cover
Contact Name
Edwin Yulia Setyawan
Contact Email
edwin.yulia.setyawan@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnalsosek.kp@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan
ISSN : 20888449     EISSN : 25274805     DOI : -
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan merupakan Jurnal Ilmiah yang diterbitkan oleh Balai Besar Riset Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan, dengan tujuan menyebarluaskan hasil karya tulis ilmiah di bidang Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan. Artikel-artikel yang dimuat diharapkan dapat memberikan masukan bagi para pelaku usaha dan pengambil kebijakan di sektor kelautan dan perikanan terutama dari sisi sosial ekonomi.
Arjuna Subject : -
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 15, No 1 (2020): Juni 2020" : 10 Documents clear
KINERJA EKSPOR UDANG INDONESIA DI AMERIKA SERIKAT TAHUN 2009-2017: PENDEKATAN MODEL CONSTANT MARKET SHARE (CMS) Siti Sahatul Fatimah; Sri Marwanti; Suprapti Supardi
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 15, No 1 (2020): Juni 2020
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (453.827 KB) | DOI: 10.15578/jsekp.v15i1.7677

Abstract

Ekspor merupakan salah satu parameter yang sangat penting untuk diperhatikan, agar suatu negara dapat mengetahui seberapa besar pertumbuhan ekonominya. Udang merupakan salah satu komoditas ekspor yang memiliki peranan penting dalam kontribusi ekonomi Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji kinerja ekspor komoditas udang Indonesia di Amerika Serikat tahun 2009-2017. Komoditas udang yang diteliti dikelompokkan lebih spesifik menjadi tiga jenis produk, yaitu udang beku, udang segar dan udang olahan. Metode analisis adalah Constant Market Share (CMS) digunakan dalam penelitian ini. Data yang digunakan dalam penelitian ini berupa data sekunder daritahun 2009 hingga tahun 2017 yang diperoleh dari United Nations Commodity Trade Statistics Division (UN Comtrade) dan International Trade Center (ITC:).Rata-rata pertumbuhan ekspor udang Indonesiasecara umum lebih tinggi daripada rata-rata pertumbuhan ekspor udang dunia. Kinerja ekspor udang beku lebih baik dibanding udang segar dan udang olahan, dilihat dari aspek efek komposisi produk dan dan efek daya saing, namun dari aspek efek distribusi udang beku dan udang segar kalah dibanding dengan udang olahan. Hasil tersebut menunjukkan bahwa udang beku Indonesia memiliki potensi yang sangat besar untuk dikembangkan, walaupun dari aspek distribusi masih lemah (ditunjukkan dengan nilai yang bertanda negatif). Hasil CMS menunjukkan bahwa ekspor udang Indonesia masih berfokus pada udang beku saja, dan kurang memprioritaskan udang segar dan udang olahan. Hal tersebutmenunjukkan bahwa perlu adanya evaluasi baik dari sisi produksi, distribusi dan mutu produk untuk meningkatkan kinerja produk terutama di udang segar maupun olahan. Title: Export Performance of Indonesian Shrimp In the United States During 2009-2017: A Constant Market Share Model Approach  Export is an important sector to calculate the economic growth of the country. Shrimp is one of main commodity that gives significant contribution to Indonesia economic. The research was aimed at analyzing the export performance of Indonesian shrimp in the United States during 2009-2017. Specifically, the shrimps were grouped into three categories, frozen shrimp, fresh shrimp, and processed shrimp. Constant Market Share (CMS) approach was used in this study. This study used secondary data from 2009 to 2017 that were collected from the United Nations Commodity Trade Statistics Division (UN Comtrade) and International Trade Center (ITC). The average growth of Indonesia shrimp was higher than the average growth of the world shrimp exports. The result of CMS suggested that export performance of frozen shrimp was better than the fresh shrimp and processed shrimp based on product composition and competitiveness effect. However, processed shrimp was better than frozen shrimp and fresh shrimp in terms of distribution effect. The result showed that Indonesia shrimp exports were still focused only on frozen shrimp rather than fresh shrimp and processed shrimp. Frozen shrimp had a great potential of development despite of its poor distribution (negative value). This phenomenon suggested a necessary evaluation on the production, distribution, and product quality to improve the product performance especially on fresh shrimp and processed shrimp.
ANALISIS STRUKTUR, PERILAKU DAN KINERJA PASAR INDUSTRI TUNA DI INDONESIA Freshty Yulia Arthatiani; Siti Hajar Suryawati; Estu Sri Luhur; Tikkyrino Kurniawan
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 15, No 1 (2020): Juni 2020
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1723.377 KB) | DOI: 10.15578/jsekp.v15i1.8343

Abstract

Tuna merupakan komoditas ekspor perikanan utama di Indonesia. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) ekspor tuna Indonesia mengalami tren pertumbuhan nilai ekspor yang melambatdari tahun 2012 hingga 2018. Oleh karena itu perlu dilakukan analisis mengenai struktur perilaku dan kinerja pemasaran industri tuna di Indonesia yang diharapkan dapat mendukung kinerja ekspor tunaIndonesia. Penelitian ini menggunakan data sekunder dari Kementerian Kelautan dan Perikanan dan BPS serta data primer bersumber dari pelaku usaha tuna. Metode penelitian yang digunakan adalah analisis struktur pasar dengan perhitungan konsentrasi pasar dan hambatan masuk pasar, serta perilaku pasar yang dianalisis secara deskriptif selain itu kinerja pasar dianalisis menggunakan perhitungan variabel price cost margin (PCM) dan efisiensi internal (Xeff). Hasil analisis struktur pasar menunjukkan bahwa komoditas tuna memiliki struktur pasar oligopoli, meskipun untuk komoditas tuna olahan dapat dikategorikan oligopoli ketat cenderung monopoli. Analisis perilaku pasar menunjukkan bahwa penentuan harga tuna ekspor dilakukan oleh buyer dan promosi dilakukan melalui ajang pameran perdagangan serta pengiriman sampel kepada calon buyer. Perhitungan indikator kinerja pasar menunjukkan bahwa kinerja pemasaran tuna beku lebih baik dibandingkan tuna olahan. Rekomendasi kebijakan yang disarankan adalah dengan kebijakan mempermudah investasi sehingga meningkatkan jumlah pelaku usaha dan menurunkan tingkat persaingan. Selain itu perlu pengawasan oleh komite persaingan usaha terutama pada komoditas tuna olahan untuk menghindari kecenderungan monopoli bahan baku. Peningkatandaya saing dari tuna Indonesia perlu juga dilakukan agar lebih berperan dalam menentukan harga di pasar ekspor. Kinerja pasar dapat ditingkatkan melalui penghematan biaya input atau peningkatanvolume output untuk meningkatkan nilai efisiensi internal.Title: Structure, Conduct and Performance Analysis of Tuna Industries in Indonesia Tuna is a major fishery export commodity in Indonesia, although based on data from the Central Bureau Statistics Indonesian tuna exports experience a slowing trend in the value of exports from 2012 to 2018. Therefore it is necessary to analyze the structure, conduct and performance from of the tuna industry . This study uses secondary data from the Ministry of Maritime Affairs and Fisheries and Central Bureau of Statistics while primary data sourced from tuna entrepreneurs. The research method used is the analysis of market structure by calculating market concentration and barriers to market entry, as well as market conducts analyzed descriptively. In addition, market performance is analyzed using the calculation of price cost margin (PCM) and internal efficiency (Xeff). The results of the market structure analysis show that tuna has an oligopoly market structure. Analysis of market conduct shows that the determination of the price of export tuna is carried out by the buyer and promotion is carried out through a trade exhibition and sending samples to prospective buyers. The calculation of market performance indicators shows that the marketing performance of frozen tuna is better than processed tuna. The recommended policy are to facilitate investment to reducing the level of competition. In addition itneeds supervision by the business competition committee, especially on processed tuna commodities. Increasing the competitiveness of Indonesian tuna also needs to be done to be more instrumental indetermining prices in the export market. Market performance can be improved through saving input costs or increasing output volume.
ANALISIS EKONOMI ALAT PENANGKAPAN IKAN ARAD DI PANTAI UTARA PROVINSI JAWA TENGAH Benny Osta Nababan, S.Pi, M.Si; Tridoyo Kusumastanto; Luky Adrianto; Achmad Fahrudi
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 15, No 1 (2020): Juni 2020
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (196.849 KB) | DOI: 10.15578/jsekp.v15i1.8492

Abstract

Arad termasuk dalam kelompok alat penangkapan ikan yang dilarang berdasarkan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia Nomor. 2/Permen-Kp/2015 tentang larangan penggunaan alat penangkapan ikan pukat hela (trawls) dan pukat tarik (seine nets) di wilayah pengelolaan perikanan negara Republik Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji secara ekonomi alat penangkapan ikan arad dengan yang dikombinasikan dengan alat penangkapan ikan lainnya di Pantai Utara Jawa Tengah. Jenis data yang digunakan adalah data primer dan data sekunder. Pengumpulan data primer dilakukan melalui wawancara kepada nelayan arad yang menggunakan kapal berukuran kurang dari 10 GT dengan menggunakan panduan wawancara serta pengamatan lapangan. Pengumpulan data sekunder dilakukan ke instansi pemerintah seperti Dinas Kelautan dan Perikanan Jawa Tengah dan BPS. Metode analisis data yang digunakan adalah analisis kelayakan usaha. Hasil penelitian menunjukan bahwa sebagian nelayan arad memiliki alat penangkap ikan lain seperti sudu, gillnet dan trammel net. Penggunaan alat penangkapan ikan berdasarkan musim ikan, seperti musim cumi, teri, kakap, belanak, kembung dan lainnya. Penelitian ini mengelompokkan nelayan berdasarkan jumlah alat penangkapan ikan yang dimiliki yaitu satu alat penangkapan ikan (arad), dua alat penangkapan ikan (arad dan sudu), tiga alat penangkapan ikan (arad, trammel net dan gillnet). Nelayan yang memiliki alat penangkapan ikan tambahan selain arad memperoleh keuntungan yang lebih tinggi dibandingkan hanya memiliki satu alat penangkapan ikan (arad). Kombinasi alat penangkapan ikan yang ramah lingkungan menggunakan 3 alat penangkapan ikan yaitu arad, gillnet dan trammel net sesuai musim ikan memberikan manfaat ekonomi yang lebih tinggi dibandingkan dengan penggunaan arad sepanjang tahun.Title: An Economic Analysis of ‘Arad’ Fishing Gear In the North Coast of Central Java Province Arad is an abandoned fishing gear based on the Regulation of the Minister of Maritime Affairs and Fisheries of the Republic of Indonesia Number 2 / Permen-Kp / 2015 concerning the prohibition on the use of trawls and seine nets in the territory of the Republic of Indonesia fisheries management. This study aimed at economic analysis of Arad capture fisheries (1 tool) compared with the capture using combination of Arad and other fishing equipment on the North Coast of Central Java. The study used primary and secondary data that were collected in the North Coast of Central Java. Primary data were collected through interviews and observation with Arad fishers working on boat under 10 GT. Secondarydata were collected from government agencies such as Marine and Fisheries Agency of Central Java and Statistics Indonesia. The results showed that some of the Arad fishers had other fishing gear such as blade, gillnet and trammel net. The use of fishing gear depended on fish season, such as squid, anchovies, snapper, mullet, bloating and others. This study classified fishers based on the number of fishing gear that fisher's had, namely, one fishing gear (arad), two fishing gear (arad and blade), three fishing gear (arad, trammel net and gillnet). Fishers having additional fishing gear get higher profits compared to those having only one fishing gear (ARAD). The use of 3 fishing gear namely arad, gillnet and trammel net according to fish season provides higher economic benefits compared to Arad only throughout the year.
KINERJA DAN PROSPEK USAHA PEMBENIHAN IKAN PAPUYU (Anabas testudineus) DI KALIMANTAN SELATAN Rina Mustika; Leila Aryani Sofia; Erma Agusliani; Muhammad Muhammad
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 15, No 1 (2020): Juni 2020
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (550.27 KB) | DOI: 10.15578/jsekp.v15i1.7674

Abstract

Pemenuhan ketersediaan ikan papuyu untuk konsumsi masih mengandalkan hasil tangkapan, oleh karena itu saat ini dikembangkan usaha budi daya ikan papuyu untuk pemenuhan ketersediaankonsumsi selain dari hasil tangkapan. Budi daya ikan papuyu perlu didukung oleh pemenuhan benih yang berkualitas dari segi teknis dan ekonomis. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui jumlah permintaan aktual dan prediksipermintaan benih ikan papuyu pada 5 tahun ke depan, profit usaha pembenihan ikan papuyu dan mengetahui daerah serta sistem pemasaran benih ikan papuyu. Lokasi penelitian ditetapkan secara purposive di balai pembenihan ikan di 4 Kabupaten di Provinsi Kalimantan Selatan. Pengambilan data primer dilakukan dengan metode survei dengan teknik wawancara yang dibantu panduan pertanyaan terstruktur. Analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif, analisis tren eksponensial, analisis profit dan Revenue Cost Ratio (RC-Ratio) serta analisis sistem dan saluran pemasaran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa total permintaan benih papuyu pada tahun 2018 diperkirakan mencapai 996.168 ekor, dan dalam periode 5 tahun ke depan permintaan benih diperkirakan akan terus meningkatkan hingga mencapai 7.081.448 ekor; keuntungan usaha pembenihan ikan papuyu sebesar Rp28.758.233,67. Berdasarkan hasil perhitungan RC-Ratio sebesar 2,49, nilai Payback Period 0,71 tahun dan Break Event Point (BEP) produksi sebesar 64.139 ekor dan BEP harga sebesar Rp120,26 maka usaha pembenihan ikan papuyu dinyatakan menguntungkan dan layak untuk dikembangkan. Daerah pemasaran benih ikan papuyu yang disuplai dari balai benih ikan dari kabupatenkabupaten di Provinsi Kalimantan Selatan meliputi wilayah Kalimantan Selatan dan Kalimatan Tengah. Sistem pemasaran yang digunakan adalah sistem pemasaran langsung dari balai benih ke konsumen (pembudidaya ikan papuyu).Title: Business Performance and Prospect of Papuyu Fish Hatchery(Anabas testudineus) in South Kalimantan The Papuyu demand for consumption has been depended on fish caught. This condition lead to the development of papuyu fish farming business to meet the consumption need other than wild caught. Papuyu fish farming should be necessarily supported by technical and economical quality of the seeds. This research aimed to estimate the actual demand as well as to forecast the future demand of papuyu seeds, especially in the next 5 years. In addition, this study would also analyse the business profit, areaof hatchery unit, and marketing system of papuyu fish. Research area was purposely selected at the fish hatchery in 4 districts in South Kalimantan Province. Primary data were collected through survey methodwith structured questionnaires interviews. Descriptive analysis, exponential trend analysis, profit analysis and RCR, and system and marketing channels analysis were used in the study. The results described the total demand for papuyu seeds in 2018 is estimated to reach 996,168, while in the next 5 years the demand for the seeds is expected to increase to 7,081,448  fingerlings, and The profit of the papuyu fish hatchery is Idr 28,758,233.67. The RC ratio of 2.49 the value of the Payback Period is 0.71 year the Break Event Point (BEP) of production is 64,139 fingerlings and BEP price is Idr 120.26 per fingerling. Therefore, the business of papuyu fish hatchery is claimed to be profitable and feasible. The marketing areas of papuyu fish seeds produced by the fish hatchery units in 4 districs in South Kalimantan Province covering South Kalimantan and Central Kalimantan directly from the hatchery centers to consumers (papuyu fish farmers).
NILAI PENTING DAN STRATEGIS NASIONAL RENCANA ZONASI KAWASAN TAMAN NASIONAL KOMODO Suraji Suraji; Syofyan Hasan; Suharyanto Suharyanto; Yonvitner Yonvitner; Sonny Koeshendrajana; Didit Eko Prasetiyo; Arief Widianto; Agus Dermawan
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 15, No 1 (2020): Juni 2020
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (55.315 KB) | DOI: 10.15578/jsekp.v15i1.8888

Abstract

Kawasan Taman Nasional Komodo dan sekitarnya merupakan salah satu kawasan strategis nasional. Penetapan kawasan ini dikarenakan kawasan Taman Nasional Komodo dan sekitarnya yang terletak di Pulau Flores dan Pulau Sumbawa memiliki potensi dan nilai penting strategis untukdikembangkan sebagai penggerak ekonomi nasional berbasis perlindungan keanekaragaman hayati. Penelitian bertujuan untuk mengkaji nilai penting dan strategis nasional rencana zonasi kawasanstrategis Taman Nasional Komodo. Data primer dan sekunder digunakan dalam penelitian ini. Metode penentuan nilai penting dan strategis nasional yang diwujudkan dalam struktur dan pola ruang RencanaZonasi Kawasan Strategis Nasional (RZ KSN) menggunakan teknik analisis multikriteria yang terdiri dari kebijakan yang bersifat mutlak, scoring/pembobotan dan kesepakatan para pihak. Hasil analisispola ruang laut bernilai penting dan strategis nasional, terdiri dari: Kawasan Pemanfaatan Umum (Pariwisata, Pelabuhan, Pelabuhan Perikanan, Pengelolaan Energi) dan Kawasan Konservasi yangberupa Kawasan Konservasi Perairan, Pesisir dan Pulau-pulau Kecil dan Taman Nasional Komodo yang merupakan inti dari KSN Taman Nasional Komodo serta Alur Laut. Analisis Nilai Penting dan Strategis Nasional yang telah dilakukan menghasilkan Perencanaan Ruang Laut yang bertujuan untuk: (i) mewujudkan kawasan yang dikembangkan untuk perlindungan dan pelestarian Taman Nasional Komodo dan konservasi perairan; dan (ii) kawasan yang berdaya saing berbasis pengelolaan SumberDaya Kelautan dan pariwisata dengan prinsip berkelanjutan untuk kesejahteraan masyarakat. Hasil Kajian direkomendasikan menjadi bahan utama dalam penyusunan Rancangan Peraturan Presiden danpengaturannya dapat dilaksanakan dalam satu ketetapan berupa Peraturan Presiden tentang Rencana Tata Ruang dan Rencana Zonasi Kawasan Strategis Nasional Taman Nasional Komodo.Title: National Strategic and Important Value For Zoning Planof the Komodo National Park The Komodo National Park area and its surroundings are some of the national strategic areas. The designation of this area is due to its location on Flores Island and Sumbawa Island which have potential and importance value to encourage national economy based on biodiversity protection. The research aimed to examine the national strategic and important value of the zoning plan of the Komodo National Park strategic area. Primary and secondary data were used in this study. The method to determine national strategic and important value is embodied in the spatial structure and pattern of the National Strategic Area Zoning Plan (RZ KSN). It used a multi criteria analysis technique consisting of absolute policies, scoring/weighting, and agreement of the parties. The results of the analysis of marine space pattern for national strategic and important value consisted of public areas (tourism, ports, fisheries ports,and energy management) and conservation areas including marine conservation areas for coastal and small Islands, and Komodo National Park which are the core of the National Strategic Area, and the SeaLanes. The analysis of national important and strategic values suggested marine spatial planning that aims to: (i) develop protection and conservation of the Komodo National Park and marine conservationareas; and (ii) establish competitive region based on management of sustainable marine resources and tourism for the welfare of the community. The results of the Study are recommended to be the main ideas in the drafting of the presidential regulation and its arrangements can be carried out in one stipulation in the form of a Presidential Regulation on Spatial Planning and Zoning Plans for the Strategic NationalArea of Komodo National Park.
POTENSI PENGEMBANGAN EKOWISATA BAHARI BERBASIS MASYARAKAT ADAT SEBAGAI KEGIATAN EKONOMI KREATIF DI KAMPUNG MALAUMKARTA, PAPUA BARAT Riesti Triyanti; Umi Muawanah; Nendah Kurniasari; Permana Ari Soejarwo; Tommi Febrian
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 15, No 1 (2020): Juni 2020
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (669.998 KB) | DOI: 10.15578/jsekp.v15i1.8239

Abstract

Kawasan pesisir Kampung Malaumkarta memiliki alam dan budaya yang berpotensi tinggi untuk dikembangkan sebagai destinasi baru ekowisata bahari di Provinsi Papua Barat, selain Raja Ampat. Namun, permasalahan yang dihadapi adalah belum adanya dukungan yang maksimal daripemerintah dalam menyediakan fasilitas penunjang dan rendahnya kualitas sumber daya manusia terkait pengetahuan tentang teknik pengemasan budaya menjadi produk kreatif. Penelitian ini bertujuanuntuk mengidentifikasi keragaan potensi alam dan budaya terkait pengembangan ekowisata bahari, menganalisis daya dukung lingkungan kawasan wisata Kampung Malaumkarta, dan mengestimasi nilaiefek pengganda yang diperoleh dari kegiatan ekowisata bahari. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dan kuantitatif. Data dikumpulkan dengan cara wawancara mendalam dan dengan bantuan kuesioner terstruktur. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan analisis deskriptif, analisis daya dukung, dan analisis efek pengganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa daya dukung efektif kawasan Kampung Malaumkarta sebesar 57 pengunjung per hari, dengan nilai efek pengganda sebesar 1,14-1,64. Potensi kawasan pesisir Kampung Malaumkarta yang sangat beragam baik dari alam maupun budaya, dapat memberikan dampak ekonomi secara langsung, tidak langsung, dan lanjutan sebesar Rp5.179.031.667 per tahun. Besarnya dampak ekonomi kawasan pesisir Malaumkarta dapat dijadikan dasar untuk merumuskan konsep pengembangan ekowisata bahari yang berkelanjutan denganmemperhatikan daya dukung efektif, dengan cara membuat Standar Operasional Prosedur manajemen ekowisata bahari yang melibatkan seluruh stakeholders, dengan pendekatan promosi 3A (atraksi, akses,dan akomodasi).Title: Potency of Indigenous Community Based Marine EcotourismDevelopment as a Creative Economic Activity in Malaumkarta Village, West Papua The coastal area of Malaumkarta Village has natural and cultural potential to be developed as a new destination for marine ecotourism in the West Papua Province, in addition to Raja Ampat However, the problems exist since there is less facilities and human resources knowledgeable aboutcultural transforming into creative products. The aims of this study were to identify the natural and cultural potential in association with the development of marine ecotourism, to analyze environmental supportof tourist area of Malaumkarta, and to estimate the value of multiplier effect of marine ecotourism activities. This research used mix method approach. Data were collected by in-depth interviews and structured questionnaires. The data were analyzed using descriptive, carrying capacity, and multiplier effect analysis. The results showed that the effective carrying capacity of Kampung Malaumkarta was 57 visitors per day, with a multiplier effect value of 1.14-1.64. The potential of the coastal area in Kampung Malaumkarta which is very diverse both in nature and culture, can provide direct, indirect, and continued economic impacts of IDR 5,2 billion per year. The magnitude of the economic impact of the Malaumkarta can be used as a basis for formulating the concept of sustainable marine ecotourism development by taking into account the effective carrying capacity, by making a Standard Operating Procedure for marine ecotourism management involving all stakeholders, with a 3A promotion approach (attractions, access, and accommodation)
DAMPAK EKONOMI WISATA BAHARI DI KABUPATEN ALOR Umi Muawanah; Riesti Triyanti; Permana Ari Soejarwo
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 15, No 1 (2020): Juni 2020
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1097.433 KB) | DOI: 10.15578/jsekp.v15i1.8841

Abstract

Kabupaten Alor merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Nusa Tenggara Timur yang memiliki potensi obyek wisata alam yang beragam, termasuk wisata alam bahari yang dapat mendukung perekonomian masyarakat Alor. Jumlah wisatawan yang mengunjungi kabupaten Alor pada tahun 2017 mengalami peningkatan sekitar 56% dari tahun sebelumnya. Dilihat dari banyaknya jumlah wisatawan yang mengunjungi Kabupaten Alor, maka diperlukan adanya penelitian terkait dengan pengaruh obyek wisata terhadap perekonomian masyarakat Alor. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dampak ekonomi langsung kegiatan wisata, dampak tidak langsung, serta dampak ekonomi lanjutan. Penelitian ini menggunakan metode analisis multplier effect dengan menggunakan. data primer dan sekunder. Pengumpulan data dilakukan dengan bantuan kuesioner terstruktur dan wawancara responden, terdiridari 50 wisatawan, 21 pengusaha bidang wisata bahari dan 11 tenaga kerja/karyawan dari unit usaha terkait wisata bahari. Lokasi penelitian yaitu Daerah Kalabahi, ibukota Kabupaten Alor sebagai sentrawisata bahari. Hasil analisis menunjukkan bahwa dampak ekonomi langsung yang diperoleh dari kegiatan wisatawan di Kalabahi sebesar Rp480.000.000 per tahun dan dampak ekonomi tidak langsung yang diperoleh dari kegiatan wisatawan di Kalabahi sebesar Rp201.600.019 per tahun, serta dampak ekonomi lanjutan kegiatan wisata bahari di Kalabahi sebesar Rp20.250.000 per tahun. Nilai Keynesian Income Multiplier yang diperoleh sebesar 1,72 yang artinya setiap terjadi peningkatan pengeluaran wisatawan sebesar 1 rupiah, maka akan berdampak terhadap peningkatan pendapatan tenaga kerja dan para pemilik unit usaha di lokasi wisata diduga sebesar 1,72 rupiah. Hal ini menunjukkan bahwa kegiatan wisata bahari di Kabupaten Alor memberikan dampak ekonomi positif dan cukup besar terhadap masyarakat Kabupaten Alor. Ke depannya, pemerintah Alor maupun pengusaha ekowisata bahari perlu membuat paket tour wisata di Alor untuk meningkatkan lamanya tinggal di Alor dan meningkatkan dampak ekonomi ke masyarakat lokal AlorTitle: An Economic Impact of Marine Tourism in the Alor Regency Alor Regency is one of regency in East Nusa Tenggara Province. It offers a variety of natural tourist attraction including marine tourism which might support the economy of the people of Alor. The number of tourists visiting Alor Regency in 2017 has increased by around 56% from the previous year. Considering the large number of tourists visiting Alor Regency, research is needed to estimate the impact of marine tourism activities on the economy of Alor community. This study aims to analyze the direct, indirect, and continued economic impacts. This study used a multiplier effect analysis to analyze primary and secondary data. Data were collected by structured questionnaires and interview with 50 tourists, 21 entrepreneurs of marine tourism, and 11 workers from business units related to marine tourism. Research location is located in Kalabahi Region, the capital of Alor Regency as a marine tourism center.The analysis showed that the direct economic impact from tourist activities in Kalabahi amounted to IDR.480,000,000 per year and the indirect economic impacts from tourist activities in Kalabahi amountedto IDR 201,600,019 per year, as well as the continued economic impact of marine tourism activities in Kalabahi amounted to IDR 20,250,000 per year. The Keynesian Income Multiplier is 1.72, which means that if there is an increase in tourist spending by 1 IDR, it will have an impact on increasing labor income and business unit owners in tourist sites at about 1.72 IDR. This shows that marine tourism activities in Alor Regency have a positive and significant economic impact on the people of Alor Regency. In the future, it is necessary for Alor government and marine ecotourism entrepreneurs to create tour packages in Alor to increase the length of stay in Alor. Therefore, it will increase the economic impact of marinetourisme on the economy of the local community in Kalabahi, Alor.
RISIKO SOSIAL PENERTIBAN KERAMBA JARING APUNG DI WADUK JATILUHUR Nendah Kurniasari; Tenny Apriliani; Sonny Koeshendrajana; Rizky Aprilian Wijaya
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 15, No 1 (2020): Juni 2020
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (522.58 KB) | DOI: 10.15578/jsekp.v15i1.8363

Abstract

Eksekusi peraturan presiden Nomor 15/2018 di Waduk Jatiluhur melalui penertiban Keramba Jaring Apung (KJA) tidak hanya akan merubah tatanan ekonomi namun juga memiliki risiko sosial bagi masyarakat pemanfaat sumber daya perikanan waduk baik pemanfaat langsung maupun tidak langsung. Makalah ini bertujuan untuk menganalisis risiko sosial yang akan muncul akibat penertiban KJA tersebut. Penelitian dilakukan di Kabupaten Purwakarta pada tahun 2018 dengan menggunakan metode analisis deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa program penertiban KJA di Waduk Jatiluhurakan menghasilkan berbagai risiko sosial. Risiko sosial yang terjadi berupa culture shock masyarakat akibat perubahan pola kehidupan, kohesifitas masyarakat menurun sehingga rentan terhadap konflikhorizontal, hilangnya jaminan sosial, dan berbagai permasalahan demografi. Permasalahan demografi meliputi meningkatnya angka pengangguran, meningkatnya angka putus sekolah, meningkatnya angkakriminalitas, dan mobilitas teritorial berupa migrasi masyarakat keluar daerah. Salah satu alternatif yang dapat dilakukan sebagai upaya untuk menghilangkan risiko sosial dapat dimulai dari menghilangkansumber risiko dengan cara meningkatkan kapasitas masyarakat dalam menciptakan lapangan kerja baru, sosialisasi kebijakan agar masyarakat paham maksud dan tujuan kebijakan, menyediakan fasilitasi berupa rubrik konsultasi untuk menyelesaikan permasalahan sosial masyarakat terdampak. Selain itu perlu juga memperbaiki faktor katalis risiko berupa perbaikan kebijakan dengan mempertimbangkan sumber-sumber risiko berupa kondisi masyarakat, relasi usaha, dan historis pembangunan waduk dilihat dari aspek sosial.Title: Social Risk of Floating Cages Control Programin the Jatiluhur Reservoir fAs the implementation of Presidential Regulation No. 15/2018, the floating nets control in Jatiluhur Reservoir resulted not only in economic disorder but also in social risks for the direct and indirect beneficiaries of the reservoir. This paper aimed to analyzing the social risks as the result of the floating net control. The study was conducted in Purwakarta Regency in 2018 using qualitative descriptive methods. The Floating Nets Control Program in Jatiluhur Reservoir caused a variety of social risks. The social risks were culture shock due to life changes, decreased community cohesion that vulnerable to conflict, loss of social benefit, and demographic issues. The demographic issues included increased numberof unemployment, dropouts, crimes, and migration to outside the region. Some alternative solutions to eliminate these social risks are eliminating the risk sources by increasing community capacity to create new jobs, educating community regarding the objectives of the policies, providing consultation services to help people with solution of these social problems. In addition, it is necessary to fix the risk catalyst factor with policy improvement that consider community condition, business relation, and social aspect of historical reservoir development.
ANALISIS DAMPAK MINAPOLITAN TERHADAP KESEJAHTERAAN MASYARAKAT DI KECAMATAN MUNCAR KABUPATEN BANYUWANGI (Studi Kasus: Desa Tembokrejo dan Kedungrejo) Sri Rahayu Budiani; Putri Kartika Sari; Muthia Hasna Thifaltanti; Regina Lexi Narulita; Reviana Latifah; Prameswari Budi Kusuma; Nourma Linda Isnastuti; Rivan Agung Triawan; Dicky Satria Dwiputra
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 15, No 1 (2020): Juni 2020
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (867.843 KB) | DOI: 10.15578/jsekp.v15i1.7562

Abstract

Kecamatan Muncar Kabupaten Banyuwangi ditetapkan sebagai kawasan Minapolitan diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat baik di dalam kawasan maupun daerah sekitarnya. Masyarakat Desa Kedungrejo dan Tembokrejo mayoritas bekerja pada sektor perikanan, sehingga diasumsikan memiliki dampak langsung dari kebijakan minapolitan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perubahan kondisi sosial dan ekonomi masyarakat Kecamatan Muncar sebelum dan sesudah adanya program minapolitan serta mengetahui tingkat kesejahteraan masyarakat berdasarkan kondisi sosial ekonomi tersebut. Penelitian dilakukan pada 23 hingga 27 September 2018 dengan menggunakan metode kualitatif dari hasil wawancara terhadap beberapa pelaku industri, perangkat desa, kepala TPI, dan beberapa nelayan. Analisis dilakukan secara deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kegiatan perindustrian dan sarana prasarana yang menunjang kegiatan perikanan sudah ada sejak tahun 1990-an. Aspek sumberdaya manusia dari segi pendidikan tidak mempengaruhi perkembangan tingkat produksi ikan, sehingga dengan ditetapkannya Kecamatan Muncar sebagai kawasan minapolitan tidak memberikan pengaruh secara signifikan baik kepada kondisi sosial-ekonomi maupun kesejahteraan masyarakat. Rekomendasi yang perlu diterapkan untuk pengembangan program minapolitan di Kecamatan Muncar dapat dilakukan melalui peningkatan sumberdaya manusia seperti penetapan sekolah yang berisi pembelajaran mengenai perikanan dan kelautan, serta peningkatan infrastruktur pendukung. Kedua aspek tersebut perlu ditunjang oleh aspek komitmen daerah sesuai dengan  Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor: PER.12/MEN/2010 tentang MinapolitanTitle: Analysis of Minapolitan Impact on the Community Welfare  in Muncar Subdistrict Banyuwangi Regency  (Case Study: Tembokrejo and Kedungrejo Villages)Muncar Subdistrict was designated as a Minapolitan area to improve the welfare of the  community both within and surrounding areas. It is assumed that Minapolitan policy gives a direct impact on the major livelihood of Kedungrejo and Tambakrejo people in fisheries sector. This study aims to measure the social and economic changes of Muncar community before and after the Minapolitan program as well as to measure the level of the community welfare based on these socio-economic conditions. The study was conducted on 23 to 27 September 2018 based on interviews with industry players, village officials, heads of fish markets and fishers. Data were analyzed using descriptive qualitative method. The results showed that fisheries industry and its facilities have been existed since 1990s. The education level of its community does not affect the fish production. It means that Minapolitan program has not given significant impact to the socio-economic condition and community welfare. It is recommended to improve the capacity of community through learning material at school concerning fisheries management and marine affairs as well as to increase the supporting infrastructure. These two aspects should be encouraged by regional commitment based on Regulation of Minister of Marine Affairs and No: PER.12/MEN/2010 regarding Minapolitan.
PERSEPSI NELAYAN TERHADAP TEMPAT PEMASARAN IKAN HIGIENIS DI PELABUHAN PERIKANAN SAMUDERA CILACAP Muhammad Rizqi Hasani; Djoko Suprapto; Dian Wijayanto
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 15, No 1 (2020): Juni 2020
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (240.011 KB) | DOI: 10.15578/jsekp.v15i1.7919

Abstract

Kualitas hasil perikanan dipengaruhi oleh kondisi tempat pemasaran ikan di pelabuhan perikanan. Penunjang utama keberhasilan peningkatan mutu di Pelabuhan Perikanan Samudra (PPS) yaitu dengan membuat konsep pemasaran ikan higienis, salah satunya di PPS Cilacap. Pembangunan tempat pemasaran ikan (TPI) higienis PPS Cilacap ini dilandasi oleh Keputusan Direktorat Jendral Perikanan Tangkap (DJPT) no 7 tahun 2017 tentang petunjuk teknis TPI higienis  di pelabuhan perikanan. Tujuan penelitian adalah mengkaji dan mendeskripsikan persepsi  penguna jasa terhadap penerapan tempat pemasaran ikan higienis dengan metode analisis bersifat deskriptif. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa persepsi pengguna jasa terhadap tempat  pemasaran ikan higienis di PPS Cilacap dari aspek fasilitas mayoritas penerapan tinggi yaitu nilainya di atas 146,67, akan tetapi kondisi (lantai, ventilasi, fasilitas/peralatan penunjang pemasaran higienis) beberapa dinilai rendah yaitu kurang dari 93,33 dan fasilitas seperti roller conveyor, cool box, mesin penghancur es (ice crusher) tidak terdapat di PPS Cilacap. Aktivitas bongkar dan pengangkutan juga memiliki rata-rata persepsi dalam penerapan tinggi yaitu nilainya diatas 146,67. Penanganan ikan di TPI higienis PPS Cilacap tidak dilakukan pelelangan, tidak dilakukan pensotiran di meja sortir dan pelabelan. Partisipasi nelayan dalam pemasaran menjadi berkurang akibat tidak diadakannya pelelangan. Oleh karena itu perlu dilakukan perbaikan penerapan, baik fasilitas yang sudah mulai mengalami kerusakan, serta perlunya penambahan fasilitas untuk memperlancar aktivitas.Title: Fishers Perception on Hygienic Fish Market at Cilacap fishing portThe quality of fisheries products subject to condition of the fish market. The key concept of fish quality at Cilacap was fishing port due to the existence of hygienic fish market. Decision Letter of the Director General of Capture Fisheries No.7/2017 regarding the technical guidelines for hygienic fish market at the fishing port has been the basis of the development of hygienic fishing port in Cilacap. This study aimed to asses and describe public perception on the hygienic fish market using a descriptive method. The study showed that public perception on hygienic fish market at Cilacap fishing port was above 146.67 in terms of its facilities. The condition of some facilities (flooring, ventilation, facilities or other equipment that support hygienic marketing) were classified under 93.33, while some equipment such as roller conveyor, cool box, ice crusher were not available at Cilacap fishing port. Unloading and transportation presented a high average perception in the application above 146.67. There are no auction, sorting on the sorting table, and labelling in the fish handling at hygienic fishing port since there is no auction Cilacap. There was a decreased participation of fishers in fish marketing. Therefore, it is necessary to improve application of hygienic fish handling by repairing the damaged facilities and establishing more additional equipment.

Page 1 of 1 | Total Record : 10