Wave: Jurnal Ilmiah Teknologi Maritim
Merupakan jurnal ilmiah nasional yang diterbitkan pertama kali pada tahun 2007 dengan tujuan sebagai media untuk mempublikasikan hasil penelitian, hasil pengkajian maupun hasil penerapan teknologi bagi para perekayasa, peneliti, dosen maupun mahasiswa di bidang teknologi kemaritiman pada umumnya. Wave: Jurnal Ilmiah Teknologi Maritim terbit pada bulan Juli dan Desember setiap tahunnya.
Articles
388 Documents
Kajian Pemanfaatan Energi Arus Laut Di Indonesia
Afian Kasharjanto;
Daif Rahuna;
Rina Rina
Wave: Jurnal Ilmiah Teknologi Maritim Vol. 11 No. 2 (2017)
Publisher : Badan Riset dan Inovasi Nasional
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.29122/jurnalwave.v11i2.3070
Masih belum banyak lembaga penelitian yang melakukan kegiatan penelitian tentang potensi energi arus laut di Indonesia. Tetapi mengingat cadangan sumber energi fosil yang semakin lama akan terus berkurang, maka penelitian tentang potensi energi ini harus terus dilakukan .Untuk tujuan tersebut, Pemerintah telah mengeluarkan sejumlah kebijakan agar penelitian mulai lebih fokus pada pengembangan energi terbarukan khususnya dari laut, mengingat Indonesia sebagai Negara Kepulauan yang memiliki banyak Selat.Pemerintah telah berkomitmen untuk dapat meningkatkan kontribusi Energi Baru Nasional dari 17% saat ini menjadi 23 % pada tahun 2025 nanti. Turut berkontribusi dalam semangat tersebut,Balai Teknologi Hidrodinamika (BTH) telah meng-inisiasi kegiatan penelitian sumber energi arus laut melalui penelitian berbagai tipe turbin Poros vertikal sejak tahun 2006. Terakhir pada tahun 2017 telah dilakukan uji kinerja Turbin Ganda (twin turbine) di Jembatan Suramadu.Meskipun belum mencapai hasil maksimal, tetapi hasilpenelitian tersebut diharapkan dapat meng-inisiasi dan dijadikan sebagai referensi bagi kegiatan penelitian Turbin arus laut lainnya. Penelitian juga telah menghasilkan dua buah sertifikat Paten. Paper ini hanyalah sebagai informasi perkembangan penelitian energi arus laut di BTH dan prospek ke depannya bagi pengembangan penelitian di Indonesia
Analisa Pengaruh Rasio Ukuran Utama Kapal Terhadap Effisiensi Energi Terbuang Propeller Pada Kapal Single Screw Dengan Menggunakan Metode Analysis Jalur
Setyo Leksono
Wave: Jurnal Ilmiah Teknologi Maritim Vol. 11 No. 2 (2017)
Publisher : Badan Riset dan Inovasi Nasional
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.29122/jurnalwave.v11i2.3077
Tulisan ini membahahas tentang hubungan antara rasio dimensi kapal (L/B, B/T) terhadap energi yang didapatkan dari pemakaian vane-turbin di slipstream propeller. Data yang digunakan berdasar pada hasil statistic (numeris) dan pengujian model kapal. Hubungan antara data dapat dihitung dengan perhitungan kontribusi dari variabel penyebab, variable pengaruh yang ditargetkan baik secara langsung maupun tidak langsung ke variable lainnya dan ini akan diuji dengan menggunakan analisis jalur. Dengan menggunakan koefisien jalur, maka dapat dimungkinkan untuk menunjukkan variable-variabel mana yang menjadi kontribusi utama efisiensi yang didapatkan. Analisis data dari perangkat lunak Microsoft Excell digunakan untuk pendekatan perhitungan. Hasilnya, bahwa L/B dan CT secara tidak langsung mempengaruhi effisiensi yang didapatkan oleh vane-turbin untuk memperkecil energy terbuang propeller.
KAJIAN EKSPERIMEN VISCOUS FORM FACTOR PADA HAMBATAN KAPAL KATAMARAN
Andi Jamaluddin Jamaluddin;
Dewi Kentjanawati Kentjanawati
Wave: Jurnal Ilmiah Teknologi Maritim Vol. 7 No. 1 (2013)
Publisher : Badan Riset dan Inovasi Nasional
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.29122/jurnalwave.v7i1.3193
Kapal katamaran saat ini banyak menarik perhatian karena memiliki tingkat efisiensi dan performansi hidrodinamika yang lebih baik dibandingkan dengan kapal konvensional (bentuk monohull). Salah satu tantangan yang dihadapi oleh para pakar perkapalan adalah memprediksi secara akurat karakteristik hidrodinamika hambatannya. Makalah ini mengkaji secara eksperimental di kolam tarik (towing tank) untuk mendapatkan nilai viscous form factor pada lambung kapal katamaran pada beberapa variasi kecepatan. Viscous form factor merupakan komponen hambatan yamg penting dalam menghitung hambatan viskos kapal. Model uji adalah katamaran simetris dengan beberapa bervariasi jarak antara lambung. Hasil pengujian di towing tank dibandingkan dengan hasil uji di terowongan angin (wind tunnel). Hasil uji model disajikan dalam bentuk tabel dan grafik dan didiskusikan dengan beberapa hasil kajian para pakar lainnya. Pada penelitian eksperimental ini, hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa viscous form factor pada lambung katamaran adalah lebih besar dibandingkan demihull. Fenomena ini menunjukkan adanya efek interaksi hambatan yang ditimbulkan oleh jarak antara lambung. Disamping itu, semakin besar jarak antara lambung maka semakin kecil nilai viscous form factor-nya. Fenomena ini dapat dijadikan masukan bagi para designer dalam memprediksi total hambatan kapal dan selanjutnya menentukan besar daya mesin kapal katamaran secara akurat dan rasional
KAJIAN NUMERIK BAHAN REDAMAN ALTERNATIF UNTUK MENGURANGI GETARAN PADA DEK KAPAL PENUMPANG
Wibowo Harso Nugroho;
Nanang Joko HP
Wave: Jurnal Ilmiah Teknologi Maritim Vol. 7 No. 1 (2013)
Publisher : Badan Riset dan Inovasi Nasional
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.29122/jurnalwave.v7i1.3194
Semakin kompleksnya problem getaran kapal saat ini dan ketatnya persyaratan tingkat getaran yang diijinkan sesuai rules klasifikasi kapal, maka perlu dilakukan metode antisipasinya agar penumpang dan awak kapal semakin nyaman dan aman dalam pelayaran. Salah satu metode untuk mengurangi problem getaran adalah melakukan pengurangan terhadap respon dari getaran struktur dengan menggunakan redaman (damper). Paper ini menjelaskan pengaruh lapisan bahan redaman alternatif pada plat dek kapal terhadap beban eksitasi harmonik, melalui pemodelan numerik dengan metode elemen hingga. Lapisan bahan redaman yang dipakai berupa semen dan karet serta kombinasi keduanya. Pemodelan numerik redaman metode ’tiling’ pada plat dek kapal juga dilakukan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa untuk ketebalan lapisan yang sama pada penggunaan lapisan berbahan semen di keseluruhan plat dek kapal mempunyai nilai respon harmonik yang terkecil terhadap getaran dek
PEMBENTUKAN GEOMETRI PAHAT BUBUT PADA PROSES PERAUTAN MODEL POROS PROPELLER
Suyadi Suyadi Suyadi
Wave: Jurnal Ilmiah Teknologi Maritim Vol. 7 No. 1 (2013)
Publisher : Badan Riset dan Inovasi Nasional
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.29122/jurnalwave.v7i1.3195
Pembuatan model poros propeller kapal  untik pengujian memerlukan  ketelitian tinggi. Proses pembuatan model tersebut menggunakan mesin bubut, penggunaan pahat bubut menuntut keseragaman geometri pada sisi-sisi pahat untuk mendapatkan ketajaman mata potong pahat . Dari dasar tersebut maka, geometri pahat bubut berguna untuk menentukan sudut yang sesuai dengan tujuan menghasilkan benda kerja ( poros propeller ) dengan nilai tingkat kekasaran atau halus. pembentukan geometri pahat bubut, semakin besar sudut potong maka semakin halus hasil benda kerja ( poros propeller ) atau tingkat kekasaran semakin rendah
PENGGUNAAN MARKING TABLE UNTUK PENGUKURAN DIMENSI MODEL UJI KAPAL TIPE V-FORM
Meitha Soetardjo
Wave: Jurnal Ilmiah Teknologi Maritim Vol. 7 No. 1 (2013)
Publisher : Badan Riset dan Inovasi Nasional
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.29122/jurnalwave.v7i1.3196
Kapal patroli merupakan kapal cepat yang digunakan untuk tugas inspeksi, monitoring dan pengawasan. Pembuatan model uji kapal patroli tidak mudah mengingat bentuk haluan kapal yang cenderung pipih (V-form). Keakurasian pembuatan model kapal sangat penting untuk mendapatkan hasil uji model kapal yang rasional dengan tingkat validitas yang dapat dipertanggungjawabkan di laboratorium hidrodinamika. Dalam tulisan ini dibahas mengenai pembuatan model kapal Patroli yang didesain dengan skala model 1:21,19 dengan bahan kayu laminasi. Pemeriksaan model kapal terdiri dari pemeriksaan permukaan dan konstruksi lambung, dengan beberapa parameter pengukuran yang perlu diperhatikan: frame spacing 1 sampai dengan frame spacing 20 station, pemeriksaan point AP (After Perpendicular) ke bagian paling belakang dan pemeriksaan point FP (Fore Perpendicular) ke bagian paling depan model kapal. Pengukuran dilakukan dengan meletakkan model kapal diatas marking table untuk melakukan pengukuran dan pemeriksaan dimensi baik pada arah x, y maupun z. Alat waterpass digunakan untuk mengetahui pelurusan posisi model kapal. Setelah itu dilakukan penandaan frame station, waterline dan draft serta nomer lambung model uji kapal. Kualitas keakurasian pengukuran sangat ditentukan oleh alat ukur dan prosedur yang digunakan.Tinggi rendahnya tingkat ketelitian hasil suatu pengukuran dapat dilihat dari harga deviasi hasil pengukuran
KAJIAN IMPLEMENTASI PROSEDUR ITTC TENTANG PENGUJIAN HAMBATAN KAPAL BERDASARKAN SISTEM MANAJEMEN MUTU ISO/IEC 17025:2008
Dian Purnamasari
Wave: Jurnal Ilmiah Teknologi Maritim Vol. 7 No. 1 (2013)
Publisher : Badan Riset dan Inovasi Nasional
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.29122/jurnalwave.v7i1.3197
ITTC (The International Towing Tank Conference) merupakan asosiasi independen dari organisasi di seluruh dunia yang memiliki tanggung jawab untuk prediksi kinerja hidrodinamika kapal dan instalasinya berdasarkan hasil pemodelan fisik dan numerik. UPT-BPPH terdaftar sebagai anggota ITTC sehingga dalam menetapkan metode atau prosedur pengujian, pemilihan dan menjaga pemutakhiran metode sesuai ruang lingkup pengujian yang dilaksanakan sesuai ITTC. Tetapi pemilihan dan pemutakhiran prosedur ITTC di UPT BPPH masih belum maksimal dan terkait pengajuan akreditasi SNI ISO/IEC 17025 UPT BPPH sebagai Laboratorium Pengujian Hidrodinamika untuk mendapatkan pengakuan oleh Komite Akreditasi Nasional (KAN) maka kajian implementasi prosedur ITTC tentang pengujian hambatan kapal dilaksanakan dengan metode mengintegrasikan antara persyaratan teknis SNI ISO/IEC 17025 dengan prosedur ITTC terkait pengujian hambatan kapal sehingga prosedur ITTC tersebut dapat diimplementasikan secara maksimal dan didokumentasikan sebagai bagian dalam dokumen sistem mutu UPT BPPH
ANALISIS DISTORSI DAN TEGANGAN SISA PADA POROS KAPAL TERHADAP PERLAKUAN PANAS (QUENCHING) MENGGUNAKAN FEM
Mahendra Indiaryanto
Wave: Jurnal Ilmiah Teknologi Maritim Vol. 7 No. 1 (2013)
Publisher : Badan Riset dan Inovasi Nasional
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.29122/jurnalwave.v7i1.3198
Pada bidang perkapalan sistem propulsi kapal merupakan salah satu bagian yang penting. Dimana poros kapal terbuat dari silinder pejal yang mempunyai kekerasan struktur dan kuat tarik material. Sehingga apabila diberikan perlakuan panas (Quenching) akan meningkatkan kekerasan dan kuat tarik struktur poros, serta terjadi perubahan distorsi dan tegangan sisa. Jadi dengan adanya perubahan ini perlu di analisa, sehingga pengaruh distorsi dan teganagan sisa tidak melebihi batas yang di izinkan. Analisa ini menggunakan Metode Elemen Hingga (Finite Element Methods) dengan bentuk silinder pejal (poros).
ANALISIS KOMPARATIF HAMBATAN KAPAL KATAMARAN PADA PERAIRAN DANGKAL, MEDIUM DAN DALAM
Endah Suwarni;
I Ketut Aria Pria Utama
Wave: Jurnal Ilmiah Teknologi Maritim Vol. 7 No. 2 (2013)
Publisher : Badan Riset dan Inovasi Nasional
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.29122/jurnalwave.v7i2.3199
Berbagai literatur menunjukkan bahwa kapal katamaran menjadi populer dan sukses digunakan sebagai moda transportasi karena tersedianya area geladak yang lebih luas dan tingkat stabilitas yang lebih aman dan nyaman. Kapal katamaran mempunyai sarat rendah, memungkinkan untuk dioperasikan di perairan dangkal (shallow water) seperti halnya di perairan Indonesia yang relatif dangkal antara lain pelabuhan dan sungai. Di sisi lain hal tersebut dapat menimbulkan efek dan fenomena squat yang meningkatkan hambatan total kapal katamaran. Paper ini mengkaji hambatan lambung katamaran terhadap variasi kedalaman perairan. Eksperimen dilakukan di Tangki Tarik (Towing Tank) Jurusan Teknik Perkapalan (JTP) ITS dengan variasi rasio jarak antar lambung kapal – panjang kapal (S/L) 0.2 ~ 0.4 dan variasi kecepatan pada angka Froude (Fr) 0.25~0.42 di perairan dangkal dan medium serta dibandingkan dengan penelitian yang telah dilakukan sebelumnya pada perairan dalam, sehingga dapat memberikan komparasi hambatan total kapal katamaran di perairan dangkal, perairan medium dan di perairan dalam. Hambatan kapal katamaran yang cenderung meningkat di perairan dangkal dan medium pada kecepatan Fr 0.25~0.37 akibat terjadinya perubahan tekanan dan kenaikan kecepatan aliran antara bagian bawah badan kapal dan dasar perairan. Hal tersebut dapat memberikan kontribusi data untuk mengevaluasi prediksi hambatan total kapal katamaran, sehingga penentuan daya mesin kapal dan efisiensi bahan bakar kapal katamaran yang dioperasikan di perairan dangkal-medium dapat menjadi lebih optimal
WAKTU EVAKUASI MAKSIMUM PENUMPANG PADA KAPAL PENYEBERANGAN ANTAR PULAU
Daeng Paroka
Wave: Jurnal Ilmiah Teknologi Maritim Vol. 7 No. 2 (2013)
Publisher : Badan Riset dan Inovasi Nasional
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.29122/jurnalwave.v7i2.3200
Korban jiwa pada kecelakaan kapal dapat terjadi akibat kesulitan untuk mengevakuasi penumpang akibat kepanikan, kelebihan penumpang serta dimensi serta rute dari jalur evakuasi yang tidak memungkinkan untuk mengevakuasi penumpang dalam waktu yang singkat.Paper ini mengevaluasi waktu evakuasi berdasarkan standar IMO apabila terjadi kebocoran satu atau beberapa kompartemen secara bersamaan. Waktu kebocoran diestimasi dengan memakai prinsip Bernoulli. Jalur evakuasi dianggap layak apabila waktu evakuasi yang dibutuhkan lebih kecil dari waktu kebocoran. Hasil perhitungan dan analisis menunjukkan bahwa kebocoran pada kompartemen tertentu dengan luas penampang bocor yang besar dapat mengakibatkan penumpang tidak dapat dievakuasi sebelum kapal kehilangan stabilitas atau tenggelaman. Oleh karena itu, penentuan jalur evakuasi hendaknya tidak hanya mempertimbangkan kasus kebakaran tetapi juga bentuk kecelakaan lain yang mungkin terjadi di kapal seperti masalah kebocoran