cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
KALPATARU
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Humanities, Art,
Arjuna Subject : -
Articles 278 Documents
Peran Magis-Religius Bengawan Solo dalam Pendirian Kota Surakarta Abad Ke-18 Mimi Savitri
KALPATARU Vol. 24 No. 1 (2015)
Publisher : Pusat Penelitian Arkeologi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/kpt.v24i1.59

Abstract

Abstrak. Peran magis religius Bengawan Solo adalah penting bagi pendirian Kota Surakarta. Peran ini berkaitan dengan kekuatan gaib, roh halus, dan atau roh-roh nenek moyang yang ada pada sungai khususnya di daerah pertemuan dua sungai. Kepercayaan terhadap kekuatan gaib merupakan hal mendasar dalam kehidupan orang Jawa, akan tetapi hal tersebut kurang mendapat perhatian dari para ahli sejarah maupun arkeologi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memperluas wawasan mengenai kepercayaan orang Jawa terhadap kekuatan gaib dan roh halus yang ada pada tempat tinggal mereka. Survei, fenomenologi, dan kajian pustaka adalah metode yang digunakan untuk mengungkap lebih dalam peran magis religius dari sungai tersebut. Hasil dari penelitian ini adalah peran magis religius Bengawan Solo terhadap Kota Surakarta, yaitu daerah sekitar pertemuan dua sungai karena dianggap sakral dan kepercayaan terhadap konsep kosmologi Jawa, bahwa sungai merupakan bagian penting dalam pembentukan tata ruang kota. Penelitian ini sekaligus membuktikan adanya kontinuitas budaya yang hidup di masyarakat sekitar Bengawan Solo sejak dahulu hingga kini.Abstract. The magical-religious role of Bengawan Solo (Solo River) in the establishment of Surakarta was crucial. It was related to mystical power, ghosts, or spirits of ancestors, especially those that reside at a confluence of two rivers. Belief in mystical power was the foundation of Javanese life, but not enough attention has been paid by historians as well as archaeologists. The aim of this research is to widen people’s insight about the belief of the Javanese people to the supernatural power and spirits that inhabited their dwelling places. Survey, phenomenology, and bibliographical study are the methods used to reveal more about the magical-religious role of the river. Results of the research are an understanding of the magical-religious role of Bengawan Solo in the establishment of Surakarta city as shown in the location of the city, which is close to the confluence of two rivers because such location is conceived as sacred, and the other is a belief to the Javanese cosmological concept that rivers are important to the establishment of city layout. It also proves that there is a continuity among the Javanese people who live around the Bengawan Solo from the past until nowadays. 
Invasi Śriwijaya ke Bhumijawa: Pengaruh Agama Buddha Mahayana dan Gaya Seni Nalanda di Kompleks Percandian Batujaya* Hasan Djafar
KALPATARU Vol. 23 No. 2 (2014)
Publisher : Pusat Penelitian Arkeologi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/kpt.v23i2.60

Abstract

Paper ini membahas pengaruh invasi Śrīwijaya ke Bhūmijāwa (Tārumanāgara) pada akhir abad ke-7 M. Fokus pembahasan adalah pengaruh Agama Buddha Mahāyāna dan gaya seni Nālandā di kompleks percandian Batujaya, Karawang, Jawa Barat. Hasil penelitian di Batujaya selama periode 1985-2006 telah menghasilkan beberapa bukti baru penyebaran Agama Buddha Mahāyāna dan gaya seni Nālandā di Kompleks percandian Batujaya. Abstract. The Invasion of Śrīvijaya to Bhūmijāwa: Influence of Mahāyāna Buddhism and Nālandā Art Style in The Temple  Complex of Batujaya. This paper discusses the influence      of Śrīvijaya invasion to Bhūmijāwa (Tārumanāgara) in the late 7th Century C.E. The focus of discussion is the influence of Mahāyāna Buddhism and the art style of Nālandā in the temple complex of Batujaya, Karawang, West Java. The results of the archaeological research conducted at Batujaya site area during the period of 1985-2006 has yielded some new evidence on the spread of Mahāyāna Buddhism and the art style of Nālandā in that area.
Arkeologi Natuna: Koridor Maritim di Perairan Laut Cina Selatan. Sonny C. Wibisono
KALPATARU Vol. 23 No. 2 (2014)
Publisher : Pusat Penelitian Arkeologi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/kpt.v23i2.61

Abstract

Salah satu episode sejarah yang menarik untuk dicermati selama masa pertumbuhan dan perkembangan Śrīwijaya adalah berlangsungnya kegiatan niaga jarak jauh. Dalam kronik Cina cukup jelas dicatat, kerajaan yang pusatnya di Sumatera ini, telah mengirimkan lebih dari dua puluh misi perniagaan ke Cina antara abad ke-10-13 M., demikian pula sebaliknya. Kawasan perairan Laut Cina Selatan, merupakan jalur yang semakin intensif dilalui pada masa itu. Permasalahan yang menjadi fokus perhatian dalam tulisan ini tentang studi arkeologi di wilayah kepulauan khususnya di Laut Cina Selatan yang dipandang patut diteliti untuk menelusur jejak jalur perniagaan jarak jauh antara Cina dan Nusantara, terutama hubungannya dengan masa Śrīwijaya. Di samping penelitian terhadap bandar-bandar di sepanjang pantai Benua Asia Tenggara Daratan, pada kenyataan banyak kepulauan kecil yang sangat mungkin menjadi “batu loncatan” dalam perjalanan niaga yang selama ini luput dari perhatian seperti Kepuluan Paracel, Spratley, Anambas, dan Natuna. Pulau ini merupakan salah satu gugusan pulau-pulau kecil yang berhadapan dengan Laut Cina Selatan, menempati posisi persilangan jalur untuk memasuki perairan Malaka, Sumatera, dan Kalimantan. Dalam tulisan ini akan disajikan bukti-bukti arkeologis, dari hasil survei dan ekskavasi Natuna tahun 2012-2014, termasuk data situs dan artefaktual. Keramik sebagai indikator perniagaan dianalisis khusus (kualitatif dan kuantitatif) untuk perbandingan Abstract. The Archaeology of Natuna: A Maritime Corridor in the waters of the South China Sea. One of the interesting historical episodes to be observed during the period of growth and development of Śrīvijaya is the long distance commercial activity. Chinese chronicles quite clearly note that the kingdom’s headquarters in Sumatera has sent more than twenty commercial missions to China between 10th–13th Century, and vice versa. The waters of the South China Sea region were more and more intensively sailed at that time. The focus of attention in this paper is the study of archeology in the archipelago, especially in the South China Sea, which is worth to be studied in search of the path of long-distance commerce between China and the archipelago, especially in relationto the Śrīvijaya period. In addition to the ports along the coast of Mainland Southeast Asian continent, in fact there are many small islands that were likely to be a “stepping stone” in the course of trade which have escaped the attention, such as Paracel Islands, Spratley, Anambas, and Natuna. Natuna Islands is one of a cluster of small islands facing the South China Sea, occupying a crossing place into the waters of Malacca, Sumatera, and Borneo. In this paper will be presented archaeological evidence, the results of the survey and excavation in Natuna during 2012-2014, including data on the site and artifacts. Ceramics as an indicator of commerce is specially analyzed (both qualitatively and quantitatively) for comparison.
Analisis Teknologi Laboratoris Tembikar dari Situs-Situs Das Bengawan Solo, Kabupaten Bojonegoro, Provinsi Jawa Timur M. Fadlan S.
KALPATARU Vol. 24 No. 1 (2015)
Publisher : Pusat Penelitian Arkeologi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/kpt.v24i1.62

Abstract

Abstrak. Tembikar merupakan salah satu sisa benda budaya yang paling sering ditemukan dalam penelitian arkeologi, yang terbuat dari tanah liat yang dibakar. Analisis teknologi laboratoris tembikar dari situs-situs di DAS Bengawan Solo Bojonegoro, bertujuan untuk memperoleh hasil yang akurat tentang sifat fisik dan sifat kimia. Melalui kajian analisis teknologi laboratoris dapat digambarkan kualitas tembikar yang dibuat oleh para pengrajin pada masa lampau. Berdasarkan hasil analisis teknologi laboratoris tembikar dari situs-situs DAS Bengawan Solo, Bojonegoro mempunyai kualitas sedang hingga kualitas baik. Tembikar-tembikar tersebut termasuk dalam kategori peralatan sehari-hari yang berfungsi untuk menampung air, mengolah makanan dan untuk penyajian makanan serta minuman. Tingkat pembakarannya mencapai 600°-800° Celcius, dan warna tembikar didominasi warna gelap (dark colors) dibanding dengan warna terang (light colors). Adanya perbedaan prosentase dari setiap unsur kimia pada tembikar tersebut, tidak terlepas dari daya tahan mineral terhadap pelapukan.Abstract. Pottery, which is made of fired clay, is the most frequently found cultural remains during archaeological researches. Technological Laboratory Analysis on pottery from sites along the Bengawan Solo (Solo River) in Bojonegoro aims at obtaining accurate results about the nature of the physical and chemical properties. Through the technological laboratory analysis can be described the quality of pottery made by craftsmen in the past. Based on the results of the analysis, pottery from the sites along the Bengawan Solo, Bojonegoro Regency, have moderate up to good qualities. The pottery belongs to a category of daily equipment that serves to store water, cook food and to serve food and drink. The rate of heat during firing was up to 600°-800° Celsius, and the color of pottery is predominantly dark colors (black colors) with only a few light colors (bright colors). The difference in the percentage of each chemical element in the pottery is due to the durability of the minerals to weathering.
Balung Buto dalam Persepsi Masyarakat Sangiran: Antara Mitos dan Fakta Retno Handini
KALPATARU Vol. 24 No. 1 (2015)
Publisher : Pusat Penelitian Arkeologi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/kpt.v24i1.63

Abstract

Abstrak. Tulisan ini merupakan kajian tentang “balung buto”, sebuah mitos atau kepercayaan masyarakat yang menghuni wilayah penemuan fosil-fosil purba di Jawa. Penelitian ini difokuskan di Situs Sangiran sebagai Situs Warisan Dunia untuk memahami pola pikir dan persepsi masyarakat penghuni situs dalam memandang keberadaan fosil yang banyak ditemukan di sekitar lahan tegalan atau pekarangan mereka. Metode yang digunakan adalah wawancara mendalam pada masyarakat yang  tinggal di Sangiran. Hasil penelitian menunjukkan walaupun saat ini sudah semakin ditinggalkan dan tidak lagi diturunkan pada generasi muda, namun mitos “balung buto” masih mempengaruhi pola pikir dan perilaku kalangan tertentu yang mempercayainya. Hal tersebut secara langsung ataupun tidak berdampak pada pencarian fosil dan pelestarian situs.Abstract. This article is a study on ‘balung buto’ (which means giant’s bone), a myth or belief shared by the communities that live in areas where prehistoric fossils are found in Java. The study is focused at the World Heritage Site of Sangiran to understand the way of thinking and perception of the inhabitants around the site in viewing the existence of fossils, which are found in abundance on their agricultural fields or house yards. The method used here is insightful interview with the people who live at Sangiran. The study reveals that although believed by less and less people and no longer inherited to the young generation, there are some people who still believe the myth. To them the myth of ‘balung buto’ still influences their pattern of thoughts and behaviour so that directly or indirectly it has impacts on fossil-collecting behaviour and site preservation. 
Appendix Kalpataru Volume 24, nomor 1, tahun 2015 Kalpataru Majalah Arkeologi
KALPATARU Vol. 24 No. 1 (2015)
Publisher : Pusat Penelitian Arkeologi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Preface Kalpataru Volume 25, nomor 1, tahun 2016 Kalpataru Majalah Arkeologi
KALPATARU Vol. 25 No. 1 (2016)
Publisher : Pusat Penelitian Arkeologi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Adaptasi Masyarakat Pra-Sriwijaya di Lahan Basah Situs Air Sugihan, Sumatera Selatan Vita Vita
KALPATARU Vol. 25 No. 1 (2016)
Publisher : Pusat Penelitian Arkeologi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/kpt.v25i1.79

Abstract

Abstract. Air Sugihan Site was one of early history residential centers in the east coast of South Sumatera. In general, the environment of Air Sugihan Site is dominated by the peat bogs which consist of marsh and paddy vegetations. With such environment, how people could adapt and run their daily activities? To dig more about that, survey and environment observation was conducted in area of Air Sugihan Site  to get information about the local community adaptation process with their environment. The survey revealed that people changed the peat bogs environment as settlement and to fulfill their daily needs, then with their local wisdom, used domestic plants such as nibung (Oncosperma tigillarium), jelutung (Dyera pollyphylla), bako (Rihzophoraceae), to make equipments and places for living in form of home on stilts to protect them from flood or wild animals and also opened paddy fields. Thus, it can be concluded that pra-Sriwijaya community had been managed the environment in accordance with their needs by using the available natural resources.Abstrak. Situs Air Sugihan merupakan salah satu pusat hunian awal sejarah di Pantai Timur Sumatera Selatan di masa lampau. Secara umum, keadaan lingkungan Situs Air Sugihan merupakan daerah yang didominasi oleh dataran rawa gambut yang terdiri dari vegetasi rawa dan vegetasi sawah. Dengan lingkungan rawa tersebut bagaimana manusia dapat beradaptasi dan melangsungkan kehidupannya sesuai dengan karakterisitik lingkungan yang ada. Untuk mengetahui hal tersebut maka dilakukan survei dan pangamatan lingkungan terhadap pemukiman di wilayah Situs Air Sugihan yang bertujuan untuk mengetahui proses adaptasi masyarakat setempat dengan lingkungannya. Dari survei tersebut diketahui bahwa masyarakat mengubah lingkungan rawa gambut untuk memenuhi kebutuhannya, baik untuk bermukim maupun untuk kebutuhan sehari-hari, dengan kearifan mereka, mereka memanfaatkan tumbuhan  nibung (Oncosperma tigillarium), jelutung (Dyera pollyphylla), dan bako (Rihzophoraceae) yang ada disekitarnya untuk membuat peralatan dan bangunan tempat mereka tinggal berupa rumahrumah panggung guna melindungi diri mereka dari banjir, maupun dari binatang buas serta membuka lahan untuk sawah. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa dengan sumber daya alam yang ada, masyarakat dengan kearifan mereka telah mengelola lingkungan sesuai dengan kebutuhannya. 
Dermaga Kuna di Situs Kota Kapur dan Analisis Pertanggalan Absolut Agustijanto Indradjaja; Darwin A. Siregar
KALPATARU Vol. 25 No. 1 (2016)
Publisher : Pusat Penelitian Arkeologi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/kpt.v25i1.80

Abstract

Abstract. Archaeological research at the Kota Kapur site is not as intensive as research on Sriwijaya Palembang, but this site can’t be separated from the kingdom of Sriwijaya. The research tried to see ancient port as part of a settlement on the site of Kota Kapur. This study focused on the remaining pillars to search for its absolute dating. Therefore, descriptive analysis and carbon dating (C-14) methods were used to answer the research problems. The results showed that the absolute dating of ancient port were similar with other archaeological data obtained from previous research. It confirms that the port is part of the settlement units in Kota Kapur site at 6th or 7th century AD.Abstrak. Penelitian arkeologi di situs Kota Kapur memang tidak seintensif penelitian tentang Sriwijaya di Palembang, namun situs Kota Kapur tidak bisa dipisahkan dari Kerajaan Sriwijaya. Penelitian kali ini mencoba melihat aspek dermaga kuna sebagai bagian dari tapak permukiman di situs Kota Kapur. Penelitian ini difokuskan pada  data sisa tiang dermaga dan upaya mencari pertanggalan absolutnya. Oleh karena itu, metode analisis deskriptif dan analisis carbon dating (C-14) digunakan untuk menjawab permasalahan penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertanggalan mutlak sisa dermaga memiliki kesesuaian dengan sejumlah data arkeologi lainnya yang diperoleh dari penelitian sebelumnya. Hal ini menegaskan bahwa dermaga tersebut merupakan bagian dari unit permukiman Kota Kapur pada sekitar abad ke-6 atau 7 M.
Keramik Muatan Kapal Karam Cirebon: Sebaran di Situs-Situs Arkeologi Sumatera Bagian Selatan Eka Asih Putrina Taim
KALPATARU Vol. 25 No. 1 (2016)
Publisher : Pusat Penelitian Arkeologi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/kpt.v25i1.81

Abstract

Abstract. Cirebon shipwreck was found in 2003 and then its cargo successfully rescued (removed) in 2005 to 2007. Although various types of findings in the shipwreck cargo, ceramics from the late 9th century up to 10 M are the findings most and populous. So many and prominence of the form and amount of the findings of ceramics, drawing attention to know where thosecommodities were loaded, where else location which also present the similar kind of those ceramics in the archipelago, as seen from the direction and position of the sunken ship shown the ship might came from some place in western region and most likely is the region of Southern Sumatra. This article will attempt to explain the distribution of similar findings (ceramics), the location of its sites in the region of Southern Sumatra, and its relationship with the activity of the cruise ship later sank on its way in the waters off the coast of Cirebon. The methods used were qualitative and comparative analysis which give description and ceramics distribution. The results of this analysis can be concluded on the sites in the region of South Sumatra has an important role in shipping and trading of the past, either as the port of destination or stay over port for local sailors to load commodity trading before distributed to other regions in archipelago.Abstrak. Kapal karam di perairan pantai Cirebon merupakan kapal karam yang ditemukan pada tahun 2003, kemudian muatan nya berhasil diselamatkan (diangkat) pada tahun 2005 hingga 2007. Meski berbagai jenis temuan dalam muatan kapal karam tersebut, keramik asing dari akhir abad ke-9-10 merupakan temuan salah satu terbanyak atau terpadat. Begitu banyak dan menonjolnya bentuk dan jumlah temuan keramik, bila melihat dari arah dan lokasi kapal tersebut karam menunjukkan kapal ini berasal dari sebuah tempat di wilayah barat dan kemungkinan besar adalah wilayah Sumatera Bagian Selatan. Tulisan ini akan berusaha memaparkan sebaran temuan sejenis (keramik) yang terdapat pada situs-situs di wilayah Sumatera Bagian Selatan, dan hubungannya dengan aktivitas pelayaran kapal yang kemudian karam dalam perjalanannya di perairan lepas pantai Cirebon, melalui pemerian dan pemetaan sebaran serta melakukan data tertulis dan data penelitian-penelitian yang telah dilakukan dalam permasalahan yang terkait dengan menggunakan metode analisis kualitatif dan komparatif. Hasil dari analisis ini dapat disimpulkan mengenai sebaran situs-situs di wilayah Sumatera Bagian Selatan memiliki peran yang cukup penting pada pelayaran dan perdagangan masa lalu, baik sebagai pelabuhan tujuan maupun pelabuhan singgah untuk para pelaut Nusantara memuat komoditi dagang sebelum di distribusikan ke wilayah lain. Kata kunci: Kapal karam Cirebon, Keramik abad ke 9-10 M, Sumatera Bagian Selatan.