cover
Contact Name
aqlania
Contact Email
aqlania@uinbanten.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
aqlania@uinbanten.ac.id
Editorial Address
Jalan Jendral Sudirman No. 30 Panancangan Cipocok Jaya, Sumurpecung, Kec. Serang, Kota Serang, Banten 42118
Location
Kota serang,
Banten
INDONESIA
Aqlania
ISSN : 20878613     EISSN : -     DOI : -
The Aqlania Journal is a scientific journal that focuses on the publication of research results in religious philosophy, humanitarian and environmental studies. This journal is published periodically twice a year in June and December. The Aqlania journal is open to researchers, practitioners and observers of religious, human and environmental philosophy studies. This journal is managed by the Department of Aqeedah and Islamic Philosophy Philosophy Faculty of Ushuluddin and Adab UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten.
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 12 No 1 (2021): June" : 6 Documents clear
Analisis Kritis Terhadap Paradigma Prinsip Verifikasi A.J Ayer Amilatu Sholihah; Muhammad Anwar Idris
Aqlania: Jurnal Filsafat dan Teologi Islam Vol 12 No 1 (2021): June
Publisher : Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam Fakultas Ushuluddin dan Adab UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32678/aqlania.v12i1.3632

Abstract

Artikel ini membahas tentang pemikiran Alferd Jules Ayer, khususnya pemikirannya tentang positivisme logis. Jenis penelitian ini yaitu kepustakaan, dengan menggunakan pendekatan kualitatif yang bersifat deskriptif-analitis, yaitu mendeskripsikan sejarah intelektual Alferd Jules Ayer, sejarah munculnya positivisme logis serta pemikiran Alferd Jules Ayer tentang positivisme logis. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Alferd Jules Ayer merupakan salah satu tokoh filosof yang mengkaji postivisme logis khusunya di Inggris. Positivisme logis merupakan lanjutan pemikiran dari positivisme klasik (Auguste Comte) yang berpusat pada pemikiran empiris yang bersifat sebagai sains (ilmu pasti). Perbedaan positivisme dengan positivisme logis terletak pada pusat kajiannya. Positivisme pusat kajiannya adalah sosial, sedangkan positivisme logis pusat kajiannya adalah bahasa. Positivisme logis berbicara tentang bermakna atau tidaknya suatu pernyataan/proposisi bukan benar atau tidaknya suatu proposisi. Oleh karenanya Ayer membagi proposisi itu dengan meaning full dan meaning less. Proposisi yang digunakan dalam kajian Ayer hanya proposisi yang bersifat meaning full karena proposisi tersebut dapat diverifikasi.
Reconsidering Manifestation and Significances of Islamic Philosophy Abdullah Muslich Rizal Maulana; Muhammad Faqih Nidzom; Achmad Reza Hutama Al Faruqi; Choirul Ahmad
Aqlania: Jurnal Filsafat dan Teologi Islam Vol 12 No 1 (2021): June
Publisher : Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam Fakultas Ushuluddin dan Adab UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32678/aqlania.v12i1.3633

Abstract

Islamic Philosophy should be observed as the worth treasure that manifested during the history of Islamic Intellectual Tradition. Quite different from the Philosophical traditions breed in Western Civilization, Islamic Philosophy affirmed its construction based on Revelation, Intuition, and demonstration. This paper will enquire several arguments reconsidering an influential position of Philosophy in Islamic Intellectual Tradition; ranged from an elaboration regarding the unity of Reason (Ratio-Intellectus), unity of existence, and the unity or relation between the Knower and the known object. Consequently, there are at least five significances of Islamic Philosophy to be studied by present-day Muslims by order: Islamic Philosophy acquired the whole competencies to seek the truth and wisdom; it is required as a systematic thought to face challenges confronted by Western Civilization; especially their destructive ideas; Islamic Philosophy also encourage mankind to find an answer an eternal question concerning the nature of their world; and finally, Islamic Philosophy counteracts the bias framework of Orientalists.
Konsep Epistemologi Keilmuan Islam Muhammad Abid Al-Jabiri Ahmad Syahid
Aqlania: Jurnal Filsafat dan Teologi Islam Vol 12 No 1 (2021): June
Publisher : Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam Fakultas Ushuluddin dan Adab UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32678/aqlania.v12i1.3950

Abstract

Kondisi nalar Arab mengalami stagnasi yang cukup akut. Akibatnya, dunia Arab mengalami ketertinggalan dibanding dengan nalar modern yang semakin berkembang. Problem mendasar tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi M. Abid al-Jabiri untuk membangkitkan nalar Arab dari tidur panjang. Al-Jabiri berpendapat bahwa dunia Arab dan Islam tidak harus menutup mata dari perkembangan dunia Barat, justru harus terjadi dialog kritis dan dialog peradaban. Metode yang digunakan dalam tulisan ini adalah deskriptif analisis. Dilihat dari jenisnya penelitian ini termasuk riset kepustakaan (library research). Sumber pengambilan data yang digunakan adalah beberapa pustaka dari buku dan jurnal yang memaparkan tentang “Epistemologi Keilmuan Islam al-Jabiri”. Hasil dari tulisan ini menjelaskan bahwa al-Jabiri sangat menekankan epistemologi pemikiran Arab kontemporer sebagai jalan untuk menghadapi modernitas. Dalam upaya merekostruksi nalar Arab kontemporer, al-Jabiri membagi tiga nalar epistemologi yaitu bayani, burhani dan irfani. Apabila sinergitas ketiga paradigma epistemologi tersebut dilakukan maka teks atau naṣ keagamaan tidak lagi gamang berdialog dengan isu-isu kontemporer, karena teks tersebut sebenarnya sudah membawa pesan universal tentang kemanusiaan (humanity), keadilan (justice), dan kesetaraan (equality).
Kritik Al-Ghazali Terhadap Para Filsuf Azis Arifin; Jaipuri Harahap
Aqlania: Jurnal Filsafat dan Teologi Islam Vol 12 No 1 (2021): June
Publisher : Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam Fakultas Ushuluddin dan Adab UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32678/aqlania.v12i1.4375

Abstract

Artikel ini hendak mengungkapkan ketidaksenadaan al-Ghazali terhadap para filsuf dalam tiga persoalan pokok, yaitu perihal kekadiman alam, keilmuan Tuhan dan kebangkitan jasmani. Sebagai seorang pemikir Sunni, al-Ghazali tertantang untuk mengkritisi bangunan argumen para filsuf lainnya yang ia klaim sebagai mu’tazili, seperti al-Kindi (w. 870 M), al-Farabi (w. 950 M) dan al-Razi (w. 925 M). Mereka yang terpengaruh oleh pemikiran filsuf Yunani baik secara langsung maupun tidak, menurut al-Ghazali telah menuntun umat pada jurang kekufuran dalam tiga persoalan utama tersebut sehingga mereka harus bertanggung jawab karenanya. Menurutnya, ketiga masalah tersebut merupakan dasar umat dalam berakidah, sehingga titel “kafir” merupakan hal wajar untuk disematkan. Metodologi yang digunakan dalam tulisan ini adalah analisis interpretatif. Adapun hasil yang didapatkan dari penelitian ini yaitu bahwa metodologi yang digunakan al-Ghazali memiliki karakteristik tersendiri yang khas, yang tidak sama dengan para filsuf pada umumnya. Jika mereka membebankan kerja rasionalnya hanya pada logika, al-Ghazali lebih membebankan kerja rasionalnya secara berimbang pada dua hal, yaitu aspek tasawuf dan logika transenden.
AL-Kindi: Filsafat Agama dan An-Nafs Kamaluddin Kamaluddin
Aqlania: Jurnal Filsafat dan Teologi Islam Vol 12 No 1 (2021): June
Publisher : Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam Fakultas Ushuluddin dan Adab UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32678/aqlania.v12i1.4392

Abstract

Kajian terhadap an nafs adalah kajian yang tetap menarik. Penafsiran tentang kedudukan dan fungsi an nafs cukup variatif sesuai dengan perspektif serta latar belakang mereka yang konsern atas hal itu. Semantara itu pada sisi lain pemahaman tentang an nafs dimaksud cukup penting, selaras dengan keberadaannya pada diri setiap orang. Tulisan ini berusaha menggali pemikiran Al-Kindi, salah seorang tokoh penting dan terkemuka dalam filsafat Islam. Pemikiran beliau tentang an nafs akan dilihat dari perspektif filsafat agama. Melalui penelusuran dalam penelitian kepustakaan dengan pendekatan kualitatif ditemukan bahwa Al-Kindi adalah filsuf Islam berkebangsaan Arab pertama yang berhasil mengintegrasikan antara filsafat dan agama. Baginya filsafat adalah usaha manusia secara sistematis untuk mengetahui kebenaran, sedangkan agama adalah sumber dari kebenaran itu sendiri. Karena itu wahyu tidak bertentangan dengan filsafat. Kedudukan jiwa bagi tubuh adalah sebagai pemberi hidup, sedangkan tubuh adalah tumpangan. Jiwa dan tubuh, dengan demikian, adalah dua unsur yang saling melengkapi. Jiwa adalah kesempurnaan pertama bagi jism organic, yang dengannya jisim memiliki kehidupan secara potensial. Jiwa memberi kehidupan bagi tubuh, tanpa jiwa maka tubuh tidak dapat merasakan apa-apa, dan bahkan tubuh akan musnah dengan sendirinya.
Konsep Tuhan, Manusia, dan Alam Dalam Tradisi Begawi Cakak Pepadun Lampung: Sebuah Kajian Metafisika Shely Cathrin
Aqlania: Jurnal Filsafat dan Teologi Islam Vol 12 No 1 (2021): June
Publisher : Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam Fakultas Ushuluddin dan Adab UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32678/aqlania.v12i1.4767

Abstract

This study aims to analyze the concepts of God, nature, and humans in the Begawi Cakak Pepadun Lampung tradition from a metaphysical point of view. An investigation of these three concepts is an urgent thing to do to formulate the elements of Nusantara philosophy contained in the Begawi Cakak Pepadun Lampung tradition, as well as to trace the influence of Islam in the implementation of the tradition. Researchers conducted an analysis of the Begawi Cakak Pepadun Lampung tradition from a metaphysical point of view with a research model on philosophical issues that exist in society. The results showed that the concept of God, in the Begawi Cakak Pepadun tradition, was influenced by Islam. God is understood as the Supreme Being, Supreme One, and the highest Source of Law. Humans attain perfection of themselves as humans when they fulfill three stages of life, namely cakak pelaminan, cakak haji, and cakak pepadun. This is the concept of a perfect human being implied in the Begawi Cakak Pepadun tradition. The universe is understood as consisting of the material and spiritual realms as a creation that shows the majesty of God. This concept is influenced by the teachings of Islam about a balanced relationship between humans and God (hablu minallah), and humans and humans (hablu minannas).

Page 1 of 1 | Total Record : 6