cover
Contact Name
Muhammad Nur Salim
Contact Email
denmassalim88@gmail.com
Phone
+6281392727084
Journal Mail Official
keteg@isi-ska.ac.id
Editorial Address
Jl. Ki Hajar Dewantara No.19, Jebres, Kec. Jebres, Kota Surakarta, Jawa Tengah 57126, Indonesia
Location
Kota surakarta,
Jawa tengah
INDONESIA
Keteg : Jurnal Pengetahuan, Pemikiran dan Kajian Tentang Bunyi
ISSN : 14122065     EISSN : 27146367     DOI : https://doi.org/10.33153/ktg
Core Subject : Art,
The journal is invited to the original article and has never been published in conjunction with another journal or conference. The publication of scientific articles is the result of research from both the external and internal academic communities of the Surakarta Indonesian Art Institute in the Karawitanologi discipline. The scope of distribution, Karawitan Education and Learning; Historical Study and Development of Karawitan; Study on Karawitan; Karawitan Organology Study; Karawitan Aesthetic Study; Karawitan Composition Study.
Articles 206 Documents
PERKEMBANGAN GARAP KARAWITAN JARANAN KELOMPOK SENI GUYUBING BUDAYA DI KOTA BLITAR (1980-2017) Dhimaz Anggoro Putro; Muhammad Nur Salim
Keteg: Jurnal Pengetahuan, Pemikiran dan Kajian Tentang Bunyi Vol 18, No 1 (2018)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (410.955 KB) | DOI: 10.33153/keteg.v18i1.2396

Abstract

AbstrakPenelitian ini dilatarbelakangi oleh ketertarikan terhadap perkembangan garap karawitan Jaranan yang terjadi pada kelompok seni Guyubing Budaya di Kota Blitar. Kelompok tersebut berusaha mengembangkan garap karawitan Jaranan dengan tujuan mendapatkan kepopuleran dan mengoptimalkan sajian pertunjukan kesenian Jaranan sebagai upaya menjaga kualitas di kalangan masyarakat dengan tetap mempertimbangkan kearifan lokal warisan leluhur kesenian Jaranan yang telah diwariskan secara turun-temurun. Permalahan yang ingin dijawab pada penelitian ini adalah, (1) bagaimana kronologi perkembangan garap karawitan Jaranan kelompok seni Guyubing Budaya dari tahun 1920 sampai 2017, (2) mengapa garap karawitan Jaranan kelompok seni Guyubing Budaya saat ini mengalami perkembangan.Konsep garap Rahayu Supanggah digunakan untuk mengupas permasalahan terkait garap. Dengan dasar konsep tersebut, garap karawitan Jaranan dapat dibagi berdasarkan unsur-unsur garap di dalamnya yang meliputi (1) materi garap, (2) penggarap, (3) sarana garap, (4) perabot atau piranti garap, (5) penentu garap, dan (6) pertimbangan garap. Sedyawati menjelaskan istilah mengembangkan lebih mempunyai konotasi kuantitatif dan kualitatif yang berarti memperbanyak tersedianya kemungkinan untuk mengolah dan memperbarui. Teori tersebut adalah landasan untuk mengupas permasalahan terkait perkembangan. Penelitian ini juga menggunakan dasar analisis evolusi multilinear Julian Steward. Menurut Steward Terdapat tiga tahapan analitik penting untuk membaca kasus perkembangan kebudayaan dengan teori ini. Tiga tahapan tersebut adalah melakukan perbandingan, menelusuri hubungan causal, dan melihat secara mendalam elemen manusia dalam lingkungan berdasarkan kronologinya.Perkembangan garap karawitan Jaranan kelompok seni Guyubing Budaya terjadi secara kronologis, melalui beberapa tahapan masa atau waktu. Perkembangan ini terjadi karena adanya faktor-faktor pendukung dari dalam (internal) dan dari luar (eksternal) kelompok seni Guyubing Budaya. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perkembangan garap karawitan Jaranan kelompok seni Guyubing Budaya terdapat benang merah dengan garap karawitan Jaranan terdahulu. Perkembangan garap tersebut juga ditunjukkan dengan penambahan materi garap, penggarap, prabot atau piranti, penentu dan sarana garapnya.Kata kunci: Garap, Perkembangan, Kronologi, Faktor Pendukung, Karawitan JarananAbstract This research is motivated by an interest in the stylistic developments of the music that accompanies Jaranan, as played by the group Guyubing Budaya in Blitar. This group has been actively developing the style of Jaranan musical accompaniment in order to maintain the quality of performances in the community while also considering the local wisdom [kearifan lokal] passed down through the generations that informs this art form.The issues explored in this research involve 1) a chronological study of Guyubing Budaya from its founding in 1920 until 2018, and 2) the changes that Guyubing Budaya is currently experiencing. This article invokes Supanggah’s theory of garap, which discusses the musical materials and tools at the disposal of the musicians is used to explore issues of musical garap It also utilizes Sedyawati’s exegesis of the term “development” which has quantitative and qualitative connotations that increase the chances for development and renewal. The research also uses Julian Stewards idea of multilinear evolution as the basis of analysis. According to Steward, there are three important analytical stages in understanding the development of culture. These stages involve making comparisons, tracing casual relationships, and taking a chronological view in order to make deep explorations of human elements within their environment.This article gives a chronological account of Guyubing Budaya through its various stages and eras, noting the internal and external factors that motivated the changes. The study shows the continuity between the musical style developed by Guyubing Budaya and the styles of Jaranan accompaniment in the past, indicated by the factors which Supanggah has outlined in his theory of garap.Keywords: Garap, Development, Chronological factors supporting development, Jaranan
EKSISTENSI KELOMPOK KARAWITAN CAKRA BASKARA DI KABUPATEN KARANGANYAR Mega Ayu Suryowati; I Nyoman Sukerna
Keteg: Jurnal Pengetahuan, Pemikiran dan Kajian Tentang Bunyi Vol 17, No 2 (2017)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (383.795 KB) | DOI: 10.33153/keteg.v17i2.2386

Abstract

AbstractThe background to this research is the existence of a karawitan group that began in 2008 when its members were young children and has continued up to the time when they are already young men and women. The involvement of young people, the way in which performances are packaged, and the role of the community have all influenced the development of the Cakra Baskara karawitan group’s existence. The role of this group in the community and its ability to connect with the community are amongst the reasons for its continued existence. Various efforts have been made to preserve the existence of the Cakra Baskara karawitan group. Based on this background, the problems addressed in this research are the form of activities of the Cakra Baskara karawitan group and the factors that have caused the group to exist in its present form. A qualitative research method is used with an analytical descriptive approach. The writer uses Marx’s ideas about sociology, Sedyawati’s ideas of development. Using this method of approach, a picture was obtained about the existence of the Cakra Baskara karawitan group in the Karanganyar Regency and the factors that have caused the continued existence of this group.The involvement of young people in the Cakra Baskara karawitan group and the efforts (series of activities) that have been made to ensure the continued existence of the group include developments to the way in which performances are packaged in the supporting community. These activities include planning, organization, implementation, and management. The efforts to preserve the existence of the Cakra Baskara karawitan group through these activities are based on the motivation of members and stimulation from outside. The members’ motivation includes their desire to express their enjoyment of karawitan, to get together with people with a similar interest in the arts, and to increase their income. External stimulation which influences the continued existence of the Cakra Baskara karawitan group includes the support of the community and the community’s need for the presence of the Cakra Baskara karawitan group. Keywords: Existence, Cakra Baskara, Activities, Young People. AbstrakPenelitian ini dilatarbelakangi oleh keberadaan kelompok karawitan sejak tahun 2008 yang anggotanya masih anak-anak hingga tumbuh menjadi pemuda. Keterlibatan pemuda, kemasan pertunjukan yang disajikan dan peran masyarakat menyebabkan perkembangan terhadap eksitensi kelompok karawitan Cakra Baskara. Peran kelompok karawitan tersebut dalam masyarakat dan menyatu dengan masyarakat menjadikan kelompok tersebut tetap hidup. Upaya-upaya dilakukan untuk tetap mempertahankan eksistensi kelompok karawitan Cakra Baskara. Berdasarkan latar belakang tersebut, permasalahan yang diungkap adalah mengenai bentuk aktivitas kelompok karawitan Cakra Baskara serta faktor yang menyebabkan kelompok karawitan Cakra Baskara dapat menjadi bentuk seperti sekarang.Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan menggunakan metode deskriptik analitik. Penulis menggunakan pemikiran Marx mengenai sosiologi, Sedyawati mengenai perkembangan. Melalui pendekatan tersebut, didapatkan gambaran mengenai eksistensi kelompok karawitan Cakra Baskara di Kabupaten Karanganyar dan faktor yang menyebabkan kelompok tersebut tetap eksis.Keterlibatan pemuda di dalam kelompok karawitan Cakra Baskara dan upaya-upaya (serangkaian aktivitas) dilakukan untuk menjaga keeksisan kelompok karawitan tersebut melalui perkembangan kemasan pementasan di masyarakat pendukungnya. Aktivitas tersebut meliputi kegiatan perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan dan pengendalian. Upaya-upaya yang dilakukan untuk mempertahankan eksistensi kelompok karawitan Cakra Baskara melalui aktivitas yang didasari oleh motivasi anggota dan stimulasi dari luar. Motivasi anggota tersebut berupa keinginan untuk mengungkapkan rasa senang terhadap karawitan, berkumpul dengan orang-orang yang mempunyai minat sama dalam bidang seni, dan menambah penghasilan (keuangan). Stimulasi yang berpengaruh terhadap eksistensi karawitan Cakra Baskara tetap berupa dukungan masyarakat dan kebutuhan masyarakat akan kehidaran kelompok karawitan Cakra Baskara. Kata Kunci: Eksistensi, Cakra Baskara, Aktivitas, Pemuda
KEBERTAHANAN NOTASI KEPATIHAN SEBAGAI SISTEM NOTASI KARAWITAN JAWA Rusdiyantoro Rusdiyantoro
Keteg: Jurnal Pengetahuan, Pemikiran dan Kajian Tentang Bunyi Vol 18, No 2 (2018)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (537.6 KB) | DOI: 10.33153/keteg.v18i2.2402

Abstract

AbstrakNotasi Karawitan Jawa merupakan sebuah metode pencatatan permainan musik gamelan. Ia dilahirkan setelah terjadi proses interaksi budaya yang cukup intensif antara orang-orang yang berlatar budaya Jawa dengan budaya Barat. Sebelumnya masyarakat karawitan Jawa tidak mengenal notasi. Sistem pewarisan permainan musiknya dilakukan dengan cara tradisi lisan. Notasi Karawitan pertama kali diperkenalkan di pusat-pusat kebudayaan Jawa, yaitu di ibu kota kerajaan Surakarta dan Yogyakarta, pada akhir abad ke-19. Tidak kurang dari delapan macam sistem notasi diperkenalkan dan dikembangkan untuk mendokumentasi-kan gending Jawa agar tidak hilang. Pada perkembangan selanjutnya notasi karawitan digunakan sebagai alat untuk belajar menabuhgamelan. Dari ke delapan sistem notasi tersebut, hanya notasi Kepatihan yang dapat bertahan hingga sekarang. Notasi Kepatihan dapat bertahan dalam waktu yang lama, karena sistemnya relatif sederhana dan terbuka untuk dikembangkan. Pemanfaat-an notasi angka tidak hanya untuk dokumentasi dan pembelajaran gamelan, tetapi juga untuk pengkajian ilmu karawitan. Dampak dari penggunaan notasi Kepatihan secara terus menerus dan sangat dominan, menjadikan penyajian karawitan menjadiseragam. Sebuah kondisi yang bertentangan dengan sifat karawitan Jawa itu sendiri, dimana keterbukaan terhadap berbagai gaya permainan dan penghargaan terhadap keberagaman lebih diutamakan.Untuk mengurangi dampak negatif, pemanfaatan notasi Kepatihan dalam proses belajar Karawitan harus ditempatkan kembali sebagai alat bantu ingatan para pemusiknya. Pengembangan sistem notasi Kepatihan lebih diarahkan untuk keperluan dokumentasi terhadap perbendaharaangarap dan teknik karawitan yang mulai hilang dari ingatan para pemusik gamelan. Kata kunci: karawitan, notasi, pencatatan, dan gending.AbstractJavanese gamelan notation is one method for recording the playing of Javanese gamelan. It arose from the intensive cultural interaction between those from Javanese and Western backgrounds. Before this, theJavanese karawitan community did not know of notation, transmitting the music orally. Notation was first introduced towards the end of the 19th century in the centres of Javanese culture: the court cities of Surakarta and Yogyakarta. No fewer than eight systems of notation were introduced and developed to document Javanese gendhing to prevent them from being lost. A subsequent development was the use of notation as a tool for teaching how gamelan should be played. From these eight systems, only the Kepatihan notation has survived to this day.Kepatihan has been able to survive for so long because it is relatively simple and easily modified. The use of cipher notation has not been restricted to documentation and pedagogy, but also to develop theoriesof gamelan music (ilmu karawitan). The impact of Kepatihan’s widespread and continual use has been the standardisation of gamelan performances, a condition at odds with the character of Javanese karawitan which prioritises an openness to different styles of playing and respects diversity. To reduce this negative impact, theuse of Kepatihan notation in teaching should return to being a mnemonic tool for musicians, and developed as a tool for documentation of garap and techniques that are beginning to be forgotten.Keywords: karawitan, notation, recording, and recording.
THE PROCESS OF WAKIJA WARSAPANGRAWIT MUSICIANSHIP (A Tracer To Provide A Model For Young Musicians) Slamet Riyadi
Keteg: Jurnal Pengetahuan, Pemikiran dan Kajian Tentang Bunyi Vol 18, No 1 (2018)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (302.918 KB) | DOI: 10.33153/keteg.v18i1.2392

Abstract

Abstrak Artikel ini merupakan pelacakan proses kesenimanan Wakija Warsapangrawit. Untuk mengekspos musiknya yang luar biasa, ia menggunakan pendekatan sosial, psikologis dan historis. Pelacakan dimulai dari bidang sosial, yaitu latar belakang keluarga, lingkungan, dan kegiatan karawitan, sebagai bagian dari kehidupan sosial, unsur-unsur ini memiliki peran penting dalam membangun kepribadiannya, termasuk di dalamnya keahlian bermusiknya. Pendekatan psikologis memberi dukungan sehubungan dengan motivasi dirinya untuk mewujudkan cita-citanya menjadi pemain kendang. Pendekatan historis digunakan untuk memberikan gambaran singkat tentang aktivitas karawitan selama masa kanak-kanaknya yang dianggap memiliki hubungan dengan peningkatan kemampuan musiknya.Kata kunci: musisi, sosial, motivasi, aktivitas karawitanAbstract This article traces the process through which Wakija Warsapangrawit developed as a musician, using social, psychological and historical approaches to reveal his excellent musicianship. The article begins with the social factors – family background, surrounding environment, and karawitan activities – that constituted his social life and played an important role in forming his personality and musicianship. Next, a psychological approach supports the connection between his self-motivation and ambitions to become a kendhang player. Lastly, a historical approach is used to give a brief description of the karawitan activities during his childhood where he is thought to have honed his musical skills.Keywords: musicianship, social, motivation, karawitan activities.
GARAP ROG-ROG ASEM DALAM GENDING GAYA SURAKARTA Sugimin Sugimin; Eko Nopi Astuti
Keteg: Jurnal Pengetahuan, Pemikiran dan Kajian Tentang Bunyi Vol 17, No 1 (2017)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (568.371 KB) | DOI: 10.33153/keteg.v17i1.2382

Abstract

AbstractGarap Rog-rog Asem is a kind of garap (treatment or interpretation) which accentuates the treatment of dynamics, in terms of irama, tempo, and volume, and with the use of andhegan. The performance of garap Rog-rog Asem is formed by a number of different elements, such as the form of gendhing, garap ricikan (treatment of the different instruments), treatment of dynamics, and treatment of the vocal melody. In general, garap Rog-rog Asem is performed in gending sekar in the form of ketawang, in which the main melody contains balungan plesedan and or balungan nggantung, such as Ketawang Sinom, Ketawang Kinanthi Sandhung, and Ketawang Gambuh. The most prominent treatment of the instruments in garap Rog-rog Asem is the treatment of the kendhang, balungan, and structural instruments. The function of the kendhang is to give signs (ater) using specific patterns and kendhangan pematut. The play on dynamics by the balungan instruments in garap Rog-rog Asem is to use balungan plesedan and or balungan nggantung which is developed to become balungan ngracik performed in a fast tempo and with a loud volume. The function of the structural instruments in garap Rog-rog Asem is to play like in the form of srepeg. These different elements combine to form a musical interaction and create a unity of garap known as garap Rog-rog Asem. A number of factors that highlight garap Rog-rog Asem include the interpretation of garap, differences in function, and the creativity of the artists. In addition to its use in klenengan, garap Rog-rog Asem is also often used in karawitan tari (dance accompaniment), karawitan pakeliran (accompaniment for shadow puppet theatre), and karawitan kethoprak (accompaniment for traditional stage dramas). It is believed that garap Rog-rog Asem was originally used for the accompaniment of dance.  Keywords: Rog-rog Asem, dynamic play, and gending sekar. AbstrakGarap Rog-rog Asem adalah garap yang menonjolkan garap dinamik, baik irama, tempo sajian, maupun volume tabuhan dengan menggunakan andhegan. Sajian garap Rog-rog Asem dibentuk oleh beberapa unsur yaitu bentuk gendhing, garap ricikan, garap dinamik, dan garap vokal. Garap Rog-rog Asem pada umumnya   disajikan pada gending sekar bentuk ketawang yang pada bagian lagu pokoknya terdapat balungan plesedan dan atau balungan nggantung, seperti Ketawang Sinom, Ketawang Kinanthi Sandhung, dan Ketawang Gambuh. Sementara garap ricikan yang menonjol dalam garap Rog-rog Asem adalah ricikan kendhang, ricikan balungan, dan ricikan struktural.  Ricikan kendhang berfungsi untuk memberi tanda atau ater dengan pola-pola tertentu dengan  menggunakan pola kendhangan pematut. Permainan dinamik yang dilakukan oleh ricikan balungan dalam garap Rog-rog Asem adalah menggarap balungan plesedan dan atau balungan nggantung yang dikembangkan menjadi balungan ngracik yang disajikan dengan tempo cepat serta volume yang keras. Sementara fungsi ricikan struktural dalam garap Rog-rog Asem adalah menyajikan garapan seperti bentuk srepeg. Berbagai unsur tersebut bekerja secara bersamaan sehingga membentuk suatu interaksi musikal dan menjadi kesatuan garap yang disebut dengan garap Rog-rog Asem. Beberapa faktor yang  memunculkan garap Rog-rog Asem, di antaranya adalah tafsir garap, perbedaan fungsi, dan kreativitas seniman. Selain disajikan dalam acara klenengan, garap Rog-rog Asem juga sering digunakan sebagai karawitan tari, karawitan pakeliran, dan karawitan kethoprak. Terdapat dugaan bahwa  garap Rog-rog Asem pada mulanya digunakan untuk keperluan karawitan  tari.Kata kunci: Rog-rog Asem, permainan dinamik, dan gending sekar.
MENGENAL KARAWITAN GAYA YOGYAKARTA Sugimin Sugimin
Keteg: Jurnal Pengetahuan, Pemikiran dan Kajian Tentang Bunyi Vol 18, No 2 (2018)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (492.966 KB) | DOI: 10.33153/keteg.v18i2.2398

Abstract

AbstrakKarawitan gaya Yogyakarta dan karawitan gaya Surakarta diduga bersumber dari budaya yang sama, yaitu kerajaan Mataram. Kedua gaya karawitan ini menggunakan perangkat gamelan yang sama, yaitu perangkat gamelan ageng. Karawitan yang berkembang di wilayah Kasultana Yogyakarta kemudian memunculkan ciri-ciri yang berbeda dengan karawitan gaya Surakarta. Ciri-ciri tersebut dapat dilihat secara fisik maupun non fisik Ciri-ciri fisik dapat dikenali melalui bentuk instrumen, sedangkan ciri-ciri non fisik berupa cara kerja musikal dapat dikenali melalui pola tabuhan, garap, irama, tempo sajian, dan susunan balungan gending yang semuanya dalam rangka untuk penguatan sebuah identitas gaya karawitan. AbstractYogyakarta style karawitan and Surakarta style gamelan are said to originate from the same culturalsource: that of the Mataram kingdom. Each style uses the same type of gamelan: the gamelan ageng.The style of karawitan that developed in the Yogyakarta Sultanate gradually evolved different characteristicsfrom that in Surakarta. These characteristics are both physical and non-physical. The former canbe observed in the shapes of the instruments, while the latter involve how the music is played: how theinstruments are struck, garap, irama, the tempo within performances, and the balungan of compositions.All these elements go towards strengthening the identity of each style.Keywords: Yogyakarta style Karawitan, physical characteristics, and musical characteristicsKata Kunci: Karawitan Gaya Yogyakarta, ciri fisik, dan ciri musikal
GARAP GENDING JULA-JULI LANTARAN GAYA MALANG Iska Aditya Pamuji; darsono darsono
Keteg: Jurnal Pengetahuan, Pemikiran dan Kajian Tentang Bunyi Vol 17, No 2 (2017)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (364.581 KB) | DOI: 10.33153/keteg.v17i2.2387

Abstract

AbstractThe research on Gending Jula-juli Lantaran in Malang style is based on the writer’s interest in the emergence of a new gending. This gending is treated in a different way from the general interpretation of gending in East Javanese style karawitan. The presence of this gending forms the background to the two problems addressed in this research. First, the role of Malang style tembang macapat in the interpretation of gending Jula-juli; second, the interpretation of Gending Jula-juli in Malang style. This research uses a qualitative method with emphasis on an analytical descriptive and interpretative approach. The concept of garap (interpretation / treatment) is used to examine the problems related to the interpretation of gending Jula-juli in Malang style.Gending Jula-juli Lantaran is a development of the general gending Jula-juli and uses a variety of treatment not commonly found in gending Jula-juli. The gending places emphasis on the interpretation of tembang macapat (sung verse) in Malang style. The composition of this gending brings alignment or balance between the development of gending and tembang macapat. This phenomenon presents a new model of interpretation of Malang style gending and provides new knowledge about Malang style karawitan and East Javanese karawitan in general.   Keywords: Interpretation, Gending, Jula-juli Lantaran. AbstrakPenelitian tentang Gending Jula-juli Lantaran gaya Malang didasari atas ketertarikan peneliti terhadap kemunculan gending baru. Gending tersebut memiliki garap yang berbeda dari gending secara umum pada karawitan gaya Jawa Timuran. Kehadiran gending tersebut melatarbelakangi munculnya dua permasalahan. Pertama adalah mengenai peran tembang macapat gaya Malang dalam garap gending Jula-juli. Permasalahan kedua berkaitan dengan garap gending Jula-juli Lantaran gaya Malang. Gending Jula-juli Lantaran merupakan pengembangan dari gending Jula-juli secara umum serta memilki garap yang beragam dan tidak ditemukan dalam gending Jula-juli secara umum. Gending tersebut memberikan penekanan terhadap kemunculan garap yang terletak pada tembang macapat gaya Malang. Terciptanya gending tesebut membawa kesejajaran atau keseimbangan antara perkembangan gending dan tembang macapat. Fenomena ini bisa menjadi suatu model garap baru pada gending - gending gaya Malang, memberi pengetahuan baru pada karawitan gaya Malang serta karawitan Jawa Timuran pada umumnya. Kata Kunci: Garap, Gending, Jula-juli Lantaran.
Interaksi Dan Komunikasi Musikal Dalam Garap Sekaten Bambang Sosodoro
Keteg: Jurnal Pengetahuan, Pemikiran dan Kajian Tentang Bunyi Vol 18, No 2 (2018)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (958.773 KB) | DOI: 10.33153/keteg.v18i2.2403

Abstract

AbstractThe traditions that govern the music of gamelan Sekaten are commonly referred to as garap Sekaten. Based on observations of current musical practice, it can be comprehensively stated that garap Sekaten involves musical interaction and communication. This is reflected in the melodic phrases and interactive grammar between particular instruments of this ensemble. The characteristics, unique qualities, and complexities of garap sekaten have also influenced the gamelan ageng. For example, gendhing Bonang are a genre within gamelan ageng repertoire that accentuate the "loud" instruments and incorporate the sesegan/sabetan playing style found in garap Sekaten. This style is also adopted in particular gendhing Rebab in specific ways. Similarly, several instrumental techniques found in gamelan Ageng originate in garap Sekaten. These include imbal Demung, kinthilan, cegatan and nduduk tunggal techniques for Bonang, and salahan patterns for Kendhang. In short, an understanding of Garap Sekaten is one way of acquiring performance skills in individual instruments and gaining methods for interpreting certain gendhing. Key words: Garap Sekaten, Musical Interaction, Musical Communication AbstrakTradisi atau kaidah-kaidah dalam praktik musikal gamelan sekaten lazim disebut garap sekaten. Berdasarkan fakta-fakta dan realitas praktik, secara komprehensif dapat dikatakan bahwa garap sekaten terdapat interaksi dan komunikasi musikal. Hal tersebut tercermin dalam kalimat lagu dan gramatikal permainan antar ricikan tertentu. Cirikhas, keunikan, dan kompleksitas garap sekaten juga berkembang di gamelan ageng. Seperti, gending-gending bonang yang menonjolkan instrumen bersuara nyaring, disertai garap sesegan/ sabetan. Garap sabetan yang melekat pada penyajian gending bonang, selanjutnya dikembangkan pada gending-gending rebab dengan ketentuan dan ciri-ciri tertentu. Juga teknik-teknik permainan ricikan, seperti imbal demung, kinthilan, teknik cegatan-nduduk tunggal pada bonangan, hingga pola salahan kendang. Singkatnya, garap sekaten dapat dipahami sebagai suatu tata cara yang memiliki karakteristik dalam menyajikan ricikan maupun mengintepretasi gending tertentu.Kata Kunci: garap sekaten, interaksi, komunikasi musikal
UNSUR KOMPETISI MUSIKAL DALAM SAJIAN GENDING GAMELAN SEKATEN Sigit Setiawan
Keteg: Jurnal Pengetahuan, Pemikiran dan Kajian Tentang Bunyi Vol 18, No 1 (2018)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (375.428 KB) | DOI: 10.33153/keteg.v18i1.2393

Abstract

AbstrakSekaten merupakan sebuah refleksi kebudayaan di Keraton Surakarta. Saat ini, perayaannya dimaknai sebagai bentuk eksistensi Keraton Surakarta sebagai tonggak penyangga kebudayaan. Perayaan Sekaten dengan berbagai kepentingan masyarakat di Surakarta telah menjadikannya peristiwa yang patut diapresiasi oleh mereka yang masih menjadikan Keraton Surakarta sebagai kiblat lingkup kebudayaan Jawa. Salah satu yang mencerminkan situasi tersebut adalah keberadaan Gamelan Sekaten yang di dalam penyajiannya terdapat unsur “kompetisi” musikal. Hal ini tidak dapat lepas dari penambahan perangkat Gamelan Sekaten yang semula berjumlah satu perangkat menjadi dua perangkat yakni di masa pemerintahan Paku Buwono IV. Situasi tersebut membuat para pengrawit (pemain gamelan) harus kreatif dan mempunyai referensi gending yang banyak. “Iklim kompetisi” – yang hingga kini masih berlangsung – tersebut akhirnya melahirkan konsep musikal berdasarkan pertimbangan-pertimbangan estetika musikal karawitan seperti konsep sisihan. Konsep inilah yang digunakan sebagai “standar kompetisi” seperti kemiripan nama, kemiripan garap, golongan gending dan bentuk kemiripan (lagu) balungan gending.Kata Kunci: gamelan, sekaten, kompetisi musikal.Abstract Sekaten is a reflection of the culture within the Keraton Surakarta. Currently, this celebration is understood as one way the Keraton Surakarta exists to support cultural institutions. Sekaten, which serves many interests of Surakarta’s community, has become an event that should be appreciated by those who still consider the Keraton Surakarta as the mecca of Javanese culture. One phenomenon that reflects the aforementioned situation is the existence of musical “competition” in the presentation of Gamelan Sekaten. This is closely tied to the addition of a second set of instruments during the reign of Paku Buwono IV to the original one. This situation spurs the pengrawit (gamelan musicians) towards creativity and knowledge of a wide repertoire of gendhing. The “climate of competition” - still found today - finally gave rise to musical concepts based on considerations of musical aesthetics, such as the idea of “sisihan” found in karawitan. This concept is used as the “standard of competition”: the similarities of names, similarities in garap (musical interpretation), the grouping of gending and melodic (lagu) similarities in the balungan gending.Keywords: gamelan, sekaten, musical competition.
GENDING POTHOK DALAM KARAWITAN GAYA SURAKARTA Bambang Sosodoro; Faralin Sulfianastiwi
Keteg: Jurnal Pengetahuan, Pemikiran dan Kajian Tentang Bunyi Vol 17, No 1 (2017)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (499.435 KB) | DOI: 10.33153/keteg.v17i1.2383

Abstract

AbstractThe aim of this study is to gain an understanding of gending pothok in Surakarta style karawitan. The research data was gathered through a library study, transcription of data, and interviews, relying on data obtained from the empirical knowledge of karawitan maestros. A qualitative method is used with emphasis on an analytical descriptive and interpretative approach. The problem of garap (interpretation) in gending pothok is addressed using a musicological approach and the theory of garap. The results of the study show that: (1) the term pothok in Surakarta style karawitan refers to traditional Surakarta style gending with a single balungan (skeleton melody) that is used in all forms and irama, without – or different from – the concept of widening gatra such as in Ladrang Pangkur; (2) the form of gending Pothok is merong becoming inggah, inggah becoming ladrang, and ladrang; (3) the performance of gending Pothok always includes several different irama and is not restricted to a particular irama unless it is connected to another art; (4) the appearance of gending Pothok began with gending santiswara during the reign of PB IV, subsequently developing into gending klenengan, pakeliran, and dance. It is hoped that the results of this research will contribute new ideas to the world of karawitan and be used as a reference for future studies.  Keywords: garap, gending, pothok. AbstrakStudi ini dilakukan untuk mendapatkan gambaran mengenai gending–gending pothok dalam karawitan gaya Surakarta. Penelitian ini menggunakan pengumpulan data melalui studi pustaka, transkripsi data, serta wawancara dengan mengandalkan data yang diperoleh dari pengetahuan empirik empu–empu karawitan. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif yang menekankan pada deskriptif analitik dan interpretatif. Sementara  permasalahan garap gending–gending pothok dikupas dengan menggunakan pendekatan musikologi yaitu teori garap. Hasil dari studi ini menunjukkan, bahwa (1) istilah Pothok di dalam karawitan Gaya Surakarta adalah sebuah istilah untuk menyebutkan atau menunjukkan gending tradisi karawitan Gaya Surakarta yang mempunyai satu rangkaian balungan saja, dimana balungan tersebut digunakan dalam semua bentuk dan irama, akan tetapi tanpa dan atau berbeda dengan konsep pelebaran gatra seperti yang ada pada Ladrang Pangkur. (2) Bentuk dari gending–gending Pothok yaitu merong menjadi inggah, inggah menjadi ladrang dan ladrang. (3) Pada sajiannya gending–gending Pothok selalu terdiri dari beberapa irama, dan tidak hanya dengan satu irama saja kecuali yang berhubungan dengan keperluan seni lain. (4.) Kemunculan gending Pothok berawal dari gending santiswara pada masa PB IV, yang kemudian berkembang menjadi gending klenengan, pakeliran, dan tari. Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran dalam dunia karawitan dan dapat dijadikan sebagai acuan maupun referensi bagi penelitian selanjutnya. Kata Kunci: garap, gending, pothok.

Page 7 of 21 | Total Record : 206