cover
Contact Name
Angga Kautsar
Contact Email
jurnal.farmaka@unpad.ac.id
Phone
842 888888 Ext : 3510
Journal Mail Official
jurnal.farmaka@unpad.ac.id
Editorial Address
Gedung Laboratorium I Fakultas Farmasi, UNPAD Jl. Raya Jatinangor KM 21, Bandung-Sumedang, Indonesia 45363
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Farmaka
ISSN : 16931424     EISSN : 27163075     DOI : https://doi.org/10.24198/
Core Subject : Health, Science,
Farmaka is replacement for Pharmaceutical Bulletin, published since 1991, with a frequency of four times a year. Editors accept scholarly works of research results and literature review which was closely related to the science, pharmaceutical technology and practice.
Articles 22 Documents
Search results for , issue "Vol 14, No 1 (2016): Supplement" : 22 Documents clear
REVIEW: MANFAAT ANTIOKSIDAN PADA TANAMAN BUAH DI INDONESIA Rani Cyinthia Hani; Tiana Milanda
Farmaka Vol 14, No 1 (2016): Supplement
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (319.825 KB) | DOI: 10.24198/jf.v14i1.10735

Abstract

Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki keragaman tanaman buah. Tingginya keragaman tanaman buah tersebut menghasilkan berbagai manfaat untuk kesehatan, salah satunya antioksidan. Manfaat antioksidan bagi tubuh diantaranya untuk melindungi sel-sel tubuh dari kerusakan yang diakibatkan oleh radikal bebas. Pengujian aktivitas antioksidan pada ekstrak tanaman tertentu dapat dilakukan dengan metode DPPH. Prinsip pengujian ini adalah kemampuan ekstrak untuk bereaksi dengan radikal bebas DPPH sehingga aktivitas radikal bebas tersebut terhambat. Dari empat tanaman buah yang ditinjau, ekstrak buah tomat memiliki aktivitas antioksidan yang tinggi dibandingkan dengan ekstrak buah jeruk bali, paprika hijau, dan sirsak.Kata Kunci: antioksidan, radikal bebas, DPPH, tanaman 
Perbandingan Metode Diagnosis Demam Tifoid Ghaida Putri Setiana; Angga Prawira Kautsar
Farmaka Vol 14, No 1 (2016): Supplement
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (33.609 KB) | DOI: 10.24198/jf.v14i1.11086

Abstract

Demam tifoid merupakan suatu penyakit infeksi sistemik akut yang disebabkan oleh Salmonella typhi. Diagnosis demam tifoid cukup sulit karena gejala kliniknya tidak khas, sehingga diperlukan pemeriksaan laboratorium. Artikel ini bertujuan untuk membandingkan metode diagnosis demam tifoid serta mencari metode diagnosis yang mudah digunakan, prosesnya cepat, dan biayanya rendah. Uji widal merupakan pemeriksaan dengan uji aglutinasi, namun sensitivitas dan spesifitasnya rendah. Biakan darah yaitu isolasi kuman dari bagian tubuh, memiliki sensitivitas yang lebih baik dari uji widal. Tes tubex mendeteksi adanya antibodi anti-Salmonella typhi O9 pada serum dapat dilakukan dengan cepat. Teknik PCR digunakan untuk mengamplifikasi gen spesifik S. typhi menunjukkan hasil yang akurat dan cepat, namun sulit digunakan dan biayanya mahal. Sedangkan sistem pakar hanya tindakan awal dalam diagnosis demam tifoid dan hasilnya tidak akurat. Sehingga dapat disimpulkan bahwa pemeriksaan biakan darah dikombinasikan dengan tes tubex merupakan diagnosis demam tifoid yang efektif karena memiliki sensitivitas dan spesifitas yang baik, mudah digunakan, prosesnya cepat, dan biayanya terjangkau. Diagnosis tidak dapat dikatakan akurat hanya dengan satu pengujian, sehingga harus dibandingkan dengan pengujian yang lain.Kata kunci: demam tifoid, metode diagnosis, biakan darah, uji serologis, PCR, sistem pakar
Studi Pustaka tentang Prosedur Kultur Sel ANISA ROSDIANA; Yuni Elsa Hadisaputri
Farmaka Vol 14, No 1 (2016): Supplement
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (456.849 KB) | DOI: 10.24198/jf.v14i1.10781

Abstract

Kultur sel banyak dilakukan dalam penelitian tingkat in vitro yaitu untuk penelitian ekstrak atau senyawa obat baru. Kultur sel juga dapat dijadikan parameter diagnostik terjadinya kanker ataupun gangguan metabolisme dilihat dari biomarker yang dihasilkan oleh sel. Metode untuk kultur sel yaitu dengan proses yang kompleks sel line yang didapat dari bank sel ataupun hasil diisolasi dari jaringan atau organ secara in vivo ditumbuhkan dalam media pertumbuhan yang dikendalikan lingkungannya agar dapat tumbuh dengan optimum. Cara mengendalikan lingkungan pertumbuhan sel dalam media yaitu dengan penambahan buffer, antibiotik dan antijamur, pencucian sel dengan PBS, media ditambahkan FBS, sel diinkubasi dengan waktu yang telah ditentukan yaitu hingga sel mengalami fase logaritmik pada suhu 37°C yang merupakan suhu tubuh normal manusia dan dengan penambahan 5 % CO2 untuk mendapat sel dengan jumlah tertentu maka harus diatur kepadatan media yang digunakan agar sel tidak berhimpit selain itu dilakuan sentrifugasi untuk memurnikan sel yang telah didapat. Sel yang banyak dikultur yaitu sel kanker maka diulas mengenai prosedur kultur sel kanker seperti sel kanker payudara, sel kanker serviks dan sel kanker paru – paru selain itu juga terdapat ulasan mengenai kultur sel normal ginjal dan adiposit.
Biomarker Penyakit Sindrom Nefrotik Resisten Steroid : Review QISTY AHLA DZIKRY AL HASIMY; Insan Sunan Kurniawansyah
Farmaka Vol 14, No 1 (2016): Supplement
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (331.633 KB) | DOI: 10.24198/jf.v14i1.10599

Abstract

Sindrom nefrotik idiopatik merupakan penyakit glomerulus dan umumnya terjadi pada anak, Penyakit ini ditandai dengan proteinuria, hipoalbuminemia, hiperlipidemia dan edema. Steroid resistance nephrotic syndrome (SRNS)  sangat sulit dibedakan dengan sensitive steroid nephrotic syndrom (SSNS). Dibutuhkan biomarker khusus seperti urinary vitamin D-binding protein (uVDBP), soluble urokinase-type plasminogen activator receptor (sUPAR), urinary N-acetyl-beta-D glucosaminidase (uNAG), dan fractional excretion of magnesium (FE Mg). Dari keempat penelitian masing-masing biomarker dapat ditarik kesimpulan bahwa keempat biomarker belum bisa dijadikan sebagai standar biomarker untuk SRNS dikarenakan belum tervalidasinya biomarker, walaupun memiliki hasil yang signifikan.
Analisis Amlodipin Dengan Metoda KCKT dan Spektrofotometri UV NENG RIKA NURHAYATI; Febrina Amelia Saputri
Farmaka Vol 14, No 1 (2016): Supplement
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (413.185 KB) | DOI: 10.24198/jf.v14i1.10750

Abstract

Abstrak Amlodipin merupakan salah satu antagonis kalsium golongan dihidropiridin yang bekerja menghambat masuknya ion kalsium melalui membrane kedalam otot polos vascular dan otot jantung. Beberapa metode analisis telah dikembangkan untuk menentukan kadar amlodipin dalam sediaan tablet, diantaranya dengan metode spektrofotometri UV dan kromatografi cair kinerja tinggi. Metode spektofotometri UV dan KCKT masing-masing mempunyai kelebihan dan kekurangan. Oleh karena itu, artikel review ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan kadar amlodipin dalam sediaan tablet secara spektrofotometri UV dan KCKT dalam hal ketepatan, ketelitian dan sensitivitas, dalam analisis amlodipin ini memenuhi persyaratan uji validasi dan parameter lainnya. Hasil artikel review ini menunjukan analisis amlodipin secara spektrofotometri UV dan KCKT memiliki ketepatan,, ketelitian, dan sensitifitas yang baik.Kata kunci : Amlodipin, Spektrofotometri UV, KCKT
Aplikasi Teknologi Nanopartikel Polimer Eter Selulosa Dalam Sistem Penghantaran Obat : Artikel Review ULY AULIA ULFAH; Ida Musfiroh
Farmaka Vol 14, No 1 (2016): Supplement
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (478.442 KB) | DOI: 10.24198/jf.v14i1.10743

Abstract

Artikel ini mengulas tentang polimer eter selulosa yang dibentuk dengan teknologi nanopartikel dalam sistem penghantaran obat. Eter selulosa merupakan bagian dari selulosa yang ada di alam. Eter selulosa memiliki turunan diantaranya metil selulosa, etil selulosa, hidroksipropil selulosa, hidroksietil selulosa, hidroksipropil metil selulosa, hidroksi etil metil selulosa, natrium karboksi metil selulosa. Dalam artikel ini, metode yang digunakan dalam mengumpulkan data-data mengenai turunan eter selulosa yang sering digunakan dalam sediaan farmasi dan teknologi nanopartikel dalam sistem penghantaran obat diperoleh dari berbagai jurnal ilmiah dan buku. Dalam farmasi, turunan eter selulosa sering digunakan dalam sediaan farmasi karena memiliki sifat yang khas. Dengan berkembangnya teknologi, banyak sediaan farmasi yang dikembangkan dalam bentuk nanopartikel seperti sistem obat dalam matriks yaitu nanoliposom, nanosfer dan nanokapsul dan sebagai kombinasi dalam sistem scaffold dan penghantaran transderma, hal ini dapat terjadi dikarenakan kemampuannya dalam menembus dinding sel, baik secara difusi, opsonifikasi maupun fleksibilitas. Polimer eter selulosa pada penerapannya memiliki sifat yang khas sehingga dapat digunakan sebagai matriks, coating tablet, granul, pengemulsi, pensuspensi dalam sistem penghantaran obat.Kata kunci : Eter selulosa, Nanopartikel, Sistem penghantaran obat
APLICATION TECHNOLOGY NANOPARTICLES ON COSMETIC PREPARATION IRMA RAHAYU LATARISSA; Patihul Husni
Farmaka Vol 14, No 1 (2016): Supplement
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (336.951 KB) | DOI: 10.24198/jf.v14i1.11129

Abstract

The development of nanoparticle technology increasingly rapid makes the application of these nanoparticles become more prevalent in the pharmaceutical industry especially cosmetic preparations Cosmetic is applied to the human body to cleanse, beautify or improve the attractiveness or the person's appearance. Nanoparticles are used for cosmetics various kinds such as Solid Lipid Nanoparticles (SLN, Nanostructured Lipid Carriers (NLS), nanoparticles of titanium oxide (TiO2) and zinc oxide (ZnO), silver nanoparticles, crystal nanoparticles, gold nanoparticles, and so on. Indications are given also an assortment that is as an antioxidant, antiaging, antiacne, to protect the skin from UV rays and improve penetration of the skin. Application of nanoparticles in cosmetic preparations intended to release cosmetic active ingredients is more targeted due to the small particle size and to reduce side effects.
REVIEW: Efek Samping Penggunaan Isotretinoin sebagai Obat Jerawat terhadap Kehamilan Nadhira Mahda Dinar Lubis; Soraya Ratnawulan Mita
Farmaka Vol 14, No 1 (2016): Supplement
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (79.573 KB) | DOI: 10.24198/jf.v14i1.10601

Abstract

Jerawat merupakan salah satu gangguan kulit yang mengganggu penampilan seseorang. Isotretinoin adalah salah satu obat anti jerawat oral yang paling sering digunakan karena obat ini bekerja dengan sangat baik. Sayangnya, isotretinoin memiliki efek samping serius terhadap kehamilan. Dari beberapa hasil penelitian secara eksperimental dan non-eksperimental diketahui bahwa isotretinoin dapat menyebabkan gangguan kehamilan yaitu keguguran spontan pada ibu hamil serta menyebabkan bayi terlahir cacat. Penelitian secara non-eksperimental dilakukan dengan metode retrospektif menggunakan data medis responden dan pengisian kuesioner mengenai kehamilan. Penelitian eksperimental menggunakan tikus yang diberi isotretinoin, lalu diukur parameter-parameternya, seperti parameter darah, ketebalan kornea pada anakan tikus dan abnormalitas pada rongga mulut anakan tikus. Selain itu penelusuran pustaka juga menghasilkan beberapa kasus mengenai hasil kehamilan yang dilaporkan akibat dari penggunaan isotretinoin selama masa kehamilan. Hasilnya didapatkan bahwa penggunaan isotretinoin selama masa kehamilan akan menimbulkan efek teratogenik dan aborsi spontan.
Perbandingan Berbagai Teknologi untuk Mencari dan Deteksi Kanker Payudara: Article Review Batari Aning Larasati; Angga Prawira Kautsar
Farmaka Vol 14, No 1 (2016): Supplement
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (386.793 KB) | DOI: 10.24198/jf.v14i1.10758

Abstract

Kanker payudara merupakan salah satu penyakit yang memiliki tingkat morbiditas dan mortalitas yang cukup tinggi dengan frekuensi kasus per tahun yang cukup tinggi di dunia, yaitu sekitar 231.840 kasus baru dan 40.290 kasus diantaranya menyebabkan kematian karena kurangnya kesadaran masyarakat terhadap kesehatan. Tujuan penulisan riview artikel ini adalah untuk memberikan informasi kepada masyarakat bahwa telah tersedia berbagai macam teknologi yang berfungsi untuk screening dan deteksi dini kanker payudara, seperti Magnetic Resonance Imaging (MRI), Digital Mommography, Computer Aided Detection (CAD), Ultrasonography, dan Pencitraan nuklir (Nuclear Theraphy). Adanya keterbatasan teknologi sebelumnya mendorong untuk dikembangkannya teknologi baru sehingga dapat meningkatkan pencarian (screening) dan deteksi kanker payudara dengan cara efektif dan hasil yang akurat.Kata Kunci: Kanker payudara, teknologi, screening, deteksi
Perbandingan Berbagai Interaksi Obat dengan Herbal: Article Review YUNIKE KARUNIA PUTRI; Taofik Rusdiana
Farmaka Vol 14, No 1 (2016): Supplement
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (566.941 KB) | DOI: 10.24198/jf.v14i1.10757

Abstract

Artikel ini mengulas tentang beberapa interaksi antara obat dengan herbal. Dalam artikel ini, data-data mengenai interaksi obat dengan herbal telah dikumpulkan untuk dibandingkan berdasarkan interaksi farmakokinetik. Interaksi farmakokinetik ini dapat terjadi pada beberapa tahap yang meliputi absorbsi, distribusi, metabolisme, dan ekskresi. Parameter farmakokinetik yang diukur antara lain Cmax, Tmax, AUC0-t, T1/2, dan Cl/F. Dari hasil yang didapat, disimpulkan bahwa beberapa memiliki interaksi yang signifikan antara obat dengan herbal, namun ada pula yang tidak terdapat interaksi setelah dilihat dari parameter farmakokinetiknya. Kata kunci: interaksi obat-herbal, interaksi farmakokinetik, parameter farmakokinetik

Page 2 of 3 | Total Record : 22


Filter by Year

2016 2016


Filter By Issues
All Issue Vol 23, No 3 (2025): Farmaka (November) (In Press) Vol 23, No 2 (2025): Farmaka (Juli) (In Press) Vol 23, No 1 (2025): Farmaka (Maret) (In Press) Vol 22, No 3 (2024): Farmaka (November) Vol 22, No 2 (2024): Farmaka (Juli) Vol 22, No 1 (2024): Farmaka (Maret) Vol 21, No 3 (2023): Farmaka (November) Vol 21, No 2 (2023): Farmaka (Juli) Vol 21, No 1 (2023): Farmaka (Maret) Vol 20, No 3 (2022): Farmaka (November) Vol 20, No 2 (2022): Farmaka (Juli) Vol 20, No 1 (2022): Farmaka (Maret) Vol 19, No 4 (2021): Farmaka (Suplemen) Vol 19, No 3 (2021): Farmaka (November) Vol 19, No 2 (2021): Farmaka (Juli) Vol 19, No 1 (2021): Farmaka (Maret) Vol 18, No 4 (2020): Farmaka (Suplemen) Vol 18, No 3 (2020): Farmaka (November) Vol 18, No 2 (2020): Farmaka (September) Vol 18, No 1 (2020): Farmaka (Januari) Vol 17, No 3 (2019): Farmaka (Desember) Vol 17, No 2 (2019): Farmaka (Agustus) Vol 17, No 1 (2019): Farmaka (Supplemen) Vol 17, No 1 (2019): Farmaka (Februari) Vol 16, No 4 (2018): Prosiding Abstrak Pharmacopea 2018 Vol 16, No 3 (2018): Suplemen (September) Vol 16, No 3 (2018): Farmaka (September) Vol 16, No 2 (2018): Suplemen Agustus Vol 16, No 2 (2018): Farmaka (Agustus) Vol 16, No 1 (2018): Suplemen Juni Vol 16, No 1 (2018): Farmaka (Juni) Vol 15, No 4 (2017): Farmaka Desember Vol 15, No 3 (2017): Suplemen Desember Vol 15, No 3 (2017): Farmaka Vol 15, No 2 (2017): Suplemen Vol 15, No 2 (2017): Farmaka Vol 15, No 1 (2017): Suplemen Vol 15, No 1 (2017): Farmaka (Maret) Vol 14, No 4 (2016): Farmaka Vol 14, No 3 (2016): Farmaka Vol 14, No 2 (2016): Suplemen Vol 14, No 2 (2016): Farmaka Vol 14, No 1 (2016): Supplement Vol 14, No 1 (2016): Farmaka Vol 13, No 4 (2015): FARMAKA More Issue