cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta timur,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Sains Dirgantara
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 210 Documents
SPATIAL DISTRIBUTION OF IONOSPHERIC GPS-TEC AND NmF2 ANOMALIES ASSOCIATED WITH THE CHI-CHI EARTHQUAKE M Nishihashi; K Hattori; S Saroso
Jurnal Sains Dirgantara Vol 7, No 1 (2009)
Publisher : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (327.507 KB)

Abstract

UHasil penelitian terakhir menunjukkan bahwa terjadi penurunan nilai GPS-TEC 1-5 hari sebelum kejadian gempa dengan M≥6.0 di Taiwan. Akan tetapi hasil penelitian tersebut tidak dibandingkan dengan kejadian gempa di tempat lain pada waktu yang bersamaan untuk memastikan teramatinya anomali seismo-ionosfer. Pada makalah ini, digunakan data GPS-TEC yang secara rutin diterbitkan di Global Ionosphere Maps (GIM). Data ionosonde dan data GPS-TEC dari berbagai lokasi secara simultan diolah untuk memastikan apakah anomali yang teramati di Taiwan dan Jepang pada saat terjadi gempa Chi-Chi (Mw=7.6) akibat fenomena global atau lokal. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa anomali yang terjadi di Taiwan 3 hari sebelum kejadian gempa Chi-Chi adalah fenomena lokal. Hal ini menunjukkan bahwa gangguan di ionosfer di atas Taiwan adalah gangguan lokal dan tidak menyebar sampai ke Tokyo. Dapat disimpulkan bahwa daerah yang mengalami gangguan adalah dalam radius kurang dari 2200 km. Kata kunci: GPS-TEC, Gempa, Seismo-ionosfer, Ionosonde.
PENENTUAN SUHU THRESHOLD AWAN HUJAN DI WILAYAH INDONESIA BERDASARKAN DATA SATELIT MTSAT DAN TRMM [DETERMINATION OF THRESHOLD TEMPERATURE OF RAIN CLOUD OVER INDONESIAN BASED ON MTSAT AND TRMM SATELLITE DATA] Lely Qodrita Avia; Agung Haryanto
Jurnal Sains Dirgantara Vol 10, No 2 (2013)
Publisher : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (566.789 KB)

Abstract

Proses estimasi curah hujan berdasarkan suhu puncak awan membutuhkan penentuan suhu threshold awan hujan. Makalah ini membahas variasi suhu threshold awan hujan secara spasial untuk Indonesia berdasarkan data satelit Multi-functional Transport Satellite-1Replacement (MTSAT-1R) dan Tropical Rainfall Measuring Mission (TRMM). Data yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari 728 set data satelit MTSAT-1R dan satelit TRMM yang merupakan data grid dengan resolusi temporal 3 jam-an dari bulan Desember 2007 sampai Februari 2008 dengan pertimbangan pada umumnya puncak musim hujan di wilayah Indonesia berlangsung pada periode tersebut. Hasil analisis menunjukkan bahwa pada umumnya suhu threshold awan hujan di wilayah Indonesia bervariasi sekitar nilai 216K sampai 256K berdasarkan metode Perfect Correct (PC) yang bervariasi pada rentang nilai 0,8 sampai 0,9. Kata kunci: MTSAT-1R, TRMM, Statistik, Suhu Threshold, Awan Hujan 1 PENDAHULUAN
ANALISIS DATA BLR DAN EAR DALAM MENGKAJI FENOMENA MJO DAN KETERKAITANNYA DENGAN CURAH HUJAN DI ATAS KOTOTABANG DAN SEKITARNYA Eddy Hermawan; Arief Suryantoro; Mega Puspawardhany; Tri Wahyu Hadi; Udjianna S. Pasaribu; Findy Renggono
Jurnal Sains Dirgantara Vol 4, No.1 Desember (2006)
Publisher : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (637.24 KB)

Abstract

This paper is mainly concerned to the analysis of Madden Julian Oscillation (MJO) phenomena crossing over Kototabang, West Sumatere and surrounding areas using Boundary Layer Radar (BLR) and Equatorial Atmosphere Radar (EAR) data taken from September to December 2001 as cintinuing studied by Indriaty (2005). We are interested to continue, especially on the effect of MJO phenomena on the daily rainfall intensity distribution over Kototabang and surrounding area. We divided data into two steps analysis. First is the vertical profile analysi using BLR and EAR data, and the second step is surface analysis using RAINFALL INTENSITY DATA FROM TAKEN FROM THREE METEOROLOGICAL STATIONS IN wEST sUMATERA. tHEY ARE bADAN mETEOROLOGI DAN gEOFISIKA (bmg) Sicicin station (0.6˚LS; 100.22˚BT), BMG-Padangpanjang station (0.5˚LS; 100.41˚BT) and Statsiun Pengamat Dirgantara (SPD) LAPAN Kototabang (0.2˚LS; 100.32˚BT). The vertical profile of zonal-vertical wind vector of EAR data analysis shows that the pre-dominant wind mived to east direction, especially in surface layer, while in the upper troposhere the pre-dominant wind moved to the opposite direction, especially from September to December 2001. This result looks a siminar with the schematic theory of the MJO cross section along equator that described by Matthews (2000). A simiinar result is also shown by the BLR data analysis. Both EAR and BLR data are siminar each other. Since the MJO phenomena is expected passing over Kototabang around mid of November to mid of December 2001, we are interested to analysis the as already mentioned above using the global wavelet spectrum technique. The result shows that their pre-dominant peak ascillation is about 48 days. This result is consistent with the Outgoing Longwave Radiation (OLR) anomaly taken from infra-red sensor of satellite that already been done by Matthews (2000). While, the cross correlation function (CCF) analysis between zonal wind and rainfall data shows unsignificant (very small) value. We suspect that the surface rainfall intensity over Kototabang and surrounding area is not mainly dominanted by MJO phenomena.
Front Pages JSD Vol 15 No 1 Desember 2017 Redaksi Jurnal
Jurnal Sains Dirgantara Vol 15, No 1 (2017)
Publisher : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (825.796 KB)

Abstract

Front Pages JSD Vol 15 No 1 Desember 2017
KARAKTERISTIK INDIAN OCEAN DIPOLE MODE DI SAMUDERA HINDIA HUBUNGAN-NYA DENGAN PERILAKU CURAH HUJAN DI KAWASAN SUMATERA BARAT BERBASIS ANALISIS MOTHER WAVELET Eddy Hermawan; Kokom Komalaningsih
Jurnal Sains Dirgantara Vol 5, No 2 (2008)
Publisher : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (458.783 KB)

Abstract

Makalah ini utamanya mengkaji karakteristik Indian Ocean Dipole Mode (IOD) yang ada di Samudera Hindia, khususnya dari parameter Sea Surface Temperature (SST) terhadap anomali curah hujan yang ada di beberapa kawasan yang ada di Sumatera Barat. Data IOD dan curah hujan bulanan yang kami gunakan dalam studi ini antara tahun 1960 hingga 1999 (selama 39 tahun pengamatan). Dengan menggunakan software minitab berbasis Principal Component Analysis (PCA), data curah hujan tadi dikelompokkan menjadi kelompok 1 hingga kelompok 3. Hasilnya menunjukkan bahwa ketiga kelompok curah hujan tadi ternyata memiliki osilasi dominan yang sama dengan data IOD, khususnya parameter SST sekitar 3 tahunan. Hal ini mengindikasikan bahwa kawasan Sumatera Barat yang relatif basah sepanjang tahun, diduga terkait erat dengan anomali SST yang ada di Samudera Hindia. Kata kunci : IOD, Curah hujan, Minitab, dan Analisis wavelet.
ANALISIS KOMPATIBILITAS INDEKS IONOSFER REGIONAL [COMPATIBILITY ANALYSIS OF REGIONAL IONOSPHERIC INDEX] Sri Suhartini
Jurnal Sains Dirgantara Vol 9, No 2 (2012)
Publisher : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (721.219 KB)

Abstract

Indeks ionosfer regional (indeks T) diturunkan berdasarkan hubungan linier antara frekuensi kritis lapisan F2 ionosfer (foF2) dengan aktivitas matahari yang diwakili oleh rata-rata berjalan 12 bulan bilangan sunspot (R12). Indeks T regional telah diturunkan menggunakan data foF2 dari Loka Pengamatan Dirgantara Sumedang dan Vanimo. Analisis kompatibilitas indeks ionosfer regional terhadap R12, menunjukkan bahwa gradien kemiringan garis korelasi linier antara indeks T terhadap R12 mempunyai nilai positif untuk semua bulan untuk kedua lokasi. Hal ini menunjukkan bahwa indeks T akan naik seiring dengan kenaikan R12. Korelasi yang tinggi antara indeks T regional dengan R12 (koefisien korelasi: R2= 0,88–0,98 untuk Sumedang, dan 0,86–0,950 untuk Vanimo) untuk semua bulan, untuk kedua lokasi, menunjukkan kompatibilitas antara kedua parameter tersebut. Pengujian terhadap nilai foF2 yang dihitung untuk nilai indeks T minimum (-50), menengah (100), dan maksimum (200), dibandingkan dengan minimum dan maksimum foF2 hasil pengamatan memberikan hasil kesesuaian nilai foF2 hasil perhitungan dan hasil pengamatan. Dari analisis yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa indeks T regional dapat digunakan sebagai indeks ionosfer yang menggantikan R12 dalam hubungan antara aktivitas matahari dengan foF2 di daerah sekitar lokasi pengamatan. Kata kunci: Indeks ionosfer, foF2, Bilangan sunspot
ANALISIS PERILAKU ANGIN DI LAPISAN 850 hPa HASIL OBSERVASI DATA WPR DIKAITKAN DENGAN PERILAKU DATA INDEKS MONSUN GLOBAL DI INDONESIA Noviyanti Erfien Kaparang; Eddy Hermawan
Jurnal Sains Dirgantara Vol 8, No 1 (2010)
Publisher : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (15478.121 KB)

Abstract

This study analyzed the behavior of winds in the lower layers of the troposphere, or rather at "approximately" 850 hPa layer, which is equivalent to an altitude of "about" 1.5 km above the sea level (asl) and observed the data at Wind Profiling Radar (WPR) in Pontianak, Biak, Manado, Serpong and Kototabang, particularly in the wet months (BB) and dry months (BK) for a few months. The results show that the WPR data used to identify the Monsoon on the Indonesian Maritime Continent region (BMI) is quite refresentative. The results further show that the cities which are located relatively close to the equatorial line, such as Pontianak and Biak are relatively strongly influenced by wind zonal (East-West). While the city which is relatively far from the equatorial line (like Manado), is relatively strongly affected by the meridional wind (North-South). There is further analysis of why this is happening. However, this is allegedly due to the influence of Coriolis force (Coriolis Force), particularly at the lower layers of the troposphere in the region that is located relatively far from the equatorial than in the precise area at the equatorial considering that the Coriolis force itself is close to zero (very small) for the equatorial region. Another interesting point is that the zonal winds are stronger influence on the data AUSMI (Australian Monsoon Index), while the meridional winds are the stronger influence on the data WNPMI (Western North Pacific Monsoon Index) with correlation values respectively around 0.76 and 0.45. Keywords: Monsoon Signal, WPR, and Global Monsoon Index
Front Pages JSD Vol 14 No 1 Desember 2016 Redaksi Jurnal
Jurnal Sains Dirgantara Vol 14, No 2 (2016)
Publisher : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (622.574 KB)

Abstract

Front Pages JSD Vol 14 No 1 Desember 2016
ANALISIS KORELASI SUHU UDARA PERMUKAAN DAN CURAH HUJAN DI JAKARTA DAN PONTIANAK DENGAN ANOMALI SUHU MUKA LAUT SAMUDERA INDIA DAN PASIFIK TROPIS DALAM KERANGKAOSILASI DUA TAHUNAN TROPOSFER (TBO) Arief Suryantoro; Bambang Siswanto
Jurnal Sains Dirgantara Vol 6, No 1 (2008)
Publisher : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2697.427 KB)

Abstract

Telah dilakukan analisis hubungan suhu muka lautan (SST : Sea Surface Temperature) India dan Pasifik Barat Tropis, dan anomalinya (SSTA : Sea Surface Temperature Anomaly) dengan suhu udara permukaan (T) dan curah hujan (CH) di daerah Pontianak dan Jakarta dalam kerangka osilasi dua tahunan troposfer (TBO : Tropospheric Biennial Oscillation). Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa SST dan SSTA Samudera India dan Pasifik Barat Tropis memiliki korelasi yang lebih baik dengan suhu udara permukaan di Jakarta dan Pontianak dibandingkan dengan curah hujan di kedua daerah yang ditinjau tersebut. Selanjutnya juga ditunjukkan bahwa TBO merupakan fenomena yang berpengaruh terhadap pola suhu udara permukaan dan curah hujan di daerah Jakarta dan Pontianak, meskipun fenomena TBO ini muncul bukan sebagai fenomena yang benar-benar periodik dan bukan merupakan satu-satunya fenomena yang muncul Jurnal Sains Dirgantara Vol. 6 No. 1 Desember 2008:1-21 2 dominan di kedua daerah yang ditinjau tersebut. Di daerah Jakarta dan Pontianak ini juga muncul ragam osilasi curah hujan dan suhu udara permukaan lainnya seperti osilasi setengah tahunan SAO (Semi Annual Oscillation), osilasi tahunan AO (Annual Oscillation), dan antar tahunan ENSO (El-Nino Southern Oscillation). Kata kunci: SST (Sea Surface Temperature), SSTA (Sea Surface Temperature Anomaly), SAO (Semi Annual Oscillation), AO (Annual Oscillation), TBO (Tropospheric Biennial Oscillation)..
KLASTER CURAH HUJAN TRMM RATA-RATA 3 JAM-AN DAN HUBUNGANNYA DENGAN FENOMENA ATMOSFER Ina Juaeni; Bambang Siswanto; - Nurzaman; - Martono; Farid Lasmono
Jurnal Sains Dirgantara Vol 9, No 1 (2011)
Publisher : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1085.903 KB)

Abstract

Three hourly Tropical Rainfall Measuring Mission (TRMM) rainfall data availability provides an opportunity to study more deeply in short time atmospheric process, as is presented in this paper. Arithmatic mean value of rainfall is used to eliminate micro and local factors. Clustering with annual average data show the number of clusters varies from 6 to 14. The number of the smallest cluster of 6 occurred in 2004, while the number of the highest clusters found in 2010. Identify the relationship of 3-hourly rainfall clusters with an atmospheric phenomenon carried out by evaluating the correlation between the number of clusters with Sea Surface Temperature (SST) anomalies in the Pacific and Indian oceans. The results showed clusters number unrelated to SST anomaly in Indian ocean and linearly related to SST anomaly in the Pacific ocean when SST anomalies in the ocean are changing the three hourly accumulative rainfall. Key words:Three hourly, Rainfall, Cluster, SST anomaly

Page 6 of 21 | Total Record : 210