cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
KALPATARU
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Humanities, Art,
Arjuna Subject : -
Articles 278 Documents
Situs Kesuben: Suatu Bukti Peradaban Hindu-Buddha di Pantai Utara Jawa Tengah. Sukawati Susetyo
KALPATARU Vol. 24 No. 2 (2015)
Publisher : Pusat Penelitian Arkeologi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/kpt.v24i2.37

Abstract

Sejarah kuno Indonesia mencatat bahwa masa sejarah tertua di Jawa Tengah adalah Kerajaan Matarām Kuno (abad ke-8-10). Pada waktu yang sama di pantai timur Sumatera terdapat Kerajaan Sriwijaya. Di lain pihak, berita Cina menginformasikan bahwa kerajaan di Jawa sudah ada pada abad ke-5, yaitu Ho-ling (She-po). Penelitian mutakhir di pesisir pantai utara Jawa Barat dan timur Sumatera memberikan bukti adanya hubungan antara Indonesia dengan bangsa asing berupa artefak-artefak dari luar negeri, meskipun tidak didukung oleh data prasasti. Hal tersebut memberikan petunjuk untuk mencari bukti awal hubungan dengan bangsa lain di daerah pesisir pantai. Penelitian di pesisir pantai utara Jawa Tengah ini dilakukan dengan survei, ekskavasi, dan wawancara mendalam, metode penulisan menggunakan metode deskriptif komparatif. Penelitian ini berhasil menambahkan data baru berupa temuan candi di Desa Kesuben, Kecamatan Lebaksiu, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah.Temuan yang dihasilkan berupa struktur bangunan candi dari bata, antefiks-antefiks, dan arca batu. Hingga saat ini dari penelitian ini belum diketahui latar keagamaan Candi Kesuben karena belum ditemukan artefak yang mendukung. Abstract. The Indonesian Ancient History has recorded that the oldest historical period in Central Java was the period of the Ancient Matarām Kingdom (8th – 10th centuries CE). At the same period there was the kingdom of Srivijaya on the east coast of Sumatera. On the other hand, according to Chinese chronicles, there had been a kingdom in Java in 5th century CE, namely Ho-ling (She-po). Recent investigations along the north coast of West Java and the east coast of Sumatera have yielded evidences of relations between Indonesia and foreign countries in forms of imported artifacts, although this is not supported by inscriptions. This indicates that evidences of international relations have to be searched in coastal areas because it was where the relations began. The research on the north coast of Central Java was carried out in forms of survey, excavation, and thorough interviews, and the writing method is descriptive-comparative. This research has provided new evidence in form of a candi (temple) at Kesuben Village in Lebaksiu District, Tegal Regency, Central Java. The finds include structure of candi made of bricks, antefixes, and stone statues. Unfortunately we have not been able to identify the religious background of the Candi Kesuben (Kesuben Temple) because there has not been any artifact that can support the identification.
Karakteristik Situs Pesisir di Kecamatan Kumai, Kabupaten Kotawaringin Barat. Sunarningsih Sunarningsih
KALPATARU Vol. 24 No. 2 (2015)
Publisher : Pusat Penelitian Arkeologi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/kpt.v24i2.38

Abstract

Kabupaten Kotawaringin Barat yang berada di Provinsi Kalimantan Tengah memiliki kawasan pesisir, tepatnya di sebelah selatan, yang berbatasan langsung dengan Laut Jawa. Posisi yang strategis tampaknya sangat berpengaruh terhadap perkembangan kebudayaan di daerah tersebut. Kesempatan untuk dapat berinteraksi dengan dunia luar menjadi sangat mungkin. Keberadaan situs arkeologi di pesisir menjadi sangat menarik untuk dikaji lebih lanjut. Tulisan ini ditujukan untuk mengetahui karakteristik situs tersebut. Metode penelitian bersifat deskriptif eksplanatif dengan penalaran induktif. Data arkeologi yang digunakan merupakan hasil survei arkeologi pada tahun 2014. Hasil survei menemukan adanya beberapa kelompok temuan yang berada di wilayah Desa Sebuai dan Desa Pendulangan, dengan keramik sebagai temuan terbanyak. Berdasarkan hasil analisis artefaktual dan lingkungan, sintesa dan interpretasi menunjukkan bahwa situs di pesisir tersebut, selain sebagai tempat hunian dari abad ke-13 - 14 hingga sekarang, juga memegang peranan penting dalam aktivitas perdagangan dengan daerah luar, serta mempunyai keterkaitan yang erat dengan situs arkeologi di daerah pedalaman. Abstract. The regency of West Kotawaringin, which is located in Central Kalimantan province, has coastal areas, precisely in the south, which is directly adjacent to the Java Sea. Its strategic position seems very influential on the development of culture in this area. The opportunity to interact with the outside world becomes very possible. The existence of archaeological sites on the coast became very interesting to be studied further. This article discusses the characteristics of the sites. The method used in this article is inductive reasoning and an explanatory descriptive. Archaeological data were obtained from archaeological survey in 2014. It can be concluded that the coastal sites were not only served as dwelling places from 13 - 14 AD to present, but also played an important role in trading activities with abroad, as well as having strong links with archaeological sites in the hinterland.
Preface Kalpataru Volume 24, nomor 1, tahun 2015 Redaksi Pusat Penelitian Arkeologi Nasional
KALPATARU Vol. 24 No. 1 (2015)
Publisher : Pusat Penelitian Arkeologi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Manik-Manik Kaca Salah Satu Indikator Kejayaan Dan Keruntuhan Perniagaan Pulau Kampai. Ery Soedewo
KALPATARU Vol. 24 No. 2 (2015)
Publisher : Pusat Penelitian Arkeologi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/kpt.v24i2.40

Abstract

Salah satu jejak masa lalu di Pulau Kampai yang jumlah dan jenisnya berlimpah adalah manik-manik kaca. Permasalahan pada tulisan ini adalah keterkaitan antara keberlimpahan objek tersebut dengan refleksi kondisi tertentu pada masa lalu di Pulau Kampai. Keberlimpahan data kemudian dianalisis secara morfologi dan dilihat kuantitasnya, sehingga menghasilkan ragam jenis dan gambaran fluktuasi yang merupakan refleksi kejayaan dan keruntuhan perniagaan Pulau Kampai di masa lalu. Penjelasan tentang faktor penyebab fluktuasi dicapai melalui analogi sumber-sumber historis, baik lokal maupun mancanegara. Kajian ini bertujuan menggambarkan fluktuasi perniagaan di Pulau Kampai yang terefleksikan lewat fluktuasi kuantitas manik-manik kacanya, sekaligus menjelaskan faktor penyebab keruntuhan dan kejayaan perniagaan kuna di Pulau Kampai. Kejayaan perniagaan pulau ini berlangsung antara abad ke-11 hingga pertengahan abad ke-14, salah satunya didorong oleh permintaan terhadap produk alam Sumatera oleh pasar Tiongkok sejak masa Dinasti Sung. Keruntuhannya bermula sejak kekuasaan Dinasti Ming membatasi pengusaha swasta dalam perdagangan lintas samudera mulai abad ke-15, yang berakibat pada menurunnya permintaan terhadap produk alam Sumatera. Peran Kampai dalam perniagaan akhirnya mencapai titik terbawah pada abad ke-16 ketika bandar-bandar lain di Sumatera menjadi tempat dijualnya komoditi ekspor yang dihasilkan oleh Aru. Abstract. Kampai Island’s past traces include the abundant varied glass beads. Was such abundant glass beads reflects certain conditions on ancient Kampai Island? Such richness in number and variety have triggered a number of researches on their quantity and morphology which provide some information of categorization and trade fluctuation in the ancient Kampai Island. The factors contributing to the rise and fall of the island are explained through the analogy of local or international historical sources. Kampai’s heyday through AD 11 to the middle of AD 14 centuries was among others due to demand on Sumatera’s natural resources by the Chinese market since the Tang Dynasty’s period; on the other hand, the Ming Dynasty’s AD 15 century inter-ocean private trade quota limitation contributed to the decline of such resources demand. The declining demand finally brought Kampai’s commerce to collapse at AD 16 century when other Sumatera’s ports began to export Aru’s commodity.
Karakter Teknologi Litik Homo Erectus Progresif Berdasarkan Himpunan Artefak dari Situs Matar, Bojonegoro M. Ruly Fauzi; M. Fadhlan S. Intan; Truman Simanjuntak
KALPATARU Vol. 24 No. 1 (2015)
Publisher : Pusat Penelitian Arkeologi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/kpt.v24i1.41

Abstract

Abstrak. Teras 20 meter Bengawan Solo yang diklaim berumur Pleistosen Atas seringkali dibahas sejak penemuan 14 spesimen Homo erectus beserta sejumlah artefak di Ngandong pada tahun 1931-1933. Namun demikian, artefak batu yang dianggap sebagai peralatan Homo erectus progresif tersebut jarang sekali dibahas secara khusus, sehingga karakter teknologi mereka masih belum jelas statusnya. Situs Matar di tepi timur Bengawan Solo dengan litologi dan posisi yang mirip dengan Ngandong memberikan data baru terkait artefak litik dengan taksiran umur yang sama. Analisis terhadap himpunan artefak litik Situs Matar bertujuan untuk mengetahui karakter bentuk dan teknologi artefak litik Homo erectus progresif. Analisis khusus berupa tinjauan tipologi dan dimensi artefak serpih menunjukkan ciri khusus. Pengukuran serpih menunjukkan produk débitage yang cenderung rektangular dan sedikit memanjang. Secara umum, himpunan artefak litik dari Matar menunjukkan kehadiran alat serpih bersama dengan artefak masif seperti bola, spheroidal, polihedron, serta kapak perimbas-penetak. Kehadiran alat masif bercirikan Oldowanian tersebut menunjukkan fungsi alat yang sepertinya tidak tergantikan oleh artefak serpih di dalam budaya Homo erectus progresif. Abstract. The 20 meter-high Solo terrace claimed to be Upper-Pleistocene deposit has often been discussed since the discovery of 14 Homo erectus specimens with numerous artifacts in Ngandong on 1931-1933. Nevertheless, the artifacts that have been baptized as implements of progressive Homo erectus is rarely discussed, especially the character of their technology, which remains unclear. Matar, a new site situated on the eastern banks of Solo River with similar lithology and position to those of Ngandong, provides new data related to lithic artifacts. Analysis on lithic assemblage from Matar locality was aimed at characterizing morphology and technology of the implements of progressive Homo erectus. Specified analysis consisting of typology and measurements of flake artifacts successfully shows its specific characteristics. Measurements on flakes show débitage products that tend to be rectangular and slightly elongated. In general, the lithic assemblage from Matar shows the presence of flakes together with massive tools such as bola, spheroidal, polyhedrons, and chopper-chopping tools. The presence Oldowanian massive tools might indicate their exceptional utility that could not be replaced by flakes in progressive Homo erectus culture. 
Kilas Balik Sejarah Budaya Semenanjung Blambangan, Banyuwangi, Jawa Timur. Muhammad Hasbiansyah Zulfahri; Hilyatul Jannah; Sultan Kurnia Alam Bagagarsyah; Wastu Prasetya Hari; Wulandari Retnaningtiyas
KALPATARU Vol. 24 No. 2 (2015)
Publisher : Pusat Penelitian Arkeologi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/kpt.v24i2.42

Abstract

Semenanjung Blambangan atau dikenal dengan Alas Purwo terletak di Kabupaten Banyuwangi. Alas Purwo yang dalam bahasa Jawa diartikan sebagai ‘hutan awal’ memiliki banyak potensi arkeologi. Hutan lebat Alas Purwo merupakan salah satu unsur penyusun bentang lahan karst yang memungkinkan mendukung kehidupan manusia masa Prasejarah. Data dari berbagai sumber menyebutkan, bahwa di Alas Purwo ditemukan tinggalan sisa budaya masa lalu lainnya. Selain itu, lokasiyang terisolasi memungkinkan diperolehnya data yang masih asli dan tidak banyak mengalami transformasi. Tujuan penelitian adalah pendataan potensi arkeologi dan etnohistori Alas Purwo dalam tiga dimensi, yaitu dimensi bentuk, ruang, dan waktu. Dengan demikian,dapat diperoleh kesimpulan sejarah budaya Semenanjung Blambangan. Metode penelitian bersifat eksploratif dengan tiga pendekatan, yaitu pendekatan arkeologi, pendekatan etnohistori, dan pendekatan geografi dengan perangkat Geographic Information System (GIS). Hasil penelitian menunjukkan bahwa Semenanjung Blambangan memiliki nilai sejarah budaya cukup panjang dan penting. Hal ini terbukti dari lengkapnya tinggalan arkeologi serta etnohistori yang berasal dari masa Prasejarah, Klasik (Hindu), Islam, dan Kolonial yang menyimpan isu lokal, nasional, dan internasional. Secara spasial, pola distribusi tinggalan arkeologi tersebut memperlihatkan variasi mendasar, seperti lokasi yang khas. Abstract. Blambangan peninsula, known as Alas Purwo located in Banyuwangi. Alas Purwo, also means “early forest” in Javanese language, has a lot of archaeological potential, moreover the dense forest which is one of the constituent elements of the karst landscape enables support for human life in prehistoric era. Data from various sources says that in the Alas Purwo found the remains of the other past culture. In addition, isolated location provide opportunities for data that is pristine and not much transformed. The purpose of this research is to collect data of archaeological and ethno-history potency of Alas Purwo in three dimensions, which is: the dimensions of form, space, and time, in order to obtain a conclusionon the cultural history Blambangan Peninsula. The research methods is explorative with three approaches, archaeological approach, ethno-historical approach and geographical approach with the Geographic Information System (GIS). The research proves that Blambangan Peninsula has cultural history value as well. This result can be proved from complete archaeological and ethno-historical remains dating from the Prehistoric, Classical, Islam, and the Colonial era with local, national, and international issues. Spatially, the distribution pattern of the archaeological remains show fundamental variations, such as locational characteristics.
Preface Kalpataru Volume 24, nomor 2, tahun 2015 Redaksi Pusat Penelitian Arkeologi Nasional
KALPATARU Vol. 24 No. 2 (2015)
Publisher : Pusat Penelitian Arkeologi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Preface Kalpataru Volume 23, nomor 1, tahun 2014 Redaksi Pusat Penelitian Arkeologi Nasional
KALPATARU Vol. 23 No. 1 (2014)
Publisher : Pusat Penelitian Arkeologi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perkembangan Budaya Akhir Pleistosen-Awal Holosen Di Nusantara. Bagyo Prasetyo
KALPATARU Vol. 23 No. 1 (2014)
Publisher : Pusat Penelitian Arkeologi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/kpt.v23i1.47

Abstract

Sejak dasawarsa terakhir ini eksplorasi untuk mengetahui jejak-jejak manusia dan budaya akhir Pleistosen-awal Holosen makin meluas. Wilayah pengamatan telah menjangkau Aceh, Pulau Nias, pedalaman Sumatera Selatan, pesisir Pantai Barat Kalimantan Barat dan Barito Utara, Sulawesi Selatan, Maluku Tengah, Halmahera, Ponorogo dan Pacitan (Jawa Timur), Wonosari  (Yogyakarta), Klungkung (Bali), Rotendao, Flores, dan Kupang. Makalah   ini merupakan kompilasi data dari sejumlah hasil penelitian yang menyangkut budaya akhir Pleistosen-awal Holosen, dalam upaya mencari informasi baru jejak-jejak perkembangan munculnya manusia sapiens yang menyangkut distribusi situs dan kronologinya. Melalui tulisan ini diperoleh sumbangan data berupa tambahan jumlah hasil pertanggalan dan persebaran situs- situs serta teknologi budaya manusia sapiens pada akhir Pleistosen-awal Holosen di Indonesia. Abstract. The Cultural Development during Late Pleistocene-Early Holocene in the Indonesian Archipelago. Since the last decade, explorations to unveil traces of culture of Late Pleistocene- Early Holocene have become more extensive. The observation areas have covered Aceh, Nias Island, the interior of South Sumatra, the west coast of West Kalimantan and North Barito,  South Sulawesi, Central Moluccas, Halmahera, Ponorogo and Pacitan in East Java, Wonosari (Yogyakarta), Klungkung (Bali), Rotendao, Flores, and Kupang. This article is a compilation of data from a number of research results pertaining to Late-Pleistocene-Early Holocene culture, in search of new data about traces of emergence of development of Homo sapiens in terms of site distribution and chronology. The results of this paper will provide new data in forms of more dating results as well as wider site distribution and cultural technology of Homo sapiens from Late Pleistocene-Eary Holocend in Indonesia.
Awal Pengaruh Hindu Buddha Di Nusantara. Agustijanto Indradjaja
KALPATARU Vol. 23 No. 1 (2014)
Publisher : Pusat Penelitian Arkeologi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/kpt.v23i1.48

Abstract

Berbicara tentang awal pengaruh Hindu Buddha di Nusantara sejauh ini selalu dimulai pada sekitar abad ke-5 M. yang ditandai oleh kehadiran kerajaan Kutai dan Tarumanagara di Nusantara dan masih sedikit perhatian terhadap periode sebelum itu. Padahal periode awal sampai dengan abad ke-5 M. adalah periode krusial bagi munculnya kerajaan yang bercorak Hindu-Buddha di Nusantara. Penelitian terhadap periode awal sejarah dimaksudkan untuk mengungkapkan dinamika sosial ekonomi yang terjadi di masyarakat Nusantara sehingga mampu menerima dan menyerap unsur-unsur budaya asing (India) yang pada puncaknya memunculkan sejumlah kerajaan bersifat Hindu-Buddha di Nusantara. Metode analisis yang dipakai adalah metode analisis tipologis dan kontekstual serta beberapa analisis C-14 atas temuan diharapkan dapat menjelaskan kondisi masyarakat Nusantara pada masa lalu. Hasil penelitian ini dapat mengidentifikasikan sejumlah tinggalan arkeologi seperti sisa tiang rumah, sisa perahu, keramik, tembikar, manik-manik, alat logam, dan sejumlah kubur yang diidentifikasi berasal dari periode awal sejarah. Berdasarkan tinggalan tersebut dapat direkonstruksi kondisi sosial-ekonomi masyarakat Nusantara dan peranannya di dunia internasional di Kawasan Asia Tenggara. Abstract. Early Hindu-Buddhist Influence in the Indonesian Nusantara. So far discussions about early Hindu-Buddhist influence in the Indonesian Archipelago (Nusantara) have always been started at around 5th Century AD, which is characterized by the presence of the kingdoms of Kutai and Tarumanagara in the archipelago, while the earlier period is barely noticed although the period between early and 5th century AD is a crucial period for the emergence of Hindu- Buddhist kingdoms in the archipelago. Research on the early period in history is intended to reveal the socio-economic dynamics among the communities in the Indonesian Archipelago so that they could accept and absorb elements of foreign (Indian) culture that ultimately gave rise to a number of Hindu-Buddhist kingdoms in the archipelago. The study collected data through surveys and excavation, and the methods of analyses used are typological and contextual analyses, as well as C-14 analyses on some finds that are expected reveal the conditions of the communities in the Indonesian Archipelago in the past. The results of this study are identification of a number of archaeological remains like remains of house poles, boat, ceramics, pottery, beads, metal tools, and several graves dating from the early period. The remains can be used to reconstruct the socio-economic condition of the archipelago and its role in the international world in Southeast Asia region.