cover
Contact Name
pramesti
Contact Email
fadesti@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
fadesti@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota surakarta,
Jawa tengah
INDONESIA
Gelar : Jurnal Seni Budaya
ISSN : 14109700     EISSN : 26559153     DOI : -
Core Subject : Humanities, Art,
Gelar focuses on theoretical and empirical research in the Arts and Culture.
Arjuna Subject : -
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 14, No 2 (2016)" : 10 Documents clear
ESTETIKA TATA SUSUN KOSTUM SOLO BATIK CARNIVAL (STUDI KASUS: SBC KE-5 TAHUN 2012 TEMA METAMORFOSIS) Quintanova Rizqino; T. Slamet Suparno
Gelar : Jurnal Seni Budaya Vol 14, No 2 (2016)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1927.869 KB) | DOI: 10.33153/glr.v14i2.2078

Abstract

Solo Batik Carnival (SBC) merupakan wadah kegiatan kreatif berkarya untuk masyarakat Solo di bidang fashion Carnaval. SBC sendiri sudah menjadi kalender kegiatan budaya dan pariwisata kota Surakarta. Dari awalpenyelenggaraan SBC ke-1 hingga SBC ke-4 terjadi kejenuhan dalam proses kreatif sehingga tidak sejalan dengan visi dan misi SBC. Maka pada penyelenggaraan SBC ke-5 tahun 2012 terjadi perubahan dalampenggarapan konsep tema yang menjadi acuan dasar membuat bentuk-bentuk kostum. Dengan tema Metamorfosis tahap-tahap pembuatan batik diekplorasi menjadi kostum karnaval dengan kekayaan bentukbentuk geometris dari motif-motif tradisi batik Surakarta, terbentuklah berbagai macam bentuk kostum SBCke-5 yang mengandung estetik. Penelitian ini menggunakan pendekatan estetika, dengan metode kualitatif interpretatif. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik observasi, wawancara dan dokumen. Dengan meminjamteori estetika Djelantik, kostum-kostum SBC ke-5 dianalisis. Berdasarkan tema Metamorfosis di atas dan kajian estetika menurut Djelantik, akhirnya penulis menemukan 16 macam bentuk kostum SBC ke-5 beserta unsur estetiknya masing-masing. Bentuk-bentuk yang mengandung unsur estetik ini dapat dijadikan dasar acuan untuk pembuatan kostum-kostum karnaval bagi semua orang.Kata kunci: estetika, Solo Batik Carnival, metamorfosis.Solo Batik Carnival (SBC) is a media of creative activities in fashion carnival for people in Solo. SBC has been listed in the agenda of cultural and tourism events in Surakarta. There is saturation in case of creative process from the first SBC until the fourth SBC that it cannot go along with SBC vision and mission. For the reason, the theme concept that is used to be a reference in designing the costumes forms is changed in the holding of the fifth SBC in 2012. By Metamorphosis theme, the steps in batik making are explored to be carnival costumes that are rich of geometric forms from the traditional motives of batik Surakarta. Then it comes to the various forms of costumes in the fifth SBC containing aesthetic values. This research utilizes aesthetic approach andqualitative interpretative method. Data collecting is executed by technique of observation, interview, and document. The costumes of the fifth SBC are analyzed by aesthetics theory of Djelantik. Based on the Metamorphosis theme and the aesthetic study of Djelantik, the writer finds 16 forms of costumes in the fifth SBC along with their aesthetic elements. The aesthetic forms can be used as a reference in designing carnival costumes for other people.Keywords: aesthetics,Solo Batik Carnival, metamorphosis.
BEKSAN LAWUNG AGENG PADA UPACARA PERNIKAHAN AGUNG KRATON YOGYAKARTA R.M. Kusmahardika Tinarsidharta; R.M. Pramutomo
Gelar : Jurnal Seni Budaya Vol 14, No 2 (2016)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (876.194 KB) | DOI: 10.33153/glr.v14i2.2083

Abstract

Beksan Lawung Ageng Kraton Yogyakarta tidak hanya kinerja, tetapi juga bimbingan. Ini bimbingan baik untuk para pemain dan audiances. Mereka bisa dilihat dari gerakan heroik. Mereka juga dapat dilihat dari perubahankoreografi yang menceritakan tentang perjalanan hidup manusia dengan masalah. Di masa lalu, Beksan Lawung Ageng adalah media pembangunan karakter satria tama melalui disiplin latihan spiritual dan fisik yang parapenari harus memiliki. Tulisan ini mencoba untuk mengeksplorasi dan memperkenalkan nilai-nilai luhur yang terakumulasi dalam nilai-nilai etika dan estetika tari keraton. Hasil penelitian menunjukkan bahwa cara berpikir,situasi sosial, politik, ekonomi, dan perubahan budaya mempengaruhi kreativitas dan fungsi tarian ini. Namun, bimbingan kehidupan orang Jawa masih prioritas dalam perubahan nilai-nilai tari dan fungsi, perubahan dariistana ritual danceto kesuburan ritual perkawinan anak sultan yang akhirnya dianggap sebagai kinerja yang unik dan artistik. Dari diskusi para pemain dan analis budaya makna, kesinambungan dan perubahan kinerjaistana tari estetik adalah representasi disimbolkan yang harus dipahami dan preservedthat harus menjadi wakil untuk memperkuat karakter bangsa dan iman mulai dari kehidupan pernikahan .Kata kunci: tari Lawung Ageng, simbol, bentuk, fungsi, dan perubahan.The dance Lawung Ageng Kraton Yogyakarta is not only a performance but also as guidance. It is a good guidance for dancers and audiences. It can be seen from the heroic movements and the change of choreography that tells about human life and its problems. In the past, the dance Lawung Ageng represents amedia of character building for the major knight through the disciplined spiritual and physical exercises that the dancers should have. The article tries to explore and introduce noble values accumulated in aestheticvalues and the aesthetics of palace dance. The research finding shows that the mindset, the social, politic, and economic situation, and the cultural change influence the dance creativities and function. But, the guidance to Javanese life still become a priority in the change of dance values and function, the change of palace ritual dance to thefertility of ritual wedding for the Sultan’s son supposed to be a unique and artistic work. The discussion of dancers, the cultural analysis of meaning, the continuity and the change ofthe palaceperformance of aesthetic dance represent a symbolized representation that must be understood and preserved to reinforce the nation characteristic and confidence starting from the wedding life.Keywords: dance Lawung Ageng, symbol, form, function, change.
KELAHIRAN SEMAR; REPRESENTASI NALAR JAWA (SEBUAH ANALISIS STRUKTURALISME LEVI STRAUSS) Catur Nugroho; Heddy Shri Ahimsa-Putra
Gelar : Jurnal Seni Budaya Vol 14, No 2 (2016)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (913.096 KB) | DOI: 10.33153/glr.v14i2.2079

Abstract

Penelitian ini berusaha untuk mengungkap model struktur pada lakon Laire Semar yang secara khusus bermuarapada pencapaian makna kelahiran Semar. Penelitian ini menggunakan perspektif strukturalisme Levi-Straussyang berkembang dalam disiplin ilmu antropologi budaya untuk memahami model struktur berpikir orang Jawayang terdapat dalam lakon Laire Semar. Berpijak pada rangkaian peristiwa serta relasi yang muncul dapatditarik beberapa simpulan penting ke arah pemaknaan Semar. Pertama, lakon Laire Semar menampilkanadanya pertentangan antara sinkretisme Jawa-Hindu dan Jawa- Islam. Pertentangan inilah yang kemudianmenempatkan nalar Jawa pada posisi “antara” (liminal), yaitu adanya konsep sak madya yang mengarahpada pencapaian keselarasan. Kedua, lakon Laire Semar menunjukkan adanya sistem klasifikasi simbolikdalam budaya Jawa. Klasifikasi berunsur dua dapat dicermati pada adanya klasifikasi kosmologi mengenaioposisi sukma dan wadag. Klasifikasi ganda-tiga dapat dipahami pada rangkaian peristiwa kelahiran Tejamaya,Ismaya, dan Manikmaya. Adapun klasifikasi berunsur lima yang merujuk pada konsep keblat papat limapancer terimplikasi pada keberadaan Ismaya yang mampu “mengendalikan” empat unsur yang mengelilinginya,yaitu Sang Hyang Wenang, Sang Hyang Tunggal, Tejamaya, dan Manikmaya. Ketiga, kelahiran Semarmerupakan jawaban atas sumpah Sang Hyang Tunggal, yaitu berwujud sukma dan raga serta pada tataranyang lebih dalam perannya sebagai pamong sejati membawa pada kewenangannya atas tri loka. Keempat,kelahiran Semar adalah representasi idealisme nalar Jawa sak madya atau yang tidak berlebihan. Konsekuensilogis dari idealisme ini ialah terciptanya keselarasan dan keharmonisan. Semua ini terimplikasi pada kapasitasIsmaya atau Semar. Oleh karena itu, Semar adalah representasi nalar Jawa.Kata kunci: lakon Laire Semar, Strukturalisme Levi-Strauss, makna, kebudayaan Jawa.
FILM FIKSI PENDEK “LELANA” Arie Surastio; Rahayu Supanggah
Gelar : Jurnal Seni Budaya Vol 14, No 2 (2016)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (634.197 KB) | DOI: 10.33153/glr.v14i2.2084

Abstract

Memandang tanpa dualitas merupakan kesadaran yang penting bagi suatu pikiran ketika ingin membebaskan diri dari permasalahan relatif, pandangan tanpa kemelekatan (detachment) dari tradisi filsafat timur ,JalanTengah berfungsi utamanya untuk menyadari adanya ilusi. Film fiksi pendek Lelana mengungkapkan dan menghadapkan penonton pada dualitas-dualitas dari konstruksi pikiran subjek- objek, penonton dengandemikiandiharapkan memiliki pengalaman atau kesempatan untuk berada di antara permasalahan relatif, sebuah tahap penting dan menentukan karena adanya godaan yang dapat membuat seseorang melekat secara emosionaldan intelektual pada sesuatu. Tema tersebut kemudian dijangkarkan pada soal pertanian yang sekaligus telah menjadi latar budaya. Bangsa agraris yang sudah berabad-abad berkultivasi secara strategis ini seolah hanyapuas memiliki pandangan superior; bahwa petani pada basisnya membutuhkan bantuan karena terlihat pasif, kurang modal dan gagap teknologi. Inisiatif negara berupa pemberian pendampingan petani melalui pelibatanmiliter (babinsa) sebagai penyuluh, merupakan salah satu hal yang rentan memposisikan petani selamanya menjadi objek pembangunan, lalu sebaliknya bahwa aparat sebagai penyuluh adalah subjek yang sah danberhak mengatur tanpa perlu sedikit pun mempersoalkan faktor-faktor penghambat eksternal. Dengan menggunakan pendekatan realisme-fantasi dan struktur naratif alternatif, film pendek Lelana mengajukanperenungan yang tidak hanya membahas kontradiksi atau absurditas yang diproduksi oleh politik, melainkan juga disiplin dan pengembangan diri sebagai persoalan mendasar yang signifikan membentuk karakter. Dapat diibaratkan bahwa disiplin dan pengembangan diri merupakan pencarian pengetahuan dan wawasan sebagai hal yang paling hakiki, suatu pengelanaan yang dalam pengertian ini bukan beroperasi secara geografis melainkan terutamanya pemikiran dan perasaan.Kata kunci: Film, Jalan Tengah, Pertanian, Fiksi, Alternatif.Viewing without duality represents an important awareness in self releasing from relative problems, viewing without detachment from East philosophy”middle way” with the main function to realize illusion. The short fiction film Lelanareveals and brings the audience to the dualities of subject-object constructions so that they, supposedly, have experience or chance to face the relative problems. It is an important moment and determining for there is a temptation that can make someone emotionally and intellectuallyattached to something. The theme, then, is based onagricultural problems as the cultural background. This agrarian nation that has cultivated for centuries is as if satisfied of having superior view; that the farmer, basically, needs a help for they seem to be passive, lack of modal and technological ability. The government idea of giving guidance to the farmer through military involment (babinsa) as the instructor becomes one thing that is positioning the farmerto be object of development. On the contrary, the military as the instructor becomes the legitimate subject and has the right to rule without dealing with the external troubles.By using realism-fantastic approach and narrativealternative structure, the short film Lelanaprovidescontemplation that does not only discuss about contradiction or absurdity produced by politics but also discipline and self-building as a basic problem significantly build the character. It can be told that discipline and self-building represent the knowledge and insight learning as an essential case. It is not only a geographic journey but also dealing with ideas and feeling.Keywords: film, jalan tengah, agriculture, fiction, alternative.
MISE EN SCENE PROGRAM JAGONGAN SAR GEDHE DAN PEMAKNAANNYA Citra Ratna Amelia; D., Dharsono
Gelar : Jurnal Seni Budaya Vol 14, No 2 (2016)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1073.193 KB) | DOI: 10.33153/glr.v14i2.2074

Abstract

Artikel ini merupakan hasil dari penelitian yang ingin mengungkapkan makna yang terkandung dalam mise en scene program Jagongan Sar Gedhe. Permasalahan yang dikaji dalam penelitian ini diantaranya adalahbagaimana latar belakang penciptaan program Jagongan Sar Gedhe?, bagaimana mise en scene program Jagongan Sar Gedhe? Bagaimana makna yang terkandung dalam mise en scene program Jagongan SarGedhe?.Penelitian ini menggunakan pendekatan semiotik Roland Barthes dengan melakukan pendekatan signifikansi dua tahap, yaitu tahap denotatif dan konotatif terhadap mise en scene program Jagongan Sar Gedhe. Hasil penelitian ini diantaranya: program Jagongan Sar Gedhe diciptakan sebagai sebuah wadahkomunikasi dan wadah pengkritisan bagi para pemangku kebijakan. Budaya lokal disisipkan dalam unsur mise en scene program Jagongan Sar Gedhe, di mana setting yang digunakan menggunakan ikon pasar Gede sebagai background, setting tempat duduk dibuat lesehan dengan menambahkan gerobak HIK dan alat musik gamelan sebagai backdropnya, kostum yang digunakan para pengisi acara antara lain kemeja batik, lurik, dan kebaya dengan tata rias yang natural. Makna dalam unsur mise en scene program Jagongan Sar Gedhe antara lain makna kebebasan berdemokrasi dan toleransi, makna keegaliteran, makna kesederhanaan dan keakraban, serta makna harmoni.Kata Kunci: Mise En Scene, Program Jagongan Sar Gedhe.The article constitutes a research finding trying to reveal the meaning contained in mise en scene of the program Jagongan sar Gedhe. The problem studied in the research includes how the background of creating the program Jagongan sar Gedhe is, how mise en scenein Jagongan Sar Gedhe is, and how the meaningcontained in mise en scene of program Jagongan Sar Gedhe is. This research applies semiotic approach of Roland Barthes by conducting two stages of significant approach including denotative and connotative stagestowards mise en scene in program Jagongan Sar Gedhe. The research finding shows that program Jagongan Sar Gedhe is created as a media of communication and criticizing the decision makers. Local culture is inserted in mise en scene of program Jagongan Sar Gedhe where the setting uses the icon of Pasar Gedhe as background. The seat setting is lesehan (sits at plaited mat or floor) added by a cart of HIK and gamelan instruments as backdrop. The costumes used by the event participants among other things are batik, lurik(cloth with small line motive), and kebaya (usually worn with a sarong) with natural make up. The meaning of elements in mise en scene program Jagongan Sar Gedhe covering the meaning of freedom of democracy and tolerance, the meaning of egalitarian, simplicity and intimacy, and also the meaning of harmony.Keywords: Mise En Scene, program Jagongan Sar Gedhe.
PEMAKNAAN SIMBOL PADA LAKON “PANGERAN DAN BUAYA PUTIH” TEATER BANGSAWAN Indah Zulhidayati
Gelar : Jurnal Seni Budaya Vol 14, No 2 (2016)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (690.188 KB) | DOI: 10.33153/glr.v14i2.2080

Abstract

Artikel ini dimaksudkan untuk mengungkap makna simbol pada pertunjukan yang berkaitan dengan kehidupanmasyarakatnya, serta fungsi pertunjukan Teater Bangsawan di Palembang. Mengungkap permasalahan tersebutmenggunakan metode kualitatif dan teori yang digunakan untuk memaknai simbol pada pertunjukan menggunakansemiotika Pierce dengan menggunakan tiga tingkatan yaitu interpretant, representament, object. Hasil darikajian dan penelitian adalah Pertunjukan Teater Bangsawan berfungsi sebagai pendidikan masyarakat, penebalrasa solidaritas, sebagai mas kawin, sebagai hiburan yang aman, sebagai sarana hiburan. Seni rakyat atauseni milik rakyat, pengungkap peristiwa kehidupan sehari-hari masyarakat. Ia tumbuh dan berkembang dalammasyarakat itu sendiri, sesuai dengan pola pikir dan adat masyarakat setempat. Nilai-nilai yang terkandungdalam pertunjukan ini adalah nilai budaya dalam hubungan manusia dengan Tuhan, nilai budaya dalam hubunganmanusia dengan masyarakat, nilai budaya dalam hubungan manusia dengan diri sendiri.Kata kunci: Teater Bangsawan, Semiotika, lakon, Pangeran dan Buaya Putih.ABSTRACTThis article is supposed to reveal the meaning of symbol in a performance related to the life of its society andthe function of Teater Bangsawan in Palembang. The qualitative method is used to reveal the problem andPierce’s semiotics using three levels including interpretant, representament, and object is applied to givemeaning to symbols in a performance. Finding of the research shows that Teater Bangsawan performancefunctions as the community education, to reinforce a sense of solidarity, as a dowry, as a safe entertainment,and as a media of entertainment. Folk arts or an art belongs to people reveals the daily lives of the community.It grows and expands in the community itself in accordance to their mindset and traditions. The valuescontained in the performance include cultural value in the relationship between human and God, cultural valuein the relationship between human and society, and cultural value in the relationship between human andhimself.Keyword: Teater Bangsawan, Semiotics, lakon, Pangeran dan Buaya Putih.
STRUKTUR DRAMATIK DAN ESTETIK FILM ANIMASI THE LITTLE KRISHNA Cahya Surya Harsakya; D., Dharsono
Gelar : Jurnal Seni Budaya Vol 14, No 2 (2016)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (799.422 KB) | DOI: 10.33153/glr.v14i2.2075

Abstract

Fokus permasalahan yang menjadi pokok pembahasan penelitian ini adalah struktur dramatik dan sisi estetik film dalam serial animasi The Little Krishna dengan kajian intepretasi analisis wacana estetik. Jenis penelitianini adalah kualitatif yang bersifat deskriptif. Penelitian ini berusaha untuk memahami plot (alur cerita) pada program acara anak yaitu film animasi pada objek penelitian yang terkait. Untuk mengkaji alur cerita dalamserial animasi The Little Krishna, digunakan pendekatan struktur dramatik dan estetik film. Data diperoleh melalui observasi pengamatan film, wawancara, dan studi pustaka. Proses analisis data dilaksanakan melalui beberapa tahap, yaitu: pengumpulan data, reduksi, analisis data dan kesimpulan. Kajian unsur dramaturgi antara lain: plot (alur cerita), struktur dramatik, tema, tokoh cerita (karakter dan motivasi), setting, bahasa (teks), genre dan warna. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan struktur dramatik dalam serial animasi The Little Krishna terdiri dari exposition (bagian awal), inciting-action (peristiwa awal), conflication (peningkatan eksposisi), crisis (perkembangan menuju klimaks), climax (peristiwa dramatik), resolution (bertemunyapermasalahan), conclusion (tahap akhir). Analisis estetika merupakan analisa yang terdiri dari, kesatuan (unity) yang berupa alur cerita (plot) merupakan suatu analisis cerita yang menimbulkan kesatuan setting lokasi,kerumitan (complexity) dialog antar tokoh yang menimbukan struktur alur cerita dramatik, dan terakhir kesungguhan (intensity) yang merupakan pergerakan tokoh. Dari keseluruhan teori tersebut ditemukan hasil analisis estetik film animasi The Little Krishna episode The Darling of Vrindavan.Kata kunci: film animasi The Little Krishna, struktur dramatik, dan analisis estetik Film.The research focuses on the analysis of dramatic structure and aesthetic side in the series of animation film The Little Krishna through the interpretative study of aesthetic discourse analysis. It is a qualitative descriptive research. The research tries to understand the plot of the children program, animation film, at the related object in the research. The research applies dramatic structure and film aesthetics approach to analyze the plot of animation series The Little Krishna. Data is collected through observation, interview, and library study.Process of data analysis goes through several steps covering: data collection, reduction, data analysis and conclusion. The study of dramaturgi elements includes plot, dramatic structure, theme, the story characters (characters and motivations), setting, language (text), genre and color. The research finding tells that the applied dramatic structure in animation series The Little Krishna consists of exposition, inciting-action, confliction, crisis, climax, resolution, and conclusion.Aesthetic analysis shows an analysis that consists of unity that represents the plot, a story analysis that creates a unity of location setting; complexity of the dialogues between the characters that leads to dramatic plot structure; and finally intensity that shows the character movements. Based on the above theories, this research produces an aesthetic analysis on animation film The Little Krishna episode The Darling of Vrindavan.Keywords: animation filmThe Little Krishna, dramatic structure, aesthetic analysis of film.
AKNA SIMBOLIS RAPA’I GELENG DI SANGGAR BUJANG JUARA DESA SEUNELOP KECAMATAN MANGGENG KABUPATEN ACEH BARAT DAYA PROVINSI ACEH Syera Fauzya Lestari; S., Slamet
Gelar : Jurnal Seni Budaya Vol 14, No 2 (2016)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (713.244 KB) | DOI: 10.33153/glr.v14i2.2081

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk memahami makna simbolik Tari Rapa'i Geleng yang terdapat di Sanggar Bujang Juara, Desa Seunelop, Kecamatan Manggeng, Kabupaten Aceh Barat Daya. Untuk menjawab permasalahanini, penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan etno-koreologi. Data lapangan dikumpulkan dengan teknik etno-koreologi dari Kurath. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa posisi Rapa'i Geleng diDesa Seunelop adalah sebagai kesenian yang digunakan sebagai bagian dari media untuk melakukan dakwah agama islam, dan juga sebagai aktivitas sosial bagi masyarakat setempat. Dari bentuk koreografi, tari Rapa'iGeleng merepresentasikan tarian religi yang ditunjukkan oleh adanya unsur-unsur yang bisa ditemukan di dalam koreografinya, dimana unsur-unsur tersebut mencerminkan ketentuan-ketentuan hidup menurut agamaIslam. Tari Rapa'i Geleng juga adalah salah satu aktivitas kesenian bagi komunitas lokal masyarakat di Desa Seunelop, Kecamatan Manggeng, Kabupaten Aceh Barat Daya. Makna simbolik tari Rapa'i Geleng adalahsebagai salah satu ekspresi keimanan terhadap agama Islam. Tari tradisional ini merupakan salah satu dari kesenian masyarakat Aceh yang memiliki hubungan signifikan dengan dakwah agama Islam, dan juga sebagaisebuah hiburan.Kata kunci: Rapa'i Geleng, koreografi, makna, relijus, tari.This research aims at understanding the symbolic meaning of dance Rapa’i Geleng in Sanggar Bujang Juara, Seunelop, Sub district Manggeng, District of Southwest Aceh. This writing uses qualitative method and ethnochoreology approach to answer the problems. The data is collected by ethno choreology technique by Kurath. The research finding shows that Rapa’i Geleng is placed as a part of media in spreading Islam and also as a social activity for people in the village. From the form of choreography, it can be seen that dance Rapa’i Geleng represents a religious dance indicated by the elements found in its choreography. The elements reflect the norms of life according to Islam. Dance Rapa’’i Geleng also represents an art activity of local society inSeunelop, Sub district Manggeng, District of Southwest Aceh. The symbolic meaning of dance Rapa’i Geleng is as an expression of religiosity towards Islam. The traditional dance represents one of arts belongs to Acehpeople which has significant relationship with the spreading of Islam and also as an entertainment.Keywords: Rapa’i Geleng, choreography, meaning, religious, dance.
LUDICITAS PADA FILM DOKUMENTER “DI BALIK FREKUENSI Dwi Putri Nugrahaning Widhi; Aton Rustandi Mulyana
Gelar : Jurnal Seni Budaya Vol 14, No 2 (2016)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (579.017 KB) | DOI: 10.33153/glr.v14i2.2076

Abstract

Tulisan ini mempertanyakan persoalan realitas ludic film dokumenter “Di Balik Frekuensi”. Film dokumenter dipercaya akan penghadirannya kebenarannya di hadapan publik, tetapi di balik penghadirannya tersebut sebenarnya terdapat realitas ludic yang disungguhkan oleh pembuat film. Film “Di Balik Frekuensi” terdapat rangkaian realitas yang diciptakan oleh pembuat film melalui dua unsur audio dan visual, di antaranya narasi, ilustrasi musik, sound effect, teks, iklan, slow motion dan fast motion, motion graphic, stock shot dan footage, kemiringan kamera, lensa fish eye, multiple frame, dan epilog. Ludic dalam film “Di Balik Frekuensi” dipaparkan dalam lima asas yaitu kebebasan, sementara, tertutup, ketertiban dan ketegangan. Pendekatan tafsir digunakan untuk mendukung teori ludic dan teori realitas, sehingga diperoleh makna penghadiran ludic yang disampaikan dalam film “Di Balik Frekuensi”. Rangkaian realitas yang dihadirkan tidak lepas dari ideologi pembuatnya. Terselip pesan-pesan khusus dengan rangkaian makna pesan yang disampaikan secara persuasifdan tendensius.Kata kunci: film dokumenter, realitas, ludicThis writing asks about the reality of ludic in documentary film “Di Balik Frekuensi”. Documentary film is believed to be true according to public but behind its presence there is actually a ludic reality presented by the film maker. There is a series of reality created by the film maker through audio and visual elements among other things are narration, music illustration, sound effect, text, advertising, slow motion and fast motion, motion graphic, stock shot and footage, camera tilt, fish eye lens, multiple frame, and epilog. Ludic in film “DiBalik Frekuensi”is presented in five principles covering freedom, temporary, closed, discipline, and tension. Interpretative approach is used along with the theories of ludic and reality so that the meaning of the presentedludic in film “Di Balik Frekuensi” can be found. The series of realities presented in the film are not out of the maker’s ideology. The film contains special messages with the meaning revealed persuasively and tendentiously.Keywords: documentary film, reality, ludic.
WAYANG GOLEK MENAK SENTOLO Trisno Santoso
Gelar : Jurnal Seni Budaya Vol 14, No 2 (2016)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1314.689 KB) | DOI: 10.33153/glr.v14i2.2082

Abstract

Asal usul dan perkembangan Wayang Golek Menak Sentolo tidak tercatat secara akurat seperti sejarah. Namun sebagian masyarakat di Kulon Progo khusunya di Sentolo selalu ingat dan merasakan kehadiran wayang golek pada masanya. Wayang Golek Menak Sentolo tampil sebagai seni budaya tradisional danmencapai puncak budaya daerah. Tahun 1960 sampai dengan tahun 1975 mengalami kejayaan, kini terpinggirkan hingga menjadi pertunjukan wayang langka.Kata kunci: Wayang Golek Menak, perkembangan.The origins and the development of Wayang Golek Menak Sentolo is not noted accurately in history. However, some people in Kulon Progo especially Sentolo always remember and can feel the existence of wayang golekin its period. Wayang Golek Menak Sentolo exists as an art of traditional culture and reaches the peak of local culture. It reaches the golden age in 1960 until 1975 and now, it is neglected that it becomes a rare wayangperformance.Keywords: Wayang Golek Menak, its development.

Page 1 of 1 | Total Record : 10