cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta timur,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Sains Dirgantara
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol 19, No 1 (2022)" : 5 Documents clear
Perbadingan foF2 Dari Model MSILRI, ITU-R/CCIR, dan IRI2016/URSI Dengan Data Observasi di Stasiun Pameungpeuk Pada Saat Aktivitas Matahari Rendah (The foF2 Comparison of MSILRI, ITU-R/CCIR, and IRI2016/URSI Models to Data Observed Over Pameungpeuk During Jiyo M. Si.
Jurnal Sains Dirgantara Vol 19, No 1 (2022)
Publisher : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30536/j.jsd.2022.v19.a3651

Abstract

ABSTRAKPada makalah ini kami menentukan ketelitian nilai foF2 yang dihasilkan oleh model regional MSILRI, model global ITU-R/CCIR, dan model global IRI2016/URSI, pada saat tingkat aktivitas matahari rendah. Perbandingan model terhadap data observasi di stasiun pengamatan Pameungpeuk (7,65°LS, 107,96°BT) dari Maret 2019 hingga Februari 2020 telah dilakukan. Dari sini diperoleh kesimpulan: (a) nilai foF2 yang dihasilkan oleh model MSILRI dan ITU-R/CCIR lebih tinggi dari hasil observasi, sedangkan model IRI2016/URSI menghasilkan nilai foF2 yang lebih rendah; (b) model IRI2016/URSI menghasilkan foF2 yang memiliki simpangan paling kecil, disusul kemudian oleh model MSILRI dan model ITU-R/CCIR; (c) ketiga model mengasilkan foF2 yang berkorelasi sangat kuat dengan data observasi. Model MSILRI memiliki rentang nilai koefisien korelasi R paling sempit (0,96 – 0,99), disusul metode ITU-R/CCIR (0,91 – 0,99), dan metode IRI2016/URSI memiliki rentang nilai R paling lebar (0,84 – 0,96).  Kemudian, nilai foF2 hasil model ITU-R/CCIR dengan masukan indek T-regional dapat digunakan untuk keperluan aplikasi lapangan secara langsung, sedangkan yang lainnya harus disesuaikan terlebih dahulu dengan menggunakan persamaan koreksi. Dalam hal aksesibilitas, model IRI2016/URSI mudah digunakan karena interaktif dan beroperasi secara daring dengan fitur lengkap. Model ITU-R/CCIR dapat dijalankan secara daring maupun luring dengan fitur terbatas, sedangkan model MSILRI hanya bisa dijalankan secara luring. ABSTRACTIn this paper we determined the accuracy of foF2 values generated by the MSILRI regional model, the ITU-R/CCIR global model, and the IRI2016/URSI global model during a period of low solar activity. Comparisons of model output against ionosonde observation data from Pamengpeuk station (7.65°S, 107.96°E) during March 2019 – February 2020 time period were conducted. It was concluded that: (a) foF2 values generated by the MSILRI and ITU-R/CCIR models overestimate experimental observations, whereas those generated by the IRI2016/URSI model underestimate them; (b) the IRI2016/URSI model generates foF2 values with the smallest absolute deviations from experimental observations, outperforming the MSILRI and ITU-R/CCIR models; (c) all three models generate foF2 values that are strongly correlated with foF2 values from observations. The MSILRI model yields the narrowest range of correlation coefficients (R = 0.96 – 0.99), followed subsequently by the ITU-R/CCIR model (R = 0.91 – 0.99), while the IRI2016/URSI model yields the widest range of correlation coefficients (R = 0.84 – 0.96). Furthermore, foF2 values generated by the ITU-R/CCIR model with regional T-index as input can be directly used for practical applications, while foF2 values from other models require some additional adjustment using a linear correction. In terms of accessibility, the IRI2016/URSI model is the easiest to operate because of its interactive and online interface with full set of features. In comparison, the ITU-R/CCIR model can be operated with limited set of features via either online or offline interfaces, whereas the MSILRI model can only be operated via an offline interface. 
Pre-Processing Data Magnetometer Satelit LAPAN-A3 L. Muhammad Musafar
Jurnal Sains Dirgantara Vol 19, No 1 (2022)
Publisher : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30536/j.jsd.2022.v19.a3559

Abstract

Satelit LAPAN-A3 yang mengorbit pada ketinggian LEO (low Earth orbit) membawa beberapa muatan, termasuk di antaranya adalah HFGM (hybrid fluxgate magnetometer) yang digunakan untuk eksperimen pengukuran medan magnet Bumi di ketinggian atmosfer-atas/ionosfer. Magnetometer ini terdiri atas tiga buah sensor magnet identik yang dipasang di badan satelit. Ketiga sensor tersebut terpasang tegak lurus satu sama lain sehingga data medan magnet yang diukur merepresentasikan tiga komponen vektor medan magnet dalam kerangka acuan ortogonal lokal satelit. Data mentah HFGM tidak dapat langsung diterapkan untuk analisis karena arah sensor selalu mengalami perubahan mengikuti sikap satelit. Dalam makalah ini ditunjukkan metode pre-processing data HFGM satelit LAPAN-A3 yang diperlukan agar data hasil pengukuran HFGM dapat digunakan lebih jauh. Koreksi data mentah HFGM dilakukan dengan merotasikan data hasil pengukuran HFGM menuju model medan magnet. Model yang digunakan untuk rotasi adalah model IGRF dan model dipol. Hasil pengukuran HFGM yang telah dirotasi tersebut menunjukkan konsistensi dengan model medan magnet.
Analisis Karakteristik Perilaku Parameter Angin Matahari dan Medan Magnet Atarplanet Sebelum Badai Geomagnet Selama Siklus Matahari ke-24 Anwar Santoso
Jurnal Sains Dirgantara Vol 19, No 1 (2022)
Publisher : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30536/j.jsd.2022.v19.a3581

Abstract

ABSTRAKRiset cuaca antariksa merupakan pokok kegiatan di Pusat Sains Antariksa, Lapan untuk mendukung kegiatan Space Weather Information and Forecasting Service (SWIFtS) dan amanat Undang-undang No. 21 Tahun 2013. Salah satunya adalah terkait fenomena badai geomagnet. Badai geomagnet terjadi akibat masuknya angin matahari bersamaan dengan arah selatan medan magnet antarplanet (IMF Bz(-)). Perilaku parameter angin matahari bersama IMF Bz(-) sebelum badai geomagnet dapat menentukan terbentuk tidaknya dan sekaligus besar kecilnya badai geomagnet yang ditimbulkannya. Dalam makalah ini, dilakukan analisis karakteristik perilaku parameter angin matahari dan IMF Bz (-) sebelum badai geomagnet. Hasil analisis sepanjang siklus matahari ke-24 diperoleh bahwa badai geomagnet dominan dipengaruhi parameter kecepatan angin surya (VSW) -37,58% disusul parameter kerapatan angin surya (NSW) 22,72% dan parameter tekanan angin surya (PSW) 4,88%. Dengan demikian, dalam kegiatan evaluasi dan prediksi cuaca antariksa terkait badai geomagnet kedepannya agar memperhitungkan ketiga parameter angin surya (NSW, VSW dan PSW) dalam pemodelannya. Hasil ini diharapkan dapat membantu estimasi atau pemodelan kejadian badai geomagnet untuk mendukung kegiatan SWIFtS. Kata kunci: parameter angin matahari, medan magnet antarplanet, badai geomagnet
Perubahan Lapisan F Ionosfer di Atas Pontianak pada Saat Gerhana Matahari Cincin 26 Desember 2019 Agri Faturahman; Jiyo Harjo Suwito; Faruk Afero; Adi Purwono
Jurnal Sains Dirgantara Vol 19, No 1 (2022)
Publisher : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30536/j.jsd.2022.v19.a3702

Abstract

The Annular Solar Eclipse (ASE) occurred on December 26, 2019, across parts of Indonesia, including Pontianak. In connection with this event, we investigated the changes in the critical frequency of the F1 (foF1) layer, F2 (foF2) layer, and in the height of the peak density of the F2 (hmF2) ionosphere layer above Pontianak (0.03°S, 109.33°E, inclination -15.97°LS). Observations are every 5 minutes made using CADI ionosonde from a few days before until after the ASE. The result of the ionogram is then manually interpreted (scaling). The research results show: (1) response to eclipse by F2 layer is slower than F1 layer; (2) in the ASE period, the foF1 value drops to 1.55 MHz with an average NmF1 decrease rate of about 29 electrons/ /sec, then increases in the recovery phase with an average increase rate of about 15 electrons/ /sec, indicating asymmetry of the process of decreasing and increasing electron density in the F1 layer; (3) During the decreasing phase, foF2 decreases by 19% with an average NmF2 decrease rate of ~21 electrons/ /s, then NmF2 increases in the recovery phase at an average rate of ~20 electrons/ /s; (4) There was an increase in the peak F2 electron density a few minutes after the peak of eclipses with an average upward movement rate of about 27.8 m/s. It is due to a reduction in electron density and an upward drift caused by the polarization of the electric field in the eclipsed region. These results confirm the previous study on the effect of solar eclipses at low latitude ionospheric layers.
Perubahan Temperatur setelah Letusan Pinatubo 1991 dari Luaran Model CMIP5 dengan Analisis Neraca Energi Rahma Alfina Salsabila; Rusmawan Suwarman; Muhammad Rais Abdillah
Jurnal Sains Dirgantara Vol 19, No 1 (2022)
Publisher : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30536/j.jsd.2022.v19.a3557

Abstract

Letusan Pinatubo 1991 memberikan dampak signifikan terhadap anomali temperatur global pasca letusan yang terlihat, baik dari observasi maupun hasil luaran The fifth phase of the Coupled Model Intercomparison Project (CMIP5). Dalam penelitian ini kami mengkaji perubahan temperatur setelah letusan Pinatubo 1991 dengan analisis neraca energi yang difokuskan pada wilayah Benua Maritim dengan luaran model CMIP5. Variabilitas iklim tiga model CMIP5 dievaluasi dengan dataset observasi untuk menentukan model yang paling representatif. Perhitungan anomali saat kejadian letusan Pinatubo dilakukan pada model terpilih, dengan menghilangkan efek ENSO terlebih dahulu. Kemudian, analisis perubahan temperatur rata-rata wilayah dengan neraca energi permukaan pada tahun 1989 – 1993 menunjukkan bahwa terjadi penurunan temperatur yang berlangsung selama 24 bulan sampai akhir periode analisis setelah letusan terjadi. Nilai anomali negatif terbesar yaitu 0,37 °C. Berdasarkan pendekatan neraca energi dan radiasi, penurunan temperatur terlihat akibat anomali energi neto bernilai negatif, yang mencapai -2,93 W.m-2 pada satu tahun pasca letusan. Penurunan yang signifikan dari downwelling shortwave radiation, dengan nilai rata-rata anomali mencapai -3,70 W.m-2, berpengaruh besar pada nilai energi neto. Analisis lebih jauh menunjukkan bahwa penurunan ini lebih banyak disebabkan oleh naiknya reflected shortwave radiation at Top of Atmosphere daripada efek penyerapan radiasi oleh aerosol di atmosfer.

Page 1 of 1 | Total Record : 5