cover
Contact Name
Tajerin
Contact Email
marina.sosek@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
marina.sosek@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Buletin Ilmiah Marina : Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan
ISSN : 25020803     EISSN : 25412930     DOI : -
Core Subject : Agriculture, Social,
Buletin Ilmiah Marina Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan merupakan Buletin Ilmiah yang diterbitkan oleh Balai Besar Riset Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan, dengan tujuan menyebarluaskan hasil karya tulis ilmiah di bidang Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan. Artikel-artikel yang dimuat diharapkan dapat memberikan masukan bagi para pelaku usaha dan pengambil kebijakan di sektor kelautan dan perikanan terutama dari sisi sosial ekonomi.
Arjuna Subject : -
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol. 2, No. 2, Tahun 2016" : 5 Documents clear
DAMPAK EKONOMI PEMBERLAKUAN PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN NO. 2 TAHUN 2015 TERHADAP AKTIVITAS USAHA NELAYAN CANTRANG DI KOTA PROBOLINGGO, JAWA TIMUR Siti Hajar Suryawati; Radityo Pramoda
Buletin Ilmiah Marina Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol. 2, No. 2, Tahun 2016
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (713.444 KB) | DOI: 10.15578/marina.v2i2.6300

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dampak ekonomi pemberlakukan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan No. 2 Tahun 2015 terhadap aktivitas usaha nelayan cantrang di Kota Probolinggo, yang meliputi aspek pendapatan, kerugian asset usaha, modal usaha serta mekanisme pemasaran. Metode yang digunakan adalah analisis deskriptif dengan pendekatan Regulatory Impact Assessment (RIA). Data yang digunakan adalah data primer yang diambil pada bulan Mei 2015 dengan teknik wawancara, pencatatan, dan observasi di TPI Mayangan, Kota Probolinggo. Sampel responden diambil secara snowball sampling terhadap pemilik kapal, nakhoda, Anak Buah Kapal (ABK), pedagang, juru timbang, dan kuli angkut. Hasil penelitian menunjukan bahwa nelayan cantrang merupakan kelompok masyarakat yang paling banyak merasakan dampak pemberlakuan Permen KP No. 2 Tahun 2015. Mereka mengalami penurunan pendapatan, kerugian aset usaha yang sudah diinvestasikan, dan kredit macet ke bank. Penelitian dampak ekonomis dari pemberlakuan Permen KP No 2 Tahun 2015, diharapkan dapat dijadikan sebagai dasar pertimbangan implementasi permen tersebut sehingga nelayan cantrang juga tidak menanggung risiko terlalu besar. Tittle:  Economic Impact of Enforcement of Regulation of  The Minister of Marine and Fisheries No. 2 2015 Operating  Activities Against Fishermen in Probolinggo Cantrang, East JavaThe research aims to determine economic impact of implementation of the regulation of Minister of Marine and Fisheries No. 2 of 2015 in Probolinggo City, including revenue aspect, business assets losses aspect, capital aspect, and marketing mechanism. Method of analysis was descriptive analysis and regulatory impact assessments. The research collects primary data during May 2015 by interview techniques, recording and observation in TPI Mayangan, Probolinggo City. Research sample were vessel owners, skippers, crews, traders, interpreter stations, and porters. They taken by snowball sampling method. Results show that cantrang fishermen were group society that feel many impact of implementation of the regulation of Minister of Marine and Fisheries No. 2 of 2015. They experienced a decline in revenues, asset Losses effort is well invested, less credit to the bank. It can be expected as the fundamental basis for the Implementation ot the regulation that the risk of fishermen not too big. 
PREFERENSI MASYARAKAT TERHADAP JENIS IKAN PENEBARAN DI SEKITAR WADUK KEDUNG OMBO, PROVINSI JAWA TENGAH Aisyah Aisyah; Retno Widihastuti
Buletin Ilmiah Marina Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol. 2, No. 2, Tahun 2016
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (493.19 KB) | DOI: 10.15578/marina.v2i2.5925

Abstract

Waduk Kedung Ombo terletak di Propinsi Jawa Tengah memiliki daerah genangan air yang meliputi tiga wilayah administrasi yaitu Kabupaten Grobogan, Boyolali dan Sragen. Introduksi ikan patin siam atau striped catfish (Pangasionodon hypophthalmus, Sauvage, 1878) sejumlah 7470 ekor di  Waduk Kedung Ombo dilakukan melalui Iptek Penebaran Berbasis Budidaya (Culture Based Fisheries,  CBF) pada tahun 2013. Penelitian dilakukan pada tahun 2016 bersamaan dengan kegiatan monitoring dan evaluasi. Pengumpulan data primer terkait preferensi masyarakat terhadap jenis ikan yang akan dan yang sudah ditebar dilakukan dengan wawancara langsung dengan responden menggunakan kuisioner terhadap empat komunitas masyarakat yang berkaitan langsung dengan waduk, yaitu nelayan tangkap, pengumpul ikan, penjual ikan olahan dan masyarakat yang mengkonsumsi ikan. Hasil penelitian menunjukan bahwa sebanyak 36% menyukai jenis patin yang ditebar. Dengan analisis terpisah, jenis lain yang diharapkan ditebar antara lain nila sebanyak 57%, sisanya betutu dan karper. Untukitu, diperlukan beberapa pertimbangan mengenai pemilihan jenis ikan yang akan ditebar. Di samping preferensi masyarakat terhadap jenis ikan tertentu, diperlukan pertimbangan ekologis seperti dampak negatif yang ditimbulkan akibat karakteristik tertentu dari suatu jenis ikan terhadap sumber daya dan habitat di perairan yang akan ditebar Title: Community Preferences Around Ourselves Of Ombo Kedung On Seeding Fish TypesKedung Ombo Reservoir is located in Central Java, covered 3 administrative area include Grobogan District, Boyolali and Sragen. 7470 individu of Striped catfish (Pangasionodon hypophthalmus, Sauvage, 1878) was introduced through culture based fisheries in 2013. Monitoring and evaluation of those introduced activity has done in 2016 by direct observation. Primary data that was collected from this research are community preferences that come from 4 community structure in Kedung Ombo Reservoir, they are fisherman, Pengumpul, Processed fish sellers, people who eat fish (buyer or tourist). The result show that 36% of Striped catfish introduction. Separated analysis between Striped catfish and others fish, Nile, Marble Goby, Common Carp are the other fish choosen by community for stocking in Kedung Ombo Reservoir. 
SERTIFIKAT MUTU SEBAGAI SALAH SATU JENIS HAMBATAN NON TARIF PERDAGANGAN TUNA DAN UDANG: DEFINISI, JENIS DAN PERMASALAHANNYA rismutia hayu deswati; Tajerin Tajerin; Budi Wardono
Buletin Ilmiah Marina Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol. 2, No. 2, Tahun 2016
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (350.939 KB) | DOI: 10.15578/marina.v2i2.4962

Abstract

Indonesia merupakan salah satu negara pengekspor tuna dan udang tertinggi dengan negara tujuan USA, UE dan Jepang. Setiap tahunnya volume ekspor tuna dan udang mengalami peningkatan dengan pasar yang semakin luas. Pada dunia perdagangan internasional dikenal dua jenis hambatan ekspor yaitu hambatan tarif dan non tarif. Di kala berita mengenai hilangnya hambatan tarif sebenarnya di satu sisi meningkatkan jumlah hambatan non tarif yang diberlakukan negara pengimpor. Salah satu jenis hambatan non tarif yang sedang menjadi topik hangat adalah mengenai sertifikat mutu ikan yang terdiri atas berbagai jenis. Tujuan dari penelitian ini untuk memaparkan jenis-jenis sertifikat mutu yang secara sukarela bisa dilengkapi untuk memperluas peluang pasar bagi ekspor tuna dan udang. Hasil penelitian diperoleh bahwa terdapat berbagai jenis sertifikat mutu yang harus dilengkapi eksportir diantaranya SKP, HACCP, BRC, BAP, MSC, ASC dan ISO 22000. Setiap sertifikat mengeluarkan biaya yang mahal dengan jangka waktu berlakunya sertifikat tidak lama antara 1-2 tahun saja. Permasalahan terkait pengurusan sertifikasi mutu jika tidak dibantu oleh Pemerintah Pusat ke depannya akan menjadi hambatan non tarif yang mengancam keberlanjutan usaha pengolahan tuna dan udang yang ada di Indonesia. Oleh karena itu butuh peran serta dan sinergi yang baik antara Pemerintah pusat dan eksportir untuk mengakomodir permasalahan ini.Title: Identification Of Quality Certificate As One Type Of Tuna Tradebarriers To Non Rates And ShrimpIndonesia is one of the highest exporter of tuna and shrimp products with destination markets such as USA, EU and Japan. Each year, the tuna and shrimp export volume increased by an expand broad market. There are two types of export barriers in international trade, tariff and non tariff barriers. Elimination of tariff barriers did not necessarily make reduced international trade barriers, non-tariff barriers actually increased. One of non-tariff barriers is the quality certificates of fish consisting of various types. The purpose of this study to describe the types of voluntary quality certificate can be equipped to expand market opportunities for the export of tuna and shrimp. The result showed that there are different types of quality certificate exporters must have, such as : SKP, HACCP, BRC, BAP, MSC, ASC and ISO 22000. Each certificate is highly cost and  only have a validity period of 1-2 years. Problems related to the maintenance of quality certification if it is not helped by the central government in the future, will become non-tariff barriers that threaten the sustainability of tuna and shrimp processing business in Indonesia. Therefore, need the participation and synergy between the central government and exporter to form a certification body to accommodate a wide range of export certification services.
PERUBAHAN MATA PENCAHARIAN DARI PETANI KE NELAYAN PERIKANAN TANGKAP LAUT DI DESA KANIGORO KECAMATAN SAPTOSARI, KABUPATEN GUNUNGKIDUL Budi Wardono
Buletin Ilmiah Marina Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol. 2, No. 2, Tahun 2016
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (340.475 KB) | DOI: 10.15578/marina.v2i2.4966

Abstract

Telah terjadi perubahan mata pencaharian masyarakat di sepanjang pantai selatan Kabupaten Gunungkidul. Semula, sebagian besar bermata pencaharian sebagai petani, namun sejak tahun 1980-an mulai beralih profesi sebagai nelayan. Perubahan pekerjaan tersebut terjadi sejak masyarakat mendapat pelatihan nelayan di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Baron. Tujuan penelitian untuk mengetahui transformasi pekerjaan dari petani menjadi nelayan, dan peran  perikanan tangkap laut sebagai sumber mata pencaharian utama. Penelitian dilakukan pada bulan Februari sampai dengan Mei 2014, di TPI Ngrenehan, Desa Kanigoro, Kecamatan Saptosari, Kabupaten Gunungkidul. Responden terdiri dari nelayan, Anak Buah Kapal (ABK), pedagang, penyedia bahan bakar minyak (BBM) dan jasa modal usaha (juragan). Hasil analisis menunjukkan bahwa pekerjaan nelayan dilokasi penelitian saat ini memberikan kontribusi utama sebagai sumber pendapatan keluarga. Namun demikian nelayan tidak meninggalkan kegiatan pertanian. Kegiatan pertanian masih tetap dilakukan oleh nelayan dengan memanfaatkan waktu luang setelah bekerja jadi nelayan dan pada saat cuaca buruk. Kegiatan peternakan, dijadikan sebagai sumber tabungan yang akan digunakan untuk biaya pendidikan atau sebagai tabungan untuk sumber permodalan. Pendapatan dari sektor peternakan digunakan untuk investasi baru yaitu memperbaiki/membeli perahu, membeli mesin dan alat tangkap. Title: Transformation livelihood: From Farmers To Fishermen On The Southern Coast, Gunungkidul RegencyHave been changes in the livelihoods of communities along the southern coast of Gunungkidul Regency. Originally, mostly subsistence farmers, but since the 1980s began to change their profession as a fisherman. The job changes have occurred since the community received training fishermen in TPI Baron. Purpose of research to transform the work of farmers become fishermen, and the role of capture fisheries as the main source of livelihood. Research conducted from February to May 2014, in TPI Ngrenehan, Kanigoro, District Saptosari, Gunungkidul Regency. Respondents consisted of fishermen and crew, traders, fuel providers, venture capital services (middlemen). The analysis showed that fishermen work in the location of current research provides a major contribution as a source of family income. However, the fishermen did not leave the farm. Agricultural activities are still carried out by fishermen to use their spare time after work so fishermen and during bad weather. Farming activities, serve as a source of savings that will be used for education or as a source of savings for capital. Revenue from livestock used for new investments is to improve / buy a boat, buy machinery and fishing gear. 
PRINSIP-PRINSIP PENANGGULANGAN KEMISKINAN DI WILAYAH PESISIR UTARA JAWA TENGAH Arif Sofianto
Buletin Ilmiah Marina Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol. 2, No. 2, Tahun 2016
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (290.019 KB) | DOI: 10.15578/marina.v2i2.4679

Abstract

Masyarakat pesisir merupakan salah satu kelompok termiskin. Kebijakan-kebijakan yang telah dilaksanakan di kawasan pesisir sering mengakibatkan beberapa kondisi berupa perusakan ekologi, kesenjangan dan kemiskinan nelayan tradisional, serta ketergantungan masyarakat terhadap pemodal. Penelitian ini bertujuan untuk memahami kebutuhan penanggulangan kemiskinan pada wilayah pesisir sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan masyarakat. Jenis penelitian adalah deskriptif kualitatif. Lokasi penelitian dilaksanakan di Kecamatan Juwana dan Margoyoso di Kabupaten Pati, serta Kecamatan Ulujami di Kabupaten Pemalang. Informan penelitian ini berjumlah 100 orang terdiri dari unsur pemerintah daerah, lembaga masyarakat, koperasi, nelayan, petambak, pengolah hasil perikanan dan petani. Teknik pengumpulan data menggunakan wawancara, FGD dan Observasi. Teknik analisisdata menggunakan model yang dikembangkan oleh Spradley, yang merupakan kesatuan proses linear yang dimulai dari analisis domain, analisis taksonomi, analisis komponensial dan analisis tema budaya.Kesimpulan dari penelitian ini adalah model penanggulangan kemiskinan pada masyarakat pesisir utara Jawa Tengah berupa konsep pemberdayaan yang mengutamakan prinsip a). Komitmen pada keyakinan, nilai, adat kebiasaan, kepentingan bersama, b). Menciptakan keterbukaan, kejujuran, solidaritas dan pelibatan masyarakat. Tittle: Need For Poverty Reduction In North Coastal Areas In Central JavaThe coastal communities is one of the main groups of the poorest. The policies that have been implemented in coastal areas often result in some circumstances as ecological destruction, poverty gap and traditional fishing, as well as public dependence on financiers. This study aims to understand the need to reduce poverty in coastal areas according to the characteristics and needs of the community. This type of research is qualitative descriptive. The location of research in the Juwana and Margoyoso sub district in Pati Regency, and the Ulujami Subdistrict in Pemalang Regency. The informants of 100 people consisting of representatives from local government, community organizations, cooperatives, fishermen, farmers, fishpond farmers, and fish processors. The technique of collecting data using interviews, focus group discussions and observation. Data were analyzed using a model developed by Spradley, which is the unity of a linear process that starts from domain analysis, taxonomic analysis, componential analysis and analysis of cultural themes. The conclusion of this study is a model of addressing poverty in the north coast of Central Java community a concept that promotes empowerment principle a). Commitment to the beliefs, values, customs, common interests, b). Create transparency, honesty, solidarity and community involvement.

Page 1 of 1 | Total Record : 5