Claim Missing Document
Check
Articles

Found 10 Documents
Search

GAMBARAN FASE BERDUKA PADA PASIEN STROKE DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS PEMBANGUNAN Restiani Paripurna Sari; Titin Sutini; Iceu Amira
Jurnal Keperawatan Komprehensif (Comprehensive Nursing Journal) Vol. 6 No. 2 (2020): Jurnal Keperawatan Komprehensif (Comprehensive Nursing Journal)
Publisher : STIKep PPNI Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (645.942 KB) | DOI: 10.33755/jkk.v6i2.172

Abstract

Stroke merupakan suatu masalah yang dapat terjadi kapan saja dan tidak terprediksi sebelumnya sehingga pasien dapat mengalami fase berduka. Populasi pada penelitian ini yaitu pasien stroke yang berkunjung ke Puskesmas Pembangunan sebanyak 30 orang. Teknik sampel dengan menggunakan total sampling. Instrumen berisi 15 pertanyaan dan data penelitian disajikan dengan distribusi frekuensi berdasarkan nilai fase berduka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pasien stroke yang mengalami fase berduka hampir setengahnya responden berada pada fase tawar menawar (bargaining) sebanyak 36,7%, fase anger 26,7%, fase denial 16,7%, fase depresi 13,3% dan sebagian kecil mengalami fase acceptance sebanyak 6,7%. Kesimpulan pada penelitian ini adalah hampir setengahnya responden mengalami fase tawar menawar (bargaining) dan sebagian kecil berada pada fase penerimaan acceptance. Saran pada penelitian  ini untuk tenaga kesehatan agar lebih memperhatikan pasien pada saat mengalami fase berduka, untuk pasien agar  lebih sabar lagi dalam menghadapi fase berduka.
Gangguan makan dan perilaku bunuh diri pada remaja: Sebuah tinjauan literatur Hendrawati Hendrawati; Iceu Amira; Indra Maulana; Sukma Senjaya
Holistik Jurnal Kesehatan Vol 16, No 6 (2022)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawata Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v16i6.8127

Abstract

Background: Eating disorders are one of the psychiatric disorders with the highest mortality rates that cause serious psychological and medical consequences. Eating disorders are closely related to weight problems that affect the increase in suicidal ideation.Purpose: To determine the relationship between eating disorders and suicidal behavior in adolescents.Method: A scoping review by searching for articles using the Pubmed, ScienceDirect, and Wiley databases. The keywords used in searching the article were adolescent or adolescence or teen and eating disorder or compulsive eating or anorexia nervosa and suicidal tendencies or suicidal behaviors and relation or relative.Results: Sorting obtained six articles according to the inclusion and exclusion criteria that explained the causes of eating disorders, namely alcohol abuse, gender, mental illness, and closely related to suicidal ideation.Conclusion: Eating disorders and suicidal behavior are related to each other.Keywords: Eating disorders; Suicidal behavior; Adolescent.Pendahuluan: Gangguan makan merupakan salah satu gangguan kejiwaan dengan tingkat mortalitas tertinggi yang menimbulkan akibat psikologis dan medis serius. Gangguan makan erat kaitannya dengan permasalahan berat badan sehingga mempengaruhi peningkatan ide bunuh  diri.Tujuan: Untuk mengetahui hubungan eating disorder dengan suicidal behaviour pada remaja.Metode: Scoping review dengan pencarian artikel menggunakan database Pubmed, ScienceDirect dan Wiley. Kata kunci yang digunakan dalam mencari artikel yaitu adolescent or adolescence or teen and eating disorder or compulsive eating or anorexia nervosa and suicidal tendencies or suicidal behaviors and relation or relative.Hasil: Didapatkan enam artikel sesuai dengan kriteria inklusi dan eksklusi yang memaparkan penyebab gangguan makan yaitu penyalahgunaan alkohol, jenis kelamin, penyakit kejiwaan, serta erat kaitannya dengan ide bunuh diri.Simpulan: Eating disorder dengan suicidal behaviour saling berhubungan satu sama lain.
INTERVENSI NON FARMAKOLOGI PADA PASIEN SKIZOFRENIA DENGAN ISOLASI SOSIAL: LITERATURE REVIEW Hendrawati Hendrawati; Iceu Amira; Sukma Senjaya; Indra Maulana; Udin Rosidin; Taty Hernawaty
Jurnal Cakrawala Ilmiah Vol. 2 No. 3: November 2022
Publisher : Bajang Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53625/jcijurnalcakrawalailmiah.v2i3.4172

Abstract

Skizofrenia adalah gangguan jiwa berat ditandai dengan defisiensi dalam berpikir, persepsi, afek, dan perilaku sosial. Keterampilan sosial yang buruk berkaitan erat dengan kekambuhan penyakit dan kembalinya pasien ke rumah sakit. Sehingga diperlukan terapi komprehensif untuk meningkatkan kemampuan interaksi social. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui rekomendasi intervensi dalam meningkatkan kemampuan interaksi pasien skizofrenia dengan masalah isolasi social. Penelitian ini merupakan penelitian Literatur review dengan pencarian literatur menggunakan database PubMed, EBSCOhost-CINAHL, dan Google Scholar. Kriteria pencantuman artikel yang diambil meliputi artikel penelitian 10 tahun terakhir (2012-2022), berbahasa Inggris dan Indonesia, full text, Randomized Controlled Trial (RCT) atau Quasi eksperimen dan berupa intervensi meningkatkan kemampuan interaksi pada pasien skizofrenia dengan isolasi sosial. Penelitian bukan pada pasien skizofrenia dengan isolasi sosial dan hasil yang tidak signifikan dieksklusi. Artikel yang layak dianalisis dan disampaikan dalam bentuk narasi. Dari 6 artikel yang dianalisis, ditemukan 6 intervensi yaitu, terapi okupasi, terapi kognitif, terapi aktivitas kelompok sosialisasi, terapi berteman dengan relawan, social skill training. Seluruh intervensi yang ditemukan secara signifikan dapat meningkatkan interaksi sosial pada pasien skizofrenia dengan isolasi sosial. Seluruh intervensi yang ditemukan secara signifikan dapat meningkatkan kemampuan interaksi pasien skizofrenia dengan isolasi sosial.
Edukasi Pencegahan Pergaulan Bebas pada Remaja Iceu Amira; Hendrawati Hendrawati; Aat Sriati; Nina Sumarni; Udin Rosidin
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 6, No 10 (2023): Volume 6 No 10 2023
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v6i10.12010

Abstract

ABSTRAK Masa remaja merupakan masa dimana seorang individu mengalami peralihan dari satu tahap ke tahap berikutnya dan mengalami perubahan baik emosi, tubuh, minat, pola perilaku, dan juga penuh dengan masalah-maslah, sala satunya pergaulan bebas.  Untuk meningkatkan pengetahuan mengenai pergaulan bebas pada siswa  kelas 11 di SMAN Jatinangor.  Dengan  penyuluhan Kesehatan kepada para siswa  dan diskusi. Terdapat peningkatan pengetahuan pada siswa  tentang pergaulan bebas pada remaja dilihat dari hasil pre dan post test.  Berdasarkan evaluasi proses yang meliputi keantusiasan dan peran serta peserta, serta evaluasi pembelajaran meliputi evaluasi awal dan evaluasi akhir, didapatkan bahwa tingkat pemahaman peserta mengenai pergaulan bebas meningkat. Hal tersebut kemungkinan besar dipengaruhi secara positif oleh pemilihan landasan teori, pemilihan metode, dan penyesuaian sesuai perkembangan siswa yang telah penulis lakukan dalam pendidikan kesehatan ini. Kata Kunci: Edukasi, Pergaulan Bebas, Remaja  ABSTRACT Teenager is a period when an individual experiences a transition from one stage to the next and experiences changes in both emotions, body, interests, behavior patterns, and is also full of problems, one of which is promiscuity. To increase knowledge about promiscuity in grade 11 students at SMAN Jatinangor. With health counseling to students and discussion. There is an increase in students' knowledge about promiscuity in adolescents seen from the results of the pre and post tests. Based on the process evaluation which included the enthusiasm and participation of the participants, as well as the learning evaluation which included the initial evaluation and the final evaluation, it was found that the participants' level of understanding about promiscuity increased. This is most likely influenced positively by the choice of theoretical basis, selection of methods, and adjustments according to student development that the author has done in this health education. Keywords: Education, Promiscuity, Teenager
Peran keluarga dalam merawat orang dengan gangguan jiwa: A scoping review Hendrawati Hendrawati; Iceu Amira; Nina Sumarni; Udin Rosidin; Indra Maulana
Holistik Jurnal Kesehatan Vol 17, No 7 (2023)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawata Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v17i7.12741

Abstract

Background: Mental disorders often occur in society and are diseases characterized by disturbed emotions, behavior and thoughts that are not logically related. The family is the smallest unit in society and plays a very important role in the healing process for clients with mental disorders. Family experiences in caring for clients with mental disorders often face problems of anxiety, confusion, and daily parenting difficulties.Purpose: To determine the role of the family in caring for people with mental disorders, it is necessary to have a new review that discusses evidence based on the role of the family in caring for people with mental disorders.Method: This research uses a scoping review design which aims to explore the role of the family in providing care for family members with mental disorders. The year range used in searching for scientific articles was 10 years (2013-2022), and researchers used the PRISMA flow diagram study selection guide to assess the quality of research articles.Results: The results of a search for articles regarding the role of the family in caring for ODGJ, found 4 articles discussing the role of the family in caring for ODGJ, 6 articles discussing the burden on families caring for ODGJ, 1 article discussing family burden factors in caring for ODGJ, and 4 articles discussing the support provided necessary to improve the quality of life of families caring for ODGJ.Conclusion: There are many roles for families in caring for ODGJ and there are various useful applications in families to improve care for ODGJ.Keywords: Family; Mental Disorders; Roles.Pendahuluan: Gangguan jiwasering terjadi di masyarakat dan merupakan penyakityang ditandai dengan emosi, perilaku dan pikiran terganggu yang tidak berhubungan secara logis. Keluarga adalah unit terkecil dalam masyarakat,dan sangatberperan dalam proses penyembuhan klien dengan gangguan jiwa. Pengalaman Keluarga dalammerawat klien gangguan kejiwaan sering menghadapi dengan masalahkecemasan, kebingungan dan kesulitan pengasuhan sehari-hari.Tujuan: Untuk mengetahui peran keluarga dalam merawat orang dengan gangguan jiwa, diperlukan adanya suatu review terbaru yang membahas tentang evidence based terkait peran keluarga dalam merawat orang dengan gangguan jiwa.Metode: Penelitian ini menggunakan desain scoping review yang bertujuan untuk mengeksplorasi peran keluarga dalam pemberian perawatan bagi anggota keluarga dengan gangguan jiwa. Rentang tahun yang digunakan dalam pencarian artikel ilmiah adalah 10 tahun (2013-2022), dan peneliti menggunakan panduan penyeleksian studi PRISMA flow diagram untuk melakukan penilaian kualitas artikel penelitian.Hasil: Penelusuran artikel mengenai peran keluarga dalam merawat ODGJ, didapatkan 4 artikel yang membahas peran keluarga dalam merawat ODGJ, 6 artikel membahas beban keluarga yang merawat ODGJ, 1 artikel yang membahas faktor beban keluarga dalam merawat ODGJ, dan 4 artikel yang membahas dukungan yang diperlukan untuk meningkatkan kualitas hidup keluarga yang merawat ODGJ.Simpulan: Banyak peran keluarga dalam merawat ODGJ dan adanya berbagai penerapan yang berguna dalam keluarga untuk meningkatkan perawatan pada ODGJ.
Sex Education pada Remaja ( Realitas: Remaja Berkwalitas Tanpa Seks Bebas) di SMKS Pasundan Jatinangor Kabupaten Sumedang Hendrawati Hendrawati; Iceu Amira; Indra Maulana; Sukma Senjaya; Aat Sriati
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 6, No 12 (2023): Volume 6 No 12 2023
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v6i12.12342

Abstract

ABSTRAK Remaja merupakan usia yang sudah mulai berkembang kematangan seksualnya, dan memerlukan   pengarahan dan pengawasan yang baik  dari orang tua mengenai kesehatan reproduksi,  khususnya tentang akibat – akibat perilaku seks pranikah maka mereka sulit mengendalikan rangsangan - rangsangan dan banyak kesempatan seksual pornografi melalui media massa yang membuat remaja melakukan perilaku seksual secara bebas tanpa mengetahui resiko -resiko yang dapat terjadi seperti kehamilan yang tidak dinginkan  dan infeksi seksual.Kegiatan ini bertujuan untuk membantu meningkatkan  penegetahuan  siswa dan siswi khususnya di SMKS Pasundan Jatinangor  tentang seks edukation.  Metode yang dipergunakan dalam kegiatan ini adalah penyuluhan dengan tatap muka. Hasil kegiatan ini adalah adanya peningkatan yaitu 48,1 point . Kesimpulan Adanya peningkatan pengetahuan  siswa/siswi SMKS Pasundann tentang seks edukation , sehingga diharapkan , para remaja terhindar dari dampak seks bebas dan memahami dampak dari seks bebas sehingga dapat hidup dengan sehat  dan mengikuti pendidikan dengan semangat. Kata Kunci:  Remaja, Seks, Seks Education ABSTRACT Adolescents are an age that has begun to develop sexual maturity, and requires good guidance and supervision from parents regarding reproductive health, especially regarding the consequences of premarital sexual behavior, so it is difficult for them to control sexual stimulation and many pornographic opportunities through the mass media that make teenagers carry out sexual behavior freely without knowing the risks that can occur, such as unwanted pregnancy and sexual infections. This activity aims to help increase the knowledge of students and girls, especially at Pasundan Jatinangor Vocational School, about sex education. The method used in this activity is face-to-face counseling. The result of this activity was an increase of 48.1 points. Conclusion: There is an increase in the knowledge of Pasundann Vocational School students about sex education, so it is hoped that teenagers will avoid the impacts of free sex and understand the impacts of free sex so they can live healthily and participate in education with enthusiasm. Keywords: Teenagers, Sex, Sex Education.ave 
INTERVENSI PENCEGAHAN BUNUH DIRI PADA REMAJA: LITERATURE REVIEW Hendrawati Hendrawati; Iceu Amira; Indra Maulana; Sukma Senjaya
Jurnal Kesehatan Bakti Tunas Husada: Jurnal Ilmu-ilmu Keperawatan, Analis Kesehatan dan Farmasi Vol 23, No 2 (2023)
Publisher : LPPM Universitas Bakti Tunas Husada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36465/jkbth.v23i2.1084

Abstract

Bunuh diri diartikan sebagai tindakan secara sengaja untuk mengakhiri kehidupannya sendiri. Bunuh diri dapat terjadi di setiap rentang usia dan menjadi yang menyebabkan kematian  kedua terbesar,  pada anak usia 15-29 tahun secara global pada tahun 2019. Tragedi bunuh diri dapat memengaruhi dan berefek jangka panjang pada orang-orang yang ditinggalkan serta berimbas kepada keluarga, komunitas, dan seluruh negara. Studi pustaka ini bertujuan untuk mengetahui intervensi yang dapat dilakukan sebagai upaya pencegahan bunuh diri pada remaja. analisis literatur yang digunakan  adalah Scoping review, pencarian artikel penelitian menggunakan tiga database google scholar,Pubmed dan EBSCO dari  tahun 2015-2020 ,dengan perolehan 189 artikel sesuai kriteria inklusi dan ekslusi. Setelah dilakukan screening judul, abstrak dan kriteria inklusi dipilih 7 artikel yang sesuai. Ke tujuh artikel diambil dengan rincian 4 artikel berbahasa Inggris dan 3 artikel berbahasa indonesia. Artikel tersebut berasal dari berbagai database, 4 artikel dari google scholar, 2 artikel dari Pubmed dan 1 artikel dari EBSCO Dalam artikel tersebut ditemukan 7 intervensi yang dapat dilakukan pada remaja dengan resiko bunuh diri yaitu MFHA, Teen Mental Health First Aid, Pelatihan Rise and Shine, program SPIRIT, program training non-mental health professional, terapi suportif dan program SAFETY . Intervensi yang dapat dilakukan untuk mencegah bunuh diri pada remaja, antara lain Mental Health First Aid, pelatihan teen Mental Health First Aid, Program SPIRIT (Suicide Prevention and Implementation Research Initiative), Rise and Shine sebagai bentuk psikoedukasi, pelatihan non-mental health professionals, terapi suportif dan program SAFETY. Penelitian ini sebagai masukan bagi institusi –institusi baik  pendidikan ataupun non  kependidikan  dalam mencegah terjadinya bunuhdiri. 
Efektifitas Art Therapy Untuk Mengurangi Halusinasi Pada Pasien Skizoprenia Hendrawati Hendrawati; Iceu Amira; Udin Rosidin
Malahayati Nursing Journal Vol 7, No 8 (2025): Volume 7 Nomor 8 (2025)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v7i8.20580

Abstract

ABSTRACT Schizophrenia is a psychotic disorder that can cause a person to have limitations in the process of thinking, communicating, interpreting reality, feeling emotions and expressing the emotions they feel. Hallucinations are a symptom of schizophrenia where sufferers experience disturbances in sensory perception and will feel sensations that actually do not exist or are not real, which can be in the form of sound, taste, sight, smell and touch. This research is to determine and analyze the effectiveness of Art therapy interventions in the recovery of schizophrenia patients. This research uses a literature study method with secondary data from previous research obtained from 535 journals adjusted to the inclusion and exclusion criteria, with the publication year 2014-2024, which was determined by the researcher through Search using online databases, namely Pubmed, Garuda, and Google Scholar search engine. The application of art therapy has proven effective in managing the symptoms that appear in schizophrenia patients, one of which is hallucinations. Art therapy can be carried out using various methods because art is abstract and very broad, and involves many senses, thus providing a way for patients to express hallucinatory experiences nonverbally. Art therapy or drawing therapy has been widely used in the medical environment, one of which is to treat mental disorders such as hallucinations because it functions to release emotions, express oneself through non-verbal means and build communication.  . It is hoped that it can become a reference for health practitioners, especially mental health nurses, to implement art therapy interventions as actions that are given routinely as non-pharmacological therapy Keywords: Art Therapy, Hallucinations, Schizophrenia.  ABSTRAK Skizofrenia merupakan gangguan psikotik yang dapat menyebabkan seseorang memiliki keterbatasan dalam proses berpikir, berkomunikasi, menafsirkan realitas, merasakan emosi dan mengekspresikan perasaan emosi yangdirasakannya. Halusinasi adalah gejala skizofrenia dimana penderita mengalami gangguan pada persepsi sensori akan merasakan sensasi yang sebenarnya tidak ada atau tidak nyata, dapat berbentuk suara, pengecapan, penglihatan, penghidu dan perabaan. Penelitian ini untuk mengetahui dan menganalisa efektivitas dari intervensi Art therapy dalam pemulihan pasien skizofrenia. Penelitian ini menggunakan metode studi literatur dengan data sekunder hasilpenelitian terdahulu yang didapatkan sebanyak 535  jurnal yang disesuaikan dengan kriteria inklusi dan eksklusi , dengan tahun terbit 2014- 2024 ,yang ditetapkan oleh peneliti melalui pencarian menggunakan Database Online yaitu Pubmed, Garuda, dan search engine Google Scholar. Penerapan art therapy terbukti efektif untuk mengelola gejala yang muncul pada pasien skizofrenia, salah satunya halusinasi. Art therapy dapat dilakukan dengan berbagai metode karena seni itu abstrak dan sangat luas, serta melibatkan banyak indera sehingga memberikan cara bagi pasien untukmengekspresikan pengalaman halusinasi  secara nonverbal. Art theraphy atau terapi menggambar telah banyak digunakan dilingkungan medis, salah satunya untuk pengobatan penyakit gangguan jiwa seperti halusinasi karena berfungsi untuk melepaskan emosi, mengekspresikan diri melalui cara-cara non verbal dan membangun komunikasi. Diharapkan dapat menjadi referensi bagi praktisi kesehatan, terutama perawat Jiwa  untuk  menerapkan  intervensi Art terapi sebagai tindakan  yang diberikan secara  rutin  sebagai terapi non farmakologi. Kata Kunci: Art Terapi, Halusinasi, Skizoprenia.
Dukungan Orangtua terhadap Pendidikan Seksual pada Anak Retardasi Mental : Narative Review Hendrawati Hendrawati; Liesna Fitriani; Iceu Amira; Ema Arum; Indra Maulana
Malahayati Nursing Journal Vol 6, No 11 (2024): Volume 6 Nomor 11 (2024)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v6i11.15438

Abstract

ABSTRACT It is important to give sexual education to every child, including children with mental retardation, because they will grow and develop. Parental support is also important in providing sexual education because they are someone who interacts with the child every day. This literature study aims to determine parental support for sexual education for children with mental retardation. This research uses a narrative review method with data based on PubMed, EBSCO and Google Scholar. Search for literature using the keywords Support, Parents, Sexual Education, Mental Retardation / Intellectual Disability / Mental Retardation /Learning Disability/Developmental Disability / Learning Disabilities. Articles were synthesized according to the inclusion criteria: Original research, full text articles, in addition articles regarding parental support for sexual education for children with mental retardation were taken as samples, the year of publication of the article was a maximum of the last 10 years (2011-2020), used English or Indonesian, article regarding parental support for sexual education for mentally retarded children. 67,670 articles were found, after analysis. 8 articles were found, which revealed that parents had not received and understood how to overcome the problem of providing sexual education at home. Parental support regarding sex education for children with mental retardation is very much needed and must be done early to prevent abuse. sexual education so it is important to provide psychoeducation to parents to increase children's knowledge regarding sexual education. Key words: Parental support, sexual education, mental retardatioABSTRAK Pendahuluan: Pendidikan seksual penting diberikan pada setiap anak termasuk anak  dengan retardasi mental karena mereka akan tumbuh dan berkembang. Dukungan  orangtua juga penting dalam memberikan pendidikan seksual karena mereka  merupakan seseorang yang berinteraksi dengan anak tersebut setiap hari. Studi  literatur ini bertujuan untuk mengetahui dukungan orangtua terhadap pendidikan  seksual pada anak retardasi mental. Metode: Penelitian ini menggunakan metode narrative review dengan data based  PubMed, EBSCO dan googleScholer. Pencarian litratur dengan menggunakan kata kunci Dukungan / Support, Orangtua / Parent, Pendidikan Seksual / SexEducation, Retardasi Mental/Tunagrahita/Intellectual Disability/Mental Retardation / Learning Disability / Developmental Disability /Learning Disabilities. Artikel disentesis sesuai dengan kriteria inklusi: Penelitian original, artikel  full teks, sebagai tambahan artikel mengenai dukungan orangtua terhadap  pendidikan seksual pada anak retardasi mental diambil sebagai sampel, tahun  terbit artikel maksimal 10 tahun terakhir (2011-2020), menggunakan bahasa  Inggris atau Indonesia, artikel mengenai dukungan orangtua terhadap pendidikan  seksual pada anak retardasi mental. 67.670 artikel ditemukan,setelah dianalisis. Didapatkan 8 artikel, yang mengungkapkan  bahwa  orangtua belum mendapatkan dan memahami  cara mengatasi masalah pemberian pendidikan seksual di rumah. Dukungan orang tua tentang pendidikan seks pada anak Retardasi mental sangat dibutuhkan dan harus dilakukan secara dini untuk mencegah terjadinya pelecehan seksual sehingga   psikoedukasi  penting diberikan kepada  orangtua guna meningkatkan pengetahuan anak mengenai  pendidikan seksual. Kata kunci: Dukungan orangtua, Pendidikan seksual, Retardasi  Mental
Efektifitas Terapi Musik untuk Mengatasi Halusinasi Pendengaran di RSJ Provinsi jawa Barat Hendrawati Hendrawati; Iceu Amira; Aat Sriati
Malahayati Nursing Journal Vol 7, No 8 (2025): Volume 7 Nomor 8 (2025)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v7i8.20333

Abstract

ABSTRACT The most common psychosis disorder is hallucinations, with the most common type of hallucination being auditory hallucinations. Treating auditory hallucinations with non-pharmacological therapy, is considered safer because it uses physiological processes that do not cause side effects like drugs. One of the non-pharmacological therapies that can be used is music therapy. This research aims to look at the application of music therapy to treat auditory hallucinations. This research uses a literature study method with secondary data from previous research obtained from 483 journals adjusted to inclusion and exclusion criteria, with publication years 2014-2024, which were determined by researchers through searches using online databases, namely Pubmed, Garuda, and the Google Scholar search engine. From the analysis, we found 8 journals of music therapy techniques that can reduce or reduce signs and symptoms in patients with auditory hallucinations, including classical music in general, Mozart classical music, and traditional Turkish music. From writing this literature review, music therapy in general can reduce the symptoms of auditory hallucinations.  Suggestion: It is hoped that this literature review can be a reference for health practitioners, especially mental health nurses, to be able to implement music therapy interventions as actions that are given continuously as non-pharmacological therapy. Keywords: Hallucinations, Hearing, Music Therapy.  ABSTRAK Gangguan psikosis yang paling umum adalah halusinasi, dengan jenis halusinasi yang paling banyak yaitu halusinasi pendengaran. Penanganan halusinasi pendengaran dengan terapi non farmakologi dianggap lebih aman digunakan karena menggunakan proses fisiologis yang tidak menimbulkan efek samping seperti obat - obatan. Terapi nonfarmakologi yang bisa digunakan salah satunya adalah terapi musik.  Penelitian ini bertujuan untuk melihat penerapan terapi musik dalam mengatasi halusinasi pendengaran. Penelitian ini menggunakan metode studi literatur dengan data sekunder hasil penelitian terdahulu yang didapatkan sebanyak 483  jurnal yang disesuaikan dengan kriteria inklusi dan eksklusi , dengan tahun terbit 2014- 2024 ,yang ditetapkan oleh peneliti melalui pencarian menggunakan Database Online yaitu Pubmed, Garuda, dan search engine Google Scholar. Dari analisis  didapatkan 8 jurnal teknik terapi musik yang  dapat menurunkan atau mengurangi tanda dan gejala pada pasien dengan halusinasi pendengaran, diantaranyaadalah musik klasik secara umum, musik klasik mozart, dan musik tradisional Turki. Dari  penulisan literature review iniadalah terapi musik secara umum dapat mengurangi gejala halusinasi pendengaran. Literature review ini dapat menjadi referensi bagi praktisi kesehatan, terutama perawat Jiwa  untuk dapat menerapkan  intervensi terapi musik sebagai tindakan  yang diberikan secara  kontinyu sebagai terapi non farmakologi. Kata Kunci: Halusinasi, Pendengaran , Terapi Musik.