cover
Contact Name
Ahmadi Riyanto
Contact Email
masyarakat.iktiologi@gmail.com
Phone
+628111166998
Journal Mail Official
masyarakat.iktiologi@gmail.com
Editorial Address
Gedung Widyasatwaloka, Bidang Zoologi, Pusat Penelitian Biologi-LIPI Jl. Raya Jakarta-Bogor Km 46, Cibinong 16911
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Iktiologi Indonesia (Indonesian Journal of Ichthyology)
ISSN : 16930339     EISSN : 25798634     DOI : https://doi.org/10.32491
Aims and Scope Aims: Jurnal Iktiologi Indonesia (Indonesian Journal of Ichthyology) aims to publish original research results on fishes (pisces) in fresh, brackish and sea waters including biology, physiology, and ecology, and their application in the fields of fishing, aquaculture, fisheries management, and conservation. Scope: This journal publishes high-quality articles dedicated to all aspects Aquaculture, Fish biodiversity, Fisheries management, Fish diseases, Fishery biotecnology, Moleculer genetics, Fish health management, Fish biodiversity.
Articles 420 Documents
Depik, eas, dan relo; yang manakah Rasbora tawarensis? [Depik, eas, and relo; which one is Rasbora tawarensis?] Z. A. Muchlisin
Jurnal Iktiologi Indonesia Vol 11 No 1 (2011): Juni 2011
Publisher : Masyarakat Iktiologi Indonesia (Indonesian Ichthyological Society)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32491/jii.v11i1.160

Abstract

There are at least three species of Rasbora known locally as depik, eas, and relo in Lake Laut Tawar. Morphological traits of the three species of Rasbora are very similar and difficult to distinguish. Therefore, there remains a great deal of taxonomic uncertainty as to which of three is Rasbora tawarensis the endemic fish in the lake, not only among the locals but also local fisheries agency and researchers. The precise identification of R. tawarensis is crucial to develop a better strategy for conservation effort of this endemic and threatened species. Here, we utilized a comprehensive approach by combining morphometric and genetic methods to discriminate among these group as defined by their local names in Lake Laut Tawar. Traditional morphometric and DNA sequencing of the mitochondrial cytochrome c oxidase subunit I (COI) were applied. The results showed that there are only two valid species of Rasbora among the group. The morphometrics and genetic data strongly indicated that eas and depik should be regarded as the same species of Rasbora tawarensis and relo may be considered as a cryptic species. AbstrakTiga kumpulan ikan Rasbora yang dikenali sebagai eas, depik, dan relo ditemukan di Danau Laut Tawar. Secara morfologi ketiga kumpulan ikan tersebut sangat mirip dan sepintas sulit dibedakan. Hal itu telah menyebabkan ketidakpastian taksonomik yang mana diantara ketiganya disebut Rasbora tawarensis. Identifikasi yang tepat perlu dilakukan dalam rangka konservasi ikan endemik ini. Pendekatan komprehensif digunakan dengan menggabungkan analisis morfometrik dengan analisis genetik untuk mendiskriminasikan tiga kumpulan Rasbora. Dalam penelitian ini digunakan morfometrik tradisional dan sekuen DNA dari sitokrom mitokondria c oxidase subunit I (COI). Hasil analisis menunjukkan adanya dua spesies Rasbora dalam kelompok. Data morfometrik dan genetik memperlihatkan bahwa eas dan depik adalah spesies yang sama, yaitu Rasbora tawarensis, sedangkan relo adalah spesies kriptik.
Spawning habitat of Telmatherina sarasinorum (Family: Telmatherinidae) in Lake Matano [Habitat pemijahan ikan Telmatherina sarasinorum (Famili: Telmatherinidae) di Danau Matano] Jusri Nilawati; Sulistiono Sulistiono; Djadja S. Sjafei; M. F. Rahardjo; Ismudi Muchsin
Jurnal Iktiologi Indonesia Vol 10 No 2 (2010): Desember 2010
Publisher : Masyarakat Iktiologi Indonesia (Indonesian Ichthyological Society)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32491/jii.v10i2.161

Abstract

A study on habitat of Telmatherina sarasinorum was conducted in Lake Matano. An underwater observation on the fish habitat was performed to allow description on habitat while investigating its reproductive behaviour. There were two types of spawning habitat on the fish observed. The first was shallow beach with flat contour and bottom covered by cobble and little sand in between which was located in littoral area with trees on the lake sides. The second was deeper water with steeper bottom which has hanging down roots and fallen down stems and twigs of any trees covered by alga. In the two habitats the fish prefers shading places provided by any trees existing on the lake sides as spawning sites. The fish was not observed spawn in places covered by dense cobbles and open waters exposed directly to sunlight. Such a habitat specialist becomes important factor needed to be taken into account in the attempts to conserve the fish and its habitat in Lake Matano. Maintaining the existence of spawning habitat through protecting the presence of terrestrial vegetation surrounding the lake is important key for conservation of the fish and its habitat. AbstrakPenelitian tentang habitat Telmatherina sarasinorum dilakukan di Danau Matano. Pengamatan bawah air pada habitat ikan ini dilakukan untuk membuat gambaran mengenai habitat sambil meneliti tingkah laku reproduksinya. Ada dua tipe habitat pemijahan ikan yang diamati. Pertama adalah pantai dangkal dengan kontur datar dan dasar ditutupi oleh kerikil dan sedikit pasir diantaranya yang terletak di daerah litoral dengan pohon-pohon di pinggiran danau. Kedua adalah perairan dalam dengan dasar lebih curam yang mempunyai akar-akar menggantung serta batang dan ranting pohon tumbang yang diselimuti oleh alga. Pada kedua tipe habitat tersebut ikan menyukai tempat-tempat teduh yang mendapat bayang-bayang dari pohon yang ada di pinggiran danau sebagai tempat pemijahan. Ikan diamati tidak memijah di tempat-tempat yang ditutupi oleh kerikil yang padat dan perairan terbuka yang terpapar langsung oleh cahaya matahari. Habitat khusus demikian merupakan faktor penting yang perlu dipertimbangkan dalam usaha konservasi ikan dan habitatnya di Danau Matano. Pemeliharaan habitat pemijahan melalui perlindungan keberadaan vegetasi terestrial di sekeliling danau adalah kunci penting untuk konservasi ikan dan habitatnya.
KEBIASAAN MAKANAN I KAN LEMURU {Sardinella lemuru) DI PERAIRAN MUNCAR, BANYUWANGI [Food Habits of Threadfm Bream, Sardinella lemuru in Muncar, Banyuwangi] Septalina Pradini; M. F. Rahardjo; R. Kaswadji
Jurnal Iktiologi Indonesia Vol 1 No 1 (2001): Juni 2001
Publisher : Masyarakat Iktiologi Indonesia (Indonesian Ichthyological Society)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32491/jii.v1i1.162

Abstract

300 of threadfm bream were caught from three groups. The threadfin bream is a phytoplankton feeder, particularly on Bacillariophyceae, The main food is change and depend on the size of the groups.ABSTRAKJumlah ikan yang tertangkap sebanyak 300 ekor yang terdiri atas tiga kelompok, yaitu protolan, lemuru dan lemuru kering Ikan lemuru termasuk kelompok pemakan fitoplankton terutama Bacillariphyceae. Jenis makanan utama berubah dengan perubahan kelompok ukuran.
Aspek reproduksi ikan nilem, Osteochilus vittatus (Valenciennes, 1842) di Danau Sidenreng, Sulawesi Selatan [Reproductive biology of bonylip barb, Osteochilus vittatus (Valenciennes, 1842) in Sidenreng Lake, South Sulawesi] Sharifuddin Bin Andy Omar
Jurnal Iktiologi Indonesia Vol 10 No 2 (2010): Desember 2010
Publisher : Masyarakat Iktiologi Indonesia (Indonesian Ichthyological Society)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32491/jii.v10i2.163

Abstract

Reproductive biology (sex ratio, stage of sexual maturity, gonadosomatic index, fecundity, and egg diameter) of bonylip barb inhabiting Sidenreng Lake were presented. A total of 692 specimens were collected from March to June 2009, among them 143 were males and 549 were females, so the sex ratio of male to female was 1:3.84. The males became sexually mature at a smaller size than females. Percentage of mature males was smaller than mature females. There was an increase in the gonadosomatic index in the sexual maturity stage I to IV and a decrease in the sexual maturity stage V, both in males and females. The fecundity ranged from 1,718 to 34,045 eggs. Frequency distribution of egg diameter suggested that bonylip barb is a total spawner. AbstrakStudi tentang aspek reproduksi ikan nilem, Osteochilus vittatus (Valenciennes, 1842), telah dilakukan pada bulan Ma-ret-Juni 2009 di Danau Sidenreng yang meliputi nisbah kelamin, tingkat kematangan gonad (TKG), indeks kematangan gonad (IKG), fekunditas, dan diameter telur. Jumlah contoh ikan yang diperoleh selama penelitian sebanyak 692 ekor yang terdiri atas 143 ekor jantan dan 549 ekor betina, sehingga nisbah kelamin ikan jantan dan betina adalah 143:549 atau 1:3,84. Ikan nilem jantan mencapai matang gonad pertama kali relatif lebih kecil daripada ikan betina. Persentase nilem jantan yang tertangkap pada saat matang gonad lebih sedikit jika dibandingkan dengan nilem betina. Nilai IKG ikan nilem jantan dan betina semakin meningkat dari TKG I sampai IV kemudian mengalami penurunan pada TKG V. Fekunditas ikan nilem berkisar 1.718-34.045 butir. Ikan nilem yang terdapat di perairan Danau Sidenreng memijah secara total.
Preferensi makanan ikan pelangi arfak, Melanotaenia arfakensis Allen, 1990 di Sungai Nimbai dan Sungai Aimasi, Manokwari [Food preference of arfak rainbowfish, Melanotaenia arfakensis Allen, 1990 in Nimbai and Aimasi Streams, Manokwari] Emmanuel Manangkalangi; M.F. Rahardjo; Djadja S. Sjafei; Sulistiono Sulistiono
Jurnal Iktiologi Indonesia Vol 10 No 2 (2010): Desember 2010
Publisher : Masyarakat Iktiologi Indonesia (Indonesian Ichthyological Society)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32491/jii.v10i2.164

Abstract

The study of food preference of arfak rainbowfish (Melanotaenia arfakensis) in Nimbai and Aimasi streams, and Prafi river system were conducted from June to December 2007. Sampling was carried out monthly for seven months in four different habitat types, i.e. slow littoral, still littoral, pool, and run areas. Results showed that abundance of plankton and macroinvertebrate were found both in slow littoral and medium littoral, especially during low flow period (June to October). Macroinvertebrate that found naturally abundance are insect groups. Arfak rainbowfish are insectivorous, with preponderance index of stomach content during these periods are dominated by insect groups, i.e. Diptera, Ephemero-ptera, Coleoptera, and Trichoptera, so this species categorized as insectivorous. Also, electivity index showed a trend of food specification that naturally abundance. In order to maintain the population of arfak rainbowfish, conservation of their natural habitats is needed, especially riparian zone in channel of stream as its site of food source. AbstrakPenelitian preferensi makanan ikan pelangi arfak (Melanotaenia arfakensis) di Sungai Nimbai dan Aimasi di sistem Sungai Prafi dilaksanakan dari bulan Juni sampai Desember 2007. Pengambilan contoh dilakukan pada empat tipe habitat di dua lokasi penelitian, yaitu: bagian tepi beraliran lambat, bagian tepi beraliran sedang, lubuk, dan daerah beralir-an deras. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa kelimpahan plankton dan makroavertebrata ditemukan pada tipe habitat beraliran lambat dan sedang pada saat kondisi debit air rendah (Juni-Oktober). Makroavertebrata yang ditemukan berlimpah adalah kelompok insekta. Ikan pelangi arfak adalah insektivora, terutama didominasi oleh kelompok insekta, ya-itu Diptera, Ephemeroptera, Coleoptera, dan Trichoptera. Indeks pilihan menunjukkan adanya kecenderungan pemilihan makanan yang terdapat dalam kondisi melimpah di perairan. Guna menjaga kelestarian ikan ini, konservasi habitat alaminya sangat diperlukan, terutama zona riparian yang merupakan tapak sumber daya makanannya.
Pengaruh berbagai pemacu pertumbuhan pada pakan terhadap kelangsungan hidup mikroflora saluran pencernaan ikan mas, Cyprinus carpio L. [Effect of several growth promoters to intestinal microflora survival of common carp, Cyprinus carpio L.] D. Sanjayasari; D. A. Astuti; R. Affandi
Jurnal Iktiologi Indonesia Vol 10 No 2 (2010): Desember 2010
Publisher : Masyarakat Iktiologi Indonesia (Indonesian Ichthyological Society)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32491/jii.v10i2.165

Abstract

The research had determined the effect of antimicrobial growth promoter and prebiotics to intestinal microflora population of common carp (Cyprinus carpio). The experiment was used completely randomized design, the treatment were several mixing pellet contains antibiotic and prebiotics. There were six treatments in this research; T0: control, T1: streptomicyne (S200), T2: tetracycline (T200), T3: amphicyline (A200), T4: commercial prebiotic, and T5: 2% MOS. Each treatment were replicated three times. The treatments were observed in two ways in vitro and in vivo. Tripticase Soy Broth (TSB) which already contains treatments was used as media to culture the microflora (in vitro). Feed treatments were given to common carp size 15-25 g for 8 days (in vivo). Both in vitro and in vivo microflora assessments use two different media TSA (Tripticase Soy Agar) and MRSA. The in vitro showed that tetracycline 200 ppm (T200) highly significant (P<0.05) decreased microflora population. Death microflora percentage in vitro showed tetracycline 200 significantly (P<0.05) destroyed 99.8% (P<0.05). Therefore, commercial prebiotic 2% and MOS 2% gave the best performance in increasing microflora population significantly (P<0.05) both in TSA and MRSA media. The in vivo also showed that tetracycline 200 (T200) highly significant (P<0.05) decreased microflora population of intestine. The best growth of microflora intestine profile was shown by commercial prebiotic 2% and MOS 2% (P<0.05). This research prove that prebiotic is better and saver than antibiotic to be apply in aquaculture. AbstrakPenelitian bertujuan untuk melihat efek zat pemacu pertumbuhan yang bersifat antimikroba dan prebiotik terhadap po-pulasi mikroflora saluran pencernaan ikan mas. Metode analisis data yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL), perlakuan merupakan pelet yang telah dicampur dengan beberapa antibiotik dan prebiotik. Terdapat enam perlakuan dalam penelitian ini; T0: kontrol, T1: streptomisin (S200), T2: tetrasiklin (T200), T3: amfisilin (A200), T4: prebiotik komersial, dan T5: 2% MOS, masing-masing terdapat tiga ulangan. Pengamatan dilakukan dengan dua cara yaitu, in vitro dan in vivo. Media yang digunakan untuk memperbanyak mikroflora (in vitro) adalah Tripticase Soy Broth (TSB) yang telah terdapat perlakuan di dalamnya. Pakan uji diberikan pada ikan mas ukuran 15-25 g selama delapan hari (in vivo). Pengamatan pertumbuhan mikroflora secara in vitro dan in vivo, menggunakan dua media yang berbeda Tripticase Soy Agar (TSA) dan the Man Rogossa Sharp Agar (MRSA). Hasil penelitian secara in vitro menunjukkan bahwa antibiotik tetrasiklin 200 ppm (T200) secara nyata (P<0,05) menurunkan populasi mikroflora saluran pencernaan. Persentase kematian mikroflora secara in vitro memperlihatkan antibiotik tetrasiklin 200 ppm (T200) dapat mematikan mikroflora hingga 99,8% (P<0,05). Prebiotik komersial 2% dan MOS 2% memberikan hasil terbaik dalam meningkatkan populasi mikroflora saluran pencernaan (P<0,05) baik pada media TSA atau MRSA. Hasil pengamatan secara in vivo juga menunjukkan bahwa antibiotik tetrasiklin 200 ppm (T200) secara nyata menurunkan populasi mikroflora saluran pencernaan. Pertumbuhan mikroflora saluran pencernaan secara in vivo yang terbaik ditun-jukkan oleh perlakuan yang mengandung prebiotik komersial 2% dan MOS 2% (P<0,05). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penambahan prebiotik lebih baik dan aman dibandingkan antibiotik untuk diterapkan dalam budi daya perairan.   
Taksonomi dan habitat ikan gurame sungai, Osphronemus septemfasciatus Roberts, 1992 [Taxonomy and habitat of the giant gouramy, Osphronemus septemfasciatus Roberts, 1992] Ike Rachmatika
Jurnal Iktiologi Indonesia Vol 10 No 2 (2010): Desember 2010
Publisher : Masyarakat Iktiologi Indonesia (Indonesian Ichthyological Society)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32491/jii.v10i2.166

Abstract

Giant gouramy, Osphronemus septemfasciatus was introduced to science along with O. laticlavius by Roberts in 1992, then he described other new species: O. exodon in 1994. This lead genus Osphronemus has four species namely O. goramy, O. septemfasciatus, O. laticlavius, and O. exodon. There are two species living in Indonesian waters i.e. O. goramy and O. septemfasciatus. Not much biologic information about this fish is available, it differ from O. goramy that has been cultured. The observation in Sibau River, Mendalam River (Kapuas Basin), and Seturan River (Seturan Basin) indicated that this fish is rare, live in clear water in the upper river, big river, and in the mouth of the tributary. Beside, there are reports indicating that this fish was found in the middle of Mahakam Basin and Osphronemus cf. septemfasciatus was found in the lower part of Kapuas Basin. AbstrakIkan gurame sungai, Osphronemus septemfasciatus pertama kali diperkenalkan ke dunia ilmu pengetahuan bersama dengan O. laticlavius oleh Roberts pada tahun 1992, kemudian jenis lainnya yaitu O. exodon pada tahun 1994. Hal ini menyebabkan ikan Osphronemus beranggotakan empat jenis yaitu O. goramy, O. septemfasciatus, O. laticlavius, dan O. exodon. Di perairan Indonesia terdapat O. goramy dan O. septemfasciatus. Berbeda dengan O. goramy yang sudah dibudidayakan, keterangan mengenai aspek-aspek biologi O. septemfasciatus masih sedikit. Pengamatan di Sungai Sibau, Sungai Mendalam (daerah aliran Sungai Kapuas), dan Sungai Seturan (daerah aliran Sungai Seturan) menun-jukkan bahwa ikan ini keterdapatannya jarang, hidup di hulu sungai di air yang jernih di sungai utama dan di mulut anak sungai. Selain itu, dari beberapa laporan ditemukan bahwa ikan ini hidup di bagian pertengahan DAS Mahakam dan Osphronemus cf. septemfasciatus ditemukan di bagian hilir DAS Kapuas.
Hubungan panjang-bobot dan pertumbuhan ikan beronang, Siganus canaliculatus (Park, 1797) di padang lamun Selat Lonthoir, Kepulauan Banda, Maluku [Length-weight relationship and growth of rabbitfish, Siganus canaliculatus (Park, 1797) in the seagrass beds of Lonthoir Strait, Banda Archipelago, Maluku] Munira Munira; Sulistiono Sulistiono; Zairion Zairion
Jurnal Iktiologi Indonesia Vol 10 No 2 (2010): Desember 2010
Publisher : Masyarakat Iktiologi Indonesia (Indonesian Ichthyological Society)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32491/jii.v10i2.167

Abstract

Rabbitfish (Siganus canaliculatus) is a dominant catch of beach seine in seagrass beds at Lonthoir Strait, Banda Ar-chipelago.The aims of this research were to investigate the length frequencies, length-weight relationships, and growth of rabbitfish in this area. This research was carried out from July to December 2009 using beach seine in three locations of seagrass area of Lonthoir Strait. Data analyzed using FiSAT program. The results showed that the length of rabbitfish ranged from 44 to 300 mm TL. From the length and weight data of males and females, the following population parameters were estimated: W=0.017L149 (r = 0.88) and W=0.012L156 (r = 0.89), L„ (mm) = 307.13, W„ (g) = 84.74 and 92.40, K = 0.50 and 0.52. The growth models of males and females rabbitfish described by equation: Lt=307.13[e' 0 50(t+0.i72)] and Lt=307.13[e'a52(t+0165)], while growth model base on weight described by equation: Wt=84.74[e' o.5o(t+o.i72)] and Wt=92.40[e'a52(t+0165)]. This study concluded that the population of rabbitfish in this area mostly juveniles and consisted of one cohort. AbstrakIkan beronang (Siganus canaliculatus) termasuk salah satu hasil tangkapan dominan dari nelayan jaring pantai di padang lamun Selat Lonthoir, Kepulauan Banda. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap distribusi ukuran panjang, hubungan panjang-bobot, dan pertumbuhannya. Pengamatan terhadap hasil tangkapan ikan beronang di tiga lokasi telah dilakukan sejak bulan Juli hingga Desember 2009 dengan menggunakan jaring pantai. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan perangkat lunak FiSAT. Hasil penelitian memperlihatkan kisaran panjang total ikan beronang yang tertangkap adalah 44-300 mm. Model hubungan panjang-bobot yang diperoleh untuk ikan beronang jantan adalah W=0,017L1,49 (r = 0,88) dan betina W=0,012L1,56 (r = 0,89). Panjang teoritis (L„) sebesar 307,13 mm, bobot teoritis jantan (W„) 84,74 g dan betina 92,40 g dengan nilai koefisien pertumbuhan (K) sebesar 0,50 dan 0,52. Pertumbuhan ikan beronang jantan dan betina di Selat Lonthoir dapat diestimasi dengan rumus Lt=307,13[e'0,50(t+0,172)] dan Lt=307,13[e'0,52(t+0,165)]. Model pertumbuhan ikan beronang berdasarkan bobot (W„) dapat diduga dengan rumus Wt=84,74[e'0,50(t+0,172)] untuk jantan dan betina Wt=92,40[e'0,52(t+0,165)]. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa sebagian besar ikan beronang yang hidup di padang lamun Selat Lonthoir berukuran juwana dan umumnya dijumpai dalam satu kelompok umur.
Komposisi jenis ikan air tawar di daerah lahan basah Kaliki, Merauke Papua [Freshwater fishes composition at wetland of Kaliki, Merauke Papua] Robi Binur
Jurnal Iktiologi Indonesia Vol 10 No 2 (2010): Desember 2010
Publisher : Masyarakat Iktiologi Indonesia (Indonesian Ichthyological Society)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32491/jii.v10i2.168

Abstract

Merauke termasuk bagian kawasan dataran rendah Trans-Fly (Trans-Fly coastal lowlands) yang kaya dengan biota air tawar endemik dan terletak di bagian selatan New Guinea. Area ini memiliki daerah lahan basah musiman (seasonal wetlands) terluas di New Guinea. Tujuan penelitian ini untuk mengidentifikasi komposisi jenis ikan yang ada di daerah rawa-rawa Kaliki. Penelitian dilakukan dari tanggal 16-29 Maret 2009 di empat habitat utama perairan tawar (rawa, kali, kolam alami, dan parit) yang berada pada 20 lokasi. Alat yang digunakan adalah jaring insang, jala, serok, dan peng-amatan dengan cara snorkelling. Ikan yang terkumpul sebanyak delapan spesies dari delapan genera dan tujuh famili. Jenis ikan asli yang umum dijumpai adalah Iriatherina werneri (25,07%) dan Pseudomugil gertrudae (18,95%). Jenis ikan introduksi yang ditemukan adalah Channa striata (16,33%) dan Anabas testudineus (15,16%). Kesamaan jenis setiap habitat relatif tinggi (>70%). Ada dua jenis ikan asli yang diduga akan mengalami kepunahan lokal yaitu Melano-taenia splendida rubrostriata dan Oxyeleotris fimbriata. Populasi ikan introduksi akan menjadi ancaman yang serius bagi keberadaan jenis ikan asli. AbstrakMerauke termasuk bagian kawasan dataran rendah Trans-Fly (Trans-Fly coastal lowlands) yang kaya dengan biota air tawar endemik dan terletak di bagian selatan New Guinea. Area ini memiliki daerah lahan basah musiman (seasonal wetlands) terluas di New Guinea. Tujuan penelitian ini untuk mengidentifikasi komposisi jenis ikan yang ada di daerah rawa-rawa Kaliki. Penelitian dilakukan dari tanggal 16-29 Maret 2009 di empat habitat utama perairan tawar (rawa, kali, kolam alami, dan parit) yang berada pada 20 lokasi. Alat yang digunakan adalah jaring insang, jala, serok, dan peng-amatan dengan cara snorkelling. Ikan yang terkumpul sebanyak delapan spesies dari delapan genera dan tujuh famili. Jenis ikan asli yang umum dijumpai adalah Iriatherina werneri (25,07%) dan Pseudomugil gertrudae (18,95%). Jenis ikan introduksi yang ditemukan adalah Channa striata (16,33%) dan Anabas testudineus (15,16%). Kesamaan jenis setiap habitat relatif tinggi (>70%). Ada dua jenis ikan asli yang diduga akan mengalami kepunahan lokal yaitu Melano-taenia splendida rubrostriata dan Oxyeleotris fimbriata. Populasi ikan introduksi akan menjadi ancaman yang serius bagi keberadaan jenis ikan asli.
Efektivitas persilangan dalam peningkatan produktivitas ikan patin melalui hibridisasi antar spesies [The effectivity of crossbreeding to improve productivity of catfish through interspecific hybridization] Wartono Hadie; Evi Tahapari; Lies Emmawati Hadie; Sularto Sularto
Jurnal Iktiologi Indonesia Vol 10 No 2 (2010): Desember 2010
Publisher : Masyarakat Iktiologi Indonesia (Indonesian Ichthyological Society)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32491/jii.v10i2.169

Abstract

This research was aimed to evaluate the heterosis value of hybrid of Pangasionodon hypophthalmus and Pangasius nasutus. The test of fish was produced by full sibs crossing between them. The breeding technique was conducted by induce breeding. The fingerlings of fish were reared on the earthern ponds for six months. Result of this research indicated that the hybrid from the cross is overdominan compared than parents stock. Traits of standard length, weight, and survival rate was significantly different (P<0.05) compared than the mean of the parent. Heterosis representing excellence from both parent stocked up to 22.44%. Hybrid between P. hypophthalmus and P. nasutus as new type can be developed to increase productivity of catfish in supporting national production of fish culture. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi nilai heterosis dari hibrida perkawinan silang antara ikan patin siam (Pangasionodon hypophthalmus) dan patin nasutus (Pangasius nasutus). Perkawinan dilakukan secara full sibs untuk mendapatkan ikan uji. Perkawinan dilakukan dengan teknik pijah rangsang. Pemeliharaan benih ikan hingga berumur enam bulan dilakukan di kolam. Rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan acak lengkap dengan tiga perlakuan dan lima kali pengulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hibrida dari persilangan tersebut ternyata overdominan dibandingkan kedua tetuanya. Karakter pan-jang baku, bobot, dan sintasan berbeda nyata dengan rataan kedua induknya (P<0,05). Heterosis yang me-rupakan keunggulan dari kedua tetuanya mencapai 22,44%. Hibrida antara ikan patin siam dan nasutus sebagai jenis baru dapat dikembangkan untuk meningkatkan produktivitas ikan catfish dalam mendukung pro-duksi perikanan budi daya secara nasional.

Filter by Year

2001 2022


Filter By Issues
All Issue Vol 22 No 2 (2022): June 2022 Vol 22 No 1 (2022): February 2022 Vol 21 No 3 (2021): October 2021 Vol 21 No 2 (2021): June 2021 Vol 21 No 1 (2021): February 2021 Vol 20 No 3 (2020): October 2020 Vol 20 No 2 (2020): June 2020 Vol 20 No 1 (2020): February 2020 Vol 19 No 3 (2019): October 2019 Vol 19 No 2 (2019): June 2019 Vol 19 No 1 (2019): February 2019 Vol 18 No 3 (2018): October 2018 Vol 18 No 2 (2018): June 2018 Vol 18 No 1 (2018): February 2018 Vol 17 No 3 (2017): October 2017 Vol 17 No 2 (2017): June 2017 Vol 17 No 1 (2017): February 2017 Vol 16 No 3 (2016): October 2016 Vol 16 No 2 (2016): June 2016 Vol 16 No 1 (2016): February 2016 Vol 15 No 3 (2015): October 2015 Vol 15 No 2 (2015): June 2015 Vol 15 No 1 (2015): Februari 2015 Vol 14 No 3 (2014): Oktober 2014 Vol 14 No 2 (2014): Juni 2014 Vol 14 No 1 (2014): Februari 2014 Vol 13 No 2 (2013): Desember 2013 Vol 13 No 1 (2013): Juni 2013 Vol 12 No 2 (2012): Desember 2012 Vol 12 No 1 (2012): Juni 2012 Vol 11 No 2 (2011): Desember 2011 Vol 11 No 1 (2011): Juni 2011 Vol 10 No 2 (2010): Desember 2010 Vol 10 No 1 (2010): Juni 2010 Vol 9 No 2 (2009): Desember 2009 Vol 9 No 1 (2009): Juni 2009 Vol 8 No 2 (2008): Desember 2008 Vol 8 No 1 (2008): Juni 2008 Vol 7 No 2 (2007): Desember 2007 Vol 7 No 1 (2007): Juni 2007 Vol 6 No 2 (2006): Desember 2006 Vol 6 No 1 (2006): Juni 2006 Vol 5 No 2 (2005): Desember 2005 Vol 5 No 1 (2005): Juni 2005 Vol 4 No 2 (2004): Desember 2004 Vol 4 No 1 (2004): Juni 2004 Vol 3 No 2 (2003): Desember 2003 Vol 3 No 1 (2003): Juni 2003 Vol 2 No 2 (2002): Desember 2002 Vol 2 No 1 (2002): Juni 2002 Vol 1 No 2 (2001): Desember 2001 Vol 1 No 1 (2001): Juni 2001 More Issue