cover
Contact Name
Rutler Papianaung Masalamate
Contact Email
rutler.masalamate@gmail.com
Phone
+628114341184
Journal Mail Official
rutler.masalamate@gmail.com
Editorial Address
MANIBANG 2 MANIBANG 2
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
Jurnal Sinaps
ISSN : 26152002     EISSN : 26152002     DOI : -
Sinaps: Jurnal Neurologi Manado (Nomor ISSN online 2615-2002)adalah Jurnal terbitan dari Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Cabang Manado dan Bagian/KSM Neurologi FK Unsrat/RSUP Prof. Dr. R.D Kandou Manado
Arjuna Subject : Ilmu Syaraf - Neorologi
Articles 85 Documents
GAMBARAN GANGGUAN FUNGSI KOGNITIF PADA PENDERITA DM TIPE 2 DI MANADO: GAMBARAN GANGGUAN FUNGSI KOGNITIF PADA PENDERITA DM TIPE 2 DI MANADO Dennis Samuel Torindatu; Junita Maja Pertiwi; Herlyani Khosama
Jurnal Sinaps Vol. 3 No. 1 (2020): Volume 3 Nomor 1, Februari 2020
Publisher : Neurologi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (328.996 KB)

Abstract

Latar Belakang : DM Tipe 2 dapat menyebabkan gangguan kognitif. Penurunan fungsi kognitif pada penderita DM tipe 2 dapat berimplikasi kepada ketaatan penanganan dan rejimen obat-obatan. Tujuan : melihat gambaran gangguan kognitif pada penderita DM Tipe 2. Metode : penelitian ini menggunakan penelitian observasional analitik potong lintang. Pasien DM tipe 2 di poli Saraf dan poli Endokrin-Metabolik RS RDK yang memenuhi criteria inklusi dilakukan pemeriksaan InaMOCA. Analisis statistik dilakukan menggunakan perangkat lunak software statistic R versi 3.5.2. Hasil : Sebanyak 70 sampel dimasukkan dalam penelitian ini, 42 orang (60%) memiliki gangguan fungsi kognitif. Median skor InaMOCA 24 dengan domain fungsi kognitif yang paling banyak terganggu adalah memori (91,43%) dan bahasa (75,71%). Pada determinan, variable Indeks Massa Tubuh, Kolesterol dan LDL memiliki hubungan terhadap fungsi kognitif walaupun masih sulit ditegakkan pada level univariat karena nilai RO mendekati 1. Ditemukan albumin pada penelitian ini memberikan efek protektif terjadinya gangguan fungsi kognitif pada penderita DM tipe 2. Kesimpulan : sebanyak 42 orang (60%) memiliki gangguan fungsi kognitif dengan domain memori dan bahasa yang paling banyak terganggu. Albumin memberikan efek protektif terhandap gangguan fungsi kognitif pada penelitian ini. Kata Kunci : Gangguan fungsi kognitif , DM tipe 2, InaMOCA, Manado
EXTRAPYRAMIDAL SYNDROME: EXTRAPYRAMIDAL SYNDROME Nadya N. Rompis; Arthur H.P. Mawuntu; Maria Th. Jasi; Rizal Tumewah
Jurnal Sinaps Vol. 3 No. 1 (2020): Volume 3 Nomor 1, Februari 2020
Publisher : Neurologi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (220.005 KB)

Abstract

Dopamine receptor blocking agents (DRBAs), better known as antipsychotics, are drugs widely used to treat psychotic disorders. This class of drugs could cause an adverse effect consist of akathisia, dystonia, parkinsonism, and tardive dyskinesia, which is known as extrapyramidal syndrome or EPS. The first-generation antipsychotics or typical antipsychotics cause a more severe form of EPS than the second-generation antipsychotics or atypical antipsychotics. EPS is a complication that should be recognized in anti-psychotic therapy. Efforts should also be done in order to reduce the risk of EPS and performing an optimal treatment in EPS cases. This manuscript focuses in discussing the patho-mechanism, clinical features, and treatment of EPS.   Keywords: extrapyramidal syndrome, anti-psychotic, patho-mechanism, clinical features, treatment.   ABSTRAK Dopamine receptor blocking agents (DRBAs) yang lebih dikenal sebagai antipsikotik, adalah obat yang banyak digunakan untuk mengobati gangguan psikotik.  Golongan obat ini menyebabkan risiko efek samping berupa akatisia, distonia, parkinsonisme, dan diskinesia tardif, yang dikenal sebagai sindrom ekstrapiramidal atau EPS. Antipsikotik generasi pertama atau antipsikotik tipikal, menyebabkan bentuk EPS yang lebih berat dibandingkan antipsikotik generasi kedua atau antipsikotik atipikal. Sindrom ekstrapiramidal merupakan penyulit yang harus dikenali dalam terapi antipsikotik. Perlu dilakukan berbagai upaya untuk mengurangi risiko EPS serta melakukan penatalaksanaan yang optimal pada kasus EPS. Tulisan ini terutama membahas patomekanisme, gambaran klinis, dan penatalaksanaan EPS.   Kata kunci: sindrom ekstrapiramidal antipsikotik, patomekanisme, gambaran klinis, penatalaksanaan.
LAPORAN KASUS: SUATU KASUS TERDUGA NEUROSISTISERKOSIS DENGAN GAMBARAN SISTISERKUS MULTISTADIUM PADA SEORANG LAKI-LAKI DARI PAPUA, INDONESIA: CASE REPORT: A SUSPECTED NEURCYSTICERCOSIS CASE WITH MULTI-STAGE CYSTICERCUS IN A MALE FROM PAPUA, INDONESIA Kennytha Yoesdyanto; Jeffrey James Suatan; Junita Maja Pertiwi; Rizal Tumewah; Roosje C. Kotambunan; Arthur H.P. Mawuntu
Jurnal Sinaps Vol. 3 No. 1 (2020): Volume 3 Nomor 1, Februari 2020
Publisher : Neurologi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (213.703 KB)

Abstract

Introduction: Neurocysticercosis is a parasitic infection of the central nervous system due to the Taenia solium. Although it is rarely found in Manado, the case of migrants from endemic areas must always be considered. Management of neurocysticercosis must be done with caution, especially with anthelmintic administration, because it can cause clinical deterioration. Case Report: Male, 22 years old, originally from Papua, came with chief complaint of focal seizures that first occurred a year ago and was last occurred one month ago. The patient has a history of eating undercooked pork. Physical examinations were within normal limits. On neurobehavior examination, frontal lobe disorders were found. CT scan of the head showed a suggestive image of multi-stadium neurocysticercosis. A probable diagnosis of neurocysticercosis was then made. Patient was given albendazole 200 mg per 12 hours and phenytoin 100 mg per 12 hours. During one month of treatment there were no fever, seizure nor headaches. However, during control of neurobehavior examination, frontal lobe disorders were still found. Discussion: Seizures and executive function impairment are the clinical manifestations of neurocysticercosis found in this patient. Imaging results indicate lesions that are suggestive of neurocysticercosis but a definitive diagnosis cannot be made. Administration of anthelmintic is still controversial, including in this case, due to a multi-stadium stage. However, anthelmintic administration in this patient did not show any worsening until one month after therapy. Conclusion: In patients who have neurological imaging and appropriate clinical features accompanied by risk factors, the diagnosis of neurocysticercosis needs to be considered first because of the limited diagnostic facilities. In multi-stadium neurocysticercosis, anthelmintic therapy can be administered by taking into account the risk of clinical deterioration. Keywords: Neurocysticercosis. Abstrak Pendahuluan: Neurosistiserkosis merupakan infeksi parasitik susunan saraf pusat akibat parasit Taenia solium. Meskipun sudah jarang ditemukan di Manado tetapi kasusnya pada pendatang dari daerah endemik harus selalu dipertimbangkan. Penatalaksanaan neurosistiserkosis harus dilakukan secara berhati-hati, terutama pemberian antelmentik, karena dapat menyebabkan perburukan klinis. Laporan Kasus: Seorang laki-laki, berusia 22 tahun, berasal dari Papua, datang ke klinik kami dengan keluhan kejang fokal yang terjadi sejak satu tahun yang lalu dan terakhir dirasakan satu bulan lalu. Pasien memiliki riwayat kebiasaan memakan daging babi yang kurang matang. Pemeriksaan fisik dalam batas normal. Pada pemeriksaan neurobehavior didapatkan gangguan lobus frontalis. Pemeriksaan CT scan kepala memperlihatkan gambaran yang sugestif neurosistiserkosis multistadium. Dibuat diagnosis probabel neurosistiserkosis. Pasien diberikan albendazol 200mg per 12 jam dan fenitoin 100mg per 12 jam. Selama satu bulan pengobatan tidak ditemukan demam, kejang, dan nyeri kepala. Namun demikian pemeriksaan neurobehaviour kontrol tetap menunjukkan gangguan lobus frontalis. Diskusi: Bangkitan dan gangguan fungsi luhur menjadi manifestasi klinis neurosistiserkosis pada pasien ini. Hasil pencitraan menunjukkan lesi yang sugestif neurosistiserkosis tetapi diagnosis definit tidak bisa ditegakkan. Pemberian antelmentik masih menjadi kontroversi, termasuk pada kasus ini, yang menunjukkan gambaran multistadium. Namun demikian, pemberian antelmentik pada pasien tidak memperlihatkan perburukan hingga satu bulan setelah terapi. Kesimpulan: Pada pasien yang memiliki pencitraan neurologis dan gambaran klinis yang sesuai disertai adanya faktor risiko, diagnosis neurosistiserkosis perlu dipikirkan terlebih dahulu karena keterbatasan fasilitas diagnostik. Pada neurosistiserkosis multistadium dapat diberikan terapi antelmentik dengan memperhatikan risiko perburukan klinis. Kata kunci: Neurosistiserkosis.
TATALAKSANA STROKE ISKEMIK AKUT DENGAN TROMBOLISIS INTRAVENA: SUATU SERIAL KASUS Tangkudung G; Muliawan E; Pertiwi JM; Dompas A
Jurnal Sinaps Vol. 3 No. 2 (2020): Volume 3 Nomor 2, Juni 2020
Publisher : Neurologi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (397.308 KB)

Abstract

Manajemen stroke iskemik akut berupa pemberian rtPA intravena (IV) telah menunjukkan manfaat secara klinis dan mengubah paradigma penanganan pasien stroke yang akan mengurangi angka kematian dan kecacatan. Kasus pertama, pria 55 tahun dengan stroke iskemik akut dilakukan trombolisis IV 4 jam 30 menit dari onset gejala stroke akut, terdapat perbaikan klinis skor NIHSS 11 menjadi 7 dalam waktu 37 menit. Kasus kedua, wanita 56 tahun dengan stroke iskemik akut dilakukan trombolisis IV 3 jam 20 menit dari onset gejala stroke akut, terdapat perbaikan klinis skor NIHSS 8 menjadi 2 dalam waktu 55 menit. Keluaran kedua pasien berbeda karena berbagai faktor yang berperan. Terapi trombolisis IV dengan rtPA masih merupakan satu-satunya modalitas terapi trombolisis pada stroke iskemik akut <4,5 jam setelah onset gejala yang disetujui di Indonesia. Namun karena batasan waktu pemberian, kultur sosial, geografis, keraguan dokter unit gawat darurat dan berbagai faktor lainnya menyebabkan hanya sedikit pasien stroke iskemik akut yang diterapi dengan rtPA. Berbagai faktor dapat mempengaruhi keluaran pasien yang menjalani trombolisis IV salah satunya yang dapat diintervensi ialah kecepatan waktu pemberian dan suhu tubuh. Optimalisasi penanganan stroke di unit gawat darurat akan berpengaruh pada keluaran pasien dan dengan menghindari komplikasi yang memperburuk keluaran seperti infeksi oportunistik di rumah sakit. Kata Kunci: Stroke iskemik akut, terapi, trombolisis intravena
MOYAMOYA DISEASE DENGAN PERDARAHAN INTRAVENTRIKULAR PADA PASIEN USIA MUDA Gilbert Tangkudung; Ricky Gunawan; Rizal Tumewah; Junita Maja Pertiwi
Jurnal Sinaps Vol. 3 No. 2 (2020): Volume 3 Nomor 2, Juni 2020
Publisher : Neurologi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (304.703 KB)

Abstract

Pendahuluan : Moyamoya Disease (MMD) adalah kasus langka yang dapat menyebabkan stroke pada usia muda. Insiden MMD sangat jarang, biasanya terjadi pada wanita di bawah usia 20.1 MMD hadir dengan berbagai kasus serebrovaskular termasuk TIA, stroke iskemik, perdarahan intrakranial, sakit kepala, atau kejang. Tipe iskemik mendominasi pada usia muda, sedangkan tipe hemoragik mendominasi pada orang dewasa.2 Perkembangan MMD progresif dan simptomatik dalam 5 tahun; hasilnya buruk jika tanpa pengobatan. Ini merupakan kasus pertama yang kami temukan. Laporan kasus : Sebuah kasus, perempuan Asia 21 tahun, mengalami sakit kepala berat dengan VAS: 9, kaku kuduk, paresis saraf wajah kanan tipe UMN, dengan pemeriksaan darah normal. NCCT Otak ditemukan perdarahan intraventrikular pada ventrikel lateral kiri. Angiografi serebral ditemukan oklusi total segmen M1 kiri, kolateral leptomeningeal dari ACA kiri ke MCA, dilatasi segmen P1 kiri, kolateral leptomeningeal PCA kiri cabang temporal ke kortikal MCA, blush koroidal di sisi kiri. Pasien didiagnosis dengan MMD (klasifikasi Suzuki stage II) dan tatalaksana pengobatan konservatif, mRS setelah perawatan adalah 0. Pasien menjalani MRI dan MRA TOF setelah 9 bulan kemudian dan ditemukan normal pada MRI dan ada penyempitan kaliber di segmen proksimal A1 kiri. Kesimpulan : MMD adalah kasus yang langka yang didiagnosis dengan angiografi serebral. Manajemen perawatan konservatif adalah pilihan pada onset awal dalam kasus ini. Namun, pemantauan ketat terhadap pemeriksaan klinis dan radiologis diperlukan. Kata Kunci: Moyamoya Disease, stroke usia muda, perdarahan intraventrikular.
LAPORAN KASUS : DEKOMPRESI MIKROVASKULAR PADA SPASME HEMIFASIAL David Susanto; Abrar Arham; Rizal Tumewah; Maria Theresia Jasi
Jurnal Sinaps Vol. 3 No. 2 (2020): Volume 3 Nomor 2, Juni 2020
Publisher : Neurologi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (664.219 KB)

Abstract

Spasme Hemifasial merupakan gangguan aktivitas otot wajah yang diinvervasi oleh nervus (n) fasialis. Meskipun spasme hemifasial tidak mengancam jiwa, namun gangguan ini dapat mempengaruhi aktivitas sosial penderitanya. Terdapat beberapa tatalaksana pada spasme hemifasial, seperti : farmakoterapi, injeksi toksin botulinum, dan dekompresi mikrovaskular (DMV). DMV merupakan tatalaksana operatif pilihan pada pasien spasme hemifasial, dilaporkan perbaikan gejala terjadi pada lebih dari 90% kasus. Laporan kasus ini melaporkan wanita 47 tahun datang dengan keluhan kedutan pada wajah sisi kiri yang hilang timbul dan memberat dalam beberapa tahun terakhir. MRI kepala menunjukan adanya penekanan N.VII sinistra oleh arteri (A). serebelar anterior inferior kiri. Pasien dikonsulkan ke bedah saraf dan direncanakan terapi DMV. Setelah operasi, pasien menunjukan perbaikan gejala, evaluasi 3 bulan setelah operasi diperlukan untuk menentukan prognosis. Kata Kunci : Spasme Hemifasial
GAMBARAN BANGKITAN DAN POLA ELEKTROENSEFALOGRAFI (EEG) PADA SUBJEK DENGAN EPILEPSI ROLANDIK (ER) DI RUMAH SAKIT PROF. DR. R. D. KANDOU Milani Suryakanto; Herlyani Khosama; Seilly Jehosua
Jurnal Sinaps Vol. 3 No. 2 (2020): Volume 3 Nomor 2, Juni 2020
Publisher : Neurologi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (330.575 KB)

Abstract

ER merupakan epilepsi fokal dengan EEG berupa gelombang paku ombak sentrotemporal yang paling sering terjadi pada anak-anak setelah kejang demam. ER adalah gangguan bangkitan fokal berfrekuensi jarang dengan gejala sensorimotorik hemifasial, orofaringolaringeal, speech arrest, hipersalivasi. Bangkitan dapat berevolusi menjadi bangkitan atipikal dengan gambaran EEG berupa electrical status in slow-wave sleep (ESES). Tujuan penelitian ini untuk mengidentifikasi gambaran bangkitan dan pola EEG pada subjek ER di RS Prof. Dr. R D. Kandou, Manado. Penelitian ini merupakan studi deskriptif retrospektif dengan menggunakan data sekunder pasien pada subjek ER di RS Prof. Dr. R. D. Kandou Manado periode Januari 2018-Desember 2019. Terdapat 28 subjek dengan EEG yang dilaporkan sebagai epilepsi rolandik, dengan subjek pria sebanyak 16 subjek (57,1%) dan subjek perempuan 12 subjek (42,9%). Hanya 1 subjek yang dilaporkan bangkitan ER atipikal di poli EEG RSUP Prof Dr. R. D. Kandou Manado. Bangkitan orofasial ditemukan pada 16 subjek (57,1%), automatisme 6 subjek (21,4%), bangkitan tonik atau tonik klonik pada keseluruhan subjek. Pada pemeriksaan EEG didapatkan 27 subjek (96,4%) dengan gambaran interiktal berupa gambaran paku ombak unilateral pada 20 subjek (71,4%) dan bilateral pada 7 subjek (28,6%). 1 subjek (3,6%) memberikan gambaran interiktal berupa ESES. Gambaran paku ombak unilateral ; Kata Kunci: EEG, ER, bangkitan
LAPORAN KASUS: MANIFESTASI PERDARAHAN INTRASEREBRAL LANGKA DENGAN TROMBOSIS SINUS VENA SEREBRAL PADA MYELOPROLIFERATIVE DISORDER Tangkudung G; Yoesdyanto K; Kembuan MAHN; Kawengian C
Jurnal Sinaps Vol. 3 No. 2 (2020): Volume 3 Nomor 2, Juni 2020
Publisher : Neurologi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (835.248 KB)

Abstract

Stroke dengan kondisi kelainan darah seperti penyakit myeloproliferative, atau disebut myeloproliferative neoplasm (MPN), dianggap sangat jarang, dimana insidensinya kurang dari 20% kasus. Seiring perjalanan penyakit, mekanisme yang mendasarinya adalah keadaan hiperkoagulasi yang mengarah ke trombosis, menyebabkan manifestasi lebih lanjut dari perdarahan parenkim. Mekanisme yang pasti masih dalam penyelidikan lebih lanjut. Diagnosis trombosis telah dijelaskan dalam beberapa literatur, walaupun standar emasnya adalah melalui angiografi. Seorang pria berusia 31 tahun datang ke rumah sakit dengan keluhan utama penurunan kesadaran yang terjadi secara mendadak sejak 1 hari sebelum masuk, dengan riwayat sakit kepala kronik progresif disertai muntah, dan riwayat dehidrasi. Pada pemeriksaan fisik didapatkan keadaan somnolen dengan kesan paresis N.VII UMN dextr dan kesan hemiparesis dextra. Pemeriksaan funduskopi didapatkan papilledema. Skor NIHSS-nya adalah 15 saat masuk. CT scan otak non-kontras mengungkapkan perdarahan intraserebral di wilayah parietal kiri yang dikelilingi oleh lesi hipodens, menunjukkan skor sICH 5. Hasil angiografi menunjukkan adanya suatu trombosis sinus dan vena kortikal yang melibatkan sebagian sinus sagitalis superior dan sinus transversus beserta vena kortikal parietal kanan. Pasien awalnya diobati dengan antikoagulan tetapi pada pencitraan kontrol didapatkan perdarahan baru di daerah frontal yang mengarah ke substitusi menjadi antiplatelet. Pasien dirawat selama 15 hari dengan peningkatan kekuatan otot yang signifikan. Dikarenakan perjalanannya yang jarang, para klinisi kurang memperhatikan kondisi ini, dan oleh karena itu, manifestasi seperti ini harus diperhitungkan selama praktik klinis. Kata kunci: Trombosis sinus vena serebral, kelainan mieloproliferatif, perdarahan intraserebral
DEMOGRAPHIC CHARACTERISTICS, CLINICAL PROFILE, AND CHILD ELECTROENCEPHALOGRAPHY (EEG) PATTERN IN PROF. DR. R. D. KANDOU HOSPITAL MANADO Sandy Kumala; Milani Suryakanto; Seilly Jehosua; Karema Winifred`
Jurnal Sinaps Vol. 3 No. 2 (2020): Volume 3 Nomor 2, Juni 2020
Publisher : Neurologi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (215.22 KB)

Abstract

Latar Belakang: Epilepsi merupakan gangguan neurologis yang paling sering terjadi pada anak. Insidensi epilepsi pada anak di negara berkembang berkisar dari 35 - 150 per 100.000 populasi per tahun. Namun data mengenai karateristik pasien epilepsi anak , profil klinis dan gambaran EEG masih sangat terbatas. Data-data mengenai karateristik pasien epilepsi anak , profil klinis dan gambaran EEG merupakan informasi yang penting untuk membantu penegakan diagnosis dan penatalaksanaan anak dengan epilepsi. Tujuan : Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui karakteristik, gambaran klinis dan gambaran EEG anak di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou. Metode: Penelitian ini merupakan studi deskriptif retrospektif dengan menggunakan data sekunder pasien anak dengan epilepsi yang menjalani pemeriksaan EEG di rumah sakit R. D. Kandou dalam periode waktu Januari-Desember 2018. Hasil: Terdapat 217 pasien anak dengan epilepsi yang menjalani pemeriksaan EEG dengan rerata usia yaitu 8.28±5.54 tahun, terdiri dari 119 pria (54.8%) dan 98 perempuan (45.2%). Didapatkan sebanyak 95 subjek dengan semiologi bangkitan fokal (43.8%) dan 122 subjek semiologi bangkitan umum (56.2%). EEG normal ditemukan pada 111 subjek (51,2%). Sebanyak 106 subjek dengan EEG abnormal (48,8%). Gambaran EEG abnormal didapatkan pola epileptiform (41,5%), pola non epileptiform (28,3%), dan memberikan gambaran pola epileptiform dan non epileptiform (30,1%). Dari pola epileptiform (61,3%) muncul secara fokal, (21,2%) muncul secara umum, dan (11,3%) multifokal. Kesimpulan: Karakteristik penderita epilepsi anak di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou didominasi oleh laki-laki dengan rerata usia 8.28±5.54 tahun, pola semiologi bangkitan didominasi oleh bangkitan umum, dan gambaran abnormalitas EEG yang terbanyak adalah gelombang epileptiform. Kata Kunci: Demographic Characteristics, Clinical Profile, And Child Electroencephalography
KARAKTERISTIK PASIEN DENGAN GANGGUAN KESEIMBANGAN DI POLIKLINIK KHUSUS NEUROOFTALMOGI DAN NEUROOTOLOGI RSUP. PROF. DR. RD. KANDOU Desy .; Finny Warouw; Melke J. Tumboimbela
Jurnal Sinaps Vol. 3 No. 2 (2020): Volume 3 Nomor 2, Juni 2020
Publisher : Neurologi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (323.52 KB)

Abstract

Latar Belakang : Gangguan keseimbangan adalah keluhan yang banyak dijumpai pada praktek sehari-hari. Vertigo sebagai bagian dari gangguan keseimbangan menempati urutan ke-5 kasus neurologi terbanyak di Indonesia. Pemeriksaan gangguan keseimbangan dilakukan di poliklinik khusus Neurooftalmologi Neurootologi RSUP. Prof. Dr. RD. Kandou, yang mulai dibuka sejak Januari tahun 2015.Objektif :Penelitian bertujuan menggambarkan karakteristik pasien gangguan keseimbangan di poliklinik khusus Neurooftalmologi dan Neurootologi RSUP. Prof. Dr. RD. Kandou. Metode :Penelitian deskriptif retrospektif, menggunakan data rekam medis dari Januari 2015-Desember 2019, didapat 246 pasien terdiagnosis gangguan keseimbangan. Variabel penelitian diambil dari status neurootologi poliklinik khusus Neurootologi dan Neurooftalmologi RSUP. Prof. Dr. RD. Kandou. Hasil: Rerata usia pasien 50,18 ± 5,54 tahun, 132 perempuan (53,66%), 114 laki-laki (46,34%). Gejala pusing berputar 190 (77,23%), rasa melayang atau bergoyang 51 ( 20,73%), gangguan otonom 122 (49,60%), gangguan pendengaran 63 (25,60%), gangguan visual 54 (21,95%), gejala postural 13 (5,28%), hiperventilasi 10 (4,06%). Komorbid hipertensi 106 (43,09%). Abnormalitas tes Dixhalpike sebanyak 62 (25,2%), abnormalitas ketajaman pendengaran 21 (8,54%). Abnormalitas tes keseimbangan seperti Romberg 42 (17,07%), Romberg dipertajam 76 (30,89%), Fukuda Steping Test 71 (28,86%), Head Shaking Test 37 (15,04%), Head Impuls Test 51 (20,73%). Diagnosis vertigo vestibular perifer 144 (58,54%), vertigo vestibular sentral 52 (21,14%) dan vertigo non vestibular 50 (20,32%). Kesimpulan :Jumlah pasien gangguan keseimbangan diperiksa kurun waktu Januari 2015- Desember 2019 sebnayak 246 pasien, rerata usia 50,18 ± 5,54 tahun, rentang usia terbanyak 20-60 tahun. Abnormalitas pemeriksaan keseimbangan Romberg (17,07%), Romberg dipertajam (30,89%), Fukuda Steping Test (28,86%), Head Shaking Test (15,04), Head Impuls Test (20,73%). Kata kunci : Gangguan keseimbangan, pusing berputar, vertigo vestibular perifer.