cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta timur,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Sains Dirgantara
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 210 Documents
KORELASI OZON DAN BROMIN MONOKSIDA DI INDONESIA BERBASIS OBSERVASI SATELIT AURA-MLS [BROMINE MONOXIDE AND OZONE CORRELATION IN INDONESIA BASED ON AURA-MLS SATELLITE OBSERVATION] Novita Ambarsari; Ninong Komala; Waluyo Eko Cahyono
Jurnal Sains Dirgantara Vol 10, No 2 (2013)
Publisher : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (680.95 KB)

Abstract

Microwave Limb Sounder (MLS) merupakan bagian dari Earth Observing System (EOS) ditempatkan pada satelit AURA NASA yang diluncurkan pada tanggal 15 Juli 2004 dan efektif menghasilkan hasil data pengamatan global dari September 2004 hingga saat ini. MLS mengukur profil vertikal ozon dan komponen kimia atmosfer dengan lebih akurat. Penentuan profil vertikal Bromin Monoksida (BrO) dan Ozon di Indonesia telah dilakukan berdasarkan pengamatan atmosfer dengan menggunakan instrumen Microwave Limb Sounder (MLS) pada satelit AURA. Data yang digunakan adalah data profil vertikal BrO dan Ozon di wilayah Indonesia (95 BT-145 BT, 6 LS-11 LU) selama tahun 2005-2010. Hasil analisis menunjukkan bahwa variasi bulanan profil ozon vertikal di Indonesia tahun 2005-2010 umumnya konstan di bawah 100 hPa dan meningkat pada rentang tekanan 100 hPa hingga 0,1 hPa (dari stratosfer bawah ke stratosfer atas) dan kemudian menurun lagi dengan nilai maksimum terjadi pada stratosfer tengah pada tekanan 10 hPa saat perbandingan campuran ozon maksimum antara 8.000-11.000 ppbv (8 sampai 11 ppmv). Ozon mencapai nilai minimum di troposfer pada ketinggian di atas 0,01 hPa. Konsentrasi BrO tertinggi terjadi pada tekanan 14 hPa dengan rentang konsentrasi 0,005-0,04 ppbv yang terjadi pada bulan Februari 2005-2010 dan puncak terendah terjadi pada bulan Mei 2005-2010 dengan konsentrasi 0,02 ppbv. Korelasi antara ozon dan BrO pada tekanan 14 hPa menunjukkan nilai -0.218. Korelasi negatif menunjukkan peningkatan konsentrasi BrO berhubungan dengan penurunan konsentrasi ozon di lapisan stratosfer di atas Indonesia. Kata kunci: MLS AURA, Bromine monoksida, Ozon, Korelasi
PULAU PANAS PERKOTAAN AKIBAT PERUBAHAN TATA GUNA DAN PENUTUP LAHAN DI BANDUNG DAN BOGOR Laras Tursilowati
Jurnal Sains Dirgantara Vol 3, No.1 Desember (2005)
Publisher : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1593.924 KB)

Abstract

Urban development can affect climate element change, especially in downtown which is different from the surrounding, known as "Urban Heat Island (UHI)" phenomena. In this research we investigate air temperature changes on the land use and land cover by using case study in Bandung and Bogor on 1994 and 2001. We use the LANDSAT data of TM5 and ETM7 with spatial resolution of 30m x 30m, climate data from 1970-2003, and land use data from 1994-2003. The results shows that land cover causing the increase of temperature, i.e. residence, industry, and open land, were spreading. Consequently, UHI spreading over those area. Percentage of land use for residential area in Bogol was 11.3%, large than in Bandung (5.39%). Contrarily, larid cover causing the decrease of air temperature, i.e. high vagetation area (forest), seasonal plant, plantation, water badies, were decreasing. From the both investigated area, forest is decreasing, in Bogor the decrease 32.37% and Bandung 26.64%. Along with the changes of land use andland cover, so do air temperature changes. The increase of area related with air temperature in Bogor was 29.56% for temperature range (24-28)℃, while in Bandung was 21.79% for temperature range (24-29)℃. Area in Bandung having highest air temperature that increase was those with air temperature (28-29)℃, while in Bogor was those with air temperature (27-28)℃.
STUDI VARIASI MUSIMAN KEMUNCULAN PLASMA BUBBLE MENGGUNAKAN AIRGLOW IMAGER DAN GPS SINTILASI DI ATAS KOTOTABANG [STUDY ON SEASONAL VARIATION OF PLASMA BUBBLE OCCURRENCES OBSERVED BY GPS SCINTILLATION AND AIRGLOW MEASUREMENTS OVER KOTOTABANG] - Ednofri; Susumu SAITO; Yuichi OTSUKA
Jurnal Sains Dirgantara Vol 11, No 1 (2013)
Publisher : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (853.106 KB)

Abstract

Dengan meningkatnya ketergantungan pada sistem penentuan posisi berbasis satelit, navigasi dan waktu pada GNSS, prediksi kejadian gelembung plasma menjadi lebih dibutuhkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakter dampak iregularitas ionosfer yang terkait dengan kejadian gelembung plasma dan sintilasi pada aplikasi GNSS selama aktivitas matahari menurun. Untuk mendapatkan informasi variasi musiman iregularitas ionosfer yang terkait dengan gelembung plasma, kami menggunakan All-sky Airglow Imager (ASI) yang dipasang di Kototabang (0.2ºLS, 100.3ºBT, -10,4º lintang magnetik) Indonesia, untuk mendeteksi penipisan kepadatan plasma skala besar dalam bentuk citra dua dimensi, indeks amplitudo sintilasi (S4) yang diperoleh dari tiga single-frequency GPS receiver yang dipasang di lokasi yang sama dan kejadian badai magnetik (indeks Dst) yang diperoleh dari World Data Center for Geomagnetism, Kyoto. Kami menganalisis kejadian gelembung plasma pada citra ASI dari tahun 2003-2009 dan menemukan bahwa tingkat kejadian tertinggi pada bulan Mei-Juli yang berbeda dari variasi musiman kejadian gelembung plasma yang umumnya diketahui selama ini. Tingkat kejadian yang tinggi pada Mei-Juli bukan disebabkan oleh badai magnetik, karena statistik menunjukkan tidak ada perubahan yang signifikan setelah peristiwa gelembung plasma yang mungkin disebabkan oleh badai magnetik dieliminasi. Kami juga mempelajari hubungan spasial antara sintilasi ionosfer dan struktur gelembung plasma skala besar yang terlihat pada citra ASI. Kami menemukan beberapa peristiwa dimana IPPs dari satelit GPS berada di dalam struktur gelembung plasma skala besar pada citra ASI, tetapi tidak teramati adanya sintilasi.Kata Kunci: Gelembung plasma, Sintilasi, Badai magnetik, GNSS1
ANALISIS RESPON MEDAN GEOMAGNET ANTARA STASIUN DI EKUATOR MAGNET DAN STASIUN BIAK SAAT BADAI GEOMAGNET PADA MERIDIAN MAGNET 210⁰ MM Anwar Santoso
Jurnal Sains Dirgantara Vol 13, No 2 (2016)
Publisher : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1130.121 KB) | DOI: 10.30536/j.jsd.2016.v13.a2937

Abstract

Geomagnetic storm is a geomagnetic disturbance that occurs globally. Until now believed that the greatest impact of geomagnetic storms occurred in the high latitudes and decreases with decreasing latitude to the equator. However, based on the data component of the geomagnetic field H obtained CPMN other phenomena, that is H minimum of Onagawa station (31,15o LU; 212,63o BT magnetic coordinates) is smaller than the H minimum at Biak station (9,73o latitude; 207,39o BT magnetic coordinates) during geomagnetic storms on July 15, 2000. This reality is different from what was believed to be on top. To ensure this, then done the analysis of the geomagnetic field H component response based on the latitude using the geomagnetic field data from Biak station and stations around 210o MM for the whole event a strong geomagnetic storms (Dst <-100 nT) during 1995-2001. Results of the analysis showed that the response time of geomagnetic field geomagnetic storm in Biak is greater than at the magnetic equator (YAP) with an difference average of H is 59,27 nT. EEJ and CEJ pattern in the EEJ region (10o S to 10o N magnetic coordinate) shown could effected to the response of geomagnetic geomagnetic. The most important to note that if the geomagnetic response in Indonesia higher than in the geomagnetic equator (YAP) then the occurrence probability of GIC in Indonesia is higher.ABSTRAK Badai geomagnet merupakan gangguan geomagnet yang terjadi secara global. Sampai saat ini dipercaya bahwa dampak terbesar badai geomagnet terjadi di lintang tinggi dan semakin menurun dengan menurunnya lintang sampai di ekuator. Namun, berdasarkan olah data komponen H medan geomagnet dari CPMN diperoleh fenomena lain yaitu H minimum dari stasiun Onagawa (31,15⁰ LU; 212,63⁰ BT koordinat magnet) lebih kecil dari H minimum Balai Penjejakan dan Kendali Wahana Antariksa (BPKWA) Biak (9,73⁰ LS; 207,39⁰ BT koordinat magnet) saat badai geomagnet 15 Juli 2000. Kenyataan ini berbeda dari apa yang telah dipercayai di atas. Untuk memastikan hal ini maka dilakukan analisis respon komponen H medan geomagnet berdasarkan lintang menggunakan data komponen H medan geomagnet dari BPKWA Biak dan stasiun di sekitar 210⁰ MM untuk seluruh kejadian badai geomagnet kuat (Dst < -100 nT) selama 1995-2001. Hasil analisis diperoleh bahwa respon medan geomagnet saat badai geomagnet di Biak lebih besar dari pada di ekuator magnet (YAP) dengan rata-rata selisih ∆H-nya 59,27 nT. EEJ dan CEJ di daerah EEJ (10⁰ LU sampai 10⁰ LS magnet) terbukti mempengaruhi respon geomagnet. Hal terpenting yang perlu diperhatikan dari hasil ini adalah bahwa jika respon geomagnet di Indonesia lebih tinggi dibandingkan di daerah ekuator geomagnet (YAP) maka potensi kemunculan GIC juga lebih besar terjadi di Indonesia.
VARIABILITAS KOEFISIEN PENCUCIAN DARI SULFAT, NITRAT, AMONIUM DAN SODIUM AEROSOL DI KOTOTABANG DAN JAKARTA Tuti Budiwati; Tuti Siswanto; Wiwiek Mulyani HW; Asri Indrawati
Jurnal Sains Dirgantara Vol 6, No 2 (2009)
Publisher : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (336.301 KB)

Abstract

Kenaikan SO2 dan NO2 akan berdampak terhadap deposisi basah (wet deposition) melalui proses pembersihan di atmosfer. Koefisien pencucian (scavenging) merupakan angka koefisien yang menunjukkan besaran dalam proses pencucian atau pembersihan oleh laju curah hujan. Metode yang dipergunakan untuk mendapatkan koefisien pencucian adalah metode Bulk. Unsur-unsur yang dominan dalam aerosol dan deposisi basah seperti sulfat, nitrat, amonium dan sodium/natrium dikaji untuk Jakarta (2005-2006) dan Kototabang (2005-2006). Data yang digunakan berasal dari observasi BMG (Badan Meteorologi dan Geofisika) dan LAPAN (Lembaga Penerbangan dan Jurnal Sains Dirgantara Vol. 6 No. 2 Juni 2009 : 95-108 96 Antariksa Nasional). Jakarta sebagai kota pantai dengan polusi yang tinggi dan Kototabang adalah daerah pedesaan yang relatif bersih merupakan lokasi penelitian yang menarik untuk dibandingkan. Besaran koefisien pencucian berada dalam skala 105-107. Nilai korelasi antara laju curah hujan dengan koefisien pencucian sulfat, nitrat, amonium dan sodium sangat berbeda, sedangkan jumlah curah hujan tidak mempengaruhi koefisien pencucian. Nilai rata-rata koefisien pencucian SO42-; NO3-; NH4+ dan Na+ dari 2005 sampai 2006 di Jakarta adalah 8,31x106; 7,31x106; 4,43x106; 7,32x106. Nilai-nilai ini lebih tinggi di Kototabang untuk SO42- dan NH4+ adalah 2,65x106 dan 3,64x106. Sebaliknya NO3- dan Na+ di Jakarta adalah lebih rendah dibandingkan Kototabang yaitu 1,66x107 dan 1,64x107, meskipun besarannya adalah hampir sama yaitu dalam kisaran 106-107. Kata kunci: Jakarta, Kototabang, Laju curah hujan, Koefisien pencucian, Deposisi basah.
KARAKTERISTIK OUTGOING LONGWAVE RADIATION (OLR) BERDASARKAN EMPIRICAL ORTHOGONAL FUNCTION (EOF) DAN KAITANNYA DENGAN CURAH HUJAN DI WILAYAH INDONESIA [CHARACTERISTICS OF OUTGOING LONGWAVE RADIATION (OLR) BASED ON EMPIRICAL ORTHOGONAL FUNCTION (EOF) AND TH Iis Sofiati
Jurnal Sains Dirgantara Vol 10, No 1 (2012)
Publisher : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (818.902 KB)

Abstract

Metode Empirical Orthogonal Function (EOF) telah banyak digunakan pada berbagai penelitian untuk berbagai disiplin ilmu, dan salah satu aplikasinya untuk penelitian atmosfer. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui karakteristik yang lebih spesifik dari variabilitas Outgoing Longwave Radiation (OLR) dan kaitannya dengan curah hujan dengan menggunakan metode EOF. EOF merupakan metode yang dapat digunakan untuk mengkomposisikan ulang data deret waktu pentad (data lima harian) OLR dalam menggambarkan variabilitasnya. Dari hasil analisa EOF didapat bahwa score-1 dan score-2 menunjukkan variasi OLR terhadap waktu, dimana score-1 menggambarkan karakteristik tahunannya, sedangkan score-2 menggambarkan fluktuasi OLR yang berhubungan dengan fluktuasi Southern Oscillation Index (SOI). Analisa korelasi yang dihasilkan dari EOF score-1 dengan curah hujan berkorelasi negatif, dengan nilai koefisien korelasi maksimum yang cukup baik sebesar 0,83. Hasil lain dari analisa EOF yang ditunjukkan dengan nilai proporsi pertama sebesar 19,8% menggambarkan adanya fluktuasi tahunan dari OLR, dimana terjadi nilai yang berlawanan di wilayah Utara dan Selatan ekuator, dan hal ini dimungkinkan berkaitan dengan adanya sirkulasi Hadley. Sedangkan untuk nilai proporsi kedua sebesar 8,7% menggambarkan adanya fenomena El Niño, dan hal ini berkaitan dengan adanya sirkulasi Walker.Kata kunci: Outgoing Longwave Radiation (OLR), Curah hujan, Empirical Orthogonal Function (EOF)
KARAKTERISTIK SUDDEN COMMENCEMENT DAN SUDDEN IMPULSE DI SPD BIAK PERIODE 1992-2001 Anwar Santoso; - Habirun; Sity Rachyany; Harry Bangkit
Jurnal Sains Dirgantara Vol 6, No 1 (2008)
Publisher : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (233.863 KB)

Abstract

Kenaikan mendadak intensitas medan geomagnet dapat dibedakan menjadi 2 tipe yaitu tipe Sudden Comencement (SC) dan tipe Sudden Impulse (SI). Tipe SC berupa kenaikan mendadak intensitas medan geomagnet yang diikuti kejadian badai geomagnet dan umumnya berkaitan dengan arah selatan medan magnet antar planet (Interplanetary Magnetic Field/IMF), sedangkan tipe SI berupa kenaikan mendadak medan geomagnet yang tidak diikuti kejadian badai geomagnet dan umumnya berkaitan dengan arah utara IMF. Untuk mengetahui karakteristik SC dan SI, dilakukan identifikasi dan analisis statistik terhadap ketiga parameter SC dan SI, yaitu amplitudo, periode dan gradien dari data komponen horizontal (H) geomagnet di Stasiun Pengamat Dirgantara (SPD) Biak tahun 1992-2001. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa karakteristik SC(H) mempunyai kriteria seperti amplitudonya yang lebih besar dari 10 nT, periodenya kurang dari 10 menit dan gradiennya lebih besar dari 2.48 nT/menit. Sedangkan karakteristik Karakteristik Sudden Commencement .... (Anwar Santoso et al.) 61 SI(H) mempunyai kriteria seperti amplitudonya lebih besar dari 6.1 nT, periodenya kurang dari 10 menit dan gradiennya lebih besar dari 1.63 nT/menit. Selanjutnya dihitung korelasi antara ketiga parameter SC(H) terhadap H minimum (Hmin) dan durasi Hmin. Hasil korelasi tersebut menunjukkan bahwa amplitudo SC(H) dan periode SC(H) merupakan indikator yang baik yang dapat digunakan untuk memprediksi intensitas dan durasi badai geomagnet. Kata Kunci : SC, SI, Badai geomagnet.
PENGARUH IONOSFER PADA AKURASI PENENTUAN POSISI ABSOLUT DENGAN GPS SINGLE FREQUENCY PADA SAAT TERJADI BADAI MATAHARI Buldan Muslim
Jurnal Sains Dirgantara Vol 9, No 1 (2011)
Publisher : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (871.818 KB)

Abstract

The effect of the ionosphere on the propagation of signals emitted from GPS satellites at an altitude of about 20,000 km is in the form of code delay or carrier advance of the signal propagation time which depends on the Total Electron Content (TEC) and the GPS signals frequency. Coronal Mass Ejections (CMEs) occurred during October 28 and 29, 2003 solar storms have caused ionosphere disturbances called ionospheric storms. The ionospheric storms have degraded the accuration of single frequency GPS absolute positioning to more than 400%. Mitigation of ionospheric storms effect on the single frequency GPS absolute positioning by using Klobuchar model can not produce a significant increase in accuracy. Hence during the ionospheric storms, the regional ionospheric TEC model is needed for ionospheric correction of single frequency GPS absolute point positioning. Keywords: Solar storm, Ionosphere, Radio wave, Propagation, Positioning, Accuration
PENGELOMPOKAN WILAYAH CURAH HUJAN KALIMANTAN BARAT BERBASIS METODE WARD DAN FUZZY CLUSTERING Ina Junaeni; Dewi Yuliani; Risana Ayahbi; - Noersomadi; - Nurzaman; Teguh Hardjana
Jurnal Sains Dirgantara Vol 7, No 2 (2010)
Publisher : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (878.885 KB)

Abstract

In order to decrease the climate information gap, the rainfall clustering based on the TRMM data is presented. Then, the rainfall pattern could be determined for all region. Using the principal component analysis as the interface, clustering analysis, namely the Ward and the Fuzzy Clustering methods, the rainfall in West Kalimantan could be grouped in to four clusters according to its homogenity. The first cluster consists of grids that gather in the Karimata strait, Java Sea, and some area in West Kalimantan Lands. The second group was built by grids in the land with homogeneous topography. The third group in the middle of West Kalimantan was a cluster in the land which has different elevation. The fourth group was a cluster in the northern Kalimantan and close to the South China Sea. The West Kalimantan rainfall derived from the TRMM data has the equatorial and monsoonal patterns. The monsoonal pattern was exhibited by the cluster in the ocean (first cluster), and the equatorial pattern was showed by clusters in the land (second, third, and fourth clusters). The equatorial rainfall pattern revealed that the first wet month occuring in April, whereas the second wet month occured in December or January. The month with lowest rainfall is August. Key word: Rainfall pattern, Rainfall cluster, Ward and Fuzzy Clustering methods
ANALISIS PROPAGASI GELOMBANG RADIO MODE ANGKASA SAAT PERISTIWA GERHANA MATAHARI 9 MARET 2016 [SKYWAVE PROPAGATION ANALYSIS DURING SOLAR ECLIPSE ON 9 MARCH 2016] varuliantor dear; Rohmat Yulianto
Jurnal Sains Dirgantara Vol 14, No 2 (2016)
Publisher : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1521.048 KB) | DOI: 10.30536/j.jsd.2016.v14.a2490

Abstract

In this paper we discuss about the skywave radiowave propagation analysis during the solar eclipse in 9th March 2016. The analysis were using the observation results that use the Automatic Link Establishment (ALE) waveform with 10.1455 MHz as a carrier frequency in Biak (01.16 N; 136.047 E)-Manado(1.52 N; 124.856 E) circuit communication. The working frequency value was based on the result of ionospheric model for Biak-Manado circuits during the solar eclipse. The observation results show a difference in the SN index values of the Link Quality Analysis (LQA) ALE data between the time when the solar eclipse occured with the day before and after. The difference variation of SN index values could be explained by the occurences of the different variation in the D layer absorption levels. The difference of an absorption are affecting the magnitude of the received signal values. The variation of absorption levels during the solar eclipse cause the SN index values have a postive linear tren with gradien value reach 1.3. This value was different compares to the day before and after which have a negative linear trend with gradien up to -13 and -9,6. The difference also shown in the distribution parameters of SN index values. During solar eclipse the mean (?) value was 5.2384 with standard deviation (?) was 0.74894. But for the day before and after, the ? values were 4.8316 and 4.6164 with ? were 0.92123 and 0.9096.ABSTRAKMakalah ini membahas tentang analisis propagasi gelombang radio mode angkasa saat terjadi peristiwa gerhana matahari pada tanggal 9 maret 2016. Analisis dilakukan berdasarkan hasil pengamatan menggunakan waveform sistem Automatic Link Establishment (ALE) pada frekuensi 10,145 MHz untuk sirkuit komunikasi Biak-Manado. Nilai frekuensi kerja yang digunakan merujuk pada hasil perhitungan model kondisi ionosfer diwilayah sirkuit Biak (01,16 LU; 136,047 BT)-Manado(1,52 LU; 124,856 BT) pada saat gerhana matahari berlangsung. Hasil pengamatan yang diperoleh menunjukan terjadinya perbedaan variasi nilai indeks SN pada data Link Quality Analysis (LQA) sistem ALE antara saat kejadian gerhana matahari dengan hari sebelum dan sesudahnya diwaktu yang sama. Perbedaan variasi besaran nilai indeks SN tersebut dapat dijelaskan sebagai akibat adanya perbedaan perubahan tingkat absorpsi pada lapisan D ionosfer yang menyebabkan besaran sinyal yang diterima pada perangkat penerima mengalami perubahan. Perubahan tingkat absorpsi pada lapisan D saat peristiwa gerhana matahari menyebabkan nilai indeks SN memiliki tren meningkat dengan nilai gradien persamaan linear mencapai 1.3. Tren dan nilai indeks SN tersebut berbeda dengan hasil pada hari sebelum dan sesudahnya yang mencapai -13 dan -9,6. Perbedaan tersebut juga terlihat jelas dari parameter distribusi nilai indeks SN yang diperoleh. Pada saat gerhana matahari parameter nilai mean (?) sebesar 5,2384 dengan standar deviasi (?) 0,74894. Sedangkan pada hari sebelum dan sesudahnya nilai ? distribusi indeks SN mencapai 4,8316 dan 4,6164 dengan ? sebesar 0,92123 dan 0,9096.

Page 4 of 21 | Total Record : 210