cover
Contact Name
Rutler Papianaung Masalamate
Contact Email
rutler.masalamate@gmail.com
Phone
+628114341184
Journal Mail Official
rutler.masalamate@gmail.com
Editorial Address
MANIBANG 2 MANIBANG 2
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
Jurnal Sinaps
ISSN : 26152002     EISSN : 26152002     DOI : -
Sinaps: Jurnal Neurologi Manado (Nomor ISSN online 2615-2002)adalah Jurnal terbitan dari Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Cabang Manado dan Bagian/KSM Neurologi FK Unsrat/RSUP Prof. Dr. R.D Kandou Manado
Arjuna Subject : Ilmu Syaraf - Neorologi
Articles 85 Documents
EVALUASI PENGGUNAAN OBAT PADA PASIEN STROKE YANG DIRAWAT DI RSUP PROF.DR.R.D. KANDOU MANADO Edward Nangoy; Instiaty .; Sulistia Gan; Junita Maja Pertiwi; Corry Novita Mahama
Jurnal Sinaps Vol. 1 No. 3 (2018): volume 1 Nomor 3, September 2018
Publisher : Neurologi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (338.723 KB)

Abstract

ROTATOR CUFF SYNDROME Arthur Mantiri; Gabriella Kambey; Sekplin A. S. Sekeon
Jurnal Sinaps Vol. 1 No. 3 (2018): volume 1 Nomor 3, September 2018
Publisher : Neurologi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (424.096 KB)

Abstract

Rotator cuff adalah kelompok otot yang berfungsi memelihara stabilitas aktif sendi glenohumeralis yang sekaligus sebagai penggerak sendi. Sakit pada “rotator cuff” dapat disebabkan oleh trauma, infeksi, metabolisme, neoplasma, atau kongenital. Penatalaksanaan yang dapat dilakukan adalah istirahat dan modifikasi aktivitas, terapi dingin, dan penggunaan NSAID. Pembedahan dapat dilakukan jika terapi konservatif gagal. Prognosis baik tapi mulai memburuk seiring dengan jalannya usia. Kata kunci: Rotator cuff syndrome
MIXED PAIN Trilaxmi Ivon Sinda; Richard Kristanto Kati; Debora Monica Pangemanan; Sekplin A. S. Sekeon
Jurnal Sinaps Vol. 1 No. 3 (2018): volume 1 Nomor 3, September 2018
Publisher : Neurologi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (300.753 KB)

Abstract

Mixed pain merupakan suatu nyeri yang melibatkan kedua mekanisme gabungan nosiseptif dan neuropatik. Mixed pain biasanya berasal dari nyeri kronis dan erat kaitannya dengan nyeri kanker, cervical root syndrome, nyeri punggung bawah dengan radikulopati, dan carpal tunnel syndrome. Adanya unsur dari masing-masing nyeri nosiseptif dan nyeri neuropatik membuat mixed pain memerlukan pendekatan yang berbeda seperti cara mendiagnosis dan tatalaksana. Pada pasien dengan mixed pain, pendekatan yang tercantum pada panduan NICE (The National Institute for Health and Clinical Excellence) diperlukan untuk mencakup semua aspek nyeri pasien. Komplikasi yang mungkin terjadi dibagi menjadi dua, yaitu komplikasi hormonal dan komplikasi neuropsikiatri. Prognosis dari mixed pain bergantung dari penyebabnya. Simpulan: Mixed pain merupakan kombinasi dari nyeri nosiseptif dan nyeri neuropatik. Penyebab dari mixed pain dapat ditentukan melalui anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang. Penyebab dari mixed pain penting diketahui untuk menentukan tatalaksana dan prognosis. Kata kunci: saraf, nyeri, mixed pain, analgesik
SCALP ACUPUNCTURE SEBAGAI TERAPI LAGOPHTHALMOS PADA BELL’S PALSY KRONIK: USING SCALP ACUPUNCTURE FOR TREATING LAGOPHTHALMOS IN CHRONIC BELL’S PALSY Eric Hartono; Budi Oetomo
Jurnal Sinaps Vol. 1 No. 3 (2018): volume 1 Nomor 3, September 2018
Publisher : Neurologi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (551.59 KB)

Abstract

Latar Belakang: Scalp acupuncture sering digunakan dalam rehabilitasi paralisis karena stroke, multiple sclerosis, bell palsy, kecelakaan mobil, dan penyakit Parkinson. Laporan Kasus: Laki-laki 54 tahun datang dengan keluhan utama wajah sisi kanan kesemutan dan terasa lemah secara progresif sejak 1 bulan yang pertama kali dirasakan saat bagun tidur wajah sebelah kanan seperti turun dan tidak dapat menutup mata kanannya. Diskusi: Dalam teori TCM, Bell's palsy dikaitkan dengan blok- blok aliran chi pada meridian Yang Ming dan Shao Yang. Gejala yang terkait dengan sindrom ini termasuk kelemahan otot-otot wajah dan mengarah ke gejala khas Bell's palsy. Perawatan dilakukan dengan tusukan titik-titik spesifik dalam meridian ini untuk mengembalikan aliran chi, yang idealnya meningkatkan pemulihan dari kondisi. Kesimpulan: Laporan ini menyajikan kasus seorang pria berusia 54 tahun dengan gejala sisa kronis dari Bell's palsy yang melaporkan hasil yang baik setelah perawatan chiropraktik, olahraga, dan akupunktur gabungan. Kata kunci: Bell’s Palsy, Erosi Kornea, Lagophthalmos, Akupunktur ABSTRACT Background: Scalp acupuncture areas are frequently used in the rehabilitation of paralysis due to stroke, multiple sclerosis, bell’s palsy, automobile accident, and Parkinson's disease. Case Report: A 54th-years-old man complaining of right-sided facial numbness and weakness progressively for 1 month. He reawakened in the morning to right-sided facial droop, inability to close right eye and numbness to the right side of his face. Discussion: In TCM theory Bell’s palsy is associated with blocks to the flow of chi of the Yang Ming and Shao Yang meridians, which cause a syndrome labeled Wind-Phlegm. Symptoms associated with this syndrome include weakness of the facial muscles and lead to the characteristic symptoms of Bell’s palsy. Treatment is accomplished by the needling of specific points in these meridians to restore the flow of chi, which ideally enhances recovery from the condition . Conclussion: This report presents the case of a 54 year-old male with chronic sequelae from Bell’s palsy who reported good results after combined chiropractic, exercise and acupuncture treatments. Keywords: Bell’s Palsy, Corneal Erosion, Lagophthalmos, Scalp Acupuncture
POLA PENATALAKSANAAN NYERI NEUROPATIK DI PUSAT PELAYANAN KESEHATAN PRIMER DI KOTA BANDA ACEH: THE PATTERN OF NEUROPATHIC PAIN MANAGEMENT AT PRIMARY HEALTH CARE IN BANDA ACEH Dessy Rakhmawati Emril; Alyani Akramah Basar; Desiana Desiana; Hendra Kurniawan
Jurnal Sinaps Vol. 1 No. 3 (2018): volume 1 Nomor 3, September 2018
Publisher : Neurologi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (460.786 KB)

Abstract

ABSTRAK Nyeri neuropatik adalah nyeri yang disebabkan karena adanya lesi atau gangguan primer pada susunan saraf. Nyeri neuropatik ditemui pada kasus-kasus seperti neuropatik DM, trigeminal neuralgia, post herpetic neuralgia, pasca stroke, pasca trauma, neuropatik HIV, radikulopati, phantom limb pain dan lain sebagainya. Golongan obat anti konvulsan dan anti depressan dapat digunakan sebagai pengobatan lini pertama dan pengobatan lini kedua diterapi dengan obat golongan anagesik opioid seperti morfin atau tramadol.Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui pola penatalaksanaan nyeri neuropatik yang dilakukan oleh dokter umum di pusat pelayanan kesehatan primer di Kota Banda Aceh. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan cross sectional survey dan telah dilakukan pada oktober – november 2014 dengan jumlah responden 72 dokter praktik umum. Hasil penelitian didapatkan seluruh dokter pernah menangani kasus nyeri neuropatik, dan 87,5% dokter pernah menangani kasus nyeri neuropatik DM, dan kasus yang paling sedikit pernah ditangani adalah neuropatik HIV. Golongan obat yang paling banyak dipilih yaitu 91,7% memilih golongan NSAID dan hanya 51,4% dokter pernah menggunakan golongan anti konvulsan sebagai terapi nyeri neuropatik. Sebanyak 40,3% dokter pernah menggunakan golongan analgesik opioid sebagai terapi nyeri dan hanya 4,2% responden yang sering menggunakannya di pusat layanan kesehatan primer di Kota Banda Aceh. Kata Kunci : Nyeri neuropatik, dokter layanan primer, terapi nyeri neuropatik ABSTRACT Neuropathic pain is pain that is caused by a lesion or a primary disorder of the nervous system. Neuropathic pain encountered in cases such as neuropathic DM, trigeminal neuralgia, post-herpetic neuralgia, post-stroke, post-traumatic, neuropathic HIV, radiculopathy, phantom limb pain, and so forth. Drug classes anticonvulsants and anti-depressants can be used as first-line treatment and second-line treatment were treated with drugs known as opioids such as morphine anagesik or tramadol. The purpose of this study was to determine the pattern of neuropathic pain management performed by general practitioners in primary health care centers in Banda Aceh. This research is a descriptive cross sectional survey has been done in October - November 2014, with the number of respondents 72 general practitioners. The results showed all doctors had handled the case of neuropathic pain, and 87.5% of physicians had one case of DM neuropathic pain, and the fewest cases ever handled was neuropathic HIV. Classes of drugs most widely chosen that 91.7% chose NSAID group and only 51.4% of physicians have used class of anticonvulsants in the treatment of neuropathic pain. As pain therapy obtained 40.3% of physicians have used class of opioid analgesics and only 4.2% of respondents who are often use in primary health care centers in Banda Aceh. Keywords : Neurpathic pain, primary care physician, treatment of neuropathic pain
GAMBARAN TEKANAN DARAH PADA PASIEN STROKE HEMORAGIK DENGAN DIABETES MELITUS DAN NON DIABETES MELITUS DI BAGIAN SARAF RUMKITAL DR.RAMELAN SURABAYA: BLOOD PRESSURE DESCRIPTION ON HEMORRHAGIC STROKE PATIENTS WITH DIABETES MELLITUS AND WITHOUT DIABETES MELLITUS AT NEUROLOGY DEPARTMENT OF DR. RAMELAN NAVAL HOSPITAL SURABAYA Eric Hartono; Meilinda Puspitasari; Olivia Adam
Jurnal Sinaps Vol. 2 No. 1 (2019): volume 2 Nomor 1, Februari 2019
Publisher : Neurologi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (232.854 KB)

Abstract

Latar Belakang: Stroke merupakan penyebab kematian terbanyak di Indonesia. Tekanan darah dan diabetes melitus merupakan faktor penyebab terjadinya stroke yang dapat diubah.Metode: Penelitian ini menggunakan desain penelitian deskriptif dengan metode studi prevalensi, dengan menggunakan data sekunder yang didapat melalui rekam medis pada bulan Januari-November 2015. Hasil: Pada pasien stroke hemoragik dengan diabetes melitus yang tekanan darahnya normal sejumlah 7.14%, prehipertensi sejumlah 7.14%, hipertensi stage 1 sejumlah 21.43%, dan stage 2 sejumlah 64.29%. Sedangkan pada non diabet, tekanan darah normal sejumlah 4.54%, prehipertensi sejumlah 9.09%, hipertensi stage 1 sejumlah 13.64%, dan stage 2 sejumlah 72.73%. Kesimpulan: Penelitian ini menyimpulkan bahwa pada pasien stroke hemoragik dengan diabetes mellitus dan non diabetes mellitus di ruang rawat inap Rumkital Dr.Ramelan yang memiliki tekanan darah paling banyak adalah pada kelompok hipertensi stage 2. Kata kunci :stroke hemoragik, tekanan darah, diabetes melitus. ABSTRACT Background: Stroke is the most cause of death in Indonesia. Blood pressure and diabetes mellitus were suggested as the modifiable risk factor of hemorrhagic stroke. Method: It is used the descriptive design with prevalence studies method by using secondary data those were taken from the medical record since January until November 2015. Result: On hemorrhagic stroke patients with diabetes mellitus who have normal blood pressure were 7.14%, prehypertension were 7.14%, hypertension stage 1 were 21.43%, and stage 2 were 64.29%. Meanwhile on the patients without diabetes mellitus, who have normal blood pressure were 4.54%, prehypertension were 9.09%, hypertension stage 1 were 13.64%, and stage 2 were 72.73%. Conclusion: This study shows that hemorrhagic stroke patients with diabetes mellitus or without diabetes mellitus at Neurology wards Dr.Ramelan Navy Hospital Surabaya who have the hypertension stage 2 are the most. Keywords: hemorrhagic stroke, blood pressure, diabetes mellitus
ANALISIS BIAYA SATUAN PASIEN MENINGITIS TUBERKULOSIS YANG DIRAWAT INAP DI RSUP PROF. DR. R. D. KANDOU MANADO: UNIT COST ANALYSIS OF TUBERCULOUS MENINGITIS PATIENTS ADMITTED IN R.D. KANDOU HOSPITAL MANADO Anugrah Febriantama; Sekplin A.S Sekeon; Edward Nangoy; Christoffel M.O Mintardjo; Arthur H.P Mawuntu
Jurnal Sinaps Vol. 2 No. 1 (2019): volume 2 Nomor 1, Februari 2019
Publisher : Neurologi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (186.577 KB)

Abstract

Latar Belakang:Meningitis tuberkulosis (TB) banyak ditemukan di Indonesia dan perawatan pasiennya memerlukan biaya yang cukup besar. Untuk uji diagnostik awal, World Health Organization merekomendasikan pemeriksaanXpert MTB/Rif cairan serebrospinal. Namun demikian, analisis biaya satuan belum pernah dilakukan untuk kasus ini di RSUP. Prof. dr. R.D Kandou (RS RDK).Kami hendakmengetahui biaya satuan pasien meningitis TB di RS RDK, tanpa dan dengan menggunakan pemeriksaanXpert MTB/Rif. Metode: Dilakukan analisis biaya satuan dengan metode satu langkah.Biaya langsung dihitung dengan melihat data rekam medis dan billing system pasien meningitis TB nonoperatif yang dirawat inap di RS RDK tahun 2017.Biaya tidak langsung diestimasi dari hasil wawancara metode semi-structured interview pada responden yang sesuai. Biaya satuan dihitung dari penjumlahan rerata biaya dari setiap komponen biaya yang ditemukan. Dicatat juga biayakomponen tertinggi dan terendah masing-masing. Hasil: Didapatkan 25 subjek yang memenuhi kriteria penelitian. Persentase laki-laki 60% dengan rerata usia 46tahun dan rerata lama rawat adalah 12 hari. Biaya satuan langsung adalah Rp.14.779.178 dan biaya satuan tidak langsung Rp. 3.369.767. Biaya pemeriksaan Xpert MTB/Rif di RS RDK ditanggung oleh pemerintah tetapi pemeriksaan dari sampel cairan serebrospinal belum dapat dikerjakan. Kesimpulan: Biaya satuan meningitis TB di RS RDK lebih besar dari paket Indonesian Case-Based Group dengan selisih Rp. 1.564.278. Pemeriksaan Xpert MTB/Rif tidak dikenakan biaya sehingga perbedaannya dapat diabaikan. Kata kunci: Meningitis tuberkulosis, biaya satuan, Xpert MTB/Rif, Manado. ABSTRACT Background: Tuberculous (TB) meningitis is commonly seen across Indonesia and its treatment requires a huge cost. World Health Organization recommends the utilization of Xpert MTB/Rif from the cerebrospinal fluid as the initial diagnostic test. However, the unit cost analysis for this case has never been done in Kandou Hospital. We intend to find out the unit cost of TB meningitis patient in R.D. Kandou Hospital, without and with the utilization of Xpert MTB/Rif. Method: We performed a unit cost analysis using the simple distribution method. Direct cost was calculated from medical record and billing system data of nonsurgical TB meningitis patients admitted in Kandou Hospital in the year 2017. Indirect cost was estimated from the result of interviews using the semi-structured interview method on appropriate respondents. Unit cost was calculated from the sum of average costs from each cost component found. The highest and lowest cost for each cost component were also recorded. Result: We found 25 eligible subjects. The male percentage was 60% with average age 46 years old and average length of stay 12 days. The direct unit cost was Rp. 14.779.178 and the indirect unit cost was Rp. 3.369.767. The cost of the Xpert MTB/Rif examination was paid by the government, but the cerebrospinal fluid sample was still unable to be tested. Conclusion: The unit cost of TB meningitis in Kandou Hospital was higher than the Indonesian Case-Based Group package with Rp. 1.564.278 cost difference. The Xpert MTB/Rif examination was not charged so the difference is negligible. Keywords: Tuberculous meningitis, unit cost, Xpert MTB/Rif, Manado.
GAMBARAN FUNGSI KOGNITIF PADA LANJUT USIA DI KELURAHAN MAASING KECAMATAN TUMINTING Mutiara Toreh; Junita Maja Pertiwi; Finny Warouw
Jurnal Sinaps Vol. 2 No. 1 (2019): volume 2 Nomor 1, Februari 2019
Publisher : Neurologi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (289.588 KB)

Abstract

Latar Belakang:Jumlah penduduk lanjut usia yang terus meningkat dapat menimbulkan masalah kesehatan seperti gangguan fungsi kognitif dan dapat di periksa dengan pemeriksaan Montreal Cognitive Assessment versi Indonesia (INA MoCA) dan Trail Making Test (TMT). Tujuan: Mengetahui gambaran fungsi kognitif pada lanjut usia di Kelurahan Maasing Kecamatan Tuminting. Metode:Penelitiandeskriptif dengan metode crosssectional, dilaksanakan bulan Oktober-November 2018 bertempat di Kelurahan Maasing Kecamatan Tuminting.Hasil: Dari penelitian diperoleh 50 orang yang memenuhi kriteria inklusi. Pemeriksaan Ina MoCA menunjukkan 92% lanjut usia mengalami penurunan fungsi kognitif, pada pemeriksaan TMT-A menunjukkan 96% lanjut usia terganggu dan pada TMT-B menunjukkan 100% lanjut usia terganggu. Kelompok lanjut usia yang paling menunjukkan penurunan fungsi kognitif yaitu jenis kelamin laki-laki, usia 60-74 tahun dan 75-90 tahun, jenis pekerjaan nelayan dan IRT, tingkat pendidikan SMA dan SD, lanjut usia dengan riwayat hipertensi menunjukkan penurunan fungsi kognitif 97% dan lanjut usia dengan riwayat diabetes melitus menunjukkan penurunan fungsi kognitif 75% pada Ina MoCA dan 100% pada TMT. Kesimpulan:Dari hasil penelitian menunjukkan 92% lanjut usia mengalami penurunan fungsi kognitif pada pemeriksaan Ina MoCA dan pada TMT-A 96% terganggu, pada TMT-B 100% terganggu. Kata kunci : Lanjut usia, fungsi kognitif, Ina MoCA, TMT-A, TMT-B Abstract Background: The increasing number of elderly people can cause health problems such as impaired cognitive function. Impaired cognitive function can be examined by Montreal Cognitive Assessment Indonesian Version (Ina MoCA) examination and Trail Making Test (TMT). Objective: Knowing overview of cognitive function in elderly at Maasing sub-district Tuminting district. Methods:The descriptive research with cross sectional method, was conducted in October-November 2018 held at Maasing sub-district Tuminting district. Results:From the research gained 50 people who met the inclusion criteria. Ina MoCA examination showed 92% elderly people had decline in cognitive function, on the TMT-A showed 96% elderly people disturbed and on the TMT-B showed 100% elderly people disturbed. The elderly people group showed the most decline in cognitive function that is male gender, age of 60-74 years and 75-90 years, the type of work fishermen and housewives, high school and elementary school level. Elderly people with a history of hypertension showed a decline in cognitive function 97% and elderly people with a history of diabetes mellitus showed a decline in cognitive function 75% on the Ina-MoCA and 100% on the TMT.Conclusion: Based on the result showed 92% elderly people had decline in cognitive function on the Ina MoCA and on the TMT-A 96% disturbed, on the TMT-B 100% disturbed. Keywords :Elderly people, cognitive function, Ina MoCA, TMT-A, TMT-B
HAEMORRHAGE INTRACEREBRAL SPONTAN SETELAH HEMODIALISIS: SPONTANEOUS INTRACEREBRAL HAEMORRHAGE AFTER HAEMODIALYSIS Ronny Yoesyanto; Andika Surya Atmadja
Jurnal Sinaps Vol. 2 No. 2 (2019): volume 2 Nomor 2, Juni 2019
Publisher : Neurologi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (254.834 KB)

Abstract

Haemodialysis (HD) is one of therapy for patient with chronic renal failure. During HD, patient will be given heparin in certain dose to prevent blood clotting. The using of heparin will increase the risk of intracranial bleeding, although it rarely occur. A 60 year old man suddenly got tonic clonic seizure for about 30 seconds right after he finished his routine HD. It was his first seizure. During the seizure, the patient lost his consciousness but the patient regain his consciousness after the seizure stopped. After the seizure, he has an anterograde amnesia.
GAMBARAN SIKAP GURU SD DAN SMP TERHADAP EPILEPSI: OVERVIEW OF THE ATTITUDE OF THE ELEMENTARY SCHOOL TEACHER AND MIDDLE SCHOOL ABOUT EPILEPSY vivi cornelis; Herlyani Khosama
Jurnal Sinaps Vol. 2 No. 2 (2019): volume 2 Nomor 2, Juni 2019
Publisher : Neurologi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (118.811 KB)

Abstract

Epilepsi adalah salah satu kelainan di otak yang kronik yang paling banyak terdapat pada anak-anak. Kelainan ini menimbulkan stigma negatif pada masyarakat, sehingga menyebabkan adanya diskriminasi terhadap para penderitanya. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan skala sikap masyarakat terhadap epilepsi yang dibagi menjadi dua macam pertanyaan yaitu pertanyaan umum yang hanya membutuhkan pertimbangan yang minimal dan pertanyaan pribadi yang membutuhkan pertimbangan yang lama. Makin rendah nilai rerata mengindikasikan makin posotif sikap terhadap epilepsy. Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk mengetahui sikap guru terhadap epilepsi dengan menggunakan skala kuantitatif. Dengan adanya pengetahuan para guru terhadap epilepsi dapat memberikan contoh bagi para murid bagaimana bersikap terhadap orang dengan epilepsy. Ini merupakan penelitian potong lintang yang dilakukan di Manado dan di lakukan setelah mendapat ijin dari yayasan sekolah Eben Heaser Manado. Penelitian ini menunjukkan sikap guru terhadap orang dengan epilepsi di Manado lebih negatif dibandingkan dengan di tempat lain. Mengapa demikian, dibutuhkan penelitian lebih lanjut dengan memasukkan berbagai faktor yang mempengaruhi sebagai faktor yang memperngaruhi sikap guru terhadap epilepsy Kata kunci: Epilepsi, anak-anak Abstract Epilepsy is one of the most common abnormalities in the brain in children. This disorder creates a negative stigma in the community, causing discrimination against sufferers. This research was conducted using a scale of community attitudes towards epilepsy which is divided into two kinds of questions, namely general questions that only require minimal consideration and personal questions that require long consideration. The lower the average value indicates the more positive attitude towards epilepsy. The purpose of this study was to determine the attitudes of teachers towards epilepsy using a quantitative scale. With the knowledge of teachers about epilepsy can provide an example for students how to behave towards people with epilepsy. This is a cross-sectional study conducted in Manado and was carried out after obtaining permission from the Eben Heaser Manado school foundation. This study shows the teacher's attitude towards people with epilepsy in Manado is more negative than elsewhere. Why is that, further research is needed by including various influencing factors as factors that influence teacher attitudes towards epilepsy Keywords: Epilepsy, children