cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Energi dan Lingkungan (Enerlink)
ISSN : 02169541     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science,
Enerlink adalah jurnal yang diterbitkan 2 kali setahun oleh Pusat Teknologi Pengembangan Sumberdaya Energi dan Industri Kimia BPPT di bidang energi dan lingkungan. Enerlink is a scientific journal that publishes twice annually by Centre of Energy Technology and Chemical Industry of BPPT.
Arjuna Subject : -
Articles 322 Documents
PENGUJIAN DAN ANALISIS UMUR PAKAI LAMPU LIGHT EMITTING DIODE (LED) SWABALAST UNTUK PENCAHAYAAN UMUM Sudirman Palaloi
Jurnal Energi dan Lingkungan (Enerlink) Vol. 11 No. 1 (2015)
Publisher : Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29122/elk.v11i1.1586

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui umur pakai lampu LED swabalast yang saat ini banyak digunakan untuk penerangan umum. Jumlah sampel yang diuji sebanyak 59 unit dengan daya 2 s.d 13 watt dari berbagai merek. Metode pengujian mengacu pada standar SNI IEC 62612:2013. Kuat cahaya awal diukur sebagai titik data pertama dalam menentukan umur pakai lampu. Umur pakai lampu LED  ditentukan dengan cara menyalahkan lampu selama 6000 jam dengan pengukuran  kuat cahaya setiap 1000 jam. Hasil pengukuran kuat cahaya selama 6000 jam dibuat grafik hubungan antara kuat cahaya terhadap umur lampu. Lampu yang memiliki penurunan kuat cahaya maksimum 10% setelah menyala 6000 jam dimasukkan dalam kategori A.  Penurunan kuat cahaya hingga 20% masuk kategori B, dan seterusnya lampu yang kuat cahayanya menurun hingga 50% dimasukkan dalam katerogori E. Hasil pengujian menunjukkan bahwa ada sekitar 25,4% masuk ke dalam kategori A, sebanyak 40,7% masuk kategori B. Sedangkan kategori C dan D masing-masing  sebanyak 24,7% dan 6,8%. Terdapat  3,4% lampu tidak masuk dalam kategori karena pada saat pengujian 6000 jam, prosentasi kuat cahaya di bawah 50%. Hasil ekstrapolasi secara statistik didapatkan umur pakai lampu tersebut rata-rata pada kisaran  20.500 jam. Kata kunci: lampu LED, kuat cahaya, efikasi, umur pakai
DAMPAK FEED-IN TARIFF ENERGI TERBARUKAN TERHADAP TARIF LISTRIK NASIONAL La Ode Muhammad Abdul Wahid
Jurnal Energi dan Lingkungan (Enerlink) Vol. 11 No. 1 (2015)
Publisher : Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29122/elk.v11i1.1587

Abstract

Pemanfaatan energi terbarukan sangat terbatas dengan bauran energi terbarukan hanya 4,76%terhadap total bauran energi nasional. Hal ini disebabkan karena harga jual listrik pembangkit energiterbarukan pada umumnya lebih mahal dibanding pembangkit energi fosil. Untuk mendorongpemanfaatan energi terbarukan,Pemerintah telah menetapkan berbagai regulasi tentang harga juallistrik dari pembangkit listrik energi terbarukanyang wajib dibeli oleh PT PLN, seperti regulasi PLTP,PLTA, PLTS, PLTSampah, dan PLTBiomassa. Namun, hasil analisis menunjukkan bahwa beberapaharga jual listrik pembangkit energi terbarukan tersebut lebih mahal dari rata-rata biaya operasipembangkit listrik PLN yang pada tahun 2014 mencapai Rp. 1.297/kWh, bahkan ada yang lebih mahaldari biaya operasi PLTD. Hal ini berdampak terhadap kenaikan biaya pembelian listrik PLN, padahalharga jual listrik masih ada yang ditetapkan dengan harga subsidi. Kondisi ini akan menyebabkannaiknya subsidi listrik atau naiknya Tarif Dasar Listrik. Kenaikan Tarif Dasar Listrik akan berdampakterhadap pelanggan listrik rumah tangga. Hasil analisis dari data Susenas BPS menunjukkan bahwarumah tangga dengan pengeluaran maksimum 5 juta rupiah per bulan merupakan rumah tangga yangpaling terkena dampak atas kenaikan Tarif Dasar Listrik karena merupakan 91,33% terhadap totalpelanggan rumah tangga.Kata kunci: fit energi terbarukan dan tarif listrik
PENGARUH TKDN PADA BIAYA PEMBANGKITAN LISTRIK PANAS BUMI SKALA KECIL Agus Nurrohim
Jurnal Energi dan Lingkungan (Enerlink) Vol. 11 No. 1 (2015)
Publisher : Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29122/elk.v11i1.1588

Abstract

Indonesia mempunyai potensi sumberdaya panas bumi sebesar 28.994 Mega Watt (MW) atau sekitar40% dari potensi panas bumi dunia. Namun baru 1.343,5 MW atau sekitar 4,7% dari potensi tersebutyang dimanfaatakan. Selain faktor non teknis seperti masalah status lahan dan perijinan, faktorkeekonomian merupakan salah satu kendala pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi(PLTP) di Indonesia. Guna mendorong pemanfaatan energi panas bumi secara maksimal, BadanPengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) bekerja sama dengan beberapa industri manufakturkomponen pembangkit listrik berupaya meningkatkan Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN)melalui pembangunan prototipe PLTP tipe Condensing 3 MW. PLTP hasil rancangan BPPT danindustri manufaktur tersebut telah mampu meningkatkan TKDN dari 42,00% (target pemerintah)menjadi 63,15% atau meningkat sebesar 21,15%. Dengan adanya peningkatan tersebut akan dapatmenurunkan biaya investasi sebesar 8,95% dan biaya pembangkitan listrik sebesar 7,36%. Selainmenurunkan biaya investasi dan biaya pembangkitan listrik, secara tidak langsung peningkatan TKDNakan memberi multiplier efek yang besar bagi pertumbuhan industri, khususnya industri kecil danmenengah.Kata kunci: Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP), industri manufaktur, Tingkat Kandungan Dalam Neger (TKDN), biaya investasi, biaya pembangkitan
ANALISA TERMOHIDROLIKA KERUSAKAN KONDENSOR ORTHO DICHLOROBENZENE TIPE SHELL DAN TUBE Bambang Teguh P.; Riki Jaka Komara
Jurnal Energi dan Lingkungan (Enerlink) Vol. 11 No. 1 (2015)
Publisher : Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29122/elk.v11i1.1589

Abstract

Telah terjadi kerusakan pada sejumlah tube pada kondensor Ortho Dichlorobenzene (ODCB). Kondensor ODCB adalah jenis shell and tube tipe BEM, posisi vertikal, dengan expansion joint pada shell. ODCB mengalir di sisi tube dan air pendingin (CW) mengalir di sisi shell secara paralel dari atas ke bawah. Hasil uji material menyimpulkan bahwa kerusakan berupa Stress Corrosion Cracking (SCC) yang disebabkan oleh tegangan bengkok akibat ekspansi tube yang tertahan. Namun demikian, ternyata retakan tube terjadi tidak pada tengah-tengah bentangan panjang tube melainkan pada jarak sekitar 450 – 500 mm dari tube sheet, tidak jauh dari shell inlet nozlle. Tujuan studi ini adalah untuk mempelajari fenomena termohidrolika lokal yang menyebabkan kerusakan tube. Hasil simulasi menunjukkan pada jarak sekitar 450 – 500 mm dari tube sheet, CW di sisi shell mulai mendidih dan ODCB di sisi tube mulai terkondensasi. Uap air yang terbentuk mengisi ruang shell bagian atas. Proses pendinginan di zona ini menjadi sangat buruk dan mengakibatkan gradien temperatur dinding tube ke arah longitudinal cukup tinggi. Gradien temperatur yang tinggi menyebabkan kekuatan dinding tube menurun, sehingga saat ekspansi tube tertahan, tube akan bengkok pada zona tersebut.Kata kunci: Ortho Dichlorobenzene, kondesor, shell and tube, BEM, aliran paralel, SS 316 L, stress corrosion cracking, tube bengkok, kondensasi, pendidihan
ACETONE-BUTANOL-ETHANOL FERMENTATION FOR BIOENERGY USING VARIOUS SUBSTRATES IN DEFINED TYA MEDIA Hanies Ambarsari; Kenji Sonomoto
Jurnal Energi dan Lingkungan (Enerlink) Vol. 11 No. 1 (2015)
Publisher : Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29122/elk.v11i1.1590

Abstract

A series of experiments had been conducted to investigate the performance of Clostridiumsaccharoperbutylacetonicum strain N1-4 (ATCC 13564) in direct fermentation of acetone, butanol, andethanol (ABE) using several substrates that have not been investigated previously using this strain,such as cellobiose, dextrin, starches of corn, potato, tapioca, wheat, and sago, as well as morecomplex carbohydrates such as xylans, cellulose, and carboxyl methyl cellulose (CMC), particularly tostudy the effect of such various substrate types and concentrations, as well as the substrates mixtureson the ABE ratio and productivity. The results showed that strain N1-4 could directly produce ABE fromvarious substrates, from monosaccharide to polysaccharides of hexose or pentose sugars, exceptCMC and cellulose. The experiments also suggested that cellobiose (a hexose disaccharide) could bethe more efficient substrate for strain N1-4 than glucose (a monosaccharide) to produce ABE in the TYA(Tryptone Yeast Agar) medium. It was proven also that the ABE ratio was very dependent on the typeand concentration of substrates being used by strain N1-4.Keywords: acetone, butanol, ethanol, clostridium saccharoperbutylacetonicum N1-4, fermentation
PEMANFAATAN CPO ASAM LEMAK BEBAS TINGGI SEBAGAI BAHAN BAKAR Zulaicha Dwi Hastuti; Dwi Husodo Prasetyo; Erlan Rosyadi
Jurnal Energi dan Lingkungan (Enerlink) Vol. 11 No. 1 (2015)
Publisher : Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29122/elk.v11i1.1591

Abstract

Asam lemak bebas (alb) dalam Crude Palm Oil (CPO) merupakan salah satu parameter kualitas CPO.Munculnya asamlemak bebas ini dapat berasal dari faktor pemanenan dan penyimpanan. Asamlemak bebas yang tinggi dalam CPO dapat menurunkan harga CPO. Minyak mentah sawit inimerupakan salah satu sumber energi terbarukan yang diolah, antara lain, menjadi pure plant oil (PPO)dan biodiesel. Namun,masalah utama CPO sebagai bahan baku PPO dan biodiesel adalah asamlemak bebas. Asam lemak bebas dalam CPO yang dapat digunakan untuk PPO dan biodiesel tidakboleh lebih dari 1%. Oleh karena itu, dalam penelitian ini dilakukan usaha untuk menurunkan asamlemak bebas dalam CPO sehingga dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar. Metoda yang digunakanadalah esterifikasi. Asam lemak bebas dikonversi menjadi metil ester. Campuran metil ester dengantrigliserida ini merupakan bahan bakar yang dapat digunakan untuk pengganti BBM. Kondisi yangoptimal untuk proses esterifikasi CPO alb tinggi adalah sebagai berikut : suhu 65oC, waktu 360 menit,katalis 0,25%, dan perbandingan mol metanol 8:1. Dengan proses ini, asam lemak bebas dapatditurunkan menjadi 2,76% (konversi 89,39%). Pada kondisi yang sama dengan katalis yangditingkatkan menjadi 0,5%, asam lemak bebas dapat diturunkan menjadi 1,86% (konversi 92,85%).Pada kondisi yang sama, dengan katalis yang ditingkatkan menjadi 1%, asam lemak bebas dapatditurunkan menjadi 1,75% (konversi 93,28%).Kata kunci: asam lemak bebas, CPO, esterifikasi, PPO, biodiesel
PENCEMARAN LINGKUNGAN PADA TUNGKU PEMBUATAN BRIKET KOKAS DAN PENGECORAN LOGAM SERTA PENCEMARAN LOGAM BERAT DI SENTRA INDUSTRI KECIL Hasnedi Hasnedi
Jurnal Energi dan Lingkungan (Enerlink) Vol. 7 No. 1 (2011)
Publisher : Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29122/elk.v7i1.2726

Abstract

The coke production process by baking semi-coke briquette in a coke’s bakingoven will produce flue gas and smoke. The same also happens in its utilizationtest in metal foundry kiln known as “tungkik” (plunging) smelting kiln. The gasand smoke predictably contain heavy metals and polluted chemical compoundsthat will pollute the environment and disturbing the health of workers if theirconcentrations pass over defined standard quality level. The objective of thisstudy is to examine the amount of heavy metals and chemical compoundpollutants produced in the process of baking semi-coke to produce coke and inthe utilization of coke as fuel in tungkik kilns. Measurement results show thatheavy metals in the kiln’s chimneys and chambers such as As, Cd, Pb, and Hgcould not actually be detected, while Fe, Na, Al, Ca, and K could be easilydetected. The concentrations of such metals are in the range of: Na = 100-315µg/m3, Al = 215-360 µg/m3, Ca = 786-1330 µg/m3, Fe = 478-2300 µg/m3, and K = 0.25-0.5 µg/m3. Meanwhile pollutants from other chemical compounds in the flue gas are NO2 = 80.7785-83.3725 mg/m3 and SO2 = 10.85-10.98 mg/m3. Pollutantsfrom ambient air are NO2 = 179.11-236.49 µg/Nm3, SO2 = 112.56-256.52 µg/Nm3,CO = 43.80-100.98 µg/Nm3, HC = 0.05-0.64 µg/Nm3, and O3 = 2.8098-19.6065µg/Nm3. The total particle’s content is also low, which is about 0.283 mg/m3 in thecoke baking oven’s chimneys, 0.554 mg/m3 in the tungkik kiln’s chimneys and0.259 mg/m3 in the metal melting locations. Comparison of the measurementresults with that of quality standard defined by the government regulation of theRepublic of Indonesia No.41 Year 1999 about air pollution control, show that theresults is far below the tolerated level. Therefore, the existence of coke bakingoven is still feasible and safe to the environment.Kata kunci: briket kokas, pencemaran lingkungan, logam berat
UJI PENINGKATAN MUTU BATUBARA PERINGKAT RENDAH SUMATERA SELATAN Hartiniati Hartiniati
Jurnal Energi dan Lingkungan (Enerlink) Vol. 7 No. 1 (2011)
Publisher : Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29122/elk.v7i1.2729

Abstract

A study of coal upgrading by way of evaporative method using coal from SouthSumatra is conducted. Preliminary inestigation on Upgrading of Brown Coal(UBC) process using Central and South Banko coals suggests that the processcan be applied to both coals (called S-BK and C-BK) without any operationalproblem. It produces high quality-stable coals in the briquette form with a calorificvalue of more than 6,500kcal/kg. Moreover, its spontaneous combustioncharacteristic is also suppressed comparing to that conventional drying method.This is due to the addition of aspal (heavy oil) in the solution of kerosene, wherethe aspal then soaked in the micropore of to prevent reabsorption of water whenput in the air.Kata Kunci: upgrading brown coal, Banko coal, briket batubara, spontaneouscombustion
RANCANGAN DASAR GASIFIER BATUBARA SIRKULASI UNGGUN MENGAMBANG UNTUK MEMBANGKITKAN LISTRIK 1 MW Soedjoko Tirtosoekotjo; Bambang Suwondo Rahardjo
Jurnal Energi dan Lingkungan (Enerlink) Vol. 7 No. 1 (2011)
Publisher : Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29122/elk.v7i1.2730

Abstract

There are 3 choices in accommodating power station facility which have beeninstalled to fulfill standard regulation of environmental quality which progressivelytighten. Firstly, facility modification of pulverized–coal fired power plant byapplying a flue–gas desulfurisation technology throw away to cost moneyinstallation of tired which can 20% of total cost development of it. Secondly,modification system of coal fired power generation become natural gas combinedcycle (NGCC) can reach low emission, but fuel cost relatively high, so willinfluence the electricity generating cost. Third, modification system of electricgeneration which have been installed by utilizing a mechanism of coalgasification is most efficient and best alternative to yield an environmentalfriendly of electric generation combined cycle. In this paper, writer try to make abasic design of circulating fluidized–bed coal gasifier using clay catalist relatedon third choice which expected applicable in the next future to come replacepower station system which have ended a period as well as newly even if.Kata Kunci: gasifier batubara unggun mengambang, katalis tanah liat,pembangkit listrik
PENGEMBANGAN PROSES UPGRADING MINYAK BATUBARA: Pengaruh Temperatur, Tekanan dan Space Velocity Yusnitati Yusnitati; Muhammad Hanif; M Faizal
Jurnal Energi dan Lingkungan (Enerlink) Vol. 7 No. 1 (2011)
Publisher : Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29122/elk.v7i1.2733

Abstract

Minyak batubara cair dengan titik didih 70-360oC, diperoleh dari proses pencairan batubara Tanito Harum menggunakan NEDOL Process skala pilot berkapasitas 150 ton/hari. Minyak batubara cair tersebut diupgrade untuk mengklarifikasi pengaruh temperatur reaksi, tekanan hidrogen, dan liquid hourly space velocity (LHSV) terhadap aktifitas hidrodenitrogenasi. Pengujian dilakukan dalam reactor fixed bed kontinyu berdiameter 8.5 mm menggunakan katalis Ni- W/Alumina pada temperatur 300-375oC, tekanan hidrogen 8-12 MPa, LHSV 0.75-3.0 hr-1 dan rasio hydrogen/oil 1000 NL/L. Hasil pengujian menunjukkan bahwa aktifitas hidrodenitrogenasi meningkat dengan peningkatan temperature reaksi dan tekanan hidrogen. Pada tekanan hidrogen 8 MPa, deaktifasi katalis terjadi lebih cepat dibandingkan dengan tekanan hydrogen 12 MPa selama 15 hari waktu operasi. Selain itu, ditunjukkan pula bahwa pada operasi dengan LHSV yang lebih rendah dan tekanan hidrogen yang lebih tinggi akan lebih efektif untuk menurunkan atau menghilangkan senyawa nitrogen dalam proses upgrading minyak batubara cair. Sehingga, operasi pada tekanan hidrogen 12 MPa diharapkan dapat menghasilkan produk minyak batubara cair dengan kandungan nitrogen yang rendah untuk waktu operasi lebih dari satu tahun pada skala komersial. Kata Kunci: hidrodenitrogenasi, katalis Ni-W/Alumina, minyak batubara cair, upgrading