cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
KALPATARU
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Humanities, Art,
Arjuna Subject : -
Articles 278 Documents
Jejak-Jejak Peradaban Hindu-Buddha Di Nusantara Titi Surti Nastiti
KALPATARU Vol. 23 No. 1 (2014)
Publisher : Pusat Penelitian Arkeologi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/kpt.v23i1.49

Abstract

Peradaban Hindu-Buddha di Nusantara ditandai dengan munculnya kerajaan-kerajaan kuna di Indonesia pada abad ke-4-5 M. dan berakhir pada awal abad ke-16 M. Adapun maksud dan tujuan dari tulisan ini adalah untuk mengetahui peradaban Hindu-Buddha secara komperhensif di Nusantara, berdasarkan penelitian-penelitian yang pernah dilakukan oleh Pusat Arkeologi Nasional dan Balai-balai Arkeologi di seluruh Indonesia, sejauh yang dapat dijangkau oleh penulis. Metode yang dipakai lebih kepada pengumpulan data dari penelitian-penelitian yang pernah dilakukan oleh Pusat Arkeologi Nasional dan Balai-balai Arkeologinya, ditelaah, dan dibuat suatu ikhtisar yang menggambarkan jejak-jejak peradaban Hindu-Buddha di Nusantara. Hasil kajian memperlihatkan adanya berbagai aspek kehidupan masyarakat pada masa Hindu- Buddha yang mendukung maju-mundurnya suatu peradaban seperti aspek sosial, politik, ekonomi, agama, kesenian (sastra, arsitektur, arca), ilmu pengetahuan dan teknologi, serta aspek tata ruang tempat di mana masyarakat itu hidup. Abstract. Traces of Hindu-Buddhist Civilization In The Indonesian Archipelago. The Hindu- Buddhist civilization in the Indonesian Archipelago was marked by the emergence of ancient kingdoms in Indonesia in 4th–5th Centuries CE up to early 16th Century CE. The aim and purpose of this article is to identify comprehensively the Hindu-Buddhist civilization in the Indonesian Archipelago based on researches carried out by the National Centre of Archaeology and its Archaeological Offices all over the archipelago, as far as the author can reach. The methods being used are collecting data from the researches to be studied, and making a recapitulation that shows traces of Hindu-Buddhist civilization in the Indonesian Archipelago. The results reveal various aspects of community life during the Hindu-Buddhist period that influenced the growth or fall of a civilization, such as aspects of social, political, economic, religion, art (literature/humanities, architecture, and iconography), knowledge and science, as well as the spatial organization where the communities lived.
Aspek-aspek Kajian Islam di Nusantara: Langkah Peniti Peradaban. Sonny C Wibisono
KALPATARU Vol. 23 No. 1 (2014)
Publisher : Pusat Penelitian Arkeologi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/kpt.v23i1.50

Abstract

Tulisan ini merupakan sebuah tinjauan atas zaman pengaruh Islam di Nusantara, sebuah rentang zaman yang menandai salah satu perubahan budaya di Nusantara. Maksud dari tinjauan ini adalah menemukan sebuah kerangka tentatif yang dapat digunakan untuk mengungkap aspek-aspek yang diharapkan dapat diajukan dalam penelitian arkeologi. Aspek-aspek yang dimaksud antara lain diaspora Islam, negeri kesultanan, jaringan perniagaan, permukiman dan perkotaan, teknologi dan produksi, literasi dan keagamaan, dan kesenian. Tersedianya bahan teks merupakan bagian untuk memahami konteks peristiwa dari fragmentasi data arkeologi dari zaman ini.Studi literatur dan kasus penelitian berkaitan dengan topik ini digunakan sebagai bahan dalam tulisan ini. Abstract. Aspects of Islamic Studies in The Archipelago Step onto The Civilization. This paper is an overview of an era of Islamic influence in the archipelago, an age range that marks one of the cultural changes in the archipelago. The purpose of this review is to find a tentative framework that can be used to reveal aspects that are expected to be discussed in archaeological research. These aspects are, Islamic diaspora, sultanate state, commercial networks, settlements and urban, production and technology, literacy and religion, customs and arts. The use of tekstul materials is a part to understand the fragmented archaeological data from this era. The uses of tekstul materials is a part to understand the fragmented of archaeological data of this period. The literature and case studies that are relevant to this topic is used in this paper.
Pengaruh Kolonial di Nusantara. Naniek Harkantiningsih
KALPATARU Vol. 23 No. 1 (2014)
Publisher : Pusat Penelitian Arkeologi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/kpt.v23i1.51

Abstract

Nusantara merupakan sumber rempah-rempah dan hasil alam lainnya, pada masanya komoditi tersebut sangat dicari oleh bangsa Asia dan Eropa. Sekitar abad ke-16 M. perairan Nusantara mulai dijelajahi kapal-kapal dagang Eropa, kekuatan pelayaran dan perdagangan Eropa ini mendominasi perairan Asia Tenggara termasuk Nusantara hingga pertengahan abad ke- 20 M., ditandai dengan kedatangan koloni Jepang. Dari sinilah dimulainya peranan koloni asing di Nusantara. Ekspedisi, aktivitas komersial, dan politik yang mereka lakukan dapat ditelusuri melalui catatan sejarah dan bukti arkeologi, yang banyak dan tersebar di Nusantara. Dalam tulisan ini, secara khusus akan membahas jejak peninggalan kolonial di beberapa tempat di Nusantara. Tahapan eksplorasi dan deskriptif dalam pengumpulan dan pengolahan data, kemudian melihat pola persebarannya dan membandingkan karakter serta kronologi bukti-bukti arkeologi kolonial yang ditemukan. Keberadaan sumber rempah-rempah, di Nusantara, dapat dikaitkan bukan hanya sebagai bukti adanya jaringan perdagangan antara negara produsen dan konsumen, tetapi juga sebagai bukti keberadaan komunitas asing di wilayah Nusantara. Rentang waktu sejarah koloni asing di Nusantara lebih dari tiga abad. Dalam periode dimana peran dan orientasi kegiatan mereka, dapat diketahui secara jelas berdasarkan obyek kajian, karakter, pola persebaran, fungsi dan kronologi keberadaan koloni asing di Nusantara. Abstract. Colonial Influence in Nusantara. Archipelago is a source of spices and other natural products, in this time the commodity highly sought by Asian and European nations. In the 16th Century of the archipelago waters began explored European merchant ships, the strength of Europe’s shipping and trade dominate Southeast Asian waters, including the archipelago until the mid 20th Century, was marked by the arrival of the Japanese colony. This is where the role of the commencement of the foreign colony in the archipelago. Expedition, commercial activity, and they do politics can be traced through historical records and archaeological evidence, so many and scattered in the archipelago. In this paper, will specifically address the colonial traces in several places in the archipelago. Exploratory and descriptive stages in the collection and processing of data, then look at the pattern of spreading and compare the character and chronology of colonial archaeological evidence found. The existence of the source of the spice, in the archipelago, can be attributed not only as evidence of trade links between producer and consumer, but also as evidence of the existence of the foreign community in the archipelago. Span of the history of the foreign colony in the archipelago long enough for more than three centuries. In periods in which the role and orientation of their activities, can be seen clearly based on the object of study, character, pattern of distribution, function and chronology of the existence of the foreign colony in the archipelago.
Gua Kidang, Hunian Gua Kala Holosen di Das Solo Indah Asikin Nurani; Agus Tri Hascaryo
KALPATARU Vol. 24 No. 1 (2015)
Publisher : Pusat Penelitian Arkeologi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/kpt.v24i1.52

Abstract

Gua Kidang merupakan hunian manusia prasejarah yang diteliti Balai Arkeologi Yogyakarta sejak tahun 2005 dan masih berlanjut sampai sekarang. Berdasarkan survey permukaan di seluruh kawasan karst Blora, Gua Kidang adalah satu-satunya gua yang layak huni. Hal tersebut didasarkan pada morfologi lahan, sirkulasi sinar matahari, kemiringan, kelembaban, serta temuan permukaan. Tujuan penulisan ini adalah untuk menelusuri dan mengungkap jejak lokasi situs yang menjembatani kesinambungan antara kebudayaan Pleistosen dan Holosen yang masih gelap. Selain itu, menarik untuk dikaji lebih jauh adalah lokasi gua ini dikelilingi situssitus Pleistosen, yang pada hasil penelitian terakhir pada tahun 2013, memberikan titik terang. Metode yang digunakan adalah ekskavasi di Gua Kidang dan analisis terhadap temuan-temuan arkeologis, stratigrafi dan lingkungan. Berdasarkan hasil penelitian selama tujuh kali, disimpulkan bahwa Gua Kidang merupakan gua yang intensif dihuni manusia prasejarah dengan tinggalan yang lengkap, berupa artefak, fitur, dan ekofak, serta rangka Homo sapiens.Abstract. Kidang Cave is a habitation of prehistoric people, which has been studied by the Yogyakarta Archaeological Centre since 2005 and still continues until now. A survey over the surface of the karst region of Blora reveals that Kidang Cave is the only habitable cave based on the morphology of the land, circulation of sunlight, slant, humidity, and surface finds. Thisarticle tries to explore and unveil traces of the site location that serves as a chronological bridge of continuity between the Pleistocene and the Holocene cultures, which is still obscure. In addition, it is interesting to note that further study is needed pertaining to the location of the cave, which is surrounded by Pleistocene sites that during the last research in 2013 has shed some light on that matter. The methods employed here are excavation at Kidang Cave and analyses on archaeological finds, stratigraphy, and the environment. Based on results of seven times of researches, it can be concluded that Kidang Cave had been intensively inhabited by prehistoric people and contains wide-ranging finds, which include artifacts, features, and ecofacts, as well as skeletons of Homo sapiens.
Prasasti Tlaŋ (904 m.): Desa Perdikan untuk Tempat Penyeberangan Masa Matarām Kuna Titi Surti Nastiti
KALPATARU Vol. 24 No. 1 (2015)
Publisher : Pusat Penelitian Arkeologi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/kpt.v24i1.53

Abstract

Abstrak. Prasasti Tlaŋ yang dikeluarkan oleh Śrī Mahārāja Rakai Watukura Dyah Balitung Śrī Dharmmodaya Mahāśambhu pada tanggal 6 parogelap bulan Posya tahun 825 Śaka (11 Januari 903M.) menyebutkan nama desa tempat penyeberangan di tepi Bengawan Solo, yaitu Desa Paparahuan. Untuk pembiayaannya, Desa Tlaŋ, Desa Mahe/Mahai, dan Desa Paparahuan dijadikan desa perdikan. Tulisan ini bertujuan untuk membaca ulang Prasasti Tlaŋ dan mengidentifikasi Prasasti Wonoboyo serta mengidentifikasi desa-desa yang disebutkan dalam prasasti. Adapun metode yang dipakai dalam makalah ini adalah metode deskriptif analitis dan metode komparatif. Dari hasil penelitian dapat diidentifikasi dua desa, yaitu Desa Teleng dan Desa Paparahuan. Sementara Desa Mahe/Mahai masih belum dapat diidentifikasi dimana lokasinya. Sebagai kesimpulan dapat disebutkan bahwa selain dapat mengidentifikasi dua desa yang disebutkan dalam Prasasti Tlaŋ I dan Tlaŋ II, juga dapat mengidentifikasi Prasasti Wonoboyo sebagai Prasasti Tlaŋ III.Abstract. Tlaŋ inscription, issued by Śrī Mahārāja Rakai Watukura Dyah Balitung Śrī Dharmmodaya Mahāśambhu on the sixth day of the dark half of the month of Posya in 825 Śaka (11th January 904 A.D.), mentions the name of village that served as a river crossing place on the banks of the Solo River, i.e. Paparahuan village. To finance it, the Tlaŋ village, the Mahe/Mahai village, and Paparahuan village, become free hold. This paper aims to re-read the inscription of Tlaŋ as well as identifying Wonoboyo inscription and the villages which were mentioned in the inscription. The methods used in this paper are descriptive analytical method and the comparative method. As a result of this study, two villages can be identified, i.e the Tlaŋ village and Paparahuan village, while the location of Mahe/Mahai village still cannot be identified. As a conclusion may be mentioned that in addition to identifying the two villages mentioned in the inscription Tlaŋ I and Tlaŋ II, the study can also identify the Wonoboyo Inscription as Tlaŋ III inscription.
Preface Kalpataru Volume 23, nomor 2, tahun 2014 Redaksi Pusat Penelitian Arkeologi Nasional
KALPATARU Vol. 23 No. 2 (2014)
Publisher : Pusat Penelitian Arkeologi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sriwijaya for Our Nation* Truman Simanjuntak
KALPATARU Vol. 23 No. 2 (2014)
Publisher : Pusat Penelitian Arkeologi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/kpt.v23i2.55

Abstract

Śrīwijaya Bagi Bangsa Kita. Kerajaan Śrīwijaya yang berpusat di Sumatera bagian selatan dan berkembang pada abad ke-7-13 M. merupakan salah satu puncak budaya Nusantara. Menguasai jalur perdagangan di Selat Malaka dan Selat Sunda; menjalin hubungan dagang dengan Cina, India, Arab, Persia, dan Madagaskar; membangun kawasan-kawasan strategis sebagai pangkalan armada untuk kepentingan dagang dan menjaga wilayah kedaulatan; membangun pusat pendidikan agama Budha dan bahasa Sanskerta; serta membina toleransi beragama, merupakan capaian-capaian sekaligus nilai-nilai yang menjadikannya negara maritim yang besar dan sangat berpengaruh di kawasan regional Asia Tenggara pada zamannya. Śrīwijaya bukan sekedar pengetahuan masa lampau, tetapi hendaknya bermanfaat bagi masyarakat dan bangsa Indonesia. Aktualisasi semangat, kebesaran, serta nilai-nilai sejarah dan budaya yang dimilikinya hendaknya menjiwai, menginspirasi, dan memotivasi kita dalam membangun bangsa kepulauan yang besar. Caranya mewariskan pengetahuan tentang Śrīwijaya beserta nilai-nilai yang dimilikinya melalui pendidikan formal dan informal, berbagai kegiatan pemasyarakatan, kegiatan olah raga, seni, dan budaya. Cara lain yang sangat strategis adalah membangun “Rumah Peradaban Śrīwijaya”, sebuah kompleks yang mewadahi pusat penelitian dan informasi, museum sebagai sarana edukasi dan pemasyarakatan, serta ruang publik. Abstract. Śrīvijaya Kingdom that centered in South Sumatera is one of the highest peak of culture in the Indonesian Archipelago. The kingdom evolved from 7th to 13th Century AD. Several achievements that made Śrīvijaya Kingdom become a great maritime country and very influential in South East region are as follows, commanded the trade route in Malaka Strait and Sunda Strait; had a trade relations with China, India, Arab, Persia, and Madagascar; built a strategic area as a maritime base for commercial interest and sovereignty protection; built a Buddhist and Sanskrit center; and also built tolerance to religions in society. Śrīvijaya is not just a knowledge from the past, it should bring benefits to Indonesia as a nation. The spirit of actualization, the greatness, and the culture and historical values should inspire and motivate Indonesian people to build a great archipelagic nation. The knowledge of Śrīvijaya could be inherited through formal and informal education, and social activities such as sports activities, arts activities, and cultural activities. Another strategic way is to build “Rumah Peradaban Śrīwijaya” (House of Śrīvijaya Civilization). Rumah Peradaban Śrīvijaya is a building complex that embodies a research and information center, museum as an educational and social facility, and also public space
Hunian “Pra-Sriwijaya” di Daerah Rawa Pantai Timur Sumatera. Nurhadi Rangkuti
KALPATARU Vol. 23 No. 2 (2014)
Publisher : Pusat Penelitian Arkeologi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/kpt.v23i2.56

Abstract

Keberadaan Śrīwijaya di Sumatera ditandai oleh adanya prasasti-prasasti dari abad ke- 7 M. di Palembang, Jambi dan Lampung. Sebagian besar prasasti dan situs-situs arkeologi dari masa Śrīwijaya (abad ke-7-13 M.) terdapat di daerah lahan basah sebagai bagian dari wilayah pantai timur Sumatera. Penelitian arkeologi selama dua puluh tahun terakhir di daerah tersebut berhasil menemukan situs-situs arkeologi pada masa pra-Śrīwijaya antara lain berupa situs kubur tempayan dan situs hunian. Penemuan situs-situs masa pra-Śrīwijaya itu menunjukkan bahwa sebelum Śrīwijaya berkembang di Palembang dan Jambi, daerah rawa telah dimukimi oleh komuniti-komuniti kuno. Penelitian mengkaji lebih jauh pola hidup masyarakat kuno tersebut dalam berinteraksi dengan lingkungan rawa. Penelitian dilakukan dengan pendekatan “landscape archaeology”, survei dan ekskavasi untuk pengumpulan data, serta analisis carbon dating (C-14) dan tipologi artefak untuk mengetahui pertanggalan situs. Hasil penelitian memberikan gambaran mengenai pola persebaran situs antara situs kubur tempayan dan situs hunian di daerah rawa. Abstract. “Pre- Śrīvijaya” Settlements in The Swamp Area of The East Coast of Sumatera. The presence of Śrīvijaya in Sumatera was marked by the existence of inscriptions dated from  7th Century AD in Palembang, Jambi and Lampung. Most of the inscriptions and archaeological sites from Śrīvijaya era (7th – 13th Century) were located in the wetlands as part of the east coast region of Sumatera. The last two decades of archaeological researches in the region succeeded in finding archaeological sites from pre-Śrīvijaya era, among others jar burial and settlement sites. The discovery of pre-Śrīvijaya sites indicates that before Śrīvijaya was developed in Palembang and Jambi, the marshland area had already been inhabited by ancient communities. The research carried out further studies on the pattern of living of the ancient communities in interacting with marshy environment. The research was carried out using “landscape archaeology” approach, surveys and excavations in collecting data, as well as carbon dating (C-14) analysis and artifact typology to determine the age of the sites. The results of the research provide an illustration about the distribution pattern of the sites between the jar burial sites and the settlement sites in the wetland.
Makara Pada Masa Śriwijaya Sukawati Susetyo
KALPATARU Vol. 23 No. 2 (2014)
Publisher : Pusat Penelitian Arkeologi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/kpt.v23i2.57

Abstract

Śrīwijaya merupakan salah satu kerajaan besar di Indonesia pada abad ke-7-12 M. Tinggalan bangunan suci dari masa Śrīwijaya tersebar di beberapa kawasan, yaitu Muara Jambi di Jambi, Muara Takus di Riau, Bumiayu di Sumatera Selatan, hingga beberapa kelompok bangunan suci Padang Lawas di Sumatera Utara. Makara merupakan salah satu unsur bangunan candi yang biasanya berpasangan dengan kala. Tujuan penulisan ini adalah ingin mengetahui ciri-ciri makara dari masa Śrīwijaya dengan cara membandingkannya dengan makara-makara dari candi masa Matarām Kuno. Dari hasil penelitian selama ini diketahui bahwa makara Śrīwijaya mempunyai ciri tersendiri, meskipun tidak menafikan adanya beberapa kesamaan dengan makara dari masa Matarām Kuno tersebut. Abstract. Makaras During the Śrīvijaya Period. Śrīvijaya was one of the big kingdoms in Indonesia in 7th - 12th Centuries CE. Remains of temples from the Śrīvijaya period are distributed in several areas, from Muara Jambi in Jambi, Muara Takus in Riau, Bumiayu in South Sumatera, up to the several temple complexes of Padang Lawas in North Sumatera. Makara is one element of the temple which is usually paired with kala. This paper will discuss Makaras from Śrīvijaya period that have specific characteristics compared to Makaras at the ancient Matarām, although there are also some similarities to those in Java.
The Structure of Stupas at Muara Jambi. Hariani Santiko
KALPATARU Vol. 23 No. 2 (2014)
Publisher : Pusat Penelitian Arkeologi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/kpt.v23i2.58

Abstract

Struktur Stūpa di Muara Jambi. Di Muara Jambi dan sekitarnya terdapat tinggalan arkeologi berupa bangunan-bangunan sakral, di antaranya Candi Gumpung, Candi Tinggi, Candi Gedong I dan II, Candi Kedaton, dan Candi Astano yang dibuat dari bata. Tinggalan tersebut bersifat agama Buddha, karena banyak terdapat sisa-sisa bata dengan inskripsi “bija-mantra”, gambar-gambar bunga padmā, dan beberapa patung. Struktur bangunan-bangunan khususnya candi induk pada umumnya berdenah segiempat, dengan perpanjangan ke arah timur atau utara, perkecualian terdapat pada Candi Gumpung. Di atas candi induk tersebut kemungkinan diletakkan sebuah stūpa besar seperti Candi Tinggi. Struktur bangunan stūpa semacam itu dikenal sebagai “terrace-stūpa” yang pertama kali didapati di daerah Gandara pada masa pra-Kushana. Candi Gumpung berdenah hampir bujursangkar, tanpa tangga dan tanpa ruang dalam (garbhagŗha). Boechari pada tahun 1985 membaca inskripsi sebagai peripih candi dan berpendapat bahwa peripih berupa susunan dewa-dewa dalam Vajradhātu-maṇḍala, berarti Candi Gumpung bersifat agama Buddha Vajrayāna. Dengan demikian menurut penulis struktur pertama Candi Gumpung hanya berupa lapik dengan 5 buah stūpa di atasnya yang menggambarkan susunan Vajradhātu- maṇḍala. Dari berbagai data yang dilaporkan dan perbandingan dengan sisa-sisa bangunan di Muara Takus dan Biaro Bahal, penulis perkirakan bahwa tinggalan arkeologi di Muara Jambi adalah sisa-sisa bangunan stūpa, khususnya dalam bentuk “terrace-stūpa”. Abstract. In the vicinity of Muara Jambi are found a lot of archaeological remains, among others a group of brick monuments believed to date from the 9th to 13th Century AD, among others are Candi Tinggi, Candi Gumpung, Candi Gedong I and II, Candi Kedaton, Candi Astano. These monuments are Buddhist, because the majority of the finds in this area are Buddhist statues, many bricks with “bija mantra” inscriptions and drawing such as padmā motives on them. The structures of the main temple, except Candi Gumpung, are generally square in plan with projecting portico on the east or north, and terrace platform that may well served for the enthronement of the big stūpa like the one at Candi Tinggi. The type of this stūpa structure is called the terrace- stūpa, known for the first time in the Gandhāran regions from pre-Kushana period. In Indonesia terrace-stūpas are found at Muara Takus (Candi Tua) and also candi Borobudur in Central Jawa. Candi Gumpung has different structure, a square ground plan measuring 18 x 18 metres without any trace of an inner-room (garbhagŗha). Boechari in 1985 read the inscriptions found in the deposit boxes found inside the temple floor. He recognized the plan of Vajradhātu-maṇḍala found in the base of candi Gumpung. It means that candi Gumpung is a Vajrayāna temple and it embodies the maṇḍala of the five Tathāgath as with Wairocana in the centre. So I assume that the first candi Gumpung in the 9-10th Century was a square platform with five stūpas on it to form the Vajradhātu-maṇḍala. By studying the archaeological data from Muara Jambi and comparing them with the monuments from Muara Takus and Biaro Bahal, I consider the remains of brick monuments at Muara Jambi belonged to stūpas, especially the terrace-stūpas.