cover
Contact Name
Ahmadi Riyanto
Contact Email
masyarakat.iktiologi@gmail.com
Phone
+628111166998
Journal Mail Official
masyarakat.iktiologi@gmail.com
Editorial Address
Gedung Widyasatwaloka, Bidang Zoologi, Pusat Penelitian Biologi-LIPI Jl. Raya Jakarta-Bogor Km 46, Cibinong 16911
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Iktiologi Indonesia (Indonesian Journal of Ichthyology)
ISSN : 16930339     EISSN : 25798634     DOI : https://doi.org/10.32491
Aims and Scope Aims: Jurnal Iktiologi Indonesia (Indonesian Journal of Ichthyology) aims to publish original research results on fishes (pisces) in fresh, brackish and sea waters including biology, physiology, and ecology, and their application in the fields of fishing, aquaculture, fisheries management, and conservation. Scope: This journal publishes high-quality articles dedicated to all aspects Aquaculture, Fish biodiversity, Fisheries management, Fish diseases, Fishery biotecnology, Moleculer genetics, Fish health management, Fish biodiversity.
Articles 420 Documents
Kajian dinamika populasi ikan kepek, Mystacoleucus obtusirostris (Valenciennes, in Cuvier & Valenciennes 1842) di Sungai Opak Yogyakarta Djumanto Djumanto; Maria Intan Permata Devi; Ilma Fatimah Yusuf; Eko Setyobudi
Jurnal Iktiologi Indonesia Vol 14 No 2 (2014): Juni 2014
Publisher : Masyarakat Iktiologi Indonesia (Indonesian Ichthyological Society)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32491/jii.v14i2.90

Abstract

The Mystacoleucus obtusirostris is one of the main species of fish caught in Opak River. The study of population dynamics is important as the basis tools for fisheries management in order the stocks of kepek fish can be exploited in a sustainable manner. The purpose of the study was to examine the population parameters of M. obtusirostris inhabitat in the Opak River of Yogyakarta, namely growth and mortality rate, and recrutment pattern. Fish sampling was done by sampling once a week in May-July 2012 and every two weeks in February-April 2013, respectively. Fish sampling was conducted using electrofishing operated by local fishermen. All samples of kepek fish were collected and measured the total length using a metal ruler, and weighted individually using digital scales. Length frequency data were analyzed using the software FiSAT II to estimate parameters of growth, mortality, and recruitment. The results showed the growth parameters of VBGF, namely L<», K, and to was 18.9 cm, 0.75 per year and -0.21, respectively, while the growth performance (0 ') was 2.43. The total mortality was 2.19 per year, natural mortality and fishing mortality was 1.71 and 0.48 per year, respectively, as well as the exploitation rate was 0.21. The spawning was estimated occured in October coincided with the starting of the rainy season, meanwhile the recruitment into fishing ground was occurred monthy starting from Januari with peaking in June year. Abstrak Ikan kepek (Mystacoleucus obtusirostris) merupakan salah satu jenis ikan tangkapan utama di Sungai Opak. Kajian dinamika populasi menjadi sangat penting sebagai dasar pengelolaan perikanan agar stok ikan kepek dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji laju pertumbuhan, mortalitas, dan pola rekrutmen ikan ke-pek di Sungai Opak Yogyakarta. Pengambilan contoh ikan dilakukan pada bulan Mei-Juli 2012 dan Februari-April 2013, dengan menggunakan alat kejut yang dioperasikan oleh nelayan setempat. Semua contoh ikan kepek yang ter-tangkap diukur panjang total menggunakan mistar logam dan berat individu menggunakan timbangan digital. Data fre-kuensi panjang dianalisis menggunakan perangkat lunak FiSAT II untuk menduga parameter pertumbuhan dan mortalitas. Hasil penelitian menunjukkan parameter pertumbuhan VBGF L„ (18,9 cm), K (0,75), dan to (-0,21 tahun), sedangkan performa pertumbuhan (0’) adalah 2,43. Mortalitas total 2,19 per tahun, mortalitas alami 1,71 per tahun, mortalitas penangkapan 0,48 per tahun, dan tingkat eksploitasi sebesar 0,21. Pemijahan diperkirakan terjadi pada bulan Ok-tober bertepatan awal musim penghujan, sedangkan rekrutmen ke daerah tangkapan terjadi setiap bulan mulai Januari dengan puncaknya pada Juni saat musim kemarau.
Pemaskulinan belut (Monopterus albus Zuiew 1793) dengan induksi penghambat aromatase untuk penyediaan calon induk jantan Hafif Syahputra; Agus Oman Sudrajat; Dinar Tri Soelistyowati
Jurnal Iktiologi Indonesia Vol 14 No 2 (2014): Juni 2014
Publisher : Masyarakat Iktiologi Indonesia (Indonesian Ichthyological Society)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32491/jii.v14i2.91

Abstract

Aromatase is an enzyme that functions to change testosterone in the biosynthesis of estrogen. Inhibition of aromatase can stop the synthesis of estradiole in masculinization of fish. This study aimed to evaluate the effects of aromatase inhibitors by injection for masculinization of Asian swamp eel (Monopterus albus Zuiew 1793). The samples of swamp eel consisted of individuals with 24±2 cm length and 6-14 grams/individual weight. The treatments of aromatase inhibitor using imidazole were conducted by injection at doses of 0.001; 0.01; 0.1 mg kg-1 once time a week for four times and the gonad were observed using histology method. The results showed that the injection of imidazole 0.1 mg kg-1 week produced 40% males, while at the less doses were 50-85.72% intersexes, whereas in control was 100% females. The concentration of plasma testosterone inclined when the doses of imidazole increased. The highest concentration of testosterone reached to 1.8 ng mL-1 at dose of aromatase inhibitor 0.1 mg kg-1 or increased three times compared with the control. These results indicated that aromatase inhibitor suppressed the aromatase gene expression that leads the decline of estradiol and increased testosterone. Abstrak Aromatase adalah enzim yang berperan mengubah testosteron dalam proses biosintesis hormon estrogen. Penghambat-an aromatase dapat menghentikan pembentukan estradiol pada pemaskulinan ikan. Penelitian ini bertujuan untuk meng-evaluasi pengaruh pemberian hormon penghambat aromatase melalui penyuntikan untuk pemaskulinan belut (Monopterus albus Zuiew 1793). Belut yang digunakan berukuran 24±2 cm dengan berat 6-14 g diberi perlakuan penyuntikan hormon penghambat aromatase yaitu imidazole dengan dosis 0,001; 0,01; 0,1 mg kg-1 bobot tubuh sekali tiap minggu sebanyak empat kali dan diamati gonadnya setiap dua minggu secara histologi serta dibandingkan dengan kontrol. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan hormon imidazole 0,1 mg kg-1 bobot tubuh menghasilkan 40% individu jantan pada minggu ke-6, sedangkan pada dosis yang lebih rendah menghasilkan 50-85,72% individu interseks, dan pada kontrol 100% betina. Konsentrasi testosteron plasma meningkat sejalan dengan peningkatan dosis imidazol. Konsentra-si testosteron plasma yang tertinggi mencapai 1,8 ng mL-1 pada perlakuan 0,1 mg kg-1 bobot tubuh atau meningkat tiga kali lipat dibandingkan dengan kontrol. Hasil ini menunjukkan bahwa hormon penghambat aromatase menyebabkan ekspresi gen aromatase tertekan sehingga konsentrasi estradiol plasma menurun dan konsentrasi testosteron meningkat.
Collection of freshwater and coastal fishes from Sulawesi Tenggara, Indonesia [Koleksi ikan-ikan air tawar dan pantai di Sulawesi Tenggara] Lynne R. Parenti; Renny K. Hadiaty; Daniel N. Lumbantobing
Jurnal Iktiologi Indonesia Vol 14 No 1 (2014): Februari 2014
Publisher : Masyarakat Iktiologi Indonesia (Indonesian Ichthyological Society)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32491/jii.v14i1.92

Abstract

We report 69 fish species in 34 teleost families nearly all collected during a preliminary survey of the Sungai Pohara and coastal localities in Sulawesi Tenggara, including Muna Island, in June 2010. Of these species, nine are introduced or exotic and another is questionably native. The family Gobiidae is the most diverse taxon, represented by 14 native species. Atherinomorph fishes of the family Adrianichthyidae are represented in the province by four endemic species and two others that are widespread, all in the genus Oryzias. This fish fauna contrasts sharply with the riverine ichthyo-fauna of the adjacent Sulawesi Tenggara islands of Buton and Kabaena in which there are reportedly no ricefishes and few endemics. New species are being described by the field team and collaborators. Our ultimate goal is to discover, describe, highlight, understand and encourage the conservation of the native freshwater and coastal fish biota of Sulawesi. Abstrak Kami melaporkan hasil survei pendahuluan di Sungai Pohara dan perairan pantai di Sulawesi Tenggara, termasuk Pulau Muna. Tujuan utama kami adalah menemukan, mendeskripsikan, menggarisbawahi, memahami, dan menggiatkan upaya konservasi biota ikan air tawar dan pesisir asli Sulawesi. Survei yang dilakukan pada bulan Juni 2010 berhasil mendapatkan 69 spesies dari 34 famili Teleostei. Sembilan spesies di antaranya merupakan ikan introduksi atau bersifat eksotik dan satu spesies masih diragukan, asli setempat atau bukan. Gobiidae merupakan famili yang paling beragam, terwakili oleh 14 spesies asli. Ikan Atherinomorph dari famili Adrianichthyidae terwakili oleh empat spesies endemik di provinsi ini dan dua spesies lain yang penyebarannya sangat luas. Keenam spesies tersebut termasuk dalam genus Oryzias. Keragaman jenis fauna ikan ini sangat berbeda dengan jenis-jenis ikan sungai di dua pulau terdekat di wilayah Sulawesi Tenggara, yaitu Buton dan Kabaena. Di dua pulau tersebut tidak ditemukan ikan padi (Oryzias, ricefishes) dan hanya sedikit spesies endemik. Beberapa spesies baru dideskripsikan oleh tim lapangan dan para kolaborator.
Kondisi habitat ikan pelangi arfak, Melanotaenia arfakensis Allen, 1990 di Sungai Nimbai, Prafi Manokwari [Habitat condition of arfak rainbowfish, Melanotaenia arfakensis Allen, 1990 at Nimbai Streams, Prafi Manokwari] Emmanuel Manangkalangi; Simon P. O. Leatemia; Paskalina Th. Lefaan; Hans F. Z. Peday; Luky Sembel
Jurnal Iktiologi Indonesia Vol 14 No 1 (2014): Februari 2014
Publisher : Masyarakat Iktiologi Indonesia (Indonesian Ichthyological Society)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32491/jii.v14i1.93

Abstract

This research aimed to describe habitat condition of endemic arfak rainbowfish, Melanotaenia arfakensis at Sungai Nimbai on June-July and September-October 2012. The study site consisted of seven sampling stations for organisms and environmental qualities, from upstream to downstream segment, and each of these stations divided into two habitat types, ie. slow littoral and run areas. The parameters of habitat quality were measured and analysed such as current water, temperature, dissolved oxygen, pH, grease and oil concentration, riparian vegetation, macroinvertebrates composition and abundance, also fish composition and distribution. Riparian vegetation sampling was done at stream sides using 4 m2 plot for seedling and 400 m2 for sapling, pole, and tree categories. Macroinvertebrate and fish at two habitat types were collected using surber of 0.0625 m2 and hand net. The result showed that arfak rainbow-fish were only found at upstream segment. The presence of the species was related to physical and chemical parameters condition that supporting their life, also related to the availability of spawning and nursering habitat for larvae, and the aquatic insects as their food. The absence of the fish at downstream segment, maybe due to the degradation of their habitat condition that related to decreasing riparian vegetation coverage and organic waste flow to stream system, and also the presence of alien fish. The study showed decreasing of the quality and suitable habitat areal for this endemic species decrease, therefore it is need to conserve the natural habitat as the effort to maintain the sustainability of this species populations. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kondisi habitat ikan pelangi arfak, Melanotaenia arfakensis yang endemik di Sungai Nimbai pada bulan Juni-Juli dan September-Oktober 2012. Pada lokasi ini ditetapkan tujuh stasiun pengambilan contoh organisme dan parameter lingkungan dari segmen di bagian hulu sampai ke arah hilir masing-masing dengan dua tipe habitat, yaitu tepi sungai beraliran lambat dan daerah beraliran deras. Parameter kualitas habitat yang diukur meliputi kecepatan aliran air, suhu air, gas oksigen terlarut, pH, konsentrasi minyak dan lemak, kondisi vegetasi riparian, kom-posisi dan kepadatan makroavertebrata air, serta komposisi dan penyebaran spesies ikan. Pengumpulan contoh vegetasi riparian tepi sungai menggunakan petak contoh berukuran 4 m2 untuk tingkat semai dan 400 m2 untuk tingkat pancang, tiang, dan pohon. Pengumpulan contoh makroavertebrata dan ikan kedua tipe habitat menggunakan surber berukuran 0,0625 m2 dan hand net. Hasil penelitian ini memperlihatkan ikan pelangi arfak hanya ditemukan pada segmen sungai di bagian hu-lu. Keberadaan spesies ini berkaitan dengan kondisi parameter fisik-kimiawi perairan yang mendukung kehidupan-nya, tersedianya habitat pemijahan dan perlindungan bagi larva, dan tersedianya makanan berupa insekta air. Keti-dak hadiran ikan ini pada segmen sungai di bagian ke arah hilir disebabkan oleh menurunnya kualitas habitat yang berkaitan dengan berkurangnya tutupan vegetasi riparian dan masuknya limbah organik ke dalam sistem sungai, serta kebera-daan ikan asing. Hasil ini memperlihatkan terjadinya penurunan kualitas dan luasan habitat yang layak bagi spesies ikan ende-mik ini. Oleh karena itu perlu adanya upaya pelestariannya melalui konservasi habitat alami agar populasinya tetap lestari.
Kondisi biometrik ikan nila, Oreochromis niloticus (Linnaeus 1758) yang terpapar merkuri [Biometric condition of nile tilapia, Oreochromis niloticus (Linnaeus 1758) after mercury exposure] Ilham Zulfahmi; Ridwan Affandi; Djamar T.F. Lumban Batu
Jurnal Iktiologi Indonesia Vol 14 No 1 (2014): Februari 2014
Publisher : Masyarakat Iktiologi Indonesia (Indonesian Ichthyological Society)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32491/jii.v14i1.94

Abstract

The aims of this study are to examine the changes in biometric variables of nile tilapia caused by mercury exposure. The study was conducted from February to June 2013. Test fish were exposed to 0 mg L-1, 0.164 mg L-1, and 0.196 mg L-1 mercury chloride for 56 days. Analysis was done for the survival rate, growth rate, hepatosomatic index, the relative bile volume, gonadal somatic index, fecundity, and oocyte diameter. The median lethal concentration (96 hrs, LC50) of mercury chloride was calculated as 1.64 mg L-1. The survival rate was highest in the control treatment (46.67%). Mercury chloride with concentration 0.196 mg L-1 shows significant effect to changes HSI and relative bile volume, and oocyte diameter of Nile tilapia (p<0.05). Mercury chloride with a concentration of 0.164 mg L-1and 0.196 mg L-1 have not a significant effect on the growth rate of weight, gonadal somatic index, and fecundity of nile tilapia (p>0.05). AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengkaji perubahan beberapa variabel biometrik ikan nila akibat dari paparan merkuri. Penelitian dilakukan dari bulan Februari hingga Juni 2013. Ikan nila berukuran panjang 11-13 cm dengan bobot rata-rata 20 gram dipaparkan pada tiga konsentrasi merkuri klorida (0 mg L-1; 0,164 mg L-1; dan 0,196 mg L-1) selama 56 hari. Analisis dilakukan terhadap tingkat kelangsungan hidup, laju pertumbuhan bobot, indeks hepatosomatik (HSI), volume empedu relatif, indeks kematangan gonad, fekunditas dan diameter telur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai LC50-96 jam merkuri klorida adalah sebesar 1,64 mg L-1. Tingkat kelangsungan hidup tertinggi terdapat pada perlakuan 0 mg L-1 (46,67%) dan terendah pada perlakuan 0,196 mg L-1 (40,00%). Merkuri klorida dengan konsentrasi 0,196 mg L"1 memberikan pengaruh yang nyata terhadap perubahan HSI dan volume empedu relatif serta ukuran diameter telur ikan nila (p<0,05). Namun pada konsentrasi 0,164 mg L-1dan 0,196 mg L-1 merkuri klorida tidak ber-pengaruh nyata terhadap laju pertumbuhan bobot, indeks kematangan gonad (IKG) dan fekunditas ikan nila (p>0,05).
Struktur komunitas ikan pada habitat lamun di Teluk Youtefa Jayapura Papua [Fish community structure at seagrass beds habitat in Youtefa Bay Jayapura Papua] Selvi Tebaiy; Fredinan Yulianda; Ismudi Muchsin
Jurnal Iktiologi Indonesia Vol 14 No 1 (2014): Februari 2014
Publisher : Masyarakat Iktiologi Indonesia (Indonesian Ichthyological Society)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32491/jii.v14i1.95

Abstract

This study was carried out from August 2012 to January 2013 in Youtefa Bay, Jayapura, Papua. Study aimed to analyze the species composition and fish communities structure in seagrass ecosystems. Fish sampling was conducted by using gill nets and beach seine experiments with swept method. Fishes were caught once in each month during research period, and conducted on day and night time. The result showed of 676 individuals in 79 fish species of 36 families. Scolopsis lineata (14.64%), Apogon ceramensis (9.76%), Parupeneus barberinus (6.80%), Aeliscus strigatus (6.36%), Siganus fuscescens (4.89%), and Siganus canaliculatus (4.29%) were species that found dominantly in all locations during observation time. The number of fish in each site was affected by the percentage of seagrass beds coverage, the higher percentage of seagrass coverage the higher number of fish found. Higher diversity index found in August, October, and January, the ranged between 3.09 and 4.29; while on September, November and December had lower diversity index, the ranged between 2.09-3.05. Transparency, dissolved oxygen, percentage of coverage, pH, temperature, and nitrate were variables that positively correlated to fish abundance. Abstrak Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Agustus 2012 sampai Januari 2013 di Teluk Youtefa Jayapura Papua, bertujuan untuk menganalisis komposisi spesies dan struktur komunitas ikan pada ekosistem lamun. Ikan dikoleksi menggunakan jaring insang dan jaring pantai eksperimental dengan metode penyapuan. Pengamatan dilakukan satu kali setiap bulan selama enam bulan dan dilakukan penangkapan pada siang dan malam hari. Penelitian ini berhasil mengumpulkan 676 individu meliputi 79 spesies dari 36 famili. Jenis Scolopsis lineata (14,64%), Apogon ceramensis (9,76%), Parupeneus barberinus (6,80%), Aeliscus strigatus (6,36%), Siganus fuscescens (4,89%) dan Siganus canaliculatus (4,29%) dite-mukan pada semua lokasi dan waktu pengamatan. Jumlah individu ikan di masing-masing lokasi dipengaruhi oleh nilai persentase tutupan lamun, di mana semakin tinggi nilai persentase tutupan lamun ditemukan jumlah individu yang ting-gi. Indeks keanekaragaman (H’) pada bulan Agustus, Oktober dan Januari yaitu (3,09-4,29) lebih tinggi daripada bulan September, November, dan Desember (2,09-3,05). Variabel kecerahan, oksigen terlarut, persentase tutupan, pH, suhu, dan nitrat berkorelasi positif dengan kelimpahan ikan.
Variasi spasio-temporal sebaran kumpulan ikan di Estuari Segara Menyan [Spatio-temporal variation of fish assemblages distribution in Segara Menyan estuary] Ahmad Zahid; Lenny S. Syafei; Rini Susilowati
Jurnal Iktiologi Indonesia Vol 14 No 1 (2014): Februari 2014
Publisher : Masyarakat Iktiologi Indonesia (Indonesian Ichthyological Society)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32491/jii.v14i1.96

Abstract

A study was conducted to describe spatio-temporal variation of fish assemblages in Segara Menyan estuary, Jawa Barat from January to December 2011. Fish specimens were collected with three fishing gears (gill net, trammel net, and trawl) from three zones namely stream, coastal lagoon, and marine zone. Fish assemblage measures were density, species richness, and fish diversity; whereas aquatic environmental variable were temperature, salinity, dissolved oxygen, and water clarity. Results showed a significant difference in the temperature, salinity, and water clarity. Density, species richness, and fish diversity showed important variations both in time and space (zone). Multiple linear regression analysis revealed inconsistent patterns in terms of the relationships between univariate fish assemblage measures and aquatic environmental variables. Abstrak Penelitian yang berlangsung dari Januari hingga Desember 2011 bertujuan untuk menjelaskan variasi spasio-temporal sebaran kumpulan ikan di estuari Segara Menyan, Jawa Barat. Pengambilan ikan contoh dilakukan pada tiga zona yaitu sungai, pantai, dan laut dengan menggunakan tiga alat tangkap yaitu jaring rampus, jaring berlapis, dan jaring arad. Variabel pengukuran ikan meliputi densitas, kekayaan spesies, dan diversitas ikan; sedangkan variabel lingkungan meliputi suhu, salinitas, oksigen terlarut, dan kecerahan perairan. Pada penelitian ini diperoleh hasil bahwa suhu, salinitas, dan kecerahan berbeda nyata menurut zona dan waktu. Sementara variasi spasio-temporal ikan terlihat jelas pada den-sitas, kekayaan spesies, dan diversitasnya. Analisis regresi linear berganda memperlihatkan ketiadaan konsistensi pada pola hubungan antara variabel pengukuran ikan dengan variabel lingkungan.
Ichthyofauna distribution in downstream region of Opak River, Yogyakarta [Persebaran iktiofauna di bagian hilir Sungai Opak, Yogyakarta] Djumanto Djumanto; Maria Intan P. Devi; Eko Setyobudi
Jurnal Iktiologi Indonesia Vol 13 No 2 (2013): Desember 2013
Publisher : Masyarakat Iktiologi Indonesia (Indonesian Ichthyological Society)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32491/jii.v13i2.97

Abstract

Opak River, a river upstream on the slopes of Merapi Mount and empties into Indian Ocean, has a diverse aquatic biotic such as fishes. The aim of this study was to determine the species, abundance, and distribution of fishes in the downstream region of Opak River in Yogyakarta. The length of Opak River was approximately 60 km, the length in upper and downstream region around 30 km each. There were five sampling stations, and the station 1 was located in 5 km away from the river mouth, then followed by station 2 until 5, with the distance between stations around of 4-6 km. Fish sampling was conducted every week from May to June 2012 with six replicates, using electrofishing operated by local fishermen. The result showed that there were 2295 individuals of fishes comprising of 7 orders, 23 families, 30 genera, and 35 species. Of them, there were 26 freshwater species, 5 estuarine species, 3 marine species, and 1 catadromous species. Estuarine and marine species could penetrate into freshwater as far as about 10 km and 5 km from the river mouth, respectively. The most abundant family was Cyprinidae, and the highest individual abundance was Barbonymus sp., followed by Puntius binotatus and Rasbora argyrotaenia. The length distribution among fishes ranged between 2.2 and 36.0 cm, with an average of 9.12 cm. The shortest fish was Sicyopterus longifilis, while the longest was Anguilla marmorata. The weight distribution among fishes ranged from 0.07 to 505.0 g, with an average of 14.9 g. Abstrak Sungai Opak yang berhulu di lereng Gunung Merapi dan bermuara di Samudera Hindia, memiliki biota air yang bera-gam jenis, misalnya ikan. Tujuan penelitian ini adalah untuk menyajikan informasi spesies, kelimpahan, dan distribusi ikan di wilayah hilir Sungai Opak di Yogyakarta. Panjang Sungai Opak sekitar 60 km, panjang di wilayah hulu dan hilir masing-masing sekitar 30 km. Pengambilan contoh ditetapkan sebanyak lima stasiun yang dimulai dari muara, yaitu stasiun 1 terletak 5 km dari muara sungai, kemudian diikuti oleh stasiun 2 sampai 5, dengan jarak antar stasiun sekitar 4-6 km . Pengambilan contoh ikan dilakukan setiap minggu dari Mei hingga Juni 2012 dengan enam ulangan, menggu-nakan alat kejut yang dioperasikan oleh nelayan setempat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah ikan hasil tangkapan diperoleh sebanyak 2295 individu yang berasal dari 7 ordo, 23 famili, 30 genera, dan 35 spesies. Berdasar-kan habitatnya, ada sebanyak 26 spesies air tawar, 5 spesies air payau, 3 spesies air asin , dan 1 spesies katadromus. Spesies ikan air payau mampu bergerak masuk ke sungai yang tawar sejauh 10 km dari muara, sedangkan spesies ikan air asin bergerak sejauh 5 km dari muara. Famili yang memiliki kelimpahan spesies paling banyak adalah Cyprinidae dan kelimpahan individu tertinggi adalah Barbonymus sp. kemudian diikuti oleh Puntius binotatus dan Rasbora argyrotaenia. Distribusi panjang ikan berkisar antara 2,2 dan 36,0 cm, dengan rata-rata 9,12 cm. Ikan terpendek adalah Sicyopterus longifilis, sedangkan terpanjang adalah Anguilla marmorata. Distribusi bobot individu ikan berkisar 0,7505,0 g , dengan rata-rata 14,9 g.
Species composition of glass eels (Anguilla spp.) recruiting to the Palu River, Central Sulawesi [Komposisi spesies glass eels (Anguilla spp.) yang beruaya di muara Sungai Palu, Sulawesi Tengah] Novalina Serdiati; Samliok Ndobe; Abigail Moore; Deddy Wahyudi
Jurnal Iktiologi Indonesia Vol 13 No 2 (2013): Desember 2013
Publisher : Masyarakat Iktiologi Indonesia (Indonesian Ichthyological Society)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32491/jii.v13i2.98

Abstract

Demand for tropical eel seed has been increased and many tropical eel populations are under pressure. To conserve eel biodiversity and manage eel populations sustainably, it is necessary to identify eel species and their recruitment patterns at regional and watershed scales. The research objective was to determine the species composition and temporal recruitment patterns of glass eels recruiting to Palu River in Central Sulawesi. Glass eels sampling were conducted in January-April 2009, May-November 2010 and April-December 2011. Identification under anaesthetic (15-17.5 ppm clove oil solution) was based mainly on the number of ano-dorsal vertebrae (ADV). Species composition was dominated by two commercially species, Anguilla marmorata and A. bicolor pacifica with substantial variation and no clear temporal patterns. Specimens of other species that important from conservation and biodiversity aspects were present at each month but cannot be accurately identified using the ADV method. DNA analysis method is required to identify these specimens. Abstrak Permintaan benih ikan sidat tropis meningkat dan banyak populasi sidat tropis telah mengalami tekanan. Untuk meles-tarikan keanekaragaman hayati ikan sidat dan mengelola populasi sidat secara berkelanjutan, perlu identifikasi spesies maupun pola rekrutmennya pada skala regional maupun daerah aliran sungai. Tujuan penelitian adalah menentukan komposisi jenis dan pola rekrutmen glass eels secara temporal di Sungai Palu, Sulawesi Tengah. Sampling dilakukan pada bulan Januari-April 2009, Mei-November 2010, dan April-Desember 2011. Identifikasi contoh ikan dalam kea-daan pingsan (menggunakan larutan minyak cengkeh 15-17.5 ppm) terutama didasarkan pada jumlah anodorsal vertebrae (ADV). Komposisi jenis didominasi oleh dua spesies bernilai ekonomis, yaitu Anguilla marmorata dan Anguilla bicolor pacifica, namun sangat bervariasi tanpa pola musiman atau tahunan yang jelas. Setiap bulan terdapat beberapa spesimen dari spesies lain, yang penting dari aspek konservasi dan biodiversitas, namun tidak dapat diidentifikasi secara pasti dengan metode ADV. Untuk mengidentifikasi spesimen tersebut dibutuhkan metode analisa genetik (DNA).
Biologi reproduksi ikan belanak (Moolgarda engeli, Bleeker 1858) di Pantai Mayangan, Jawa Barat [Reproduction and spawning patterns of the mullet (Moolgarda engeli, Bleeker 1858) in Mayangan Coastal Waters, West Java] Kanti Nuti Wigati; Lenny S. Syafei
Jurnal Iktiologi Indonesia Vol 13 No 2 (2013): Desember 2013
Publisher : Masyarakat Iktiologi Indonesia (Indonesian Ichthyological Society)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32491/jii.v13i2.99

Abstract

The aim of this research was to study reproduction and spawning patterns of the mullet (Moolgarda engeli, Bleeker 1858). This research was conducted in May-October 2011 and fish were captured by using trammel net with mesh size of 0.75; 1.5; 2.5 inch. Total fish caught during research were 226 fish comprising 146 males and 80 females. The range of total length and total weight of fish sample were 129-230 mm and 20.55-99.65 g. Sex ratios of mature fish for male and female was 1:1.4 among mature fish. Condition factors ranged from 0.38 to 1.69. The mature fish with the highest gonadosomatic index (GSI) was found in August. Total fecundity of mullet ranged from 63,627-132,106 eggs and this species was categorized as total spawner. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji biologi reproduksi dan pemijahan ikan belanak (Moolgarda engeli, Bleeker 1858). Penelitian ini dilakukan pada Mei-Oktober 2011 dan ikan ditangkap dengan menggunakan alat tangkap jaring berlapis dengan ukuran mata jaring 0,75; 1,5; 2,5 inci. Total ikan contoh yang tertangkap selama penelitian berjumlah 226 ekor, terdiri atas 146 ekor ikan jantan dan 80 ekor ikan betina. Kisaran panjang total dan bobot total ikan yang tertangkap masing-masing adalah 129-230 mm dan 20,55-99,65 g. Nisbah kelamin ikan jantan dan betina yang matang gonad adalah 1:1,4. Faktor kondisi ikan belanak berkisar antara 0,38-1,69. Ikan yang matang gonad dengan IKG ter-tinggi berada pada bulan Agustus. Fekunditas total berkisar 63.627-132.106 butir dan spesies ini dikelompokkan seba-gai ikan pemijah serempak.

Filter by Year

2001 2022


Filter By Issues
All Issue Vol 22 No 2 (2022): June 2022 Vol 22 No 1 (2022): February 2022 Vol 21 No 3 (2021): October 2021 Vol 21 No 2 (2021): June 2021 Vol 21 No 1 (2021): February 2021 Vol 20 No 3 (2020): October 2020 Vol 20 No 2 (2020): June 2020 Vol 20 No 1 (2020): February 2020 Vol 19 No 3 (2019): October 2019 Vol 19 No 2 (2019): June 2019 Vol 19 No 1 (2019): February 2019 Vol 18 No 3 (2018): October 2018 Vol 18 No 2 (2018): June 2018 Vol 18 No 1 (2018): February 2018 Vol 17 No 3 (2017): October 2017 Vol 17 No 2 (2017): June 2017 Vol 17 No 1 (2017): February 2017 Vol 16 No 3 (2016): October 2016 Vol 16 No 2 (2016): June 2016 Vol 16 No 1 (2016): February 2016 Vol 15 No 3 (2015): October 2015 Vol 15 No 2 (2015): June 2015 Vol 15 No 1 (2015): Februari 2015 Vol 14 No 3 (2014): Oktober 2014 Vol 14 No 2 (2014): Juni 2014 Vol 14 No 1 (2014): Februari 2014 Vol 13 No 2 (2013): Desember 2013 Vol 13 No 1 (2013): Juni 2013 Vol 12 No 2 (2012): Desember 2012 Vol 12 No 1 (2012): Juni 2012 Vol 11 No 2 (2011): Desember 2011 Vol 11 No 1 (2011): Juni 2011 Vol 10 No 2 (2010): Desember 2010 Vol 10 No 1 (2010): Juni 2010 Vol 9 No 2 (2009): Desember 2009 Vol 9 No 1 (2009): Juni 2009 Vol 8 No 2 (2008): Desember 2008 Vol 8 No 1 (2008): Juni 2008 Vol 7 No 2 (2007): Desember 2007 Vol 7 No 1 (2007): Juni 2007 Vol 6 No 2 (2006): Desember 2006 Vol 6 No 1 (2006): Juni 2006 Vol 5 No 2 (2005): Desember 2005 Vol 5 No 1 (2005): Juni 2005 Vol 4 No 2 (2004): Desember 2004 Vol 4 No 1 (2004): Juni 2004 Vol 3 No 2 (2003): Desember 2003 Vol 3 No 1 (2003): Juni 2003 Vol 2 No 2 (2002): Desember 2002 Vol 2 No 1 (2002): Juni 2002 Vol 1 No 2 (2001): Desember 2001 Vol 1 No 1 (2001): Juni 2001 More Issue