cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta timur,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Sains Dirgantara
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol 16, No 1 (2018)" : 7 Documents clear
IDENTIFIKASI SINYAL PENGARUH VARIABILITAS AKTIVITAS MATAHARI TERHADAP CURAH HUJAN DI AREA ITERA ASTRONOMICAL OBSERVATORY (IAO), LAMPUNG Wirid Birastri
Jurnal Sains Dirgantara Vol 16, No 1 (2018)
Publisher : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1020.3 KB) | DOI: 10.30536/j.jsd.2018.v16.a2930

Abstract

Serangkaian dengan kajian kelayakan wilayah pembangunan observatorium serta mendukung tahap awal pengembangan sistem deteksi Sudden Ionospheric Disturbance (SID) di situs ITERA Astronomical Observatory (IAO), pada penelitian ini akan dibahas identifikasi pengaruh variabilitas aktivitas matahari menggunakan parameter Flare Index (FI) dan Total Solar Irradiance (TSI) terhadap parameter curah hujan jangka panjang di wilayah kajian. Meskipun mekanisme pengaruh aktivitas matahari terhadap sistem iklim di Bumi masih belum jelas, analisis dekomposisi sinyal dianggap dapat digunakan sebagai salah satu metode untuk mendeskripsikan korelasi antara keduanya. Dekomposisi Singular Spectrum Analysis (SSA) dari 30 tahun data curah hujan bulanan stasiun menunjukkan adanya kemiripan osilasi inter-annual dan interdecadal 22.5 tahun dengan FI dan TSI meskipun dengan magnitude yang lemah, yang mengindikasikan adanya respon curah hujan terhadap Hale cycle yang menggambarkan siklus medan magnetik matahari. Analisis korelasi rata-rata curah hujan tahunan GPCC dengan TSI, selama 110 tahun dari 1901-2010, dengan lag-time 1 tahun menunjukkan adanya korelasi positif yang signifikan antara keduanya, namun terdapat periode yang berkorelasi negatif pada 1920an hingga 1950. Lag-time antara respon hujan terhadap aktivitas matahari mengindikasikan adanya mekanisme lain yang menghubungkan kedua variabel ini, karena beberapa wilayah memberikan respon dengan waktu jeda yang berbeda-beda, sedangkan korelasi negatif pada beberapa penelitian diduga sebagai akibat respon iklim yang diakibatkan diantaranya oleh aktivitas vulkanik, instrusi partikel debu interstellar, dinamika atmosfer-laut, dan efek gas rumah kaca.
ANALYSIS ON THE PULSE STORM EVENT IN THE SOUTH BANDUNG WEST JAVA BASED ON THE TRANSPORTABLE X-BAND DOPLLER RADAR CAMPAIGN, (CASE STUDY : MARCH 16, 2017) Ginaldi Ari Nugroho; Tiin Sinatra; Trismidianto Trismidianto
Jurnal Sains Dirgantara Vol 16, No 1 (2018)
Publisher : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1081.52 KB) | DOI: 10.30536/j.jsd.2018.v16.a2968

Abstract

Pulse storm is a term to mention the occurrence of storms that have a short duration with the nature of its weak updraft. The results of the Transportable X-band radar campaign were able to capture a pulse storm at a location 25 km southwest from a radar position. Convective core with echo value > 50 dbz is detected at 4 km altitude but has a weak updraft so that it dissipated in the next 40 minutes. This convective activity is also showed by convective index value as well as Tbb value from Himawari Satellite data in those area. The microburst effect showed from the surface wind shear that expand along + 6.6 km with the edge of the area experiencing high wind with maximum speed from combine shear showed up to 14.5 m/s. The microburst category is dry microburst based on the increase in precipitation value from AWS surface data
PRAKIRAAN FLARE SINAR-X MATAHARI BERDASARKAN EVOLUSI DAERAH AKTIF Santi Sulistiani; Tiar Dani
Jurnal Sains Dirgantara Vol 16, No 1 (2018)
Publisher : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (775.345 KB) | DOI: 10.30536/j.jsd.2018.v16.a3088

Abstract

Flare Matahari diketahui berasal dari daerah aktif dan dapat melontarkan energi hingga 1023 erg. Radiasi flare Matahari dapat mengionisasi atmosfer-atas Bumi sehingga mengakibatkan terganggunya komunikasi radio. Oleh karena itu, prakiraan flare Matahari sangat penting untuk peringatan dini cuaca antariksa. Makalah ini bertujuan untuk mengembangkan sistem prakiraan flare sinar-X yang dihasilkan suatu daerah aktif untuk 24 jam ke depan berdasarkan masukan perubahan parameter dari daerah aktif selama tiga hari sebelum terjadinya flare, meliputi posisi lintang dan bujur heliografis, luas, jumlah bintik, dan kelas McIntosh dan Hale. Model prakiraan flare dikembangkan menggunakan algoritma random forest. Konfigurasi paling optimal yang digunakan dalam algoritma ini menghasilkan model prakiraan dengan akurasi sekitar 75% untukprakiraan kondisi tanpa-flare, sekitar 40-45% untuk prakiraan flare kelas C dan M, dan sekitar 80% untuk prakiraan flare kelas X. Konfigurasi 50 pohon dan 90 daun menghasilkan prakiraan flare sinar-X kelas ≥ C dengan akurasi data latih sebesar 71,9% dan F-score data uji sebesar 70,0%. Sementara itu, konfigurasi 500 pohon dan 150 daun menghasilkan prakiraan dengan akurasi data latih sebesar 71,0% dan F-score data uji sebesar 70,4%. Parameter fisis daerah aktif yang paling berkontribusi terhadap prakiraan flare adalah luas, kelas Hale, kelas McIntosh, jumlah bintik, dan posisi bujur dalam 24 dan 48 jam menjelang flare. Model prakiraan flare ini dapat digunakan untuk mendukung kegiatan SWIFtS yang telah beroperasi di LAPAN sejak tahun 2015.
EFEK MEDAN MAGNET ANTAR-PLANET ARAH UTARA-SELATAN TERHADAP MEDAN DIPOL GEOMAGNET L. Muhammad Musafar
Jurnal Sains Dirgantara Vol 16, No 1 (2018)
Publisher : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (656.27 KB) | DOI: 10.30536/j.jsd.2018.v16.a2918

Abstract

Ditinjau sebuah model analitik untuk membahas efek keberadaan medan magnet antar-planet pada daerah sekitar orbit bumi dimana medan magnet bumi ditinjau sebagai medan dengan konfigurasi dipol. Untuk memetakan medan dipol tanpa gangguan maupun dengan keberadaan medan magnet antar-planet telah diterapkan pendekatan menggunakan potensial Euler untuk merumuskan persamaan garis medan. Dalam makalah ini hanya ditinjau medan efek keberadaan komponen arah utara atau selatan medan magnet antar-planet terhadap medan dipol geomagnet. Keberadaan medan magnet antar-planet yang memiliki komponen arah utara meng-akibatkan terjadinya rekoneksi garis medan pada daerah kutub, sedangkan medan magnet antar-planet dengan komponen arah selatan mengakibatkan rekoneksi pada daerah siang dan malam di bidang ekuatorial. Peningkatan kekuatan medan magnet antar-planet secara umum mengakibatkan kompresi terhadap medan dipol geomagnet disertai oleh titik rekoneksi bergerak mendekati bumi. Hasil uji untuk kasus badai magnet yang terjadi pada bulan Juli, 2000 menunjukkan bahwa pada awal fase ekspansi badai magnet titik rekoneksi magnetik terjadi pada jarak 19.5RE. Selanjutnya selama fase ekspansi ketika kekuatan medan magnet mencapai nilai maksimum titik terdekat rekoneksi magnetik diukur dari pusat bumi pada jarak 8.05RE dan pada akhir badai magnet lokasi rekoneksi menjauhi dari bumi yaitu pada jarak 26.9RE.
Vol. 16 No. 1 Desember 2018 Amalia Nurlatifah
Jurnal Sains Dirgantara Vol 16, No 1 (2018)
Publisher : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (928.834 KB) | DOI: 10.30536/j.jsd.2018.v16.a3175

Abstract

ANALISIS PROBABILITAS SPREAD F IONOSFER LINTANG RENDAH SEKTOR INDONESIA Asnawi Husin
Jurnal Sains Dirgantara Vol 16, No 1 (2018)
Publisher : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (862.187 KB) | DOI: 10.30536/j.jsd.2018.v16.a2929

Abstract

Tulisan ini membahas analisis kemunculan spread F dan validasi probabilitas kemunculan Spread F dari Model global ionosfer, IRI (International Reference Ionosphere)  untuk lintang rendah sektor Indonesia. Prosentase kemunculan spread F periode 2007 hingga 2013 dari dua titik pengamatan yaitu stasiun Agam (0,3o LS, 100,3o BT, Lintang geomagnet 9,8) dan Tanjungsari (6,5oLS 107.6o BT, Lintang geomagnet 16,04) dihitung untuk mendapatkan informasi klimatologi kemunculan spread F di Indonesia. Spread F adalah fenomena gangguan kerapatan elektron ionosfer yang merupakan komponen penting cuaca antariksa. Fenomena spread F di lintang ekuator kemunculannya cukup tinggi dan dikenal sebagai equatorial spread F, (ESF) yang masih terus dikaji karena efeknya pada gelombang radio yang dapat menyebabkan fading pada komunikasi pita frekuensi tinggi (band frequency  HF) dan loss of lock pada sinyal GNSS. Teori umum dalam menjabarkan mekanisme gangguan ionosfer terkait kemunculan spread F adalah perubahan non liner ketidakstabilan Rayleigh-Taylor dikombinasikan dengan laju atau drift E x B. Hasil analisis probablitias kemunculan spread F di Agam dan Tanjungsari diperoleh pola yang hampir sama, namun demikian tingkat hubungan antara kemunculan di dua tempat tersebut tidak cukup kuat dengan nilai koefisien korelasi adalah 0.58. Hal ini menunjukkan bahwa kemunculan spread F secara umum bersifat lokal. Kemunculan spread F saat aktivitas matahari minum umumnya terjadi pada Solatis Juni, didominasi tipe PM (setelah tengah malam, Post Midnight) sebaliknya saat matahari tinggi, tipe kemunculan PS (Post Sunset) lebih dominan dengan pola ekuinoks dua puncak (Maret-April dan September-Oktber). Validasi model IRI secara umum lebih tinggi (overestimate) di lintang rendah Indonesia. Tingkat hubungan antara model dengan data pengamatan sangat lemah bahkan tidak searah (koefisien bernilai negatif). Dari identifikasi periode dominan menggunakan analsis wavelet, di peroleh periode harian, yaitu muncul pada malam hari, tetapi periode tersebut tidak disemua bulan dan tahun. Ditemukan juga periode 6 hari dan 12 hari, yang terkait dengan modulasi gelombang planetari.
Vol. 16 No. 1 Desember 2018 Amalia Nurlatifah
Jurnal Sains Dirgantara Vol 16, No 1 (2018)
Publisher : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (950.018 KB) | DOI: 10.30536/j.jsd.2018.v16.a3176

Abstract

Page 1 of 1 | Total Record : 7