cover
Contact Name
Muhammad Nur Salim
Contact Email
denmassalim88@gmail.com
Phone
+6281392727084
Journal Mail Official
keteg@isi-ska.ac.id
Editorial Address
Jl. Ki Hajar Dewantara No.19, Jebres, Kec. Jebres, Kota Surakarta, Jawa Tengah 57126, Indonesia
Location
Kota surakarta,
Jawa tengah
INDONESIA
Keteg : Jurnal Pengetahuan, Pemikiran dan Kajian Tentang Bunyi
ISSN : 14122065     EISSN : 27146367     DOI : https://doi.org/10.33153/ktg
Core Subject : Art,
The journal is invited to the original article and has never been published in conjunction with another journal or conference. The publication of scientific articles is the result of research from both the external and internal academic communities of the Surakarta Indonesian Art Institute in the Karawitanologi discipline. The scope of distribution, Karawitan Education and Learning; Historical Study and Development of Karawitan; Study on Karawitan; Karawitan Organology Study; Karawitan Aesthetic Study; Karawitan Composition Study.
Articles 206 Documents
KARAWITAN TARI TOPENG SEKARTAJI TUNGGAL Rini Rahayu
Keteg: Jurnal Pengetahuan, Pemikiran dan Kajian Tentang Bunyi Vol 18, No 2 (2018)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (722.964 KB) | DOI: 10.33153/keteg.v18i2.2399

Abstract

AbstractTopeng Sekartaji Tunggal is dance which is inspired from the inner turmoil of the Dewi Sekartaji, a beloved daughter of protagonist Panji Asmarabangun commonly contained in narratives of Serat Panji. This research aims to know karawitan dance musical idea "Topeng Sekartaji Tunggal" corresponding to shape and work on choreography and describe the creative process when it embodies the idea of a musical idea into a tangible form gamelan musicians dance "Topeng Sekartaji Tunggal". This research uses the steps that consists of three stages, namely 1) Design the idea of Musicians: the Sekartaji mask dance with) the idea of the contents; b) work on the idea; and c) preparation of the implementation. 2) Topeng Sekartaji Tunggal dance Musicians composition process: a) Determine Material Repertoire; and b) process of the exercise. 3) Results of the work: a) results of Product; b) refinements to the Follow-up. The research results obtained are know karawitan idea design, process, and outcomes karawitan Topeng Sekartaji Tunggal dance. Keywords: design idea, kekaryaan, karawitan, Topeng Sekartaji Tunggal. AbstrakTopeng Sekartaji Tunggal merupakan tarian yang terinspirasi dari gejolak batin Dewi Sekartaji, seorang tokoh protagonis putri kekasih Panji Asmarabangun yang umum termuat dalam kisah-kisah “Serat Panji”. Penelitian ini bertujuan untuk Mengetahui ide gagasan musikal karawitan tari “Topeng Sekartaji Tunggal” yang sesuai dengan bentuk dan garap koreografi tariannya dan mendeskripsikan proses kreatif ketika mewujudkan ide gagasan musikal menjadi bentuk nyata gending karawitan tari “Topeng Sekartaji Tunggal”. Penelitian ini menggunakan langkah-langkah yang terdiri dari tiga tahap, yaitu 1) Rancang Gagasan Karawitan Tari Topeng Sekartaji Tunggal: a) Gagasan Isi; b) Gagasan Garap; dan c) Persiapan Penggarapan. 2) Proses Kekaryaan Karawitan Tari Topeng Sekartaji Tunggal: a) Menentukan Materi Gending; dan b) Proses Latihan. 3) Hasil Kekaryaan: a) Capaian Hasil Kekaryaan; b) Tindak Lanjut Penyempurnaan. Hasil penelitian yang diperoleh adalah mengetahui rancang gagasan karawitan, proses kekaryaan karawitan, dan hasil kekaryaan tari Topeng Sekartaji Tunggal. Kata kunci: rancang gagasan, kekaryaan, karawitan, Topeng Sekartaji Tunggal.
KEBERADAAN SALAHAN DALAM KARAWITAN GAYA SURAKARTA Kartika Ngesti Handono Warih; Hadi Boediono
Keteg: Jurnal Pengetahuan, Pemikiran dan Kajian Tentang Bunyi Vol 17, No 2 (2017)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (651.12 KB) | DOI: 10.33153/keteg.v17i2.2388

Abstract

Abstract“The Presence of Salahan in Surakarta Style Karawitan” is the result of a research study that not only discusses salahan in terms of the aspect of treatment or garap in karawitan but also analyzes aspects outside karawitan. The writer is interested in the use of the term salahan in karawitan because salahan is a phenomenon that is wrong or incorrect (salah) but is intentionally presented in a performance. Musicians from the past had a particular goal and reason for using the term salahan. There is still ambiguity about certain patterns as to whether or not they can be classed as salahan or should be identified using a different term. Based on this interest, the writer formulated two problems to be addressed: first, why is salahan present in the performance of Surakarta style karawitan, and second, what identifies a pattern as salahan or distinguishes it from banggen or other similar patterns. In order to obtain data to support this paper, a number of stages were followed: data collection, data validation, data reduction, and data analysis. The data was collected from several sources, including interviews, observation, a library study, and recording transcripts. This article investigates the object of the study, namely salahan, in more depth. It adopts Hussrel’s concept of phenomenology, in which a phenomenon should not only be viewed from outside but should also be explored in more depth to see what exists behind the outer layer.The meaning of salahan in a karawitan performance is a symbol of the imperfectness of human beings as they pass through their journey of life, a representation of the form of a balanced life, and a representation of the phenomenon of current development. In a karawitan performance itself, salahan functions as a sign or ater on the approach to the gong stroke, or the lowest point of a melody. It also marks the end of a repetition and merely enhances the aesthetics of a performance, emphasizing the sense of seleh, yet not influencing the course of performance of a gending. Keywords: meaning, ater, salahan.Abstrak“Keberadaan Salahan dalam Karawitan Gaya Surakarta” merupakan hasil penelitian yang tidak hanya membahas mengenai salahan dari aspek garap karawitan saja melainkan juga mengupas hal yang berada di luar karawitan. Penulis tertarik dengan keberadaan istilah salahan dalam karawitan, karena salahan adalah suatu fenomena yang salah tetapi secara sengaja dihadirkan dalam sajian. Para pengrawit terdahulu memiliki alasan dan tujuan khusus dalam memberikan istilah salahan. Selain itu juga masih terdapat kerancuan mengenai suatu pola apakah termasuk salahan atau terdapat istilah lain. Berdasarkan ketertarikan tersebut penulis merumuskan dua rumusan masalah yaitu pertama mengapa terdapat salahan dalam sajian karawitan gaya Surakarta, dan yang kedua apakah yang dapat dijadikan pembeda atau yang dapat mengidentifikasikan salahan dengan banggen atau pola-pola lain yang hampir menyerupai.Guna mendapat data yang dapat mendukung tulisan ini maka digunakan beberapa tahapan metode meliputi; tahap pengumpulan data, validasi data, reduksi data, dan analisis data. Data yang diperoleh berasal dari berbagai sumber diantaranya; wawancara, observasi, studi pustaka, dan transkip rekaman. Tulisan ini mengkaji obyek yaitu salahan secara lebih mendalam. Sejalan dengan pemahaman fenomenologi menurut Hussrel yaitu suatu fenomena tidak hanya dilihat dari kulit luarnya saja, akan tetapi yang lebih mendalam adalah melihat apa yang ada di balik yang tampak.Makna keberadaan salahan dalam sajian karawitan yaitu sebagai simbol ketidaksempurnaan manusia dalam menjalani proses kehidupan, sebagai gambaran wujud keseimbangan hidup, dan suatu gambaran fenomena perkembangan zaman. Dalam sajian karawitan sendiri salahan berfungsi sebagai penanda atau ater menjelang gong, atau titik melodi terrendah. Selain itu juga sebagai tanda batas pengulangan yang keberadaannya hanya sebatas menambah rasa estetik atau penekanan rasa seleh, dan sama sekali tidak mempengaruhi jalannya sajian gendhing. Kata Kunci: makna, ater, salahan.
TRANSFORMASI KONFRONTATIF KOMPOSISI GAMELAN BARU: Revitalisasi Penciptaan Inovatif dan Peran Vital Perguruan Tinggi Seni Setyawan Jayantoro
Keteg: Jurnal Pengetahuan, Pemikiran dan Kajian Tentang Bunyi Vol 18, No 1 (2018)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (307.81 KB) | DOI: 10.33153/keteg.v18i1.2394

Abstract

AbstrakInovasi sebebas-bebasnya tanpa batas adalah persoalan konfrontatif yang sesungguhnya tengah mengancam eksistensi musik tradisi dalam korelasinya dengan masalah jati diri beserta dinamika konservasinya di era tuntutan yang serba mutakhir. Sejatinya orientasi komposisi gamelan baru itu berbasis pada akar tradisinya yang utuh, sebagai wujud inovasi kreatif, puncak dari akumulasi keilmuan karya-karya tradisi sebelumnya, karena desakan dominasi tuntutan kepentingan materialistik, atau memang sebatas ajang pelarian atas sikap frustasinya sebab ketidakmampuan mengusai basis tradisi yang mumpuni – berbagai model kontradiksi semacam ini tentu menjadi persoalan urgensif untuk ditelaah serius. Saat ini kita dapat melihat substansi masalahnya pada wujud karya gamelan non tradisi. Dorongan kuat semangat “modernisasi” berbalut lebat ideologi materialisme memang telah mengkonstruksi kesadaran kuat bahwa gamelan seolah dapat disandingkan dengan instrumen musik apapun, dicampur-sarikan dengan sistem musik apapun, dikolaborasikan dengan hitungan frekuensi apapun, fleksibel ditransformasikan ke dalam bentuk komposisi apapun, dan bahkan bebas direkayasa liar tanpa perlu pertimbangan kognitif yang didasarkan pada pengetahuan yang holistik. Perguruan Tinggi Seni tentu memiliki peran vital dan inheren dengan masalah konfrontasi ini sehingga perlu merumuskan rekonsiliasi ideologis melalui dialektika kritis yang berkesinambungan. Transformasi inovatif gamelan dalam entitas apapun idealnya dapat berjalan konsisten di atas konservasi kemapanan yang dinamis. Tiap hembusan nafas kebaruan yang diciptakan adalah kreasi inovatif yang berbasis pada sintesis dengan progresi intelektualitas yang dinamis, atraktif, impresif, dan konstruktif sehingga memperkaya eksistensi seni tradisi di era mutakhir.Kata Kunci: Konfrontasi, Komposisi, Transformasi, GamelanAbstract Unlimited freedom in innovation is a confronting problem that is seriously threatening the existence of traditional music in with regards to the issue of identity and the dynamics of its conservation in an era that demands one keeps up to date. By right, the orientation of new gamelan compositions should be based on its intact traditional roots: as a form of creative innovation they are the culmination of knowledge found in previous traditional works. However, because of the dominating pressures of materialistic concerns, or indeed as an excuse for the inability to achieve mastery in traditional competencies, this type of contraindicative model is certainly an urgent matter for serious study. At present we can see the substance of the problem in the form of non-traditional gamelan works. The strong impulse of the spirit of “modernization” clad in the ideology of materialism has indeed constructed a strong awareness that the gamelan seems to be juxtaposed with any musical instrument, mixed with any music system, collaborated with any frequency count, flexibly transformed into any composition, and even wildly engineered without the need for cognitive consideration based on holistic knowledge. Higher Education in the Arts certainly has a vital and inherent role with this confronting problem, making it necessary to formulate ideological reconciliation through continuous critical dialectics. The innovative transformation of gamelan in any entity can ideally run consistently above dynamic establishment conservation. Every breath of novelty created is an innovative creation based on synthesis with dynamic, attractive, impressive and constructive intellectual progressions that enrich the existence of traditional art in the current era.Keywords: Confrontation, Composition, Transformation, Gamelan.
MAKNA GENDHING–GENDHING BAKU RASULAN DALAM RITUAL SRÈDÈKAN Nil Ikhwan
Keteg: Jurnal Pengetahuan, Pemikiran dan Kajian Tentang Bunyi Vol 17, No 1 (2017)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (358.499 KB) | DOI: 10.33153/keteg.v17i1.2384

Abstract

AbstractThis research focuses on the meaning of rasulan in the Srèdèkan ritual using a combined emic and etic approach. It also discusses the form and structure of rasulan in the Srèdèkan ritual and the standard gendhing performed. The standard gendhing in the Srèdèkan ritual can be divided into two categories, namely larangan and Srèdèkan. Gendhing larangan consist of five gendhing. Gendhing Srèdèkan also consist of five gendhing. The standard gendhing rasulan in the Srèdèkan ritual and the offerings made have an important meaning for the community. The meaning of gendhing larangan, amongst others, is to remind people of their goals, ideas and thoughts about life and their ancestors; to save the lives of people and their descendants in this world; to bring prosperity so that they are never short of food; and to enable them to live a long life, to enjoy time with their children, grandchildren, great-grandchildren, and even great-great-grandchildren, if God is willing. The meaning of gendhing Srèdèkan comes from dahnyang Srèdèk. Keywords: Meaning, Gendhing, Rasulan, Srèdèkan. AbstrakPenelitian ini difokuskan pada makna rasulan dalam ritual Srèdèkan dengan gabungan pendekatan, emik dan etik. Selain itu, dibahas mengenai bentuk maupun tatanan rasulan dalam ritual Srèdèkan serta gendhing – gendhing baku yang disajikan. Gendhing–gendhing baku ritual Srèdèkan terbagi menjadi dua bagian, larangan dan Srèdèkan. Gendhing–gendhing larangan terdiri dari lima gendhing. Gendhing–gendhing Srèdèkan terbagi menjadi lima ge;ndhing. Gendhing–gendhing baku rasulan dalam ritual Srèdèkan dan sesaji yang memberi makna untuk masyarakat. Makna gendhing larangan antara lain; mengingatkan manusia akan tujuan, gagasan fikiran hidup dan leluhur; menyelamatkan hidup manusia di dunia beserta anak cucunya, melancarkan rejeki masyarakat agar pedaringan yang dimiliki selalu penuh; dan agar usia manusi sampai keturunan anak, cucu, buyut bahkan canggah bila Tuhan menghendaki. Makna gendhing baku Srèdèkan ditimbulkan dari dahnyang Srèdèk. Kata Kunci: Makna, Gendhing, Rasulan, Srèdèkan
SINDHENAN GENDHING JOMPLANGAN GAYA SUJIYATI MENTIR DI SRAGEN Kusnila Hapsari; Suyoto Suyoto
Keteg: Jurnal Pengetahuan, Pemikiran dan Kajian Tentang Bunyi Vol 18, No 2 (2018)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (349.361 KB) | DOI: 10.33153/keteg.v18i2.2400

Abstract

Abstrak”Sindhènan Gendhing Jomplangan Gaya Sujiyati Mentir di Sragen” dilatarbelakangi oleh fenomena karawitan sragenan yang memiliki keunikan di wilayah Solo Raya. Keunikan tersebut berada pada sosok seseorang yang cukup fenomenal, yaitu Sujiyati. Sujiyati (Mentir) menjadi ikon karawitan sragenan dan identik dengan gendhing Jomplangan. Sujiyati adalah sosok pesindhèn yang karismatik dan memiliki ciri khas dengan gendhing Jomplangannya. Persoalannya adalah 1) mengapa sindhènan Jomplangan gaya Sujiyati Mentir menjadi populer?2) Bagaimana profil Sujiyati Mentir sebagai pesindhèn ?3) bagaimana garap gendhing Jomplangan gaya Sujiyati Mentir?Persoalan dimaksud diungkap dengan menggunakan tiga konsep, yaitu; konsep garap Rahayu Supanggah, konsep artistik karawitan Bambang Sunarto, dan konsep kreativitas I Made Bandem. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif, dengan menggunakan diskriptik analitik.Hasil penelitian ditemukan, bahwa sindhènan gendhing jomplangan gaya sujiyati populer masyarakat Sragen, pertama: dilatarbelakangi oleh fanatisme masyarakat meyakini hanya Sujiyati sosok yang dapat mewakili gendhing jomplangan, dengan kekhasannya dalam membawakan gending tersebut. Kedua, garap sindhènan Sujiyati sangat khas dan spesifik, terutama parikannya yang familier dan lucu. Tema parikan yang dibuatnya lebih menekankan pada wilayah kehidupan sehari-hari. Kepopuleran Sujiyati terletak pada warna suara dan gaya nyindhènnya yang khas.Ketiga, kisah kehidupan sehari-hari menjadi bahan atau diksi dalam membuat parikan. Ciri khas sindhen Sujiyati menjadi kompleks didukung oleh kendangan yang memiliki karakter sigrak dan eksotis. Nyaris seluruh hidup Sujiyati didedikasikan untuk dunia kesenian khususnyakarawitan. Sujiyati adalah seorang janda yang menggantungkan ekonominya lewat berkesenian, dengan kisah rumah tangganya yang cukup berliku-liku dalam memperjuangkan hidupnya.Kata Kunci: Sujiyati, Garap, Sindhènan, Gendhing Jomplangan.AbstractThis article explores Sujiyati Mentir’s style of Sindhenan of Gendhing Jomplangan, a unique phenomenon within Karawitan Sragen found in the Solo Raya area. It’s unique essence can be found in the phenomenal figure of Sujiyati (Mentir), who is an icon for the style and is closely associated with gendhing Jomplangan. Sujiyati is a charismatic pesindhen with a distinctive style when performing gendhing Jomplangan.This article explores the following issues:1. Why are Sujiyati Mentir’s sindhenan Jomplangan so popular?2. What is Sujiyati’s profile as a pesindhen?3. How does one garap gendhing Jomplangan in her style?These are examined through three concepts: Rahayu Supanggah’s concept of garap, Bambang Sunarto’s concept of karawitan aesthetics, and I Made Bandem’s concept of creativity. This is a qualitative studythat uses analytical descriptions. The findings suggest, firstly, that the popularity of Sujiyati’s garap are motivated by the near fanatical belief of audiences in Sragen that only she truly represents gending JomVolume18 Nomor 2 Bulan November 2018 109 plangan with her individual style. Secondly, her style is distinctive and specific to her, using parikan thatare familiar and humorous, with subjects that revolve around daily life. It is her vocal quality and style that contributes to her popularity. Thirdly, it is the events of daily life that form the content and diction of theparikan. Her sindhenan is complex, with a lively and exotic character. Almost all her life has been dedicated towards the arts, particularly karawitan. She is a widow with a tragic life story, whose livelihood depends on the arts.Keywords: Sujiyati, Garap, Sindhènan, Gendhing Jomplangan.
KONDISI KLENÈNGAN GAYA SURAKATA DI WILAYAH SOLO RAYA (2000-2017) Suyoto suyoto
Keteg: Jurnal Pengetahuan, Pemikiran dan Kajian Tentang Bunyi Vol 17, No 2 (2017)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (782.765 KB) | DOI: 10.33153/keteg.v17i2.2390

Abstract

AbstractThis research focuses on the condition of Surakarta style karawitan that is performed independently, also known as klenèngan, in the Greater Solo district. The research uses a musicological perspective and analyzes various aspects related to an ideal klenèngan performance. In accordance with the developments in the present era, the condition of klenèngan in the Greater Solo district has experienced a significant development in terms of its quantity. From the point of view of quality, aspects such as form, packaging of gending, and concept of patet are given insufficient attention in the performance of klenèngan in the Greater Solo district, and as a result, an ideal klenèngan performance has not been achieved. The results of this research show that in order to achieve an ideal klenèngan performance, there are a number of determining criteria, such as: (1) condition of the gamelan, (2) place and position of the gamelan, (3) sufficient number of musicians, (4) time, (5) continuity of performance, and (6) weather.  Keywords: gamelan, klenèngan, ideal. Abstrak Penelitian ini difokuskan pada kondisi karawitan gaya Surakarta yang bersifat mandiri yang disebut klenèngan, di wilayah Solo Raya. Penelitian ini  menggunakan perspektif musikologis, dengan menganalisis berbagai aspek berkaitan dengan penyajian klenèngan yang ideal. Sesuai dengan perkembangan zaman kondisi sajian klenèngan di wilayah Solo Raya dalam kehidupannya dari tahun ke tahun secara kuantitas telah mengalami perkembangan yang cukup signifikan.  Sajian klenèngan di wilayah Solo Raya,  pada umumnya secara kualitas terutama bentuk, kemasan gending, konsep patet kurang diperhatikan, sehingga  tidak  dicapai sajian klenèngan yang ideal.  Hasil penelitian ini ditemukan bahwa untuk mencapai sajian klenèngan yang ideal terdapat beberapa kreteria antara lain, (1) kondisi gamelan, (2) tempat dan posisi gamelan, (3) kelengkapan pengrawit, (4) waktu, (5) kelancaran sajian, dan (6) cuaca. Kata Kunci: gamelan, klenèngan, ideal
REAKTUALISASI GARAP MUSIK KESENIAN PENTHUL MELIKAN DI DUSUN MELIKAN DESA TEMPURAN KABUPATEN NGAWI Wahyu Paramita Jati; Suyoto Suyoto
Keteg: Jurnal Pengetahuan, Pemikiran dan Kajian Tentang Bunyi Vol 18, No 1 (2018)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (499.18 KB) | DOI: 10.33153/keteg.v18i1.2395

Abstract

Abstrak “ Reaktualisasi Garap Musik Kesenian Penthul Melikan Di Dusun Melikan Desa Tempuran Kabupaten Ngawi” pada dasarnya membahas garap musik kesenian Penthul Melikan Kabupaten Ngawi setelah mengalami perubahan yang kemudian disebut Reaktualisasi.Inti permasalahan yang diungkap dalam penelitian ini adalah (1) Bagaimana bentuk garap musik pada kesenian Penthul Melikan di Dusun Melikan, Desa Tempuran, Kecamatan Paron Kabupaten Ngawi (2) Faktor penyebab perubahan musik pada kesenian Penthul Melikan di Dusun Melikan, Desa Tempuran, Kecamatan Paron Kabupaten Ngawi. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif, metode yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif, meliputi observasi, pengumpulan data, dan analisis data.Penelitian ini menggunakan teori, konsep-konsep, dan pemikiran dari beberapa tokoh. Landasan konseptual Reaktualisasi menurut Geriya bahwa adanya proses transformasi dalam perubahan bentuk dan fungsi namun tetap dalam esensi spesiesnya. Teori kreativitas diungkapkan Munandar, bahwa manusia yang memiliki kreativitas sehingga mampu untuk menciptakan sesuatu dari tidak ada menjadi ada, dari yang sudah ada menjadi lebih baru lagi. Penelitian ini juga menggunakan teori perubahan yang ditawarkan Boskoff ketika mengupas tentang perubahan atau pembaharuan, yang pada dasarnya disebabkan oleh dua faktor, yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Teori garap Supanggah, bahwasanya Reaktualisasi musik pada kesenian Penthul Melikan terdapat beberapa unsur garap meliputi; (1) materi garap, (2) penggarap, (3) sarana garap, (4) perabot garap, (5) penentu garap, dan (6) pertimbangan garap.Dari hasil penelitian disimpulkan bahwa ada pengaruh positif terhadap kesenian Penthul Melikan setelah mengalami reaktualisasi, adanya perubahan garap dan bentuk baru pada kesenian Penthul Melikan yang kemudian dinamakan Ganongan Melikan, membuat kesenian Penthul Melikan dengan bentuk dan garap yang lama kembali dikenal masyarakat dan semakin berkembang.Kata kunci: Reaktualisasi, Garap, Kesenian Penthul Melikan.Abstract“A reactualisation of the musical style of Penthul Melikan in Dusun Melikan, Desa Tempuran, Ngawi Regency” is a discussion of the musical style found in the Penthul Melikan performance which has changed through a process Geriya terms “reactualisation”. This research explores the following issues: 1) What is the musical style of Penthul Melikan in Dusun Melikan, Desa Tempuran, located within the Paron sub-district of the Ngawi Regency, as well as 2) the factors that changed the music of this art form. This qualitative research uses qualitiative methods including observation, data collection and data analysis. This research employs the theories, concepts and ideas of several figures. Geriya’s Reactualisation involves, as its foundation, a transformation within the art form in formal and functional qualities while nonetheless retaining the essence of its species. Munandar’s theory of creativity explores the human ability to create something from nothing, and the new from the currently existing. Change and renewal are discussed through Boskoff’s theory of change which focuses on internal and external factors. Supanggah’s theory of garap, which discusses the musical materials and tools at the disposal of the musicians is also relevant to studying the reactualisation of Penthul Melikan.The findings suggest that reactualisation has had a positive effect on Penthul Melikan, which later became known as Ganongan Melikan. This has allowed the former style of Penthul Melikan to re-enter its community and develop further.Keywords: Reactualisation, Garap, Penthul Melikan
TEKNIK PELARASAN GAMELAN JAWA PADA INSTRUMEN GENDER DAN GONG Risnandar Risnandar
Keteg: Jurnal Pengetahuan, Pemikiran dan Kajian Tentang Bunyi Vol 17, No 1 (2017)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1695.201 KB) | DOI: 10.33153/keteg.v17i1.2385

Abstract

AbstractThis study about the tuning of the gender and gong in Javanese gamelan is an attempt to formulate a technique for Javanese gamelan tuning. There are a number of problems concerning gamelan tuning that in the past have always been a mystery. There has never been any systematic written documentation about the theory or method of gamelan tuning. Traditionally, the process of knowledge transfer takes place in the family environment of the gamelan tuner during the tuning process in the workshop (besalen). This makes it difficult for the next generation of tuners to imitate their seniors. Therefore, it is possible that someday the technique or knowledge of tuning will become distorted or even disappear along with the death of the old generation of gamelan tuners. The goal of this research is to formulate a technique and seek answers to various questions about the tuning of the gender and kempul from the perspective of the gamelan tuner. The focus of this study is to uncover problems related to the technique and process of tuning the gender and gong. Hence, the research uses a qualitative method, collecting and processing as much data as possible from gamelan tuners, gamelan owners, and artists. In this way, it is hoped to discover the various problems surrounding the tuning of the gender and gong in Javanese gamelan. Keywords: technique, tuning, gender, gong. AbstrakPenelitian tentang pelarasan gender dan gong gamelan Jawa ini merupakan usaha untuk merumuskan teknik pelarasan gamelan Jawa. Terdapat berbagai persoalan yang selama ini masih menjadi misteri dalam pelarasan gamelan. Belum terdapat teori ataupun cara kerja pelarasan gamelan yang tertulis secara sistematis. Proses transfer knowlage terjadi secara tradisional di lingkungan keluarga pelaras saat proses pengerjaan di besalen. Hal ini mengakibatkan generasi penerus sulit untuk menirukan generasi seniornya. Dengan demikian dimungkinkan suatu saat teknik ataupun ilmu pelarasan akan mengalami distorsi atau bahkan hilang seiring dengan meninggalnya umpu pelaras gamelan. Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan teknik dan juga mencari jawaban berbagai persoalan pelarasan gender dan kempul dilihat dari sudut pandang pelaku (pelaras gamelan). Fokus dari penelitian ini adalah mengungkap persoalan-persoalan terkait dengan teknik dan proses pelarasan gender dan gong. Bertolak dari sudut pandang ini maka penelitian akan menggunakan metode kualalitatif dengan mengumpulkan dan mengolah data sebanyaknya dari pelaras (pelaku), pemilik gamelan, dan seniman sebagai pemakai. Melalui cara ini diharapkan mampu mengungkap berbagai persoalan pelarasan gender dan gong gamelan Jawa. Kata Kunci: teknik, pelarasan, gender, gong.
KLASIFIKASI DAN PENERAPAN WANGSALAN DALAM PEMENTASAN WAYANG KULIT PURWA GAYA SURAKARTA Sri Suparsih
Keteg: Jurnal Pengetahuan, Pemikiran dan Kajian Tentang Bunyi Vol 18, No 2 (2018)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (541.321 KB) | DOI: 10.33153/keteg.v18i2.2401

Abstract

AbstractThis research began with the writer’s concern for sindhénan, and more specifically wangsalan. In connection with the performance of wayang kulit, wangsalan plays an important part in supporting a performance. This is because wangsalan contains texts (cakepan) which mention the names of characters or places (kingdoms, military headquarters, hermitages) and or the genealogy (silsilah) of characters in wayang stories. In the performance of wayang kulit, accuracy in the application of wangsalan is extremely important to create coherence between the text (cakepan) of the wangsalan and the wayang characters portrayed. In order to ensure the application of wangsalan is used appropriately (trep), a pesindhen must understand the text (cakepan) of the wangsalan she is singing. Therefore, a detailed and accurate analysis of the wangsalan text (cakepan) is needed to understand its content. This will also reduce the occurrence of distortion in meaning or misunderstanding of meaning which frequently occurs amongst pesindhen. In this research, the writer is also required to compile new wangsalan texts (cakepan) to meet the needs of wangsalan in the performance of wayang kulit. The wangsalan compiled by the writer mainly prioritize the characters of wayang stories. The writer classifies, analyzes, compiles, and describes the application of wangsalan to ensure that it is used appropriately. It is hoped that this can be utilized as new vocabulary for pesindhen in particular and for the world of karawitan in general. Academically, this research is beneficial as a reference for vocal studies.Keywords: sindhénan, wangsalan, trep, silsilah, pesindhen.  AbstrakKajian ini bermula dari kepedulian penulis terhadap sindhénan, khususnya wangsalan. Kaitannya dengan pementasan wayang kulit, wangsalan termasuk bagian penting dalam mendukung suatu sajian. Hal ini dikarenakan dalam wangsalan terdapat teks-teks (cakepan) yang menyebut nama tokoh atau tempat (kerajaan, kesatrian, pertapan) dan atau silsilah dalam pewayangan. Ketepatan penerapan wangsalan dalam pementasan wayang kulit menjadi sangat penting agar terjadi kecocokan antara teks (cakepan) wangsalan dengan tokoh wayang yang ditampilkan. Untuk menerapkan wangsalan, agar trep (sesuai) penggunaannya, pesindhén harus mengerti dan memahami teks (cakepan) wangsalan yang dilagukan. Oleh sebab itu, menguraikan teks (cakepan) wangsalan secara rinci dan benar perlu dilakukan agar bisa dimengerti isinya. Hal  ini juga akan mengurangi terjadinya distorsi arti atau kesalahan arti yang selama ini sering terjadi di kalangan pesindhén. Dalam kajian ini, penulis juga perlu menyusun teks (cakepan) wangsalan baru agar bisa melengkapi kebutuhan wangsalan dalam pementasan wayang kulit. Wangsalan yang penulis susun lebih mengutamakan pada tokoh-tokoh dalam pewayangan. Penulis mengklasifikasikan, mengurai, menyusun dan memberi gambaran tentang penerapan wangsalan sehinggga sesuai dengan kegunaan. Hal ini diharapakan dapat dimanfaatkan sebagai perbendaharaan bagi para pesindhén khususnya, dan dunia karawitan pada umumnya. Secara akademis kajian ini bermanfaat sebagai referensi pembelajaran pada mata kuliah tembang.Kata kunci: sindhénan, wangsalan, trep, silsilah, pesindhen.
GARAP MUSIKAL GENDING DALAM FILM SETAN JAWA Hannova Aji Finarno; S Santosa
Keteg: Jurnal Pengetahuan, Pemikiran dan Kajian Tentang Bunyi Vol 19, No 1 (2019)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (350.785 KB) | DOI: 10.33153/keteg.v19i1.2648

Abstract

Film Setan Jawa merupakan sebuah film bisu hitam putih yang dalam pemutaran filmnya diiringi oleh gamelan secara langung, Pertunjukan Film Setan Jawa mengangkat kisah mitologi Jawa yang diangkat dari kisah kisah nyata dari berbagai daerah. musik gamelan yang mengiringi film Setan Jawa komposer Rahayu Supanggah, dengan garap musik gamelanya yang menjiwai tiap adegan pada film Setan Jawa. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan musikologi.Penelitian ini tentang garap musikal gending, maka konsep yang dipakai adalah konsep-konsep musikologi karawitan Jawa. Konsep ini selain mengkaji tentang garap gending juga membahas konsep pathet, irama, bentuk dan struktur gending. Hasil penelitian ini ditemukan bahwa pada pementasan film Setan Jawa, gending-gending yang digunakan dalam mengiringi setiap adegan memiliki sajian garap yang berbeda dari penyajian adegan satu dengan yang lainnya. Setiap penyajian yang berbeda-beda tersebut mengalami perbedaan serta perubahan dalam sajian tafsir garapnya. Pemilihan gending dalam garap musikal film Setan Jawa, Supanggahmenggunakan gending-gending lama. Hal ini selain digunakan untuk menghidupkan suasana film, pemilihan gending juga disesuaikan dengan konteks dalam adegan cerita.Kata kunci: Setan Jawa, Karawitan, Garap.AbstractThe “Setan Jawa” movie is a silent black and white move that in its screenings is accompanied by a direct gamelan orchestra. “Setan Jawa” movie raised a Javanese mythological story based on true stories from various regions. The gamelan music that accompanies the movie composed by Rahayu Supanggah, with the gamelan music that animates each scene in the movie. The approach that is used is the musicology approach. This research is about working on the movie’s musical tunes (gending), the concepts used are Javanese musical concepts. Apart from studying the concept of gending, this concept also discusses the concept of pathet, rhythm, the shape and structure of gending. The results of this research found that in the staging of “Setan Jawa” movie, the music used to accompany each of the scene has a different presentation from the presentation of one scene to another. Each of these different presentations experiences differences as well as changes in the interpretation of the gending. Supanggah selected old gending for the musical work of the “Setan Jawa” movie. Apart from it, the selection of gending used to liven up the atmosphere of the film as well as adjusting it to the context in the story scene.Keywords: Setan Jawa, Karawitan, Garap.

Page 8 of 21 | Total Record : 206