Jurnal Keperawatan Komprehensif (Comprehensive Nursing Journal)
Jurnal Keperawatan Komprehensif (JKK) of STIKep PPNI Jawa Barat has mission to provide information regarding nursing science for students, teachers, and for public community who have concern in nursing. Jurnal Keperawatan Komprehensif published twice a year on every July and Januari.
Articles
739 Documents
OPTIMALISASI PELAKSANAAN SUPERVISI HANDOVER KEPERAWATAN PADA RUMAH SAKIT DI JAKARTA SELATAN
Sri Herni Wigiarti;
Krisna Yetti;
Dudi Mashudi
Jurnal Keperawatan Komprehensif (Comprehensive Nursing Journal) Vol. 6 No. 2 (2020): Jurnal Keperawatan Komprehensif (Comprehensive Nursing Journal)
Publisher : STIKep PPNI Jawa Barat
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1032.029 KB)
|
DOI: 10.33755/jkk.v6i2.164
Handover keperawatan di rumah sakit dapat berpengaruh terhadap hasil pelayanan kesehatan pasien. Handover merupakan bagian dari proses asuhan keperawatan sebagai pertukaran informasi pasien antar perawat, memastikan kontinuitas perawatan pasien, keselamatan pasien. Kepala ruangan memiliki fungsi melakukan supervisi pada proses handover, sehingga dapat meningkatkan kepedulian terhadap kualitas keperawatan, dan berpegang kepada etika keperawatan. Belum optimalnya pelaksanaan supervisi handover dianalisa menggunakan fishbone diagram untuk mendapatkan akar masalah/rootcause. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis pelaksanaan supervisi handover keperawatan pada rumah sakit di Jakarta Selatan. Metodologi yang digunakan dengan metode wawancara, observasi, pengisian kuesioner dan telaah dokumen rekam medik pasien. Optimalisasi kualitas supervisi handover perawat dengan melakukan evaluasi pelaksanaan handover, memerlukan instrumen sesuai dengan standar prosedur operasional atau standar akreditasi rumah sakit. Kepala ruangan perlu melakukan sosialisasi prosedur dan supervisi berkala pelaksanaan handover keperawatan, komitmen bersama mendukung program ini, menggunakan instrumen penilaian handover yang seragam, adanya audit dan evaluasi dari manajemen bidang keperawatan.
OPTIMALISASI PERAN DAN FUNGSI KEPALA RUANGAN DALAM PELAKSANAAN SOSIALISASI REGULASI DAN STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL KESELAMATAN PASIEN
Dina Warashati;
Enie Novieastari;
Tuti Afriani
Jurnal Keperawatan Komprehensif (Comprehensive Nursing Journal) Vol. 6 No. 2 (2020): Jurnal Keperawatan Komprehensif (Comprehensive Nursing Journal)
Publisher : STIKep PPNI Jawa Barat
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (841.625 KB)
|
DOI: 10.33755/jkk.v6i2.165
Keselamatan pasien merupakan hal yang penting dari suatu pelayanan kesehatan di era saat ini. Seorang perawat wajib memiliki kemampuan dan kepercayaan diri dalam melaksanakan program-program keselamatan pasien. Perawat butuh suatu acuan dan pedoman berupa pemahaman yang jelas mengenai suatu panduan dan standar oprasional prosedur yang ada dan disepakati disuatu organisasi. Manajemen berkewajiban memastikan bahwa seluruh stafnya paham, mengikuti dan patuh melaksanakan  panduan dan standar oprasional prosedur yang ada. Pengkajian di rumah sakit di Jakarta dengan metode studi kasus didapatkan adanya insiden jatuh, kesalahan identifikasi pasien, kesalahan pengobatan, ketidak seragaman pada tindakan asuhan keperawatan, belum optimalnya komunikasi SBAR saat serah terima, penyimpanan obat-obatan konsentrasi tinggi belum sesuai standar dan adanya konflik antar profesi. Tujuan study ini adalah memberikan penguatan peran dan fungsi manajemen kepala ruangan terkait cara sosialisasi panduan dan standar oprasional prosedur yang benar dalam upaya meningkatkan keselamatan pasien. Penguatan yang diberikan kepada kepala ruangan dan perawat primer berupa bimbingan teknis yang benar menurut teori dan aplikasi langsung diruangan rawat inap. Kegiatan ini menggunakan tahap perubahan berencana dari kurt lewin untuk mengatasi permasalahan yang ditemui. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pemahaman terhadap standar oprasional prosedur akan mengubah perilaku seseorang kearah yang lebih baik, dan terdapat hubungan yang cukup kuat ditemukan antara kualitas standar operasional prosedur dengan kinerja, sehingga kepala ruangan wajib memiliki kompetensi yang baik dalam melakukan sosialisasi panduan dan standar oprasional prosedur. Disarankan untuk rumah sakit agar memberikan pelatihan manajemen bangsal kepada kepala ruangan sebagai penguat kompetensinya dan meningkatkan rasa percaya diri untuk memberikan justifikasi dan argumentasi, sebagai bekal negosiasi terhadap rekan-rekan petugas kesehatan lainnya.
MODIFIKASI ASESMEN EARLY WARNING SYSTEM UPAYA PENINGKATAN PENERAPAN KESELAMATAN PASIEN
Veronika Hutabarat;
Enie Novieastari;
Satinah Satinah
Jurnal Keperawatan Komprehensif (Comprehensive Nursing Journal) Vol. 6 No. 2 (2020): Jurnal Keperawatan Komprehensif (Comprehensive Nursing Journal)
Publisher : STIKep PPNI Jawa Barat
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (850.876 KB)
|
DOI: 10.33755/jkk.v6i2.166
Salah satu faktor dalam meningkatkan penerapan keselamatan pasien adalah ketersediaan dan efektifitas prasarana dalam rumah sakit. Early warning system (EWS) merupakan prasarana dalam mendeteksi perubahan dini kondisi pasien. Penatalaksanaan EWS masih kurang efektif karena parameter dan nilai rentang scorenya belum sesuai dengan kondisi pasien. Tujuan penulisan untuk mengidentifikasi efektifitas EWS dalam penerapan keselamatan pasien. Metode penulisan action research melalui proses diagnosa, planning action, intervensi, evaluasi dan refleksi. Responden dalam penelitian ini adalah perawat yang bertugas di area respirasi dan pasien dengan kasus kompleks respirasi di Rumah Sakit Pusat Rujukan Pernapasan Persahabatan Jakarta. Analisis masalah dilakukan dengan menggunakan diagram fishbone. Masalah yang muncul belum optimalnya implementasi early warning system dalam penerapan keselamatan pasien. Hasilnya 100% perawat mengatakan REWS membantu mendeteksi kondisi pasien, 97,4 % perawat mengatakan lebih efektif dan 92,3 % perawat mengatakan lebih efesien mendeteksi perubahan kondisi pasien. Modifikasi EWS menjadi REWS lebih efektif dan efesien dilakukan karena disesuaikan dengan jenis dan kekhususan Rumah Sakit dan berdampak terhadap kualitas asuhan keperawatan dalam menerapkan keselamatan pasien. Rekomendasi perlu dilakukan monitoring evaluasi terhadap implementasi t.erhadap implementasi REWS dan pengembangan aplikasi berbasis tehnologi
KESIAPSIAGAAN PERAWAT RUMAH SAKIT DALAM MENGHADAPI BENCANA: TINJAUAN SISTEMATIS
Ramdani Ramdani;
Yanny Trisyani;
Etika Emaliyawati
Jurnal Keperawatan Komprehensif (Comprehensive Nursing Journal) Vol. 6 No. 2 (2020): Jurnal Keperawatan Komprehensif (Comprehensive Nursing Journal)
Publisher : STIKep PPNI Jawa Barat
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (47.903 KB)
|
DOI: 10.33755/jkk.v6i2.169
Kesiapsiagaan terhadap bencana merupakan aspek yang sangat penting penentu keberhasilan dalam penanggulangan bencana. Untuk mengurangi dampak bencana di seluruh fase yang berbeda, banyak tindakan keperawatan yang diperlukan, termasuk pencegahan atau mitigasi, kesiapsiagaan, respon, pemulihan, dan rekonstruksi atau rehabilitasi. Akan tetapi informasi tentang gambaran kesiapsiagaan perawat terhadap bencana secara sistematis masih terbatas. Sehingga tinjauan ini bertujuan untuk mengidentifikasi hasil penelitian yang ada tentang kesiapan perawat di rumah sakit dalam menghadapi bencana secara lebih komprehensif. Metode: Pencarian literature dilakukan terhadap artikel yang diterbitkan dari 2014 sampai 2019 menggunakan PubMed dan Google Scholar dengan kombinasi kata kunci readiness atau preparedness dan disaster dan healthcare professional atau nursing. Kriteria inklusi pencarian adalah studi yang berfokus pada analisis kesiapsiagaan pada perawat, jenis studi cross sectional, diterbitkan dalam bahasa Inggris dan bahasa Indonesia. Semua makalah yang terpilih dimasukkan berdasarkan penilaian independen berdasarkan kriteria dari JBI. Hasil: Pencarian awal menghasilkan 1.143 artikel dan hanya 9 artikel yang termasuk dalam tinjauan artikel, dari 9 artikel menunjukan mayoritas perawat rumah sakit menunjukkan kesiapan yang buruk terhadap respon bencana rentang dari 45,8% sampai 78,5%. Mereka juga tidak percaya diri dengan kemampuannya dalam menghadapi bencana yang besar (52,1% - 72,4%). Akan tetapi, sebanyak (48,3% - 82,3%) perawat menunjukkan kesiapan yang baik terhadap respon bencana dalam hal manajemen klinis dan kesiapan dalam perlindungan diri. Kesimpulan : Hasil review menunjukan bahwa sebagian besar perawat memiliki kesiapan yang kurang optimal dalam menangani bencana. Pembuat kebijakan harus mendorong diadakanya pelatihan untuk perawat mengenai kesiapsiagaan bencana di rumah sakit.
GAMBARAN FASE BERDUKA PADA PASIEN STROKE DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS PEMBANGUNAN
Restiani Paripurna Sari;
Titin Sutini;
Iceu Amira
Jurnal Keperawatan Komprehensif (Comprehensive Nursing Journal) Vol. 6 No. 2 (2020): Jurnal Keperawatan Komprehensif (Comprehensive Nursing Journal)
Publisher : STIKep PPNI Jawa Barat
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (645.942 KB)
|
DOI: 10.33755/jkk.v6i2.172
Stroke merupakan suatu masalah yang dapat terjadi kapan saja dan tidak terprediksi sebelumnya sehingga pasien dapat mengalami fase berduka. Populasi pada penelitian ini yaitu pasien stroke yang berkunjung ke Puskesmas Pembangunan sebanyak 30 orang. Teknik sampel dengan menggunakan total sampling. Instrumen berisi 15 pertanyaan dan data penelitian disajikan dengan distribusi frekuensi berdasarkan nilai fase berduka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pasien stroke yang mengalami fase berduka hampir setengahnya responden berada pada fase tawar menawar (bargaining) sebanyak 36,7%, fase anger 26,7%, fase denial 16,7%, fase depresi 13,3% dan sebagian kecil mengalami fase acceptance sebanyak 6,7%. Kesimpulan pada penelitian ini adalah hampir setengahnya responden mengalami fase tawar menawar (bargaining) dan sebagian kecil berada pada fase penerimaan acceptance. Saran pada penelitian ini untuk tenaga kesehatan agar lebih memperhatikan pasien pada saat mengalami fase berduka, untuk pasien agar lebih sabar lagi dalam menghadapi fase berduka.
GAMBARAN STATUS GIZI IBU HAMIL PRIMIGRAVIDA DAN MULTIGRAVIDA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS KARANG MULYA KABUPATEN GARUT
Lupita Sari;
Restuning Widiasih;
Hendrawati Hendrawati
Jurnal Keperawatan Komprehensif (Comprehensive Nursing Journal) Vol. 6 No. 2 (2020): Jurnal Keperawatan Komprehensif (Comprehensive Nursing Journal)
Publisher : STIKep PPNI Jawa Barat
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (754.755 KB)
|
DOI: 10.33755/jkk.v6i2.173
Masalah gizi di Indonesia masih tinggi termasuk masalah gizi pada ibu hamil. Status gizi ibu hamil tergambar dari angka kejadian anemia dan Kekurangan Energi Kronis (KEK). Ibu hamil yang mengalami resiko KEK di Jawa Barat cukup tinggi, termasuk di Kabupaten Garut. Status gizi pada ibu hamil berperan penting dan merupakan faktor prenatal yang akan menyebabkan komplikasi pada ibu serta bayi yang dilahirkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui status gizi ibu hamil. Jenis penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu hamil yang berada di wilayah kerja Puskesmas Karang Mulya Kabupaten Garut. Sampel dalam penelitian ini menggunakan purposive sampling didapatkan sebanyak 74 ibu hamil. Analisis data menggunakan analisis deskriptif. dan disajikan dalam bentuk presentase. Hasil penelitian menunjukan bahwa status gizi berdasarkan ukuran LILA kurang sebesar  (<23,5 cm) pada ibu primigravida sebesar 6,7% dan 2,7% ibu multigravida, kenaikan berat badan kategori baik selama hamil 54,1% primigravida dan 48,7% multigravida, dan kadar hemoglobin (<11 gr/dl) ibu primigravida 40,5% dan ibu multigravida 54,1%. Simpulan penelitian ini dapat menjadi data awal bagi institusi kesehatan dalam mengembangkan intervensi atau program sesuai dengan kondisi ibu hamil diwilayah kecamatan Karang Mulya.
STUDI KOMPARASI GAYA KEPEMIMPINAN ANTARA RUMAH SAKIT SWASTA DAN PEMERINTAH
Diwa Agus Sudrajat;
Rahmi Rahmawati
Jurnal Keperawatan Komprehensif (Comprehensive Nursing Journal) Vol. 7 No. 1 (2021): JURNAL KEPERAWATAN KOMPREHENSIF (COMPREHENSIVE NURSING JOURNAL)
Publisher : STIKep PPNI Jawa Barat
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (766.173 KB)
|
DOI: 10.33755/jkk.v7i1.179
Latar belakang: Gaya kepemimpinan merupakan suatu proses perilaku untuk mempengaruhi dalam menentukan tujuan organisasi, memotivasi untuk mencapai tujuan, mempengaruhi untuk memperbaiki kelompok dan budayannya. Gaya kepemipinan yang tepat akan mampu mempengaruhi perubahan internal dan eksternal berorganisasi. Dengan demikian kontribusi perawat sebagai salah satu pemberi pelayanan kesehatan ikut menentukan tercapainya tujuan rumah sakit. Kinerja perawat pelaksana merupakan serangkaian kegiatan perawat dalam memberikan asuhan keperawatan. Terbentuknya kinerja perawat yang baik dapat dipengaruhi oleh sistem nilai bersama yang ada pada gaya kepemimpinan para kepala ruangan rumah sakit. Gaya kepemimpinan yang baik akan mendorong timbulnya loyalitas pada organisasi, yang akhirnya akan menghasilkan kinerja perawat yang optimal sebagai mewujudkan kualitas pelayanan keperawatan. Tujuan: penelitian ini untuk mengetahui dan membandingkan gaya kepemimpinan di RS swasta dan RS negeri. Metode: penelitian ini merupakan penelitian deskriptif analisis komparatif secara kuantitatif menggunakan rancangan cross sectional, dengan subjek penelitian 73 perawat di rumah sakit negeri dan 73 di rumah sakit swasta ditentukan dengan teknik propotion random sampling. Pengumpulan data dengan kuesioner. Hasil: gaya kepemimpinan yang dimiliki kepala ruangan di kedua rumah sakit ini, untuk hasi RS Swasta mendominan gaya kepemimpinan Laisses Faire, untuk RS pemerintah mendominan gaya kepemimpinan Transaksional. Kesimpulan Terdapat gaya Kepemimpinan RS Pemerintah yaitu gaya kepemimpinan Transaksional dari 56 responden (76,7%) maka termasuk kategori (Cukup Baik). Terdapat gaya kepemimpinan RS Swasta yaitu gaya kepemimpinan Laisses Faire dari 56 responden (76,7%) maka termasuk kategori (Cukup baik)  Saran: Bagi pihak rumah sakit swasta untuk lebih mampu menciptakan suasana yang kondusif dalam pedoman pekerjaan sehingga dapat mencapai tujuan dan menjadi lebih baik. Bagi rumah sakit pemerintah sebaiknya dapat mempertahankan bagi para kepala ruangan untuk bisa mempengaruhi perawatnya bekerja dengan sebaik mungkin.Â
GAMBARAN TINGKAT DEPRESI, KECEMASAN DAN STRESS PADA MAHASISWA JUNIOR KEPERAWATAN DI INDONESIA
Agus Hendra;
Bella Risma Heryanti;
Agni Laili Perdani
Jurnal Keperawatan Komprehensif (Comprehensive Nursing Journal) Vol. 6 No. 2 (2020): Jurnal Keperawatan Komprehensif (Comprehensive Nursing Journal)
Publisher : STIKep PPNI Jawa Barat
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (837.905 KB)
|
DOI: 10.33755/jkk.v6i2.180
Stress adalah masalah kesehatan yang akan menjadi epidemik global pada abad ke-21. Mahasiswa keperawatan adalah kelompok masyarakat yang rentan akan stress dan dipicu oleh faktor akademik, klinik dan lingkungan. Dinamika perubahan belajar dan perbedaan proses akademik dari sekolah ke perguruan tinggi dan hal tersebut menjadi sumber utama stress pada mahasiswa baru. Tujuan penelitian ini adalah untuk menggambarkan tingkatan depresi, kecemasan, dan stress pada mahasiswa junior keperawatan.. Penelitian ini adalah cross-sectional study yang dilakukan di salah satu institusi keperawatan di Indonesia pada bulan Desember-January 2019. Teknik sampling yang digunakan adalah convenience sampling dengan Instrumen DASS (Depression Anxiety Stress Scale). Pengambilan data menggunakan online questionnaire form dan teknik analisa univariate data dengan SPSS Version 25. Rata-rata usia pada tahap remaja 19.13 (SD±0.59), 82% perempuan dan 80.8% tinggal bersama orang tua kandung (p < 0.000). Rata-rata tingkat depresi 16.24 (SD±9.71), kecemasan 13.71 (SD±0.59) atau berada pada kategori sedang dan rata-rata tingkat stress adalah 12.49 (SD±10.18) (p < 0.000). Total 25 (32.1%), 28 (35.9%) dan 52 (66.7%) responden pada depresi, kecemasan dan stress adalah normal. Depresi - stress berada pada rata-rata tertinggi 1.14 (SD ± 0.89) dan terendah adalah kecemasan - stress (SD±0.68). Identifikasi data awal tingkat stress, depresi dan kecemasan pada mahasiswa junior dibutuhkan oleh institusi sebagai upaya dalam melakukan manajemen stress. Tindakan kolaboratif bersama dapat diupayakan oleh berbagai pihak meliputi pelatihan teknik relaksasi, pengenalan strategi koping efektif ataupun penyediaan sumber-sumber yang dapat digunakan oleh mahasiswa sebagai upaya institusi dalam menciptakan proses akademik dan praktik klinis yang baik.Â
PERBANDINGAN EFEKTIVITAS SENAM PROLANIS DAN SENAM DIABETES TERHADAP GLUKOSA DARAH PADA PENDERITA DIABETES MELITUS TIPE 2
Faisal Kholid Faisal Kholid
Jurnal Keperawatan Komprehensif (Comprehensive Nursing Journal) Vol. 6 No. 2 (2020): Jurnal Keperawatan Komprehensif (Comprehensive Nursing Journal)
Publisher : STIKep PPNI Jawa Barat
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (647.529 KB)
|
DOI: 10.33755/jkk.v6i2.181
Penyakit Diabetes Melitus (DM) kini menjadi ancaman yang serius bagi umat manusia di dunia. Komplikasi pada Diabetes Melitus (DM) tipe 2 dapat dihambat melalui kemampuan menjaga kadar gula darah selalu normal atau mendekati batas normal. Berbagai macam cara harus dilakukan untuk dapat mengontrol kadar gula darah. Penting untuk kita mengetahui manakah cara yang paling sesuai dilakukan sehingga perlu untuk membuktikan apakah senam diabetes dan prolanis dapat efektif terhadap pengontrolan gula darah. Metode penelitian ini adalah kuasi eksperimen dengan pretest-posttest with control group. Penelitian ini dilakukan di Puskesmas wilayah kerja Singkawang Tengah. Jumlah sampel pada penelitian ini adalah 60. Hasil dari penelitian ini adalah ada perbedaan yang nyata nilai GDS pada kelompok Senam Prolanis, kelompok Senam DM dan kelompok kontrol dengan nilai p-value sebesar 0,000 < 0,05 artinya perbedaan yang nyata nilai GDS pada kelompok Senam Prolanis, kelompok Senam DM dan kelompok kontrol. Keluarga dianjurkan berolahraga selama 30 – 40 menit, dapat meningkatkan pemasukan glukosa kedalam sel sebesar 7 sampai 20 kali lipat dibandingkan tanpa latihan fisik.
EFEKTIVITAS TERAPI SPIRITUAL EMOTIONAL FREEDOM TECHNIQUE (SEFT) TERHADAP KUALITAS TIDUR PADA PASIEN POST OPERASI: LITERATURE REVIEW
Dian Anggraini;
Auliya Safinatunnajah
Jurnal Keperawatan Komprehensif (Comprehensive Nursing Journal) Vol. 7 No. 1 (2021): JURNAL KEPERAWATAN KOMPREHENSIF (COMPREHENSIVE NURSING JOURNAL)
Publisher : STIKep PPNI Jawa Barat
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (794.958 KB)
|
DOI: 10.33755/jkk.v7i1.184
Latar belakang : Pembedahan merupakan tindakan pengobatan yang menggunakan cara invasif dengan membuka atau menampilkan bagian tubuh yang akan ditangani dan selanjutnya bisa menyebabkan reaksi fisiologis maupun psikologis. Salah satu reaksi fisiologis dari pembedahan adalah gangguan tidur akibat nyeri dan cemas yang dirasakan karena berkurangnya pengaruh anastesi, lingkungan yang berubah, dan ketakutan terhadap perubahan kesehatannya. Terapi SEFT dapat mengatasi gangguan tidur karena terapi SEFT berfokus dengan kalimat doa sehingga tubuh akan mengalami relaksasi dan menyebabkan menjadi tenang, selain untuk penyembuhan baik fisik maupun emosi, juga dapat digunakan untuk meningkatkan prestasi dan kedamaian hati. Tujuan : untuk mengetahui gambaran penatalaksanaan terapi SEFT (Spiritual Emotional Freedom Technique) terhadap kualitas tidur pada pasien post operasi. Metode : Strategi pencarian dilakukan melalui Google Scholar. Metode penelitian yang digunakan yaitu literature review dengan jumlah tujuh artikel. Hasil penelitian : menunjukkan bahwa terapi Spiritual Emotional Freedom Technique (SEFT) efektif dalam meningkatkan kualitas tidur pada pasien post operasi. Kesimpulan : pada penelitian ini adalah dengan mengetahui adanya keefektifan terapi Spiritual Emotional Freedom Technique (SEFT) terhadap kualitas tidur pada pasien post operasi diharapkan praktisi dapat menjadikan terapi Spiritual Emotional Freedom Technique (SEFT) dapat diaplikasikan dalam mengatasi gangguan tidur sebagai bentuk layanan khusus di rumah sakit.