cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta timur,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Sains Dirgantara
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 210 Documents
KARAKTERISTIK PARTIKEL BERMUATAN DI WILAYAH ANOMALIATLANTIK SELATAN YANG BERPOTENSI PENYEBAB GANGGUANOPERASIONAL SATELIT ORBIT RENDAH[THE CHARACTERISTIC OF CHARGED PARTICLES IN THE SOUTHATLANTIC ANOMALY REGION AS THE CAUSE OF OPERATIONALDISRUPTION ON LOW ORBITING SATELLITES] Nizam Ahmad; - Neflia
Jurnal Sains Dirgantara Vol 11, No 2 (2014)
Publisher : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1225.844 KB)

Abstract

Wilayah Anomali Atlantik Selatan (AAS) mengandung partikel bermuatan yang membahayakan satelit-satelit yang berada di orbit rendah bumi (LEO). Partikel bermuatan yang terdapat di wilayah tersebut bersumber dari sinar kosmik galaksi (GCR) dan matahari yang terperangkap, merambat dan saling berinteraksi yang mengakibatkan fluks dan energi partikel bervariasi. Karakteristik partikel bermuatan di wilayah Anomali Atlantik Selatan dapat diketahui dengan menganalisis data partikel dari satelit NOAA 15. Tinjauan partikel dari GCR dilakukan saat aktivitas matahari minimum sedangkan tinjauan partikel dari matahari dilakukan saat aktivitas matahari maksimum. Analisis data partikel memperlihatkan bahwa saat aktivitas matahari maksimum dan minimum, terjadi badai GCR beberapa kali. Badai GCR tidak selalu berpengaruh signifikan terhadap aktivitas geomagnet yang dilihat melalui indeks Kp dan Dst. Analisis data partikel di AAS untuk kanal energi E>30 keV (elektron) dan 80 <E< 240 keV (proton) juga memperlihatkan bahwa badai GCR berpengaruh terhadap fluks elektron di AAS, namun tidak terlihat pada fluks proton. Peningkatan fluks partikel di SAA juga dilihat dengan meninjau fenomena semburan proton dari matahari (Solar Proton Event-SPE) dan memperlihatkan korelasi yang rendah. Pada kondisi matahari minimum, fluks rata-rata partikel di AAS  sekitar 102 partikel/cm2, sedangkan pada kondisi matahari maksimum, fluks minimum sekitar 103 partikel/cm2. Energi dan fluks yang demikian pada umumnya mengakibatkan pemuatan permukaan pada satelit-satelit orbit rendah.Kata kunci: Partikel bermuatan, Anomali Atlantik Selatan, Anomali satelit
VARIASI DIURNAL DAN MUSIMAN KEMUNCULAN LAPISAN E-SPORADIS DI ATAS SUMEDANG TAHUN 2015 (DIURNAL AND SEASONAL VARIATION OF THE OCCURRENCEOF SPORADIC-E LAYER OVER SUMEDANG IN 2015) Rhorom Priyatikanto; Farahhati Mumtahana; Mumen Tarigan
Jurnal Sains Dirgantara Vol 13, No 2 (2016)
Publisher : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (873.588 KB) | DOI: 10.30536/j.jsd.2016.v13.a2941

Abstract

Wind shear has been believed as the main mechanism behind the occurrence of E-sporadic layer in 90-120 km altitude. The occurrence of this layer is related to gravity wave, tidal wave, and globalscale atmospheric wave (planetary wave) with different periodicity. Meteor showers that happen annually may also influence the occurrence probability of E-sporadic layer, while Solar and geomagnetic activity contribute less significantly. In this article, E-Sporadic data obtained in Balai Pengamatan Atmosfer dan Antariksa Sumedang, Jawa Barat in 2015 was studied. The main purpose of the study is to understand the characteristics and occurrence pattern of E-sporadic layer in lowlatitude region. Conclusions can be deduced from the conducted analyses. Percentage of occurrence of E-sporadic layer (P) is relatively high during May-July and December-January period. The occurrence of E-sporadic layer with critical frequency higher than 2 MHz can be as high as 97%. The observed diurnal variation is the increase of P before midday followed by a significant decrease at 12:00 local time. The value of P rises again and peaks at around 16:00 local time and then declines as the photoionization rate diminishes through time. During May-July, E-sporadic layer with frequency above 6 MHz also occurred in night time. Further examinations are required to analyse the relation between E-sporadic occurrence during those time windows and the activity of high-flux meteor shower. Besides, diurnal and seasonal variations concluded in this study are expected to become rerference for space weather forecast which is demanded by stakeholders. ABSTRAKGesekan angin (wind shear) telah lama dipercaya sebagai mekanisme penyebab kemunculan lapisan E-Sporadis pada ketinggian 90-120 km. Kemunculan lapisan ini berkaitan dengan gelombang gravitasi, gelombang pasang-surut, serta gelombang atmosfer skala global (planetary wave) dengan perulangan yang berbeda. Hujan meteor yang terjadi setiap tahun juga dapat mempengaruhi probabilitas kemunculan lapisan E-Sporadis, sementara aktivitas Matahari dan geomagnet tidak banyak memberikan pengaruh. Pada artikel kali ini, data E-Sporadis hasil pengamatan di Balai Pengamatan Atmosfer dan Antariksa Sumedang, Jawa Barat sepanjang tahun 2015 telah dipelajari. Tujuan utamanya adalah untuk mengetahui karakteristik dan pola kemunculan lapisan E-Sporadis di daerah lintang rendah. Beberapa kesimpulan dapat dideduksi dari analisis yang dilakukan. Persentase kemunculan lapisan E-Sporadis (P) cukup tinggi pada bulan Mei-Juli serta DesemberJanuari. Persentase kemunculan lapisan E-Sporadis dengan frekuensi kritis lebih dari 2 MHz dapat mencapai 97%. Variasi diurnal yang teramati adalah peningkatan nilai P menjelang tengah hari yang diikuti penurunan sekitar pukul 12:00 waktu lokal. Nilai P kembali naik dan memuncak pada pukul 16:00 waktu lokal lalu menurun seiring berkurangnya laju ionisasi oleh radiasi Matahari. Pada bulan Mei-Juli, lapisan E-Sporadis dengan frekuensi lebih dari 6 MHz juga muncul pada malam hari. Pemeriksaan lebih lanjut perlu dilakukan untuk mengetahui kaitan antara kemunculan E-Sporadis pada rentang waktu tersebut dan aktivitas hujan meteor dengan fluks tinggi. Selain itu, variasi diurnal dan musiman yang diperoleh dalam studi ini dapat menjadi rujukan bagi proses ramalan cuaca antariksa yang diperlukan bagi sejumlah stakeholder.
PEMBANGUNGAN SISTEM INFORMASI ANOMALI SATELIT (SIAS) Nizam Ahmad; Abdul Rachman
Jurnal Sains Dirgantara Vol 6, No 2 (2009)
Publisher : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (910.469 KB)

Abstract

Kasus anomali yang kerap terjadi pada satelit-satelit orbit rendah (LEO) dan tinggi (GEO) menyebabkan penurunan kinerja sistem satelit. Pada umumnya anomali ini banyak disebabkan oleh cuaca antariksa berupa interaksi partikel energi tinggi pada sistem satelit dan pengaruh aktivitas geomagnet terutama disaat terjadi badai. Kejadian anomali satelit dapat dianalisis melalui suatu sistem informasi yang memadukan parameter cuaca antariksa seperti energi dan fluks proton, elektron dan indeks Kp dengan data kegagalan sistem satelit. Sistem Informasi Anomali Satelit (SIAS) merupakan perangkat yang dibangun dan dikembangkan sebagai upaya peringatan dini gangguan operasional satelit dengan menggunakan semua data tersebut. Meski SIAS masih berupa prototip, namun SIAS telah dapat digunakan untuk menganalisis beberapa kejadian anomali satelit orbit rendah dan orbit tinggi. Kata kunci : Anomali satelit, SIAS.
PENGARUH RADIASI EUV MATAHARI DAN AKTIVITAS GEOMAGNET TERHADAP VARIASI KERAPATAN ATMOSFER DARI ELEMEN ORBIT LAPAN-TUBSAT [INFLUENCE OF SOLAR EUV RADIATION AND GEOMAGNETIC ACTIVITY ON ATMOSPHERIC DENSITY VARIATION USING LAPAN-TUBSAT ORBITAL ELEMENTS] Tiar Dani; Abdul Rachman
Jurnal Sains Dirgantara Vol 10, No 2 (2013)
Publisher : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1054.904 KB)

Abstract

Kondisi lingkungan antariksa yang sangat ekstrim akibat aktivitas matahari dapat menyebabkan efek yang serius bagi satelit, baik itu efek anomali ataupun peluruhan orbit. Peluruhan orbit disebabkan oleh peningkatan kerapatan atmosfer terutama pada satelit-satelit di orbit rendah. Lapan-Tubsat dan satelit-satelit Lapan generasi selanjutnya akan ditempatkan di orbit rendah sehingga perlu diketahui pengaruh radiasi EUV dan aktivitas geomagnet terhadap kerapatan atmosfer yang dilintasinya. Hasil analisis keterpengaruhan kerapatan atmosfer, diperoleh korelasi sebesar 83% antara F10.7 sebagai proksi dari radiasi EUV dengan variasi kerapatan atmosfer, sedangkan korelasi dengan aktivitas geomagnet menggunakan indeks Ap sebagai proksi sebesar 13%. Kenaikan kerapatan atmosfer rata-rata akibat aktivitas matahari moderat dan tinggi masing-masing sebesar 4 kali dan 11 kali dibanding rata-ratanya saat aktivitas matahari tenang. Sedangkan aktivitas geomagnet moderat menyebabkan terjadinya kenaikan kerapatan atmosfer rata-rata sebesar 1 kali lebih tinggi dibanding saat keadaan geomagnet tenang. Kata kunci: Kerapatan atmosfer, Radiasi EUV, Aktivitas geomagnet TLE, Lapan-Tubsat, F10.7, Indeks Ap.
ANALISIS EVOLUSI GRUP SUNSPOT SPD WATUKASEK UNTUK MEMPEROLEH INDIKATOR KEMUNCULAN FLARE Nanang Widodo; Nur Aeni; - Sudarji; Ahmad Sodikin; - Marlan
Jurnal Sains Dirgantara Vol 4, No.1 Desember (2006)
Publisher : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (896.305 KB)

Abstract

In their evolution, sunspot groups change in its number, area, shape and its formation. Proper motion of sunspot group show twist and shear movement. Therefore, we measure the central position it preceding and following parts. The difference of angle between the preceding and following part in the evolution on (n + 1) thand n may indicated that in its evolution the sunspot group have changed the area. We suggest some indications for predicting flare using the maesurement of twist and shear of the spot in a group.
Full Draft JSD Vol 15 No 1 Desember 2017 Redaksi Jurnal
Jurnal Sains Dirgantara Vol 15, No 1 (2017)
Publisher : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (6123.29 KB)

Abstract

Full Draft JSD Vol 15 No 1 Desember 2017
STUDI SENSITIVITAS DARLAM TERHADAP SKEMA KONVEKSI BERDASARKAN JUMLAH BULAN HUJAN Ina Junaeni; - Halimurrahman; Bambang Siswanto
Jurnal Sains Dirgantara Vol 5, No 2 (2008)
Publisher : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (949.861 KB)

Abstract

Untuk mendukung kesimpulan tentang kinerja DARLAM, dalam tulisan ini disampaikan kinerja model melalui jumlah bulan hujan di wilayah Indonesia. Berdasarkan nilai perbandingan jumlah bulan hujan simulasi dan jumlah bulan observasi pertahun, skema Hal mempunyai kinerja paling buruk dibanding skema lainnya. Hal ini ditunjukkan dengan nilai perbandingan jumlah bulan hujan simulasi dan jumlah bulan hujan observasi yang sangat rendah. Skema Kuo menunjukkan kinerja yang baik untuk Papua, Kalimantan, Sumatera dan Jawa. Kinerja skema Arakawa dan skema Betts Miller yang baik ditunjukkan untuk lokasi berikut: Papua, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, NT dan Bali, dan Jawa. Skema konveksi Ak, Kuo dan BM DARLAM cenderung menghasilkan curah hujan berlebih untuk NT, dan Bali dan juga pada periode ENSO 1982. Kata kunci : Jumlah bulan hujan, Skema konveksi, DARLAM.
ANALISIS KEJADIAN CURAH HUJAN EKSTREM DI PULAU SUMATERA BERBASIS DATA SATELIT TRMM DAN OBSERVASI PERMUKAAN [ANALYSIS OF EXTREME RAINFALL EVENTS OVER THE SUMATERA ISLAND BASED ON TRMM SATELLITE DATA AND SURFACE OBSERVATION] Sartono Marpaung; Didi Satiadi; Teguh Harjana
Jurnal Sains Dirgantara Vol 9, No 2 (2012)
Publisher : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1538.742 KB)

Abstract

Kejadian curah hujan ekstrem dapat memberikan dampak yang merugikan bagi manusia dan lingkungan. Seperti terjadinya banjir dan tanah longsor yang dapat mengakibatkan kerugian harta benda dan korban jiwa. Oleh sebab itu dalam makalah ini dilakukan suatu kajian untuk menganalisis kejadian curah hujan ekstrem. Metode yang digunakan untuk menentukan nilai ambang batas curah hujan ekstrem adalah fungsi distribusi kumulatif. Hasil analisis data curah hujan dari satelit TRMM (Tropical Rainfall Measuring Mission) menunjukkan, nilai ambang batas untuk Pulau Sumatera dan sekitarnya antara 60 sampai 130 mm/hari. Ambang batas di sekitar ekuator lebih tinggi dibanding bagian utara dan selatan, akibat pengaruh dari faktor ekuinoks yang lebih kuat dibanding monsun. Kejadian curah hujan ekstrem dengan jumlah hari kejadian 1 sampai 2 hari pertahun dominan terjadi. Tahun 1998/1999 terjadi peningkatan jumlah hari kejadian curah hujan ekstrem di laut sebelah barat dan timur Pulau Sumatera, diduga akibat pengaruh faktor global (La Niña dan Dipole Mode). Total jumlah hari kejadian curah hujan ekstrem yang dominan terjadi dalam 14 tahun adalah 20 sampai 30 hari. Kejadian dengan jumlah hari tertinggi terjadi di perairan sebelah barat Pulau Sumatera, diduga akibat pengaruh dari Samudera Hindia sebagai sumber uap air. Hasil perbandingan dengan curah hujan observasi permukaan menunjukkan nilai ambang batas dan jumlah kejadian hujan ekstrem lebih tinggi dibanding hasil dari satelit TRMM. Kata kunci: Ekstrem, Curah hujan, Ambang batas, Distribusi kumulatif
ANALISIS STRUKTUR VERTIKAL MJO TERKAIT DENGAN AKTIVITAS SUPER CLOUD CLUSTERS (SCCs) DI KAWASAN BARAT INDONESIA Eddy Hermawan
Jurnal Sains Dirgantara Vol 8, No 1 (2010)
Publisher : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1516.761 KB)

Abstract

One important aspect when its Coupling Processes Equatorial Atmosphere (CPEA) Campaign 2004 in Kototabang which lasted for approximately one month of observation (April 10 to May 10, 2004) was an analysis of the vertical structure of the phenomenon of the Madden-Julian Oscillation (MJO) related to the activity of the Super Cloud Clusters (SCCs) as one of the main parameters in assessing the behavior of rainfall occurred in the western region of Indonesia. The data used are data of Equatorial Atmosphere Radar (EAR), Boundary Layer Radar (BLR), Mini Automatic Weather Station (MAWS), and Optical Rain Gauge (ORG) at Kototabang, LAPAN Ground Station. While the supporting data used are long-wave radiation anomaly data (Outgoing Longwave Radiation, OLR) and surface rainfall data. The analysis using spectral techniques, particularly the Fast Fourier Transform (FFT) on data anomalies daily average five (pentad) OLR oscillation 2001-2005 period shows that the dominant than the data is approximately 30 daily. These oscillations typically occurred in the lower troposphere layer with the direction of propagation toward the east. Besides that, the existence of convergence and divergence processes in the layer 3 and 10 km above mean sea level (msl) is also found, particularly on the date April 23, 2004 of EAR data analysis. Finally, we try to link these events by analyzing the relationship between OLR with the rainfall in Kototabang and the surrounding region, particularly ORG measurement results with the correlation coefficient of about 0.71. Keywords : CPEA Campaign, MJO, OLR, EAR, and ORG
PENGARUH AEROSOL TERHADAP FLUKS RADIASI NETO DI LAPISAN ATAS ATMOSFER DAN DI PERMUKAAN BERDASAR DATA SATELIT [INFLUENCE OF AEROSOL ON NET RADIATION FLUX AT THE TOP OF ATMOSPHERE AND SURFACE BASED ON SATELLITE] nFN Rosida; Indah Susanti
Jurnal Sains Dirgantara Vol 14, No 2 (2016)
Publisher : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1235.762 KB) | DOI: 10.30536/j.jsd.2016.v14.a2444

Abstract

The direct effects of aerosols on radiation budget in Indonesia have been analyzed based on radiation flux net data from the Clouds and the Earth's Radiant Energy System (CERES) instrument and aerosol optical depth (AOD) from the Moderate Resolution Imaging Spectroradiometer (MODIS) Terra. Radiation budget calculated including short wave and long-wave radiation. Data from March 2000 until February 2010, processed using Grads version 2 to obtain aerosol radiative forcing value. Net radiation in clean sky, estimated using slope method. The analysis showed high temporal variation of aerosols density in the atmosphere with a value AODmax> 2, which generally causes decreases net radiation flux, so providing a cooling effect. The influence of aerosols on the net radiation flux can be very clearly seen in the case of forest fires. AOD in 2006 increased and caused radiation flux anomalies ranging from -9 watt/m-2 to -14 watts/m-2, with the largest decline occurred in the surface. From all the data period, aerosol radiative forcing at TOA level (ARFTOA) on Indonesia was -0.49 watt/m-2 and aerosol radiative forcing at the surface level (ARFSurf) on Indonesia was -17.72 watt/m-2, that influence to the Indonesian climate condition.

Page 2 of 21 | Total Record : 210