vol 22, No. 1 (2023): Thaqāfiyyāt
Publisher : Fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/thaq.2022.22104

Abstract

Abstract: This research is a qualitative study aimed at understanding how the reception of the Quran is actualized in the form of calligraphy, the factors underlying it, the process of creating the calligraphy, and the meaning of the calligraphy for Pondok Modern Darussalam Gontor Putri 1. The analytical method used in this research is descriptive-analytical research, which describes the main issues comprehensively and then analyzes them in detail, thus obtaining a deep understanding of the reception of the Quran in the form of calligraphy at Pondok Modern Darussalam Gontor Putri 1, Mantingan, Ngawi, East Java. The results of this research indicate that Quranic calligraphy is one form of the reception of the Quran. There are several Quranic verses that form the basis of Gontor's education, and some verses are personally selected by the first guardian of Gontor Putri 1, Ust. Ahmad Hidayatullah Zarkasyi. From the calligraphy, two types of receptions are found at Pondok Pesantren Gontor Putri 1: 1) Aesthetic Reception, where the Quran is accepted by female students and teachers of the school in the form of beauty and made the main decoration of the school 2) Functional Reception, where the Quran is accepted in the form of paintings and installed in prominent places in the school as visual educational aids for female students.Abstrak: Penelitian ini adalah penelitian kualitatif yang bertujuan untuk mengetahui bagaimana aktualisasi resepsi Al-Qur’an dalam bentuk kaligrafi, hal-hal yang melatarbelakanginya, proses kaligrafi tersebut dibuat dan makna dari kaligrafi tersebut bagi Pondok Modern Darussalam Gontor Putri 1. Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini yaitu penelitian deskriptif-analitis, yaitu metode analisis yang mendeskripsikan pokok permasalahan secara utuh dan kemudian dianalisis secara rinci, sehingga diperoleh gambaran secara mendalam resepsi Al-Qur’an dalam bentuk kaligrafi di Pondok Modern Darussalam Gontor Putri 1 Mantingan, Ngawi, Jawa Timur. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa kaligrafi Al-Qur’an merupakan salah satu bentuk resepsi Al-Qur’an. Terdapat beberapa ayat Al-Qur’an yang merupakan landasan dasar pendidikan Gontor, dan beberapa ayat merupakan ayat yang terpilih secara pribadi oleh pengasuh pertama Gontor Putri 1, Ust. Ahmad Hidayatullah Zarkasyi. Dari kaligrafi tersebut, terdapat 2 jenis resepsi yang ditemukan di Pondok Pesantren Gontor Putri 1: 1) Resepsi Estetis, yaitu Al-Qur’an diterima oleh santriwati dan pengajar pondok dalam bentuk keindahan dan menjadikannya dekorasi utama pondok 2) Resepsi Fungsional, yaitu Al-Qur’an diterima dalam bentuk lukisan dan dipasang di tempat-tempat utama pondok sebagai saran pendidikan visual santriwati.
Sejarah Pakaian Muslim Arab Pada Masa Islam Awal Khoiri, Miftahul; Sodikin, Ahmad
Thaqafiyyat : Jurnal Bahasa, Peradaban dan Informasi Islam Vol 22, No. 1 (2023): Thaqāfiyyāt
Publisher : Fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/thaq.2022.22102

Abstract

Abstract: This article aims to examine the history of Arab Muslim clothing in the early days of Islam which was associated with social strata in society. This article is a literature review, using historical methods, namely, heuristics, criticism, interpretation and historiography. The results of this study show that the history and development of Arab Muslim clothing during the Early Islamic period is closely related to the pre-Islamic period, although in certain respects Islam has improved, for example regarding the requirements for covering the private parts. In its development, clothing in each region has differences in how it is used. Arab people who move to a place can mix with the local people's way of dressing. The types of clothing at that time were, Al-Marth, Ad-Dir, Qamish, Al-Khimar, as well as Al-Izar and ar-Rida'. The Arab nation consists of various people such as kings, soldiers and commoners, thus creating social classes in society in clothing and clothing showing their social class. The contribution of this research provides sociological insights in understanding returned Islamic clothing in an Arabic context.Abstrak: Artikel ini bertujuan mengkaji sejarah pakaian muslim Arab pada masa Islam awal yang dikaitkan dengan strata sosial bagi masyarakat. Artikel ini merupakan kajian pustaka, dengan menggunakan metode sejarah yakni, heuristic, kritik, interpretasi, dan historiografi. Hasil kajian ini menunjukkan bahwa sejarah dan perkembangan pakaian muslim Arab masa Islam Awal terkait erat dengan masa pra Islam meskipun dalam hal tertentu Islam memperbaikinya, misalnya terkait syarat menutup aurat. Dalam perkembangannya, pakaian yang berada di setiap wilayah mempunyai perbedaan dari cara menggunakannya. Masyarakat Arab yang pindah ke suatu tempat dapat bercampur dengan cara berpakaian masyarakat setempat. Jenis pakaian saat itu yakni, Al-Marth, Ad-Dir, Qamish, Al-Khimar, serta Al-Izar dan ar-Rida’. Bangsa arab terdiri dari berbagai masyarakat seperti raja, prajurit, dan masyarakat jelata, sehingga membuat kelas-kelas sosial di masyarakat dalam berpakaian dan pakaian menunjukkan kelas sosialnya. Kontribusi penelitian ini memberikan wawasan sosiologis dalam memahami pakaian Islam yang dikembalikan dalam konteks kearaban. 
Masjid Pathok Negara Mlangi; Penjaga Islam Sunni Di Yogyakarta Latifah, Zuhrotul; Maimunah, Siti; -, Riswinarno
Thaqafiyyat : Jurnal Bahasa, Peradaban dan Informasi Islam Vol 22, No. 1 (2023): Thaqāfiyyāt
Publisher : Fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/thaq.2022.22103

Abstract

Abstract: This research examines the role of the Pathok Negoro Mlangi Mosque in preserving Sunni Islam in Yogyakarta. This mosque, also known as Masjid Jami’ An Nur, is closely related to the Yogyakarta Palace because it was built by Prince Hangabehi Sandiyo or Kiai Nur Iman, who was the elder brother of Sultan Hamengku Buwono I in 1758. The research questions addressed in this study are: What is the background of the establishment of the Pathok Negoro Mlangi Mosque? What is the role of the Pathok Negoro Mlangi Mosque in preserving Sunni teachings? This research employs the concept of the mosque as a center of Islamic culture. The research method used is historical methodology with four stages: heuristic, verification, interpretation, and historiography. The results of this research indicate that the Pathok Negoro Mlangi Mosque was built by Kiai Nur Iman, the brother of Sultan Hamengku Buwono I, who chose to spread the religion or preach rather than hold positions in the palace with all its luxuries. On the land granted by Sultan Hamengku Buwono I, Kiai Nur Iman built a mosque to teach the religion of Sunni Islam. The studies conducted at the Mlangi mosque are based on books aligned with Ahlu al-Sunnah wa al-Jama’ah, such as Matan Taqrib, Fathu al-Wahhab bi Syarh Manhaj al-Thullab Syarh Minhaj al-Thalibin wa ‘Umdah al-Muftin, Fathu al-Mu’in bi Syarhi Qurrathi al-‘Ain bi Muhimmat al-Din, tafsir Al-Jalalain, the hadith books Sahih Bukhari and Sahih Muslim, and the book Riyadl al-Shalihin. Regarding ethical issues, the study books include Ta’lim al-Muta’allim Thariq al-Ta’allum and Ihya’ ‘Ulum al-Din, books that integrate the beliefs of Ahlu al-Sunnah wa al-Jama’ah, the Shafi'i fiqh school, and the Sufism of Ahlu al-Sunnah wa al-Jama’ah. Studies of these books continue to be preserved by the successive generations of Kiai Nur Iman in various regions of Yogyakarta.Abstrak: Penelitian ini mengkaji tentang peran Masjid Pathok Negoro Mlangi dalam melestarikan Islam Sunni di Yogyakarta. Masjid ini juga dikenal sebagai Masjid Jami’ An Nur  yang berkaitan erat dengan Keraton Yogyakarta karena dibangun oleh Pangeran Hangabehi Sandiyo atau Kiai Nur Iman yang merupakan kakak dari Sultan Hamengku Buwono I pada tahun 1758.  Permasalahan penelitian ini adalah bagaimana latar belakang berdirinya Masjid Pathok Negoro Mlangi? Bagaimana peran Masjid Pathok Negoro Mlangi dalam melestarikan ajaran Sunni? Penelitian ini menggunakan konsep masjid sebagai pusat kebudayaan Islam. Metode penelitiannya adalah metode sejarah dengan empat tahap, yaitu heuristik, verifikasi, interpretasi, dan historiografi. Hasil penelitian ini bahwa Masjid Pathok Negoro Mlangi dibangun oleh Kiai Nur Iman yang merupakan kakak Sultan Hamengku Buwono I, lebih memilih menyebarkan agama atau berdakwah daripada menduduki jabatan di keraton dengan segala kemewahannya.  Di tanah perdikan pemberian Sultan Hamengku Buwono I, Kiai Nur Iman membangun masjid untuk mengajarkan agama Islam Ahlu al-Sunnah wa al-Jama’ah. Kajian kitab di masjid Mlangi adalah kitab-kitab yang berhaluan Ahlu al-Sunnah wa al-Jama’ah seperti Matan Taqrib, Fathu al-Wahhab bi Syarh Manhaj al-Thullab Syarh Minhaj al-Thalibin wa ‘Umdah al-Muftin, Fathu al-Mu’in bi Syarhi Qurrathi al-‘Ain bi Muhimmat al-Din, tafsir Al-Jalalain, kitabhadis Shahih Bukhari,Shahih Muslim dan kitab Riyadl al-Shalihin, dalam persoalan akhlak kajian kitabnya adalah kitab  Ta’lim al-Muta’allim Thariq al-Ta’allum, dan kitab Ihya’ ‘Ulum al-Din, kitab yang mengintegrasikan antara akidah  Ahlu al-Sunnah wa al-Jama’ah, fiqh mazhab Syafii, dan tasawuf Ahlu al-Sunnah wa al-Jama’ah. Kajian-kajian kitab semacam ini terus dilestarikan oleh generasi penerus Kiai Nur Iman di berbagai wilayah Yogyakarta.  
Nilai Moderasi Beragama Dalam Ajaran Himpunan Penghayat Kepercayaan Masade’ Di Kepulauan Sangihe Hana, Muhamad Yusrul; Azis, Muhammad Nur Ichsan; Setiawan, Agus Mahfudin
Thaqafiyyat : Jurnal Bahasa, Peradaban dan Informasi Islam Vol 22, No. 1 (2023): Thaqāfiyyāt
Publisher : Fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/thaq.2022.22101

Abstract

Abstract: Religious problems in Indonesia are not only limited to major religions but also involve cases at the micro level, such as what happened to the adherents of Masade Islam in the Sangihe Islands. The author focuses on the process of the emergence of Masade Islam in the border area of the Sangihe Islands, the factors that influence its formation, and the application of religious moderation values by Masade Islam adherents. To answer these problems, the author uses a socio-cultural approach as an analytical tool. This research uses the concept of monotheistic religion and the concept of supernatural power understood based on the theory of religious evolution. This research uses historical research methods that include heuristics, criticism, interpretation, and historiography. The researcher argues that the influence and dominance of religious beliefs in the Masade' Trust developed along with the competition for power and politics in the Sangihe Islands. The dialectic between religion and culture is strong evidence of this influence. The discovery of historical facts that shaped the beliefs of the community known as Masade' reinforces the close relationship between Islam influenced by local culture (local wisdom) as evidenced through the process of rituals and worship performed in the local belief. Although the adherents of masade Islam recognize them as Muslims, the practice of worship is different. This shows that masade Islam is not part of Islam but a religion of belief that has noble local cultural values which also become the axis of their enthusiasm in carrying out a tolerant life in the frame of religious moderation.Abstrak: Permasalahan keberagamaan di Indonesia tidak hanya terbatas pada agama-agama besar, melainkan juga melibatkan kasus-kasus pada tingkat mikro, seperti yang terjadi pada penganut agama kepercayaan Islam Masade di kepulauan Sangihe. Penulis memfokuskan perhatian pada proses munculnya ajaran Islam Masade di kawasan perbatasan Kepulauan Sangihe, faktor-faktor yang mempengaruhi pembentukannya, serta penerapan nilai-nilai moderasi beragama oleh para penganut Islam Masade. Untuk menjawab permasalahan tersebut, penulis menggunakan pendekatan sosio-budaya sebagai alat analisis. Penelitian ini menggunakan konsep agama monoteistik dan konsep kekuasaan supernatural yang dipahami berdasarkan teori evolusi agama. Penelitian ini menggunakan metode penelitian sejarah yang meliputi heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi. Peneliti berargumen bahwa pengaruh dan dominasi keyakinan agama dalam Kepercayaan Masade’ berkembang seiring dengan persaingan kekuasaan dan politik di Kepuluan Sangihe. Dialektika antara agama dan budaya menjadi bukti yang kuat atas pengaruh tersebut. Penemuan fakta sejarah yang membentuk kepercayaan masyarakat yang dikenal sebagai Masade menguatkan hubungan yang erat antara Islam yang dipengaruhi budaya lokal (lokal wisdom) yang dibuktikan melalui proses ritual dan ibadah yang dilakukan dalam kepercayaan lokal tersebut. Meskipun penganut Islam masade mengakui mereka sebagai pemeluk Islam, tetapi dalam praktik ibadahnya berbeda. Hal ini menunjukkan Islam masade bukan bagian dari Islam tetapi menjadi agama kepercayaan yang mempunyai nilai-nilai budaya lokal yang luhur yang juga menjadi poros semangat mereka dalam menjalankan kehidupan yang toleran dalam bingkai moderasi beragama.
المسجد كأهم الفنون العمارة الاسلامية ومباحث سريعة عن بعض المساجد بأنونيسيا Annuari, Farida
Thaqafiyyat : Jurnal Bahasa, Peradaban dan Informasi Islam Vol 22, No. 2 (2023): Thaqāfiyyāt
Publisher : Fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/thaq.2023.22203

Abstract

الملخّص: الهندسة المعمارية هي جزء من الفنون المشهورة وتؤثر على حياة الإنسان وحضارتهم. المبنى كعمل تطبيقي لهندسة معمارية تم تصميمها ولديها مفهوم مخصوص. لا يمكن فصل الأعمال الفنية عن عنصر الجمال. ولكن في فن العمارة المعمارية لا يعطي الجمال الأولوية فحسب، بل هو أيضًا وظيفي أكثر. وذلك لأن المبنى يحتوي على عناصر عملية وجمالية.طريقة البحث المستخدمة في كتابة هذا المقال هي منهجية أدبية باستخدام البحث في المكتبات. في هذه منهجية الأدب، تجمع المؤلفة مجموعة متنوعة من المصادر المختلفة المتعلقة بفن العمارة الإسلامية. الإسلام دين سريع جدًا في تطور حضارته. جزء من الحضارة الإسلامية هو هندستها المعمارية. العمارة الإسلامية في دائرة الضوء المسجد. تتميز العمارة الإسلامية بالعديد من المبادئ والخصائص والمكونات الرئيسية التي تجعل المسجد قابلاً للاستخدام قدر الإمكان ولها قيمة جمالية خاصة بها. المساجد المنتشرة في جميع أنحاء العالم، بما في ذلك إندونيسيا، لها خصائصها الخاصة. تبحث هذه المقالة في العمارة الإسلامية ومبادئها وخصائصها ومكوناتها. نتج عن هذا البحث اكتشاف أن المساجد في إندونيسيا تلقت تأثيرات مختلفة من الثقافات المحلية و من الثقافات الخارجية. Abstrak: Arsitektur merupakan bagian dari seni yang sangat populer dan berpengaruh terhadap kehidupan dan peradaban manusia. Bangunan sebagai karya terapan dari sebuah arsitektur yang sudah dirancang dan memiliki konsep sedemikian rupa. Karya seni tak lepas dari unsur keindahan nya. Namun pada seni arsitektur bangunan tidak hanya mengutamakan keindahan namun juga lebih fungsional. Hal ini dikarenakan bangunan memiliki unsur praktis dan estetis. Metode penelitian yang digunakan dalam penulisan artikel ini adalah metodologi literatur dengan menggunakan riset pustaka. Dalam metodologi literatur ini penulis mengumpulkan berbagai sumber yang berbeda terkait seni arsitektur islam. Islam adalah agama yang sangat pesat dalam perkembangan peradabannya. Salah satu bagian dati peradaban islam adalah arsitekturnya. Arsitektur islam yang menjadi sorotan adalah masjid. Arsitektur islam memiliki berbagai prinsip, karakteristik, serta komponen utama yang menjadikan masjid tersebut dapat digunakan sebaik mungkin serta memiliki nila keindahan tersendiri. Masjid-masjid yang tersebar di seluruh dunia, termasuk Indonesia memiliki ciri khas masing-masing. Artikel ini mengkaji arsitektur islam beserta prinsip, karakteristik, dan komponennya. Penelitian ini menghasilkam temuan bahwa masjid-masjid Di Indonesia mendapat berbagai pengaruh budaya adat setempat maupun budaya dari luar.
“Sinkretisme” dalam Upacara Tradisi Buka Luwur Sunan Kudus Nikmah, Faridhatun
Thaqafiyyat : Jurnal Bahasa, Peradaban dan Informasi Islam Vol 22, No. 2 (2023): Thaqāfiyyāt
Publisher : Fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/thaq.2023.22201

Abstract

Abstract: The aim of this research is to analyze syncretism in the Buka Luwur Makam Sunan Kudus ceremonial tradition, focusing on the public's perception of ceremonial objects involved in the ritual. This research is field-based and employs qualitative methods. Data analysis was conducted descriptively and analytically using a hermeneutic-philosophical approach. The findings indicate that the Buka Luwur event, held from the 1st to the 10th of Muharram, encompasses a variety of activities ranging from ritual-magical practices to socio-economic events. Most supporters of this tradition believe that ceremonial objects used in the procession—such as water for cleaning the Cinthaka keris, the Buka Luwur cloth, cricket rice, and Asyura porridge—can bring blessings. These blessings are believed to include facilitating sustenance, curing illness, and enhancing crop fertility. This belief emerges from the blending of Islamic and Javanese cultural values in the tradition. The research aims to provide insights that can help organizers evaluate the tradition and minimize the potential for syncretic beliefs by offering correct education and understanding to the public.Abstrak: Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis sinkretisme dalam upacara tradisi Buka Luwur Makam Sunan Kudus yang tercermin dalam persepsi masyarakat terhadap benda-benda upacara dalam tradisi tersebut. Penelitian ini merupakan field research dengan menggunakan metode kualitatif. Analisis data dilakukan secara deskriptif-analitis dengan pendekatan hermeneutik-filosofis. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa prosesi acara Buka Luwur yang berlangsung pada tanggal 1-10 Muharram dikemas dalam berbagai kegiatan, dari yang bersifat ritual-magis hingga sosial-ekonomis. Masyarakat pendukung tradisi tersebut mayoritas percaya bahwa benda-benda upacara dalam prosesi tradisi tersebut, seperti air bekas penjamasan atau penyucian keris Cinthaka, kain bekas Buka Luwur, nasi jangkrik, dan bubur Asyura, dapat mendatangkan berkah. Bentuk keberkahan yang dipercaya oleh masyarakat berasal dari benda-benda upacara tersebut antara lain memperlancar rizki, menyembuhkan penyakit, dan menyuburkan tanaman. Kepercayaan ini lahir sebagai akibat bercampurnya nilai-nilai Islam dan nilai-nilai budaya Jawa dalam pelaksanaan tradisi. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan evaluasi bagi penyelenggara untuk meminimalisir potensi munculnya keyakinan sinkretis dengan cara memberikan edukasi dan pemahaman yang benar kepada masyarakat.
K.H. A. Warson Munawwir Yogyakarta: Studi Kontribusinya Dalam Bidang Politik Tahun 1973-2009 M Trisnawati, Mimin Ayu; -, Musa; Arifin, Syamsul
Thaqafiyyat : Jurnal Bahasa, Peradaban dan Informasi Islam Vol 22, No. 2 (2023): Thaqāfiyyāt
Publisher : Fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/thaq.2023.22202

Abstract

Abstract: The research aims to elaborate on the contributions of K.H. A. Warson Munawwir to Indonesian politics from 1973 to 2009, highlighting his significant influence. The study employs a historical method, gathering data through interviews, literature reviews, and observations. A biographical and political approach, along with behavioral theory by Robert F. Berkhofer, Jr., serves as the theoretical framework. The results of this research demonstrate that K.H. A. Warson Munawwir played a pivotal role in instilling values that continue to shape Indonesian politics, particularly in Yogyakarta. Serving as a member of the DPRD in Yogyakarta from 1977 to 1982, he infused an Islamic perspective into Yogyakarta’s political landscape. Later, as the head of the PKB political party, he consistently prioritized the ethos of deliberation and helped bridge internal party disagreements. K.H. A. Warson Munawwir was also instrumental in founding PKNU, where he served as chairman of the Shura council. In this role, he worked to ensure that PKNU’s vision and mission were genuinely realized. K.H. A. Warson Munawwir is recognized as a kiai, skilled in addressing both religious and political challenges.Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengelaborasi kontribusi K.H A. Warson Munawwir dalam bidang politik pada tahun 1973-2009 M. K.H. A. Warson memberikan cukup banyak kontribusi bagi perpolitikan yang ada di Indonesia, khususnya Yogyakarta. Penelitian ini menggunakan metode historis dengan memanfaatkan data yang telah diperoleh melalui wawancara, studi pustaka, dan observasi. Sedangkan pendekatan yang dipakai adalah pendekatan biografi dan politik serta teori behavioral yang dikemukakan oleh Robert F. Berkhofer, Jr. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa K.H. A. Warson berkontribusi dalam penanaman nilai-nilai yang harus dikembangkan dalam perpolitikan di Indonesia, khususnya di Yogyakarta. Ketika menjabat menjadi anggota DPRD DIY periode 1977-1982, K.H. A.Warson memberikan nuansa islami di pemerintahan Provinsi Yogyakarta. Saat menjadi Ketua Dewan Syura PKB, K.H. Warson selalu mengedepankan musyawarah dalam menyelesaikan persoalan umat. Ia juga mampu menjembatani apabila ada perbedaan pendapat dalam partai. K.H. Warson juga berperan besar dalam menghantar berdiri dan tegaknya PKNU. Sebagai Ketua Dewan Syura PKNU, K.H. Warson berusaha agar visi dan misi pendirian PKNU benar-benar direalisasikan. A. Warson adalah seorang kiai yang mumpuni dalam masalah keagamaan dan handal dalam perpolitikan.