cover
Contact Name
Sumarno
Contact Email
sumarnoisi.ska05@gmail.com
Phone
+628174129542
Journal Mail Official
pendhapa@isi-ska.ac.id
Editorial Address
Jl. Ki Hadjar Dewantara 19, Surakarta, Jawa Tengah, Indonesia 57126
Location
Kota surakarta,
Jawa tengah
INDONESIA
Pendhapa
ISSN : 20868138     EISSN : 27457249     DOI : https://doi.org/10.33153
Jurnal Desain Interior, Seni dan Budaya adalah jurnal yang mempublikasikan wacana dan hasil penelitian berterkiat dengan desain, desain interior dan diskursus desain interior terhadap kajian seni dan budaya. Pendhapa dalam susunan rumah tradisional Jawa merupakan ruang terbuka untuk menerima tamu, tempat pertemuan, tempat pertunjukan. Pendhapa memiliki fungsi yang cukup kompleks yakni fungsi sakral maupun profan, ritual sekaligus seremonial, publik sekaligus privat, meleburnya bagian luar dan bagian dalam interior-arsitektur bangunan, bertemunya tamu dan tuan rumah. Pendhapa sebagai paseban, merupakan medium bagi bertemu, bertukarnya ide, pemikiran, gagasan, informasi, strategi maupun formulasi menyangkut banyak hal untuk kemaslahatan. Selaras dengan fungsi pendhapa yang strategis hadir Pendhapa: Jurnal Desain Interior, Seni dan Budaya terbit berkala setahun dua kali pada bulan Juni dan Desember sebagai media penyaluran dan publikasi ide, gagasan, inovasi, hasil penelitian para ilmuwan desainer dan desainer ilmuwan.
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol 3, No 2 (2012)" : 7 Documents clear
RAGAM HIAS TRADISIONAL JAWA PADA SINGEP PEDAN BALLROOM HOTEL SAHID JAYA DI SURAKARTA Eko Sri Haryanto
Pendhapa Vol 3, No 2 (2012)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (615.615 KB) | DOI: 10.33153/pendhapa.v3i2.1203

Abstract

Traditional ornament is a regional cultural resources that need to be preserved so that theJavanese cultural values that have been made by previous generations can be passed downto the next generation. One way is to implement ornaments into existing buildings.This studyaims to determine any traditional ornaments used and how the meaning contained therein,and how it relates to the attractiveness of the tourism industry.This study is a qualitative research approach formalist / structuralist with aestheticand symbolic study, the approach to a study conducted at the decoration found on theinterior singep Pedan Ballroom Sahid Jaya Hotel in Surakarta. This study used a qualitativedescriptive method with aesthetic approach as the basis for analyzing. Comparative methodwas also performed to compare with other similar objects. Collection techniques; techniquesof observation, documentation, interviews, and interpretive analysis.Keywords: decorative, traditional, pedan ball room
HADIRNYA KEKERASAN SIMBOLIK PADA PERKEMBANGAN INTERIOR DI SOLO DAN SEKITARNYA Sunarmi -
Pendhapa Vol 3, No 2 (2012)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (421.492 KB) | DOI: 10.33153/pendhapa.v3i2.1195

Abstract

Tulisan berjudul “Hadirnya Kekerasan Simbolik pada Perkembangan Interior diSurakarta” berusaha menganalisis fenomena merebaknya penggunaan elemen interiortradidional Jawa pada beberapa bangunan baik untuk rumah tinggal maupun bangunanumum di Surakarta dan sekitarnya. Tulisan ini berusaha mengupas proses hadirnya bentukkekerasan simbolik pada interior yang dipengaruhi atas konsep kekuasaan diri setiap individuberdasar arkeologi pengetahuan yang dimiliki. Strategi yang digunakan dengan pendekatanpostmodern, analisis wacana Foucault tentang kekuasaan dan kekerasan simbolik PierreBourdieu. Metode yang digunakan: fenomena yang diangkat di Surakarta dan sekitarnya,dengan studi literatur dan observasi pada fenomena.Hasil pembahasan, kehadiran iklan secara nyata maupun tidak nyata sejatinya telahmenghegemoni manusia yang melihatnya, mendorong keinginan tampil dalam sign valuetentang interior sebagai hunian. Kekuasaan pada diri individu mendorong adanya pengetahuantentang trend atau fashion interior. Tempel menempel elemen interior tempo dulu dihadirkandengan segala cara untuk rumah ke kinian. Pengetahuan orang tentang nilai pada satu simbolproduk budaya di era global berbeda-beda. Bagi orang yang telah melepaskan diri dari maknasimbol, maka tidak pernah ada yang mempersoalkan, karena semua dianggap given, takenfor granted. Bagi orang yang tidak menyepakati tentang nilai budaya yang dihadirkan padasatu simbol tertentu maka akan terjadi sebuah proses penolakan ataupun ketidaksepakatanterhadap nilai tersebut dan itulah yang dinamakan kekerasan simbolik. Kekerasan simbolikpada gaya interior carut marut yang memadu padankan elemen interior tempo dulu padainterior ke kekinian, tanpa mempertimbangkan aspek fungsi maupun nilai yang melekat.Kata Kunci: Kekuasaan, kekerasan simbolik, carut marut
BENTUK DAN MAKNA MOTIF PORONG NAGA RAJA PADA INTERIOR PENDAPA AGENG TAMAN BUDAYA JAWA TENGAH DI SURAKARTA Indarto -
Pendhapa Vol 3, No 2 (2012)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (847.724 KB) | DOI: 10.33153/pendhapa.v3i2.1205

Abstract

Artikel ini adalah hasil dari penelitian tentang motif Porong Naga Raja pada elemen estetikainterior Pendapa Ageng Taman Budaya Jawa Tengah di Surakarta. Permasalahan penelitianini terkait dengan ‘bentuk dan makna’, dimaksudkan untuk mengidentifikasi bentuk danmengungkap makna motif Porong Naga Raja. Mengungkap bentuk menggunakan KajianEstetika dengan pendekatan konsep desain berdasarkan struktur seni, yaitu: unsur rupa,meliputi unsur garis, bangun, rasa permukaan, warna, ruang dan waktu. Dasar-dasarpenyusunan atau prinsip disain, meliputi paduan harmoni-selaras, paduan kontras, paduanirama-repetisi, dan paduan gradasi-harmoni menuju kontras. Hukum penyusunan atauasas disain, meliputi kesatuan, keseimbangan, kesederhanaan, aksentuasi, dan proporsi.Mengungkap makna digunakan pendekatan estetika nusantara oleh Dharsono yaitu,seni merupakan tuntunan (mempunyai makna filosofi) sekaligus tontonan (bentuk yangterdiri dari pengulangan pola yang terdiri dari kumpulan motif, ditata dengan indah). Hasilpenelitian menunjukkan motif Porong Naga Raja muncul dengan tiga bentuk, yaitu: 1). Figurnaga dengan tampilan visual berupa kepala naga memakai mahkota raja. Keberadaannyamenempati bidang saka dan balok blandar. 2). Figur naga dengan tampilan visual nagasecara utuh, kepala naga dengan mahkotanya, badan posisi berdiri (seperti huruf S), danekor dengan ujung berbentuk kudhup bunga melati. Keberadaannya pada singup dan padalampu gantung utama pendapa ageng. 3). Figur naga dengan tampilan visual naga berkakiempat, mempunyai rumbai seperti jilatan ujung api pada keempat kaki dan ujung ekornya.Keberadaannya terdapat pada lampu payung terbalik. Pemaknaan figur naga dalam bentukmotif porong naga raja secara keseluruhan adalah mengenai ajaran kepemimpinan dansebagai falsafah yang mengandung nilai-nilai tuntunan dalam kehidupan.Kata-kata kunci: Motif Porong Naga Raja, tuntunan, tontonan.
DESAIN INTERIOR HOTEL SYARIAH Ahmad Fajar Ariyanto
Pendhapa Vol 3, No 2 (2012)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (464.313 KB) | DOI: 10.33153/pendhapa.v3i2.1197

Abstract

Transformation to a sharia hotel has brough a different treatment for its interior design.Interior as an activity centre has to accomodate the hotel needs which meet with sharia ofIslam. This sharia hotel discourse has been developing, finding a fixed form, and tried toplace itself in anyway between policy, market, rule, and its ideology. As a cultural product, aninterior design can express the life style, ideology, and taste of their sociaty. Economically,the interior design takes part in improving the product quality as well as meeting the sociatytaste and finally it would be a centre to meet all the contradictions that suite in sociaty at large.Keywords : Sharia Hotel, Transformation, Interior Design
KESALAHAN BERBAHASA YANG SERING DILUPAKAN Sri Hesti Heriwati
Pendhapa Vol 3, No 2 (2012)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (239.407 KB) | DOI: 10.33153/pendhapa.v3i2.1199

Abstract

Kemampuan berbahasa Indonesia yang baik dan benar merupakan persyaratanmutlak untuk melakukan penalaran. Terkait dengan penalaran maka penguasaan tatabahasa Indonesia dan kosakata yang baik perlu dilakukan bagi seorang ilmuan untukmengkomunikasikan gagasannya kepada pihak lain. Aspek mengungkapkan suatu gagasanterkadang muncul kendala yang membawa dampak pemakaian bahasa melakukan kesalahanberbahasa Indonesia. Melalaikan norma dan kaidah berbahasa khususnya tentang ejaanbahasa Indonesia dan penaataan dalam kalimat sering dilakukan para pemakai bahasa.Sarana untuk mengungkapkan perasaan, sikap, dan pikiran melalui bahasa mengalamikendala karena aspek penalarannya. Demikian juga kemampuan berbahasa untuk komunikasiilmiah dirasakan sangat kurang apalagi dalam komunikasi tulisan. Hal ini disebabkanoleh proses pendidikan yang kurang memperlihatkan aspek penalaran dalam pengajaranbahasa. Bahasa keilmuan merupakan salah satu ragam bahasa yang harus dikuasai olehmereka yang berkecimpung dalam dunia keilmuan dan akademik. Ragam bahasa keilmuanpada dasarnya merupakan ragam bahasa yang memenuhi kaidah kebahasaan. Tulisan inimenunjukkan sebagian kaidah bahasa Indonesia yang seharusnya digunakan. Kaidah bahasadifokuskan pada pengalihbahasaan istilah asing ke bahasa Indonesia. Pembakuan bahasamerupakan suatu prasyarat untuk menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa keilmuan.Publikasi itu merupakan salah satu sarana untuk menuju ke status tersebut. Keefektifanusaha dipengaruhi oleh sikap dan tanggapan kita terhadap bahasa Indonesia. Komunikasiilmiah dalam bahasa Indonesia belum sepenuhnya mencapai titik kesepakatan yang tinggidalam hal kesamaan pemahaman terhadap kaidah bahasa termasuk pemakaian ejaan danpargraf. Tulisan ini mencoba mengingatkan kepada kita betapa sering dilalaikannya normadan kaidah kebahasaan yang sudah dibakukan.Kata Kunci: ejaan, paragraf
STRUKTUR DAN FUNGSI DESAIN INTERIOR RUMAH PERANAKAN TIONGHOA DI SURAKARTA PADA AWAL ABAD KE-20 Dhian Lestari Hastuti
Pendhapa Vol 3, No 2 (2012)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (705.997 KB) | DOI: 10.33153/pendhapa.v3i2.1201

Abstract

Peranakan Tionghoa-Indonesia adalah hasil dari kontak dua budaya antara Tionghoadan Nusantara yang berlangsung ratusan tahun dan mengakibatkan asimilasi darikedua budaya. Rumah adalah wujud asimilasi dari kontak dua budaya tersebut. Fokusdari penelitian ini adalah desain interior rumah peranakan Tionghoa-Indonesia sebagaihasil dari asimilasi kedua budaya di Pecinan Surakarta. Rumah dianggap sebagai“way of life” bagi mereka sebagai bentuk mempertahankan hidup untuk mencapaikeseimbangan hidup. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan strategipenelitian studi kasus tiga rumah rumah di area Pecinan Pasar Gedhe, kelurahanKepatihan Wetan. Pendekatan historis dan budaya digunakan untuk memperkuatkonteks dari obyek rumah yang menjadi studi kasus. Landasan teori yang digunakanuntuk membantu analisis adalah kebudayaan, filsafat Cina, Feng-Shui, polapemukiman dan ilmu desain interior secara formal. Hasil dari penelitian adalah untukmenjaga keseimbangan dalam rumahnya masyarakat peranakan Tionghoa tetapmempertimbangkan Feng-Shui dalam menjawab kebutuhan energi baik agar bisahadir di dalam rumah. Budaya yang mempengaruhi desain interior rumah peranakanTionghoa adalah budaya Jawa dalam bentuk program ruang yang telah diadaptasidengan budaya Cina dan budaya Eropa dalam program ruang dan visual desaininterior. Kebutuhan untuk bertahan hidup dan menjawab perkembangan zaman,lebih mereka utamakan dalam bentuk visual desain interior dengan pertimbangansisi fungsional.Kata kunci: Peranakan Tionghoa, desain interior rumah, Feng Shui
ALTERNATIF DESAIN VITRIN UNTUK MUSEUM RADYAPUSTAKA Agung Purnomo; Basnendar Herryprilosadoso; Ranang Agung Sugihartono
Pendhapa Vol 3, No 2 (2012)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1537.423 KB) | DOI: 10.33153/pendhapa.v3i2.1193

Abstract

Tulisan ini bersumber dari hasil penelitian Pengembangan Desain Interior MuseumRadyapustaka Berbasis Ergonomi (Kenyamanan dan Keamanan) sebagai Pusat Budaya,Informasi dan Tujuan Wisata Kota Surakarta tahap ke-2. Telah dilaporkan sebelumnya tahappertama dalam penelitian bertujuan mengidentifikasi interior Museum Radyapustaka. Untukmenggali data yang berupa artefak, literatur, dan informan dilakukan melalui observasi,studi literatur, wawancara, dan dokumentasi. Sudah dilakukan Identifikasi desain interiormuseum Radyapustaka, meliputi aspek organisasi ruang, pola sirkulasi, elemen pembentukruang, elemen pengisi ruang termasuk di dalamnya sistem display dan benda-benda koleksimuseum, tata kondisi ruang ,faktor keamanan, dan aspek estetis yang membentuk atmosphirruang. Triangulasi data dipilih sebagai alat untuk menjaga tingkat validitas data, sedangkanmodel analisisnya bersifat interaktif . Eksperimen desain dilaksanakan di kampus ISISurakarta dengan melibatkan tim dosen dan mahasiswa Program Studi Desain Interior danpihak lain yang terkait.Pada tahap ke-2 dilakukan kegiatan uji-coba desain melalui kegiatanmewujudkan desain (vitrin sebagai produk eksperimen) dan penerapannya (implementasidesain), evaluasi, dan penyempurnaan konsep desain. Model analisis SWOT dipakai ketikaakan melakukan perumusan desain vitrin Museum Radyapustaka. Vitrin merupakan bagianpenting di dalam museum karena sebagai tempat untuk memajang benda koleksi. Dengandesain vitrin yang baik akan mampu memberikan keamanan terhadap benda koleksi sertamemberikan kenyamanan pengunjung di dalam mengamatinya.Key words: Museum Radyapustaka, vitrin, kenyamanan, keamananwe find in works of art do not consist of concepts but sense impressions.

Page 1 of 1 | Total Record : 7