cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Zuriat
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol 11, No 2 (2000)" : 5 Documents clear
Pewarisan Karakter Kandungan Klorofil pada Kedelai Neni Rostini; A. Baihaki; R. Setiamihardja; G. Suryatmana
Zuriat Vol 11, No 2 (2000)
Publisher : Breeding Science Society of Indonesia (BSSI) / PERIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/zuriat.v11i2.6673

Abstract

Penelitian bertujuan untuk mempelajari pewarisan kandungan klorofil pada kedelai telah dilakukan di Kebun Percobaaan SPLPP Fakultas Pertanian UNPAD Unit Arjasari sejak Januari 1997 sampai Oktober 1998. Penelitian menggunakan tetua, dua populasi F1, F1 resiprokdan F2. Pengukuran kandungan klorofil menggunakan klorofilmeter Minolta SPAD 502 yang dikonversi dengan persamaan regresi linier sederhana (Y = 0.11496 + 0.05351 X, r2 = 0.94) untuk mendapatkan angka kandungan klorofil mg g-1 daun. Pengamatan dilakukan terhadap kandungan klorofil maksimum (Kmaks), lama kandungan klorofil maksimum (LKmaks) dan retensi klorofil maksimum (RKmaks). Pengaruh sitoplasmatik hanya ditemukan pada LKmaks dan RKmaks. Karakter Kmaks, LKmaks dan RKmaks paling sedikit dikendalikan oleh dua pasang gen inti.
Interaksi Tiga Kultivar Padi dengan Tiga Lokasi Di Sulawesi Selatan M. Zain Kanro; Nasiruddin Amiruddin; M. Basir Nappu
Zuriat Vol 11, No 2 (2000)
Publisher : Breeding Science Society of Indonesia (BSSI) / PERIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/zuriat.v11i2.6674

Abstract

Penelitian dilaksanakan di kabupaten Maros, Pangkep, dan Sidrap Sulawesi Selatan, berlangsung mulai bulan Mei 1996 sampai dengan bulan September 1996. Disusun menurut rancangan acak kelompok faktorial terdiri dari dua factor yaitu kultivar dan dosis pemupukan P, masing-masing dengan tiga ulangan. Kultivar padi yang digunakan adalah Cisadane, Ciliwung, dan Membramo. Taraf pemupukan P yang dicobakan adalah: P2O5 0 kg; 50 kg, dan 100 kg ha-1. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kultivar Membramo sesuai dikembangkan di Maros, Ciliwung di Pangkep, dan Cisadane di Sidrap. Kultivar Membramo mempunyai penampilan hasil yang stabil pada tiga lokasi.
Karakterisasi Kelapa Semi dalam Solo Asal Buol Sulawesi Tengah Ismail Maskromo
Zuriat Vol 11, No 2 (2000)
Publisher : Breeding Science Society of Indonesia (BSSI) / PERIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/zuriat.v11i2.6675

Abstract

Pengumpulan jenis kelapa eksotik dilakukan untuk memperkaya keanekaragaman jenis kelapa sebagai materi genetik dalam perakitan kelapa unggul. Sebelum dikoleksi suatu jenis kelapa perlu diketahui karakteristik morfologinya sebagai informasi dasar untuk pemanfaatan selanjutnya dalam program pemuliaan. Karakterisasi kelapa Solo dilakukan pada bulan Juni tahun 2000 di desa Mokupo Kec. Biau Kab. Buol Sulawesi Tengah. Tujuan penelitian adalah untuk mempelajari karakteristik morfologi kelapa Solo. Tetua kelapa Solo ini berasal dari kepulauan Sulu Philipina, sedangkan populasi F1 berumur kurang lebih 60 tahun dengan jumlah pohon yang terbatas. Pengamatan dilakukan pada populasi F2 yang ditanam pada tahun 1956. Pohon diamati secara acak sebanyak 30 tanaman dari populasi seluas kira-kira 3 ha. Metode pengamatan menggunakan Manual Stantech Cogent / IPGRI. Sebanyak 200 butir benih dikumpulkan, dikemas dan dikirim ke Manado untuk didederkan dan ditanam sebagai koleksi di Kebun Koleksi Plasma Nutfah Kelapa Mapanget Sulawesi Utara. Pengamatan dilakukan terhadap morfologi batang, daun, bunga dan buah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar karakter morfologi batang, daun dan bunga memiliki tingkat variasi yang relative rendah, yaitu dibawah 20%, kecuali karakter tinggi batang, jumlah bunga betina dan panjang tangkai tandan. Karakter komponen buah memiliki tingkat variasi di atas 20%, kecuali tebal daging dan berat kopra/butir. Jumlah bunga betina pertandan cukup banyak dan memiliki buah butiran yang lebih berat dibanding kelapa Genjah pada umumnya, dan kelapa Dalam Afrika Barat (WAT). Nilai rata-rata karakter vegetatif dan generatif kelapa Solo umumnya berada diantara kelapa Genjah dan kelapa Dalam, sehingga dapat diklasifikasikan sebagai kelapa Semi Dalam. Berdasarkan sifat-sifat unggul yang dimiliki seperti cepat berbuah, ukuran buah cukup besar, butiran buah yang berat, populasi yang seragam, ukuran pohon sedang dan pertambahan tinggi pohon yang lebih lambat dibanding kelapa Dalam pada umur yang sama, kelapa Semi Dalam Solo berpotensi sebagai salah satu alternatif tetua dalam perakitan kelapa unggul dan materi pengembangan kelapa rakyat.
An Experiment In Breeding Cut Roses For The Indonesian Highlands D. P. de Vries; , Darliah; Lidwien A.M. Dubois
Zuriat Vol 11, No 2 (2000)
Publisher : Breeding Science Society of Indonesia (BSSI) / PERIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/zuriat.v11i2.6676

Abstract

BIOBREES is a co-operative scientific programme between Indonesia and The Netherlands, of which the rose part aims at breeding cut roses adapted to the tropical highland. Within that scope four direct plant characters of 62 cut rose genotypes in different physiological stages were studied. The genotypes originated from cross-breeding in 1995 and successive selection for cut rose properties in populations at Plant Research International, Wageningen, The Netherlands, in 1996. Plant stages stuAn died were (i) superior adult seedlings in Wageningen in 1996, (ii) clones grafted onto Natal Briar both in Wageningen and Cipanas in 1997. Clonal Plant Research International, Wageningen, Plant Research International, Wageningen, clonal plants in Cipanas had significantly shorter shoots, more thorns, smaller flowers and fewer petals than the adult seedlings in Wageningen. Clonal plants in Wageningen, however, had significantly longer shoots; more thorns, and larger flowers with more petals than the seedlings in Wageningen. Despite differences in level of expression, for each character the absence of genotype-location interaction was ascertained. The expression of characters as influenced by light (both quantitative and qualitative), temperature and cultivation is discussed in relation to selection of cut roses in the temperate zone, which are adapted to the tropical highland.
Identifikasi Jenis-Jenis Rotan Di Taman Nasional Bogani Nani Wartabone, Gorontalo, Sulawesi Utara Hengky Novarianto; Elsje T. Tenda; H. F. Mangindaan; , Miftahurrachman
Zuriat Vol 11, No 2 (2000)
Publisher : Breeding Science Society of Indonesia (BSSI) / PERIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/zuriat.v11i2.6672

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi keanekaragaman jenis-jenis rotan di kawasan Taman Nasional Bogani Nani Wartabone, Gorontalo, Sulawesi Utara. Observasi dilakukan di Kecamatan Suwawa yang merupakan kawasan cagar alam. Jenis-jenis rotan yang dijumpai dicatat dan diidentifikasi berdasarkan karakteristik batang dan daun. Frekuensi setiap jenis rotan ditentukan berdasarkan kepadatan populasi setiap jenis pada beberapa tinggi tempat. Informasi ini akan menggambarkan keadaan jenis dan po pulasi rotan di Kawasan Taman Nasional, dan menduga tingkat erosi genetis rotan. Penelitian dilakukan pada bulan September 2000. Hasil eksplorasi dan identifikasi jenis-jenis rotan di kawasan Taman Nasional Bogani Nani Wartabone dijumpai sebanyak 17 jenis rotan berdasarkan nama lokal. Beberapa diantaranya teridentifikasi dengan nama Latin. Dari 17 jenis rotan ini diperoleh delapan jenis rotan tumbuh berumpun, dan tujuh jenis tumbuh tunggal. Jenis rotan yang paling dominan penyebarannya adalah rotan Batang (Calamus zollingeri) dan rotan Susu (Daemonorops sp.). Keragaman karakter antar jenis rotan diperlihatkan oleh karakteristik batang yaitu panjang ruas buku dan diameter batang. Diameter batang terbesar ditemukan pada jenis rotan Batang (4.7 cm) dan Tikus (0.8 cm). Keragaman daun diperlihatkan oleh karakter panjang rachis dan petiole, jumlah pinak daun, dan panjang serta lebar pinak daun. Hasil penelitian jumlah dan jenis rotan pada beberapa tinggi tempat diperoleh bahwa pada 100 m dpl hanya ditemukan dua jenis rotan, yaitu rotan Batang dan Susu, kemudian pada 200 m dpl dijumpai empat jenis rotan, yakni rotan Batang, Susu, Tohiti, dan Topalo, dan di atas 300 m dpl. dijumpai lima jenis rotan, yaitu rotan Batang, Susu, Tohiti, Maneaku, dan Siombu. Keadaan ini memperlihatkan telah terjadi erosi genetis rotan di Kawasan Taman Nasional ini, dan perlu perencanaan serta tindakan pengembangan rotan kembali untuk konservasi in situ.

Page 1 of 1 | Total Record : 5